Iklan, Perilaku Konsumen, Sikap Konsumtif

Iklan, Perilaku Konsumen, Sikap Konsumtif 
Dewasa ini, tayangan televisi di dominasi oleh tayangan berupa iklan. Baik iklan produk ataupun iklan layanan masyarakat kini sudah menjamur di televisi. Banyaknya iklan di televisi bertujuan untuk memberikan sebuah stimulus bagi para penontonnya. Iklan merupakan sebuah media komunikasi yang memiliki fungsi persuasif. Dalam hal ini para penonton diajak untuk menikmati segelintir iklan untuk dapat menarik minat penonton sehingga mereka ingin mengkonsumsi barang maupun jasa yang diiklankan tersebut.

Sebuah iklan di televisi dapat merubah perilaku masyarakat yang sering menonton televisi. Khususnya perilaku konsumsi masyarakat. Perilaku para konsumen tersebut merupakan perilaku dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, serta menghabiskan kegunaan suatu barang dan jasa yang diharapkan mampu memuaskan kebutuhan mereka (Schiffman dan Kanuk 1994). 

Perilaku yang dapat disebabkan dari menonton iklan di televisi adalah masyarakat menjadi memiliki informasi terhadap suatu barang ataupun jasa yang diiklankan. Mereka menjadi dapat memilih hal-hal apa saja yang dapat dikonsumsi untuk dapat memenuhi kebutuhan dirinya. Namun, selain mendapatkan informasi lebih, para penonton dapat menjadi lebih konsumtif “hedonic”. Hal tersebut disebabkan karena para penonton terpengaruh oleh iklan, sehingga mengkonsumsi barang-barang yang tidak diperlukan pada saat itu (Sumarwan 2002). Tujuan umum dari makalah ini untuk menganalisis pola konsumsi masyarakat yang dipengaruhi oleh iklan yang ditayangkan oleh televisi. Analisis difokuskan pada masyarakat perkotaan yang sudah terbuka dengan informasi di televisi.

Berdasarkan pembahasan di atas, bagaimana pola konsumsi masyarakat yang ditimbulkan setelah menonton iklan di televisi? Selain itu terdapat akibat-akibat dari konsumsi yang disebabkan oleh menonton iklan. Sebagai contohnya adalah sikap konsumtif, sehingga bagaimana masyarakat dapat mengendalikan dirinya untuk menahan rasa konsumtif akibat dari menonton iklan di televisi?

Untuk itu makalah ini memiliki tujuan untuk menganalisis pola konsumsi yang ada di masyarakat setelah mereka menonton iklan barang maupun jasa di televisi. Selain itu, perlu juga menganalisis cara pengendalian diri yang dilakukan oleh masyarakat untuk dapat menahan pola konsumtif yang ditimbulkan akibat menonton iklan di televisi

Iklan
Iklan merupakan sebuah media komunikasi yang bersifat persuasif. Hal tersebut disebabkan oleh, para pembuat iklan mencoba untuk menarik perhatian para penonton. Iadalah iklan yang singkat, jelas, mudah dipahami, serta mengandung pengulangan kata (Widhi 2009). iklan yang baik Iklan terdapat dua macam yaitu iklan produk serta iklan layanan masyarakat. Kedua jenis iklan tersebut memiliki objek berbeda yang mereka tawarkan. Iklan produk merupakan iklan yang memiliki objek berupa sebuah barang ataupun jasa. Sementara iklan layanan masyarakat merupakan iklan yang memiliki objek berupa sebuah program yang terkait pada kegiatan manusia baik dari pemerintah maupun swasta.

Iklan yang baik merupakan iklan yang dapat memberikan efek yang baik bagi para penikmat iklan. Iklan tersebut dapat memberikan referensi bagi para konsumen sebuah barang ataupun jasa. Tidak hanya menonjolkan sisi pemasarannya, tapi sebuah iklan juga diharapkan mampu memberikan pengetahuan kepada konsumennya. Hal tersebut dimaksudkan agar para konsumen tidak hanya mengkonsumsi suatu barang ataupun jasa secara berlebihan, tetapi mereka menggunakannya sesuai dengan manfaat yang dibutuhkan oleh mereka.

Kini media massa sudah sering mencatumkan iklan. Pada media cetak, sering dijumpai sebuah iklan, baik pada majalah maupun pada koran. Iklan dapat mememenuhi sebuah halaman pada koran ataupun media cetak. Selain itu, iklan sering dikumandangkan pada radio-radio tertentu. Dengan begitu, iklan dapat menjadi lebih interaktif dan persuasif. Namun, dewasa ini iklan sudah sering ditayangkan pada program televisi. Dengan munculnya iklan pada program televisi, iklan lebih bisa dinikmati oleh para penonton. Sehingga tidak jarang para penonton televisi terbuai oleh iklan-iklan yang ada di televisi. Hal tersebut menciptakan sebuah keinginan untuk dapat membeli ataupun menggunakan barang maupun jasa yang diiklankan tersebut. 

Prinsip periklanan sendiri meliputi terdapat pesan tertentu yang disampaikan melalui bentuk audio, visual, maupun audio visual, dilakukan oleh komunikator, dilakukan dengan cara nonpersonal atau tidak bertatap muka secara langsung, disampaikan kepada khalayak tertentu, dan penyampaian pesan mengharapkan sebuah dampak tertentu (Ridhoanova 2009). Sebuah iklan harus memenuhi prinsip-prinsip tersebut sehingga sebuah iklan dapat dengan mudah untuk di pahami oleh para penonton. Dengan begitu, efek yang diinginkan oleh pembuat iklan dapat ditemukan pada para penikmat iklan. Sebuah iklan yang memang dibuat oleh para pembuatnya memang dimaksudkan untuk mendapatkan feedback maupun efek dari para penonton iklan. Hal tersebut terjadi pada iklan bersambung. Para penonton dibuat ingin tahu tentang barang maupun jasa apa yang diiklankan tersebut. Sehingga penonton bertanya-tanya dan antusias terhadap iklan tersebut.

Efek Dari Iklan
Iklan memiliki efek tersendiri bagi konsumennya. Efek tersebut dapat berupa manfaat ataupun keburukan. Setiap orang tentunya mendapatkan efek yang berbeda dari menonton iklan. Ada yang menganggap iklan tersebut bermanfaat tetapi ada pula yang menganggap iklan tersebut tidak berguna. Iklan memang bagaikan dua sisi mata uang bagi kehidupan kita, bisa bermanfaat ataupun tidak bermanfaat. Manfaatnya adalah iklan dapat memberikan kepada kita sebuah informasi mengenai sebuah barang atapun jasa. Konsumen menjadi lebih mengetahui karakteristik dari sebuah barang maupun jasa yang diiklankan tersebut. Sehingga dalam mengkonsumsi barang yang dibutuhkan, para konsumen tidak akan salah pilih. Mereka dapat mengkonsumsi barang-barang yang memang memiliki daya guna yang tepat serta sesuai dengan kemampuannya untuk mengkonsumsi barang tersebut. Selain itu konsumen dapat terhibur oleh keberadaan iklan tersebut. Tidak jarang, sebuah iklan dikemas secara sangat lucu dan menarik sehingga para penikmat iklan dapat terhibur oleh iklan tersebut. Misalnya dengan menggunakan sosok yang diidolakan oleh banyak orang misalnya .selebritas, atlet, maupun orang-orang kenamaan seperti menteri. Hal tersebut tentunya dapat meningkatkan minat untuk mengkonsumsi suatu barang atau jasa yang diiklankan. Penyampaian iklan yang ditunjang dengan oemilihan media yang tepat akan sangat menentukan berhasil tidaknya pesan yang ingin disampaikan pada iklan tersebut (Perdana 2010).

Sementara itu, efek yang kurang baik dari sebuah iklan adalah sebuah iklan akan memunculkan sebuah perilaku hedonic. Perilaku tersebut merupakan perilaku seseorang dalam mengkonsumsi suatu barang atau jusa lebih mementingkan gengsi dari produk tersebut dibandingkan kegunaan yang dapat dinikmati dari sebuah barang atau jasa yang dikonsumsi olehnya (Sumarwan 2002). Para konsumen yang hedonic tersebut mementingkan gengsinya, mereka tidak peduli akan kegunaannya tersebut. Bagi mereka, gengsi dari sebuah produk lebih penting untuk ditunjukkan kepada khalayak. Selain itu, akibat dari menonton iklan, masyarakat perkotaan menjadi lebih konsumtifakan suatu barang maupun jasa. Mereka akan terus berburu barang-barang yang memang bagi mereka menarik. Bagi mereka, berbelanja merupakan suatu hal yang harus dilakukan. Tidak penting lagi bagi mereka berapa banyak uang yang dipakai untuk memenuhi kebiasaannya tersebut. Kebiasaan itu merupakan perilaku konsumen yang perlu dihindari oleh setiap orang

Perilaku Konsumtif Masyarakat
Dalam rangka memenuhi kebutuhannya sehari-hari, setiap orang tentunya memiliki cara tersendiri dalam memenuhinya. Namun pada intinya mereka perlu mengkonsumsi kebutuhannya tersebut. Perilaku yang mempelajari mengenai sebuah perilaku masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya adalah perilaku konsumen. Perilaku konsumen adalah perilaku untuk mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, serta menghabiskan kegunaan suatu barang dan jasa yang diharapkan mampu memuaskan kebutuhan mereka (Schiffman dan Kanuk 1994 dalam Sumarwan 2002). Perilaku setiap orang dalam memenuhi kebutuhannya tentunya berbeda-beda. Hal tersebut disebabkan oleh kemampuan tiap orang dalam memenuhi kebutuhannya berbeda. Orang yang memiliki kehidupan berlebih memiliki kesempatan untuk mengkonsumsi lebih banyak barang maupun jasa. Sementara orang yang memiliki kehidupan yang sederhana tentunya lebih terbatas dalam melakukan kegiatan konsumsi, baik itu mengkonsumsi barang maupun jasa.

Perilaku konsumen tersebut memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan iklan. Iklan merupakan sebuah rangsangan bagi para konsumen untuk dapat mengkonsumsi serta mendapatkan barang ataupun jasa yang menjadi kebutuhan konsumen tersebut. Iklan diterima sebagai sebuah informasi. Informasi tersebut yang dapat memengaruhi kita dalam berperilaku. Konsumen akan semakin tahu bara atau saja apa saja yang dimperlukannya. Sehingga mereka menggunakan kemampuannya dengan baik untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Mereka dapat mempertimbangkan ataupun membandingkan mana saja yang diperlukan. Sebaliknya, iklan dapat pula menjadikan setiap orang memiliki tingkat konsumsi yang berlebih. Orang yang seperti itu dikatakan sebagai ‘korban iklan’. Mereka menjadi tertarik akan suatu produk yang diiklankan tersebut. Sehingga mereka akan mendapatkan barang ataupun jasa tersebut walaupun barang ataupun jasa tersebut tidak memiliki kegunaan yang dapat memenuhi kebutuhan mereka.

Dalam pengambilan keputusan sebelum melakukan konsumsi, seorang konsumen pasti dipengaruhi oleh banyak hal. Suatu proses pengambilan keputusan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu pengaruh lingkungan, latar belakang individu, serta pengaruh psikologis (Nora 2009). Ketiga aspek tersebut dapat memengaruhi pengambilan keputusan oleh seorang konsumen. Faktor lingkungan merupakan faktor-faktor fisik dari luar yang memengaruhi konsumen untuk melakukan konsumsi sesuai dengan keadaan lingkungannya tersebut. Faktor individu merupakan keinginan serta keterampilan seseorang dalam mengambil keputusan untuk melakukan konsumsi. Hal tersebut dilakukan untuk dapat memenuhi kebutuhan pribadinya. Sementara faktor psikologis merupakan sebuah perubahan perilaku seseorang atas dasar penerimaan informasi yang didapatkan oleh seorang konsumen. Tingkat konsumsi seseorang akan bergantung kepada pengambilan keputusan tersebut. Pengambilan keputusan seseorang akan bergantung kepada faktor-faktor. Sehingga dapat diketahui bahwa perilaku konsumen sangat bergantung kepada aspek-aspek pengambilan keputusan.

Pengendalian Konsumtif
Seorang konsumen pasti akan memiliki perilaku tersendiri dalam melakukan konsumsi. Perilaku konsumen kadang-kadang meliputi hal-hal yang tidak baik. Perilaku konsumen yang tidak baik yaitu perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif yang seperti itu perlu memerlukan sebuah pengendalian. Pengendalian tersebut dilakukan agar para konsumen tidak berlebihan dalam mengkonsumsi suatu barang maupun jasa. Cara-cara yang dapat ditempuh adalah dengan memiliki skala prioritas. Dalam hidup tentunya seorang manusia mememrlukan suatu skala prioritas, selektivitas dalam memilih barang ataupun jasa, dan membatasi pengeluaran.

Seseorang harus memiliki sebuah prioritas dalam memenuhi kebutuhannya. Hal yang lebih penting bagi kehidupannya akan dipenuhi oleh konsumen tersebut. Skala prioritas dapat dibuat dalam hal menanggulangi sikap konsumtif yang sering ada di masyarakat. Sebuah prioritas merupakan sebuah kebutuhan pokok. Kebutuhan pokok dapat meliputi sandang, pangan, dan papan. Skala prioritas juga dapat mengatur pengeluaran yang dilakukan oleh seorang konsumen. Bagi orang-orang yang berpenghasilan menengah kebawah, skala prioritas dapat dijadikan cara yang paling efektif dan efisien dalam mengurangi pengeluaran yang tidak perlu.

Cara berikutnya adalah selektif dalam membeli atau mengkonsumsi barang atau jasa. Seorang konsumen perlu selektif dalam memilih jenis barang atau jasa yang diperlukan olehnya. Suatu barang harus diperkirakan fungsinya bagi kehidupannya. Fungsi fisiologis perlu diperhatikan. Misalnya sebuah air mineral memiliki fungsi untuk menghilangkan haus dan dahaga. Sementara itu fungsi psikologis juga harus diperhatikan. Seorang konsumen dalam mengkonsumsi barang maupun jasa dapat memengaruhi aspek psikologis. Misalnya dalam mengkonsumsi dan mempergunakan sebuah barang dapat berdampak pada kondisi psikologisnya, misalnya rasa bangga ataupun senang. 

Cara yang terakhir adalah membatasi pengeluaran dalam mengkonsumsi sebuah barang dan jasa. Pengeluaran harus digunakan secara bijaksana. Pengeluaran konsumen harus dapat memenuhi kebutuhan yang utamanya terlebih dahulu, baru kebutuhan yang lainnya. Kebutuhan utamanya merupakan kebutuhan akan pangan, sandang, dan papan. Sebuah kebutuhan pokok akan di paksakan untuk dapat dikonsumsi. Apabila kebutuhan pokok tersebut tidak dapat ditemui karena harganya yang terlalu tinggi, seseorang akan mencari barang-barang alternatifnya
Blog, Updated at: 18.58

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts