Bukti-Bukti Kebenaran Iman Dalam Bingkai Logika Dan Matematika

Bukti-Bukti Kebenaran Iman Dalam Bingkai Logika Dan Matematika 
Islam pada hakikatnya menghendaki umatnya untuk memiliki perhatian yang besar (concern) terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini ditunjukkan ketika kehadiran Islam itu sendiri, wahyu yang pertama kali diterima Rasulullah Saw. (surah al-‘Alaq ayat 1-5) adalah perintah untuk “membaca”, yang tentunya dengan berbagai penafsiran terhadap kata “membaca” tersebut. Yang jelas, perintah tersebut merupakan suatu landasan bagi umat Islam untuk terus “membaca”, yang secara substantif sebenarnya memerintahkan umat Islam untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan.

Dengan demikian, ketika sebagian “umat Islam” dengan berbagai dalih berusaha membatasi “umat Islam” lainnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, maka sebenarnya mereka telah mereduksi substansi perintah ayat di atas. Perbedaan interpretasi ini semakin mengembang menuju aspek epistemologis ilmu tersebut. Sebagian kelompok beranggapan bahwa agama (wahyu) harus lebih dominan dalam memperoleh ilmu pengetahuan, sebagian lainnya beranggapan bahwa akal-lah yang utama. Persoalan tersebut semakin meruncing, ketika muncul pandangan lain yang mengatakan bahwa akal dan agama (wahyu) sama-sama tidak bisa digunakan untuk memperoleh kebenaran.

Makalah ini menggambarkan bagaimana antara masing-masing pandangan di atas berimplikasi terhadap perkembangan ilmu itu sendiri. Pada pembahasan pertama, akan diuraikan bagaimana paham “sekulerisme” mencoba memisahkan (dikotomisasi) antara agama (wahyu) dengan akal, kemudian dilanjutkan pada kedua, bagaimana paham “integralisme” mencoba memadukan keduanya secara integral, dan pada pembahasan terakhir, bagaimana upaya berbagai kalangan umat Islam dalam upaya islamisasi ilmu tersebut.

A. Sekulerisme
Perkembangan ilmu pada masa modern ini berjalan sangat pesat. Manusia sebagai subjek terus melakukan penemuan-penemuan baru, pada satu sisi semakin memudahkan manusia dalam beraktivitas, namun di sisi lain memberikan dampak negatif yang tidak bisa dikatakan kecil. Berkurangnya nilai moralitas manusia itu sendiri menjadi sorotan utama. Sehingga muncul kembali upaya untuk mengkaji ulang hubungan antara “ilmu” dengan agama sebagai landasan moral. 

Berkaitan dengan hal tersebut, timbul polemik dalam perkembangan ilmu itu sendiri, di mana adanya upaya memisahkan antara “ilmu” dan Agama. Hal ini tidak lepas dari perkembangan pemahaman manusia dalam memandang epistemologi ilmu itu sendiri. Pemisahan (dikotomisasi) “ilmu” dengan agama ini populer namanya dengan istilah paham sekuler.

Pemahaman sekuler bermula dari pandangan epistemologi Barat yang mengatakan bahwa tak ada satu pun alat di dunia ini yang dapat digunakan untuk meyakini suatu kebenaran. Dengan dalih pemikiran selalu menyandang berbagai kelemahan, mereka lantas mengatakan bahwa kebenaran harus diukur dengan kriteria sejauh manakah ia mempunyai manfaat praktis dalam kehidupan manusia Dengan kata lain, pandangan ini bersifat pragmatis. Yaitu cenderung concern pada hasil, ketimbang nilai kebenaran tersebut.

Alasan yang paling utama yang dikemukakan adalah tidak ditemukannya cara memperoleh kebenaran yang dapat diandalkan. Pertama, Rasionalisme: bersifat solipsistik yaitu teori bahwa satu-satunya pengetahuan yang mungkin adalah pengetahuan diri sendiri, majemuk (pluralistik), subjektif, abstrak, dan non-evaluatif. Kedua, Empirisme: korelasi kausalitas antara dua fakta tidak nyata, dan hakikat pengalaman itu sendiri tidak jelas. Ketiga, Intuisionisme: non-analitik, tidak impersonal (umum), dan tidak sistematik. Keempat, Agama (wahyu): tidak ada kitab suci yang self-explanatory (jelas dengan sendirinya). Seruan (Appeal) menuju teks-teks suci dapat dibenarkan hanya kalau makna dan otoritas religiusnya telah ditetapkan. Di samping itu, orang percaya kepada Rasul Tuhan setelah ia mengasumsikan terlebih dahulu bahwa rasul itu adalah orang jujur dan memiliki mandat yang sesuai dengan apa-apa yang disampaikannya.

Ketidakpercayaan terhadap berbagai alat yang dapat digunakan untuk meyakini kebenaran, pada hakikatnya bukanlah hal baru dalam sejarah manusia. Hal ini sudah dialami para filosof Yunani zaman dahulu. Namun, pandangan ini seperti dimunculkan kembali pada masa modern. 

Pandangan ini pada awalnya dimunculkan oleh seorang filosof Yunani bernama Zeno yang lahir kira-kira tahun 490 SM, yang disebut sebagai pelopor paham “kebimbangan” pada masa itu atau bermulanya pemikiran sofisme. Kebingungan itu memuncak pada tokoh sofisme terbesar Protagoras. Ia menyatakan bahwa manusia adalah ukuran segala-galanya. Pemikiran inilah yang menjadi cikal bakal atau rumus utama relativisme yaitu pandangan yang menyatakan bahwa kebenaran itu bersifat relatif. Yang benar ialah yang benar menurutku, menurutmu, sehingga kebenaran objektif tidak ada. Pandangan ini kemudian mempengaruhi keyakinan agama orang Athena saat itu. Orang Athena ketika itu, terutama pemudanya, menjadi bingung, sendi-sendi agama telah tergoyahkan, begitu juga dengan pengetahuan telah diguncangkan. Lebih lanjut ia berpandangan bahwa tidak ada ukuran yang absolut dalam etika, metafisika, maupun agama. Bahkan teori matematika tidak dianggapnya mempunyai kebenaran yang absolut.

Pandangan ini kemudian dimunculkan kembali dengan istilah skeptisisme yang diperkenalkan oleh Rene Descartes (1596-1650). Ia mendapat gelar “bapak filsafat modern”. Ia berpandangan bahwa filsafat dan ilmu pengetahuan dapat diperbarui melalui metode dengan menyangsikan segala-galanya. Pandangan ini sangat mempengaruhi filsafat modern, termasuk juga aspek epistemologisnya.

Rene Descartes sebagai pencetus renaisans telah melahirkan revolusi paham keagamaan bahwa pada dasarnya manusia itu merdeka; sekaligus melahirkan revolusi pemikiran yang pada akhirnya menimbulkan revolusi ilmu pengetahuan. Tapi revolusi ilmu pengetahuan ini ternyata juga menimbulkan masalah-masalah baru. Semangat untuk membebaskan diri dari Tuhan ternyata menyebabkan agnostisisme terhadap agama, dan pada gilirannya menimbulkan sekulerisme. Sementara itu revolusi ilmu pengetahuan dalam semangat non-agama dan bahkan anti-agama, menghasilkan paham bahwa ilmu pengetahuan secara inheren bersifat bebas nilai.

Menurut epistemologi sekuler, sains dan agama tak dapat dikonfrontasi, karena keduanya berbeda daerahnya. Sains dan agama memiliki otonomi sendiri-sendiri. Seorang ilmuwan tak dibenarkan “mengintervensi” teritori agama, dan begitu pula sebaliknya. Ketika melakukan penjelajahan ilmu, seorang ilmuwan harus tahu batas di mana mereka harus berhenti, dan di mana agamawan harus memulai. Sebaliknya, seorang agamawan harus tahu di mana mereka harus berhenti, yaitu di batas wilayah milik orang lain (para ilmuwan). Meski demikian, menurut mereka, sains dan agama dapat saling melengkapi. Agama dapat memberikan landasan moral bagi sains.

Epistemologi sekuler menghendaki adanya dikotomisasi (pemisahan) antara agama dan sains secara otonom. Pada awalnya agama dan sains berjalan sendiri-sendiri, baru kemudian saling memberi kontribusi atau manfaat. Kebenaran agama tidak bersifat mutlak, begitu juga dengan kebenaran sains. Namun kedua-duanya bisa saling berkontribusi satu sama lain. Agama dianggap sebagai landasan moral bagi sains, sehingga sains tidak menyimpang dari agama.

Dikotomisasi pada hakikatnya merupakan upaya pembagian atas dua konsep yang saling bertentangan. Dikotomisasi pengetahuan ini muncul bersamaan atau beriringan dengan masa renaissance di Barat. Sebelumnya, kondisi sosio-religius maupun sosio-intelektual di Barat dikendalikan gereja. Ajaran-ajaran kristen dilembagakan dan menjadi penentu kebenaran ilmiah. Semua temuan ilmiah bisa dianggap sah dan benar bila sesuai dengan doktrin-doktrin gereja. Sebaliknya, bila temuan-temuan ilmiah yang tidak sesuai atau bertentangan dengan doktrin tersebut harus dibatalkan demi supremasi gereja. Maka tidak jarang kemudian, banyak para ilmuwan yang tetap mempertahankan kebenarannya, menjadi korban kekejaman gereja. Untuk merespon hal tersebut, para ilmuwan mengadakan koalisi dengan raja untuk menumbangkan kekuasaan gereja. Usaha tersebut berhasil dan tumbanglah kekuasaan gereja, kemudian muncul Renaissance. Masa Renaissance ini melahirkan sekulerisasi (pemisahan urusan dunia dan akhirat) dan dari sekulerisasi ini lahirlah dikotomisasi pengetahuan. 

Dengan demikian, terdapat perbedaan yang signifikan antara kebenaran agama dengan “ilmu”. Penelaahan agama tidak berangkat dari keragu-raguan, melainkan dimulai dengan kepercayaan dan diakhiri dengan makin percaya atau mungkin menjadi ragu. Sehingga wahyu Tuhan harus diterima dulu sebagai “hipotesis”, baru kemudian diuji kebenarannya. Hal ini berbeda dengan pengkajian dalam dunia keilmuan. Proses berfikir seorang ilmuwan justru dimulai dari keragu-raguan (skeptis) dan diakhiri dengan percaya atau tidak percaya.

Muhammad An-Naquib Al-Attas mensinyalir, bahwa pengetahuan Barat seolah-olah benar, tapi pada dasarnya hanya menghasilkan kebingungan dan skeptisisme, mengangkat keraguan dan meraba-raba ke derajat ilmiah dalam hal metodologi, dan memandang keraguan sebagai suatu unsur epistemologis yang istimewa dalam mengejar kebenaran. Keraguan ditinggikan posisinya menjadi metode epistemologis. Melalui metode inilah kaum rasionalis dan sekuleris percaya, bahwa mereka akan mencapai kebenaran. Keraguan hanyalah mampu mencapai sesuatu yang sebenarnya masih diragukan kebenarannya. Bagaimana mungkin keraguan bisa memperoleh kepastian, jika di dalam kepastian itu sendiri masih terdapat keraguan.

Imam Al-Ghazali sendiri disebut-sebut pernah mengalami “keraguan” dalam perjalanan panjang pengembaraan intelektualnya. Dalam biografi intelektualnya, dia pernah mempelajari ilmu kalam, tetapi tidak puas, lalu dia beralih mempelajari ta’limiyah (salah satu aliran syi’ah) juga tidak puas, lalu belajar filsafat dan pada filsafat ini juga tidak memuaskan dirinya. Akhirnya dia mempelajari tasawuf dan ternyata dalam naungan tasawuf inilah Al-Ghazali mencapai kepuasan. Fakta ini sebenarnya menunjukkan bahwa Al-Ghazali tidak seperti filosof dan ilmuwan Barat yang menggunakan pendekatan keraguan dalam epistemologisnya. Kasus yang dialami Al-Ghazali sebenarnya hanya fakta alamiah yang menunjukkan, bahwa sesuatu yang dicari belum ditemukan pada ilmu kalam, ajaran ta’limiyah dan filsafat.

Dalam Al-munqidz sebagaimana dikutip Osman Bakar, melanjutkan bahwa Al-Ghazali menceritakan bagaimana pada masa puncak kehidupannya dia dilanda penyakit jiwa yang misterius yang berlangsung sekitar dua bulan dan selama masa itu dia “skeptis” terhadap kenyataan, tetapi tidak terhadap ucapan dan doktrin”. Al-Ghazali mengatakan bahwa keraguannya timbul dalam upayanya mencari kepastian, yakni pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu “sebagaimana adanya” (haqa’iq al-umur). Inilah yang beliau sebutkan sebagai ­al-‘ilm al-yaqin.

Dengan demikian, Al-Ghazali tidak bisa disamakan dengan para filosof serta ilmuwan sebelumnya, sebab Al-Ghazali tidak menyebutkan “keraguan” sebagai landasan awal mencari kebenaran. Adapun ketika ia meragukan ilmu yang ia peroleh, itu semata-mata dikarenakan kebenaran ilmu itu sendiri yang belum memberikan kepuasan kepada dirinya.

B. Islamisasi Ilmu
Berbicara tentang islamisasi ilmu, tentunya tidak lepas daripada adanya pandangan bahwa perkembangan “ilmu” telah melebihi kadar peranan akal dalam pembentukan suatu “ilmu” sehingga berspekulasi terlalu jauh. Sehingga timbul upaya untuk menarik kembali ilmu sendiri, sehingga harus berlandaskan Islam.

Sebelum membahas islamisasi ilmu lebih lanjut, perlu kita uraikan apa yang dimaksud dengan islamisasi tersebut. Tokoh-tokoh islamisasi ilmu memberikan pengertian sendiri tentang istilah ini, sesuai latar belakang dan keahlian masing-masing. Menurut Sayed Husein Nasr, islamisasi ilmu termasuk juga islamisasi budaya adalah upaya menerjemahkan pengetahuan modern ke dalam bahasa yang bisa dipahami masyarakat muslim di mana mereka tinggal. Artinya, islamisasi ilmu lebih merupakan usaha untuk mempertemukan cara berpikir dan bertindak (epistemologis dan aksiologis) masyarakat Barat dengan Islam.

Sejalan dengan itu, Hanna Djumhana Bastaman seorang pakar psikologi dari Universitas Indonesia menyatakan bahwa islamisasi ilmu adalah upaya menghubungkan kembali ilmu pengetahuan dengan agama, yang berarti menghubungkan kembali sunnatullah (hukum alam) dengan al-Quran, yang keduanya sama-sama ayat Tuhan.

Sementara itu, menurut Naquib al-Attas, islamisasi ilmu adalah upaya membebaskan ilmu pengetahuan dari makna, ideologi dan prinsip-prinsip sekuler, sehingga terbentuk pengetahuan baru yang sesuai fitrah Islam. Dalam pandangan Naquib, berbeda dengan Nasr, islamisasi ilmu berkenaan dengan perubahan ontologis dan epistemologis, terkait dengan perubahan cara pandang dunia yang merupakan dasar lahirnya ilmu dan metodologi yang digunakan, agar sesuai dengan konsep Islam.

Melihat berbagai pengertian islamisasi ilmu yang digambarkan beberapa tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa islamisasi ilmu merupakan upaya menghubungkan “ilmu” dengan ajaran Islam. Juga menghubungkan epistemologi dengan aksiologi ilmu. Antara ilmu dengan agama (wahyu) tidak bisa dipisah-pisahkan secara otonom sebagaimana diutarakan oleh kelompok sekulerisme. Pada intinya, islamisasi menghendaki adanya pembangunan paradigma keilmuan yang berlandaskan nilai-nilai Islam, baik pada aspek ontologis, epistemologis, maupun aksiologis. 

Dengan pemaknaan Islamisasi ilmu sebagaimana diungkapkan para ahli di atas, artinya Islam hanya digunakan sebagai upaya alat sterilisasi terhadap perkembangan ilmu modern. Dengan kata lain, defenisi tersebut belum mencapai substansi Islam sesungguhnya. Hal inilah menimbulkan anggapan bahwa Islam hanya lebih memilih bersikap defense (bertahan) terhadap perkembangan ilmu modern, sehingga memunculkan pula istilah “labelisasi Islam”. Kondisi inilah yang tidak disutujui oleh Kuntowijoyo dalam ungkapan awalnya dalam buku Islam sebagai Ilmu dengan mengatakan bahwa :

”...Saya tidak lagi memakai ‘Islamisasi pengetahuan’, dan ingin mendorong supaya gerakan intelektual umat sekarang ini melangkah lebih jauh, dan mengganti ‘Islamisasi pengetahuan’ menjadi ‘pengilmuan islam’. Dari reaktif menjadi proaktif....’Pengilmuan Islam’ adalah proses, ‘Paradigma Islam’ adalah hasil, sedangkan ‘Islam sebagai ilmu’ adalah proses dan hasil sekaligus...”

Gagasan islamisasi ilmu pengetahuan pada hakikatnya muncul sebagai respon atas dikotomi antara ilmu agama dan sains yang dimasukkan Barat sekuler dan budaya masyarakat modern ke dunia Islam. Kemajuan yang dicapai sains modern telah membawa pengaruh yang menakjubkan, namun di sisi lain juga membawa dampak yang negatif, karena sains modern (Barat) kering nilai atau terpisah dari nilai agama. Di samping itu islamisasi Ilmu Pengetahuan juga merupakan reaksi atas krisis sistem pendidikan yang dihadapi umat Islam, yakni adanya dualisme sistem pendidikan Islam dan pendidikan modern (sekuler) yang membingungkan umat Islam.

Gagasan awal islamisasi ilmu pengetahuan muncul pada saat konferensi dunia pertama tentang pendidikan muslim di Makkah, pada tahun1977 yang diprakarsai oleh King Abdul Aziz University. Ide islamisasi ilmu pengetahuan dilontarkan oleh Ismail Raji al-Faruqi dalam makalahnya “Islamisizing social science” dan syekh Muhammad Naquib al-Attas dalam makalahnya “Preliminary Thoughts on the Nature of knowledge and the Aims of Education”. Menurut al-Attas bahwa tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam adalah tantangan pengetahuan, bukan bentuk kebodohan, pengetahuan yang disebarkan ke seluruh dunia Islam oleh peradaban Barat. Menurut al-Faruqi bahwa sistem pendidikan Islam telah dicetak dalam sebuah Karikatur Barat, sehingga dipandang sebagai inti dari malaise atau penderitaan yang dialami umat. Ia mengkritik sains Barat telah terlepas dari nilai dan harkat manusia dan nilai spiritual dan harkat dengan Tuhan.

Bagi al-Faruqi, pendekatan yang dipakai adalah dengan jalan menuang kembali seluruh khazanah sains Barat dalam kerangka Islam yang prakteknya tidak lebih dari usah penulisan kembali buku-buku teks dan berbagai disiplin ilmu dengan wawasan ajaran Islam. Sedang menurut al-Attas adalah dengan jalan pertama-tama sains Barat harus dibersihkan dulu unsur-unsur Islam yang esensial dan konsep-konsep kunci sehingga menghasilkan komposisi yang merangkum pengetahuan inti. Bahkan dewasa ini muncul pendekatan baru yaitu merumuskan landasan filsafat ilmu yang islami sebelum melakukan islamisasi pengetahuan. Sejalan dengan kedua tokoh di atas, Sayyid Husein Nasr menganjurkan visinya tentang islamisasi baru yang dijauhkan dari matrik sekuler dan humanistik (dari sains modern). Ia mengkritik sains Barat, karena menyebabkan kehancuran manusia dan alam. Oleh karena itu, Nasr menganjurkan agar semua aktivitas keilmuan harus tunduk kepada norma agama dan hukum-hukum suci Islam. Sayangnya, Nasr tidak merinci langkah selanjutnya islamisasi sains. Ia cenderung menggambarkan prinsip umum dari bangunan sains yaitu agar tidak terpisah dari muatan nilai agama.

Untuk merealisasikan gagasannya tentang islamisasi ilmu pengetahuan, al-Faruqi meletakkan fondasi epistemologinya pada prinsip tauhid yang terdiri dari lima macam kesatuan, yaitu: 
  1. Keesaan Allah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, yang menguasai dan memelihara alam semesta. Ini berimplikasi bahwa sains bukan hanya menerangkan dan memahami realitas yang terpisah dari Tuhan, tapi sebagai bagian integral dari eksistensi Tuhan.
  2. Kesatuan ciptaan bahwa semesta ini baik yang material, psikis, biologi, sosial, maupun estetis adalah merupakan kesatuan yang integral untuk mencapai tujuan tertinggi Tuhan yang menundukkan alam semesta untuk manusia.
  3. Kesatuan kebenaran dan pengetahuan, kebenaran bersumber pada realitas, dan realitas bersumber dari satu yaitu Tuhan. Maka, apa yang disampaikan lewat wahyu tidak bertentangan dengan realitas yang ada, karena keduanya diciptakan oleh Tuhan.
  4. Kesatuan hidup yang meliputi amanah, khilafah, dan kaffah (komprehensif).
  5. Kesatuan manusia yang universal mencakup seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Maka, pengembangan sains harus berdasar pada kemaslahatan manusia secara universal.
Al-Faruqi menegaskan bahwa kelima hal di atas harus menjadi landasan atau fondasi utama dalam upaya pengembangan ilmu dalam Islam. Sehingga perkembangan ilmu itu sesuai dengan maslahat umat. Fondasi ini tentunya tidak akan ditemukan dalam pengembangan ilmu Barat. Tanpa fondasi tersebut, ilmu yang ditawarkan Barat di satu sisi memberi dampak positi, namun di sisi lain, memberi dampak buruk bagi manusia itu sendiri.

Sebagai penggagas utama ide islamisasi ilmu pengetahuan, Al-Faruqi memberikan gambaran tentang bagaimana islamisasi itu dilakukan. Al-Faruqi menetapkan lima program sasaran dari rencana kerja islamisasi ilmu, yaitu:
  1. Penguasaan disiplin ilmu modern.
  2. Penguasaan khazanah Islam.
  3. Menentukan relevansi Islam dengan masing-masing disiplin ilmu kedokteran.
  4. Mencari cara untuk melakukan sintesa kreatif antara khazanah Islam dengan ilmu-ilmu modern.
  5. Mengarahan aliran pemikiran Islam ke jalan-jalan yang mencapai pemenuhan pola rancana Allah swt.
Lima sasaran rencana kerja islamisasi di atas, menunjukkan bahwa islamisasi ilmu menghendaki umat Islam untuk senantiasa memiliki kemauan untuk mengembangkan, berinovasi, sehingga perkembangan ilmu tetap berlandaskan Islam. Tentunya, ketika ilmu berlandaskan Islam, maka ilmu tersebut mustahil memberikan efek negatif terhadap manusia itu sendiri. 


Meski mendapat dukungan luas dari kalangan intelektual muslim dunia sehingga dilakukan konferensi beberapa kali, gagasan islamisasi ilmu pengetahuan ternyata menimbulkan pro-kontra, ada yang setuju dan tidak. Di antara pihak yang setuju adalah AM. Saifuddin. Menurutnya islamisasi ilmu adalah suatu keharusan bagi kebangkitan Islam, karena sentral kemunduran umat dewasa ini adalah keringnya ilmu pengetahuan dan tersingkirnya pada posisi yang redah. Akibatnya, umat Islam menjadi acuh tak acuh dan gagap terhadap Iptek.

Usman Bakar juga sepakat dengan gagasan islamisasi di atas. Menurutnya, islamisasi ilmu sangat penting untuk mencapai kemajuan ilmiah dan teknonologi umat Islam, dan pada waktu yang bersamaan juga bisa mempertahankan bahkan membentengi pandangan intelektual, moral dan spiritual umat Islam. Hal yang sama disampaikan Hanna Djumhana Bastaman. Hanya saja, beliau memperingatkan bahwa gagasan ini merupakan proyek besar dan perlu kerja sama yang baik dan terbuka di antara pakar dari berbagai disiplin ilmu agar terwujud sebuah sebuah sains yang berwajah islami, sains yang menyelamatkan.

Tokoh lain yang setuju ide islamisasi ilmu adalah Ziauddin Sardar. Namun, beliau menganjurkan agar islamisasi ilmu tidak sekedar sintesa ilmu-ilmu modern dengan nilai-nilai Islam sebagaimana kesan yang ditampilkan Faruqi. Adapun pihak yang menolak atau tidak setuju dengan ide islamisasi ilmu, antara lain, Usep Fahruddin. Menurutnya, islamisasi ilmu bukan termasuk kerja ilmiah apalagi kerja kratif. Islamisasi ilmu tidak berbeda dengan pembajakan atau pengakuan terhadap karya orang lain. Ketidaksetujuan yang lain disampaikan oleh Fazlur Rahman. Menurutnya, tidak perlu ada islamisasi ilmu pengetahuan, karena semua ilmu telah tunduk dalam aturan sunnatullah. Yang terpenting adalah menciptakan manusia yang tahu dan mengerti, tentang nilai-nilai Islam dan kemanusiaan, sehingga mampu menggunakan sains secara konstruktif positif.

Berdasarkan berbagai penjelasan di atas, ternyata upaya islamisasi ilmu masih dalam kerangka perdebatan dalam umat Islam. Adanya pro kontra ini sebanarnya masing-masing memiliki argumen masing-masing, sehingga dengan menyalahkan sebagian kelompok tentunya bukanlah hal yang bijak. Yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana umat Islam terus melakukan “membaca” sebagaimana dijelaskan pada pendahuluan. Umat Islam seharusnya memiliki perhatian yang besar terhadap perkembangan ilmu. 

C. Integralisme
Awal mula perdebatan dikotomi ilmu dalam Islam dimulai dengan munculnya penafsiran dalam ajaran Islam bahwasanya Tuhan adalah pemilik tunggal ilmu pengetahuan. ilmu pengetahuan yang diberikan pada manusia hanya merupakan bagian terkecil dari ilmu-Nya, namun manusia diberi kebebasan untuk meraih ilmu sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu sangatlah tidak pantas jika ada manusia yang bersikap sombong dalam masalah ilmu. Keyakinan ini pada akhirnya melahirkan perdebatan dikotomi ilmu dalam pemikiran Islam, dengan istilah kelompok ilmu “antroposentris” dihadapkan dengan kelompok ilmu “teosentris”. 

Berdasarkan argumen epistemologi, ilmu pengetahuan antroposentris dinyatakan bersumber dari manusia dengan ciri khas akal (rasio) sedangkan ilmu pengetahuan teosentris dinyatakan bersumber dari Tuhan dengan ciri khas “kewahyuan”. Maka terbentuklah pertentangan antara wahyu dan akal.

Salah satu metode dalam proses pengilmuan Islam yaitu integralisasi. Integralisasi ialah pengintegrasian kekayaan keilmuan manusia dengan wahyu (petunjuk Allah dalam Al-Quran beserta pelaksanaannya dalam sunnah Nabi). Ilmu integralistik adalah ilmu yang menyatukan (bukan sekedar menggabungkan) wahyu Tuhan dan temuan pikiran manusia. Ilmu-ilmu integralistik tidak akan mengucilkan Tuhan (sekularisme) atau mengucilkan manusia (other worldly asceticisme). Diharapkan bahwa integralisme akan sekaligus menyelesaikan konflik antara sekularisme ekstrem dan agama-agama radikal dalam banyak sektor.

Para pemikir muslim sepakat bahwa kekuatan akal atau rasionalisme sangat diperlukan dalam kajian-kajian keagamaan. Namun, sampai sejauh mana kemampuan rasio bisa diikuti dan dipakai, inilah yang menjadi persoalan. Sebagian menyatakan bahwa rasio mesti ditempatkan di bawah wahyu, sebaliknya sebagian lain menganggap bahwa rasio saja telah cukup untuk membimbing manusia dalam mengenal kebenaran dan Tuhan, wahyu diperlukan hanya sebagai justifikasi penemuan akal. 

Menurut penulis, pandangan bahwa wahyu tuhan diperlukan hanya sebagai justifikasi penemuan akal, tidak bisa disalahkan. Sebab, potensi akal ternyata bisa dibuktikan mampu mendapatkan kebenaran. Seperti misalnya, ketika Nabi Ibrahim pada awalnya menggunakan akal pikirannya untuk menemukan siapa sebenarnya yang menguasai alam ini. Hal ini menunjukkan bahwa akal juga ternyata mampu memperoleh kebenaran. Ketika sebagian orang memandang skeptis terhadap kemampuan akal, tentunya pandangan itu tidak bisa diterima begitu saja.

Kesadaran akan perlunya berhubungan atau berinteraksi antara ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral, dan agama muncul ketika orang semakin sadar, bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa berjalan sendiri. Klaim ilmu pengetahuan yang netral atau bebas nilai dan objektif menyeret manusia modern untuk melihat manusia dan lingkungan sebagai objek semata, suatu objek yang dapat dimanipulasi kembali dengan rekayasa mereka.

Berkaitan dengan integralisme ini, Sayyed Hossein Nasr menyatakan bahwa bahwa realitas pada permulaannya, yang ada secara serentak adalah wujud, pengetahuan dan kebahagiaan, adalah pengetahuan yang senantiasa memiliki hubungan dengan realitas primordial dan prinsipil, yang merupakan kesucian dan sumber dari segala yang suci. Beriringan dengan berjalannya waktu kemudian, baik disebabkan manifestasi makrokosmos maupun mikrokosmos, pengetahuan kemudian terpisah dari wujud dan kebahagiaan. Pengetahuan pada gilirannya lebih dekat kepada kompleksitas eksternal dan terdesakralisasi, khususnya di antara segmen-segmen ras manusia yang telah dipengaruhi proses modernisasi. Kebahagiaan yang merupakan buah penyatuan dengan Yang Esa dan aspek kesucian, kini hampir tidak dicapai, berada dibelakang genggaman mayoritas luas yang cenderung mendunia. Tetapi akar dan esensi pengetahuan terus dipisahkan dari kesucian.

Terdapat konsep dalam struktur integrasi ilmu pengetahuan dalam Islam. Adanya kategorisasi alam semesta dalam Islam yang terbagi menjadi tiga kategori; 1. Alam nyata, 2. Alam gaib idhafi (nisbi) dan 3. Alam gaib hakiki (mutlak). Alam gaib idhafi dan alam nyata adalah lapangan ilmu dan kebudayaan, sedangkan alam gaib hakiki merupakan lapangan agama. Sedangkan semua masalah yang berada dalam medan empirik (wilayah pengalaman) manusia, tetapi belum diteliti, masuk ke dalam gaib idhafi. Secara struktural, objek alam nyata sepenuhnya dapat diterima indra jasmaniah manusia. Objek alam gaib idhafi secara langsung tidak bisa ditangkap oleh indra jasmaniah biasa, tetapi dengan indra khusus jasmaniah manusia yang disebut dengan naluri, perasaan, imajinasi, dan pikiran. Sementara alam gaib hakiki lebih pada sumber indra terdalam dan tersembunyi yang dimiliki makhluk manusia, yaitu fitrah hati nurani. 

Menurut penulis, untuk menyatukan ilmu pengetahuan ketiga aspek di atas sangat berhubungan. Objek alam nyata dan alam gaib itulah yang disebut dengan realita dan iman. dalam memandang ilmu pengetahuan kita tak hanya melihat realita yang nampak di permukaan tetapi wahyu Tuhan juga sangat mempengaruhi hal tersebut. 

Dalam ilmu integralistik terdapat alur pertumbuhan ilmu-ilmu integralistik. Berikut ini digambarkan tentang alur tersebut

AGAMA → TEOANTROPOSENTRISME → DEDIFERENSIASI → ILMUINTEGRALISTIK

Agama termasuk di dalamnya adanya Al-Quran sebagai wahyu yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, diri sendiri juga lingkungan. Kitab itu merupakan petunjuk yang menjadi Grand Theory (important). Teoantroposentrisme, agama mengklaim sebagai kebenaran, etika, hukum, kebijaksanaan. Agama tidak pernah menjadikan wahyu Tuhan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan dan melupakan kecerdasan manusia, atau sebaliknya menganggap pikiran manusia sebagai satu-satunya sumber pengetahuan dan melupakan Tuhan. Jadi sumber pengetahuan ada dua macam, baik yang berasal dari Tuhan maupun yang berasal dari manusia, dengan kata lain teoantroposentrisme. Sedangkan dediferensiasi ialah penyatuan kembali agama dengan sektor-sektor kehidupan lain, termasuk agama dan ilmu. Dan ilmu integralistik merupakan ilmu yang menyatukan antara wahyu Tuhan dan temuan manusia.

Dari bagan tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam pertumbuhan ilmu pengetahuan, agama melahirkan teori teoantroposentrisme yang dengannya dijelaskan bahwasanya ilmu pengetahuan berasal dari dua sumber, baik dari Tuhan juga manusia. Dari teoantroposentrisme sendiri melahirkan kembali teori dediferensiasi yang menyatukan kembali agama dengan ilmu, sehingga dari semua aspek di atas melahirkan ilmu integralistik yang menyatukan ilmu pengetahuan.

D. Wacana Integrasi Ilmu di Masa Depan
Melalui uraian-uraian tentang perdebatan sekitar epistemologi ilmu di atas, di mana masing-masing memiliki landasan yang berbeda-beda seputar sumber ilmu. Adanya distorsi antara peran indera, akal, dan agama (wahyu) dalam memperoleh ilmu pengetahuan merupakan alasan yang semakin memperruncing perbedaan tersebut. 

Dalam hal ini, pemakalah tidak akan mengambil posisi dalam untuk semakin memperruncing perbedaan tersebut. Kami akan memaparkan berupa tawaran seputar wacana integrasi ilmu di masa depan. Upaya mengintegrasikan ilmu merupakan hal yang sangat mendesak untuk dilakukan oleh umat Islam saat ini, dan memberikan rumusan-rumusan terhadap bagaimana konsep ilmu pengetahuan dalam Islam yang integratif. Islam pada hakikatnya tidak pernah mengenal adanya usaha untuk meminggirkan salah satu di antara berbagai sumber ilmu, yaitu indera, akal, dan agama (wahyu). Bahkan jika diamati lebih jauh sebenarnya ketiga-tiganya memiliki keterkaitan atau keterhubungan yang tidah bisa dipisahkan satu sama lain. Pemikiran inilah yang menjadi cikal bakal upaya memunculkan ide integrasi ilmu.

Ide-ide ini tentunya perlu dirumuskan bagaimana model pengintegrasian ilmu tersebut. Sehingga ide ini bisa diimplementasikan lebih lanjut dalam sistem pendidikan dalam rangka mengembangkan ilmu secara integratif. Baik pada lembaga-lembaga pendidikan, maupun sebagai landasan pengembangan keilmuan lainnya. 

Urgensi pengintegrasian ilmu semakin didesak perkembangan ilmu pada masa modern ini berjalan sangat pesat. Manusia sebagai subjek terus melakukan penemuan-penemuan baru, pada satu sisi semakin memudahkan manusia dalam beraktivitas, namun di sisi lain memberikan dampak negatif yang tidak bisa dikatakan kecil. Berkurangnya nilai moralitas manusia itu sendiri menjadi sorotan utama. Sehingga muncul kembali upaya untuk mengkaji ulang hubungan antara “ilmu” dengan agama sebagai landasan moral. Sehingga pemisahan di antara ilmu dan agama sangat membahayakan masa depan manusia.
Blog, Updated at: 08.20

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts