Membangun Ilmu Pengetahuan Umum Berdasarkan Al-Qur’an

Membangun Ilmu Pengetahuan Umum Berdasarkan Al-Qur’an 
llmu pengetahuan umum yang sudah diterima dan dibanggakan oleh umat Islam adalah bank syari'ah. Ajaran Islam tidak mengenal bank. Dalam membangun ilmu dan teknologi bank syari'ah, ilmu dan teknologi perbankan konvensional dipelajari dan disusun baru berdasarkan kepada ajaran Islam, maka lahirlah ilmu teoritis dan ilmu terapan / teknologi bank syari'ah. Ilmu dan teknologi yang lain juga dapat dibangun seperti membangun bank syari'ah. Ilmu apapun ada dasarnya di dalam Al-Qur’an  dan Hadits. Apabila ilmu-ilmu itu dipelajari dan disusun ilmu dan teknologi baru seperti yang dilakukan pada bank syari'ah, maka dalam waktu singkat ilmu dan teknologi akan bercorak keislaman akan lahir. Karena ilmu dan teknologi adalah sumber daya ekonomi paling hulu dari semua sumber daya ekonomi, maka pada saat itu perekonomian umat Islam akan bangkit dan kita tidak tergantung lagi kepada bantuan modal dari luar negeri. Pada saat itu kita akan melihat mukjizat Al-Qur’an. Dalam ujicoba yang dilakukan terhadap beberapa ilmu dan teknologi, hasilnya sangat mengagumkan, bahkan kehancuran politik dan pembangunan ekonomi Orba telah diprediksi jauh sebelumnya. Karena dianggap akan meruntuhkan Orba bukan sumbangan untuk mempercepat lajunya pembangunan, pengembangannya dimatikan.

Bila Kitab Allah dinamakan Al-Qur’an, fungsinya untuk dibaca. Membaca Al-Qur’an yang menekankan kepada kiraat dan tajuwid sangat penting bagi yang mengerti Bahasa Arab untuk mendalami ilmu agama, tetapi membangun ilmu pengetahuan umum berdasarkan Al-Qur’an, yang penting memahami isinya walau yang dibaca terjemahannya. Allah menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab agar dipahami oleh Nabi Muhammad saw. (12:2, 19;97), karena Bahasa yang dipahami Nabi adalah bahasa Arab. Agar mudah memahami isinya, maka Al-Qur’an harus dibaca dengan sebenar-benar bacaan (2:121). Membaca dengan sebenar-benar bacaan, kita akan mengetahui bahwa isinya bukan hanya dasar ilmu agama, juga ilmu pengetahuan umum. Ayat ini biasanya diselipkan diantara ayat-ayat ilmu agama. Misalnya ayat tentang mata air yang keluar dari batu, disamarkan dengan kekerasan kepala orang Yahudi yang dikatakan: Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu / bumi, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya (QS. 2:74). Andaikan ayat-ayat ilmu pengetahuan umum diungkapkan secara terang-terang dalam juz khusus, mungkin ditolak oleh umat pada zaman Nabi karena tidak mampu ditangkap dengan ilmu yang ada pada masa itu seperti umat sebelumnya menolak sebagian ayat-ayat Kitab Allah dan menggantinya.

Karena ayat-ayat Al-Qur’an sangat banyak, untuk menghayatinya, harus diingat-ingat atau dizikirkan dan Allah menamai Al-Qur’an dengan Adz Dzikra (16:44), Kitab Allah untuk diingat-ingat. Zikir atau mengingat-ingat Allah dapat berupa bertashbih, zikir dalam arti sempit, zikir pada tingkat awal untuk membersihkan hati. Hati adalah salah satu alat yang diberikan Allah kepada manusia untuk memahami ayat-ayatNya. Alat yang lain untuk memahami ayat Allah adalah akal. Akal akan bekerja sempurna bila hati bersih. Orang yang tidak bersih hatinya, hasil kerja akalnya bisa menjadi negatif. Lihatlah nenek moyang kita dahulu, mereka tidak pintar, karena belum ada sekolah pada masa itu, tetapi dengan hatinya yang bersih mereka mewariskan berbagai karya yang mengagumkan seperti candi Borobudur, kapal yang bisa mengarungi samudra dll. Tokoh-tokoh Orba pintar-pintar, tetapi kepintaranya mengakibatkan kehancuran bangsa. Sekolah yang dibangunnya hancur bersamaan dengan kehancurannya. Bila berzikir dengan seluruh ayat Al-Qur’an, bukan hanya hati yang bersih, ayat-ayat itu akan mengisi otak dengan dasar-dasar ilmu pengetahuan, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum. Pada saat itu Kitab Allah berfungsi sebagai Al Hikmah, sebagai sumber ilmu pengetahuan (36:2), bukan untuk dibaca untuk orang yang meninggal, tetapi pedoman berilmu bagi yang hidup.

Metode menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an
Di dalam Surat Al Baqarah ayat 185 dikatakan: "bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu". Jadi ada dua yang diturunkan Allah. Pertama "permulaan Al-Qur’an" sebagai petunjuk dan kedua "penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu". Bila penjelasan / tafsir Al-Qur’an juga diturunkan, artinya tafsir itu berupa wahyu. Karena himpunan wahyu adalah Al-Qur’an, maka penjelasan resmi Al-Qur’an ada di dalam Al-Qur’an. Penjelasan itu akan kita jumpai kalau kita ketahui bahwa ayat-ayat Al-Qur’an itu diturunkan berulang-ulang dengan nuansa berbeda-beda. Dengan menghimpun ayat-ayat yang diturunkan berulang-ulang, maka perbedaan yang sedikit pada masing-masing ayat menjadi saling melengkapi dan menjelaskan. Ayat yang saling menjelaskan ini akan lebih jelas lagi bila ditambahkan hadits. Dan akan lebih lengkap bila disertai riwayat sahabat. Setelah itu barulah dikomentari / ditafsirkan. Tafsir yang demikian tidak akan mampu diselipi oleh tafsir israiliat dan tafsir yang dicari-cari takwilnya (3:7) yang menyebabkan perbedaan pendapat yang ditoleransi oleh ajaran Islam menjadi pertentangan pendapat yang melahirkan perpecahan di kalangan umat Islam. Bila Al-Qur’an dipandang sebagai Al Furqan yang menghendaki ayat-ayat Al-Qur’an dibedakan / dibandingan dengan isi kitab lain dan dianalisis akan lahir ilmu baru.

Ayat-ayat yang bersamaan bila dihimpun, dengan sendirinya akan saling mengelompok. Seluruh ayat-ayat Al-Qur’an terbagi atas tiga kelompok besar. Pertama ayat-ayat keagamaan seperti yang dikenal selama ini. Kedua ayat-ayat tentang sifat-sifat manusia atau tentang akhlak yang baik dan tidak baik. Ketiga ayat-ayat ilmu pengetahuan umum. Ayat ilmu pengetahuan umum ini terdiri lagi dan ayat tentang pola pikir sebagai alat analisis ilmu, ayat-ayat dasar ilmu pengetahuan alam dan ayat-ayat dasar ilmu pengetahuan sosial dan budaya. Ayat-ayat yang disadari selama ini baru ayat-ayat ilmu agama dan sedikit ayat-ayat tentang akhlak. Ayat-ayat ilmu agama merupakan ilmu siap pakai, tidak boleh ditambah dan dikurangi. Buku-buku tentang ilmu agama yang ada saat ini kebanyakan memuat satu dua ayat dan hadits, pada hal setiap suatu masalah ayat dan haditsnya sangat banyak. Berbeda penulis, berbeda pula ayat dan hadits yang dimuat, berbeda nuansa yang dibahas. Hal inilah yang menimbulkan perbedaan pendapat / mazhab diantara pembaca buku yang berbeda. Jangankan antara ayat dan hadits yang berbeda, antara ayat dan hadits yang samapun bisa berbeda pendapat. Abu Bakar r.a. sering berbeda pendapat dengan Umar bin Khaththab r.a. dalam mengamalkan ayat dan hadits. Hanya saja tidak ada sahabat yang membangun mazhab Abu Bakar atau Umar. Orang bisa saja berpeadapat lain atau beribadah dengan cara lain dalam soal agama seperti Abu Bakar dan Umar atau seperti imam mazahab, tapi tidak boleh mengatakan pendapatnya atau imamnya yang paling benar. Kita boleh mengikuti pendapat imam, tetapi tidak wajib beriman kepadanya. Ayat-ayat tentang akhlak yang dikenal baru yang dipakai untuk sopan santun pergaulan. Fungsi akhlak yang lebih besar adalah sebagai dasar ilmu pengetahuan sosial dan budaya. Hal itu belum disadari dan kita menggunakan ilmu sosial barat yang dasar utamanya adalah peribahasa Yunani, "zoon politicon", manusia makhluk sosial. Oleh karena ada falsafah sebagai ibu ilmu pengetahuan dan logika sebagai alat analisisnya, walaupun peribahasa Yunani itu amat sederhana, dari padanya telah lahir beberapa ilmu pengetahuan sosial. Akhlak walaupun jauh lebih valid dari peribahasa Yunani sebagai dasar ilmu pengetahuan sosial dan budaya, karena pola pikir di dalam ajaran Islam sebagai alat untuk menganalisisnya belum dikembangkan, bahkan ditolak menggunakan akal dalam beragama, sampai saat ini akhlak itu belum menjadi dasar ilmu pengetahuan sosial dan budaya. Pola pikir yang terdapat di dalam Al-Qur’an daya analisisnya jauh lebih tajam dari Falsafah Yunani. Sayangnya belum disadari keberadaanya. Bila suatu masa disadari keberadaan pola pikir ini dan dijadikan alat untuk meganalisis ayat serta hadits yang menjadi data ilmu pengetauan sosial, maka pada masa depan umat Islam mampu melahirkan ilmu pengetahuan umum yang kualitasnya lebih tinggi dari ilmu pengetahuan umum Barat saat ini. Walaupun demikian kita tidak dapat membuang sama sekali ilmu pengetahuan sosial dan budaya Barat, apalagi sains dan teknologi.

Menurut pola pikir yang terdapat di dalam Al-Qur’an, ilmu pengetahuan pada tahap pertama harus dianalisis dengan hati yang bersih atau niat karena Allah. Membuat hati yang bersih dengan keimanan dan ibadah. Dalam hal ini zikir dalam arti sempit sangat membantu. Tahap selanjutnya dilakukan zikir dalam arti luas, dengan semua ayat Al-Qur’an untuk mendapatkan ayat sebagai dasar ilmu. Dengan cara ini akan dijumpai ayat-ayat tentang sunnatullah / hukum alam. Sunnatullah ini hanya mampu dipahami oleh orang menggunakan akalnya. Banyak orang yang melihat air mengalir, tetapi yang mendapatkan ilmu dari padanya hanyalah orang yang memikirkannya. Dengan memperhatikan perubahan yang terjadi pada alam akan diperoleh ilmu dan teknologi baru. Ayat-ayat yang menyuruh memperhatikan tanda-tanda Allah pada alam raya ini sangat banyak di dalam Al-Qur’an. Teknologi baru yang diperoleh akan lebih bermutu kalau sunnatulah itu diperhatikan, dipikiri, difurqankan dengan ilmu yang terdapat di dalam buku-buku lain selain Al-Qur’an, setelah itu diujicobakan, kalau berhasil diamalkan, bukan hanya disebut-sebut saja. Ayat-ayat Allah berupa sunnahtulah atau hukum alam ini kita lupakan selama ini sehingga ilmu dan teknologi tidak lahir di kalangan umat Islam, bahkan sampai hari ini masih banyak yang menentang ilmu pengetahuan umum dan teknologi bukan bagian dari ajaran Islam. Orang-orang ini adalah orang yang membacca Al-Qur’an dari segi kearaban, bukan keislamannya. K.H.A. Wahid Hasyim dalam kata sambutan terjemahan Shahih Bukhari oleh H. Zainuddin Hamidy cs. menasehatkan agar membedakan antara segi kearaban dan keislaman.

Dalam memahami ayat dan hadist dicontohkan disini hadist tentang makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Sering ulama menjelaskan hadits ini, tapi karena mereka bukan ahli gizi, maka penjelasannya tidak menjadi petunjuk. Dalam analisis ilmu kesehatan, terbukti makan sebelum lapar mencegah terjadinya penyakit maag dan berhenti sebelum kenyang mencegah penyakit diabetes / kencing manis dan asam urat. Ini membuktikan bahwa Al-Qur’an dan Hadits tidak bisa diborong penafsirannya dan satu disiplin ilmu saja seperti selama ini. Harus dari semua disiplin ilmu. Ahli ilmu pengetahuan umum harus mencari ayat-ayat yang sesuai dengan ilmunya untuk dikembangkan.

Membangun ilmu pengethuan umum berdasarkan Al-Qur’an
Di atas dikatakan, ayat-ayat Al-Qur’an terbagi atas tiga kelompok besar, yaitu ayat-ayat ilmu keagamaan, akhlak dan ilmu pengetahuan umum. Ayat ilmu pengetahuan umum terdiri lagi atas ayat pola pikir, dasar ilmu pengetahuan sosial dan dasar ilmu pengetahuan alam. Apabila tafsir yang ada saat ini kita kelompokkan ke dalam tiga kelompok besar tersebut, tafsir atau komentar itu hanya menafeirkan atau mengomentari kelompok pertama mengenai ilmu agama dan sedikit kelompok kedua. Ayat-ayat yang dikomentari ini kalau dikelompokkan, maka tafsirnya makin jelas. Disamping itu akan dirasakan pengulangan penafsiran atas ayat-ayat yang bersamaan yang dapat ditafsirkan sekali saja. Ayat yang lain cukup dicatat saja. Kelompok kedua tentang, tafsirnya baru sebatas untuk mengindahkan pergaulan, sedang akhlak sebagai dasar ilmu pengetahuan sosial dan budaya, belum dilakukan. Kelompok ketiga mengenai ayat dasar ilmu pengetahuan umum sama sekali belum ditafsirkan atau dikomentari. Ilmu dan teknologi sudah dikenal dunia, hanya saja sumbernya dari Falsafah Yunani. Ilmu dan teknologi tentang bank syari'ah, merupakan ilmu pengetahuan umum berdasarkan Al-Qur’an. Contoh lain ilmu pengetahuan umum yang dibangun berdasarkan Al-Qur’an, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Seri Tafsir Al-Qur’an Bil Ilmi oleh Prof. Achmad Baiquni, M.Sc., Ph.D. mengenai kejadian bumi. Bila setiap ilmu lahir ilmu yang didasarkan kepada Al-Qur’an seperti ini, maka lahirah ilmu pengetahuan umum berdasarkan Al-Qur’an.

Apabila kita ingin membangun ilmu pengetahuan umum berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, ilmu Barat yang ada harus dipelajari dahulu, mencari dasarnya di dalam Al-Qur’an dan Hadits, kemudian baru dibangun ilmu baru. Memplajari Al-Qur’an dan hadits yang ditujukan sebagai dasar ilmu pengetahuan umum, tidak cukup lagi seperti selama ini, sebab selama ini ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits yang dipelajari baru ditujukan untuk memahami ilmu agama. Untuk membangun ilmu pengetahuan umum ayat-ayat dan hadits yang dipelajari adalah ayat-ayat dan hadits mengenai dasar ilmu pengetahuan umum. Yang dipelajari selama ini baru kelompok pertama dan sedikit kelompok kedua. Pada masa depan, kelompok kedua mengenai akhlak harus diintensifkan mempelajarinya dan kelompok ketiga mengenai ayat-ayat ilmu pengetahuan umum juga dipelajari.

Karena pada masa depan tidak ada lagi batas yang tajam antara ilmu pengetahuan agama dengan ilmu pengetahuan umum, yang ada adalah spesialisasi, yang satu mempelajari spesialis ilmu agama dan lebih spesialis lagi ilmu tafsir misalnya, yang lain mempelajari ilmu pengetahuan umum seperti saat ini, tetapi dasar ilmu adalah Al-Qur’an dan Hadits, maka kerjasama keilmuan antara berbagai cabang keilmuan itu harus juga dibina. Pada saat itu kemajuan ilmu berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits akan bertambah pesat dan penetrasi ilmu, terutama kebudayaan barat dapat dihambat.

Potensi ekonomi ilmu
Ilmu ekonomi bertujuan untuk memakmurkan umat. Ayat yang sering disitir oleh para ulama dalam mencapai kemakmuran adalah firman Allah yang mengatakan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. 14:7). Ayat ini adalah ayat dasar, bukan ilmu terapan atau teknologi yang dapat mensejahterakan umat. Ilmu ekonomi terapan antara lain bemama ekonomi syari'ah yang dibangun berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Karena umat Islam pada masa yang tidak menjabarkan ayat-ayat ilmu pengetahuan umum menjadi teknologi, maka bukan nikmat yang didapat, tetapi azab yang pedih, seperti dikatakan dalam ayat itu. Inilah yang dirasakan umat Islam saat ini.

Potensi ekonomi itu tidak hanya dijumpai di dalam ilmu ekonomi konvensional, seperti pertanian, perdagangan, industri, perbankan, termasuk perbankan syari'ah, tetapi juga di dalam akhlak, ilmu pengetahuan, pertanahan dll. sama sekali belum pernah disinggung selama ini. Dalam akhlak misalnya, agama itu akhlak kata Rasulullah. Barang siapa yang berakhlak pasti tidak melakukan KKN. Kehancuran perekonomian Indonesia adalah karena rendahnya akhlak bangsa, terutama pemimpin dan pengusaha. Yang melakukan KKN itu juga banyak melakukan shalat, berzakat, naik haji, puasa, tetapi semua ibadah itu tidak mencegahnya dan melakukan perbuatan tercela, bahkan mereka bangga naik haji dengan hasil korupsi. Ini artinya, bila pemahaman agama dimantapkan, bangsa Indonesia terbebas dan KKN dan akan makmur. Dulu di zaman Orde Baru, Prof Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo mengatakan, dana pembangunan yang dikorup mencapai 30%. Ini artinya sebanyak 30% dana yang disediakan untuk membangun tidak dimanfaatkan atau hasil pembangunan berkurang 30 %. Bila akhlak bangsa ditingkatkan, apakah melalui penegakan hukum atau cukup dengan pendidikan saja, efesensi dana pembangunan meningkat 30 %.

Potensi ekonomi yang terbesar terletak di dalam penemuan ilmu dan teknologi unggul. Contoh yang paling nyata adalah. Bill Gates, penemu software microsoft, menjadi orang terkaya di dunia dan hasil penemuan-penemuannya. Contoh lain apa yang dikemukakan Adi Prima Pasaribu dan Departemen Kelautan dalam tulisannya Harian Republika tanggal 11 Oktober 2003 dan hasil laut. Cina yang mempunyai luas perairan 8,8 % dari perairan Indonesia, menghasilkan 15 juta ton, sedang Indonesia, 3,6 juta ton. Thailand yang garis pantainya 2.600 km dibanding Indonesia yang 81.000 km, menghasilkan 340 ribu ton sedang Indonesia hanya 120 ton. Kemampuan Indonesia dibanding Cina dalam mengelola laut 36 :400 dan dengan Thailand dalam mengelola pantai 12:1054. Hal ini disebabkan karena teknologi dan modal penangkapan ikat di Cina dan Thailand jauh lebih baik dari Indonesia. Dengan hamparan pantai yang lebih pendek dan perairan yang lebih sempit, mereka dapat menghasilkan ikan yang lebih banyak. Drs. Ari Ginanjar Agustian membangun ilmu ESQ. Waktu ilmu diperkenalkan kepada beberapa karyawan pabrik, menunjukan peningkatan hasil kerja yang lebih memuaskan, padahal ESQ ini sebenarnya cara berdakwah biasa yang dikemas dengan ilmu, yang kebetulan ilmu ini dia yang menemukan. Dan contoh-contoh diatas, bukan saja ilmu mengandung potensi ekonomi, bahkan menyimpan uang di bank syariah yang tidak diberi bungapun dapat mendatangkan keuntungan berkat ilmu. Bagaimanakah kita akan menolak ilmu padahal ayat-ayatnya di dalam Al-Qur’an sangat banyak.

Ilmu ekonomi pertanahan banyak cabangnya. Yang mula-mula tumbuh adalah perkebunan besar pada zaman kolonial dengan lahirnya Agiarische Wet. Dalam tempo 20 tahun, Belanda menjadi makmur berkat hasil perkebunan besar di Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, walaupun udang-undang pertanahan bemama Undang-Undang Pokok Agraria, meniru nama Agrarisch Wet, namum perkebunan besar tidak tumbuh pesat. Di zaman modern negara yang bangkit dengan perkebunan besar adalah Malaysia. Karena mereka kekurangan tenaga kerja, maka tenaga kerja Indonesialah yang mengerjakannya. Walaupun Indonesia mempunyai tanah pertanian jauh lebih luas dari Malaysia, namun dalam bidang kelapa sawit dan karet, Malaysia yang unggul. Indonesia bukan dalam bidang ini saja ketinggalan, bahkan dalam menghasilkan beras, gula, bawang putih dll. Coba bayangkan, semua produk pertanian modalnya sama-sama tanah, pupuk, obat anti hama dan teknologi, tetapi harga hasil pertanian impor dimana biaya produksi sudah ditambah dengan ongkos angkut dan keuntungan pedagang, masih lebih murah dan produksi dalam negeri. Ini menunjukan ada masalah di dalam negeri, apakah di sektor pertanahan, perdagangan dll. Kalau dalam bidang pertanian harga tanah masih murah, Indonesia kalah bersaing, bagaimana pula dalam bidang industri dan jasa dimana harga tanah jauh lebih tinggi.

Untuk melihat potensi ekonomi di dalam tanah, mari kita meninjau ke luar negeri. Kemenangan komunisme Rusia berkat dukungan kaum buruh, di Asia Mou Ce Tung membangun komunisme berbasis kaum tani karena industri di Cina belum tumbuh. Cemas petani Jepang akan dirayu kaum komunis, Mac Athur, penguasa Jepang setelah kalah perang, cepat-cepat memperkenalkan landreform kepada petani Jepang. Jepang bangkit berkat landreform yang kemudian ditiru Taiwan dan Korea Selatan. Demikian makmurnya mereka, sehingga rakyat tidak sabar pemerintah membangun jalan agar dapat dilalui mobil atau melewatkan traktor ke sawah-sawah, maka rakyat berinisiatif membangun sendiri jalan-jalan secara swadaya dengan teknologi yang bernama konsolidasi. Indonesia juga melaksanakan landreform, tetapi nama itu hilang ditelan Orba dan konsolidasi malah ditakuti. Lembaga yang mempeloporinya yang berhasil membangun jalan dengan swadaya dilikwidasi. Lembaga pengganti tidak melakukannya lagi, kecuali sekedar nama. Konsolidasi yang paling berhasil dilaksanakan di Padang. Untuk membangun jalan sepanjang 20 km tanahnya didapat secara gratis dari pemilik tanah yang memberikan secara gratis mendapat untung berlipat-lipat, karena yang diberikan maksimum 1/3 dari luas tanah dan yang 2/3 harganya naik berlipat-lipat.

Untuk melihat besarnya potensi ekonomi yang terdapat di dalam tanah, kita lihat dari wawancara Prof. Dr. B.J. Habibie selaku Direktur Utama Industri Pesawat Terbang Nurtanio sepulangnya dari Amerika Serikat. Untuk merakit pesawat N 250 di Amerika Serikat, ia ditawari tanah seharga Rp. $ 0,50 atau kira-kira Rp. 1.150,- per m2 saat itu. Kalau pabriknya diperluas di Bandung, harga pembebasan Rp. 20.000,- termurah dan Rp. 200.000,- termahal. Ini artinya untuk membangun pabrik di Bandung harus mengeluarkan dana besar untuk pengadaan tanah. Di sekiar Jakarta banyak berdiri kota-kota baru. Bila kita selidiki, harga pembebasan tanahnya di bawah Rp. 1.000,- per m2 

Dimanakah kesalahan kebijaksanaan pertanahan Indonesia ?
Kesalahan pertama dan utama pada intansi Pajak Bumi dan Bangunan. Di Amerika ada negara bagian yang prosentase pajak tanah tahunannya (PBB) 7% dan harga tanah, Taiwan dan Jepang 1,5%, India 14%, tetapi di Indonesia tarif pajak 0,5%, nilai jual obyek pajak (NJOP) 20 %, maka PBB efektif O.1 %. Artinya, pemerintah negara bagian di Amerika Serikat memperoleh pendapatan 70/1.000 dari harga tanah, Jepang dan Taiwan 15/1.000, India 140/1.000 dan Indonesia 1/1.000. Peibandingan penerimaan dana dari tanah 70:140:15:1. Bila pemerintah membeli tanah, di Amerika hanya membayar 100/7 kali pajak yang dibayar, di Jepang dan Taiwan 15/1.000, di India 14/100 dan di Indonesia 1.000/1. Perbandingan pengeluaran untuk membeli tanah 0,07 : 0,15 : 0,014 : 1.000. Artinya Indonesia menerima pendapatan dari pajak tanah sangat kecil dan membayar harga pembelian tanah sangat besar. Kondisi ini yang menyebabkan harga tanah naik tanpa kendali, biaya pembangunan meningkat dan spekulasi tanah dan bangunan marak dimana-mana. Banyak bangunan itu yang tidak dimanfaatan sampai saat ini, sedang cicilan dan bunga bank harus dibayar. Dana yang digunakan untuk spekulasi tanah dan bangunan banyak yang berasal dari luar negeri lumayan besarnya, bahkan dalam bentuk pinjaman jangka pendek. Pada saat cicilan hutang tidak mampu dibayar, nilai rupiah dijatuhkan. Para ahli mengatakan hal itu akibat konyungtur yang merupakan ciri dari pembangunan ekonomi karena mereka menganut paham Falsafah Barat. Selama sistim tarif pajak PBB saat ini belum direvisi, selama itu harga tanah tidak bisa dikendalikan dan biaya pembangunan di Indonesia akan tetap tinggi.

Bagaimana kalau prosentase pajak diluar negeri ditetapkan di Indonesia untuk meningkatkan pemasukan uang dari tanah dan menurunkan belanja negara untuk pengadaan tanah?

Untuk itu yang harus direvisi adalah pasal 5 UU PBB dan PP No. 46 Tahun 1985. Karena hanya satu pasal dan / atau satu PP, waktu yang dibutuhkan tidak lama. Yang mungkin dirugikan adalah kreditor yang tanahnya dijaminkan ke bank. Kerugian ini sepantasnya diganti oleh negara. Yang meningkat tajam sesudah itu permintaan akan rumah.

Masalah lain yang menjadi penyebab tidak tergalinya, instansi BPN terlalu lambat mendaftaran seluruh bidang tanah sehingga instansi PBB tidak mengetahui semua bidang tanah yang menjadi obyek PBB. Dalam penelitian di Kota Semarang, temyata 1/3 dari bidang tanah tidak dibayar pajaknya karena intansi pajak tidak mengetahuinya. Kalau di Jawa saja, dalam kota lagi, keadaannya seperti itu, apalagi di luar Jawa. Kelambatan ini disebabkan karena pengaruh sistim pendaftaran tanah kolonial dengan ketelitian yang sangat tinggi sehingga membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mendaftarkan sebidang tanah. Bila tingkat ketelitian pengukuran diturunkan, prosesnya dapat dipercepat. Untuk itu konsepsi pertanahan hukum yang dianut BPN harus dirobah menjadi pertanahan ekonomi, sehingga tidak mempunyai alasan lagi kenapa pendaftaran tanah lambat: Secara ekonomi, lebih besar kebutuhan pemerintah didaftarkannya setiap bidang tanah dari kebutuhan pemilik tanah. Oleh karena itu selayaknya pendaftaran tanah itu dilaksanakan secara gratis untuk mendapatan data pertanahan tsb. Anehnya, kalau dalam penyusunan UUPBB hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya tidak dijadikan dasar untuk menyusun peraturan, begitu juga hasil penelitian pendaftaran tanah di Semarang tidak dijadikan dasar untuk menyusun peraturan pedaflaran tanah. Sebagai gantinya dipakai teknologi pendaftaran Australia. Pendaftaran tanah Australia sangat terkenal di dunia dengan nama Pendaftaran Tanah Torrens. Cirinya, sistim pendaftaran positif, jual beli tanah dapat dilakukan dimana saja secara langsung dengan minta data pertanahan ke kantor pendaftaran tanah walaupun menggunakan telegraf saat itu, kalau sekarang tentu bisa menggunakan fax, ada dana asuransi untuk mengganti kerugian yang diderita pemilik kalau terjadi kekeliruan. Semua ciri-ciri yang terdapat pada pendaftaran tanah Australia tidak dijumpai pada sistim pendaftaran tanah Indonesia.
Blog, Updated at: 21.53

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts