Urgensi Al-Quran Dalam Pengembangan Sains Dan Teknologi

Urgensi Al-Quran Dalam Pengembangan Sains Dan Teknologi 
Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam harus difungsikan dalam kehidupan sehari-hari, agar tidak terjadi kesenjangan antara norma-norma Al-Qur’an dengan sikap dan tingkah laku kaum muslimin pada umumnya serta para ilmuwan muslim pada khususnya.

Ilmuwan adalah orang yang memiliki ilmu berasal dari kata ‘ilmi, menurut makna leksikal Arab berarti saintisme, saintifik, terpelajar, kesarjanaan dan akademik. Ciri khusus (karakteristik) seorang ilmuwan adalah:

1. Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan selalu menegakkan keadilan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran (3) ayat 18:

“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, (demikian pula bersaksi) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”.

2. Senantiasa memperhatikan fenomena alam dan dinamika kehidupannya, serta khusyu, tunduk dan takut hanya kepada Allah ‘Azza Wa Jalla’ (QS. Fathir (35) ayat 27 dan 28): 

“Tidakkah kamu perhatikan bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit, lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

3. Senantiasa berdzikir dalam setiap keadaan dan berfikir pada ciptaan Allah SWT di langit dan di bumi untuk kemaslahatan ummat (mengembangkan Imtaq dan Iptek), sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran (3) ayat 191:

“(yaitu) orang-orang yang senantiasa mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaa langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. 

APA ITU IPTEK/ SAINTEK?
Ilmu pengetahuan adalah knowledge/ ilmu pengetahuan secara umum, sedangkan sains adalah ilmu pengetahuan kealaman (natural sciences), yaitu ilmu pengetahuan mengenai alam dengan segala isinya. Ilmu pengetahuan kealaman, dapat dibagi menjadi ilmu kehidupan (life science), yaitu ilmu pengetahuan mengenai makhluk hidup di alam, serta ilmu kebendaan (physical sciences), yaitu ilmu pengetahuan mengenai benda mati di alam. Sedangkan teknologi adalah ilmu tentang penerapan ilmu pengetahuan alam untuk memenuhi suatu tujuan. Selanjutnya, ilmu pengetahuan dapat dirumuskan sebagai himpunan sebab akibat yang disusun secara sistematis dari pengamatan, percobaan dan penalaran. Ilmu pengetahuan diawali oleh rasa ingin tahu mengenai kejadian di sekeliling kita, yang dilanjutkan dengan mempertanyakannya secara tidak putus-putus dalam rangka memahami kejadian yang belum kita ketahui. Keingintahuan itu dilaksanakan melalui pengamatan percobaan dan penalaran. Gejala alam sekitar kita, baik yang hidup seperti manusia, binatang dan tumbuhan maupun benda mati, seperti batu, gunung, lautan, angin, bintang, matahari, kita amati untuk memahaminya. Pengamatan tersebut dapat dilakukan lebih cermat dengan mengadakan pengukuran atau cara pengumpulan data lain. Apabila gejala tidak ada, untuk mengkajinya dapat ditimbulkan gejala melalui percobaan. Percobaan bertujuan untuk menimbulkan gejala dalam lingkungan yang terkendali. Data yang dikumpulkan dari pengamatan dan percobaan selanjutnya dianalisis dengan metode ilmiah untuk memperoleh kesimpulan yang masuk akal, yang dapat diterima secara nalar.

Fungsi Al-Quran yang Terkait Dengan Saintek
Ummat Islam meyakini bahwa agama lslam itu adalah agama Allah yang sempurna. al-Qur’an adalah kitabullah yang berisi petunjuk dan pedoman yang lengkap untuk memimpin seluruh segi kehidupan manusia ke arah kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kita yakini bahwa al-Qur’an juga mengandung ayat-ayat yang dapat dijadikan pedoman (meskipun hanya secara garis besar) dalam pengembangan ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi dalam rangka mempertebal keimanan dan meningkatkan kesejahteraan manusia.

Al-Quran sebagai petunjuk/pedoman hidup manusia, mengajarkan dasar-dasar dan mengarahkan perkembangan Saintek menuju muaranya yang hakiki. Yaitu yang dapat membawa kemanfaatan dan kemudahan dalam hidup dan kehidupan manusia serta dapat membawa kepada ketaatan dan kepatuhannya kepada Kholiknya.

Perkembangan Saintek dewasa ini sangat cepat. Perkembangan menyangkut kebutuhan manusia sehari-hari, sehingga perkembangannya membawa perubahan pola hidup manusia dengan cepat pula.

Obyek Ilmu Pengetahuan (Sains)
Semua makhluk merupakan obyek yang layak untuk diriset. Jumlah makhluk Allah yang tersebar di alam semesta tidak dapat dihitung. Jika masing-masing makhluk tekandung di dalamnya ilmu pengetahuan tentang makhluk itu berarti jumIah ilmu pengetahuan juga tak dapat dihitung.

Jika jumlah ilmu pengetahuan yang ada sejak dulu sampai sekarang masih dapat dihitung berarti manusia masih memiliki peluang yang sangar besar untuk memperoleh ilmu pengetahuan baru sebanyak makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT. Demikian pula karena teknologi bersifat selalu mengiringi dan mengimbangi terhadap ilmu pengetahuan, maka jumlah teknologi yang perlu ada juga tak dapat dihitung.

Al-Quran Sebagai Wujud Produk Saintek Allah SWT
Al-Quran merupakan produk Saintek Allah yang diturunkan kepada manusia untuk menuntun manusia akan jalur-jalur riset yang perlu ditempuh, sehingga manusia memperoleh hasil yang benar. Di sini fungsi al-Quran sebagai hudan memberikan kecerahan pada akal manusia, sehingga manusia merasa lapang di hadapan Allah yang Maha Luas. Kebenaran hasil riset ini dapat diukur dari kesesuaian antara akal dengan naql. Kerja akal yang sesuai dengan naql ini dapat dikategorikan sebagai ibadah kepada Allah SWT dan sekaligus turut mengisi definisi ijtihad dalam arti umum yang memiliki nilai yang sangat besar sebagaimana yang dikatakan oleh Ali R.A. 

“Berpikir satu saat lebih baik daripada beribadah selama 1 tahun”.

Oleh sebab itu, usaha terus menerus untuk mengkaji al-Quran perlu dilakukan dan bahkan hukumnya menjadi fardlu 'ain bagi setiap ilmuwan yang akan meriset terhadap alam semesta, menciptakan produk teknologi merupakan hasil kerja dari orang-orang yang taat kepada tata tertib al-Quran. Al-Quran juga merupakan sumber permasalahan yang layak untuk diriset. Yang dimaksud di sini bukan al-Qurannya itu sendiri yang diriset, namun permasalahan riset dapat saja muncul setelah orang membaca dan mengkaji al-Quran. Metode ini termasuk jenis induktif. Selain itu Islam juga mempersilakan kepada para periset untuk menggunakan metode deduktif (yang sesungguhnya dalam ayat lain hal ini termasuk juga pada deduksi al-Quran). Oleh sebab itu jika periset merupakan orang yang beriman maka tidak ada masalah untuk menggunakan metode riset, apakah itu induktif atau deduktif.

Di atas dijelaskan bahwa al-Quran merupakan karya Allah. Saintek ini dalam tingkatannya dapat dikategorikan sebagai teknologi tingkat I. Teknologi yang diciptakan manusia beriman merupakan derivasi dari teknologi pertama dan disebut sebagai teknologi tingkat II. Ilmuwan tidak beriman menciptakan alat teknologi, dan menempatkannya dalam urutan teknologi tingkat I. Ini merupakan kekeliruan karena akan memberikan akibat lain pada model ilmuwan. Orang yang tak beriman akan mengagungkan teknologi, bersikap arogan dan jika diteruskan akan bermuara kepada penuhanan kepada diri sendiri. Jelaslah bahwa hasil teknologi yang demikian itu tidak dapat dimasukkan dalam wilayah ibadah kepada Allah swT. Firman Allah dalam surat al-A'raf (7) ayat 146:

“Aku akan memalingkan orang-orang yang memalingkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dari ayat-ayat-Ku”.

Berikut ini beberapa integrasi ayat-ayat al-Quran dalam ilmu Sains dan Teknologi: 
1. Ilmu sains dan teknologi dimulai dengan pengembangan Budaya Baca (“Iqra”), kajilah Kitab Bacaan “al-Quran” surah al-Alaq (96): 1-5
2. Al-Quran diturunkan untuk menjelaskan segala sesuatu (secara global), kajilah QS. ................ (Tibyanu li kulli syain)
3. Penciptaan langit dan bumi tidak main-main/ sia-sia, ada hikmah di antara keduanya, kajilah QS. 21:16, 38:27, 3:190-191.
4. Perintah mengadakan penelitian/mengamati apa yang ada di langit dan di bumi, kajilah QS. Yunus (10):101.
5. Ekosistem alam rusak akibat perbuatan manusia QS. 30:40, ada yang membantah tentang (keesaan) Allah QS. 31:20.
6. Al-Quran mendorong saintis dan teknokrat untuk meneliti, mengamati dan menemukan suatu yang belum pernah ditemukan para ahli sebelumnya, QS. 18:109, 50:6.
7. Fisika: QS. 13:12, 10:5 kilat, cahaya, sinar dan hisab
8. Perkapalan: QS. 17:66-67; 42:32-34; 45:12
9. Kelautan QS. 55:19-20; 25:53; 10:22; 38:37; 52:6; 35:12; 24:40; 82:3; 81:6
10. Awan/ meteorologi& geofisika QS. 2:164
11. Geografi/geologi QS. 13:3; 21:31; 74:17; 88:19-20; 27:88
12. Luar angkasa QS. 55:33; 71:15; 6:125.
13. Teori Big Bang QS. 21:30
14. Teori Atom QS. 10:61
15. Embriologi QS. 23:14; 39:6; 52:6
16. Biologi Laut: -Bangkainya pun halal QS. 5:96, -Ikan QS. 20:77
17. Orang yang berilmu dapat memahami perumpamaan-perumpamaan dari Allah QS. 29:43.
18. Astrologi QS. 15:16-18; 85:1; 86:3; 6:97
19. Pertanian QS. 7:57; 87:2-5; 6:59
20. Gravitasi QS. 22:65
21. Perikanan QS. 16:14
22. Pengairan QS. 67:30; 23:18
23. Farmasi/obat-obatan QS. 16:68-69
24. Peternakan QS. 16:66; 24:45
25. Penciptaan langit tujuh lapis dan seimbang QS. 67:3-4
26. Penciptaan segala sesuatu dan pertumbuhannya dengan ukuran-ukuran yang tepat QS. 25:2; 15:19
27. Setelah mempelajari/ mendapatkan ilmu, mengucapkan “AlhamdulilLah” QS. 27:15

Mengkaji Saintek Adalah Mengaji
Jika mendengar istilah mengaji maka akan terbayang oleh kita adanya banyak anak-anak kecil yang setiap hari pergi ke seorang ustadz, membaca Al-Quran atau belajar ilmu-ilmu agama di hadapannya dalam suasana yang menyejukkan, dan membawa kerinduan untuk dapat melaksanakannya secara kontinyu. Anak-anak selalu taat kepada ustadznya dan sampai besar anak-anak ini akan selalu mengenangnya.

Al-Quran merupakan representasi (wakilan) dari alam semesata beserta isinya. Jika orang membaca al-Quran secara tekstual saja telah dikategorikan mengaji, maka membaca al-Quran secara kontekstual dengan cara mempelajari kandungan-kandungan al-Quran, yang ditopang dengan beberapa literatur pendukung dan ditinjau dari beberapa disiplin ilmu, adalah suatu hal yang lebih layak bahwa demikian itu disebut pula sebagai mengaji. Oleh karena itu, baginya berhak memperoleh pahala dari Allah. Demikian pula bagi orang yang menerjemahkan ilmu pengetahuan itu ke dalam produk teknologi atau membuat karya nyata, maka ia telah melakukan amal shaleh dan baginya berhak memperoleh pahala dari Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Zalzalah (99) ayat 7:

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, maka dia akan melihatnya”.

Teknologi dalam Islam bukan tujuan, tetapi sebagai alat yang digunakan untuk meneropong terhadap ayat-ayat Allah. Semakin maju teknologi, semakin banyak informasi yang diperoleh.

Penemuan-penemuan baru akan semakin membantu kepada orang Islam untuk lebih mudah mengagungkan Allah sehingga baginya benar-benar bahwa Allah itu Maha Besar dan sebaliknya manusia merupakan makhluk yang amat kecil. Dengan demikian, diharapkan akan semakin memperbesar peran manusia sebagai khalifah Allah di permukaan bumi yakni memakmurkan bumi dan mengusahakan kesejahteraan bagi segenap penghuni bumi. Hasil riset yang demikian ini akan melampaui hasil riset yang tidak mendasarkan pada filosofi mengaji. 

Landasan Filosofi Dalam Saintek
Dari sisi ilmu pengetahuan, maka al-Quran merupakan peletak landasan filosofi manusia dalam memandang dan memahami alam semesta. AI-Quran merupakan rumus (formula) baku dan alam semesta dengan segala perubahannya merupakan persoalan yang layak dan perlu dijawab.

Al-Quran merupakan kamus alam semesta. Solusi tentang teka-teki alam semesta akan terselesaikan dengan benar jika digunakan formula yang tepat yaitu al-Quran. Dengan demikian ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat quraniyah akan berjalan secara pararel dan seimbang. Ilmu pengetahuan seperti ini jika menjelma menjadi teknologi maka akan menjadikan teknologi itu berbasiskan al-Quran atau teknologi yang quranik. Metode seperti ini disebut induksi al- Quran.

Pada kondisi yang lain, tidak menutup kemungkinan bahwa dengan melalui proses deduksi yaitu pengamatan terhadap alam semesta, maka akan dihasilkan kesimpulan yang mengarah kebenaran al-Quran. 

Banyak ayat-ayat al-Quran yang menyinggung rentang pengembangan Iptek. seperti wahyu pertama menyuruh manusia untuk membaca, menulis, melakukan penelitian dengan dilandasi iman dan akhlak yang mulia.

Selanjutnya mengenai perintah untuk melakukan penelitian (suatu kegiatan yang sangat penting di dalam pengembangan sains), secara umum dapat dilihat antara Iain dalam firman-Nya pada surat Yunus, ayat 101:

Katakanlah Muhammad: Lakukanlah nazhor (penelitian menggunakan metode ilmiah). Mengenai apa-apa yang ada di langit dan di bumi.

Sedangkan yang lebih rinci dibaca dalam surar al-Ghosyiyah, ayat 17-20:

Apakah mereka tidak memperhatikan (melakukan nazhor) onta, bagaimana ia diciptakan. Dan di langit, bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung, bagaimana ia ditancapkan. Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan.

Menurut Prof. A. Baiquni dengan diikutinya perintah dan petunjuk al-Quran ini, maka muncullah di lingkungan ummat Islam suatu kegiatan observasional yang disertai dengan pengukuran sehingga ilmu tidak lagi bersifat kontemplatif belaka, seperti yang berkembang di lingkungan bangsa Yunani melainkan mempunyai ciri empiris sehingga tersusunlah dasar-dasar sains. Penerapan metode ilmiah ini, yang terdiri atas pengukuran teliti pada observasi dan penggunaan pertimbangan yang rasional, telah mengubah astrologi menjadi astonomi. Karena itu telah menjadi kebiasaan para pakar untuk menulis hasil penelitiannya dan menguji penelitian orang lain, sehingga tersusunlah himpunan rasionalitas kolektif insani yang dikenal sebagai sains (ilmu pengetahuan).

Beberapa contoh lain ayat-ayat yang berkenaan dengan sains, seperti pada surat Yasin, ayat 36 :

Maha suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari pada yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri maupun dari apa yang tidak (belum) mereka ketahui.

Dari surah Yasin ini dinyatakan bahwa Allah SWT menciptakan makhluk-Nya secara berpasang-pasangan, seperti ada siang dan malam (QS. Ali Imran: 190), positif dan negatif, wanita dan pria sampai pada makhluk elementer seperti elektron yang bermuatan negatif, dan positron yang bermuatan positif. Terjadinya pasangan elektron dan positron, yang di dalam fisika inti dikenal dengan pembentukan pasangan ion (ion pair production) di mana peristiwa ini diterangkan apabila radiasi gelombang elektron magnetik yang mempunyai tenaga di atas atau sama dengan 1.02 Mev mendekati inti atom suatu materi, maka tiba-tiba radiasi tersebut lenyap dan kemudian muncullah elektron dan positron yang berhenti atau bergerak dengan kecepatan yang besarnya tergantung dari tenaga radiasi yang datang mendekati inti atom tersebut. Akhir dari ayat ini berbunyi :

Dan dari apa yang mereka belum ketahui,
Dapat diartikan sebagai perintah untuk melakukan penelitian, karena dengan melakukan penelitian hal-hal yang tadinya belum terungkap menjadi terungkap. 

Mengenai ciptaan yang berpasang-pasang ini juga dapat dilihat pada surat adz-Dzariyat, ayat 49:

Dan dari segala sesuatu Kami (Allah) ciptakan berpasang-pasangan agar supaya kamu ingat (akan kekuasaan dan kebenaran AIIah).

Kemudian dalam surat al-Mulk, ayat 3 dan 4, Allah berfirman:

(Allah) yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-Iapis. Kamu sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka ulangilah pandangan-mu adalah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatan-mu akan kembali kepada-mu dengan tidak menemukan sesuatu yang cacat dan penglihatan-mu itupun dalam keadaan payah.

Di dalam kedua ayat ini dan hukum-hukum yang diletakkannya dan yang dikenal dengan sunnatullah itu. Di situ dapat disimpulkan bahwa alam semesta ini sangat kokoh, teratur rapi dan harmonis serta seimbang. 

Orang yang menguasai Iptek akan dengan mudah memahami bahwa benda-benda langit tersebut saling bergerak. Isaac Newton dan Kepler, yang bukan Muslim, yang justru mengemukakan orang dengan mudah memahami dan menerangkan sunnatullah ini. Dengan kemurahan-Nya, Allah berjanji tidak akan mengubah-ubah sunnatullah tersebut dengan Firman-Nya:

Sebagai sunnatullah yang telah berlalu semenjak dahulu kala, kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan perubahan bagi sunnatullah itu. (QS. al-Ahzab: 62)

Dengan sunnatullah yang tidak berubah-ubah itu maka memberi kesempatan dan kemudahan bagi manusia untuk mempelajari dan memanfaatkannya.

Tentang benda-benda langit yang selalu bergerak akan membawa pada suatu teori jagad raya yang berkembang (Expanding Universe). Allah berfirman dalam surat adz-Dzariat, ayat 47:

Dan langit itu Kami (Allah) bangun dengan kekuatan dan sungguh Kami (Allah) mengembangkannya.

Kemudian dalam surat al-Hijr, ayat 16, Allah berfirman:
Dan sungguh telah Kami (AIIah ciptakan di langit galaksi-galaksi, dan Kami (Allah) hiasi langit tersebut bagi orang yang memandangnya (melakukan nazhor).

Di jagad raya ini berisi bermilyar-milyar galaksi. Orang menemukan angka 100 milyar galaksi, dan masing-masing galaksi berisi 100 milyar bintang (matahari kita merupakan satu dari 100 milyar bintang tersebut). Bila diamati dengan teleskop yang paling mutakhir, galaksi-galaksi tersebut bergerak saling menjauhi satu sama lain dengan kecepatan yang tinggi. Makin jauh dari bumi, galaksi tersebut bergerak dengan kecepatan yang makin tinggi pula. 

Kemudian dalam surat al-Baqarah, ayat 74, Allah berfirman:

Dan diantaranya (batu tersebut) ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. 

Di sini takut kepada AIIah dapat diartikan sebagai tunduk kepada hukum-hukum Allah atau sunnatullah. Ayat ini mirip dengan ayat Kauniyah yang dialami oleh Isacc Newton pada abad ke-I7 yaitu ketika Newton kejatuhan buah apel waktu duduk di bawah pohon apel. Newton berpikir mengapa buah apel ini meluncur ke bawah, tidak ke samping atau ke atas. Dari berpikirnya itu kemudian diketemukan hukum gravitasi yang menyebabkan semua benda di bumi ini memiliki berat. Karena yang menemukan hukum gravitasi ini adalah Newton, maka sebagai penghormatan, hukum gravitasi ini dinamakan “Hukum Gravitasi Newton”.

Al-Quran Sebagai Prediktor 
Beberapa ayat al-Quran menyatakan ramalannya kejadian pada masa yang akan datang baik masa yang jauh maupun masa yang dekat, yang sebagian besar merupakan mata rantai sebab akibat (kausalitas). Oleh sebab itu jika sebab ini yang merupakan data-data dapat dirunut oleh manusia secara komprehensif, maka akibat yang ditimbulkan kelak akan dapat diketahui sebelum terjadi dengan intensitas keyakinan yang cukup tinggi. Berbeda dengan keyakinan yang dimiliki oleh orang awam yang tidak disertai dengan data-data. Dari sini, manusia dapat menghindarkan diri dari akibat, jika rentetan sebab itu mengarah kepada akibat jelek dan menyongsong akibat rentetan sebab itu mengarah kepada akibat yang baik. Jika akibat terjadi pada masa yang dekat dari sebab, maka disebut ekstrapolasi. Bila terjadi pada masa yang jauh dari sebab, maka disebut prediksi, sebagai contoh:
a. Kerusakan di muka bumi terjadi akibat ulah manusia. (Surat ar-Rum 30: 41)
b. Kisah Nabi Yusuf menganjurkan kepada kaumnya untuk menanam jagung dalam masa 7 tahun sebagai cadangan pada masa paceklik. (Surat Yusuf 12: 47 -48).
c. Surga sebagai balasan bagi orang yang beramal saleh dan neraka merupakan balasan bagi orang yang beramal jahat. (Surat al-Bayyinah 98: 6, 8)

Al-Quran Sebagai Sumber Motivasi
Al-Quran mendorong kepada manusia untuk melakukan penjelajahan angkasa luar dan di bumi. 

Di dalam surat ar-Rahman, ayat 33, Allah berfirman:
Wahai sekumpulan Jin dan manusia apabila kamu ingin menembus langit dan bumi maka tembuslah dan kamu tidak mampu menembusnya kecuali dengan sulthon.

Sahirul Alim memberikan gambaran tentang sulthon ini, yaitu ketika USA meluncurkan Apollo II untuk mendarat di bulan, sebagai berikut: Roket pengangkat dari bumi diberi nama Saturnus V, bertingkat tiga booster yang besar. Tingkat pertamanya saja mempunyai 5 mesin yang bekerja dengan 160 juta daya kuda selama 2 menit 40 detik. Apollo II secara keseluruhan mempunyai 8 juta onderdil kerja, 91 mesin dan jika diisi dengan bahan bakar akan mencapai berat 3.100 ton. Apollo II ini diciptakan oleh 300.000 (tiga ratus ribu) orang ahli USA dan dibuat oleh 20.000 pabrik USA.

Tentang penjelajahan di bumi Allah berfirman dalam surat Yusuf ayat 109:

Apakah mereka tidak melakukan perjalanan di bumi.

Apakah mereka tidak memperhatikan bumi? Berapa banyak Kami turunkan di bumi itu aneka ragam tumbuhan yang baik? (QS. as-Syu'ara (26):7)

Semuanya itu jika manusia melakukannya, maka akan memperoleh balasan berupa kemanfaatan-kemanfaatan untuk kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Al-Quran Merupakan Ujud Simplikasi (Penyederhanaan)
Para ilmuwan bidang sains telah sadar dan paham benar bahwa alam semesta ini membentuk struktur yang sangat teratur, dan bergerak dengan teratur. Keteraturan gerak alam semesta ini akan lebih memudahkan manusia untuk menyederhanakan fenomena-fenomena yang terkait dengannya ke dalam bahasa ilmu pengetahuan (matematika, fisika, kimia, biologi dan lain-lain). Dengan demikian sesungguhnya manusia telah membuat operator yang sederhana namun mampu mewakili peristiwa yang terjadi di alam semesta.

Jika dikatakan bahwa dunia sekarang ini bertambah semrawut, ini sangat boleh jadi karena pandangan manusia tentang dunia ini mengalami bias, sehingga manusia dengan kegiatannya dimaksudkan untuk lebih menata dunia tetapi yang terjadi, malah menambah kesemrawutan dunia. Oleh sebab itu orang Islam dalam memasuki era globalisasi, tak perlu terkejut, hilang kontrol dan tidak siap, karena dengan modal selalu berusaha menyederhanakan persoalan, tidak mempersulit persoalan, maka akan mudah memperoleh penyelesaian. Demikian pula dengan upaya untuk meraih teknologi tinggi (high tech) juga tidak perlu merasa tidak mampu, insya Allah. Dengan semangat tinggi dan tidak menganggap bahwa high tech merupakan sesuatu yang mustahil untuk dicapai, maka high tech akan dapat diraih. Konsep penyederhanaan persoalan juga akan memberikan rumusan bahwa semua benda di alam ini berasal dari zat yang paling “sederhana” yaitu al-Ahad akan kembali kepada al-Ahad. Inilah jaminan bahwa siapapun orang yang meriset alam semesta dengan mengikuti rumusan al-Quran, maka akan memiliki tauhid yang tinggi. 

Contoh lain penyederhanaan tentang kehidupan dunia adalah bahwa secara umum sifat kehidupan dunia kita ini digambarkan jelas dan tepat sekali oleh Allah sendiri dalam firmanNya dalam surat Yunus ayat 24:

Bahwasanya perumpamaan kehidupan dunia itu adalah seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu bercampur dengan tumbuh-tumbuhan bumi sehingga berkembang subur, diantaranya ada yang dimakan manusia atau binatang ternak. Hingga apabila bumi telah sempurna keindahannya dan memakai pula perhiasannya, dan penduduknya mengira, bahwa mereka telah menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab kami pada waktu malam atau siang, lalu kami jadikan bumi itu seperti ladang padi yang sudah dituai, seakan-akan belum pernah ada yang tumbuh kemarinnya. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami bagi orang-orang yang sungguh-sungguh berpikir.

Al-Quran Sebagai Sumber Etika Pengembangan Saintek
Pada Teknologi harus terkandung muatan etika yang selalu menyertai hasil teknologi pada saat akan diterapkan. Sungguhpun hebat hasil teknologi, namun jika diniatkan untuk menghancurkan sesama manusia, menghancurkan lingkungan, maka sangat dilarang di dalam Islam. Jadi teknologi bukan merupakan sesuatu yang bebas nilai. Demikian pula penyalahgunaan teknologi merupakan tindakan zhalim yang tidak patut untuk dilanjutkan. Oleh sebab itu teknologi harus dapat dimanfaatkan baik langsung ataupun tak langsung untuk membantu mendapatkan kemudahan, amar ma'ruf nahi munkar. Dan bukan untuk merusak, sehingga menimbulkan bencana, sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Qoshosh: 77.

Dan raihlah apa yang dianugrahhan Allah kepadamu untuk kebahagiaan kampung akhirat, tetapi jangan sekali-kali kamu mengabaikan nasibmu di dunia. Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang berbuat kerusakan.

Fungsi Al-Quran Sebagai Sumber Kebenaran llmiah

Allah berfirman dalam al-Quran surat al-Isra’ (17) ayat 105 sebagai berikut:

Dan Kami turunkan al-Quran itu dengan sebenar-benarnya dan aI-Quran itu telah dengan membawa kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

Dan sungguh kami telah satu kitab (al-Quran) kepada mereka yang kami telah mejelaskannya atas dasar ilmu kami , menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. al-A’raaf (7): 52).

Dari dua ayat terakhir yang penulis sampaikan di atas dapat ditarik satu kesimpulan yang sangat penting, yaitu bahwa al-Quran itu bagi kita adalah sumber kebenaran ilmiah yang terpercaya dan sempurna.

Berbicara tentang sumber kebenaran ilmiah, maka untuk melengkapinya dengan hal-hal yang lebih detail, orang harus menggunakan sumber/ rujukan yang kedua yaitu Hadits Nabi Muhammad SAW. atau as-Sunnah. Adapun as-Sunnah ini tentunya wahyu ilahi juga tetapi susunan redaksinya berasal dari Nabi SAW. sendiri. Susunan atau Hadits yang sahih itu juga merupakan sumber kebenaran ilmiah yang dijamin oleh firman Allah dalam surat Fathir ayat (35) ayat 24:

Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

Sumber kebenaran ilmiah yang pertama adalah al-Quran, dan yang kedua yaitu as-Sunnah. Namun harus diingat pula bahwa masih ada sumber yang ketiga yaitu alam semesta, atau al-‘Alamin, atau dengan kata yang lebih pendek dan lebih mudah diucapkan, sebut saja al-Kaun atau Sunnatullah. Sumber kebenaran ilmiah yang ketiga ini tentunya tidak kalah pentingnya dengan yang pertama dan yang kedua sehingga tidak boleh diabaikan bahkan harus dipelajari, ditafakkurkan, diobservasi, dan diteliti serta dinalari cermat, akurat dan seksama sebagaimana pula sikap kita terhadap al-Quran dan as-Sunnah. Al-Kaun sebagai sumber ketiga akan memberikan kelengkapan yang detail bagi pemahaman dan penafsiran al-Quran dan as-Sunnah. Jaminan Allah bagi keshahihan sumber yang ketiga atau al-Kaum terdapat pula dalam al-Quran itu sendiri yaitu firman Allah dalam surat ad-Dukhan (44) ayat 38 dan 39:

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantaranya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya itu melainkan. Dengan membawa kebenaran (dan tujuan yang benar), tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Ketiga sumber motivator ummat Islam yaitu al-Quran, as-Sunnah dan Sunnatullah/ al-Kaun (alam semesta atau al-'Alamin) yang bersifat komplementer atau saling melengkapi dan saling menguatkan satu sama lain. Tiga sumber kebenaran ilmiah, atau tiga sumber Islam itu berarti pula sebagai sumber informasi ilmu dan hukum yang lengkap dan benar. 

Ketahuilah bahwa Islam adalah agama Allah yang serba benar dan serba ilmiah sehingga selayaknya pula tidak dogmatik. Dogma itu adalah pendapat manusia yang tidak berpijak pada tanda bukti kebenaran, jadi tanpa burhan atau hujjah yang haq. Islam/ al-Quran menolak dogma dan menyatakan bahwa tidak ada dogma dalam agama Alah seperti firman-Nya dalam surat al-Baqarah (2) ayat 256:

Tidak ada dogma (paksaan) dalam agama (Islam) ini, sesungguhnya telah jelas berbeda petunjuk yang benar daripada yang sesat.

Allah al-Haqqu mewajibkan kepada kita semua agar setiap butir kebenaran yang kita peroleh itu disertai dengan tanda bukti kebenarannya. Tanda bukti kebenaran itu dalam al-Quran disebutkan burhan, atau hujjah , atau ayat, atau bayyinah. Kadang-kadang disebutkan dalil dalam bahasa sehari-hari di kalangan para ulama, Allah berfirman dalam surah An Naml (27) ayat 64:

Tunjukkanlah burhanmu, jika kamu memang benar
Supaya burhan itu terjamin kebenarannya maka hendaknya diambil dari tiga sumber Islam tersebut dengan menggunakan akal sehat yang terlatih dan ahli. Dengan demikian maka kita akan mengenal tiga macam burhan, yaitu Qurani, Burhan Sunnai dan Burhan Kauni.

Segala bidang ilmu yang dipelajari manusia, yang biasanya dibagi menjadi empat kelompok besar yaitu syariat agama (lslam), sains, teknologi, dan seni (art), hendaknya ditegakkan atas tiga macam burhan itu, jika ingin terjamin kebenarannya. Dengan demikian maka empat kelompok ilmu itu akan terlihat menyatu dan terpadu menjadi satu kesatuan ilmu yang benar dan utuh (lengkap), katakanlah menjadi integrated knowledge atau ilmu terpadu yang sangat diperlukan oleh seluruh umat manusia. Seluruh ilmu manusia itu akan menjadi Islami dan itulah ilmu yang benar, yang akan membantu menjawab dan menyelesaikan setiap masalah-masalah berikutnya dalam usaha manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya pasti dapat dipecahkan secara sukses dengan menggunakan metode pendekatan terpadu, yaitu aplikasi dari ilmu terpadu itu. Konsepsi tersebut kami yakin sangat penting dan bersifat fundamental karena akan membuahkan kesenangan pikiran (Unifornity of Thaught) dalam diri kita umat yang beriman ini. Dengan konsepsi pengetahuan terpadu itu, secara otomatis ide sekularisasi akan tertutup rapat-rapat sehingga tidak ada jalan untuk masuk ke dalam alam pikiran ummat Islam. Tidak hanya itu, yang lebih penting bagi kita adalah bahwa kita memiliki identitas kita yang sangat mengagungkan yaitu celupan Allah (shibghatullah) seperti firman Allah dalam surat al-Baqarah (2) ayat 138:

Shibghah (celupan) Allah, dan siapakah yang lebih baih celupannya daripada celupan Allah? Dan hanya kepada-Nya kami menyembah.
Blog, Updated at: 03.40

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts