Penelitian Akuntansi Bisnis Dan Manajemen

Penelitian Akuntansi Bisnis Dan Manajemen 
Harga saham sebagai representasi dari nilai perusahaan ditentukan oleh tiga faktor utama, yaitu faktor internal perusahaan, eksternal perusahaan, dan teknikal. Faktor internal dan eksternal perusahaan merupakan faktor fundamental yang sering digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh para investor di pasar modal. Sedangkan faktor teknikal lebih bersifat teknis dan psikologis, seperti volume perdagangan saham, nilai transaksi perdagangan saham, dan kecenderungan naik turunnya harga saham. 

Studi ini mengasumsikan bahwa para pemodal adalah rasional, sehingga aspek fundamental menjadi dasar penilaian (basic valuation) yang utama. Hal ini dikarenakan bahwa nilai saham mencerminkan nilai perusahaan, tidak hanya nilai intrinsik pada suatu saat, tetapi juga mencerminkan harapan akan kemampuan perusahaan dalam meningkatkan nilai kekayaan di masa depan. Faktor fundamental sangat kompleks dan luas cakupannya, meliputi faktor fundamental makro yang berada di luar kendali perusahaan dan faktor fundamental mikro yang berada di dalam kendali perusahaan (Syahib, 2000).

Penelitian ini menekankan pada faktor internal perusahaan yang sering dipandang sebagai faktor penting untuk menentukan harga saham. Faktor internal perusahaan dalam analisis pasar modal sering disebut dengan faktor fundamental perusahaan, faktor ini bersifat controllable sehingga dapat dikendalikan perusahaan. Faktor internal perusahaan dapat dikelompokkan dalam faktor kebijakan perusahaan dan faktor kinerja perusahaan. Faktor kebijakan perusahaan dalam penelitian ini ditekankan pada kebijakan manajemen keuangan, yang meliputi kebijakan pendanaan, kebijakan investasi dan kebijakan dividen (Weston dan Copeland, 1992). Kebijakan pendanaan diproksi dengan leverage keuangan, kebijakan investasi diproksi dengan capital expenditure dan kebijakan dividen diproksi dengan insentif manajer. Sedangkan faktor kinerja perusahaan ditekankan pada aspek financial performance yang diproksi dengan ROA.

Menurut Fuller dan Farrell (1987), faktor internal perusahaan yang menentukan harga saham adalah keuntungan-keuntungan perusahaan yang diharapkan di masa depan dan dividen. Keuntungan - keuntungan tersebut antara lain ROA, ROE, Residual Income, dan EVA yang merupakan financial performance dari kinerja perusahaan. Seperti dijelaskan di atas, bahwa penelitian ini menggunakan ROA sebagai indikator kinerja perusahaan, karena variabel ini dalam beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan pengukuran kinerja yang lebih baik (Dodd and Chen, 1996), dan ROA lebih merepresentasikan kepentingan stake-holders. 

Penelitian ini dimaksudkan untuk menguji pengaruh dari faktor internal perusahaan yang menekankan pada aspek kebijakan perusahaan yang diproksi dengan leverage keuangan, capital expenditure serta insentif manajer, dan kinerja perusahaan yang diproksi dengan ROA dalam mempengaruhi nilai perusahaan yang di proksi dengan Tobins’Q. Konsep pengaruh antar variabel dalam penelitian ini adalah pengaruh berjenjang, dengan menempatkan kinerja perusahaan sebagai variabel mediasi atau variabel intervening. Penelitian ini dimotivasi oleh beberapa penelitian terdahulu, antara lain penelitian dari Dodd dan Chen (1996), Anuchitworawong (2000), Pasternak dan Rosenberg (2002), Coles, et al (2004), Villalonga dan Amit (2004), Al Farouque, et al (2005), Aivazian, et al (2005), Uchida (2006), Schulz and Tubbs (2006), Lingling (2006), dan Guo (2006. 

Sebuah pengembangan model teoritis dan studi empiris pada perusahaan manufaktur yang listed di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan diharapkan dapat memperjelas isu dalam meningkatkan nilai perusahaan, melalui faktor internal perusahaan. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan disiplin ilmu manajemen keuangan, serta praktek-praktek manajemen dalam pengambilan keputusan untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan nilai perusahaan sehingga tujuan perusahaan untuk meningkatkan kemakmuran stakeholders atau meningkatkan nilai perusahaan tercapai.

Permasalahan Penelitian
Penelitian ini mencoba untuk menjembatani penelitian-penelitian sebelumnya dalam mencari kejelasan pengaruh kebijakan perusahaan dan kinerja perusahaan terhadap nilai perusahaan dengan menempatkan Kinerja perusahaan sebagai variabel intervening. Sehingga untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini dikembangkan beberapa pertanyaan sebagai berikut :
1. Apakah leverage keuangan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan dan nilai perusahaan.
2. Apakah capital expenditure berpengaruh terhadap kinerja perusahaan dan nilai perusahaan.
3. Apakah insentif manajer berpengaruh terhadap kinerja perusahaan dan nilai perusahaan.
4. Apakah kinerja perusahaan berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
5. Apakah kinerja perusahaan merupakan variabel intervening yang memediasi pengaruh leverage keuangan, capital expenditure, dan insentif manajer terhadap nilai perusahaan.

Tujuan Penelitian 
Berdasarkan pada penjelasan latar belakang masalah dan permasalahan penelitian, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk menganalisis pengaruh leverage keuangan terhadap kinerja perusahaan dan nilai perusahaan.
2. Untuk menganalisis pengaruh capital expenditure terhadap kinerja perusahaan dan nilai perusahaan.
3. Untuk menganalisis pengaruh insentif manajer terhadap kinerja perusahaan dan nilai perusahaan.
4. Untuk menganalisis pengaruh kinerja perusahaan terhadap nilai perusahaan.
5. Untuk menganalisis peran kinerja perusahaan dalam menentukan pengaruh kebijakan perusahaan terhadap nilai perusahaan.

Tinjauan Pustaka
Teori struktur modal modal (capital structure theory) modern dimulai dengan paper Modigliani dan Miller (1958), yang merupakan terobosan baru dalam manajemen keuangan modern. Proposisi yang diajukan Modigliani dan Miller memiliki pendukung yang sangat besar sampai sekarang. Proposisi yang menyatakan tidak relevannya keputusan financing memberikan implikasi penting, yaitu pada kondisi bagaimana keputusan tersebut menjadi tidak relevan, dan secara implisit juga menimbulkan pertanyaan pada kondisi bagaimana keputusan tersebut menjadi relevan (Harris dan Raviv, 1991). 

Setelah mengalami diskusi yang sangat panjang, Modigliani dan Miller (1963), melonggarkan salah satu asumsinya tentang adanya pajak penghasilan. Bahwa apabila ada pajak penghasilan, maka keputusan financing menjadi relevan, penggunaan utang akan meningkatkan nilai perusahaan. Perkembangan selanjutnya selama lebih dari empat puluh tahun, berbagai riset teoritis dan empiris telah banyak dilakukan dengan melepaskan beberapa asumsi dasar dari proposisi Modigliani dan Miller. Berbagai riset telah memperkaya proposisi Modigliani dan Miller dengan memasukkan faktor pajak, costs of financial distress, bankruptcy costs, agency costs, dan transaction costs (Myers, 1977, 1984; Jensen dan Meckling, 1976).

Upaya dalam memasukkan berbagai faktor dan menanggalkan satu per satu dari berbagai ketidak sempurnaan pasar ini telah melahirkan dua teori keuangan baru dari teori struktur modal (capital structure theory), yang saling berlawanan, yaitu trade-off theory atau yang dikenal dengan balanching theory dan pecking order theory (Myers dan Majluf, 1984). Meskipun kedua teori tersebut menyatakan bahwa keputusan financing adalah relevan dalam kebijakan struktur modal pada kondisi pasar modal yang tidak sempurna. 

Trade-off theory (Myers, 1977; 1984), memprediksi bahwa dalam mencari hubungan antara capital structure dengan nilai perusahaan terdapat satu tingkat leverage (debt ratio) yang optimal. Penggunaan utang akan meningkatkan nilai perusahaan sampai batas leverage tertentu (optimal), dan sesudahnya penggunaan utang akan menurunkan nilai perusahaan, karena penggunaan utang setelah leverage optimal akan menimbulkan biaya kebangkrutan (bankruptcy cost) yang lebih besar. Menurut teori ini, perusahaan-perusahaan besar pada umumnya cenderung kecil kemungkinan untuk bangkrut, sehingga lebih mudah untuk menarik pinjaman dari bank dibandingkan dengan perusahaan kecil.

Pecking order theory merupakan bentuk pengembangan dari teori Static Trade-Off (STO), yang dikemukakan oleh Myers dan Majluf (1984). Menurut teori ini, bahwa penentuan struktur modal yang optimal didasarkan pada keputusan pendanaan secara hierarki berdasarkan biaya modal yang paling murah yang bersumber pada sumber dana internal (laba) sampai dengan sumber dana eksternal (hutang dan saham). Pada mulanya teori ini kurang mendapatkan dukungan teoritis dan bukti empiris (Baskin, 1989), namun kemudian setelah mendapat suntikan dukungan dari argumen information asymmetry, disamping argumen keuntungan dari pajak, dan signifikannya biaya transaksi, maka pecking order theory lebih dikenal secara luas (Myers, 1984; Myers dan Mjluf, 1984).

Perkembangan selanjutnya dari teori struktur modal adalah ditemukannya teori keagenan (agency theory) oleh Jensen dan Meckling (1976), yang menyatakan bahwa antara pemilik dan manajemen mempunyai kepentingan yang berbeda. Prinsip utama teori ini menyatakan adanya hubungan kerja antara pihak yang memberi wewenang (prinsipal), yaitu pemilik dengan pihak yang menerima wewenang (agent), yaitu manajer. Adanya berbagai kepentingan ini, masing-masing pihak berusaha untuk memperbesar keuntungan bagi dirinya sendiri. Principal (pemilik) menginginkan pengembalian yang sebesar-besarnya dan secepatnya atas investasi yang telah dilakukan. Sedangkan agent (manajer) menginginkan kepentingannya diakomodir sebesar-besarnya atas kinerjanya.

Agency theory mengasumsikan bahwa semua individu bertindak atas kepentingan mereka sendiri. Pemegang saham sebagai prinsipal diasumsikan hanya tertarik pada hasil keuangan berupa pembagian dividen yang bertambah. Sedangkan manajer sebagai agent diasumsikan menerima kepuasan berupa kompensasi keuangan yang tinggi dan syarat-syarat yang menyertai dalam hubungan tersebut. Dengan demikian, maka perbedaan kepentingan antara pemegang saham dan manajer terletak pada maksimisasi manfaat (utility) pemegang saham (principal) dengan kendala manfaat (utility) dan insentif yang akan diterima manajer (agent). Adanya perbedaan kepen-tingan inilah yang memicu konflik antara pemilik (principal) dan manajer (agent).

Agency theory pada dasarnya merupa-kan model yang digunakan untuk merumus-kan permasalahan yang berupa konflik antara pemegang saham sebagai pemilik perusahaan (principal) dengan manajer sebagai pihak yang ditunjuk atau diberi wewenang oleh para pemegang saham (agent) untuk menjalankan perusahaan sesuai dengan kepentingannya. Sebagai bentuk tanggung jawab manajer yang telah diberi wewenang oleh pemilik (principal), maka manajer akan menginformasikan kinerja yang telah dicapainya melalui laporan keuangan. Di dalam konteks ini, manajer (agent) mempunyai informasi yang superior dibandingkan dengan pemilik (prinsipal). Pada saat pemilik (prinsipal) tidak dapat memonitor secara sempurna aktivitas manajerial, maka manajer memiliki potensi dan peluang untuk menentukan kebijakan yang menguntungkan dirinya, dan disinilah muncul konflik dengan pemilik karena pemilik tidak menyukai tindakan tersebut.

Jensen & Meckling (1976), menyatakan bahwa manajer sebagai pihak insider yang diberi amanat oleh pemilik modal untuk mengamankan modal yang diinves-tasikannya dalam perusahaan, untuk itu pihak insider berhak atas gaji, bonus, insentif dan kompensasi lainnya karena menjalankan amanat termasuk mengambil keputusan-keputusan bisnis yang diharapkan terbaik bagi pemilik modal. Sehingga pihak insider bekerja untuk memaksimumkan nilai perusahaan atau kemakmuran para peme-gang saham, dan karenanya sebagai insider, manajer disebut sebagai agen. 

Insentif manajer merupakan kompensasi yang diterima oleh manajer karena telah menjalankan tugas dan kewajibannya sesuai dengan keinginan pemilik. Agar manajer mau menjalankan perintah pemilik untuk menjalankan perusahaan sesuai dengan keinganannya, maka manajer diberi kom-pensasi baik berupa gaji maupun non gaji. Pemberian insentif ini juga dimaksudkan untuk mengendalikan perilaku oportunistik manajer, sehingga kebijakan-kebijakan yang diambil adalah kebijakan yang berpihak atau menguntungkan bagi para pemilik, yaitu para pemegang saham. Adanya insentif yang tinggi bagi manajer diharapkan akan memacu kinerjanya, sehingga kinerja perusahaan meningkat, demikian juga dengan nilai perusahaan.

Insentif manajer dapat diberikan dalam bentuk kas maupun non kas, dan dalam penelitian ini insentif manajer yang dimaksud adalah pemberian insentif kepada manajer dalam bentuk non kas, yaitu berupa saham atau yang dikenal dengan bonus saham (stock bonus). Seperti halnya penelitian pengeluaran modal (capital expenditure), maka penelitian yang berkenaan dengan insentif manajer juga telah banyak dilakukan sebelumnya. Hutchinson (2001), dalam penelitiannya menemukan compensation incentives berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap kinerja perusahaan. Pasternak & Rosenberg (2002), dalam penelitiannya menemukan leverage berpengaruh negative dan signifikan terhadap insentif. Insentif berpengaruh positif dan signifikan terhadap Tobin’s Q. Aggarwal, et al (2003), dalam penelitiannya menemukan investasi berpengaruh positif terhadap insentif.

Leverage keuangan menggambarkan adanya faktor penggunaan hutang didalam operasi perusahaan. Penelitian yang berkenaan dengan leverage keuangan antara lain telah dilakukan oleh Pasternak & Rosenberg (2002), yang dalam penelitiannya menemukan bahwa leverage berpengaruh negatif dan signifikan terhadap insentif, leverage berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap investasi, dan leverage berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q). Anuchitworawong (2004), melakukan penelitian di Thailand dengan membandingkan dua periode, yaitu periode sesudah masa krisis (2000) dan periode sebelum masa krisis (1996). Hasil temuannya adalah; sesudah masa krisis (2000), leverage berpengaruh negative dan signifikan terhadap kinerja perusahaan (ROA)., Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang ditemukan oleh Aivazian, et al (2005), yang menemukan bahwa leverage berpengaruh negative dan signifikan terhadap investasi. Demikian juga dengan hasil penelitian dari Guo (2006), juga menemukan bahwa leverage berpengaruh negative dan signifikan terhadap ROA. Akan tetapi temuan hasil penelitian tersebut berbeda dengan temuan hasil penelitian sebelum masa krisis (1996), bahwa leverage berpengaruh negative tetapi tidak signifikan terhadap kinerja perusahaan (ROA). Sedangkan Uchida (2006), dalam penelitiannya menemukan bahwa leverage (debt) berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q). 

Penelitian berkenaan dengan investasi (capital expenditure) juga telah banyak dilakukan, antara lain telah dilakukan oleh Aggarwal, et al (2003). Hasil penelitian Aggarwal, et al (2003), menemukan pengaruh yang positif antara investasi dan kinerja perusahaan. Coles, et al (2004), dalam penelitiannya menemukan capital expenditure berpengaruh negatif dan signifikan terhadap stock price volatility (vega), sedangkan terhadap CEO pay-performance volatility (delta), capital expenditure berpengaruh positif dan signifikan. Penelitian lainnya dilakukan oleh Guo (2006), menemukan bahwa stock bonus berpengaruh negative dan signifikan trhadap ROA. Pasternak & Rosenberg (2002), dalam penelitiannya menemukan investasi ber-pengaruh negative tetapi tidak signifikan terhadap insentif, namun terhadap Tobin’s Q, investasi berpengaruh positif dan signifikan, dan leverage berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap investasi. Anuchitworawong (2004), dalam penelitiannya yang dilakukan menemukan bahwa sesudah masa krisis (2000), capital expenditure berpengaruh negative dan signifikan terhadap kinerja perusahaan (ROA), demikian juga sebelum masa krisis (1996), capital expenditure berpengaruh negative dan signifikan terhadap kinerja perusahaan (ROA). Penelitian yang dilakukan oleh Aivazian, et al (2005), menemukan bahwa leverage berpengaruh negative dan signifikan terhadap investasi. 

Penelitian yang berkenaan dengan kinerja perusahaan dengan proksi ROA telah banyak dilakukan. Syahib (2000), me-nunjukkan bahwa ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga dan return saham. Penelitian yang dilakukan oleh Dodd & Chen (1996), juga menemukan bahwa ROA berkorelasi signifikan terhadap stock return, dan ROA sebagai pengukur kinerja perusahaan dianggap lebih baik dari EVA. Penelitian lainnya dilakukan oleh Biddle, Bauen & Wallace (1996), yang menemukan bahwa pengaruh earning terhadap stock return dan firm value lebih tinggi daripada EVA. Demikian juga penelitian dari Uchida (2006), menemukan bahwa ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan (Tobin’s

Penelitian tentang nilai perusahaan dengan berbagai pendekatan telah banyak dilakukan sebelumnya, antara lain dilakukan oleh Mork, et al (1988), McConnel & Servaes (1990), Grant (1996), Dodd & Chen (1996), Biddle, Bauen and Wallace (1996), Mike (1997), Shin & Stulz (2000), Syahib (2000), Pasternak & Rosenberg (2002), Coles, J, et al (2004), Aivazian, et al (2005), dan Uchida (2006) seperti telah dijelaskan sebelumnya.

Hipotesis
Berdasarkan penjelasan teori dan hasil riset sebelumnya, maka dapat dikembangkan tujuh hipotesis sebagai berikut:
H1: Leverage keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan.
H2: Capital expenditure berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan.
H3: Insentif manajer berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan.
H4: Leverage keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
H5: Capital expenditure berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
H6: Insentif manajer berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
H7: Kinerja perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan.

Model Empirik Penelitian
Berdasarkan pada pengembangan hipotesis tersebut di atas, maka dapat dibangun suatu model empirik penelitian sebagai berikut:

Model Empirik Penelitian

Metode Penelitian
Peneltian dilakukan di Bursa Efek Jakarta, dengan mengambil sampel perusahaan-perusahaan manufaktur yang listed periode 2004 s/d 2006. Metode pengambilan sampel dengan menggunakan metode purposive sampling, dengan jumlah sampel sebesar 116 perusahaan yang memenuhi kriteria dari 152 perusahaan. 

Metode analisis menggunakan metode regresi berganda dengan beberapa asumsi klasik yang diperyaratkan dalam model, serta menggunakan analisis jalur (path analysis). Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji t dan uji sig-t. Pengujian efek mediasi dilakukan dengan menghitung nilai koefisien langsung dan tidak langsung dari variabel independen terhadap variabel dependennya.

Hasil Analisis
Hasil analisis dijelaskan dengan men-deskripsikan variable-variabel penelitian dan hasil uji hipotesis serta uji mediasi.

Deskripsi Variabel Penelitian
Capital expenditure (CAPEX), memiliki nilai standar deviasi terbesar yaitu sebesar 1023,81% dengan nilai mean sebesar 74,96%. Sedangkan yang memiliki nilai standar deviasi terendah adalah kinerja perusahaan (KINPER) yaitu sebesar 5,33% dengan nilai mean sebesar 2,74%. Insentif manajer (INMA) memiliki nilai standar deviasi sebesar 47,80% dengan nilai mean sebesar 65,00%. Selanjutnya leverage keuangan (LEVKEU) sebagai variable dependen ke 3 memiliki nilai standar deviasi sebesar 35,39% dengan nilai mean sebesar 57,51%.

Tingginya nilai standar deviasi pada variable capital expenditure menggambarkan bahwa capital expenditure tiap-tiap perusahaan yang diobservasi relative berbeda jauh. Mengingat bahwa capital expenditure adalah proksi dari kebijakan investasi, maka berarti kemampuan tiap-tiap perusahaan yang diobservasi dalam berinvestasi relatif sangat berbeda. Perbedaan ini kemungkinan besar disebab-kan karena kekuatan atau kemampuan dalam menyediakan dana, dan dalam memandang kesempatan investasi di masa mendatang.

Meskipun masih dibilang relative rendah insentif manajer, namun nilai standar deviasi insentif manajer relative lebih tinggi dari leverage keuangan dan kinerja perusahaan pada tiap-tiap perusahaan yang diobservasi. Insentif manajer diproksi dengan variable dummy sehingga rangenya hanya 1, yaitu antara 0 dan 1 dengan nilai standar deviasi sebesar 47,80% dan nilai mean sebesar 65,00%. Jadi jika dibanding-kan dengan leverage keuangan dan kinerja perusahaan, maka nilai insentif manajer pada perusahaan-perusahaan yang diobservasi relatif lebih menyebar dan lebih jauh dari nilai mean-nya apabila dibandingkan dengan nilai leverage keuangan dan kinerja perusahaan pada tiap-tiap perusahaan yang diobservasi..

Leverage keuangan sebagai variable independen ke 3 memiliki nilai standar deviasi yang lebih rendah dari insentif manajer, yaitu sebesar 35,39% dengan nilai mean 57,511%. Leverage keuangan dalam penelitian ini merupakan variabel yang menggambarkan penggunaan utang jangka panjang retatif terhadap total aktiva. Jika dilihat dari nilai standar deviasinya sebesar 35,39%, maka penggunaan hutang pada perusahaan-perusahaan yang diobservasi variabilitasnya relatif rendah, sehingga mendekati rata-rata industrinya.

Seperti halnya leverage keuangan, maka kinerja perusahaan dalam model persamaan ini memiliki distribusi data yang lebih homogin dibandingkan dengan nilai insentif manajer dan leverage keuangan, karena nilai standar deviasinya paling rendah yaitu sebesar 5,33% dengan nilai mean sebesar 2,75%. Kondisi ini menunjukkan bahwa nilai kinerja perusahaan pada tiap-tiap perusahaan yang diobservasi mendekati nilai rata-rata industrinya.

Nilai mode dari capital expenditure, leverage keuangan, dan kinerja perusahaan semuanya lebih rendah dari nilai meannya. Artinya bahwa capital expenditure, leverage keuangan, kinerja perusahaan dan nilai perusahaan dari perusahaan-perusahaan yang diobservasi masih dapat ditingkatkan. Sedangkan nilai mode dari insentif manajer adalah 1, berarti sebagian besar perusahaan-perusahaan yang diobservasi telah membagi bonus saham.

Nilai perusahaan (Y3) pada perusahaan -perusahaan yang diobservasi memiliki nilai standar deviasi 67,34% dengan nilai mean sebesar 116,49%. Nilai standar deviasi ini lebih rendah dari nilai standar deviasi capital expenditure, tetapi lebih tinggi standar deviasi insentif manajer, laverage keuangan, dan kinerja perusahaan pada perusahaan-perusahaan yang diobservasi.

Kondisi tersebut menggambarkan bahwa nilai perusahaan tiap-tiap perusahaan yang diobservasi relative berbeda. Mengingat bahwa nilai perusahaan diproksi dengan Tobin.s Q, maka perbedanan ini kemungkinan besar disebabkan karena perbedaan nilai pasar saham dan nilai kekayaan atau aktiva pada perusahaan-perusahaan yang diobservasi. Hal ini ditunjukkan dari besarnya nilai mode dari nilai perusahaan yang lebih rendah dari nilai mean-nya dan juga nilai standar deviasi dari leverage keuangan yang relatif rendah.

Pengujian Kekuatan dan Kesesaian Model
Pengujian normalitas error menghasil-kan rasio skewness sebesar 0,481 terletak pada posisi -2 sampai +2 atau lebih kecil dari 2. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal sehingga sesuai standar ketentuan yang dipersyaratkan dalam model OLS. 

Hasil pengujian multikolonieritas pada mengasilkan nilai VIF untuk masing-masing variable independen lebih kecil 10 (VIF < 10). Insentif Manajer (INMA) mempunyai nilai VIF sebesar 1,007. Capital expenditure (CAPEX) mempunyai nilai VIF sebesar 1,006. Sedangkan leverage keuangan (LEVKEU) mempunyai nilai VIF sebesar 1,001. Dikarenakan semua variabel inde-penden mempunyai nilai VIF lebih kecil dari 10, maka dapat disimpulkan bahwa semua variabel independen yang dimasukkan dalam model regresi terbebas dari persoalan multikolonieritas.

Hasil pengujian heteroskedastisitas seperti yang tersaji di Tabel 1 pada lampiran 1 menunjukkan bahwa semua variable independen yang dimasukkan dalam model regresi secara statistik tidak signifikan (sig-t = > 0,05) berpengaruh terhadap residual, maka model regresi terbebas dari persoalan heteroskedastisitas. Hasil pengujian heteroskedastisitas di Table 1 pada lampiran 1 menunjukkan bahwa insentif manajer (INMA) mempunyai nilai t = -1,260 dengan nilai sig-t = 0,209. Capital expenditure (CAPEX) mempunyai nilai t sebesar -1,451 dengan nilai sig-t sebesar 0,148. Sedangkan leverage keuangan (LEVKEU) mempunyai nilai t sebesar -1,511 dan nilai sig-t sebesar 0,132. Jadi, semua variable independen secara statistik tidak ada yang signifikan terhadap absolute residual atau mempunyai nilai sig-t lebih besar dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua variable independen yang dimasukkan dalam model regresi terbebas dari persoalan heteroskedastisitas.

Hasil pengujian Durbin-Watson (DW) menunjukkan nilai Durbin-Watson (DW) sebesar 1,294 terletak pada daerah autokorelasi positif, sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak terbebas dari persoalan autokorelasi. Namun menurut Cooper dan Emory (1996), bahwa persoalan autokorelasi dapat diabaikan sepanjang model tersebut tidak digunakan untuk memprediksi, akan tetapi digunakan untuk menjelaskan fenomena empirik (to descriptive), sehingga persoalan autokorelasi pada persamaan 1 ini dapat diabaikan.

Pengujian kesesuaian model (goodness of fit) dilakukan dengan melihat nilai dari R-square dan signifikansi F. Nilai R-square menjelaskan kemampuan variable-variabel independen didalam mempengaruhi variable dependen dan signifikansi F menjelaskan tingkat keyakinan bahwa model tersebut adalah sesuai (goodness of fit). Hasil pengujian kekuatan dan kesesuaian model selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2 dan Tabel 3 di lampiran 2 dan lampiran 3.

Hasil pengujian persamaan 1 me-nunjukkan bahwa nilai R-square sebesar 0,589 dan nilai nilai F sebesar 128,743 dengan sig-t = 0,000. Jadi, variable-variabel kebijakan perusahaan seperti; insentif manajer (INMA), capital expenditure (CAPEX), dan leverage keuangan (LEVKEU) yang dimasukkan dalam model regresi mempunyai kemampuan menjelas-kan kinerja perusahaan (KINPER) sebesar 58,90 persen, sedangkan sisanya sebesar 41,10 persen dijelaskan oleh faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model regresi. Model regresi yang digunakan sesuai dengan bukti empiris memenuhi kesesuaian model (goodness of fit) pada level signifikansi kurang dari 1 persen ( sig-t = 0,000).

Hasil Hasil pengujian persamaan 2 menunjukkan bahwa nilai R-square sebesar 0,238 dan nilai nilai F sebesar 21,013 dengan sig-t = 0,000. Jadi, variable-variabel kebijakan perusahaan seperti; insentif manajer (INMA), capital expenditure (CAPEX), leverage keuangan (LEVKEU), kinerja perusahaan (KINPER) dan yang dimasukkan dalam model regresi mem-punyai kemampuan menjelaskan nilai perusahaan (NILPER) sebesar 23,80 persen, sedangkan sisanya sebesar 76,20 persen dijelaskan oleh faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model regresi. Model regresi yang digunakan sesuai dengan bukti empiris memenuhi kesesuaian model (goodness of fit) pada level signifikansi kurang dari 1 persen ( sig-t = 0,000).

Pengujian Regresi
Hasil pengujian regresi persamaan 1 adalah: KINPER = 0,160INMA – 0,008CAPEX - 0,755LEVKEU. Nilai koefisien insentif manajer (INMA) sebesar 0,160 (positif), berarti insentif manajer berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan (KINPER). Nilai koefisien capital expenditure (CAPEX) sebesar -0,008 (negatif), berarti capital expenditure berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan (KINPER). Nilai koefisien leverage keuangan (LEVKEU) sebesar -0,755 (negatif), berarti leverage keuangan berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan (KINPER). 

Hasil pengujian regresi persamaan 2 adalah: NILPER= -0,051INMA - 0,016CAPEX + 0,725LEVKEU + 0,427KINPER. Nilai koefisien insentif manajer (INMA) sebesar -0,051 (negatif), berarti insentif manajer berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan (NILPER). Nilai koefisien capital expenditure (CAPEX) sebesar -0,016 (negatif), berarti capital expenditure berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan (NILPER). Nilai koefisien leverage keuangan (LEVKEU) sebesar 0,725 (positif), berarti leverage keuangan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan (NILPER). Sedangkan nilai koefisien kinerja perusahaan (KINPER) sebesar 0,427 (positif), berarti kinerja perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan (NILPER). Hasil pengujian regresi selengkapnya dapat dilihat di Tabel 4 dan Tabel 5 pada lampiran 4 dan lampiran 5.

Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan untuk menjawab riset question seperti yang telah dijelaskan di depan. Penelitian ini menguji 7 hipotesis yang dikembangkan dari penelaahan pustakan dan hasil riset sebelumnya.

Hipotesis 1
Hasil pengujian hipotesis 1, secara statistik, leverage keuangan nerpengaruh negative dan signifikan pada level of significant kurang dari 1% (th = -19,335; dengan nilai sig-t = 0,000) terhadap kinerja perusahaan. Jadi, berdasarkan hasil pengujian secara statistik tersebut di atas leverage keuangan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa hipotesis 1 (H1) ditolak, karena arahnya berbeda, yaitu negatif.

Hipotesis 2
Hasil pengujian hipotesis 2, secara statistik capital expenditure berpengaruh negative dan tidak signifikan pada level of significant 5% (th = -0,209; dengan nilai sig-t = 0,835) terhadap kinerja perusahaan. Jadi, berdasarkan hasil pengujian secara statistik tersebut di atas capital expenditure berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kinerja perusahaan, sehingga disimpulkan bahwa hipotesis 2 (H2) ditolak.

Hipotesis 3
Hasil pengujian hipotesis 4, secara statistik insentif manajer berpengaruh positif dan signifikan pada level of significant kurang dari 1% (th = 4,074; dengan nilai sig-t = 0,000) terhadap kinerja perusahaan. Jadi, berdasarkan hasil perhitungan secara statistik tersebut di atas insentif manajer berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis 3 (H3) diterima.

Hipotesis 4
Hasil pengujian hipotesis 4, secara statistik leverage keuangan berpengaruh positif dan signifikan pada level of significant kurang dari 1% (th = 8,819; dengan nilai sig-t = 0,000) terhadap nilai perusahaan. Jadi, berdasarkan hasil pengujian secara statistik tersebut di atas, leverage keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis 4 (H4) diterima.

Hipotesis 5
Hasil pengujian hipotesis 5, secara statistik capital expenditure berpengaruh negative dan tidak signifikan pada level of significant 5% (th = -0,306; dengan nilai sig-t = 0,760) terhadap nilai perusahaan. Jadi, berdasarkan hasil pengujian secara statistik tersebut di atas, capital expenditure berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis 5 (H5) ditolak. 

Hipotesis 6
Hasil pengujian secara statistik tidak signifikan pada level of significant 5% (th = -0,927; dengan nilai sig-t = 0,355). Oleh karena itu, insentif manajer berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa hipotesis 6 (H6) ditolak.

Hipotesis 7
Hasil pengujian secara statistik kinerja perusahaan berpengaruh positif dan signifikan pada level of significant kurang dari 1% (th = 5,152; dengan nilai sig-t = 0,000) terhadap nilai perusahaan. Jadi, berdasarkan hasil pengujian secara statistik tersebut di atas, kinerja perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis 7 (H7) diterima. 

Pengujian Mediasi
Pengujian mediasi dilakjukan untuk mengetahui apakah kinerja peru-sahaan berperan sebagai variabel intervening di dalam mempenaruhi nilai perusahaan. Jika hasil analisis regresi pada persamaan dan persamaan dimasukan dalam model empirik, maka akan diperoleh hasil analisis jalur (path analysis) seperti pada Gambar  berikut ini. 

Gambar Analisis Jalur Model Empirik Penelitian
Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS 11.

Penjelasan Analisis Mediasi
Insentif Manajer > Kinerja Perusahaan . Nilai Perusahaan.

Berdasarkan uji statistik, insentif manajer berpengaruh positif dan signifikan kurang dari 1% terhadap kinerja perusahaan, dan kinerja perusahaan berpengaruh positif dan signifikan kurang dari 1% terhadap nilai perusahaan. Sedangkan insentif manajer secara statistik tidak signifikan dalam mempengaruhi nilai perusahaan, sehingga tidak sesuai dengan konsep teori agensi. 

Jadi, secara statistik benar bahwa insentif manajer berpengaruh terhadap kinerja perusahaan, dan pengaruh tersebut adalah positif, secara teoritis pengaruh insentif manajer terhadap kinerja perusahaan juga positif. Oleh karena itu, kinerja perusahaan baik secara statistik maupun secara teoritis memediasi, insentif manajer dalam mempengaruhi nilai perusahaan.

Capital Expenditure > Kinerja Perusahaan > Nilai Perusahaan.
Berdasarkan uji statistik, capital expenditure berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap kinerja perusahaan, dan kinerja perusahaan berpengaruh positif dan signifikan kurang dari 1% terhadap nilai perusahaan. Sedangkan capital expenditure secara statistik tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan, sehingga tidak sesuai dengan konsep teorinya. 

Jadi, capital expenditure, secara statistik juga tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, sehingga tidak sesuai dengan konsep teori investasi. Oleh karena itu, kinerja perusahaan baik secara statistik maupun secara teoritis tidak memediasi, capital expenditure dalam mempengaruhi nilai perusahaan.

Leverage Keuangan > Kinerja Perusahaan > Nilai Perusahaan.
Berdasarkan uji statistik, leverage keuangan berpengaruh negatif dan signifikan kurang dari 1% terhadap kinerja perusahaan, sehingga tidak sesuai dengan konsep teori balancing atau trade-off theory. Kinerja perusahaan berpengaruh positif dan signifikan kurang dari 1% terhadap nilai perusahaan, sesuai dengan konsep teori signaling. Disisi lain leverage keuangan secara statistik berpengaruh positif dan signifikan kurang dari 1% terhadap nilai perusahaan, sehinga sesuai dengan konsep teoritisnya. Oleh karena itu, kinerja perusahaan secara statistik memediasi leverage keuangan dalam mempengaruhi nilai perusahaan, sedangkan sesuai konsep teori tidak memediasi leverage keuangan dalam mempengaruhi nilai perusahaan.

Pengujian Efek Mediasi
Berdasarkan penjelasan mediasi tersebut di atas, maka besarnya efek mediasi dapat dihitung sebagai berikut:
Pertama, kinerja perusahaan sebagai variabel mediasi dari insentif manajer tidak perlu dihitung efek mediasinya, karena kinerja perusahaan merupakan mediasi penuh dari insentif manajer dalam mempenaruhi nilai perusahaan. Pembagian bonus saham menunjukkan adanya signal tidak langsung (indirect signaling effect) terhadap nilai perusahaan. Signal ini ditangkap oleh para pelaku bursa melalui kinerja perusahaan, dimana adanya pembagian bonus saham berdampak pada peningkatan return on asset (ROA). Hal ini ditunjukkan dari besarnya nilai mean rate of return atau rata-rata industri manufaktur dari rate of return 2,75%. Meskipun nilai rate of return rata-rata industri manufaktur sebesar 2,75% tergolong rendah, namun hal ini dapat memberikan harapan adanya dividen bagi para pemilik saham.

Kedua, kinerja perusahaan sebagai variabel mediasi dari leverage keuangan, secara statistik pengaruh tidak langsung leverage keuangan (LEVKEU) terhadap nilai perusahaan adalah (0,755) x 0,725 = (0,547). Besarnya pengaruh langsung leverage keuangan terhadap nilai perusahaan adalah 0,725. Jadi dapat disimpulkan bahwa pengaruh sebenarnya adalah pengaruh langsung, karena nilai koefisien pengaruh langsung 0,725 lebih besar dari pengarruh koefisien tidak langsung -0,547. Leverage keuangan (LEVKEU) lebih efektif berpengaruh langsung terhadap nilai perusahaan (NILPER) daripada melalui kinerja perusahaan (KINPER).
Blog, Updated at: 00.45

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts