Manajemen Keuangan, Teori Dan Penerapan Keputusan Jangka Panjang

Manajemen Keuangan, Teori Dan Penerapan Keputusan Jangka Panjang 
Perekonomian Indonesia telah mengalami banyak permasalahan, salah satunya adalah terjadinya krisis moneter pada akhir Juli 1997, yang berlanjut dengan terjadinya stagflasi atau resesi yang diikuti dengan tingginya tingkat inflasi. Pemerintah sebagai lembaga yang memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan telah berusaha untuk mengentaskan diri dari krisis moneter tersebut, akan tetapi kebijakan yang dirasa oleh pemerintah baik, bagi dunia usaha atau industri menjadi suatu beban yang berat. Kebijakan tersebut antara lain kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), dimana dengan adanya kenaikan BBM biaya operasional dan produksi menjadi tinggi sedangkan daya beli masyarakat menjadi rendah. 

Kondisi tersebut di atas, menuntut perusahaan untuk melakukan efisiensi sehingga perusahaan dapat mempertahankan usahanya. Untuk dapat mempertahankan usahanya dalam kondisi dan situasi yang tidak menentu ini, perusahaan membutuhkan dana untuk kegiatan operasionalnya. Dana (modal) tersebut berasal dari dua sumber yaitu dari dalam perusahaan (sumber internal) dan dari luar perusahaan (sumber eksternal). Dana yang berasal dari dalam perusahaan jumlahnya terbatas serta tidak cukup untuk menutupi kebutuhannya, maka perusahaan akan menggunakan dana eksternal dengan penggunaan hutang yang meliputi hutang lancar maupun hutang jangka panjang sebelum menerbitkan saham. 

Perusahaan-perusahaan di Indonesia sebagian besar berdiri di atas struktur modal yang bertumpu pada hutang (Goeltom (1998) dalam Dharma (2001:5)). Struktur modal merupakan bagian dari struktur keuangan yaitu perbandingan antara total hutang dengan modal sendiri. Perusahaan perlu mencapai struktur modal yang optimal sehingga biaya modal rata­rata perusahaan dapat diminimalkan atau perusahaan dapat memaksimalkan nilainya yang didalamnya terkandung memaksimumkan kemakmuran para pemegang saham dengan meningkatkan harga saham perusahaan. Jika nilai perusahaan semakin tinggi, maka akan semakin tinggi pula kemakmuran para pemegang saham. Sartono (1996:302) menjelaskan bahwa struktur modal yang optimal adalah struktur modal yang menciptakan suatu kombinasi sumber dana permanen sehingga mampu memaksimumkan kemakmuran para pemegang saham. 

Budianto (1998) meneliti struktur modal dengan mengukur hutang dibandingkan dengan assets (D/A), penelitian tersebut dilakukan antara tahun 1991 sampai 1996 terhadap 15 perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Surabaya. Variabel yang diteliti antara lain struktur aktiva, total assets turn over, ukuran perusahaan, operating leverage dan biaya hutang. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa total assets turn over, ukuran perusahaan dan biaya hutang berpengaruh signifikan terhadap struktur modal, sedangkan struktur aktiva dan operating leverage terbukti tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap struktur modal. 

Dharma (2001) melakukan penelitian dengan menguji apakah variabel tangibility of assets, firm size, growth, invesment opportunity, profitability dan uniquness mempengaruhi struktur modal terhadap 60 perusahaan manufaktur yang terdaftar dan periode penelitian tahun 1994-1998 serta 1994-1997. Kesimpulan yang didapat adalah untuk tahun pengamatan 1994-1998 variabel ukuran perusahaan dan kemampulabaan secara signifikan berpengaruh terhadap struktuir modal, sedangkan pada periode pengamatan 1994-1997 variabel peluang investasi, ukuran perusahaan dan kemampulabaan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal dan ukuran perusahaan merupakan variabel yang dominan berpengaruh positif terhadap struktur modal. 

Mardiana (2003) melakukan penelitian dengan menganalisis variabelvariabel yang mempengaruhi struktur modal pada perusahaan metal yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta periode tahun 1995­2001. Variabel yang digunakan adalah struktur aktiva, profitabilitas, ukuran perusahaan dan pertumbuhan penjualan. Hasil penelitiannya adalah struktur aktiva, profitabilitas, ukuran perusahaan dan pertumbuhan penjualan secara signifikan berpengaruh terhadap struktur modal pada perusahaan metal yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. 

Penelitian ini mencoba mereplikasi penelitian yang dilakukan oleh Budianto (1998), Dharma (2001) dan Mardiana (2003), dimana variabel­variabel yang digunakan adalah variabel yang kebijakan variabelnya dapat ditentukan oleh perusahan seperti struktur aktiva, profitabilitas, ukuran perusahaan, pertumbuhan penjualan, operating leverage dan investment opportunity. Penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Budianto (1998), Dharma (2001) dan Mardiana (2003) yaitu pada obyek penelitian yang dilakukan. Penelitian yang dilakukan Mardiana pada perusahaan metal yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dan variabel yang digunakan struktur aktiva, profitabilitas, ukuran perusahaan dan pertumbuhan penjualan. Dharma pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dengan variabel yang digunakan tangibility of assets, firm size, growth, invesment opportunity, profitability dan uniquness. Budianto pada perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Surabaya dan variabel yang digunakan struktur aktiva, intensitas aktiva, ukuran perusahaan, operating leverage dan biaya hutang. 

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh bukti empiris tentang pengaruh struktur aktiva, profitabilitas, ukuran perusahaan, pertumbuhan penjualan, operating leverage dan investment opportunity terhadap struktur modal pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Obyek penelitian ini pada industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Alasan dipilihnya industri makanan dan minuman karena memiliki karakteristik yang hampir sama dan berdasarkan perhitungan data dari laporan keuangan perusahaan makanan dan minuman memiliki nilai rata-rata struktur aktiva sebesar 55.57%, memiliki nilai rata-rata profitabilitas sebesar 55.77%, dan memiliki nilai rata-rata pertumbuhan penjualan sebesar 20.19%. Sehingga peneliti tertarik melakukan pengkajian lebih mendalam tentang variabel-variabel yang mempengaruhi struktur modal. 

STUDI LITERATUR 
Jalilvand dan Harris (1984) melakukan penelitian dengan mengamati 108 perusahaan manufaktur di Amerika Serikat dalam periode 1963-1978. Hasil penelitiannya adalah perusahaan yang lebih besar cenderung menggunakan lebih banyak hutang jangka panjang dalam memenuhi pembiayaannya dan ukuran perusahaan, kondisi bunga serta tingkat harga saham mempengaruhi kecepatan penyesuaian struktur modal. Borton dan Gordon (1988) dengan melakukan pengamatan terhadap 304 perusahaan yang terdaftar pada fortune 500 pada tahun 1974 dan masih beroperasi sampai tahun 1982. Hasil penelitiannya dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan dan intensitas modal yang memiliki pengaruh signifikan terhadap struktur modal perusahaan. 

Thies dan Clock (1992) meneliti struktur modal dengan mengukur hutang dibandingkan dengan total assets. Variabel independen yang digunakan adalah profitability, brancruptcy cost, operating leverage dan growth. Hasil penelitiannya adalah hanya operating leverage dan growth yang memiliki pengaruh signifikan terhadap struktur modal. Rajan dan Zingales (1995) menemukan bukti bahwa tangibility of assets, invesment opportunity, firm size, profitability dinyatakan sebagai variabel yang secara signifikan mempengaruhi struktur modal yang tercermin oleh debt / total assets. 

Emery, et. al (1994) melakukan penelitian tentang capital structure management as a motivation for calling convertible bond atas sampel sebanyak 119 pengumuman call (penarikan) hutang convertible perusahaan mulai dari bulan Oktober 1974 sampai Agustus 1982 yang diperoleh dari Compustat Annual Industry Date File. Penelitian ini ingin menyelidiki managemen struktur modal sebagai penjelasan yang berkontribusi dari kebijakan call (penarikan) hutang convertible perusahaan yang diamati. 

Hasil penelitiannya ditemukan bahwa managemen struktur modal dan teori Pecking Order memainkan peranan yang signifikan dalam keputusan perusahaan untuk menarik hutang convertible outstandingnya. Ditemukan pula bahwa perusahaan yang melakukan call secara signifikan dapat memperluas operasi mereka, dan perluasan ini ditandai dengan pertumbuhan yang lebih besar dan signifikan dalam total aktiva dan laba ditahan pada kedua periode perbandingan, hutang jangka panjang pada tahun call, dan aktiva tetap bersih serta pasiva lancar pada tahun setelah call. Selain itu ditemukan juga bahwa adanya konversi merupakan sumber ekuitas buku baru bagi perusahaan yang melakukan call, dan pola pertumbuhan account neraca saldo konsisten dengan hipotesis Pecking Order dan mendukung pendapat bahwa beberapa perusahaan menarik hutang convertible untuk mengurangi total biaya yang digunakan untuk mendapatkan pembiayaan eksternal. 

Budianto (1998) meneliti struktur modal dengan mengukur hutang dibandingkan dengan assets (D/A), penelitian tersebut dilakukan antara tahun 1991 sampai 1996 terhadap 15 perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Surabaya. Variabel yang diteliti antara lain struktur aktiva, intensitas aktiva, ukuran perusahaan, operating leverage dan biaya hutang. Dengan menggunakan analisis regresi linier berganda diketahui bahwa intensitas aktiva, ukuran perusahaan dan biaya hutang yang berpengaruh signifikan terhadap struktur modal. Sedangkan struktur aktiva dan operating leverage terbukti tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap struktur modal. 

Wald (1999) melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana perusahaan memilih pendanaan, studi pada perusahaan di Perancis, Jerman, Jepang, Inggris dan Amerika Serikat. Hasil penelitiannya menunjukan adanya perbedaan pada perusahaan masing-masing negara terutama terletak pada korelasi antara hutang dengan risiko, profitabilitas, ukuran perusahaan dan pertumbuhan perusahaan. Perbedaan ini disebabkan karena kebijakan perpajakan dan masalah agensi, biaya kebangkrutan, asimetri informasi dan konflik antara kreditor dengan pemegang saham. 

Titman dan Wessels dalam Dharma (2001) meneliti faktor-faktor penentu struktur modal yang diukur dengan hutang terhadap equity, dengan mengidentifikasi variabel bebas yaitu, collateral value of assets, penghematan pajak selain hutang (non-debt tax shiels), growth, keunikan (uniqueness), jenis industri, ukuran (size), volatilitas pendapatan saham dan profitabilitas. Analisis yang dikunakan LISREL dan menghasilkan suatu kesimpulan bahwa faktor keunikan produk dan profitabilitas memiliki pengaruh negatif terhadap struktur modal. Sedangkan ukuran perusahaan memiliki pengaruh yang positif terhadap struktur modal. Sementara itu jenis industri juga berpengaruh signifikan terhadap struktur modal dengan mengelompokan perusahaan dalam kondisi low, medum, high struktur modal sesuai dengan jenis dan karakteristik perusahaan. 

Dharma (2001) melakukan penelitian dengan menguji apakah variabel tangibility of assets, firm size, growth, invesment opportunity, profitability dan uniquness mempengaruhi struktur modal. Dengan melakukan pengamatan terhadap 60 perusahaan manufaktur yang go publik dan periode penelitian tahun 1994-1998 serta 1994-1997. Kesimpulan yang didapat adalah untuk tahun pengamatan 1994-1998 variabel ukuran perusahaan dan profitability berpengaruh signifikan terhadap struktur modal, sedangkan pada periode pengamatan 1994-1997 variabel peluang investasi, ukuran perusahaan dan profitability berpengaruh signifikan terhadap struktur modal dan ukuran perusahaan merupakan variabel yang dominan berpengaruh signifikan positif terhadap struktur modal. 

Masidonda, dkk (2001) meneliti variabel-variabel yang mempengaruhi struktur pendanaan dan pengaruhnya bersama beban bunga, return on asset terhadap rentabilitas modal sendiri pada industri makanan dan minuman yang go publik di Bursa Efek Jakarta sampai tahun 1997. Hasil penelitiannya variabel struktur aktiva, pertumbuhan penjualan, ukuran perusahaan, beban pajak, dan laba ditahan berpengaruh signifikan terhadap struktur pendanaan dan variabel ukuran perusahaan dan beban pajak berpengaruh sangat signifikan dan dominan terhadap struktur pendanaan. 

Mardiana (2003) melakukan penelitian dengan menganalisis variabel-variabel yang mempengaruhi struktur modal pada perusahaan metal yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta periode tahun 1995-2001. Variabel yang digunakan adalah struktur aktiva, profitabilitas, ukuran perusahaan dan pertumbuhan penjualan. Hasil penelitiannya adalah struktur aktiva, profitabilitas, ukuran perusahaan dan pertumbuhan penjualan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal pada perusahaan metal yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. 

Teori Struktur Modal 
Struktur modal (capital structure) merupakan kombinasi atau bauran seluruh sumber pendanaan jangka panjang yang digunakan perusahaan. Tujuan pokok manajemen struktur modal adalah menciptakan suatu kombinasi sumber dana permanen yang sedemikian rupa sehingga mampu meningkatkan nilai perusahaan dengan cara memaksimalkan harga saham perusahaan. Nilai perusahaan adalah sama dengan nilai pasar saham ditambah dengan nilai pasar hutang (Clarke et.al,1990:164). Weston dan Brigham (1993:174) menyatakan bahwa struktur modal adalah pembiayaan permanen perusahaan yang terutama berupa hutang jangka panjang, saham preferent, dan saham biasa tetapi tidak termasuk semua kredit jangka pendek. 

Hal serupa dikemukakan oleh Sartono (1998:295) struktur modal adalah rasio jumlah hutang jangka pendek yang bersifat permanen hutang jangka panjang, saham preferen dan saham biasa yang dipergunakan oleh perusahaan. Struktur modal menurut Weston dan Copeland (1993:228) “Two different method can be used to measure a firm’s capital structure” : 
Debt D Debt D
= atau = = Ratio (Balance Sheet
Equity E Asset A
Method)

Atas dasar metode balance sheet tersebut, struktur modal mencerminkan suatu cara bagaimana aktiva-aktiva perusahaan dibiayai, yang ditunjukkan melalui keseluruhan pasiva mereka. Pada umumnya, perusahaan menginginkan adanya keseimbangan antara risiko, dan besarnya tingkat pengembalian yang diharapkan. Untuk itu dibutuhkan target dari struktur modal yang dimiliki. Target ini selalu berubah sepanjang waktu menurut kondisi yang ada, bila rasio hutang aktual ternyata dibawah rasio yang telah ditargetkan, maka pengembangan usaha perusahaan akan dibiayai dengan hutang, bila sebaliknya maka maka perusahaan akan menjual sahamnya. 

Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Struktur Modal 
Pada umumnya perusahaan menginginkan keseimbangan antara risiko dan besarnya tingkat pengembalian yang diharapkannya. Untuk itu dibutuhkan target dari struktur modal yang dimiliki. Weston dan Brigham (1993:690) “The mix of debt, prefered stock, and common equity that the firm would like to have in its capital structure”. Target ini selalu berubah sepanjang waktu menurut kondisi yang ada, bila rasio hutang aktual ternyata dibawah rasio yang telah ditargetkan, maka pengembangan usaha perusahaan mungkin akan dibiayai dengan hutang, bila sebaliknya maka perusahaan akan menjual sahamnya. Masih menurut Weston dan Brigham (1993:690), agar target struktur modal yang dapat dicapai oleh perusahaan, maka terlebih dahulu perlu dianalisis beberapa faktor yang mempengaruhi struktur modal, antara lain. 

Struktur Aktiva 
Suatu hal yang wajar bila perusahaan-perusahaan manufaktur di Indonesia menganggap bahwa aktiva tetap menyerap sebagian terbesar dari modal yang ditanam, mengingat tanpa aktiva tersebut proses produksi tidak mungkin berjalan. Jumlah aktiva tetap yang ada dalam perusahaan paling tidak dipengaruhi oleh sifat atau jenis proses produksi yang dilaksanakan. 

Menurut definisinya aktiva tetap mempunyai masa hidup lebih dari satu tahun, sehingga penanam modal dalam aktiva tetap merupakan investasi jangka panjang. Penentuan berapa besarnya jumlah alokasi untuk masing-masing komponen aktiva tersebut akan mencerminkan kemampuan atau besarnya jaminan dan aktiva yang dimiliki oleh perusahaan atas pinjaman yang dilakukannya. Weston dan Brigham (1993:713) Perusahaan yang memiliki aktiva yang dapat diserahkan sebagai jaminan pinjaman cenderung menggunakan hutang dalam jumlah besar. Aktiva yang dimaksud disini yang berhubungan dengan struktur modal perusahaan adalah terutama aktiva tetap. Rajan dan Zingales (1995:1455) pengukuran Tangibility Asset diwakili oleh Fixed Asset to Total Asset. 

Bila perusahaan memiliki aktiva tetap dalam jumlah yang relatif jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja yang diperlukan dalam proses produksi dapat disebut sebagai perusahaan yang “capital intensive”, sehingga pengukuran aktiva tetap terhadap total aktiva juga digunakan sebagai wakil dari pengukuran intensitas modal (Barton,1998). Diharapkan dengan jumlah aktiva tetap yang memiliki pengaruh positif terhadap pemakaian hutang perusahaan. 

Profitabilitas
Sartono (1998:130) mendefinisikan profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan total aktiva maupun modal sendiri. Weston dan Copeland (1993:502) “merupakan rasio dari efektivitas menajemen dalam mengelola perusahaan. Keefektivan ini dinilai dengan mengaitkan laba bersih dengan aktiva yang digunakan untuk menghasilkan laba. Rasio profitabilitas memberikan jawaban akhir tentang efektivitas pengelolaan perusahaan. Rasio pengukuran yang termasuk dalam kelompok ini : 
a. Rasio antara laba bersih dengan modal sendiri (net income to shareholder funds). Rasio ini disebut hasil atas modal sendiri atau modal saham (return on equity). Rasio ini menunjukkan hubungan antara kinerja perusahaan (firms performance) dalam mendapatkan hasil dari investasi para pemegang saham atau para pemilik modal. 

b. Rasio antara laba bersih dengan total aktiva (net income to total assets) dibuat juga hasil atas aktiva (return on assets). Return On Assets (ROA) dan Return On Investment (ROI) merupakan ukuran keberhasilan manajemen dalam mengelola perusahaan. Makin tinggi rasio ini berarti penggunaan seluruh investasi dalam aktiva makin efisien dengan kapasitas penuh. 

c. Rasio marjin laba atas penjualan menunjukkan hubungan antara laba bersih setelah pajak dengan hasil penjualan, yang merupakan ukuran kemampuan manajemen dalam mengelola perusahaan secara efektif. 

Pengukuran kemampulabaan dalam penelitian ini diwakili oleh return on assets dengan membandingkan laba bersih sebelum pajak (EBIT) dengan total aktiva perusahaan. Weston dan Brigham (1993:713) menyatakan bahawa perusahaan dengan tingkat return on assets yang tinggi, umumnya menggunakan hutang dalam jumlah yang relatif sedikit. Hal ini disebabkan dengan return on asset yang tinggi, memungkinkan bagi perusahaan melakukan permodalan dengan laba ditahan saja. Rajan dan Zingales (1995:1457) menyimpulkan bahwa profitabilitas berpengaruh negatif dengan pemakaian hutang. 

Ukuran Perusahaan 
Ukuran perusahaan digunakan untuk menggambarkan besar kecilnya perusahaan. Hoskinson (1994:1222) dalam penelitian empirik mengungkapkan bahwa ukuran perusahaan dapat dinyatakan dalam logaritma natural (Ln) dari total aktiva, total penjualan dan jumlah karyawan. Wessels dan Titman (1988:7) ukuran perusahaan dapat diukur dengan melihat total penjualannya, total aktiva dan rata-rata tingkat penjualannya. 

Davis dan Sihler (1998:53) mengungkapkan bahwa suatu perusahaan besar dimana memiliki tingkat diversifikasi yang tinggi terhadap permodalannya, bahwa setiap perluasan modal sahamnya hanya akan memiliki pengaruh yang kecil terhadap kemungkinan hilangnya atau tergesernya tingkat pengendalian perusahaan. Hanya saja masalah asimetri informasi dan biaya keagenan akan sangat berpengaruh terhadap biaya modal, sehingga perusahaan cenderung menggunakan hutang sebagai sumber pembiayaan penjualannya. Dengan demikian berarti ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap penggunaan hutang. 

Pertumbuhan Penjualan 
Weston dan Copeland (1993:568) mengungkapkan bahwa rasio pertumbuhan mengukur kemampuan perusahaan mempertahankan posisinya di tengah perekonomian secara keseluruhan dan disektor industrinya. Adapun pertumbuhan yang dimaksud disini ialah pertumbuhan yang timbul sebagai pencerminan produktivitas perusahaan. Clarke et.al (1990:26) berpendapat bahwa pengukuran pertumbuhan dilakukan dengan mengukur pertumbuhan penjualan. 

Weston dan Copeland (1993:579) mengungkapkan bahwa pertumbuhan penjualan merupakan salah satu penentu leverage perusahaan, mengingat tingkat pertumbuhan penjualan merupakan ukuran sampai sejauh mana laba per saham dari perusahaan dapat ditingkatkan oleh leverage. Sebagai contoh pembiayaan dengan hutang dengan beban tetap tertentu akan meningkatkan pendapatan pemilik saham (tingkat pertumbuhan ini sering juga diartikan sebagai tingkat laba yang tinggi). Hal ini dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan penjualan memiliki pengaruh yang positif terhadap pemakaian hutang. Clarke et.al (1990:27) menyatakan bahwa pembayaran earning devidend terlalu tinggi, yang disebabkan penggunaan modal eksternal akan mengurangi pertumbuhan yang selama ini dilakukan oleh perusahaan. 

Operating Leverage 
Syamsudin (2000:61) mengemukaan bahwa operating leverage merupakan rasio yang menggambarkan "pure profit" yang diterima atas setiap rupiah dari penjualan yang dilakukan. Operating profit disebut murni (pure) dalam pengertian bahwa jumlah tersebut yang benar-benar diperoleh dari hasil operasi perusahaan dengan mengabaikan kewajiban-kewajiban finansial berupa bunga serta kewajiban terhadap pemerintah berupa pembayaran pajak. 

Weston dan Brigham (1993:379) menyatakan bahwa operating leverage menunjukkan seberapa besar biaya tetap digunakan dalam operasi perusahaan. Jika sebagian besar dari total biaya perusahaan adalah biaya tetap, maka dikatakan bahwa operating leverage perusahaan tersebut tinggi. Pada saat tingkat operating leverage yang tinggi, sementara hal-hal lain konstan, menandakan bahwa perubahan yang relatif kecil dalam penjualan akan mengakibatkan perubahan laba operasi yang relatif besar. Weston dan Brigham (1993:381) mengemukakan bahwa operating leverage dapat didefinisikan secara lebih tepat sebagai bagaimana pengaruh perubahan volume terhadap laba setelah bunga dan pajak (EBTT). Pengaruh perubahan volume terhadap profitabilitas tersebut diukur dengan Derajat Leverage Operasi (DOL). 

Berdasar uraian di atas, dapat dijelaskan bahwa operating leverage dapat didefinisikan sebagai penggunaan biaya tetap di dalam kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dihubungkan dengan penggunaan aktiva tetap. Penggunaan aktiva tetap dapat memperbesar variabilitas (ketidakpastian) terhadap pendapatan perusahaan di masa yang akan datang, dengan demikian operating leverage berpengaruh negatif terhadap prosentase hutang dalam struktur modal 

Investment Opportunity 
Salah satu tujuan investasi adalah memperoleh tingkat hasil yang memadai dan tingkat hasil dalam satu periode merupakan ukuran tingkat pertumbuhan investasinya. Ross et. al (1996:4) berpendapat bahwa perusahaan dan individu dalam menginvestasikan berbagai macam aktiva, sebagian merupakan aktiva tetap (real assets) dan sisanya merupakan aktiva keuangan (financial assets). Tujuan investasinya adalah memaksimalkan nilai investasinya. Secara sederhana dapat diartikan bahwa setiap investor akan menginvestasikan dananya dalam aktiva yang mempunyai tingkat hasil yang memadai. Sartono (1998:249) mengungkapkan bahwa investasi jangka panjang dikelompokkan menjadi: (1) investasi penggantian aktiva karena sudah usang atau karena adanya teknologi baru; (2) investasi ekspansi berupa penambahan kapasitas produksi karena adanya kesempatan usaha yang lebih baik; (3) investasi produk baru atau diversifikasi produk; dan (4) investasi lainnya berupa peralatan penunjang keselamatanpengendalian polusi dan lain-lain. 

Weston dan Copeland (1992:570) berpendapat bahwa keberhasilan investasi yang dicerminkan dengan kombinasi dari beberapa rasio hasil dan risiko dapat dilihat dari: (1) rasio harga saham terhadap pendapatan, price earning ratio (P/E); (2) rasio nilai pasar saham terhadap nilai buku (market to book ratio); dan (3) devidend yield (Div/Po). Uraian tersebut menyimpulkan bahwa dengan adanya peluang investasi yang ada, perusahaan yang memiliki kinerja yang baik akan banyak menerbitkan saham baru sebagai sumber pembiayaannya, sehigga hutang yang dimilikinya akan menurun, sehingga peluang investasi berpengaruh negatif terhadap pemakaian hutang. 

KERANGKA KONSEPTUAL 
Perusahaan-perusahaan di Indonesia sebagian besar berdiri di atas struktur modal yang bertumpu pada hutang. Struktur modal merupakan pertimbangan antara hutang jangka panjang dan modal sendiri. Dimana struktur modal itu sendiri merupakan bagian dari struktur keuangan, dimana merupakan perimbangan antara total hutang dengan modal sendiri. Perusahaan perlu mencapai struktur modal yang optimal sehingga biaya modal biaya modal rata-rata perusahaan dapat di minimalkan atau perusahaan dapat memaksimalkan nilainya. 

Sartono (1998:302) mengungkapkan bahwa struktur modal yang optimal adalah stuktur modal yang dapat meminimalkan biaya modal rata-rata atau memaksimalkan nilai perusahaan. Kebijaksanaan struktur modal perusahaan dipengaruhi banyak faktor, baik faktor dari dalam perusahaan (fundamental factor) maupun faktor dari luar perusahaan seperti tingkat bunga, situasi politik dan kondisi pasar modal (Weston dan Brigham, 1993:155). Faktor dari luar perusahaan yang mempengaruhi kebijaksanaan struktur modal tidak dapat dikendalikan secara langsung oleh perusahaan, sedangkan faktor dari dalam perusahaan (fundamental factor) dapat dikendalikan secara langsung antara lain struktur aktiva, profitabilitas, ukuran perusahaan, pertumbuhan penjualan, operating leverage dan investment opportunity. 

Dari uraian yang disampaikan, maka model penelitian ini digambarkan pada gambar  sebagai berikut : 


Gambar  Model Penelitian 

METODE PENELITIAN 
Jenis Penelitian 

Sesuai dengan pokok masalah dan tujuan penelitian, penelitian ini menggunakan pola eksplanasi (level of explanation) adalah penelitian yang bermaksud menggambarkan pola hubungan atau pengaruh antar dua variabel atau lebih, pola hubungan tersebut bisa bersifat simetris, kausal dan timbal balik (Sugiyono, 2005). Pola pengaruh yang akan diungkap dalam penelitian ini adalah pengaruh struktur aktiva, profitabilitas, ukuran perusahaan, pertumbuhan penjualan, operating leverage dan investment opportunity terhadap struktur modal pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. 

Populasi dan Sampel Penelitian 
Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan­perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara purposive sampling, dimana sampel yang akan dijadikan sebagai obyek penelitian adalah sampel yang memenuhi kriteria tertentu sesuai dengan yang dikehendaki oleh peneliti. Kriteria - kriteria sampel yang dikendaki peneliti: 
a. Perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang masuk dalam industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dari tahun 2000 sampai tahun 2005. 
b. Perusahaan makanan dan minuman tersebut mengeluarkan laporan keuangan dari tahun 2000 sampai tahun 2005. 

Berdasarkan kriteria tersebut, maka dari 21 perusahaan makanan dan minuman terdapat dua perusahaan yang tidak mengumumkan laporan keuangan tahun 2000 sampai 2005 yaitu PT. Tiga Pilar Sejahtera dan PT. Miwon. 

Jenis dan Sumber Data 
Jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Kriteria data yang dikehendaki adalah sebagai berikut : 
a. Perusahaan - perusahaan yang sahamnya tercatat pada industri makanan dan minuman selama periode pengamatan. Data ini di peroleh dari terbitan JSX Monthly Statistics tahun 2000 sampai dengan tahun 2005 di Pojok Bursa Efek Jakarta Universitas Brawijaya Malang. 
b. Laporan keuangan perusahaan-perusahan makanan dan minuman. Data diperoleh dari Capital Market Directory pada pojok BEJ Universitas Brawijaya Malang. 

Metode Analisis Data 
Tahap analisis data merupakan tahap akhir dari metodologi statistik, sebelum menarik kesimpulan. Pada tahap itu, diinterpretasikan hasil dari tahaptahap sebelumnya. Setelah itu, dibuat kesimpulan yang merupakan titik akhir suatu permasalahan, berupa keputusan atau rencana yang menjadi jawaban terbaik dari permasalahan tersebut (Hasan, 2002). 

Metode analisis yang digunakan untuk menganalisis pengaruh struktur struktur aktiva, profitabilitas, ukuran perusahaan, pertumbuhan penjualan, operating leverage dan investment opportunity terhadap struktur modal pada perusahan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta menggunakan model regresi linear berganda dengan rumus : Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + b6X6 + ε Dimana: 
Y : Struktur Modal 
a : Konstanta 
b : Koefisien regresi X1 : Struktur aktiva X2 : Profitabilitas X3 : Ukuran perusahaan X4 : Pertumbuhan penjualan X5 : Operating leverage X6 : Investment opportunity ε : Disturbance term 

Pengujian Asumsi Klasik 
Model pengujian hipotesis berdasarkan analisis regresi yang digunakan dalam penelitian ini harus memenuhi asumsi klasik agar menghasilkan nilai parameter yang sahih. Asumsi klasik tersebut antara lain tidak terdapat adanya multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi. 

Multikolinearitas 
Multikolinearitas adalah menunjukan adanya hubungan linear diantara variabel independen. Kondisi ini harus dihindari agar hasil pengujian tidak bias. Pengujian multikolinearitas dalam penelitian ini akan menggunakan nilai varian inflation factor (VIF) yang diperoleh dari pengujian hipotesis. Apabila nilai VIF lebih besar dari 10 berarti terjadi masalah yang berkaitan dengan multikolinearitas, sebaliknya model regresi tidak mengandung multikolinearitas jika nilai VIP-nya dibawah 10 (Gujarati,2000:156). 

Heterokedastisitas 
Heteroskedastisitas adalah varian faktor pengganggu (error) yang terjadi dalam model regresi bersifat tidak sama atau tidak konstan. Oleh karena itu, suatu model regresi harus terhindar dari faktor pengganggu ini. Kebanyakan data cross-section mengandung situasi heteroskedastisitas. Heteroskedastisitas dalam penelitian ini diuji dengan metode Korelasi Spearman’s rho antara nilai residu (disturbance error) dari hasil regresi dengan masing­masing variabel independennya. Apabila nilai korelasi Spearman’s rho dibawah 0,7 berarti model regresi menunjukkan tidak adanya permasalahan heteroskedastisitas. Sebaliknya, jika nilai korelasi Spearman’s rho diatas 0,7 berarti model regresi menunjukkan adanya permasalahan heteroskedastisitas (Gujarati, 2000:188). 

Autokorelasi 
Pengujian autokorelasi ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antar waktu. Pengujian autokorelasi akan dilakukan berdasarkan pada nilai Durbin Watson-nya. jika Dw Uper < DW Statistik < 4 - DWlower maka model regresi bebas dari permasalahan autokorelasi. Sebaliknya, jika DW Statistik < DW Uper atau DW statistik > 4 - DWlower maka model regresi mengandung masalah autokorelasi (Gujarati, 2000:216). 

Pengujian Hipotesis 
Tujuan pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah untuk menginvestigasi adanya pengaruh tiap-tiap variabel independen yaitu struktur aktiva, profitabilitas, ukuran perusahaan, pertumbuhan penjualan, operating leverage dan investment opportunity terhadap struktur modal perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Diterima atau ditolak hipotesis penelitian ini didasarkan pada nilai t, yang dihasilkan dari model regresi linier berganda. Rumusan hipotesis yang diuji adalah sebagai: H0: βi= 0, berarti variabel independen tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen dan i = 1,2,3,4,5,6. Ha: βi≠0, berarti variabel independen memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen dan i = 1,2,3,4,5,6. 

Nilai t dihitung berdasarkan pada rumus sebagai berikut: 
β 
t = 
SEβ 

Dengan tingkat signifikan 5% dan derajat bebas n-k, di mana n merupakan jumlah observasi dan k merupakan jumlah variabel. Jawaban atas hipotesis dapat disimpulkan sebagai berikut: apabila probabilitas < 5% maka H0 ditolak; Ha diterima dan apabila probabilitas > 5% maka H0 diterima; Ha ditolak. 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 
Uji Ketepatan/Keberartian Model (Uji F) 
Uji F dalam penelitian ini digunakan untuk menguji ketepatan atau keberartian model regresi linier berganda. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai F sebesar 2.918, dengan nilai probabilitas sebesar 0.011 dan signifikan pada alpha (a) sebesar 5% (0,05). Hal ini mempunyai makna bahwa struktur aktiva, profitabilitas, ukuran perusahaan, pertumbuhan penjualan, operating leverage dan investment opportunity mempunyai pengaruh terhadap struktur modal perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh model regresi linier berganda sebagai berikut : 

Y = 143.708 + 0.077 X1 – 8.131 X2 + 5.904 X3 + 11.180 X4 – 0.732 X5 – 
0.031 X6 

Besarnya koefisien untuk variabel struktur aktiva sebesar 0.077 dengan arah koefisien positif. Hal ini mempunyai makna bahwa struktur modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang yang berupa hutang untuk perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta akan meningkat dengan semakin besar struktur aktiva yang dimiliki perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. 

Besarnya koefisien untuk variabel profitabilitas sebesar -8.131 dengan arah koefisien negatif. Hal ini mempunyai makna bahwa struktur modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang yang berupa hutang untuk perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta akan turun dengan semakin besarnya tingkat profitabilitas yang raih oleh perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. 

Besarnya koefisien untuk variabel ukuran perusahaan sebesar 5.904 dengan arah koefisien positif. Hal ini mempunyai makna bahwa struktur modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang yang berupa hutang untuk perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta akan naik dengan semakin besarnya ukuran perusahan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. 

Besarnya koefisien untuk variabel pertunbuhan penjualan sebesar 11.180 dengan arah koefisien positif Hal ini mempunyai makna bahwa struktur modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang yang berupa hutang untuk perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta akan meningkat dengan semakin besar pertumbuhan penjualan yang dimiliki perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. 

Besarnya koefisien untuk variabel operating leverage sebesar -0.732 dengan arah koefisien negatif. Hal ini mempunyai makna bahwa struktur modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang yang berupa hutang untuk perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta akan turun dengan semakin besarnya operating leverage perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. 

Besarnya koefisien untuk variabel peluang investasi sebesar -0.031 dengan arah koefisien negatif. Hal ini mempunyai makna bahwa struktur modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang yang berupa hutang untuk perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta akan turun dengan semakin besarnya peluang investasi perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. 

Asumsi Klasik 
Uji Multikolinearitas 
Multikolinearitas adalah menunjukkan adanya hubungan linear diantara variabel independen, pengujian multikolinearitas dalam penelitian ini akan menggunakan nilai varians inflation factor (VIF) yang diperoleh dari pengujian hipotesis. Kriteria terjadinya multikolinearitas adalah apabila nilai VIF lebih besar dati 10 berarti terjadi masalah yang berkaitan dengan multikolinearitas, sebaliknya apabila nilai VIF dibawah 10 maka model regresi tidak mengandung multikolinearitas (Gujarati 2000:156). 

Hasil pengujian asumsi multikolinearitas yang disajikan pada lampiran 10, diperoleh bukti bahwa nilai varian inflation factor (VIF) variabel struktur aktiva sebesar 1.045, variabel profitabilitas sebesar 1.283, variabel ukuran perusahaan sebesar 1.095, variabel pertumbuhan penjualan sebesar 1.249, variabel operating leverage sebesar 1.249 dan variabel investment opportunity sebesar 1.013 dan nilai VIF dibawah batas kriteria tentang adanya masalah multikolinearitas, yaitu 10. Dengan demikian, data tersebut dapat memberikan informasi yang berbeda untuk setiap variabel independennya. 

Uji Heteroskedastisitas 
Heteroskedastisitas dalam penelitian ini diuji dengan metode Korelasi Spearman's rho antara nilai residu (disturbance error) dari hasil regresi dengan masing-masing variabel independennya. Apabila nilai korelasi Spearman's rho dibawah 0,7 berarti model regresi menunjukkan tidak adanya permasalahan heteroskedastisitas, sebaliknya apabila nilai korelasi Spearman's rho di atas 0,7 berarti model regresi menunjukkan terdapat permasalahan heteroskedastisitas (Gujarati, 2000:188).

Hasil pengujian heteroskedastisitas yang disajikan pada lampiran 9, diperoleh bukti bahwa nilai korelasi Spearman's rho variabel struktur aktiva sebesar -0.300, variabel profitabilitas sebesar -0.105, variabel ukuran perusahaan sebesar 0.323, variabel pertumbuhan penjualan sebesar -0.190, variabel operating leverage sebesar -0.002 dan variabel investment opportunity sebesar 0.074 dan nilai tersebut dibawah 0,7 berarti model regresi menunjukkan tidak adanya permasalahan heteroskedastisitas. 

Uji Autokorelasi 
Pengujian autokorelasi akan dilakukan berdasarkan pada nilai Durbin Watson-nya. jika Dw Uper < DW statistik < 4 – DWuper maka model regresi bebas dari permasalahan autokorelasi. Sebaliknya, jika DW statistik < DW uper atau DWstatistik > 4-DWlower maka model regresi mengandung masalah autokorelasi (Gujarati, 2000:216). 

Hasil pengujian asumsi autokorelasi yang disajikan pada lampiran 10, diperoleh bukti bahwa nilai DWstatistik sebesar 1.897. Nilai DWstatistik tersebut lebih besar nilai Dw Uper sebesar 1.148, sehingga model regresi tersebut bebas dari permasalahan autokorelasi. Dengan demikian, model regresi yang akan digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian adalah akurat. Ini berarti bahwa besanrya kesalahan atau gangguan yang terjadi dalam model regresi penelitian ini tidak saling berkorelasi. 

Uji Signifikansi Variabel (Uji t) 
Uji t dalam penelitian ini digunakan untuk menguji signifikansi terhadap variabel struktur aktiva, profitabilitas, ukuran perusahaan, pertumbuhan penjualan, operating leverage dan investment opportunity terhadap struktur modal perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. 

Besarnya koefisien untuk variabel ukuran perusahaan (X3) sebesar 5,904 dan mempunyai tanda koefisien positif dengan nilai probabilitas sebesar 0,021 lebih kecil dari signifikan statistik pada a = 5%, sehingga mempunyai arti bahwa β3 signifikan. Hal ini mempunyai arti bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. 

Besarnya koefisien untuk variabel pertumbuhan penjualan (X4) sebesar 11,180 dan mempunyai tanda koefisien positif dengan nilai probabilitas sebesar 0,039 lebih kecil dari signifikan statistik pada a = 5%, sehingga mempunyai arti bahwa β4 signifikan. Hal ini mempunyai arti bahwa pertumbuhan penjualan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. 

Besarnya koefisien untuk variabel operating leverage (X5) sebesar -0,732 dan mempunyai tanda koefisien negatif dengan nilai probabilitas sebesar 0,231 lebih besar dari signifikan statistik pada a = 5%, sehingga mempmyai arti bahwa β5 tidak signifikan. Hal ini mempunyai arti bahwa operating leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal perusahaan makanan dan mimunan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. 

Besarnya koefisien untuk variabel investment opportunity (X6) sebesar - 0,031 dan mempunyai tanda koefisien negatif dengan nilai probabilitas sebesar 0.277 lebih besar dari signifikan statistik pada a = 5%, sehingga mempunyai arti bahwa β6 tidak signifikan. Hal ini mempunyai arti bahwa operating leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal perusahaan makanan dan mimunan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. 

Daya prediksi dari model regresi atau koefisien determinasi (R-square) yang dibentuk dalam pengujian ini sebesar 14.1%, hal ini menunjukan bahwa besarnya pengaruh struktur aktiva, profitabilitas, ukuran perusahaan, pertumbuhan penjualan, operating leverage dan investment opportunity dengan struktur modal perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta sebesar 14.1% dan sisanya sebesar 85.9% dipengaruhi oleh faktor atau variabel lain yang tidak dimasukan dalam model penelitian ini. 

Berdasarkan analisis regresi linier berganda, ditemukan bukti bahwa struktur aktiva tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Hal ini dapat dijelaskan bahwa terjadinya krisis yang berkepanjangan dan belum kondusifnya lingkungan bisnis dapat memicu terhadap menurunnya daya beli konsumen. Penurunan daya beli konsumen tersebut, menyebabkan perusahaan mengurangi produksi dan tenaga kerjanya, bahkan menjual aktiva tetap yang kurang produktif. Hal ini yang menyebabkan peran jaminan dalam bentuk aktiva tetap menjadi semakin berkurang untuk dijadikan agunan. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Dharma (2001) dan Budianto (1998), akan tetapi tidak mendukung penelitan yang dilakukan oleh Masidonda, dkk. (2001) dan Mardiana (2003). 

Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap struktur modal perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Hal ini dapat dijelaskan bahwa profitabilitas merupakan rasio dari efektivitas menajemen dalam mengelola perusahaan. Keefektifan ini dinilai dengan mengaitkan laba bersih dengan aktiva yang digunakan untuk menghasilkan laba. Sehingga pada saat manajemen mampu mengelola perusahaan dengan baik, maka perusahaan dapat memperoleh laba yang maksimal. Perolehan laba yang maksimal, akan berdampak pada penurunan tingkat hutang yang digunakan sebagai sumber pembiayaan. Hasil penelitian ini mendukung pendapat yang dikemukakan oleh Rajan dan Zingales (1995:1457) bahwa profitabilitas berpengaruh negatif dengan pemakaian hutang. Hasil penelitian ini mendukung kajian ilmiah yang dilakukan oleh Thies dan Clock (1992), Titman dan Wessels dalam Dharma (2001), Dharma (2001) dan Mardiana (2003) menemukan bukti bahwa profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap struktur modal. 

Ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal perusahaan makanan dan mimunan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Hal ini dapat dijelaskan bahwa semakin besar ukuran perusahaan maka semakin besar pula nilai total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan, hal ini akan memperbanyak alternatif pendanaan khususnya hutang. Begitu juga sebaliknya, semakin kecil ukuran perusahaan maka semakin kecil pula tingkat hutang yang digunakan sebagai sumber pembiayaan. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Jalivand dan Harris (1984), Borton dan Gordon (1988), Dharma (2001), Budianto (1998), Mardiana (2003) dan Masidonda, dkk. (2001) bahwa perusahaan yang lebih besar cenderung menggunakan lebih banyak hutang jangka panjang dalam memenuhi pembiayaannya, sehingga ukuran perusahaan berpengaruh terhadap struktur modal. 

Pertumbuhan penjualan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Hal ini dapat dijelaskan bahwa perusahaan yang memiliki tingkat penjualan tinggi, akan menaikan kapasitas terhadap proses produksinya guna menghasilkan laba yang maksimal. Apabila tren penjualan meningkat, perusahaan akan mencari sumber pembiayaan melalui hutang. Begitu juga sebaliknya, pada saat tren penjualan yang dilakukan oleh perusahaan memrun, maka manajemen tidak akan berani mengambil kebijakan hutang sebagai sumber pembiayaan. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Thies dan Clock (1992), Mardiana (2003) yang menemukan bukti bahwa pertumbuhan memiliki pengaruh terhadap struktur modal. 

Operating leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada saat kondisi normal, tingkat penjualan untuk perusahaan makanan dan minuman tergolong relatif tinggi, sehingga "pure profit" yang diterima atas setiap rupiah dari penjualan yang dilakukan juga tinggi. Pada kondisi tersebut, manajemen tidak akan berani mengambil kebijakan hutang sebagai sumber pembiayaan dan yang lebih rasional, pihak manajemen mengambil kebijakan atas smnber pembiayaan melalui laba ditahan sebagai pendanaan internal. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Budianto (1998) yang menemukan bukti bahwa operating leverage terbukti tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap struktur modal pada perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Surabaya. 

Investment opportunity tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Hal ini dapat dijelaskan bahwa perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta merupakan perusahaan yang diminati oleh investor untuk menanamkan modalnya. Investor yang tertarik untuk menanamkan modalnya adalah investor yang percaya akan kinerja perusahaan dalam menghasilkan profit yang tinggi. Perusahaan yang memiliki kinerja baik akan banyak menerbitkan saham baru sebagai sumber pembiayaannya, sehingga hutang yang dimilikinya akan menurun. Hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh Thies dan Clock (1992) dan Rajan dan Zingales (1995) dan mendukung penelitian yang dilakukan oleh Dharma (2001)
Blog, Updated at: 04.42

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts