Eco-Technology : Masa Depan Indonesia

Eco-Technology : Masa Depan Indonesia 
Setiap bagian dari belahan bumi ini mengalami masalahnya masing-masing seperti halnya kekurangan pangan, kekurangan air bersih, penurunan kesehatan & kekurangan gizi, kelangkaan energi, punahnya biodiversitas, perubahan iklim yang tidak teratur, dan lainnya. Penyebab dari seluruh masalah tersebut adalah adanya pemanasan global yang sampai saat ini belum ada cara untuk mengatasinya. Berbagai negara maju telah berulang kali melakukan kesepakatan untuk mereduksi pemanasan global, bahkan, dalam bulan Desember 2009, akan ada pertemuan 190 negara di Copenhagen untuk membahas lagi tentang pemanasan global (sudah kesekian kalinya setelah Kyoto Protocol yang lalu). Dalam kenyataannya, pemanasan global terus terjadi, di mana temperatur atmosfir meningkat setiap tahun (telah mencapai 4°C di atas temperatur pra-industri) karena emisi greenhouse gases (GHG), terutama CO2 ke udara terus menerus terjadi. Salah satu tindakan afirmatif yang disepakati oleh para pemimpin negara maju adalah pengurangan emisi CO2, padahal sumber utama emisi CO2 adalah kegiatan industri. Hal ini yang menimbulkan dilema antara pengurangan CO2, dan peningkatan kegiatan industri untuk memenuhi kebutuhan umat manusia yang terus menerus meningkat. Solusi untuk masalah ini adalah eco-technology, teknologi yang berbasis pada kapasitas diri dalam merancang suatu eco-system, mengandalkan kepada pendekatan sistemik dalam melakukan konservasi energi yang tak terbarukan. Eco-technology mencoba menyeimbangkan antara kebutuhan manusia dan kebutuhan alam, eco-technology akan memberikan solusi yang berkelanjutan dengan mengandalkan kepada energi natural non fosil. Eco-technology memberikan jalan keluar terhadap shell game yang selalu dihadapi pada saat pengembangan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi pencemaran. Selama ini penyelesaian terhadap suatu masalah pencemaran lingkungan selalu menimbulkan permasalahan pencemaran yang baru. Ternyata green movement yang selama ini digalakkan justru berdampak kepada pemanasan global.

Pemanasan Global
Setiap bagian dari belahan bumi ini mengalami masalahnya masing-masing seperti halnya kekurangan pangan, kekurangan air bersih, penurunan kesehatan & kekurangan gizi, kelangkaan energi, punahnya biodiversitas, perubahan iklim yang tidak teratur, dan lainnya. Penyebab dari seluruh masalah tersebut adalah adanya pemanasan global yang sampai saat ini belum ada cara untuk mengatasinya. Berbagai negara maju telah berulang kali melakukan kesepakatan untuk mereduksi pemanasan global, bahkan, dalam bulan Desember 2009, akan ada pertemuan 190 negara di Copenhagen untuk membahas lagi tentang pemanasan global (sudah kesekian kalinya setelah Kyoto Protocol yang lalu). Dalam kenyataannya pemanasan global terus terjadi, di mana temperatur atmosfir meningkat setiap tahun (telah mencapai 4°C di atas temperatur pra-industri) karena emisi greenhouse gases (GHG), terutama CO2 ke udara terus menerus terjadi. Penyebab pemanasan global utamanya adalah CO2 padahal CO2 dikenal sebagai gas yang bersih, dan CO2 sebagian besar dihasilkan oleh berbagai kegiatan industri.

Salah satu tindakan afirmatif yang disepakati oleh para pemimpin negara maju adalah pengurangan emisi CO2, padahal sumber utama emisi CO2 adalah kegiatan industri. Hal ini yang menimbulkan dilema antara pengurangan CO2, dan peningkatan kegiatan industri untuk memenuhi kebutuhan umat manusia yang terus menerus meningkat. Di satu sisi, kita tidak mungkin membiarkan pemanasan global terus terjadi, di sisi lain, tidak mungkin kita menerapkan kebijakan zero-discharge. Data dari The International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa 65% dari emisi GHG di seluruh dunia berasal dari kegiatan industri terkait dengan penggunaan energi. Data lain juga menunjukkan bahwa pada tahun 2009 terdapat penurunan emisi CO2 sebesar 3% (penurunan terbesar dalam 40 tahun terakhir) akibat resesi ekonomi global. Kecenderungan yang ada pada saat ini adalah bahwa negara maju akan menuntut supaya negara berkembang mengurangi aktivitas penggunaan energi dan mengurangi aktivitas industrinya. Hal ini akan menimbulkan ketidak adilan karena negara berkembang sangat perlu untuk memacu kegiatan industrinya dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakatnya, serta untuk mengurangi disparitas ekonomi antara negara. 

Prinsip Eco-technology
Solusi untuk masalah ini adalah eco-technology, teknologi yang berbasis kepada kapasitas diri dalam merancang suatu eco-system, mengandalkan kepada pendekatan sistemik dalam melakukan konservasi energi yang tak terbarukan. Eco-technology mencoba menyeimbangkan antara kebutuhan manusia dan kebutuhan alam, eco-technology akan memberikan solusi yang berkelanjutan dengan mengandalkan kepada energi natural non fosil. Eco-technology memberikan jalan keluar terhadap shell game yang selalu dihadapi pada saat pengembangan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi pencemaran. Selama ini penyelesaian terhadap suatu masalah pencemaran lingkungan selalu menimbulkan permasalahan pencemaran yang baru. Ternyata green movement yang selama ini digalakkan justru berdampak kepada pemanasan global.

Tantangan Global dan Indonesia
Dunia dihadapkan pada 2 pilihan dalam menghadapi terjadinya pemanasan global yaitu 1) berupaya maksimal untuk mengurangi emisi GHG atau 2) berusaha hidup dengan beradaptasi dengan bumi yang lebih panas. Sebenarnya terdapat pilihan ketiga yang efektif dan terjangkau oleh kemampuan teknologi saat ini, namun pemanfaatannya masih sangat rendah, yaitu pemanfaatan geo-engineering.

Bumi mengalami pemanasan karena adanya radiasi sinar matahari ke atmosfir dan karena adanya GHG yang terperangkap di atmosfir. Untuk mengurangi pemanasan bumi tersebut perlu dilakukan upaya untuk mengurangi radiasi sinar matahari dan mengurangi emisi GHG. Geo-engineering menjanjikan cara yang efektif dan ekonomis untuk mengatasi pemanasan bumi, misalkan dengan menyuntikkan sejumlah partikel belerang ultra halus ke lapisan atas atmosfir akan mampu memantulkan 2% radiasi sinar matahari. Penyemprotan air laut ke udara akan meningkatkan kepadatan awan laut di ketinggian rendah sehingga mampu mengurangi radiasi sinar matahari.

Indonesia mempunyai potensi untuk mengembangkan energi alternatif yang sekaligus mendukung lingkungan yang bersih serta mencegah pemanasan global, antara lain: tenaga air, tenaga angin, geotermal, biofuel turunan kedua (dari limbah pertanian, limbah kayu, dan limbah lainnya), etanol biomasa, sistem kogenerasi fuel-cell untuk rumah tangga, dan sistem serupa lainnya (masih terus diteliti). Untuk geotermal, etanol biomasa, dan biofuel turunan kedua, diperlukan rancang bangun sistem rangkaian tertutup untuk mencegah emisi GHG ke atmosfir. Biofuel turunan pertama (langsung dari hasil hutan atau perkebunan) justru harus dicegah karena akan menyebabkan emisi GHG yang lebih besar sebagai akibat dari penggundulan hutan dan perkebunan. Etanol biomasa dapat diproduksi oleh minimal 120 negara di dunia sedangkan energi fosil hanya dihasilkan oleh 15 negara penghasil minyak saja. Dengan demikian ketergantungan energi dapat diminimalkan dan setiap negara akan mampu melakukan swasembada energi.

Perkembangan Tenaga Angin 
Pemanfaatan tenaga angin lepas pantai (offshore wind farm) mulai dikembangkan untuk mengantisipasi kebutuhan energi yang terus menerus meningkat serta keterbatasan luasan dan kontur daratan yang ada. Kontribusi energi angin pada saat ini di USA adalah sebesar 1% dari kebutuhan listrik nasionalnya, diperkirakan pada tahun 2030 kontribusi tersebut akan mencapai 20% dan 20% di antaranya akan berasal dari offshore wind farm. Rencana pengembangan tenaga angin lepas pantai tersebut akan mencapai 350 MW di USA dan 1100 MW di Uni Eropa, dengan biaya investasi sebesar $ 3 juta per megawatt. Biaya ini ternyata masih lebih murah dibandingkan dengan biaya investasi solar panel ($ 6 juta per megawatt) dan solar thermal mirror ($ 7 juta per megawatt).

Pemanasan global ternyata juga memengaruhi potensi tenaga angin, kecepatan angin global rata-rata telah menurun sejak tahun 1973, bahkan, penurunan tersebut telah mencapai 10%. Penurunan kecepatan angin sebesar 10% akan berakibat kepada penurunan energi yang dihasilkan sebesar 30%. Penurunan tersebut terjadi karena berkurangnya lapisan es di danau-danau, padahal angin bertiup lebih cepat di permukaan es daripada di permukaan air. Karena pemanasan global saat ini, kutub akan lebih cepat panas daripada belahan bumi lainnya. Artinya, perbedaan temperatur antara kutub dengan katulistiwa akan berkurang, akibatnya, perbedaan tekanan udara juga berkurang, sehingga pada akhirnya kecepatan angin akan melemah.

Kendala operasional wind farm adalah angin tidak bertiup secara kontinyu sedangkan kebutuhan energi bersifat kontinyu sesuai dengan tingkat pemakaian. Untuk itu diperlukan suatu penyimpan energi berskala sangat besar, dan salah satu kemungkinannya adalah waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) meskipun terjadi juga pengurangan cadangan energi secara total. Pada lokasi tanpa adanya waduk PLTA, dukungan untuk menjamin kontinuitas skala besar pasokan energi listrik hanya dapat diperoleh melalui bahan bakar fosil. Kendala lain adalah transmisi listrik ke lokasi pemakaian yang pada umumnya sangat jauh jaraknya, terutama untuk tenaga angin lepas pantai. Secara umum tenaga angin akan dapat memberikan sekitar 30% dari kebutuhan energi global, artinya penggunaan energi angin akan menurunkan 30% emisi GHG jika dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar fosil sepenuhnya. 

Perkembangan Tenaga Matahari
Sinar matahari adalah salah satu favorit para peduli lingkungan, kecenderungan untuk memaksimalkan penggunaan tenaga matahari terus meningkat di berbagai belahan bumi. Kendala operasional pemanfaatan tenaga matahari adalah fluktuasi intensitas sinar matahari yang tajam. Untuk mengatasai hal ini, salah satu di antaranya adalah penggunaan satelit tenaga matahari. Solar cell ditempatkan di ruang angkasa dengan orbit tinggi sehingga terkena sinar matahari sepanjang masa. Tenaga matahari kemudian dikonversi menjadi listrik yang kemudian dipancarkan sebagai gelombang mikro ke stasiun bumi. Satu satelit diperkirakan mampu menyediakan 10 GW listrik di bumi secara terus menerus. Teknologi pembuatan satelit tenaga matahari telah dikuasai seperti halnya pembuatan stasiun ruang angkasa internasional. Pancaran gelombang mikro ke stasiun bumi tidak akan membahayakan manusia karena listrik tersebut dipancarkan secara terdistribusi melebar sehingga intensitasnya sangat rendah.

Kendala lain dalam pemanfaatan tenaga matahari adalah pengadaan solar panel. Satu panel berukuran 1 x 1,5m² dengan kapasitas 1 KW/hari membutuhkan 40 kg batubara untuk proses pembuatannya, padahal 40 kg batubara mampu langsung menghasilkan energi sebesar 130 KWh. Proses pembuatan panel dimulai dari penambangan batuan silica yang kemudian diproses menjadi berturut-turut: silica metallic, trichlorosilane, polycrystalline silicon, solar cell, dan panel. Salah satu bahan kimia yang berbahaya adalah chlorine yang digunakan pada setiap urutan proses pembuatan panel tersebut, sedangkan untuk pemurnian silica diperlukan proses pemanasan yang lama pada temperatur tinggi. Pencemaran yang terjadi pada saat pembuatan panel adalah karena pembakaran batubara yang menimbulkan emisi GHG, polusi kimia, dan limbah silica yang tidak dapat didaur ulang. Pada tahun 2008, Cina telah membakar 30 juta ton batubara untuk memproduksi panel yang dibutuhkan oleh USA dan Uni Eropa, artinya telah terjadi pemanasan global oleh Cina dalam rangka pengurangan emisi GHG oleh USA dan Uni Eropa. Tampaknya konsep shell game akan selalu terjadi pada saat dunia melakukan upaya pengurangan pemanasan global. 

Pilihan yang Menjanjikan
Tenaga geotermal menjanjikan prospek yang cerah, konsentrasi CO2 yang dihasilkan adalah 15 g/kwh, jauh lebih kecil daripada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang menghasilkan 742 g/kwh konsentrasi CO2. Biaya produksi instalasi geotermal adalah separuh biaya produksi PLTD, biaya investasi instalasi geotermal memang tinggi akan tetapi selanjutnya bebas biaya perawatan. Indonesia adalah negara penghasil tenaga geotermal terbesar ketiga di dunia setelah USA dan Filipina. Tingkat pemanfaatan tenaga geotermal di Indonesia pada saat ini baru mencapai 5% dari kebutuhan energi listrik, dan di Filipina baru mencapai 23% dari kebutuhan listrik nasionalnya. Kontinuitas produksi energi geotermal terjamin, tidak fluktuatif seperti halnya tenaga angin dan tenaga matahari, karena sumber geotermal akan beroperasi terus menerus. Pada saat ini, telah ditemukan teknologi yang memungkinkan pembangkitan listrik oleh tenaga geotermal pada temperatur yang lebih rendah sehingga tidak memperburuk pemanasan global. 

Upaya untuk mendinginkan bumi dapat dilakukan melalui geo-engineering seperti telah diuraikan di atas, yang berdasarkan hasil kajian National Academy of Science, NASA, dan US Department of Energy dinyatakan layak, ekonomis, dan ampuh. Namun demikian, dalam penerapannya, terkendala oleh pendapat para ilmuwan bahwa geo-engineering akan menyebabkan hilangnya lapisan ozone-stratospheric akibat adanya partikel belerang, dan bahwa akan terjadi gangguan iklim regional seperti halnya asian-monsoon. Pendapat para ilmuwan tersebut masih harus dibuktikan lebih dahulu melalui berbagai kegiatan penelitian yang intensif dan dalam jangka waktu lama. Oleh karena itu pemanfaatan geo-engineering merupakan pelengkap program jangka panjang untuk mencapai kondisi bebas emisi GHG. Paling tidak, geo-engineering akan menstabilkan iklim sehingga tidak menjadi lebih buruk.

Komplikasi Pemanasan Global
Pemanasan global lebih berdampak sangat buruk bagi negara miskin dibandingkan dengan negara maju. Penduduk miskin cenderung tinggal di daerah yang rawan bencana seperti di sekitar pantai maupun di daerah yang sangat kering. Mereka akan menjadi makin miskin dan kesehatannya makin buruk, mereka terpaksa harus melakukan migrasi besar besaran demi bertahan hidup. Berdasarkan data dari IPCC, suatu badan PBB, permukaan air laut rata-rata akan naik dari 18cm menjadi 59cm dalam satu abad mendatang. Indonesia akan kehilangan 2000 pulau kecil pada tahun 2030.

Perolehan energi terbarukan melalui biofuel dan bio-ethanol juga menuai komplikasi baru karena terjadi kompetisi antara penyediaan pangan dengan penyediaan energi non fosil. Pada saat dunia sedang mengalami krisis pangan, kebijakan penyediaan biofuel dan bio-ethanol dari bahan baku pangan akan dikalahkan. Data dari FAO menunjukkan bahwa kelangkaan pangan masih tinggi dan harga masih tinggi sedangkan penduduk miskin bertambah terus. 

Perkembangan energi alternatif non fosil menunjukkan bahwa sampai tahun 2050 penyediaan energi yang berasal dari  angin, matahari, geotermal, dan lainnya hanya mampu memenuhi kurang dari separuh kebutuhan energi global. Bahkan pada tahun 2100 kesenjangan pemenuhan kebutuhan energi tersebut akan semakin besar. Hal ini terjadi karena masih diperlukannya berbagai penelitian dasar mengenai teknologi pendayagunaan energi alternatif tersebut secara optimal. Oleh karena itu, perlu ada pendekatan yang berbeda, kita tidak hanya semata-mata mencari energi alternatif non fosil demi pengurangan emisi karbon, akan tetapi melakukan optimalisasi kombinasi berbagai sumber daya lokal yang ada dalam koridor emisi karbon yang minimal. Salah satu cara adalah dengan melakukan upaya hemat energi secara komprehensif dalam satu komunitas lokal/setempat, karena tidak mungkin kita melakukannya sekaligus untuk komunitas besar misalnya secara nasional, terlalu banyak faktor yang berpengaruh. Upaya ini dimulai pada tingkat kota yang dibagi dalam sejumlah pusat hemat energi terpadu dengan menerapkan prinsip eco-technology.
Blog, Updated at: 03.41

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts