Napak Tilas Ajaran Ki Hajar Dewantara Dalam Pendidikan Seni

Napak Tilas Ajaran Ki Hajar Dewantara Dalam Pendidikan Seni 
Napak tilas perjalanan panjang Pendidikan Seni (sekarang Pendidikan Seni Budaya) di Indonesia, dimulai dari kurikulum pendidikan dasar pasca kemerdekaan tahun 1947. Sebenarnya, Pendidikan Seni yang pada waktu itu disebut dengan pelajaran: (1) Seni Suara; dan (2) Menggambar, sudah mampu berdiri minimal sejajar dengan pelajaran-pelajaran lain, seperti Bahasa Indonesia, Berhitung, Ilmu bumi, Budi Pekerti, Menulis, dan pelajaran lainnya. Sepeninggal Dewantara tahun 1959, pada tahun 1964, Seni Suara berubah menjadi Pendidikan Kesenian pada kelompok Perkembangan Emosional/artistik, ruang lingkupnya antara lain: Seni Suara/Musik, Seni Lukis/Rupa, Seni Tari, Seni Sastra/Drama, dengan alokasi waktu 2 jam perminggu untuk klas I & II, dan 4 jam perminggu untuk klas III-VI.

Arti dari Ajaran Ki Hajar Dewantara – Tutwuri Handayani) – Salah satu Ajaran dari Ki Hajar Dewantara yang sangat populer adalah “Seorang pemimpin harus memiliki tiga sifat yang terangkum pada: Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”, dimana ketiga kalimat tersebut memiliki arti sebagai berikut: 
  • Ing Ngarso Sun Tulodo artinya Ing ngarso itu didepan / dimuka, Sun berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang – orang disekitarnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri tauladan. 
  • Ing Madyo Mangun Karso, Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna dari kata itu adalah seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat . Karena itu seseorang juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan suasana yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan. 
  • Tut Wuri Handayani, Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang – orang disekitar kita menumbuhkan motivasi dan semangat. 
Saatnya Mengingat Kembali Ajaran Ki Hajar Dewantara
[[Suwardi Suryaningrat]] atau lebih dikenal dengan sebutan [[Ki Hajar Dewantara]] merupakan [[Pahlawan Nasional]] di bidang pendidikan. Jasa-jasanya terhadap pendidikan [[Indonesia]] bisa dibilang tidak sedikit. Beliau mendirikan sekolah [[Taman Siswa]] yang merupakan sekolah [[Pribumi]] pertama pada jaman penjajahan belanda. Cukup sudah tentang Ki Hajar Dewantoro, kita tidak akan membahas beliau disini. Terlalu panjang untuk dibicarakan, mengingat banyaknya jasa-jasa beliau. 

Yang ingin saya ulas disini adalah tentang ajaran beliau yang menjadi slogan pendidikan diIndonesia. Ajaran itu adalah Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Hal ini dimuat di buku sejarah seluruh Indonesia. Ada yang belum tahu? Kalo anda belum tahu, kemasi barang-barang anda dan pergilah dari bumi [[Nusantara]] ini, karena anda pasti bukan orang Indonesia. Adil kan? 

Ing Ngarso Sung Tuladha dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar artinya kira-kira adalah “Siapa yang di depan harus memberi contoh“. Frase “Siapa yang didepan” ini, aku artikan sebagai pemimpin, pengajar atau orang yang lebih tua atau dituakan. Pemimpin tentunya sangat luas, namun untuk konteks bangsa dan negara,tentu lebih ditekankan pada pemimpin publik semisal Bupati/Walikota, Gubernur dan Presiden. 

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. Bukan saja tidak bisa hidup tanpa manusia lainnya, sikap dan kemampuan manusia juga dipengaruhi oleh manusia lainnya. Dari dasar itulah pentingnya contoh nyata atau role model yang dalam bahasa sansakerta disebut Tuladha. Tentunya contoh yang buruk akan membawa hal yang buruk, contoh yang baik akan membawa pada hal yang baik. Nah, pertanyaannya, apakah generasi tua sekarang ini, sudah memberi contoh yang baik bagi generasi muda? Apakah guru saat ini bisa memberi contoh yang baik kepada muridnya? Apa generasi muda sekarang bisa menjadi role model untuk yang lebih muda? You already know the answer.

Yang kedua, Ing Madyo Mangun Karso. Diartikan sebagai: “Siapa yang ditengah, dia ikut membantu, membantu yang diatasnya dan membimbing yang dibawahnya“. Yang di tengah ini bisa diartikan siapa saja yang posisinya berada di secara hirarki ada di tengah. Bisa di pemerintahan, bisa di perusahaan, bisa di sekolah, dan juga keluarga. Intinya adalah ia harus membantu lancarnya tugas yang diatasnya dan membantu membimbing yang dibawahnya. 

Sedangkan, Tut Wuri Handayani adalah “Siapa yang di belakang mengikuti/mensupport yang diatasnya“. Bukan berarti mengikuti secara buta. Namun mengikuti secara aktif, sambil mengingatkan. Kalo-kalo yang diatasnya ada kesalahan. Mengkritik adalah hal yang halal disini. Tapi mengkritik juga harus reasonable, jangan asal omong doang. Mengkritik itu boleh, asalkan jelas dan memberikan solusi yang supportif. Membuat hal yang dikritik tadinya kurang baik menjadi lebih baik. Bukan asal jeplak, asal ngomong. Yang seperti itu bukan ciri bawahan yang Tut Wuri Handayani. 

Ajaran ini sebenarnya tidak bisa dipisah-pisah penerapannya. Seorang manusia pasti bisa mengalami tiga posisi sekaligus. Misalnya seorang laki-laki di kantor dia seorang manager (tengah), di rumah dia seorang ayah (atas) dan di negara dia seorang rakyat (bawah). Tentunya diharapkan ajaran ini ada pada setiap manusia Indonesia, sehingga dimanapun dia berada, dimanapun posisi hirarkinya, dia bisa menjalankan perannya dengan baik. Menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya. Sesuai harapan para pendiri bangsa ini yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945. *berasa guru PPKn

Masih ada lagi lho ajaran Ki Hajar Dewantara yang sudah jarang terdengar sekarang. Ajaran itu adalah Legawa, Satya, Prasaja dan Belaka. Legawa artinya rela menerima, Satya adalah setia, Prasaja adalah bersahaja/sederhana dan Belaka artinya terbuka (CMIIW). Sepertinya ajaran-ajaran ini sudah jarang sekali diterapkan oleh orang-orang yang berada pada posisi Ing Ngarso Sung Tuladha, para pemimpin bangsa ini. Bisa diliat di tipi bagaimana mereka tidak bisa Legawa dengan kekalahannya, tidak malu akan kesalahannya, tidak mau mengakui kalo lawannya benar, dan lain-lain. Silahkan lihat di televisi, banyak kok sekarang. 

Kata almarhum Kakek saya, jika seseorang bisa mengamalkan semua hal diatas, mulai dari yang pertama sampai yang terakhir, maka dia bisa disebut sebagai “SATRIA” dan seperti itulah PEMIMPIN SEJATI. Semoga pada generasi sekarang dan mendatang akan tercipta satria-satria Indonesia yang bisa memberi contoh, membimbing, kritis, setia, bersahaja, ikhlas dan berpikiran terbuka.

Kalimat yang terkait dengan diatas ki hajar dewantoro. Ki Hajar Dewantara. ajaran ki hajar dewantara. kihajar dewantara. kata-kata bijak ki hajar dewantara. kata mutiara dari ki hajar dewantara. arti bhakti satya legawa. kata mutiara ki hajar dewantara. makalah tentang ki hajar dewantara. siapakah yang dimaksud ki hadjar dewantara. makalah ajaran kihajar dewantara. Makalah ajaran ki hadjar. makalah mengenai arti ajaran dari ki hajar dewantara. makalah ajaran ki. makna ing ngarso sung tuladha dalam dunia kesehatan. pengertian kata role model. kata2 ki hajar dewantara. artikel fakta tentang jasa-jasa ki hajar dewantoro. CONTOH MAKALAH AJARAN KI HAJAR DEWANTARA. contoh penerapan slogan ing madyo mangun karso dalam perusahAan. ing ngarso sung tuladha ing madya mangun karsa tut wuri handayani. Kata kata mutiara tentang mengingat jasa para pejuang. kata mutiara bahasa ki hajar dewantara. kata-kata bijak dari ki hajar dewantara. kata-kata mutiara dari ki hajar dewantara. kata-kata mutiara kihajar dewantara. ucapan bijak ki hajar dewantara.
Blog, Updated at: 22.42

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts