Menggagas Perpustakaan Masa Depan : Perspektif Praktisi, Peneliti, Pustakawan

Menggagas Perpustakaan Masa Depan : Perspektif Praktisi, Peneliti, Pustakawan 
Apa yang terbayang mengenai konsep perpustakaan di masa depan? Apakah perpustakaan dalam balutan ICT yang perkembangannya massif? lalu keberadaan pustakawan tidak lagi banyak di berperan tataran teknis? ataukah perpustakaan dengan aksesibilitas virtual? Lalu bagaimana fungsi bangunan / gedung perpustakaan akan dikemas dalam menyajikan layanan informasi?. Sederet pertanyaan itu muncul dalam pemikiran saya saat berusaha menginterpretasikan tajuk dari sebuah Seminar Nasional yang akan saya ikuti yaitu “Perpustakaan Masa Depan : Perspektif Praktisi, Peneliti, Pustakawan”. 

Konsep perpustakaan masa depan masih saya interpretasikan erat dengan perkembangan ICT yang membentuk diferensiasi perilaku pencarian informasi dari pemustaka. Ada pergeseran sajian layanan, yaitu dari tradisional ke digitalisasi seiring dengan perkembangan perangkat elektronik. Saya melihat bahwa keberadaan gadget dan jaringan internet memberikan kemudahan dan keluwesan pada aksesibilitas informasi, utamanya masyarakat di wilayah perkotaan yang pembangunan infrastruktur jaringannya telah memadai. Juga perkembangan sumber informasi digital seperti media massa online, jurnal ilmiah online, e-commerce yang memantapkan jalan menuju kebutuhan akan portal informasi digital yang praktis. Pemikiran saya kemudian beralih saat menempatkan interpretasi itu untuk konteks perpustakaan di wilayah pedesaan. Nyatanya masih ada wilayah yang pembangunan infratruktur listriknya belum terpenuhi dengan baik. Tentu saja pemikiran pengembangan perpustakaan belum menggapai ke arah digitalisasi. Keterbatasan budgetting melemahkan daya untuk pemenuhan sarana dan prasarana ICT, sehingga pengembangan perpustakaan masih terkonsentrasi pada akuisisi informasi yang setidaknya cukup dengan sumber tercetak. Selain itu, keberadaan perpustakaan di Sekolah Dasar ada yang belum memiliki gedung khusus perpustakaan, ada juga guru yang merangkap menjadi pengelola perpustakaan sehingga jam buka perpustakaan pun menjadi tidak menentu atau bergantung dari ada/tidaknya petugas jaga di perpustakaan. Pada akhirnya, perpustakaan yang minim kompetensi SDM dan juga budgetting menghasilkan pengelolaan eksistensi perpustakaan yang bisa disebut masih apa adanya. Kompleksitas ini yang saya pikir dihadapi oleh pustakawan dalam menggagas perpustakaan masa depan, menjumpai perbedaan kondisi kekinian (perpustakaan antara wilayah desa dan kota) yang berimplikasi pada perbedaan rancangan atau pemetaan prioritas tindakan dalam pengembangan perpustakaan. Dari runtutan berpikir yang demikian, saya menginterpretasikan bahwa konseptualisasi perpustakaan masa depan adalah perwujudan perpustakaanyang bersifat dinamis, aktif dalam eksistensinya, dengan memulai akar analisis layanan pada karakteristik pemustaka dan perilaku informasinya (user oriented). Sehingga mainstream perpustakaan dalam balutan ICT seperti perpustakaan digital, aksesibilitas virtual, dsb tidak bisa dijadikan generalisasi konsep dalam rancangan perpustakaan masa depan karena di Indonesia masih terjadi kesenjangan pemahaman literasi teknologi antara wilayah desa dan kota. 

Tema seminar ini makin memukau antusiasme saya saat menyimak ketiga penyaji/pemateri memberikan perspektifnya masing-masing, yaitu Drs.Lucky Wijayanti, SIP., M.Hum (Pakar Perpustakaan Universitas Indonesia; Drs. A. Mudjib Affan, MARS (Praktisi - Kepala Badan Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur); dan dr. Andi Darma, Sp.A (Peneliti – Dosen – Pemerhati Perpustakaan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga). Berikut adalah interpretasi yang dapat saya rangkum mengenai perpustakaan masa depan berdasarkan perbedaan perspektif dari tiga penyaji seminar. 

Dari perspektif praktisi, Drs. A. Mudjib Affan, MARS menyampaikan ada 3 peranan penting perpustakaan, yaitu (1) melestarikan hasil budaya umat manusia, khususnya yang berbentuk dokumen karya cetak dan karya rekam lainnya, serta menyampaikan gagasan, pemikiran, pengalaman, dan pengetahuan umat manusia itu kepada generasi-generasi selanjutnya; (2) mendukung sistem pendidikan nasional sebagaimana diatur dalam UU No.20/2003 tentang sistem pendidikan nasional. Perpustakaan merupakan pusat sumber informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian dan kebudayaan; (3) Membangun masyarakat informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi sebagaimana dituangkan dalam deklarasi World Summit of Information Society – WSIS, 12 Desember 2013. Adapun pembenahan yang diperlukan perpustakaan sekarang ini adalah meningkatkan budaya baca masyarakat, meningkatkan kualitas pengelola perpustakaan, dan meningkatkan koleksi, ketersediaan sarana dan prasarana, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Berikut adalah pemetaan perencanaan pembangunan perpustakaan di tahun 2015 yang masih mengarah pada isu strategis peningkatan minat dan budaya gemar membaca masyarakat.


Beberapa permasalahan yang dihadapi adalah : 
1. Belum terwujudnya budaya gemar membaca masyarakat dan penerapan literasi informasi 
2. Terbatasnya jumlah dan jenis perpustakaan serta ketersediaan koleksi (termasuk koleksi Digital) dan TIK
3. Kualitas dan kuantitas tenaga pengelola perpustakaan masih terbatas 
4. Apresiasi terhadap naskah kuno sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sangat berharga 
5. Belum optimalnya pelaksanaan UU No. 4 tahun 1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam 
6. Kurangnya apresiasi pemerintah daerah terhadap perpustakaan sebagai sarana belajar sepanjang hayat 

Adapun kebijakan dan strategi yang diusulkan meliputi : 
1. Peningkatan minat baca, melalui (a) Promosi dan sosialisasi minat membaca; (b) Penguatan komunitas membaca di masyarakat dan partisipasi industri penerbitan dalam menciptakan komunitas baca; (c) Penyusunan kerangka regulasi tentang wajib baca 
2. Penguatan kelembagaan perpustakaan nasional sebagai lembaga yang bertugas menetapkan kebijakan umum dan kebijakan teknis, melaksanakan pembinaan semua jenis perpustakaan dan mengembangkan standar nasional perpustakaan 
3. Peningkatan ketersediaan layanan perpustakaan, melalui (a) Pengembangan koleksi sesuai dengan kebutuhan masyarakat; (b) Perluasan jangkauan layanan perpustakaan dan penyediaan perpustakaan digital; (c) Pelestarian dan penyediaan akses bahan perpustakaan warisan dokumenter Intelektual bangsa 

Dari perspektif peneliti, dr. Andi Darma, Sp.A menyatakan harapan dari para peneliti dan tenaga klinis bahwasanya perpustakaan diperlukan untuk memberi bantuan dalam mengajari bagaimana mencari literatur, misalnya dengan sesi pelatihan informasi. Ada tuntutan bagi tenaga medis agar selalu mengikuti perkembangan best evidence dalam penanganan pengobatan, sebagaimana yang dilakukan oleh para keluarga pasien yang kini makin kritis. Dalam pengamatannya, dr. Andi melihat perpustakaan menjadi titik temu bagi pemustaka untuk sharing pengetahuan dan melakukan kolaborasi, sehingga kenyamanan bagi pemustaka harus diperhatikan, utamanya faktor kebersihan buku yang seringkali berdebu tentu memunculkan keengganan untuk mempergunakannya. Selain itu, pustakawan harus menempatkan diri bukan lagi sebagai navigator untuk menemukan lokasi buku di rak saja, melainkan perlu menjadi knowledgeable person. Kehadiran internet memberikan aksesibilitas informasi yang simple dan content informasi yang melimpah. Lihat saja bagaimana layanan wifi yang selalu dipenuhi pemustaka. Konsekuensinya pustakawan harus punya strategi pendekatan yang tepat agar buku tidak ditinggalkan oleh pemustaka seiring hadirnya sumber informasi digital. Pustakawan harus mengerti karakteristik pemustaka karena tiap periode memunculkan generasi tersendiri dengan karakter yang khas, termasuk pemahaman tentang preferensi tiap generasi dalam mempergunakan perpustakaan. Ada generasi baby boomers, yaitu generasi yang terlahir setelah perang dunia kedua, dimana beragam acara televisi mulai tumbuh, dan karakteristik pencarian informasinya lebih pada pemanfaatan koleksi tercetak. Ada generasi X yang memiliki kesempatan mengakses dan menggunakan teknologi dan internet. Ada generasi Y yang juga dikenal dengan generasi millenium, mereka akrab dengan teknologi dan internet, memiliki karakter khas yang cenderung menuntut, tidak sabar dan memiliki kemampuan komunikasi yang buruk. Ada generasi platinum yang memiliki karakteristik ekspresif, eksploratif, memiliki kesempatanyang terbuka lebar dalam menjelajah teknologi dan mengembangkan diri. Jadi pelayanan informasi yang prima sangat diperlukan, jangan lagi ada perlakuan tidak ramah sejenis bentakan saat pemustaka menanyakan sesuatu yang tidak diketahuinya saat mengakses perpustakaan. Apalagi jika generasi Y yang menerima perlakuan semacam itu, bisa dipastikan mereka akan langsung pergi dan mengurungkan keperluannya mengakses perpustakaan. Diperlukan kombinasi antara pengetahuan dan keterampilan pustakawan dalam menjalankan fungsinya. 

Dari perspektif pustakawan, Drs.Lucky Wijayanti, SIP., M.Hum mengamati bahwa Perkembangan TIK dan ilmu pengetahuan memaksa perpustakaan perguruan tinggi untuk melakukan perubahan besar-besaran kalau tidak mau ditinggalkan oleh penggunanya. Perubahan ini dilakukan karena adanya perubahan perilaku pemustaka saat ini yang sebagian besar sudah dapat dikategorikan sebagai net generation atau digital natives, yakni generasi yang tumbuh dalam lingkungan digital yang berlimpah. Salah satu ciri dari generasi ini adalah bahwa mereka lebih suka berkolaborasi dalam proses pembelajarannya (Jones dalam Wijayanti, 2014). Perpustakaan perlu melakukan transformasi dari penjaga perpustakaan ke penambah nilai pada perpustakaan dan informasi, dari koleksi tercetak ke digital, dari pemain pasif ke peserta aktif dan dinamis dalam penciptaan pengetahuan pengguna, dari manajemen informasi ke manajemen pengetahuan, dari training library skills ke information Literacy. Seluruh perubahan ini memerlukan transformasi pustakawannya terlebih dahulu. Transformasi pustakawan ini terutama menyangkut perluasan pandangannya mengenai posisi dan peranannya dalam peningkatan nilai informasi dan sumber-sumbernya secara terus-menerus, proaktif, dan kreatif. Susan Perry (dalam Raple, dalam Wijayanti, 2014) merincinya dengan menyatakan bahwa : 

“The information professional of the future will most likely be a hybrid of librarianship and computing, media specialization, and instructional technology, and we need to start thinking about how we as librarians add value to the teaching/learning/research support services and what we need to learn from our colleagues.”

Tentu saja ini memerlukan komitmen bukan hanya dari pustakawan, tetapi terutama juga dari pimpinan tertinggi di organisasi induk. Perubahan tersebut bisa juga termasuk pengurangan tenaga kerja untuk tugas-tugas tradisional, seperti akuisisi, pengolahan, dan transaksi. Namun perguruan tinggi harus mendukung hal ini kalau pengelolaan dan pengembangan pengetahuan akan dijalankan secara ekonomis dari segi waktu dan biaya. Hanya dengan demikian perguruan tinggi bisa memenangkan kompetisi di era globalisasi ini. Dalam masyarakat informasi atau ekonomi berbasis pengetahuan, keunggulan masyarakat atau kegiatan ekonomi ditentukan oleh sejauh mana suatu keputusan dan tindakan diambil lebih berdasarkan pengetahuan atau informasi daripada aset lainnya (seperti uang, energi, teknologi, kekuasaan, dsb). Perpustakaan perguruan tinggi yang mengelola pengetahuan dan informasi yang dihasilkan oleh sivitas akademika harus mempunyai sikap yang sama terhadap aset yang satu ini, jika tidak mau dianggap sebagai unit penyimpan buku atau bahkan gudang buku. Demokratisasi yang dipicu oleh TIK menyadarkan perguruan tinggi bahwa informasi bukan lagi hanya milik dosen atau satu dua orang ahli. Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada dosen pun menjadi tidak sesuai lagi dengan zaman. Mahasiswa harus diberi peluang untuk memainkan peranan lebih aktif dalam proses pembelajaran, termasuk dalam hal menentukan sumber-sumber informasinya dan mengemukakan pendapatnya. Membatasi bahan bacaan dan soal ujian pada buku wajib merupakan proses pemiskinan intelektual para mahasiswa di tengah information-rich society. Pembelajaran secara kolaboratif juga perlu digalakkan. 

Wijayanti (2014) menyampaikan beberapa tindakan yang diperlukan dalam transformasi perpustakaan perguruan tinggi adalah sebagai berikut : 
1. Perpustakaan Perguruan Tinggi Menangkap Peluang Baru dengan Adding Values, Streamlining, Ekspansi, dan Inovasi. Perpustakaan harus berusaha memainkan peranan penting dalam menambah nilai pada informasi dan juga pada perpustakaan itu sendiri, kalau tidak mau dikesampingkan oleh pengguna yang semakin dimudahkan oleh TIK dalam mengakses informasi dan pengetahuan. Adapun perubahan fungsi perpustakaan sesudah hadirnya era internet adalah : (a) Menyediakan one-stop service: multi-functional librarians serving multi-tasking; (b) Memberikan pelayanan on-line 24 jam; (c) Mengkoleksi dan menyediakan akses ke informasi dan pengetahuan serta sumber-sumbernya yang tersebar di seluruh dunia, dalam multi-format (termasuk tacit); (d) Menambah nilai pada informasi dan pengetahuan (adding value); (e) Manajemen pengetahuan: memberikan pelayanan bervariasi dan dinamis meliputi seluruh siklus pengetahuan (mulai dari penciptaan, perekaman dan publikasi, penyebaran, penggunaan, dan penciptaan kembali, pengetahuan); (f) Melayani individu atau kelompok sebagai anggota jaringan; (g) Melayani pengguna sebagai mitra; (h) Meningkatkan information skills dan literacy sedemikian rupa sehingga pengguna dapat memanfaatkan TIK untuk mengakses dan memanfaatkan informasi secara kritis; serta merekam, memublikasi pengetahuan dengan efisien.
2. One-stop Service: Multi-functional Librarians Serving Multi-tasking Customers. TIK memungkinkan pustakawan dan civitas akademika untuk melakukan multi-tasking di komputer yang sama. Seorang pustakawan bisa menerima pesanan untuk mencari informasi suatu topik, melakukan pencarian di dalam dan luar perpustakaan tempat ia bekerja, memesan pada toko buku dan/atau mengunduh dari Internet atau perpustakaan lain, mengolah informasi yang didapatkannya, dan menyampaikannya pada si pemesan, tanpa harus berpindah komputer apalagi melakukan perjalanan ke luar perpustakaan. Pengguna juga dapat melakukan beberapa tugas sekaligus melalui system perpustakaan. Waktu mencari suatu informasi, misalnya 'gender', dia bukan hanya bisa mendapatkan sumber informasi non-personal, tetapi juga nama-nama pengguna yang mempunyai keahlian di bidang ini. Dia juga bisa mengunggah karya tersebut di basis data perpustakaan supaya bisa diberi masukan oleh pembaca. Selain itu, dia juga bisa memeriksa sudah sejauh mana pesanan buku yang diajukannya ke perpustakaan ditindaklanjuti, melihat menu makanan di kantin universitas atau jadwal kereta api, dsb. Semuanya ini mudah dilakukan dengan bantuan TIK.
3. Memberikan pelayanan 24/7. Fasilitas perpustakaan digital dan Internet memungkinkan perpustakaan diakses dan digunakan tanpa memandang waktu dan jarak sehingga pemustaka tetap dapat “merasa” berada di dalam perpustakaan sepanjang hari selama seminggu. Hal ini akan menambah nilai pada perpustakaan yang bersangkutan, apalagi jika pemustaka tetap melakukan komunikasi dengan para pustakawan di luar jam buka perpustakaan
4. Menyediakan Koleksi dan akses informasi dan pengetahuan dalam multi-format. Di samping teks dan cetakan, perpustakaan menyadiakan akses bahan-bahan multi-media, digital, hypertext, dsb. Salah satu contoh bahan multi media yang dapat dimanfaatkan saat ini misalnya Alexander Street Press, yakni video yang dapat diakses oleh sivitas akademika dan bahkan dapat dihubungkan dengan bahan ajar. Bahan ajar visual akan membantu mahasiswa mempelajari bahan kuliah yang sufatnya “how to”. Karena itu, perpustakaan perlu menyediakan akses ke semua sumber tersebut, termasuk juga pertemuan dan diskusi formal dan informal.
5. Menambah nilai pada informasi dan pengetahuan (adding value). Kebutuhan Informasi dan pengetahuan mempunyai konteks. Nilai informasi dan pengetahuan ditentukan oleh sejauh mana informasi dan pengetahuan yang disajikan sesuai dengan konteks seorang pengguna. Penyediaan akses informasi yang disesuaikan dengan konteks dapat dilakukan melalui pelayanan personalised library, konsultasi, berdasarkan profil pengguna dan informasi tentang tahap dan jadwal kegiatan. Cara yang lain adalah dengan melibatkan pengguna dalam kegiatan perpustakaan (misalnya, menentukan kata kunci untuk suatu sumber, link ke suatu situs, dsb.). Nilai informasi juga bisa ditingkatkan dengan cara menyediakan akses hanya ke sumber sumber yang dapat dipercaya kualitasnya. Caranya yaitu dengan, misalnya, membuat portal atau pintu masuk ke sumber-sumber yang sudah diseleksi oleh perpustakaan atau lembaga lain (misalnya: virtual libraries, subject-based gateways). Nilai informasi juga meningkat bila diberikan pada waktu yang tepat, dan dapat digunakan dengan mudah. Secara rinci Skyrme (2002) menyebutkan 10 aspek yang dapat meningkatkan nilai informasi, yaitu, timeliness, accessibility, usability, utility, quality, customised, medium, repackaging, flexibility, dan reusability.
6. Manajemen Pengetahuan. Siklus pengetahuan meliputi penciptaan, perekaman dan organisasi, penyebaran dan akses, penggunaan, dan dilanjutkan dengan penciptaan, pengetahuan. Selama ini, perpustakaan (termasuk kajiannya) lebih banyak berfokus pada organisasi (kataloging, dsb.) dan penyebaran (termasuk pencarian informasi). Di samping itu, perpustakaan lebih memperhatikan pengetahuan yang sudah terekam di luar pikiran penciptanya. Padahal banyak pengetahuan yang masih ada dalam kepala (dan belum pernah direkam dalam sumber-sumber informasi yang umumnya dikelola oleh perpustakaan selama ini). 
7. Melayani individu atau kelompok dalam Jaringan. Tuntutan ilmu pengetahuan dan kurikulum perguruan tinggi adalah bahwa dosen, mahasiswa, dan peneliti, melakukan kegiatan ilmiahnya dengan berkolaborasi dengan ilmuwan lainnya. Keberadaan Internet telah mendorong berlangsungnya hal ini. Ini berarti, perpustakaan perguruan tinggi harus membantu individu dalam melakukan pengelolaan pengetahuan dalam konteks jaringan, yaitu dengan cara mendorong dan menyediakan fasilitas untuk mereka terhubung, berbagi pengetahuan dan berkolaborasi, dengan orang-orang di dalam dan luar kelompoknya.
8. Melayani pengguna sebagai Mitra. Karena pengguna perpustakaan perguruan tinggi adalah konsumen yang sekaligus produsen pengetahuan ilmiah, maka mereka perlu dilibatkan di semua aspek pekerjaan perpustakaan (yaitu memfasilitasi pengelolaan pengetahuan). Mereka harus dilibatkan dalam pengolahan, pengembangan akses, membantu pengguna lainnya dalam menggunakan dan menciptakan pengetahuan. Di samping itu, karena posisi pustakawan yang strategis di antara para pengguna, maka pustakawan pun harus menjadi mitra bagi pengguna dalam kegiatan ilmiah mereka. Dengan demikian, bukan hanya pengguna dan pustakawan akan semakin berdaya, proses pengetahuan pun akan semakin cepat dan semakin ekonomis.
9. Meningkatkan literasi informasi. Kemajuan pesat TIK memungkinkan akses yang tidak terbatas ke sumber-sumber informasi dan pengetahuan yang tidak semuanya terjamin mutunya. Hal ini dengan sendirinya meningkatkan kebutuhan pengguna akan penguasaan ICT dan kemampuan untuk mengakses (secara fisik dan intelektual), menyeleksi, serta mengeksploitasi informasi dan pengetahuan tersebut, sedemikian rupa sehingga membantu terciptanya pengetahuan baru. Untuk itu perpustakaan perlu menyediakan training on site, online, maupun offline untuk literasi informasi yang di dalamnya juga termasuk ICT literacy. Topiknya meliputi kemampuan untuk mengenali informasi dan teknologi yang dibutuhkan, membangun strategi untuk mencari dan menemukan hal tersebut, mengevaluasi informasi dan sumbernya, mengorganisir dan menggunakannya sehingga berguna untuk menciptakan pengetahuan baru, dan mengkomunikasikannya (SCONUL seperti dikutip oleh Naibaho, 2004)

SUMBER-SUMBER ARTIKEL DI ATAS :
Wijayanti, Luki. 2014. Perpustakaan masa depan: perspektif pustakawan. Disampaikan pada Seminar “Perpustakaan Masa Depan : Perspektif Praktisi, Peneliti, Pustakawan” di Universitas Airlangga, 30 April 2014. 

Affan, Mudjib. 2014. Kebijakan Program Pembangunan Bidang Perpustakaan Provinsi Jawa Timur. Disampaikan pada Seminar “Perpustakaan Masa Depan : Perspektif Praktisi, Peneliti, Pustakawan” di Universitas Airlangga, 30 April 2014. 

Darma, Andi. 2014. “Perpustakaan Masa Depan : perspektif Peneliti”. Disampaikan pada Seminar “Perpustakaan Masa Depan : Perspektif Praktisi, Peneliti, Pustakawan” di Universitas Airlangga, 30 April 2014. 
Blog, Updated at: 05.26

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts