Islam Dan Globalisasi: Sekularisme, Agama Dan Radikalisme

Islam Dan Globalisasi: Sekularisme, Agama Dan Radikalisme 
Era ini sering disebut sebagai era global. Manusia hidup dengan segala bentuk kemajuan. Modernisasi yang berlangsung disegala bidang menyebabkan banyak komentar bahwa globalisasi merupakan suatu kemestian yang tidak bisa dihindari. Siap atau tidak siap, globalisasi sudah masuk dalam ruang kehidupan kita sehari-hari. Handphone, televisi, internet, dan sejenisnya merupakan media globalisasi yang kita pakai. Pertukaran budaya dan pemikiran lintas wilayah dan negara menggejala. Dalam konteks ini, islam mempunyai persoalan serius dengan globalisasi. Barat menuduh islam sebagai agama yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Islam adalah agama abad ke-7 yang bersumber dari Alquran dan sunnah yang statis, sementara kehidupan senantiasa dinamis berkembang. Tentu saja islam dinilai tidak mampu mengimbangi kemajuan yang begitu cepat. 

Lebih dari itu, sekarang di kenal adanya global chaos theories. Maksudnya bahwa sekarang sudah terjadi perang baru pasca berlangsungnya perang dingin. Perang baru itu, bukan lagi atas nama ekonomi, atau sekedar ideologi, tapi lebih konkret dalam bentuk perang antar agama, misalnya islam dan kristen. Menurut barat, perang seperti ini tidak lagi bisa dihindari.

Franciscus Fukuyama misalnya, ia menulis buku yang berjudul the end of history, yang menggambarkan bahwa sekarang ini tidak ada lagi perang serius dalam hal pemikiran/ideology. Barat dengan paham liberalismenya sudah memenangkan peperangan melawan komunisme. Terbukti bahwa uni soviet sudah kolaps. Dan seterusnya semua ideology harus sesuai dengan ideology barat sebagai pemenang. 

Pendapat Fukuyama tersebut “dibantah” oleh Samuel Huntington. Huntington justru menggambarkan bahwa barat sekarang mempunyai musuh baru, yaitu Islam. Menurut Huntington salah satu penyebab konflik ini adalah karena penolakan islam terhadap globalisasi sementara barat melahirkan dan mendukung globalisasi tersebut. Islam dinilai tidak mampu menyesuaikan diri terhadap perkembangan kondisi. Islam mengganggap globalisasi hanya akan merugikan, karena menyebabkan beberapa kondisi.

Paling tidak ada beberapa hal yang menjadi pengaruh globalisasi di tengah umat islam, antaralain:
a. keterasingan agama dalam proses globalisasi (religion’s salience within globalizing processes). 
b. munculnya gerakan Islam radikal (radical Islam’s)
c. peningkatan jumlah sekularisme sebagai diskursus (the rise of secularism as a dominant discourse) 

Dalam proses globalisasi ini, menurut Sadowski, akan terjadi proses yang terpragmentasi, penghilangan kedaulatan Negara, dan lahirnya loyalitas kepada system sosial, budaya dan agama baru, yaitu globalisasi. Karena itu, dalam pandangan Islam, globalisasi sebenarnya tidak lebih dari bentuk dominasi barat terhadap dunia Islam karena peradaban yang muncul adalah hakikatnya peradaban barat – kapitalisme, demokrasi, dan liberalisme. 

Pandangan tersebut muncul dari pandangan bahwa globalisasi dilahirkan dari modernisasi. Menurut barat, modernisasi hanya bisa dilakukan ketika dilakukan sekularisme, yaitu pembedaan urusan agama dengan dunia. Hal ini rill terjadi dalam sejarah Kristen di Eropa. 

Pengertian Globalisasi
Globalization can be seen as the process by which regions of the world become linked, at various levels of society, through an expanding network of exchanges (of peoples, goods, services, ideas, traditions etc.) across vast distances. Globalisasi adalah proses pengintegrasian pasar, Negara bangsa, dan teknologi yang memberikan kebebasan individu, perusahan dan negara bangsa untuk berhubungan secara lebih mendalam, cepat, dengan biaya murah. Artinya dalam globalisasi, dunia seakan menjadi satu. Paling tidak ada tiga jenis globalisasi, yang semuanya memberikan pengaruh terhadap dunia Islam, yaitu economic globalization, political globalization and cultural globalization.

A prominent feature of economic globalization has been the sustained use of economic power by stronger states to penetrate the economies of weaker nations in the ultimate interests of the stronger. This unequal relationship is manifested by a wide array of established structures – ranging from the omnipresence of western multinational corporations to the pervasiness of the “almighty” US dollar in international economic relations. The financial advantages unfairly pursued in this manner have included access to markets, opportunities for private investment, availability of raw materials, and access to cheap labor. 

It has often led to the virtual collapse of local economies and thrown basic social services (education, health care etc) into a state of severe crisis. It has increased the suffering of large sections of muslim people. Under these circumstances many Muslims have turned to some Islamic moral code to find a sense of direction and draw sustenance against the agonies of deprivation. Muslims organizing themselves in new ways to alleviate suffering in their communities and create conditions for community development has certainly been one of the more positive outcomes of the ravages caused by economic globalization.

The economic and political systems fostered by globalization, of course, have come with their own accompanying values and beliefs. These can be considered one aspect of cultural globalization. Through globalization, Machiavellian values in America’s foreign policy continue to provoke the moral indignation of many throughout the world. The USA’s position on democratic transitions in the “Third World” is a case in point. America advocates liberal democracy for all. Yet, as in the case of Algeria, it is quick to use its influence to discourage the election of Islamic parties through a popular democratic process. See another cases in various countries.

Yet another dimension of cultural globalization has been the seeming “pollution” of the values, mores, traditions and sense of identity of “other” societies either by the hegemonic assimilation into a proselytizing culture or as a side effect of other forms of domination such as economic, military or political. In effect, cultural globalization has come to mean cultural westernization. 

Dalam kasus gender, misalnya, one of the major contradictions, in fact, has to do with the status of women women. As in all religions, of course, the perspective of Islamic doctrinal positions in the Muslim world has been decidedly patriarchal. But it is the absolutist brand of Islamic fundamentalism that has, in fact, been the most repressive of women. While prepared to go to any extent to “liberate” the Muslim world from western imperialism, it has been busy consolidating structures of “enslavement” of the Muslim woman – all in the name of “true Islam.” The nation-wide oppression of women in Afghanistan under the Taliban is, tragically, being mirrored in the domestic spaces of some revivalist Muslims in various part of the world. 

Kondisi ini berkembang luas, utamanya pasca perang dingin, karena sebelumnya Amerika bahkan merupakan sekutu umat Islam. Throughout the Cold War era, the West and the Muslim world sometimes became allies against a common enemy called Communism. The West regarded Communism as a politico-economic threat to its capitalist system and market ideology. The Muslim world regarded Communism – especially in its atheistic articulations -- as a cultural threat to its religious ethos and its unitarian ideology of one supreme God. Now they came together as strange bed fellows to root out this “evil” in their midst. We now know that Usama bin Laden and his Al-Qa’ida organization as well as the Talibans are, in fact, a creation of America in the process of supporting the mujahideen against the Soviet invasion of Afghanistan. 

Once the Cold War was over, however, it is the Muslim world that increasingly became demonized partly because it seemed the most resistant to western cultural infusions so necessary for the complete triumph of neo-liberalism. In the words of John E. Woods, a professor of Middle Eastern history at the University of Chicago, “Almost immediately after the collapse of Communism, Islam emerged as the new evil force” (New York Times, August 28, 1995). And so Islam and the West parted ways, sowing the seeds of a new anti-western Islamic revivalism.

Namun di sisi lain, Modern technology in transport and communication has promoted an unprecedented degree of interaction between Muslims across the world, especially those belonging to the middle and upper classes, forging new links in scholarship, trade, commerce and welfare programs. This network of relationships has naturally given fresh impetus to the trans-national nationalism of the Muslim umma, with a leadership drawn mainly from the ranks of the middle class. Its energies are targeted against western cultural imperialism, seeking to purge seemingly decadent values of the capitalist west from the global Muslim organism. But like all nationalisms, this pan-Muslim nationalism too has had its own tensions and contradictions.

Muslim identity, at least in the doctrinal sense, is deeply rooted in the idea of a common umma that defies national, racial, ethnic, and gender boundaries. The printed word may have been playing a major role in the construction of nationhood and in reinforcing national consciousness. The new communication technology, on the other hand, is contributing to the breakdown of nationhood and may be playing a role in the construction of other trans-ethnic communities.

Globalisasi ini tidak terjadi serta merta. Pada awalnya manusia kebanyakan bekerja sebagai petani/agrarian. Pada fase ini mereka bertahan hidup baik secara individu maupun kelompok, tetapi menggantungkan hidupnya pada tanah, dan para pekerja yang bersifat komunitas local. Para petani masih dengan peralatan yang sangat sederhana, bahkan tidak jarang berpindah dari satu lahan ke lahan lainnya, ketika kesuburan tanah sudah mulai berkurang. 

Karena pertumbuhan jumlah penduduk yang menyebabkan keterbatasan kepemilikan lahan, dan mulai berkembangnya pengetahuan, manusia mulai menjalani fases berikutnya, yaitu industrialisasi. Industrialisasi ini ditandai oleh beberapa hal, antaralain: 
  • literacy – manusia sudah mulai melakukan komunikasi secara intesive tidak hanya secara langsung melainkan sudah mulai menggunakan teknologi dan sistem organisasi yang efisien. 
  • Para pekerja pada fase ini pun tidak lagi hanya berasal dari satu daerah saja melainkan sudah bercampur dengan para pekerja dari daerah lain. Artinya bahwa di era modernisasi dari segi informasi, komunikasi dan telekomunikasi sudah jauh lebih baik dibandingkan pada masa primitif, karena sudah dengan cempat dapat melampui batas-batas wilayah bahkan negara. 
Interaksi dan cara berfikir yang sudah lebih maju di era globalisasi tidak hanya menyebabkan terjadinya sharing budaya dalam artian fisik seperti bercampurnya bahasa satu dengan lainnya, melainkan juga memungkinkan terjadinya sharing cara berfikir. Bahkan keragaman yang ditemukan juga mendorong terjadinya upaya melakukan standardisasi terhadap persepsi yang berkembang di tengah masyarakat supaya nilai subjektifitas yang berkembang bisa diminimalisir. Interaksi yang mendalam di tengah masyarakat ini berlangsung secara berkelanjutan, baik dalam bidang sosial, ekonomi, dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

Konsep Masyarakat Dalam Islam
Jika globalisasi sudah sedemikian berkembang di dunia, termasuk di Negara-negara Islam, maka sebenarnya ada kemiripan dalam hal hubungan yang tidak mengenal batas-batas Negara dengan Islam. Islam mengenal konsep ummah, yang dinilai sebagai sebuah komunitas masyarakat muslim yang hidup dalam ikatan persaudaraan yang melintasi batas-batas negara dengan prinsip syariat yang mereka jalankan atau ingin dijalankan.

Hanya saja oleh barat, mereka sering dikenal sebagai kelompok islam fundamental karena dinilai menerapkan islam dengan cara yang sangat literal, tanpa adanya kompromi, interpretasi atau penyesuaian terhadap perkembangan zaman. Kelompok ini menurut barat adalah mereka yang sudah menjadikan islam sebagai budaya, dan budaya itu sebagai islam. Satu hal lagi yang sulit dipahami oleh barat adalah ketaatan mereka terhadap ulama sebagai pemimpin mereka.

Menurut barat, seharusnya yang dilakukan adalah tidak dengan membangun bangsa berdasarkan ikatan agama, melainkan berdasarkan budaya etnis. Ikatan agama dalam bernegara hanyalah peninggalan dari ajaran agama abad ketujuh yang tidak pernah berubah. Bagaimana mungkin suatu dinamisasi yang berlangsung dan berubah cepat di tengah masyarakat hanya diselesaikan dengan Alquran dan hadits yang bersifat stagnan.

Barat berfikir bahwa islam tidak mampu menyesuaikan diri dari globalisasi yang berkembang. Padahal seharusnya dunia islam merupakan subjek atau aktor yang mempunyai potensi sama seperti negara-negara non muslim yang berhasil. Oleh karena itulah seharusnya simbol-simbol agama yang selama ini banyak digunakan harus ditinggalkan dan menggantikannya dengan budaya etnis.

Atau yang lebih halus adalah pendapat Gellner (Gellner 1992, p. 22), yang menyatakan bahwa, the world of Islam demonstrates that it is possible to run a modern, or at any rate modernizing, economy, reasonably permeated by the appropriate technological, educational, organizational principles, and combine it with a strong, pervasive, powerfully internalized Muslim conviction and identi.cation. 

Hanya saja menurut beliau bahwa islam harus memberikan tafsir baru yang tidak sama dipahami dengan kebanyakan umat islam selama ini. Artinya islam adalah agama yang benar, tetapi dari segi penafsiran harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Sebenarnya mungkin tidak ada masalah dengan pemikiran ini apabila dibawah dalam urusan mu’amalah, justru membawa kemajuan yang lebih baik di kalangan umat islam. Namun ketika konsep tersebut menabrak sistem yang ada dalam pemahaman akidah, syariah dan ibadah umat islam, tentu akan menjadi persoalan serius.

Singkat cerita, apa yang ditawarkan barat tentang upaya mencapai kemajuan di tengah umat islam memunculkan perpecahan di kalangan muslim. Ada yang serta merta mengikuti pemikiran barat, tetapi banyak juga yang mencoba untuk tetap bertahan dengan pemahaman keislaman mereka. Kelompok pertama biasanya mereka yang sudah tinggal di daerah kota, borju, dan ketika memahami sesuatu selain dengan melihat tekstual Alquran dan Hadits, juga dengan intens melakukan penamsiran-penafsiran baru. Merekalah yang sering disebut sebagai the high muslim. Sementara kelompok kedua, dinilai sebagai barisan masyarakat yang keras, percaya magic, dan memahami sangat saklak dalam artian tekstual (low muslim). Kelompok inilah yang sering disebab ibu yang melahirkan sikap fundamentalisme di tengah umat islam. 

Kaum fundmentalisme senantiasa bertahan dengan konsep ummah. Landasan pemahaman kelompok ini berdasarkan sejarah nabi, para sahabat dan kekhalifahan islamiyah. Jika tidak sampai pada taraf mendirikan kembali khalifah islamiyah, minimal mereka menginginkan tegaknya syar’iat islam di negara masing – masing. 

Dibantah kami beri tanda kutip karena ada indikasi bahwa perbedaan pendapat antara fukuyama dan Huntington disengaja untuk menarik perhatian khalayak. Kelompok realis yang melihat kepentingan dengan rational choice Negara menilai bahwa keduanya sebenarnya bekerjasama. Apalagi kantor mereka berdua bersebelahan.
Blog, Updated at: 00.42

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts