Mengenal Teknologi Tanpa Meninggalkan Budaya Bangsa Bagaikan Sambil Menyelam Minum Air

Mengenal Teknologi Tanpa Meninggalkan Budaya Bangsa Bagaikan Sambil Menyelam Minum Air 
Tombak perjuangan bangsa Indonesia saat ini ada di tangan generasi muda Indonesia. Bung Karno pun pernah berkata ”Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.” Hal tersebut memiliki makna yaitu generasi mudalah yang akan mengguncang dunia dan membuat dunia takluk padanya. Namun, jangan sampai generasi muda Indonesia tidak tahu bagaimana menggunakan tombak tersebut. Maka generasi muda terpelajarlah yang seharusnya berada di barisan terdepan dan memimpin perjuangan bangsa Indonesia. 

Generasi muda terpelajar adalah yang mengetahui di jaman apa sekarang dia berada. Jika ia sudah mengetahui hal tersebut, tentu ia tahu kalau teknologilah yang berperan penting pada jaman sekarang. Teknologi sendiri berkembang karena adanya globalisasi.

Globalisasi berasal dari kata global yang artinya mendunia. Globalisasi mengikat negara satu dengan yang lain dan menciptakan tatanan kehidupan baru. Ada yang berpendapat bahwa kemakmuran suatu negara dicerminkan dari globalisasi yang berkembang di negara tersebut.

Globalisasi menyerang berbagai lapisan masyarakat mulai dari rakyat biasa, pejabat, tua, muda, laki-laki, perempuan semua dapat merasakan globalisasi. Globalisasi ada yang benilai positif dan negatif. 

Globalisasi yang bernilai positif contohnya perkembangan teknologi yang sangat pesat yang dapat membuat kita mendapatkan ilmu pengetahuan dengan mudah misalnya dari internet. Kita juga dapat memperkenalkan budaya milik kita ke negara lain dengan mudah. 

Contoh lainnya adalah berkembangnya teknologi komputer dan telepon genggam yang berlomba-lomba merebut perhatian generasi muda. Mereka memberikan fasilitas yang canggih dengan harga yang murah dengan begitu teknologi tersebut mudah didapat. 

Di sisi lain generasi yang menggunakan sebagian besar teknologi masa kini malah menjadi budak teknologi. Mereka menggunakan teknologi tersebut sepanjang waktu tanpa kenal lelah. Hal tersebut membuat generasi muda lupa bahkan tidak mengenal budaya tradisional yang dimiliki bangsa Indonesia yang kaya budaya. Padahal kekayaan budaya Indonesia dianggap mempunyai nilai tinggi oleh warga dunia. Negara lain berusaha memiliki budaya seperti Indonesia. Sebagai contoh, akhir-akhir ini gencar diberitakan negara tetangga kita, Malaysia, mengklaim beberapa budaya Indonesia dari tarian, alat musik, lagu sampai makanan yang dari dahulu sudah termasyur di tanah air Indonesia. Sejak kejadian itu, masyarakat Indonesia mulai rajin memproduksi serta mempromosikan hasil budaya Indonesia seperti batik. Usaha itu memang baik sehingga sekarang batik sudah diakui UNESCO sebagai daftar warisan budaya bukan benda (intangible cultural heritage). 

Dari kejadian ini seharusnya masyarakat Indonesia dapat berbenah diri agar tidak hanya rajin memproduksi, menggunakan, dan mempromosikan saat budaya kita telah diklaim negara lain tetapi melakukan hal tersebut sejak budaya itu ada dan sebelum diklaim negara lain. Dengan begitu, budaya di Indonesia akan tetap lestari.

Faktor lain yang menyebabkan budaya Indonesia diklaim negara lain adalah kurang pedulinya masyarakat Indonesia khususnya generasi muda. Seiring dengan berkembang pesatnya budaya pop materialistis yang berasal dari Barat, ketertarikan bahkan pengetahuan generasi muda Indonesia terhadap kekayaan budaya asli amatlah minim. Tidak banyak yang tahu bahwa kain Batik telah diperdagangkan secara internasional pada abad XV atau musik orkestrasi gamelan Jawa (Ketawang Puspawarna) dan gambar penari Bali termasuk materi yang dibawa misi luar angkasa AS untuk berkomunikasi dengan makhluk ekstraterestrial. Tidak banyak pula yang mendalami tarian, pertunjukan drama, dan musik tradisional yang tiap kali dipertunjukkan di luar negeri selalu dipadati penonton.

Generasi muda Indonesia sekarang malah menganggap budaya daerah sebagai hal yang kuno dan jadul. Mereka lebih tertarik pada budaya barat yang modern. Tapi sebaliknya, di luar negeri contohnya universitas di Canada memiliki mata kuliah Bahasa Indonesia dan Gamelan Bali. Di sana mengharuskan mata kuliah Gamelan Bali untuk menghafal 10 lagu dalam setahun dan mentornya didatangkan langsung dari Indonesia. 

Memberdayakan seni budaya merupakan pekerjaan rumah yang tidak perlu menunggu bantuan dari badan independen atau perwakilan asing tetapi harus dilakukan sendiri dengan alokasi biaya dan perusahaan nasional. Karena kalau hal ini dibiarkan terus-menerus tentu Indonesia akan kehilangan budayanya. Padahal budaya suatu bangsa adalah identitas bangsa itu sendiri.

Sebenarnya apakah yang membuat mereka betah berlama-lama bergelut dengan teknologi seperti komputer dan telepon genggam sehingga meninggalkan budaya tradisional? Jawabannya adalah model yang selalu diubah agar pengguna tidak bosan dan adanya game sebagai penghilang rasa penat. Game ada yang bernilai edukasi ada pula yang hanya menjadi hiburan.

Lalu bagaimanakah kita menghadapi globalisasi? Jawabannya adalah dengan menyeimbangkan antara teknologi dan budaya. Kita harus memiliki keseimbangan antara mengikuti perkembangan globalisasi dengan menjaga budaya bangsa. Caranya adalah mengkombinasikan game dengan budaya bangsa Indonesia. Berhubung yang menjadi pengguna teknologi sebagian besar adalah generasi muda, maka generasi mudalah yang dapat membuat game yang mengandung unsur budaya.

Contohnya dengan game puzzle. Game puzzle merupakan permainan sederhana yang mudah dimainkan oleh semua orang. Game puzzle dapat dimainkan di komputer maupun telpon genggam. Gambar potongan puzzle berupa Aksara Jawa, Aksara Lampung, atau aksara-aksara tradisional lain. Lalu background dapat berupa Kain Batik, Kain Tapis, atau kain lain sesuai budaya tradisional yang diambil. Game tersebut juga dapat diberi iringan musik tradisional. Tombol-tombolnya dapat berbentuk senjata tradisional maupun ciri khas lain yang dimiliki daerah tersebut. Bagaikan menyelam minum air, kita tidak hanya menghilangkan rasa penat tapi juga belajar dan melestarikan budaya bangsa Indonesia.

Globalisasi menyebabkan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Namun, generasi muda sebagai pengguna teknologi terbesar malah menjadi budak teknologi. Pemandangan generasi muda yang gemar memainkan komputer dan telepon genggam adalah pemandangan yang sering kita temukan. Sehingga budaya tradisional bangsa menjadi terlupakan.

Sebenarnya, generasi muda dapat mengkolaborasikan teknologi dan budaya tradisional. Game puzzle yang mengandung aksara tradisional, kain khas, lagu daerah, dan unsur kebudayaan lain merupakan cara yang baik menanggapi kemajuan teknologi tanpa melupakan identitas bangsa yaitu budaya. Melalui game puzzle inilah rasa cinta terhadap budaya bangsa akan terpupuk. Jadi game puzzle yang mengandung unsur budaya adalah pendamai antara teknologi dan kebudayaan bangsa. 

SUMBER-SUMBER ARTIKEL DI ATAS :
http://budaya-indonesia.org/iaci/Data_Klaim_Negara_Lain_Atas_Budaya_Indonesia. 15-03-2011. 18.00
http://id.shvoong.com/society-and-news/news-items/2004730-pengertian-globalisasi/. 30-03-2011. 19.03
Blog, Updated at: 01.38

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts