Muslim Dan Fenomena Globalisasi

Muslim Dan Fenomena Globalisasi 
Pada awal era 1980-an, Indonesia mau tidak mau harus bersentuhan dengan globalisasi yang digaungkan oleh dunia Barat yang semakin mengarah pada globalisasi politik, ekonomi, sosial dan budaya. Padahal, melihat kondisi sosial masyarakat yang tidak siap dan cenderung dipaksakan sehingga rakyat bangsa Indonesia kehilangan jati dirinya.

Namun, bangsa Indonesia tetap mempertahankan faktor agama dan budaya lokal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, meski negara telah melakukan modernisasi dan sekularisasi politik (pemisahan agama dengan urusan dunia) bersamaan dengan proses globalisasi.

Keadaan tersebut sebenarnya menjadi fenomena di seluruh dunia Islam sejak dasawarsa 1970-an, terutama karena semakin tingginya tingkat pendidikan umat Islam sehingga memunculkan pemahaman dan kesadaran mereka tentang karakteristik ajaran Islam yang memang tidak memisahkan antara agama dan negara. Dalam masyarakat Islam, setiap upaya menanamkan ide-ide sekularisme dan liberalisme mendapatkan reaksi yang keras, terutama dari kelompok "konservatif", sehingga upaya yang semula diklaim oleh pendukungnya untuk "memanusiakan dan memajukan umat Islam" itu justru memunculkan konflik baru di kalangan umat Islam. Bahkan, di Turki satu-satunya negara muslim yang telah menerapkan sekularisme sejak tahun 1924 umat Islam sejak dua dasawarsa lalu berupaya memiliki kembali orientasi keagamaan, meski militer dengan cara keras dan represif melakukan pembentengan terhadap ideologi sekularisme dari "rongrongan" agama. Kecenderungan desekularisasi ini bahkan bukan hanya merupakan ciri khas dunia Islam, tetapi juga di sejumlah negara di dunia, sehingga sosiolog terkemuka, Peter L. Berger menolak teori "secularization". Hal ini terjadi karena dalam kenyataannya proses sekularisasi itu menimbulkan reaksi dalam bentuk gerakan-gerakan tandingan sekularisasi yang kuat (powerful movements of counter-secularization).

Antara Universalisme dan Globalisme
Terdapat perbedaan yang cukup signifikan perihal universalisme (syumuliyyah) dalam Islam dengan globalisme dalam pandangan Barat. Bagi Islam, sebagaimana ditulis oleh Yusuf al-Qaradawi, ajaran universalisme ini mempunyai dasar pijakan yang integratif dalam memandang manusia. Diawali dari paham tentang pemuliaan Bani (anak/cucu keturunan) Adam sebagaimana yang tercermin dalam firman Allah swt berikut.

"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam" (QS. al-Isra' [17]: 70).

Untuk menciptakan satu kondisi yang damai, aman dan tenteram serta terbinanya satu pola hubungan yang interaktif dan berjalan secara harmonis, maka bagi Islam prinsip persamaan dalam memandang semua manusia dan menghargainya sesuai dengan unsur kemanusiaannya, yang di antaranya didasarkan pada beberapa hal, yakni; pertama: asal kejadian manusia yang telah diciptakan dengan sebaik-baik bentuk. Kedua: asas taklif (pemberian tugas) serta tanggung jawab terhadap apa yang berada dalam penguasaannya. Ketiga: hak untuk beribadah kepada Allah. Keempat: asal mula keturunan yang satu nenek moyang, Adam.

Perihal tentang keempat prinsip di atas mendapatkan pijakannya pada saat momentum Haji Wada' (haji perpisahan) ketika Rasul yang mulia berbicara (khotbah) di hadapan khalayak ramai, "Wahai sekalian manusia, ingatlah bahwa Tuhan kamu sekalian adalah satu, dan (asal) bapak kamu juga satu. Ingatlah bahwa tidak ada keunggulan bagi Arab atas Ajami (non-Arab), dan tidak bagi non-Arab atas Arab, bagi orang kulit merah (putih) atas kulit hitam, dan kulit hitam atas kulit merah (putih) kecuali dengan ketakwaan…."

Berdasarkan pesan-pesan di atas, umat Islam menjalankan misi dakwahnya dan berinteraksi sosial dengan umat nonmuslim. Semua itu dilakukan di tengah beragam dan campur baurnya manusia dalam perbedaan keyakinan, ras, suku dan bangsa dengan satu tujuan untuk saling mengenal dan memberi pengertian. Sebagaimana firman Allah swt:

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS. Al-Hujuraat [49]: 13).

Adapun penyebaran isu globalisme dalam dunia modern oleh Barat saat ini lebih mengarah pada semacam pemaksaan hegemoni politik, ekonomi, sosial dan budaya dari Amerika Serikat atas seluruh dunia internasional, khususnya dunia Timur, dunia ketiga dan terlebih khusus lagi dunia Islam. Maka, globalisme dalam paham Amerika tidak mengandung pengertian; hubungan seorang saudara dengan saudaranya sebagaimana dikehendaki Islam. Bahkan juga, tidak merupakan hubungan seorang sekutu dengan sekutunya sebagaimana diinginkan oleh orang-orang merdeka dan mulia di seluruh dunia. Akan tetapi, maksudnya adalah hubungan seorang majikan dengan buruh atau budaknya, sang raksasa dengan si kerdil, sang angkuh dengan si lemah.

Dus, dengan kata lain bahwa globalisasi yang diinginkan oleh Amerika adalah mengandung pengertian "Westernisasi Dunia". Hal ini sangat jelas dengan cara-cara yang dilakukan Amerika untuk mengusung semua ide mereka semisal "Terorisme Global" lewat jalur diplomasi, atau upaya mencari dukungan dalam berbagai forum nasional dan internasional yang diadakan oleh organisasi seperti NATO, OKI, APEC, atau Konferensi Asia Afrika (KAA).

Kondisi terburuk abad ini dalam hubungan antara Islam dan Barat adalah terjadinya penjajahan besar-besaran terhadap hak rakyat Palestina, kemudian Afghanistan dengan alasan perburuan seorang the most wanted Usamah bin Laden tanpa didukung oleh cukup bukti yang jelas atas keterlibatannya dalam pendalangan aksi penyerangan ke Pentagon dan World Trade Centre.

Menyusul Afghanistah, kondisi yang sama pun dialami oleh Irak yang diinvasi Amerika atas tuduhan kepemilikan uranium yang kesemuanya dusta. Atas nama "Polisi Dunia" Amerika tidak lagi mengindahkan prinsip-prinsip kedaulatan suatu negara, keadilan dan HAM yang selama ini mereka suarakan dan disebarkan melalui berbagai forum dunia internasional.

Gagasan modern bahwa agama merupakan satu sistem keyakinan pribadi, telah ikut membonsai makna Islam yang komprehensif, di mana dalam Islam, agama menyatu dengan pandangan politik dan masyarakat. Dalam kondisi yang demikian, maka definisi Barat tentang agama yang diambil dari masa aufklarung (pencerahan) Eropa, dipaksakan ke dalam Islam. Sampai di sini, Barat telah gagal memahami agama Islam berikut sistem kepercayaan di dalamnya.

Islam Agama Universal
Beberapa ayat Al-Quran jelas menyatakan bahwa Islam adalah agama terakhir. Karena merupakan agama terakhir (… telah Kucukupkan Islam menjadi agama bagimu… [QS. Al-Ma'idah {5}: 3]) yang diturunkan Allah maka mestilah sempurna semua perangkan peraturan hukumnya, sebab agama ini akan menghadapi berbagai persoalan umat manusia jauh setelah Sang Pembawa risalahnya wafat. "Tidaklah Aku utus engkau (Muhammad) melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam…." Dalam ayat yang lain, "Tidaklah Aku utus engkau Muhammad melainkan untuk umat manusia."

Piagam Madinah
Piagam Madinah atau yang disebut juga "Perjanjian Madinah" (mitsaaq al-madiinah) adalah sebuah upaya sosial Nabi Muhammad saw dalam membangun masyarakat Yatsrib (Madinah) yang mana kota Yatsrib ketika itu adalah dihuni oleh dua suku (kabilah) besar yakni; "Aus" dan "Khajraj" serta komunitas Yahudi dan Nasrani kemudian ada beberapa kabilah kecil yang juga mendiami kota tersebut.

Piagam Madinah yang dibuat oleh Nabi Muhammad saw terdiri atas 45 poin. Piagam menjadi landasan utama bagi tegaknya masyarakat plural dengan ciri-ciri mengedepankan rasa keadilan, serta komitmen dan peran aktif dari tiap-tiap kabilah untuk menjaga dan mengawal keutuhan perjanjian tersebut dengan cara sekali-kali tidak melanggar perjanjian ini. Setiap konflik harus diselesaikan dengan cara damai lewat masing-masing kelompok.

Definisi Perdamaian
Dari sini, perdamaian dapat berarti penghentian permusuhan dan konflik yang dapat menyebabkan kondisi yang tidak harmonis dalam jiwa manusia. Karena sifat dasar manusia adalah ingin selalu hidup dalam kebaikan dan kedamaian.

Untuk mewujudkan sikap saling berdamai, maka dibutuhkan satu hubungan praksis yang dapat mempertemukan semua manusia pada kondisi tenang dan damai. Sehingga jadilah kata salaam menjadi sebuah ucapan doa sekiranya manusia dianugerahkan keterhindaran dari segala bencana dan mara bahaya yang sewaktu-waktu dapat menimpanya.

Pakar tafsir Indonesia, M. Quraish Shihab, secara implisit mendefinisikan perdamaian dengan "batas antara keharmonisan (kedekatan) dan perpisahan, serta batas antara rahmat dan siksaan." Menurut Quraish, damai terbagi menjadi dua, yakni damai pasif dan damai positif. Damai pasif adalah perkataan yang diucapkan apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, tetapi tidak mengakibatkan kekurangan atau kecelakaan. Adapun damai positif adalah ucapan selamat (congratulation) dari seseorang kepada orang lain yang mendapatkan kesuksesan dalam usahanya atau karirnya.

Perdamaian positif adalah sebuah kondisi damai di mana ada harapan akan terwujudnya pola peningkatan hidup dari fase-fase kehidupan yang dilalui manusia. Lebih lanjut John Galtung membagi perdamaian positif ini menjadi beberapa bagian; pertama, perdamaian alam yaitu sebuah perdamaian di mana antarspesies makhluk hidup lebih mementingkan kerja sama antarspesies ketimbang melakukan pertarungan.

Kedua, perdamaian positif langsung. Ini terdiri atas kebaikan verbal dan fisik, baik bagi tubuh, pikiran dan jiwa diri dan orang lain. Perdamaian semacam ini biasanya ditujukan untuk semua kebutuhan dasar, kelangsungan hidup, kesejahteraan, kebebasan, keadilan dan identitas. Seperti cinta dan keindahan adalah lambang dari penyatuan tubuh, pikiran dan jiwa.

Ketiga, perdamaian positif struktural. Perdamaian tipe ini ditandai dengan tergantikannya bentuk-bentuk penindasan dengan kebebasan, eksploitasi dengan persamaan (equality). Hal ini bisa diperkuat dengan cara melakukan dialog dan bukan penetrasi, integrasi dan bukan segmentasi, solidaritas dan bukan fragmentasi, serta partisipasi masyarakat dan bukan melakukan upaya-upaya marginalisasi. Perdamaian jenis ini juga berlaku untuk perdamaian dalam, yang salah satu tugasnya adalah menciptakan harmonisasi antara tubuh, pikiran dan jiwa.

Ketika berbicara tentang perdamaian positif struktural, maka mau tidak mau kita berhadapan dengan institusi negara dan sekian banyak undang-undang yang mengatur negara tersebut. Terbentuknya suatu negara ada yang berdiri akibat peperangan dan ada pula yang berdiri secara alamiah. Dalam ilmu negara, ada yang dikenal dengan yang namanya "teori alamiah" tentang asal mula timbulnya negara. Teori ini untuk pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles, seorang filsuf Yunani kuno. Menurutnya, negara merupakan ciptaan alam, karena manusia adalah makhluk politik (zoon politicon) yang tidak dapat hidup tanpa masyarakat. Karena sifat dasarnya inilah akhirnya manusia menciptakan masyarakat politik (negara).

Islam dan Perdamaian 
Konsep Islam tentang perdamaian sangat menyeluruh, tidak hanya dengan alam dan manusia (sebagai makhluk individu dan sosial), melainkan juga dikaitkan dengan landasan transendental. Definisi perdamaian (salaam) yang dikenal di dalam Al-Quran tercermin dalam ayat berikut.

"Aku menyerahkan wajahku (diriku) kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku" (QS. Ali 'Imran [3]: 20).

Menyerahkan wajah kepada Allah, berarti menyerahkan seluruh totalitas jiwa dan raga kepada-Nya, rela diatur berdasarkan syariat-Nya, sehingga menjadikan hatinya tenteram dan damai. Karena, Allah mensyariatkan agama ini alam tafsir al-Maragi dan al-Manar dengan dua aspek:
1. Menyucikan jiwa dan membersihkan akal dari polusi akidah dengan kekuasaan Allah akan perkara yang gaib bagi makhluk-Nya.
2. Membersihkan hati dengan perbuatan baik serta niat yang lurus karena Allah dan untuk manusia.

Dalam Al-Quran, muslim sejati adalah orang yang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan syirik kepada ar-Rahman, tulus ikhlas dalam amalnya yang dilandasi iman yang kokoh di mana pun, dalam kondisi bagaimana pun, pada setiap masa dan tempat (QS. Ali 'Imran [3]: 85). Karena itu, Allah menyeru kepada manusia untuk memeluk Islam secara kaffah (total) (QS. al-Baqarah [2]: 208).

Pembagian Studi Perdamaian Pendekatan Sosial dan Agama
Para pemerhati studi perdamaian umumnya membagi studi perdamaian ini menjadi tiga cabang jika dilihat dari sudut pandang ilmu-ilmu sosial. Jika kajian agama dalam studi perdamaian kita masukkan, maka akan ada sedikitnya empat pendekatan dalam pembagian studi perdamaian, yaitu:
1. Studi perdamaian empirik, studi ini didasarkan kepada empirisisme yakni dengan usaha melakukan perbandingan sistematis antara teori dan realitas empirik (data). Jika teori tidak sesuai dengan data-data, maka akan terjadi perubahan pada teori. Dalam studi ini, realitas empirik (data) ditempatkan lebih kuat daripada teori.

2. Studi perdamaian kritis, studi ini didasarkan kepada kritisisme, yakni dengan usaha melakukan perbandingan sistematis antara realitas empiris (data) dengan nilai-nilai. Jika realitas tidak sesuai dengan nilai-nilai, maka sedapat mungkin mengubahnya dengan perkataan ataupun tindakan nyata. Dalam studi ini posisi nilai ditempatkan lebih tinggi daripada realitas empirik.

Tugas studi perdamaian kritis ini adalah mengevaluasi data atau informasi mengenai masa sekarang, khususnya kebijakan-kebijakan sosial, ekonomi dan politik, dilihat dari nilai-nilai perdamaian. Hasil akhir dari pendekatan teori ini bisa dilihat dari kesesuaian atau ketidaksesuaian, sejalan atau tidak sejalannya antara realitas dan nilai-nilai. Kesimpulan akhir dari teori ini bukanlah kesimpulan empiris 'teori/nilai salah', tetapi kesimpulan kritis 'realitas buruk/salah'. Sebab, paradigma teori ini melihat ketidakcocokan atau ketidaksejalanan bukan alasan untuk mengubah nilai-nilai, tetapi ia adalah berguna untuk mengubah realitas, sehingga diharapkan data yang akan datang dapat memperlihatkan kecocokan (mendekati/sejalan) dengan nilai-nilai.

3. Studi perdamaian konstruktif, studi ini didasarkan kepada konstruktivisme, yakni dengan upaya melakukan perbandingan sistematis antara teori dan nilai-nilai. Jika teori tidak sejalan dengan nilai-nilai, maka teori harus disesuaikan dengan nilai tersebut, hingga dengan demikian dapat diharapkan akan menghasilkan visi tentang realitas baru. Dalam studi ini nilai lebih kuat daripada teori.

Pendekatan konstruktif ini menggunakan teori-teori mengenai apa yang dapat berhasil dan menyatukannya dengan nilai-nilai apa yang dapat mempertemukannya. Teori ini biasanya dilakukan oleh para arsitek dan teknisi, yang menciptakan habitat-habitat baru. Pendekatan teori ketiga ini sedikit lebih maju dibanding dua teori sebelumnya. Sebab, pendekatan pertama hanya mengubah teori-teori yang tidak bersesuaian dengan fakta atau data dan si peneliti (empirisis) cukup puas dengan studi empiris tentang fosil dan peninggalan kuno lainnya. Tapi jika hanya kritis (kritisis), kita akan puas hanya dengan statemen-statemen tentang kelemahan-kelemahan sesuatu yang sudah ada, entah itu kebijakan-kebijakan atau keputusan-keputusan.

Beda halnya dengan pendekatan konstruktivisme, ia melebihi apa yang telah dihasilkan oleh pendekatan empirik, karena adanya upaya untuk tampil membangun dan lebih progresif. Namun antara keduanya, pendekatan kritis akan sangat berguna sebagai penghubung antara studi empiris dan studi konstruktif, sebab di dalamnya terdapat nilai-nilai yang menjadi spirit bagi setiap usaha yang akan dilakukan menuju proses perdamaian. 

4. Studi perdaiaman pendekatan agama, studi ini lebih didasarkan kepada dalil-dalil kitab suci. Sebab, semua agama mengajarkan akan pentingnya ajaran tentang perdamaian. Jika agama dijadikan solusi dari sebuah konflik diri, sosial, politik dan hukum, maka agama—khususnya agama Islam—mengajarkan dan menuntun manusia untuk mengembalikan konflik, perkara, dan perselisihan antarsesama manusia dengan kembali kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul-Nya (sunah Nabi saw). Jika demikian halnya, maka dengan menjadikan landasan nilai-nilai ini sebagai pijakan dan pedoman meniti kehidupan, sangat penting untuk memahami dengan lebih baik hubungan vertikal kepada Allah dan hubungan horizontal kepada sesama manusia yang dikenal dengan hablun minal-llah dan hablun minan-naas.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, segala bentuk aktivitas yang kita lakukan selalu menyentuh pada tiga aspek, yakni hubungan dengan Tuhan, manusia dan alam. Ketiga aspek ini dapat diperkecil dengan hanya memfokuskan pada Tuhan dan alam. Alam bisa dibagi menjadi jagat semesta yang dalam kajian filsafat disebut sebagai makrokosmos dan manusia yang disebut sebagai mikrokosmos.

Ketiga aspek di atas, membentuk pola hubungan tiga dimensi yang dapat digambarkan dengan segitiga piramida. Dalam segitiga piramida ini, Tuhan "ditempatkan" pada posisi puncak sebagai Sang Khalik, sementara Manusia dan alam ditempatkan pada dua posisi yang lain dalam kesejajarannya sebagai makhluk-Nya. 
Blog, Updated at: 01.33

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts