Pengertian, Defenisi, Konsep Akulturasi

Pengertian, Defenisi, Konsep Akulturasi 
A. Observasi Kegiatan Budaya
Dalam rangka kegiatan observasi kebudayaan di lingkungan sekitar untuk tugas akhir semester mata kuliah Kebudayaan Indonesia, saya memutuskan untuk melakukan pengamatan pada kelompok musik STUPA. Kebetulan mereka menjadi salah satu pengisi acara di dalam kegiatan kebudayaan yang dilaksanakan pada hari Kamis, 23 Desember 2010 lalu. Acara tersebut bertajuk Tentacle (Talent, Art and Clever) terdiri dari dua kegiatan, yakni Seminar Nasional : Membangun Indonesia Melalui Seni dengan pembicara Pak Sutrisno, Ibu Eny Esita Kolopaking, Pak Anggito Abimanyu serta Agung Baskoro sebagai moderator dan acara University Got Talent (ajang pencarian bakat versi UGM) dengan juri Didik Nini Thowok, Bagus Jatmiko dan Moch. Ichsan Yulkarnaen. Kegiatan yang diselenggarakan sebagai kegiatan Action Plan dari Sahabat Percepatan Peningkatan Mutu Pendidikan (SP2MP) subdirektorat PPKB UGM tersebut bertempat di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM (bekas Purna Budaya).

Di dalam acara University Got Talent sendiri, terdapat 11 peserta yang berunjuk gigi menampilkan bakat – bakat mereka kepada para penonton dan ketiga juri untuk memperebutkan posisi juara umum dan juara favorit. Beberapa pengisi acara yang lain seperti Jasmine, Semata Wayang, Samantraya, STUPA, El Grillo, Akusara dan lain – lain juga ikut menyemarakkan acara pesta budaya tersebut. Tak kurang dari sekitar 300 orang menyaksikan pagelaran budaya tersebut dan sangat antusias menonton hingga akhir acara.

Saya yang juga menjadi panitia acara tersebut di salah satu divisinya, dapat dengan mudah menyaksikan secara langsung dan mendokumentasi kegiatan kebudayaan tersebut terutama saya fokuskan kepada kelompok musik STUPA karena keunikan dan ide kreatif mereka dalam bermusik. Selain mendokumentasikan dengan kamera tak lupa saya juga melakukan wawancara singkat untuk bahan pembahasan esai dengan beberapa anggota kelompok musik STUPA di belakang panggung, setelah mereka tampil memukau dan menghibur ratusan mata penonton University Got Talent dengan permainan musik tak biasa mereka yang merupakan perpaduan indah antara repetual gamelan dan alat musik modern. Tak lupa juga saya meminta setidaknya dua contoh lagu “Funk Java” dan “Burn Your Tap” yang merupakan ciptaan mereka sendiri, berbentuk format file mp3 dan saya sertakan dalam CD bersama dengan esai ini.

B. Tentang STUPA
Dengan nama STUPA, kelompok musik ini berdiri sejak tahun 2005 silam. Oleh sekumpulan mahasiswa jurusan seni musik Universitas Negeri Yogyakarta, digagaslah sebuah ide yang sangat cemerlang atas dasar keinginan mereka untuk berkarya, bermusik dan ingin didengar. Dengan memikirkan ide kreatif serta inovasi, mereka sangat berharap untuk mampu menarik perhatian para pecinta musik dan masyarakat luas. Dari hasil pemikiran itulah kemudian STUPA terbentuk sebagai kelompok pemusik pemula yang bereksperimen menggabungkan alat musik modern dan alat musik tradisional Jawa yakni gamelan.

STUPA adalah nama kelompok pemusik ini, memiliki makna atau simbol yakni posisi yang tertinggi sesuai dengan ajaran agama Buddha. Kata Stupa juga sama seperti dalam bahasa Indonesia umum yang merupakan sebutan untuk bangunan puncak dari sebuah candi (terutama candi Borobudur). Demikian pula sepertinya, harapan kelompok STUPA yang ingin menjadi yang terbaik dan juga harapan serta prinsip mereka bahwa budaya apapun yang kita miliki saat ini hanyalah titipan belaka dari Tuhan Yang Maha Esa. Titipan tersebut harus dijaga sebaik – baiknya dan dilestarikan supaya dapat diturun – temurunkan kepada anak cucu kita. Titipan tersebut mereka ibaratkan sebagai kebudayaan tradisional gamelan. Prinsip itulah yang merupakan motivasi dasar bagi STUPA untuk bermusik. Dengan ide dan jalannya sendiri, mereka berusaha untuk melestarikan budaya tradisional gamelan yang bernilai luhur.

Kelompok musik STUPA yang sedikit enggan untuk disebut sebagai band ini hingga akhir tahun 2010 lalu, memiliki 9 orang anggota dan mereka semua masih merupakan mahasiswa dari universitas berbasis pendidikan tersebut. Kesembilan orang dengan alat musiknya masing – masing tersebut adalah Bhakti Setyaji memegang gitar, Dimas Joko Purnomo memegang perkusi, Okky Satya Rosadi memegang bass, Ari Bhayuardi memegang demung, Cecep Megantara memegang saron, Aziz Rifkiyanto memegang biola, Yanuar Dananjaya memegang bonang, Heru Radityo Adi memegang drum dan Panji Riyadi Putro yang juga memegang saron.

Bagi sebagian orang, banyak yang beropini bahwa ide kreatif mereka sangatlah tidak biasa dan cenderung tidak wajar. Beralasan bahwa pada saat ini mainstream musik favorit masyarakat adalah musik pop atau rock dengan bentuk band, ataupun musik hip hop dengan iringan musik yang keras dan tarian streetdance. Namun kelompok musik STUPA tidak ingin mengikuti atau mencontoh apa yang sudah ada. Mereka memilih jalan mereka sendiri untuk menggabungkan dua jenis musik yang sangat bertentangan dan berasal dari era atau jaman yang sangat berbeda. Sebagai kelompok musisi yang pandai menciptakan musik yang sangat unik, STUPA juga secara langsung berkontribusi dalam pelestarian budaya musik tradisional gamelan.

World Music dan kontemporer adalah dua jenis aliran musik yang menjadi acuan STUPA dalam bermusik. Keduanya menciptakan kolaborasi unik antara alat musik tradisional dan alat musik modern. Alat – alat musik tradisional yang biasanya digunakan oleh STUPA yaitu balungan (saron), bonang, demung dan conga atau perkusi. Bahkan dalam kesempatan tertentu mereka juga berani untuk menampilkan tabuhan kendhang sebagai variasi bermusik. Sedangkan alat musik modern yang digunakan adalah gitar listrik, bass, drum dan biola.

Menurut pengakuan Mas Nano, pentolan STUPA yang dipercayai untuk memainkan bonang, dalam proses aransemen musik digunakan instrumen kendhang sebagai penyelaras nada maupun pembantu musikalitas STUPA. Grup musik yang lebih sering menggunakan nada pelog sebagai nada acuan alat gamelan ini berpendapat bahwa dengan mengkombinasikan semua jenis atau aliran musik dunia maka kreatifitas mereka akan semakin tertantang dan kian berkembang.

Karena kesembilan anggota STUPA berasal dari Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta, maka mereka tidak pernah menemukan kendala dalam mengatur jadwal latihannya. Umumnya kegiatan latihan mereka adalah 1 kali dalam seminggu dan karena keterbatasan dana, mereka masih meminjam alat musik milik kampus mereka FBS UNY untuk sesi latihan.

Lagu-lagu yang dimainkan dan diciptakan oleh STUPA, biasanya merupakan hasil karya serta sumbangsih pemikiran dari semua anggota. Walaupun STUPA hingga saat ini belum memiliki album musik, namun ternyata mereka telah memiliki beberapa koleksi lagu yang unik, atraktif dan menarik untuk didengar. Diantaranya berjudul “Burn Your Tap” dan “Funk Java”. Kebanyakan, lagu - lagu yang diciptakan oleh STUPA bertemakan sosial dan lingkungan. Bahkan pada salah satu lagu mereka terdapat mantra - mantra seperti Ura Ura sebagai bumbu keunikan dan menambah aura musik. Mantra tersebut bermakna tentang kemurkaan manusia terhadap kerusakan dunia.

Membahas soal prestasi, STUPA telah berhasil mencetak kesuksesan dalam bermusik dengan kerjasama dan kolaborasinya dengan musisi Belanda dan Jerman yang kemudian ditampilkan di ARTEZ Conservatory Jerman pada tahun 2010. 

Menurut pengakuan Mas Nano, mengkolaborasikan alat musik modern dan tradisional menjadi kesulitan tersendiri sekaligus tantangan bagi STUPA. Kesulitan terletak pada saat mengharmonisasikan nada yang dihasilkan oleh alat musik modern dengan nada yang dihasilkan oleh alat musik tradisional. Sehingga dalam prosesnya alat musik modernlah yang disesuaikan dengan bunyi alat musik tradisional atau jarang sekali terjadi sebaliknya.

STUPA sangat berkomitment untuk menjadi yang terunik dan tampil beda dari yang lain. Bahkan untuk mencapai tingkat kreatifitas dan menghasilkan bunyi yang sangat fenomenal, pemain bonang harus membalikkan posisi bonang dan menggeseknya dengan menggunakan penggesek biola. Selain itu pemain bonang maupun saron juga memukul balungan dengan menggunakan ujung tangkai pemukul gamelan tersebut untuk bereksperimen penghasilan bunyi yang menarik. Sehingga STUPA telah memecahkan teori – teori yang telah ada tentang teknik bermain gamelan dengan kreatifitas mereka.

Ketika dimintai pendapat mengenai kesempatan mereka untuk berpartisipasi sebagai elemen yang memperkaya belantika musik Indonesia, mereka cenderung pesimis jika terdapat perusahaan rekaman yang segan untuk mengontrak mereka. Menurut mereka, kreatifitas bermusik seringkali tidak sejalan dengan mainstream masyarakat luas dan hal itu tidak membuat mereka untuk pernah berpikir dengan sudut pandang komersial. Idealisme utama STUPA adalah hanya satu yakni membantu melestarikan kebudayaan tradisional gamelan.

Tidak ada seorang pemimpin di dalam STUPA, sehingga semangat kebersamaan adalah hal yang cukup penting. Alih-alih berkonflik dalam menyuarakan ide dan pendapat mereka dalam bermusik, justru mereka mampu untuk menerima semua opini dan memberikan kesempatan kepada semua anggota untuk bereksplorasi lebih dalam serta mengkombinasikan seluruhnya menjadi satu kesatuan utuh di dalam tubuh STUPA.

Dengan nilai – nilai positif dan berbagai kelebihan STUPA sebagai musisi, hal ini sangatlah potensial bagi STUPA untuk mendapatkan lebih banyak kesempatan dan menjadikan mereka lebih sukses meraih impian mereka menciptakan musik untuk dinikmati oleh semua orang dan melestarikan kebudayaan tradisional gamelan. Untuk kedepannya mereka berencana untuk mendapatkan seorang vokalis, lebih cocoknya seorang wanita untuk melengkapi keutuhan dan keunikan STUPA sebagai grup musik.

Pembahasan STUPA Dari Sudut Pandang Budaya
Seperti telah kita ketahui bersama bahwa STUPA merupakan grup musisi yang dengan kreatifitas mereka, mencoba untuk menghadirkan music taste yang berbeda dan unik dari jenis musik pada umumnya. Mereka juga memiliki komitment yang kuat terhadap pelestarian budaya, terutama kebudayaan tradisional gamelan Jawa dengan cara mengkombinasikannya bersamaan dengan alat musik modern yang lebih umum dikenal oleh masyarakat luas.

Demikian, terlihat dengan jelas disini bahwa STUPA ingin mempertahankan keeksistensian sesuatu dengan cara menggabungkan dua kebudayaan yang benar-benar berbeda dari berbagai sudut pandang. Dengan itu dapat kita simpulkan dengan mudah bahwa STUPA sedang berusaha untuk melakukan akulturasi dalam bidang kebudayaan, terutama musik. Seperti dikatakan oleh berbagai teori yang salah satunya adalah sebagai berikut “Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri”.

Disini sudah bisa kita simpulkan secara sederhana bahwa alat musik tradisional gamelan Jawa sudah ada dan melekat ke dalam budaya Jawa sejak ratusan tahun yang lalu, sedangkan alat musik modern atau instrumen orkestra (asing) baru dikenalkan atau masuk ke Indonesia melalui penjajahan kolonial dan imperialis bangsa barat. Dengan demikian kita mengenal dua kebudayaan yang berbeda di dalam sebuah peradaban masyarakat. Hal ini bisa dibilang cukup diperparah dengan kondisi bahwa alat musik modern lebih populer di kalangan masyarakat Indonesia, terutama para generasi muda daripada musik tradisional gamelan. Kesadaran masyarakat atas identitas budaya asli seolah telah hilang dan tergantikan oleh kebudayaan asing yang baru masuk dan lambat laun diinternalisasi oleh masyarakat Indonesia.

Namun terdapat sekelompok kecil masyarakat yang terlibat konflik kesadaran budaya dan bersikeras untuk tetap menyelamatkan kebudayaan (identitas) orisinil Indonesia, STUPA sebagai contohnya. Perlawanan ini disebabkan oleh adanya tekanan yang cukup kuat dari kebudayaan asing yang mencoba untuk berpengaruh kedalam masyarakat Indonesia. Karena merasa sangat terancam keeksistensiannya dan merasa takut kalah serta tergusur oleh unsur maupun elemen asing, maka diambillah jalan tengah yang menguntungkan kedua belah pihak.

Demi mewujudkan idealismenya, mereka melakukan proses akulturasi budaya dimana mereka mempertemukan dua kebudayaan yang berbeda dan mencampurkan keduanya hingga menciptakan suatu hasil tanpa menghilangkan ciri-ciri atau sifat-sifat asli dari kedua unsur budaya berbeda tersebut. Hal ini, menurut saya sangatlah efektif dan terbukti berhasil. Walaupun harus dilakukan dengan usaha yang besar dan pengorbanan yang tidak sedikit, namun STUPA telah membuktikan kepada dunia bahwa teknik pelestarian kebudayaan seperti ini sangatlah menjanjikan.

STUPA juga bisa dikategorikan sebagai salah satu contoh atau tanda-tanda dari akan terjadinya sebuah transformasi budaya selanjutnya di Indonesia. Seperti pada teori yang menyebutkan bahwa “Suatu proses dialog yang terus menerus antara kebudayaan lokal dengan kebudayaan donor, sampai tahap tertentu membentuk proses sintesa dengan pelbagai wujud yang akan melahirkan format akhir budaya yang mantap. Dalam proses dialog, sintesa dan pembentukan format akhir tersebut didahului oleh proses inkulturasi dan akulturasi”.

Sebagai catatan Indonesia sudah melalui beberapa kali transformasi budaya dan terakhir kalinya adalah pada jaman penjajahan dimana kebudayaan lokal dipertemukan dengan kebudayaan kolonial (Portugis, Inggris dan Belanda) dan Indonesia mengalami cultural shock karena berbeda karakteristiknya. Baru pada akhir abad ke-19 mulai terjadi dialog antara dua kebudayaan itu yang ditandai oleh lahirnya Budi Utomo, Sumpah Pemuda dan berbagai gerakan politik modern. Memasuki abad ke – 21 ini, Indonesia dan dunia telah dengan mantap melangkah ke dalam tahap globalisasi dimana mau tidak mau Indonesia dituntut untuk berinteraksi secara langsung kepada hampir seluruh bangsa dari seluruh dunia dan hal ini mungkin menjadikan transformasi kebudayaan selanjutnya bagi Indonesia. Disini, Indonesia dituntut untuk tidak hanya bersiap mengalami cultural shock namun juga harus selalu siaga untuk melakukan dialog adaptasi pelestarian budaya dengan akulturasi kebudayaan : budaya tradisional dengan multi budaya dari seluruh dunia (contohnya seperti aliran musik world music atau kontemporer).

Dalam teori lain juga disebutkan bahwa proses mengajarkan kebudayan secara turun temurun atau yang biasa disebut dengan pewarisan kebudayaan juga termasuk bagian dari proses transformasi budaya. Sehingga idealisme STUPA yang berprinsip bahwa kebudayaan adalah titipan Tuhan Yang Maha Esa adalah salah satu bagian nyata dari proses terjadinya transformasi budaya dimana STUPA menjaga dan melestarikan salah satu kebudayaan tradisional Indonesia untuk diwariskan kepada anak cucu dan generasi Indonesia selanjutnya.

C. Koleksi Dokumentasi Dalam Bentuk Foto



Blog, Updated at: 07.57

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts