Makna dan Konsep Tafsir Kontekstual

Makna dan Konsep Tafsir Kontekstual 
Secara etimologi, kata kontekstual berasal dari kata benda bahasa Inggris yaitu context yang diindonesiakan dengan kata ”konteks” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ini setidaknya memiliki dua arti, 1) Bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna, 2) Situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian. Sehingga dapat dipahami bahwa kontekstual adalah menarik suatu bagian atau situasi yang ada kaitannya dengan suatu kata/kalimat sehingga dapat menambah dan mendukung makna kata atau kalimat tersebut.

Adapun secara terminologi, Noeng Muhadjir menegaskan bahwa kata kontekstual setidaknya memiliki tiga pengertian : 
  1. Upaya pemaknaan dalam rangka mengantisipasi persoalan dewasa ini yang umumnya mendesak, sehingga arti kontekstual identik dengan situasional, 
  2. Pemaknaan yang melihat keterkaitan masa lalu, masa kini, dan masa mendatang atau memaknai kata dari segi historis, fungsional, serta prediksinya yang dianggap relevan, 
  3. Mendudukkan keterkaitan antara teks al Qur’an dan terapannya.
Selanjutnya dalam buku Sintesis paradigma studi Qur’an, karangan MF Zenrif UIN Press menyebutkan bahwa pendekatan tafsir dapat dikategorikan pada dua model pendekatan, yaitu pendekatan tekstual dan pendekatan kontekstual. Pendekatan tektual adalah sebuah pendekatan studi Al-Qur’an yang menjadikan lafal-lafal Al-Qur’an sebagai obyek. Pendekatan ini menekankan analisisnya pada sisi kebahasaan dalam memahami Al-Qur’an. Secara praktis, pendekatan ini dilakukan dengan memberikan perhatian pada ketelitian redaksi dan bingkai tek ayat –ayat Al-Qur’an. Pendekatan ini banyak dipergunakan oleh ulama-ulama salaf dalam menafsiri Al-Qur’an dengan cara menukil hadits atau pendapat ulama yang berkaitan dengan makna lafal yang sedang dikaji. Sedangkan pendekatan kontekstual dalam studi Al-qur’an adalah suatu pendekatan yang mencoba memahami makna dan kandungan ayat-ayat Al-qur’an dengan cara memahami konteks mengapa dan dalam kondisi apa ayat tersebut diturunkan.

Untuk kepentingan ini, ulama Ulum al-Qur’an telah membuat kerangka historis ayat-ayat yang mempunyai sebab turun dalam ‘ilmu asbab al-nuzul, yakni ilmu yang mempelajari tentang berbagai kasus, kejadian, atau pertanyaan, yang menjadi sebab turunnya Al-Qur’an. Cikal-bakal tafsir kontekstual adalah ayat-ayat Al-Qur`an yang memiliki asbāb al-nuzūl, terutama yang berkaitan dengan fenomena sosial pada saat itu. Sebab, sebagaimana biasanya, pemahaman ayat yang paling sempurna adalah dengan memperhatikan setting sosial yang melingkupi turunnya ayat. Ada kalanya setting sosial tersebut hanya berlaku pada masa tertentu, individu tertentu, dan di tempat tertentu, tetapi ada kalanya berlaku sepanjang masa, pada siapa saja, dan di mana saja. Sementara itu, ayat-ayat akidah tidak mengenal batas-batas tersebut. Oleh karena itu, tidak berlebihan bila usia tafsir kontekstual setua ayat-ayat al-Qur`an yang memiliki asbāb al-nuzūl. 

Asbāb al-nuzūl merupakan tonggak utama tafsir kontekstual. Sebab ia merupakan ilustrasi rekaman historis suatu peristiwa sosial kemasyarakatan yang melatarbelakangi dan mengiringi turunnya ayat. Sayangnya, hanya segelintir ayat saja yang memiliki asbāb al-nuzūl. Namun demikian, menurut Budhy munawar-Rachman, asbāb al-nuzūl hendaknya tidak dipandang sebagai penentu atau alasan yang tanpanya ayat tidak akan diturunkan. Dalam kenyataannya, tidak ada banyak teks mengenai satu peristiwa. Setidaknya dari asbāb al-nuzūl dapat diperoleh informasi tentang nilai-nilai sosial yang ada dan berkembang saat itu. Nilai-nilai sosial ini bisa berupa adat-istiadat, karakter masyarakat atau individu, relasinya dengan zaman mungkin yang populer dengan istilah Shalihun li kulli zaman wa makan. 

Az-Zarkasyi dalam buku Al-Qur’an dan Sunnah Referensi tertinggi ummat islam mengatakan ; ketika menyebutkan hal-hal yang menentukan sebuah makna bila terjadi kemusykilan:” Keempat, penunjukan konteks (dilalatus siyaq); sesungguhnya ia merinci sesuatu yang masih bersifat umum, dan memastikan bahwa hal-hal yang tidak dimaksudkan oleh ayat tersebut tidak akan terjadi, mengkhususkan yang ‘aam, membatasi yang mutlak, memperkaya penunjukan. Kita mesti mempergunakan asbab nuzul sebagai alat bantu bagi memahami ayat. Ada seseorang yang berkata, sesungguhnya pengetahuan kita tentang suatu sebab akan membantu kita dalam memahami akibatnya.

Kata kunci yang acap kali digunakan dalam tafsir kontekstual adalah “ akar kesejarahan”. Konteks yang di maksud di sini berbeda dengan konteks yang dimaksud dalam tafsir tekstual. Yang dimaksud konteks di sini adalah situasi dan kondisi yang mengelilingi pembaca. Jadi kontekstual berarti hal-hal yang bersifat atau berkaitan dengan konteks pembaca. Dalam kamus al-Maurid (Ingris_Arab), context diartikan dengan : 1) al-qariinah (indikasi) atau siyaq al- kalam (kaitan-kaitan, latar belakang “duduk perkara” suatu pernyataan); 2) bii’ah (suasana) muhiit (yang meliputi). Sedangkan Kontekstual diartikan dengan qariinii, mutawaqqif ‘ala al qariinah (mempertimbangkan indikasi). 

Jadi dari berbagai makna di atas penulis dapat memahami secara sederhana bahwa tafsir kontekstual itu paradigma berfikir baik cara, metode maupun pendekatan yang berorientasi pada konteks kesejarahan. Dengan kata lain, istilah “kontekstual” secara umum berarti kecenderungan suatu aliran atau pandangan yang mengacu pada dimensi konteks yang tidak semata-mata bertumpu pada makna teks secara lahiriyah (literatur), tetapi juga melibatkan dimensi sosio-historis teks dan keterlibatan subjektif penafsir dalam aktifitas penafsirannya. 

Kemudian konsep tafsir kontekstual dapat didagi dua : Kerangka konseptual pertama adalah memahami Al-Qur’an dalam konteksnya - konteks kesejarahan dan harfiyah , lalu memproyeksikannya kepada situasi masa kini. Sedangkan kerangka konseptual kedua adalah membawa fenomena- fenomena sosial ke dalam naungan tujuan- tujuan Al-Qur’an.

1. Memahami Al-Qur’an dalam konteksnya serta memproyeksikannya kepada situasi masa kini. Kerangka konseptual pertama ini mencakup dua langkah pokok

a. Memahami Al-Qur’an dalam konteks. Meliputi : 
1) Pemilihan obyek penafsiran, yaitu satu tema atau istilah tertentu dan mengumpulkan ayat-ayat yang bertalian dengan tema atau istilah tersebut dengan bantuan indeks Al-Qur’an.
2) Mengkaji tema atau istilah tersebut dalam konteks kesejarahan pra-Qur’an dan pada masa al-Qur’an.
3) Mengkaji respon Al-Qur’an sehubungan dengan tema atau istilah itu dalam urutan kronologisnya, dengan memberikan perhatian khusus kepada konteks sastra ayat-ayat Al-Qur’an yang dirujuk , juga melibatkan asbab al- nuzul yang telah teruji keontetikannya. Dari kajian ini akan dapat disimpulkan bagaimana Al-Qur’an menangani tema atau istilah tersebut dan bagaimana keduanya berkembang di dalam Al-Qur’an.
4) Mengaitkan pembahasan tema atau istilah tersebut dengan tema atau istilah lain yang relevan
5) Menyimpulkan kehendak atau tujuan-tujuan Al-Qur’an sehubungan dengan tema atau istilah itu lewat kajian- kajian di atas.
6) Menafsirkan ayat-ayat spesifik yang berkaitan dengan tema atau istillah tersebut berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dari kajian-kajian di atas.
b. Memproyeksikan pemahaman Al-qur’an dalam konteksnya , yakni yang diperoleh lewat langkah pertama di atas, kepada situasi kekinian. Sebelum proyeksi dilakukan , kajian mengenai situasi kekinian yang berkaitan dengan tema atau istilah yang dibahas harus dilakukan terlebih dahulu.

2. Membawa fenomena-fenomena sosial ke dalam naungan tujuan-tujuan Al-Qur’an. Kerangka konseptual ke dua ini juga mencakup dua langkah pokok , tetapi dengan arah yang berbeda dengan kerangka konseptual yang pertama yakni dari realitas kekinian ke dalam naungan al-Qur’an. Langkah-langkah tersebut meliputi :
a. Mengkaji dengan cermat fenomena sosial yang dimaksud. Dalam mengadakan kajian ini, peralatan dan perbekalan ilmuwan-ilmuwan sosial dan kealaman mutlak dibutuhkan. Dengan kata lain, pengkajian ini melibatkan berbagai pihak dan disiplin, baik disiplin sosiologi, antropologi, maupun psikologi. 
b. Menilai dan menangani fenomena itu berdasarkan tujuan-tujuan moral Al-Qur’an yang diperoleh lewat langkah A.1.

Apabila kedua kerangka konseptual dapat dikategorikan sebagai ijtihad, maka ijtihad dalam hal ini tentunya akan berarti bahwa ” Usaha-usaha yang sungguh-sungguh untuk membumikan Al-Qur’an dan membawa fenomena-fenomena sosial kedalam naungan Al-Qur’an.
Blog, Updated at: 06.54

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts