METODE PENELITIAN KUALITATIF UNTUK PENGEMBANGAN DISIPLIN AKUNTANSI

METODE PENELITIAN KUALITATIF UNTUK PENGEMBANGAN DISIPLIN AKUNTANSI
Secara umum, banyak orang memahami bahwa penelitian terbagi dalam dua kategori, yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif (Darlington and Scott 2002; Neuman 2007; Creswell 2009). Penelitian kuantitatif identik dengan penelitian yang menggunakan data kuantitatif dan alat analisispun juga menggunakan alat kuantitatif, yaitu statistik. Sementara penelitian kualitatif dipahami sebagai penelitian yang menggunakan data kualitatif dan alat analisis kualitatif, yaitu berupa teori-teori yang difungsikan sebagai alat analisis. Penelitian kuantitatif lebih dominan dan lebih sering digunakan oleh peneliti ilmu-ilmu sosial bila dibanding penelitian kualitatif. Meskipun pada awalnya penelitian kuantitatif ini banyak digunakan dalam ranah ilmu-ilmu eksakta (non-sosial), namun pada perkembangan berikutnya metode kuantitatif merambah masuk ke dalam ranah ilmuilmu sosial. Mengapa metode ini begitu mudah masuk dan berkembang di ranah ilmu sosial? Jawabnya, karena metode kuantitatif secara nyata memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perkembangan ilmu eksakta dan teknologi. Perubahan dan perkembangan besar di ranah ini membuat para peneliti ilmu sosial merasa kagum, sehingga akhirnya mereka menggunakan metode kuantitatif ini di ranah ilmu sosial. 

Sebaliknya, metode kualitatif kurang dominan di ranah ilmu sosial. Sebetulnya sebagian (kecil) peneliti kualitatif beranggapan bahwa penggunaan metode kuantitatif di ranah ilmu sosial adalah tidak tepat. Mengapa demikian? Karena secara ontologis yang menjadi obyek dalam penelitian sosial adalah (perilaku) manusia. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang sangat dinamis, memiliki pikiran, perasaan, pengalaman, kepribadian, kecerdasan, intuisi, dan lain-lainnya. Dengan karakternya yang dinamis ini, maka tidak mungkin dinamika kehidupan manusia dipahami dengan metode kuantitatif. Perlu diketahui bahwa sebetulnya metode kuantitatif berangkat dari suatu asumsi bahwa obyek yang diteliti adalah obyek yang statis (diam). Sehingga menjadi tidak tepat bila metode ini digunakan untuk obyek yang dinamis, apalagi tidak semua aspek kemanusiaan manusia dapat diukur. 

Banyak diskusi telah disajikan di berbagai media ilmiah tentang kedua metode ini, mulai dari aspek filosofis hingga pada aspek metodenya sendiri (Burrell and Morgan 1979; Chua 1986; Have 2004; Kelemen and Rumens 2008). Secara umum, diskusi-diskusi di wilayah ini berada dalam nuansa diametral di antara keduanya. Terkesan bahwa metode kuantitatif lebih unggul dan lebih ilmiah bila dibandingkan dengan metode kualitatif. Sehingga metode yang kedua tidak perlu digunakan untuk pengembangan ilmu sosial. 

Pada sisi yang lain, metode kuantitattif dianggap sebagai metode yang tidak tepat untuk meneliti kehidupan manusia. Metode kuantitatif hanya tepat untuk meneliti benda-benda mati yang statis. Hanya metode kualitatif yang layak digunakan untuk meneliti fenomena kehidupan manusia. 

Makalah ini bertujuan untuk menyajikan pemahaman yang lain tentang kedua metode tersebut. Pemahaman yang dipaparkan di sini menyangkut suatu pengertian bahwa keduanya sebetulnya bersifat kontinu dan sinergis, bukan sebaliknya, yaitu diskontinu dan terpisah. Kontinuitas keduanya sebetulnya dapat dipahami mulai dari aspek diri (self), ontologi (ontology), epistemologi (epistemology), dan metodologi (methodology). Pemahaman tentang diri membawa konsekuensi pada ontologi, epistemologi, dan metodologi. Dengan mengambil aspek yang sederhana, makalah ini mencoba untuk mendiskusikan kontinuitas keduanya hingga sampai pada spiritualitas (makrifat) kedua metode tersebut. Bukan suatu hal yang berlebihan jika metode penelitian pada ujungnya juga menyangkut aspek spiritual, terutama jika seseorang memahami diri (self)-nya secara utuh (Bladon 2007). 

Kategori Metode Kuantitatif dan Kualitatif Secara umum masyarakat akademik memahami dua jenis penelitian, yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penggolong ini sebetulnya lebih dekat pada aspek teknis (metode penelitian), khususnya pada aspek data dan alat analisis yang digunakan. Perbedaan keduanya dapat dilihat di tabel berikut ini. 

Tabel  Perbedaan Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Penelitian apapun, baik kuantitatif maupun kualitatif, memerlukan data dan alat analisis. Keduanya memerlukan dua hal yang sama. Perbedaannya terletak pada jenis data dan alat analisis yang digunakan. Umumnya, penelitian kuantitatif menggunakan data kuantitatif dan alat analisisnya adalah statistik. Penelitian dengan metode kualitatif biasanya menggunakan data kualitatif dan alat analisisnya adalah teori-teori ilmu sosial. 

Dalam perspektif yang lain, penelitian kuantitatif dan kualitatif hanya merupakan bagian teknis dari sebuah penelitian. Pandangan yang lebih mendasar adalah melihat penelitian dari paradigma. Pandangan ini mencakup konsep tentang diri (self), ontologi (ontology), epistemologi (epistemology), dan metodologi (methodology) (Burrell and Morgan 1979; Chua 1986). Konsep tentang diri begitu penting, terutama bagaimana seseorang memahami dirinya sendiri. Pemahaman tentang siapa diri ini dapat menentukan bagaimana realitas sosial (ontologi) dipahami dengan baik, bagaimana hukum-hukum yang melekat dalam realitas sosial tersebut dapat digali (epistemologi), dan bagaimana hukum-hukum tersebut dengan prosedur tertentu dapat diformulasikan (metodologi). Dengan mengikuti alur pikiran ini, maka dapat dikatakan bahwa diri merupakan hulu, sedangkan hilirnya adalah metodologi (yang pada akhirnya dari metodologi ini diturunkan menjadi metode). 

Pemahaman tentang diri menjadi sangat penting untuk menentukan bagaimana dan untuk apa penelitian dilakukan, serta untuk apa ilmu pengetahuan dikembangkan dan dipraktikkan. Diri sangat menentukan bentuk dan warna ilmu pengetahuan yang dibangunnnya. 

Tentu saja pemahaman diri sangat bervariasi, demikian juga ontologi, epistemologi, dan metodologinya. Variasi pemahaman tersebut dikenal dengan istilah paradigma, yaitu sudut pandang seseorang atas suatu obyek. Dalam penelitian akuntansi dikenal lima paradigma seperti terlihat pada Tabel. 

Tabel  Perbedaan Paradigma, Metode, dan Orientasi Penelitian

Sumber: Burrell and Morgan (1979), Chua (1986), Creswell (2009): dimodifikasi 

Paradigma positivis (positivist paradigm, atau disebut juga functionalist paradigm, Chua 1986) memiliki dua cara untuk melakukan penelitian, yaitu: metode kuantitatif dan metode kualitatif. Orientasi penelitian dari paradigma positivis adalah memverifikasi teori, yaitu mencocokkan atau menguji teori dengan fakta empiris. Pada penelitian kuantitatif biasanya verifikasi teori ini terlihat jelas pada uji hipotesis yang pada dasarnya dibangun berdasarkan pada teori yang ingin diverifikasi. Pada penelitian kualitatif yang positivis juga demikian. Sebuah teori diuji secara empiris untuk melihat apakah teori tersebut berlaku dalam dunia empiris. Meskipun metodenya adalah metode kualitatif, maka tetap saja penelitian tersebut adalah penelitian dengan paradigma positivis. 

Tentu saja pengertian ini memperluas pemahaman yang selama ini sudah ada. Secara umum para akademisi berpendapat bahwa penelitian kuantitatif itu adalah penelitian positivis. Tetapi dalam kenyataannya, penelitian kualitatifpun (yang biasanya berpola-pikir sebab-akibat) juga dapat berada dalam wilayah paradigma positivis. Tabel  dengan jelas menunjukkan bahwa paradigma positivis memiliki dua cara penelitian, yaitu penelitian kuantitatif dan kualitatif. Paradigma interpretivis, kritis, posmodernis, dan spiritualis menggunakan metode kualitatif. Empat paradigma yang terakhir ini sebetulnya merupakan pengembangan paradigma yang pertama. Banyak kritik telah dilayangkan pada paradigma positivis yang pada akhirnya melahirkan paradigmaparadigma baru. Semua paradigma ini eksis. 

Paradigma yang satu tidak dapat meniadakan paradigma yang lain. Oleh karena itu, secara ideal seorang peneliti akuntansi dapat menerima semua paradigma tersebut, yang biasanya kita sebut dengan istilah multiparadigma (multiparadigm). 

Paradigma, Tujuan Penelitian, dan Bentuk Ilmu Akuntansi 
Dengan wawasan multiparadigma, seorang peneliti akan memiliki kemampuan untuk melihat realitas akuntansi lebih utuh. Mengapa demikian? Karena dengan wawasan tersebut, akuntansi dapat dilihat, dipahami, dan dikembangkan dari berbagai sudut pandang. Keutuhan yang dimaksud di sini seperti kita melihat tubuh fisik seseorang dari berbagai sisi, yaitu dari sisi depan, kiri, belakang, kanan, atas, dan bawah. Apa yang kita lihat dari masing-masing sisi itu semuanya adalah benar. Hasil pandangan dari sebuah sisi tidak dapat menegasikan hasil pandangan dari sisi lain. Semua hasil pandangan bersifat saling melengkapi. Lalu, apa bentuk ilmu akuntansi yang dihasilkan dari masing-masing paradigma tersebut? Bentuk ilmu yang dihasilkan tergantung pada tujuan penelitian. Jika dilihat dari aspek area atau bidang akuntansi, maka kita dapat mengatakan bahwa semua paradigma dapat masuk ke wilayah corporate accounting dan non-corporate accounting. Tabel  menunjukkan tujuan, bentuk ilmu, area dari masing-masing paradigma. 

Tabel  Tujuan dan Bentuk Ilmu dari Masing-masing Paradigma 

Sumber: Burrell and Morgan (1979), Chua (1986), Sarantakos (1993): dimodifikasi 

Penelitian dengan paradigma positivis bertujuan untuk menjelaskan (to explain) dan meramalkan (to predict). Penelitian pada paradigma ini harus dapat menjelaskan fenomena-fenomena akuntansi, terutama dengan penjelasan sebab-akibat (cause-effect relationship) (Burrell and Morgan 1979; Chua 1986). Di samping itu, penelitian juga ditujukan untuk meramalkan praktik akuntansi. Peramalan hanya dapat dilakukan jika hukum universal dari praktik akuntansi sudah ditemukan. Oleh karena itu, penelitian positivis memiliki kecenderungan yang kuat untuk mereplikasi dan mengeneralisasi temuan-temuannya. Dengan cara ini hukum universal dapat diungkapkan dan selanjutnya dapat digunakan untuk meramalkan (Burrell and Morgan 1979; Chua 1986). 

Bentuk ilmu pengetahuan yang dihasilkan penelitian ini bersifat deduktif yang diturunkan dengan prosedur tertentu yang ketat (scientific method) berdasarkan pada kekuatan indra. Ilmu pengetahuan juga bersifat nomotetis (universal) dan obyektif (bebas nilai). 

Penelitian yang dilakukan dalam wilayah paradigma interpretivis bertujuan untuk menafsirkan (to interpret) dan memahami (to understand) fenomena akuntansi. Bagi paradigma ini, akuntansi merupakan representasi dari sebuah realitas. Dengan kata lain, realitas akuntansi direpresentasikan dalam bentuk simbol. Simbol itu sendiri menyimpan makna. Penelitian akuntansi dengan paradigma interpretivis berusaha mengungkap makna yang tersembuyi di balik simbol tersebut. Setelah menemukan makna yang tersembunyi, peneliti baru kemudian memahami makna dari simbol akuntansi tersebut (Burrell and Morgan 1979; Chua 1986). Tentu saja makna yang berhasil diungkap di sini tidak tunggal dan memang paradigma ini tidak berusaha untuk mencari makna tunggal yang universal sebagaimana ditemukan di paradigma positivis. Keberagaman makna dibiarkan sebagaimana adanya untuk memperkaya ilmu pengetahuan. Misalnya, makna laba bagi seorang investor akan berbeda dengan makna laba yang dipahami oleh karyawan. Demikian juga makna laba bagi investor yang satu dengan yang lain bisa berbeda. Makna laba bagi karyawan yang satu dengan yang lain juga dapat berbeda. Dengan demikian, makna laba menjadi sangat beragam. Ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh paradigma ini bersifat induktif yang menekankan pada kekuatan interpretasi atas realitas yang diteliti dengan logika akal sehat (common sense). 

Ilmu pengetahuan tidak bersifat universal, tetapi sebaliknya bersifat ideografik (lokal dan unik) dan sarat nilai (value laden) (Burrell and Morgan 1979; Chua 1986). Lalu bagaimana dengan penelitian akuntansi yang berparadigma kritis? Penelitian ini bertujuan untuk membebaskan (to emancipate) dan mengubah (to transform) (Burrell and Morgan 1979; Chua 1986). Bagi paradigma ini, ilmu pengetahuan atau struktur sosial merupakan entitas yang menindas sekelompok orang. Paradigma ini sangat peduli tentang bagaimana orang-orang tertindas tersebut dapat dibebaskan. Kemudian setelah dibebaskan, orang-orang tersebut diubah kehidupannya ke arah yang lebih baik. Contoh yang lebih konkrit misalnya adalah akuntansi modern. Akuntansi modern yang kapitalis oleh paradigma ini dipandang telah melakukan dominasi terhadap masyarakat bisnis. Karena begitu kuat dan lamanya penindasan ini, sehingga orang-orang yang tertindas tersebut sampai-sampai tidak merasakan bahwa dirinya sedang ditindas. Nah, paradigma ini dengan penelitiannya berusaha untuk melakukan penyadaran terhadap orangorang tertindas tersebut untuk melakukan pembebasan diri. Setelah dapat membebaskan diri, maka mereka dapat melakukan perubahan bisnis dan praktik akuntansi ke arah yang lebih baik. Dengan demikian, bentuk-bentuk akuntansi baru akan dapat dihasilkan dengan paradigma ini. Bentuk ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh paradigma ini adalah konkrit (dapat membentuk hidup seseorang) dan membebaskan serta sekaligus dapat diubah ke arah yang lebih baik. Tentu saja ilmu dalam paradigma ini sarat nilai, karena sarat dengan berbagai kepentingan. 

Lebih lanjut, penelitian dengan paradigma posmodernis (yang karakternya sangat majemuk, yaitu mengombinasikan berbagai pemikiran yang bahkan bisa bertentangan antara yang satu dengan yang lain) bertujuan untuk melakukan dekonstruksi (to deconstruct) (Rosenau 1992). Mendekonstruksi adalah memasukkan sesuatu “yang lain” (the other, sing liyan, sé laén) ke sesuatu yang dianggap pusat (sesuatu yang dianggap tunggal, penting, dan dominan). Sebagai contoh, akuntansi modern memahami laba sebagai laba materi. Materi di sini dianggap sebagai pusat dan yang satu-satunya. Bagi paradigma posmodernis, pusat tidak boleh tunggal, penting, dan dominan. Oleh karena itu perlu memasukkan “yang lain” (yang dianggap di pinggiran, remeh dan tidak penting). “Yang lain” (the others, sing liyan, sé laén) yang dimaksudkan di sini adalah mental dan spiritual. Bagi akuntansi modern, aspek mental dan spiritual adalah aspek yang berada di pinggiran dan tidak boleh dimasukkan sebagai bagian dari akuntansi modern. Tetapi sebaliknya bagi paradigma posmodernis, kedua aspek tersebut sama pentingnya dengan aspek materi. Oleh karena itu, akuntansi posmodern mendefinisikan laba sebagai laba materi, mental, dan spiritual. Dengan demikian, konsep laba akuntansi posmodern lebih utuh (holistik) dibanding laba akuntansi modern yang hanya semata mengakui laba materi. 

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa bentuk pengetahuan menurut paradigma ini bersifat sangat majemuk, kompleks, dan sarat nilai. Bentuk ilmu yang demikian sangat memungkinkan karena paradigma posmodernis itu sendiri memang sangat terbuka, membuka diri untuk menerima semua pemikiran dalam rangka diolah menjadi satu kesatuan utuh. 

Berikutnya, tujuan penelitian akuntansi dengan paradigma spiritualis adalah membangkitkan kesadaran ketuhanan (to awaken god-consciousness). Paradigma ini menghendaki agar ilmu akuntansi yang dihasilkan dari sebuah proses penelitian dapat membangkitkan kesadaran ketuhanan. Konsep dan informasi laba akuntansi, misalnya, secara ideal dapat membangkitkan kesadaran ketuhanan para pengguna. Sebagai gambaran, informasi laba akuntansi modern (yang hanya merepresentasikan materi) dapat membangkitkan kesadaran materi bagi para penggunanya. Namun, jika informasi laba tersebut tidak dibatasi pada materi, tetapi juga mencakup laba mental dan spiritual, maka informasi laba yang terakhir ini akan dapat membangkitkan kesadaran ketuhanan para pengguna. Tujuan penelitian akuntansi dari paradigma spiritualis menjadi semakin konkrit jika akuntansi didefinisikan sebagai (misalnya, dalam hal ini adalah akuntansi syari’ah): 

Seni dan ilmu meracik informasi yang berfungsi sebagai doa dan dzikir untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, mental, dan spiritual manusia dalam rangka beribadah dan kembali kepada Tuhan dengan jiwa yang suci dan tenang (Triyuwono 2012a: 432; 2012b: 3; dimodifikasi). 

Dengan pemahaman seperti pada definisi di atas, seorang peneliti akuntansi dari paradigma ini akan berusaha untuk menemukan bentuk-bentuk akuntansi baru yang dapat membangkitkan kesadaran ketuhanan. Sangat memungkinkan jika bentuk baru tersebut melibatkan proses interdisipliner yang berangkat dari pemahaman diri, ontologi, epistemologi, dan metodologi yang utuh. Ini merupakan tantangan bagi para peneliti akuntansi untuk dapat menemukan bentuk baru yang transendental, bukan sebagaimana pada akuntansi modern yang bersifat duniawi saja (sekular). Sederhananya, bagi paradigma ini, ilmu pengetahuan itu sifatnya utuh, transendental, dan sarat nilai. 

Metode Penelitian Kualitatif dalam Paradigma Positivis dan Non-Positivis 
Metode kualitatif dapat digunakan untuk penelitian akuntansi baik dengan paradigma positivis maupun paradigma interpretivis, kritis, posmodernis, dan spiritualis. Tabel  menunjukkan disain penelitian dan alat analisis penelitian kualitatif dari masing-masing paradigma. 

Penelitian kualitatif-positivis kurang banyak dikenal, karena kebanyakan orang memahami bahwa hanya penelitian kuantitatif saja yang berparadigma positivis. Pemahaman tersebut sebetulnya tidak terlalu tepat, karena dalam penelitian kualitatif-pun ada paradigma positivis. Hal itu tampak pada cara berpikir penelitian tersebut, yaitu: pertama, realitas yang diteliti dipahami sebagai sebuah entitas yang statis, obyektif, konkrit, memiliki hukum universal, dan terpisah dengan subyek yang meneliti; kedua, teori diverifikasi (diuji) dengan dunia empiris; dan ketiga, analisis yang digunakan adalah analisis sebab-akibat, linier, dan mekanis. 

Disain penelitian yang biasanya digunakan dalam penelitian kualitatif-positivis adalah studi kasus (case study). Tentu saja yang dipahami di sini adalah seperti pada pemahaman positivis atas realitas sosial yang sedang menjadi perhatian utamanya, yaitu pemahaman ontologi positivis (Burrell and Morgan 1979; Chua 1986). Dengan wadah studi kasus, penelitian ini mengambil sebuah teori atau konsep akuntansi untuk diverifikasi dengan dunia empirisnya. Dari hasil verifikasi, peneliti dapat meyakinkan diri bahwa teori atau konsep yang ditelitinya telah sesuai atau tidak sesuai dengan keadaan empiris. Secara ideal penelitian ini mengonfirmasi bahwa teori atau konsep diuji telah sesuai dengan dunia nyatanya. Jika demikian hasilnya, maka penelitian ini semakin memperkuat kedudukan teori atau konsep yang sedang diujinya. Demikian seterusnya penelitian ini diulang-ulang (replikasi) untuk mendapatkan hasil yang sama. Jika hasilnya sama, meskipun tempat dan waktunya berbeda, maka dapat diyakini bahwa teori atau konsep akuntansi tersebut mendapatkan legitimasi keuniversalannya. Orientasi penelitian kualitatif-positivis adalah sama dengan penelitian kuantitatif yang positivistik, yaitu menemukan hukum universal (nomotetis). Jadi, dalam penelitian ini, teori atau konsep akuntansi tidak berfungsi sebagai alat analisis, tetapi berfungsi sebagai teori atau konsep yang akan diuji (lihat Tabel ).

Tabel  Paradigma, Disain Penelitian, dan Alat Analisis Penelitian Kualitatif 

Sumber: Neuman (2007), Eriksson and Kovalainen (2008), Creswell (2009): dimodifikasi 

Berbeda dengan penelitian kualitatif-positivis, penelitian kualitatif-interpretivis menggunakan teori-teori yang berada di luar disiplin akuntansi sebagai alat analisis. Tabel  menunjukkan beberapa contoh dari teori-teori yang dapat difungsikan sebagai alat analisis, seperti teori fenomenologi, teori etnografi, teori hermeneutika, dan lain-lainnya. Penelitian kualitatif-interpretivis tidak dimaksudkan untuk memberikan kontribusi pada teori fenomenologi, teori etnografi, teori hermeneutika, dan lainlainnya, tetapi memberikan kontribusi pada teori-teori di wilayah akuntansi itu sendiri. Teori-teori tadi hanya berfungsi sebagai alat analisis saja, sebagaimana penggunaan statistik pada penelitian kuantitatif-positivis. 

Beberapa disain penelitian dapat digunakan dalam penelitian kualitatif-interpretivis, seperti: disain fenomenologi, etnografi, etnometodologi, narasi, atau studi kasus. Pilihan disain penelitian dan alat analisis bukan pilihan yang bersifat sewenang-wenang, tetapi pilihan rasional yang selalu terkait dengan pertanyaan penelitian (research questions). Demikian juga dengan alat analisis. Alat analisis secara rasional dipilih dalam rangka untuk menganalisa data dan menjawab pertanyaan penelitian. Kesesuaian antara disain penelitian dan alat analisis dengan masalah penelitian sama sekali tidak dapat diabaikan untuk mendapatkan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 

Berikutnya, penelitian kualitatif-kritis dapat menggunakan disain penelitian studi kasus, kritis, aksi, feminis, dan etnografi kritis. Asumsi ontologis dalam pilihan disain penelitian tetap berpijak pada asumsi perubahan radikal (radical change) dalam wilayah garis kontinum obyektif dan subyektif (Burrell and Morgan 1979). Disain penelitian lainnya dapat digunakan sepanjang berada dalam area pengertian ini. Alat analisis yang digunakan adalah teori-teori kritis, misalnya teori komunikasi aksi Habermas, psikoanalisis, teori marxis, hermeneutika kritis, ekonomi politik, dan lain-lainnya. Teoriteori ini berfungsi sebagai alat analisis, tidak dimaksudkan sebagai teori yang akan mendapat kontribusi dari penelitian akuntansi. Jadi, penelitian akuntansi dengan metode kualitatif-kritis tetap dilakukan dalam rangka memberikan kontribusi pada ilmu akuntansi itu sendiri. 

Penelitian kualitatif lainnya yang lebih kompleks daripada kualitatif-positivis dan kualitatifinterpretivis adalah kualitatif-posmodernis. Secara ontologis, realitas yang menjadi kepeduliannya adalah realitas yang majemuk dan kompleks. Masalah penelitian berangkat dari realitas akuntansi yang kompleks. Untuk menjawab permasalahan tersebut diperlukan disain penelitian dan alat analisis yang tepat. Beberapa disain penelitian, seperti: studi kasus, feminis, narasi, diskursus, dapat digunakan untuk menjawab masalah penelitian. Karakter posmodernisnya juga akan sangat tampak pada alat analisis. Teori yang digunakan sebagai alat analisis biasanya tidak tunggal. Artinya teori tersebut dikombinasikan dengan teori yang lain, atau dengan budaya, atau pemikiran lain yang sangat berbeda. Misalnya, teori interaksionisme simbolik dikombinasikan dengan ilmu kalam dan ilmu syari’ah untuk menjawab permasalahan yang sedang diteliti; atau mengombinasikan teori marxis dengan budaya; atau sinkretis antara teori komunikasi aksi Habermas dengan konsep yin dan yang dari Tao dan tri hita karana dari Hindu. Tentu saja upaya pengombinasian ini tidak asal-asalan, tetapi berdasarkan pada pemikiran rasional dan teliti. Pada dasarnya, upaya pengombinasian ini dilakukan dalam rangka memberikan solusi atas permasalahan yang kompleks dan memberikan kontribusi pada ilmu akuntansi. 

Pertanyaan berikutnya adalah apakah mungkin dalam penelitian kualitatif-posmodernis ini alat analisisnya berupa teori tunggal. Jawabnya adalah ya. Asal teori yang digunakan adalah teori yang dapat digolongkan ke dalam teori berparadigma posmodernis. Sehingga, meskipun teori yang digunakan adalah tunggal, penelitian ini masih dapat digolongkan sebagai penelitian posmodernis karena alat analisisnya berasal dari paradigma yang sama. 

Yang terakhir adalah penelitian kualitatif-spiritualis. Pada penelitian ini, disain penelitian tidak bersifat konkrit sebagaimana beberapa jenis penelitian sebelumnya. Untuk dapat memberikan penjelasan yang barangkali mudah dipahami, Tabel memberikan informasi bahwa disain penelitian yang dipakai adalah “suka-suka saya,”3 yaitu suka-suka saya sebagai peneliti. “Suka-suka saya” memiliki beberapa pengertian. Pertama, peneliti di sini memiliki kebebasan penuh dalam mendisain penelitiannya dan mengungkap serta memformulasikan teori-teori baru akuntansi. Kedua, cara berpikir peneliti telah keluar dari cara berpikir metode penelitian yang lazim. Ketiga, peneliti menggunakan kekuatan di balik “saya,” yang pada dasarnya kekuatan tersebut adalah pikiran Tuhan. Dalam kondisi ini, diri peneliti telah penuh dengan kehadiran Tuhan, sehingga yang berpikir di sini bukan peneliti, tetapi Tuhan. Tidak aneh jika terkesan bahwa peneliti melakukan penelitian sesukanya peneliti, yaitu “suka-suka saya.” 

Sejalan dengan pemahaman di atas, secara otomatis alat yang digunakan untuk menganalisa tidak lagi seperti penelitian-penelitian lainnya yang menggunakan teori. Dalam konteks ini, intuisi memegang peran yang sangat penting untuk berfungsi sebagai alat analisis. Dengan cara ini memang sangat memungkinkan bahwa konstruksi teori yang berhasil dibangun akan memiliki kecenderungan kuat untuk mampu membangkitkan kesadaran orang yang mempelajari dan mempraktikkannya. 

Rasa kehadiran Tuhan dalam paradigma ini tentu saja antara orang yang satu dengan yang lain berbeda-beda. Perbedaan tersebut sekaligus menunjukkan adanya lapisan-lapisan kesadaran dalam diri masing-masing orang. 

Jadi, pada dasarnya bahwa penelitian kualitatif, dari garis kontinum positivis hingga spiritualis, memiliki keragaman berpikir, terutama mulai dari bentang garis yang memiliki subyektivitas. Ini artinya bahwa penelitian yang berada dalam wilayah kualitatif-interpretivis, kritis, posmodernis, dan spiritualis, memiliki keragaman berpikir. Sehingga tidak heran jika dalam masingmasing paradigma tersebut banyak ditemukan metode. Dengan kata lain, dalam wilayah ini tidak dikenal adanya metode tunggal. Konsekuensinya adalah bahwa metode penelitian selalu tumbuh sesuai dengan kebutuhan, bisa puluhan, ratusan, hingga ribuan metode sepanjang peneliti memiliki pemikiran yang dinamis dan kreatif. Pada sisi yang lain, memang harus diakui bahwa metode penelitian kualitatif-positivis relatif memiliki metode yang sangat terbatas (untuk tidak mengatakan tunggal), yaitu “qualitative”-scientific method. Alat yang tunggal bukan berati tidak benar. Alat yang tunggal memang sesuai dengan karakter dari paradigma positivis itu sendiri yang berkehendak untuk menemukan hukum universal yang tunggal. 

Makrifat Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif 
Pemahaman tentang diri (self) adalah sangat penting. Ketika diri memahami dirinya sebagai satu kesatuan utuh dari alam dan Tuhan, maka realitas sosial (yang merupakan refleksi dari pikiran diri) juga tidak terpisah dari dirinya, mulai dari lapisan realitas sosial yang konkrit (terluar) hingga pada lapisan yang lembut dan abstrak (terdalam). Realitas sosial adalah bagian dirinya dan dirinya juga adalah realitas sosial. Dalam konteks ini, dualisme dan pikiran dikhotomi sudah tidak ada lagi. Yang ada hanyalah kesatuan. Dikhotomi antara penelitian kuantitatif dan kualitatif sudah tidak ada. Yang ada hanyalah sebuah kontinum metode untuk melakukan penelitian, yaitu garis kontinum yang bergerak dari kuantitatif ke kualitatif, atau sebaliknya; garis kontinum yang bergerak dari arah positivis hingga spiritualis, atau arah sebaliknya; garis kontinum yang bergerak dari orientasi verifikasi teori hingga pada orientasi membangun teori baru, atau arah sebaliknya; demikian seterusnya. Melakukan penelitian sebetulnya bukan sekedar menghasilkan sebuah teori atau sebuah konsep, tetapi yang lebih utama adalah bagaimana diri menjadi lebih “berisi.” “Berisi” di sini bisa diartikan bahwa peneliti semakin memiliki pengalaman, semakin luas pemikirannya, semakin arif, dan semakin memahami hakikat ilmu pengetahuan dan hakikat dirinya. Ilmu pengetahuan pada hakikatnya adalah hukum-hukum Tuhan yang disebarkan di alam semesta ini, termasuk hukumhukum yang tersebar dalam kehidupan manusia. Di manapun dalam kehidupan manusia pasti ada hukum-hukum ini. Tanpa adanya hukum ini, maka kehidupan tidak akan pernah berjalan, alias berhenti dan chaos. 

Tidak satu ruangpun di alam semesta ini yang steril dari hukum dan kehadiran Tuhan. Walau sekalipun di kotoran hewan, di sana ada hukum dan kehadiran Tuhan. Demikian juga akan kita temukan di kehidupan sosial manusia. Di kehidupan sekelompok manusia golongan atas, golongan menengah, dan golongan bawah, semuanya terdapat hukum dan kehadiran Tuhan. Di perusahaan besar, menengah, dan kecil juga akan ditemui hal yang sama. Bahkan di luar perusahaan, seperti organisasi nir-laba dan organisasi informal lainnya, di sana juga ada hukum dan kehadiran Tuhan. 

Mengapa demikian? Karena Tuhan meliputi segala sesuatu. Hukum-hukum yang tersebar di alam semesta dan dalam kehidupan sosial manusia sebetulnya tidak lain adalah ilmunya Tuhan. Dengan pemahaman seperti ini, maka sebetulnya tidak perlu ada gengsi bahwa melakukan penelitian di area tertentu menjadi lebih dihargai dibanding dengan area lainnya. Dalam konteks akuntansi, terlihat ada suatu pemahaman bahwa hanya penelitian-penelitian di perusahaan saja yang dianggap sebagai penelitian akuntansi dan konsekuensinya hasil penelitian dianggap sebagai ilmu akuntansi (corporate accounting). Sementara, penelitian yang berada di luar wilayah perusahaan, misalnya rumahtangga, pegadang kaki lima, masjid, gereja, vihara, dan lain-lainnya dianggap bukan penelitian akuntansi dan bukan ilmu akuntansi. Sebetulnya jika kita memiliki pemahaman seperti di atas, maka tidak ada batasan apakah sebuah penelitian dilakukan di perusahaan atau bukan perusahaan. Keduanya merupakan ladang ilmu Tuhan yang terbuka untuk dipelajari dan diteliti. 

Karena kita sudah terbiasa dengan pikiran modern yang kapitalistik, maka biasanya segala sesuatu selalu berpedoman pada uang. Sehingga penelitian-penelitian yang tidak berkaitan dengan uang atau menghasilkan uang dianggapnya bukan penelitian akuntansi, atau paling tidak penelitian tersebut dianggap tidak berharga, tidak ilmiah, atau bahkan dianggap bukan ilmu. Pandangan yang sama misalnya kita lihat pada kedudukan seorang ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga kedudukannya berada lebih rendah dibandingkan dengan ibu yang bekerja di perusahaan. Mengapa demikian? Karena ibu yang bekerja memiliki nilai ekonomis (yang dapat dilihat dari gajinya setiap bulan) dan tentunya lebih berharga dibandingkan dengan ibu rumah tangga yang tidak memiliki nilai ekonomis (karena tidak bergaji). Tentu saja kasus ini adalah benar bila dipandang dari kacamata perspektif modern-kapitalistik. Namun akan berbeda jika dilihat dari kacamata yang lain. 

Di ranah perusahaan atau bukan perusahaan, seorang peneliti dapat melakukan penelitian akuntansi. Keduanya sama-sama mulianya, karena pada dasarnya yang diteliti tersebut adalah hukum atau ilmu Tuhan. Dalam kacamata Tuhan, penelitian yang lebih berharga adalah jika penelitian tersebut berhasil membuat penelitinya semakin memahami ilmu, semakin memahami sebagai hamba Tuhan, dan semakin membuatnya dekat sama Tuhan. Dengan kata lain, penelitian yang berhasil dan berharga adalah jika penelitian tersebut membuat penelitinya semakin bertaqwa kepada Tuhan dan ilmu yang berhasil digalinya tersebut membuat orang lain yang menggunakannya juga semakin dekat dan bertaqwa kepada Tuhan. 

Bertaqwa kepada Tuhan memilki makna bahwa seseorang semakin tunduk pada Tuhan yang ada dalam dirinya; dan secara ideal tunduk secara total kepadaNya. Seseorang tidak tunduk pada nafsu, akal, dan hatinya, tetapi hanya tunduk pada Tuhan yang ada dalam dirinya. Sehingga dengan demikian, secara implisit sebetulnya terlihat bahwa proses penelitian yang dilakukannya bukan didorong oleh kekuatan akal (yang didukung oleh nafsu dan hati), tetapi karena dorongan Tuhan yang bersemayam dalam dirinya. 

Bila demikian adanya, maka tidak ada lagi dikhotomi antara penelitian akuntansi perusahaan (corporate) dan akuntansi non-perusahaan (non-corporate accounting). Tidak ada lagi dikhotomi antara penelitian kuantitatif dan kualitatif; tidak ada lagi dualisme paradigma positivisme dengan nonpositivisme; tidak ada lagi oposisi biner antara orientasi verifikasi teori dengan membangun teori baru; dan tidak ada lagi perseteruan antara ilmu sekular dengan yang tidak sekular. Semuanya adalah jalan untuk bermakrifat kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Bermakrifat kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui semakin menjadi bermakna jika peneliti akuntansi mampu melampaui egonya (yaitu, nafsu, akal, dan hati), dan untuk kemudian tunduk, patuh, serta berserah diri secara total pada kehendak Tuhan yang melekat dalam dirinya. Cara ini memberikan beberapa manfaat. Pertama, diri peneliti merasakan kehadiran Tuhan atau merasakan kebersatuan dengan Tuhan. Kedua, semakin sering penelitian tentang ilmu Tuhan, maka semakin membuat diri peneliti semakin tiada, karena yang dirasakan adalah semata-mata adanya Tuhan. Ketiga, ilmu yang berhasil diformulasikan peneliti akan membuat orang yang mempelajarinya atau orang yang mengembangkannya juga menjadi semakin dekat dan bertaqwa kepada Tuhan. Keempat, realitas kehidupan berakuntansi semakin kondusif membuat para pengguna atau masyarakat untuk semakin bertaqwa kepada Tuhan. 

Peneliti akuntansi yang bertaqwa biasanya selalu kreatif dalam mengembangkan penelitiannya. Dia dapat saja secara kreatif menemukan epistemologi baru, misalnya “epistemologi kembali kepada Tuhan.” Epistemologi ini adalah epistemologi spiritual yang mengarah pada bagaimana ilmu Tuhan dapat digali dan dipahami dengan baik sehinggga dapat membawa peneliti dan pengguna ilmu tersebut menjadi semakin bertaqwa kepada Tuhan; juga membawa mereka untuk kembali kepada Tuhan dengan jiwa yang suci dan tenang. Inilah puncak pengabdian peneliti akuntansi kepada sesama manusia, kepada alam, dan kepada Tuhan. 
Blog, Updated at: 04.23

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts