Membumikan Al-Qur’an Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat

Membumikan Al-Qur’an Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat 
Al-Qur’an adalah kitab petunjuk dan sekaligus sebagai mukjizat yang terbesar bagi kebutuhan hidup manusia yang diturunkan untuk memberikan bimbingan dan petunjuk kepada umat manusia, dimana hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Baqarah [2] ayat 185.

Dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, tidak diragukan lagi bahwa al-Qur’an merupakan peletak dasar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun tanpa adanya kegiatan berpikir dan penelitian yang mendalam dan serius, umat manusia tidak akan mampu menemukannya. Seiring dengan kegiatan berpikir ini manusia dituntut untuk memiliki kesadaran, dimana dalam prakteknya kesadaran itu terwujud melalui keteguhan sikap. Hal ini tentu saja sangat relevan dengan karakteristik al-Qur’an yang senantiasa mengakhiri ayat-ayat sainsnya dengan kata-kata afalâ ta’qilûn, afalâ tadzakkarûn, afalâ tatafakkarûn, dan yang semacamnya.

Tetapi, banyak orang yang terjebak dalam kesalahan ketika mereka menginginkan agar al-Qur’an mengandung segala teori ilmiah. Dimana setiap lahir teori baru mereka mencarikan untuknya kemungkinan adanya dalam ayat-ayat al-Qur’an, lalu ayat itu mereka takwilkan sesuai dengan teori ilmiah tersebut.

Sumber kesalahan tersebut, menurut al-Qattan ialah bahwa teori-teori ilmu pengetahuan itu selalu baru dan timbul sejalan dengan hukum kemajuan. Dengan demikian, ilmu pengetahuan selalu berada dalam kekurangan abadi, terkadang diliputi kekaburan dan di saat lain kadang-kadang juga diliputi kesalahan. Hal ini akan senantiasa demikian sampai ia mendekati kebenaran dan mencapai tingkat keyakinan. Semua teori ilmu pengetahuan dimulai dengan asumsi dan hipotesis serta tunduk pada eksperimen sampai terbukti keyakinannya atau nampak jelas kepalsuan dan kesalahannya. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan akan selalu mengalami (bila tidak boleh dikatakan terancam) perubahan. Dimana ketika terjadi perubahan itu, para peneliti kemudian memulai kembali percobaan-percobaan yang telah pernah mereka lakukan.

Lebih lanjut al-Qattan menjelaskan bahwa siapapun yang menafsirkan al-Qur’an dengan hal-hal yang sesuai dengan masalah-masalah ilmu pengetahuan dan berusaha keras menyimpulkan daripadanya segala persoalan yang muncul dalam bidang kehidupan ilmiah, sebenarnya telah berbuat jahat terhadap al-Qur’an, meskipun mereka sendiri mengira bahwa mereka telah berbuat kebaikan. Sebab, masalah-masalah ilmu pengetahuan itu tunduk pada hukum kemajuan yang senantiasa berubah.

Menurut Quraish Shihab, membahas hubungan al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan bukan dilihat atau dinilai dari segi banyaknya cabang-cabang ilmu pengetahuan yang tersimpul di dalamnya, bukan pula dengan menunjukkan kebenaran teori-teori ilmiah. Tetapi pembahasan hendaknya diletakkan pada proporsi yang lebih tepat sesuai dengan kemurnian dan kesucian al-Qur’an dan sesuai pula dengan logika ilmu pengetahuan itu sendiri. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa membahas hubungan antara al-Qur’an dan ilmu pengetahuan bukan dengan melihat, misalnya, adakah teori relatifitas atau bahasan tentang angkasa luar; ilmu komputer tercantum dalam al-Qur’an; tetapi yang lebih utama adalah dengan melihat adakah jiwa ayat-ayatnya mengalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau sebaliknya, serta adakah satu ayat al-Qur’an yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan? Dengan kata lain, meletakkannya pada sisi “Social Psychology” (psikologi sosial) bukan pada sisi “History of Scientific Progress” (sejarah perkembangan ilmu pengetahuan). Anggaplah bahwa setiap ayat dari keseluruhan al-Qur’an megandung suatu teori ilmiah, kemudian apa hasilnya? Apakah keuntungan yang diperoleh dengan mengetahui teori-teori tersebut bila masyarakat tidak diberi “hidayah” atau petunjuk guna kemajuan ilmu pengetahuan atau menyingkirkan hal-hal yang dapat menghambatnya?

Malik ibn Nabi di dalam kitabnya Intâj al-Mustasyriqîn wa Atsaruhu fi al-Fikriy al-Hadîts sebagaimana yang dikutip oleh Quraish Shihab menulis bahwa “Ilmu pengetahuan adalah sekumpulan masalah serta sekumpulan metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut”. Menurut Endang Syaifuddin Anshari, “Ilmu pengetahuan adalah hasil usaha manusia dengan kekuatan akal budinya untuk memahami kenyataan alam semesta, struktur alam semesta, dan hukum yang berlaku dalam alam semesta; kemudian dengan metode tertentu maka pemahamannya termaksud di-sistema-kan”.

Senada dengan apa yang dikemukakan oleh Quraish Shihab di atas, al-Qattan menjelaskan bahwa kemukjizatan ilmiah al-Qur’an itu bukanlah terletak pada pencakupannya akan teori-teori ilmiah yang selalu baru dan berubah serta merupakan hasil usaha manusia dalam pengamatan dan penelitian, tetapi terletak pada dorongannya untuk berpikir dan menggunakan akal. Al-Qur’an mendorong umat manusia agar memperhatikan dan memikirkan alam semesta. Ia tidak menghambat aktifitas dan kreatifitas akal dalam memikirkan alam semesta, atau menghalanginya dari ilmu pengetahuan yang dapat dicapainya. Dan tidak ada sebuah pun dari kitab-kitab agama terdahulu yang memberikan jaminan sedemikian rupa seperti yang diberikan oleh al-Qur’an. Dalam kaitan inilah tulisan ini mencoba untuk menunjukkan sekaligus membuktikan hal tersebut dengan pembahasan yang lebih mendalam.

Ilmu Pengetahuan Dalam Perspektif Al-Qur’an
Semua persoalan ilmu pengetahuan yang telah mantap dan meyakinkan, merupakan perwujudan atau manifestasi dari pemikiran yang sungguh-sungguh dan mendalam yang dianjurkan oleh al-Qur’an, tidak ada sedikit pun yang bertentangan dengannya. Ilmu pengetahuan yang telah maju dan telah banyak pula masalah-masalahnya yang muncul, meskipun demikian, apa yang telah tetap dan mantap daripadanya tidaklah bertentangan sedikit pun dengan salah satu dari ayat-ayat al-Qur’an. Ini saja menurut al-Qattan sudah merupakan kemukjizatan dari al-Qur’an.

Memang pada prinsipnya al-Qur’an merupakan informasi ilmiah yang banyak memperhatikan ilustrasi-ilustrasi tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, yang sedikit demi sedikit dan setahap demi setahap dapat terungkap rahasianya melalui penelitian yang mendalam dan penyelidikan yang serius, baik di laboratorium-laboratorium, di daratan, di lautan maupun di angkasa raya. Padahal kita mengetahui bahwa al-Qur’an diturunkan di tengah-tengah masyarakat yang masih primitif yang kebanyakan dari mereka buta huruf. Sehingga keberadaan ilmu pengetahun pada waktu itu masih belum dapat menjamin terbongkarnya informasi-informasi ilmiah yang dapat dijadikan sebagai fakta-fakta di dalam mengungkapkan ilustrasi-ilustrasi ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam al-Qur’an al-Karim. Dimana al-Qur’an hanya menyajikan garis besarnya saja, dan akal diperintah untuk mencari perinciannya dengan memperhatikan rumus, isyarat atau contoh-contoh yang ada, khususnya dalam hal ini mengenai sains. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-‘Ankabût [29] ayat 43.

Al-Qur’an sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, adalah merupakan peletak dasar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Dalam kaitan ini, Syamsul Arifin menyatakan bahwa al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan yang utama, dan ia telah banyak memberikan informasi, di samping sebagai petunjuk kepada manusia cara memperoleh ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dipahami secara lafzhi dari beberapa ayat yang mengisyaratkan agar al-Qur’an dijadikan sebagai sumber ilmu. Ayat-ayat tersebut selalu memakai kata-kata seperti ya’qilûn, yudabbirûn, yatafakkarûn, dan lain sebagainya. Begitu pula ketika al-Qur’an mengisyaratkan untuk menjadikan alam semesta, diri manusia maupun sejarah, dipakai kata-kata seperti yanzhuru, yafqahu, yatadzakkaru, dan sebagainya. Di samping itu, cara memperoleh pengetahuan al-Qur’an juga dapat dipahami melalui konteks ayatnya.

Lebih lanjut Syamsul Arifin menjelaskan bahwa, petunjuk-petunjuk al-Qur’an tentang pengetahuan/kebenaran pada dasarnya ada tiga, yaitu melalui pengetahuan indera, pengetahuan akan dan melalui pengetahuan wahyu atau ilham. Pendapat lain menyatakan bahwa pengetahuan/kebenaran itu diperoleh melalui pengetahuan sensual, pengetahuan logis, teoritis, pengetahuan etik, dan pengetahuan transendental. Dalam pembagian pertama pengetahuan logis dan etik itu tercakup dalam pengetahuan akal.

Miska M. Amin, sebagaimana yang dikutip oleh Syamsul Arifin menjelaskan bahwa dalam al-Qur’an ada beberapa ayat yang menyuruh manusia untuk mempergunakan indera-inderanya dalam mencari ilmu/pengetahuan. Pengetahuan indera ini diperoleh melalui proses penginderaan, yaitu dimulai dengan adanya pemantulan obyek yang disentuh oleh manusia yang berada di luar dirinya yang kemudian ditangkap indera tertentu, sehingga terjadilah pencerapan yang memantulkan gambaran obyek itu secara menyeluruh. Kemudian obyek beserta gejala dunia dipantulkan secara khusus. Proses inilah yang menimbulkan abstraksi (pengertian) terhadap obyek yang diamati (diteliti).

Dalam kaitan ini Sayid Sabiq menjelaskan bahwa manusia pada awal mula kelahirannya tidak tahu apa-apa, walaupun ia dibekali dengan alat-alat persiapan yang memungkinkan dia tahu (QS. al-Nahl [16]: 78). Alat-alat tersebut adalah pendengaran, penglihatan dan akal; dimana dengana alat-alat ini manusia dapat memperoleh pengetahuan, dapat mengamati seluk beluk alam semesta, sehingga pada akhirnya ia mengetahui rahasia-rahasia alam dan memanfaatkannya sesuai dengan perintah Allah, sebagai rasa syukur atas pemberian-Nya yang begitu banyak. Oleh karena itu, siapa saja yang tidak mendayagunakan alat-alat pemberian Allah Swt. itu, berarti ia telah melepaskan diri dari sifat-sifat kemanusiaannya. Mereka tidak berbeda dengan binatang, karena mereka tidak memiliki pengetahuan sebagai benteng kepribadiannya, dan bahkan mereka lebih sesat lagi. Sebagaimana dalam surat al-A’râf [7] ayat 179.

Terlepas, dari kelemahan-kelemahan yang ada yang dimiliki oleh indera telah diakui bahwa indera merupakan alat yang dapat digunakan untuk memperoleh pengetahuan yang handal. Sehingga pancaindera merupakan kunci-kunci dari ilmu. Dengan indera-indera yang dimiliki manusia ini, observasi dan eksperimen dapat dilaksanakan. Di dalam al-Qur’an terdapat metodologi pengetahuan yang memperkuat adanya pengetahuan indera ini. Term-term tersebut antara lain: kallâ (menimbang), qadara (ukuran/ketentuan), qaddara (mengukur/menentukan), wazana (menimbang), thaffafa (mengurangi timbangan), istawfa (minta dikurangi timbangannya), mikyal (timbangan), miqdar (alat pengukur/penentu), dan lain-lain. Term-term tersebut pada intinya menunjukkan bahwa pengetahuan itu dapat diperoleh melalui observasi terhadap gejala sesuatu yang merupakan dasar dari pemikiran, penalaran, perhitungan, pengukuran, dan perenungan.

Di atas pengetahuan indera ini masih ada pengetahuan yang lebih tinggi yaitu pengetahuan akal. Pengetahuan ini dapat dipahami dari term-term yang ada dalam al-Qur’an, yaitu: tafakkur (merenungkan), ta’aqqul (memikirkan), tafaqquh (memahami), dan tadzakkur (mengambil pelajaran); dimana term-term ini diungkapkan dala bentuk kata kerja (fi’il). Hal ini menunjukkan bahwa term-term ini merupakan dasar metodologi yang perlu dan bisa dikembangkan. Selain itu, pengetahuan wahyu/ilham juga merupakan cara memperoleh pengetahuan/kebenaran. Pengetahuan ini merupakan pengetahua ayng langsung diberikan oleh Allah Swt. kepada hamba-Nya yang dikehendaki, tanpa adanya proses berpikir dan pengamatan empiris. Term-term yang digunakan dalam pengetahuan ini adalah seperti ‘allamahu (Dia mengajarinya) atau ‘allamanahu (Kami telah mengajarinya). Demikian penjelasan Syamsul Arifin mengenai pengetahuan indera, akal dan wahyu.

Al-Qur’an (dalam kaitannya dengan akal manusia) mengarahkan manusia untuk mempergunakan akal pikirannya dalam seluruh sikap, gerak dan tindak. Ia menyuruh manusia untuk mempergunakan akal pikirannya dalam mengamati dan meneliti alam semesta ini. Dimana alam semesta ini merupakan laboratorium yang maha lengkap, yang telah dirancang, dicipta dan dipelihara oleh Allah Swt., Dzat Yang Maha Pencipta.

Begitu pentingnya eksistensi akal, sampai-sampai di dalam al-Qur’an terdapat lebih dari 30 ayat yang menyatakan tentang akal (al-‘aql), yaitu afalâ ta’qilûn (tidakkah kamu pikirkan) sebanyak 15 ayat, la’allakum ta’qilûn (supaya kamu berpikir) sebanyak 8 ayat, la ya’qilûn (tidak mereka pikirkan) sebanyak 7 ayat, dan inkuntum ta’qilûn (jika sekiranya kamu pikirkan). Suruhan untuk berpikir itu tidak hanya terbatas pada kata ‘aql atau ‘aqala, tetapi juga pada kata-kata: dabbara (merenungkan) yang dalam al-Qur’an diulang sebanyak 8 kali, seperti dalam surat Muhammad [47] ayat 24; faqiha (mengerti) diulang sebanyak 20 kali, seperti dalam surat al-A’râf [7] ayat 179; nazhara (melihat dalam arti merenungkan) diulang sebanyak 30 kali, seperti dalam surat Qâf [50] ayat 6; dan tafakkara (berpikir) diulang sebanyak 16 kali, seperti dalam surat al-Baqarah [2] ayat 219.

Dalam banyak ayat, al-Qur’an mengajak manusia untuk memikirkan dan merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. yang ada di langit, bintang-bintang yang bercahaya, susunannya yang menakjubkan dan peredarannya yang mapan. Ia juga mengajak untuk memikirkan dan merenungkan penciptaan bumu, laut, gunung-gunung, lembah, keajaiban-keajaiban yang terdapat dalam perut bumi, pergantian malam dan siang serta pergantiannya musim. Ia mengajak manusia untuk memikirkan keajaiban penciptaan tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, sistem perkembangannya dan keadaan lingkunganya. Ia mengajak untuk memikirkan penciptaan manusia sendiri, rahasia-rahasia (keistimewaan-keistimewaan) yang ada pada dirinya, untuk memikirkan alam batinnya dan hubungannya dengan Allah.

Al-Qur’an juga mengajak untuk mengadakan perjalanan di dunia, memikirkan peninggalan-peninggalan orang-orag atau umat terdahulu serta meneliti keadaan bangsa-bangsa, kelompok-kelompok manusia, kisah-kisah, sejarah dan pelajaran-pelajaran yang dapat diambil dari mereka. Secara khusus, al-Qur’an mengajak manusia untuk mempelajari ilmu-ilmu kealaman, matematika, filsafat, sastra dan semua ilmu pengetahuan yang dapat dicapai oleh pemikiran manusia. Al-Qur’an menganjurkan manusia untuk mempelajari ilmu-ilmu itu adalah semata-mata untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia itu sendiri, baik di dunia maupun di akhirat. Dari sini, al-Qur’an sebagai kitab yang mendorong manusia untuk mempelajari berbagai ilmu, mengajarkan suatu konsep yang utuh tentang ilmu ke-Tuhanan, prinsip-prinsip umum akhlak dan hukum Islam.

Senada dengan hal tersebut di atas, Djamaluddin mengatakan bahwa pada khususnya tuntutan agama Islam sejak awal penyebarannya di dunia ini juga mengajak dan mendorong umat manusia agar bekerja keras mencari kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat secara simultan (QS. al-Qashash [28]: 77). Antara etos kerja keras untuk duniawi dan ukhrawi itu tidak boleh dipisahkan, hanya memilih atau mencari salah satu saja, melainkan etos kerja itu harus terintegrasi, yang satu sama lain saling berkaitan secara kontinyu, termasuk dalam hal ini etos ilmiah yang mendorong ke arah pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Al-Qur’an pun juga memberikan motivasi atas etos ilmiah dan kerja keras itu.

Dalam hal ini, perlu dicatat dan diingat bahwa ilmu pengetahuan dalam perspektif al-Qur’an atau hakikat-hakikat ilmiah yang disinggung al-Qur’an sebagaimana yang dikemukakan oleh Quraish Shihab, dikemukakan dalam redaksi yang singkat dan sarat makna, sekaligus tidak terlepas dari ciri umum redaksinya yakni memuaskan orang umum dan para pemikir. Orang umum (awam) memahami redaksi tersebut ala kadarnya (sesuai kemampuannya), sedangkan para pemikir melalui pemikiran, renungan dan analisis mendapatkan makna-makna yang tidak terjangkau oleh orang umum itu.

Selanjutnya, untuk menunjukkan dan membuktikan kebenaran keterangan di atas, maka akan diuraikan beberapa ayat yang menunjukkan atau mengandung ilmu atau informasi-informasi ilmiah, dimana setelah dikoreksi dan dipikirkan secara serius serta diadakan penelitian secara mendalam ilustrasi-ilustrasi atau isyarat-isyarat ilmiah itu akan terungkap dan terbongkar rahasia-rahasianya (dan memang pada dewasa ini rahasia-rahasia tersebut sudah banyak yang terbongkar). Ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Ihwal kejadian alam semesta
Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa langit dan bumi yang diciptakan Allah Swt. ini pada mulanya merupakan gumpalan (QS. al-Anbiyâ’ [21]: 30). Dalam Al-Qur’an dan Tafsirnya disebutkan bahwa langit dan bumi itu dahulunya adalah satu benda, kemudian Allah memecahnya (memisahkannya), dan masing-masing berjalan menurut garis edar tertentu dan melakukan fungsinya baik dan tertib. Dalam ayat ini Allah juga menjelaskan bahwa segala sesuatu itu dijadikan dari air, dihidupkan dengan bantuan air, sehingga ia merupakan unsur yang paling penting bagi kehidupan makhluk.

Dalam hal ini al-Qur’an tidak menyebutkan atau menjelaskan bagaimana terjadinya pemisahan itu, namun apa yang dikemukakan di atas tentang keterpaduan alam semesta kemudian dipisahkan itu dibenarkan oleh observasi para ilmuwan. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Quraish Shihab, bahwa observasi Edwin P. Hubble (1889-1953) melalui teropong bintang raksasa pada tahun 1929 menunjukkan adanya pemuaian alam semesta. Ini berarti alam semesta berekspansi (sesuai dengan surat al-Dzariyat [51]: 47), bukan statis seperti yang diduga oleh Einstein (1879-1955). Ekspansi itu, menurut fisikawan Rusia George Gamow (1904-1968), melahirkan sekitar seratus miliar galaksi yang masing-masing rata-rata memiliki 100 miliar bintang. Tetapi sebelumnya, bila ditarik ke belakang kesemuanya merupakan satu gumpalan yang terdiri dari neutron. Gumpalan itulah yang kemudian meledak dan yang dikenal dengan istilah Big Bang

Dalam ayat yang lain, juga dijelaskan bahwa Allah enciptakan langit dalam bentuk yang indah, dimana hal ini menunjukkan keagungan kekuasaan-Nya, langit itu Dia angkat dengan kekuatan-Nya, sehingga seolah-olah seperti atap yang tinggi dan kokoh (QS. al-Dzâriyât [51]: 47). Dia-lah yang menciptakan tujuh petala langit dan tujuh lapis bumi, dimana semua perintah, kudrat dan iradah-Nya berlaku bagi seluruh makhluk, dan Allah Maha Luas Ilmu-Nya, meliputi segala sesuatu, tiada yang tersembunyi bagi Allah bagaimanapun kecilnya (QS. al-Thalâq [65]: 12). Tuhan menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada diantara keduanya dalam enam masa. Yang dimaksud dengan enam masa dalam ayat ini, bukanlah hari (masa) yang dikenal seperti sekarang ini, tetapi masa (hari) itu adalah hari sebelum adanya langit dan bumi (QS. al-Sajdah [32]: 4). Selanjutnya, hari (masa) tersebut disesuaikan menurut perhitungan Allah Swt., sebab satu hari di sisi Allah itu sama dengan 1000 tahun hari perhitungan manusia, penciptaan langit dan bumi serta isinya itu merupakan ujian bagi manusia, apakah semua itu dimanfaatkan sesuai dengan bimbingan-Nya untuk kebahagiaan dunia dan akhirat atau tidak (QS. Hûd [11]: 7).

Lebih lanjut Achmad Baiquni menjelaskan bahwa untuk dapat memahami ayat-ayat al-Qur’an yang menyangkut alam semesta ini serta proses alamiah yang terjadi di dalamnya, tidak lain harus dengan cara meneliti alam, al-kaun itu sendiri dengan melakukan serangkaian kegiatan. Dengan kegiatan dan penelitian itu, kita telah membaca ayat-ayat Allah dan pada akhirnya akan dapat mengetahui dan memahami rahasia-rahasia ayat-ayat Allah tersebut.

2. Ihwal kejadian manusia
Al-Qur’an berbicara panjang lebar tentang manusia, dan salah satu yang diuraikannya adalah tentang persoalan reproduksi manusia serta tahap-tahap yang dilaluinya, sehingga tercipta sebagai manusia ciptaan Tuhan yang mempunyai keistimewaan dan keunggulan dibanding dengan makhluk lainnya.

Dalam al-qur’an paling tidak ada tiga ayat yang berbicara tentang sperma atau mani, yaitu surat al-Qiyâmah [75] ayat 36-39, surat al-Najm [53] ayat 45-46, dan surat al-Wâqi’ah [56] ayat 58-59. Dalam Al-Qur’an dan Tafsirnya dijelaskan bahwa manusia setelah diciptakan oleh Allah itu tidaklah dibiarkan begitu saja seenaknya manusia sendiri, tetapi ia dibebani tugas dan kewajiban yang berupa perintah dan larangan dari-Nya yang harus ditaati dan dilaksanakan. Demikian juga setelah mati, ia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya selama hidup di dunia. Kemudian Allah mengingatkan kembali kepada manusia tentang asal-usul kejadiannya. Allah mengingatkan manusia yang masih ingkar terhadap bagaimana air mani itu diciptakan-Nya menajdi daging, yang dengan daging itu kemudian diciptakan manusia sempurna. Demikian pula mudah bagi-Nya untuk menghidupkan manusia, lalu mematikannya, dan kemudian menghidupkannya lagi (QS. al-Qiyâmah [75]: 36-39).

Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat 36-39 dari surat al-Qiyamah tersebut secara tegas menyatakan bahwa nuthfah itu merupakan bagian kecil dari mani yang dituangkan ke dalam rahim. Kata nuthfah dalam bahasa al-Qur’an menurut dia adalah “setetes yang dapat membasahi”. Informasi al-Qur’an tersebut sesuai dengan penemuan ilmiah pada abad keduapuluh ini, yang manyatakan bahwa pancaran mani yang menyembur dari alat kelamin laki-laki itu mengandung sekitar 200 juta benih manusia, sedangkan yang berhasil bertemu dengan ovum hanya satu saja. Itulah yang dimaksud dengan nuthfah min maniyyin yumna dalam ayat tersebut.

Dalam al-Qur’an, hasil pertemuan antara sperma dengan ovum itu disebut nuthfah amsyâj (QS. al-Insân [76] ayat 2). Kata nuthfah yang mensifati amsyâj dalam ayat tersebut bukan sekedar bercampurnya dua hal yang kemudian menjadi satu atau terlihat menyatu, tetapi percampuran itu demikian mantap sehingga mencakup seluruh bagian dari nuthfah tadi. Nuthfah amsyâj itu sendiri adalah hasil percampuran sperma dan ovum yang masing-masing memiliki 46 kromosom.

Informasi al-Qur’an itu kemudian dilanjutkan dengan proses selanjutnya, yaitu bahwa nuthfah tersebut dalam proses selanjutnya menjadi ‘alaqah (QS. al-Hajj [22]: 5, dan al-Mu’minûn [23] : 14). Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa asal dan kejadian manusia itu sama, tidak berbeda (QS. al-Nisâ’ [4]: 1, al-Hujurât [49]: 13). Selanjutnya dalam perkembangan janin yang ada dalam kandungan, al-Qur’an juga menyatakannya yaitu surat al-Mu’minûn [23]: 12-14), dan juga masa yang tidak terlepas dari pengetahuan wanita yang (QS. Fâthir [35]: 11).

Quraish Shihab menjelaskan bahwa bila seseorang mempelajari embriologi dan percaya akan kebenaran al-Qur’an, maka dia akan mengalami kesulitan dalam menafsirkan kalimat al-‘alaq dengan segumpal darah yang beku. Menurut embriologi, proses kejadian manusia itu terbagi menjadi tiga periode, yaitu periode ovum, periode embrio, dan periode foetus.

3. Ihwal Kalender Syamsiyah dan Qamariyah
Dalam al-Qur’an juga diisyaratkan tentang kalender Syamsiyah dan Qamariyah, dimana dalam kalender ini ada perbedaan perhitungan diantara keduanya, yaitu ketika al-Qur’an menguraikan kisah Ashhâb al-Kahfi (sekelompok pemuda yang berlindung ke sebuah gua), sebagaimana dalam surat al-Kahfi [18] ayat 25.

Dalam Al-Qur’an dan Tafsirnya dijelaskan bahwa Allah menjelaskan tentang berapa lama mereka (Ashhâb al-Kahfi) tinggal dalam gua itu. Menurut perhitungan ahli-ahli kitab, mereka tinggal dalam gua selama 300 tahun berdasarkan tehun matahari atau 300 tahun lebih 9 tahun menuurt perhitungan orang Arab berdasarkan tahun bulan. Nabi Muhammad Saw. adalah seorang yang tidak mengetahui atau tidak pandai dalam ilmu falaq, tetapi beliau mengetahui selisih hitungan 9 tahun antara perhitungan matahari selama 300 tahun dengan perhitungan tahun bulan; setiap 100 tahun selisih 3 tahun, 30 tahun selisih satu tahun dan satu tahun selisih 11 hari.

Penanggalan Syamsiyah yang dikenal dengan gregorian calender yang baru dikenal pada abad ke-16, sebagaimana yang dikemukakan oleh Quraish Shihab mempunyai selisih 11 hari dengan penanggalan Qamariyah, sehingga tambahan 9 tahun dalam ayat tersebut merupakan perkalian 300 tahun x 11 hari = 3.300 hari atau sekitar 9 tahun lamanya.

Selain hal tersebut di atas, masih banyak lagi isyarat-isyarat ilmiah al-Qur’an yang pada abad-abad setelah turunnya al-Qur’an baru terungkap dan pada akhirnya menjadi sebuah ilmu pengetahuan yang rasional dan empiris. Dalam kesempatan ini tidak mungkin diperinci secara keseluruhan karena sangat banyak dan luasnya isyaart-isyarat ilmiah yang ada dalam al-Qur’an. Isyarat-isyarat ilmiah yang lainnya, seperti:
  • One. Ihwal awan, seperti terkandung dalam surat al-Nûr [24]: 43, al-Ahqâf [46]: 24.
  • Two. Ihwal gunung, terkandung dalam surat al-Naml [27]: 88, al-Hijr [15]: 19, al-Nâzi’ât [79]: 32, dan surat al-Ghâsyiyah [88]: 19.
  • Three. Ihwal pohon hijau yang terdapat dalam surat Yâsîn [36]: 80.
  • Four. Cahaya matahari bersumber dari dirinya dan cahaya bulan merupakan pantulan (QS. Yûnus [10]: 5, Nûh [71]: 16).
  • Five. Perbedaan sidik jari manusia (QS. al-Qiyâmah [75]: 4).
  • Six. Pada ketinggian tertentu dari permukaan bumi ini akan terdapat adanya oksigen yang semakin berkurang, sehingga dapat menyesakkan nafas (QS. al-An’âm [6]: 125).
  • Seven. Manusia mempunyai aroma atau bau yang berbeda-beda (QS. Yûsuf [12]: 94).
  • Eight. Masa penyusuan ideal dan masa yang minimal (QS. al-Baqarah [2]: 233, al-Ahqâf [46]: 15).
  • Nine. Adanya yang dinami nurani (super ego) dan bawah sadar manusia (QS. al-Qiyâmah [75]: 14-15).
  • Ten. Yang merasakan nyeri itu adalah kulit (QS. al-Nisâ’ [4]: 56), dan lain-lain.
Demikianlah cara al-Qur’an dalam memberikan pengarahan kepada manusia agar senantiasa memikirkan apa yang ada di dalam alam semesta ini, mengenal kekhususan-kekhususan dan rahasia-rahasia serta mengenal sumber-sumber kekayaannya yang penuh dengan berkah Ilahi. Al-Qur’an tidak memperbolehkan manusia meremehkan atau melupakan rahasia-rahasia alam, manusia tidak diperbolehkan menjadi beku dan culas berpikir. Orang-orang yang seperti itu oleh al-Qur’an diibaratkan sama kedudukannya dengan hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi.

Al-Qur’an menuntut supaya manusia berpikir, merenung, melihat dan bertanya diri, menarik dan menyimpulkan. Al-Qur’an tidak hanya membuka kesempatan untuk mengadakan penelitian saja, tetapi memuaskan dan menarik naluri akal manusia, bahkan mendorong dan mengharuskannya menjalankan fungsi serta tugas-tugasnya dengan memperhatikan berbagai contoh yang telah dikemukakan dalam ayat-ayat al-Qur’an.

Posisi al-Qur’an terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi itu juga dapat dijelaskan dengan jalan mencari sumber ilmu dan sumber cara mengembangkan ilmu menjadi teknologi. Al-Qur’an sebagai sumber ilmu memberikan benih-benih dasar yang paling esensi untuk dapat dikembangkan oleh manusia menjadi ilmu dan teknologi yang tidak terhingga ragamnya dan tidak terhingga arah pencapaiannya. Selain itu, al-Qur’an akan menjamin kebenaran ilmu yang bersumber darinya, kebenaran arah pengembangannya, karena semuanya bersumber pada sunnah Allah, dan jiwa ketaqwaan dan keimanan dari manusia sebagai subyek yang melakukannya. Kisi-kisi batas kewenangan manusia untuk menggapai ilmu juga telah ditetapkan di daam al-Qur’an.

Keutamaan terbesar agama Islam adalah bahwa agama itu membuka pintu selebar-lebarnya bagi kaum muslimin untuk memperoleh pengetahuan, seraya menghimbau mereka untuk selalu mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan itu. Ia mendorong mereka untuk mendalaminya dan meraih kemajuan, menerima perkembangan baru keilmuan yang sesuai dengan kemajuan zaman. Ia selalu memperbaharui cara-cara untuk memperoleh penemuan-penemuan baru dan sarana-sarana pengajaran. Keutamaan terbesar agama Islam sama sekali bukan karena agama itu melumpuhkan semangat kaum muslimin menuntut ilmu pengetahuan atau melarang mereka memperluas penelitian dan pengamatan, karena mereka merasa telah berhasil memperoleh semua ilmu pengetahuan. Umat Islam dihimbau oleh al-Qur’an untuk maju dalam kehidupan dengan mempelajari perlabagi ilmu pengetahuan sesuai dengan kedudukannya sebagai khalifah Allah di bumi. Hal itu semua sebagaimana yang diungkapkan oleh Abbas Mahmud al-Aqqad.

Jelaslah bahwa al-Qur’an demikian menghormati kedudukan ilmu dengan penghormatan yang tidak ditemukan batasannya atau bandingannya dengan kitab-kitab suci yang lain. Sebagai bukti, al-Qur’an mensifati masa Arab sebelum datangnya Islam dengan jahiliyah (kebodohan). Al-Qur’an memberikan kepada manusia kunci ilmu pengetahuan tentang dunia dan akhirat serta menyediakan peralatan untuk mencari dan meneliti segala sesuatu agar dapat mengungkap dan mengetahui keajaiban dari kedua dunia itu. Al-Qur’an juga mendorong manusia mendapatkan sesuatu yang mungkin ia dapat di dunia ini, kemudian memanfaatkannya untuk kesejahteraannya, baik kesejahteraan dunia maupun akhirat. Dorongan-dorongan yang ada dalam al-qur’an bagi manusia untuk menggunakan akalnya, berpikir dan berpikir tentang segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, sekaligus merupakan kemukjizatan al-Qur’an ditinjau dari segi isyarat ilmiah.
Blog, Updated at: 08.41

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts