Pendekatan Bibliometrik Dalam Komunikasi Ilmiah

Pendekatan Bibliometrik Dalam Komunikasi Ilmiah 
Ilmu Pengetahuan berkembang pesat sejak diketemukannya mesin cetak sebagai sarana pengganda hasil informasi terekam. Dampak dari mesin cetak adalah meningkatnya jumlah literatur ilmiah dalam berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan. Peningkatan kuantitas literatur ilmiah serta kemudahan memperoleh informasi sangat menunjang perkembangan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan terus meningkatkan produktivitas ilmuwan dalam melakukan penelitian, percobaan dan inovasi. Meningkatnya produktivitas karya ilmiah yang dihasilkan ilmuwan akan mendorong terbitnya media komunikasi ilmiah yang mengkomunikasikan hasil kegiatan ilmiah, dari seorang ilmuwan dengan ilmuwan lain pada masanya maupun masa sebelum dan sesudahnya. Media komunikasi yang dimaksud dapat berupa buku atau majalah ilmiah.

Peningkatan intensitas komunikasi ilmiah dan perkembangan ilmu pengetahuan, meningkatkan kerjasama antar ilmuwan dalam menghasilkan karya sama. Dalam komunikasi ilmiah, karya sama antar lebih dari satu orang dan/atau lembaga untuk menghasilkan karya sama disebut kolaborasi. Kajian kolaborasi merupakan salah satu dari metode bibliometrika, yang bertujuan memberikan gambaran tentang cara mengukur dan menganalissa proses komunikasi terekam. 

Bibliometrika merupakan bagian dari informetrika yang mengkaji aspek kuantitatif informasi terekam (recorded) dengan tujuan untuk mencari bentuk-bentuk keteraturan dalam proses komunikasi formal. Menurut Boyce, Meadow, dan Kraft, (1994) Bibliometrika merupakan studi mengenai produksi dan penyebaran informasi yang secara operasional dikaji melalui produksi dan penyebaran media yang merekam informasi untuk disimpan dan disebarluaskan. 

Bibliometika adalah aplikasi metode statistik dan matematik terhadap buku dan media lainnya dari komunikasi terekam (Prithchard, 1969:349) atau suatu kajian kuantitatif dari literatur yang digambarkan dalam bibliografi (white dan Mc.Cain, 1989:119).

Istilah bibiometika myulai diperkenalkan tahun 1969 oleh Pritchard tahun 1969 yang menggunakannya untuk mengkaji proses komunikasi tertulis secara kuantitatif. Fairthone (1969) mendefinisikan bibliometrika sebagai kajian kuantitatif dari komunikasi tercetak dan sifat-sifat yang ditimbulkan. Definisi Fairthone menunjukkan bahwa penerapan bibliometrika terbatas pada pengkajian secara kuantitatif informasi terekam. Patter )dalam Sengupta, 1992:77) memberikan definisi sedikit berbeda , yaitu sebagai kajian dan ukuran dari pola publikasi dalam semua bentuk komunikasi terekam dan penulisnya, sedangkan Nicholas dan Richie pada tahun 1978 menekankan bahwa lingkup kajian bibliometik bertujuan untuk menyediakan informasi tentang pengetahuan dan bagaimana mengkomunikasikannya.

Dalam bibliometrika, yang dikaji adalah informasi terekam, khususnya informasi dalam bentuk grafis. Dengan demikian objek kajiannya adalah buku, pengarang (hasil karyanya), majalah, laporan penelitian disertasi dan sebagainya. Pada kenyataanya kajian bibliometrik lebih banyak ditujukan kepada majalah ilmiah, karena majalah jenis ini diangap menduduki peran (ter) penting dalam komunikasi ilmiah (Basuki. 1990;16)

Kajian bibliometika merupakan penerapan dari sosiologi ilmu pengetahuan (Wallace, 1987:47). Selain sebagai penerapan sosiologi ilmu, kajian bibliometrik juga digunakan untuk analisis sitasi guna meneliti kualitas publikasi individu, peneliti unggulan dan wibawa lembaga penelitian (Lawani, 1981:311) Penerapan lainnya dalam kajian bibliometrik adalah penelitian kolaborasi.

Kajian Analisis Sitiran
Analisis sitiran antara lain digunakan untuk mengukur kesamaan atau hubungan antara pasangan dokumen. Menurut Ikpaahindi (1985) metode bibliometrika dapat dilakukan dengan cara penghitungan sitiran langsung (direct citation counting), pasangan bibliografi (bibliographic coupling) dan analisis co- sitiran (co-citation analysis). Metode tersebut didasarkan pada hubungan anatara dokumen yang disitir dengan dokumen yang menyitir.

Hubungan antara dokumen yang disitir dengan dokumen yang menyitir dapat ditelusuri melalui motivasi, tujuan, dan fungsi sitiran. Frost (1979) seperti dikutip oleh Liu (1993) mengemukakan bahwa fungsi sitiran dalam bidang humaniora dapat diklasifikasikan sebagai dokumentasi sumber primer dan sekunder untuk mendukung opini dan pernyataan faktual baik di dalam maupun di luar topik dokumen yang menyitir terhadap dokumen yang disitir, dan untuk menyediakan informasi bibliografi.

Hodges (1978) seperti dikutip oleh Liu (1993) mengidentifikasi indikator hubungan antara dokumen yang disitir dengan dokumen yang menyitir yaitu sebagai penjelasan, memberikan informasi umum, hubungan historis, hubungan “saudara kandung”, hubungan operasional, hubungan kolaboratif, memberikan informasi spesifik, dokumentasi, hubungan metodologis dan hubungan korektif.

Liu (1993) juga mengutip hasil penelitian Perist (1983) yang mengklasifikasikan fungsi sitiran dalam bidang ilmu sosial dan ilmu-ilmu yang berhubungan yaitu sosiologi, pendidikan, demografi, epidemiologi, dan perpusatakaan. Ditemukan bahwa fungsi sitiran dalam bidang ilmu tersebut dapat diklasifikasikan sebagai: penempatan tahapan studi, memberikan informasi latar belakang, acuan metodologi (disain dan analisis) memberikan komparasi, memberikan argumentasi/spekulasi/hipotesis, dokumentasi, dan memberikan informasi secara kebetulan. Sementara itu dari sumber yang sama ditemukan kutipan dari Cole (1975) yang mengklasifikasikan fungsi sitiran sebagai berikut: memberikan informasi implisit dalam analisis, mendukung dan mengesahkan ide dan interpretasi pengarang, memperluas dan memodifikasi teori yang digunakan sebagai bagian dari teori yang dimiliki pengarang, digunakan untuk menginterpretasikan hasil studi, digunakan untuk memformulasikan masalah penelitian dan lain-lain.

Dari berbagai fungsi sitasi seperti yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa antara dokumen yang disitir dan dokumen yang menyitir terdapat hubungan subyek pada tingkat tertentu. Berdasarkan hubungan tersebut maka dapat dicari hubungan antara 2 (dua) dokumen yang menyitir dokumen yang sama. Kessler (1963) berusaha mencari hubungan antara kedua dokumen tersebut dengan memperkenalkan konsep pasangan biblografi (bibliographic coupling) yang menyatakan bahwa bila 2 (dua) dokumen menyitir paling sidikit satu dikumen yang sama , maka kedua dokumen tersebut berpasangan secara bibliografi. Kemudian Kessler (1965) membandingkan pasangan bibliografi dengan pengindeksan subyek. Dari penelitiannya disimpulkan bahwa ada hubungan yang nyata antara pasangan bibliografi dengan pengindeksan subyek secara analitik.

Banyaknya dokumen yang disitir secara bersama oleh pasangan dokumen disebut sebagai frekuensi pasangan atau kekuatan pasangan (Coupling strength) Dari penelitian ditemukan adanya hubungan antara kekuatan pasangan dengan keterhubungan subyek antara dua dokumen (Harter , 1971 ; Vladuzt dan Cook, 1984; Hasibuan, 1995)

Adanya hubungan antara pasangan bibliografi dengan keterhubungan subyek dimanfaatkan untuk memperbaiki efektivitas temu kembali informasi. Ditemukan bahwa efektivitas temu kembali meningkat dengan menggunakan pencarian berdasarkan kata kunci atau indeks dan pencarian sitasi (Chapman dan Subramanyam, 1981; White, et al, 1984: Pao, 1986; Pao dan Worthen, 1989; Mc Cain, White dan Griffith, 1987; Mc.Cain , 1989; Shaw, 1990; Pao, 1993)

Kajian Kolaborasi 
Kajian kolaborasi digunakan untuk mengetahui produktivitas penulis dan untuk menghitung tingkat kolaborasi, berdasarakan asal organisasi dan kedudukan penulis. Pendekatan lainnya digunakan untuk membandingkan tingkat kolaborasi antar lembaga dan antar disiplin ilmu dalam suatu negara serta kondisi yang melatarbelakangi penulis dalam melakukan kolaborasi.

Kolaborasi merupakan terjemahan dari kata colaboration yang artinya kerjasama, namun dalam hal ini lebih tepat dipergunakan istiulah kolaborasi karena dalam berbagai kejadiaan, khususnya sejarah dikenal istilah kolaborator (Basuki, 1990: 12). Istuilah kolaborasi mempunyai pengertian yang mencakup semua kegiatan yang ingin dicapai dan mempunyai tujuan serta manfaat sama, sedangkan pengertian istilah kerjasama mengacu pada cara pengertian mencapai tujuan masing-masing dengan cara bekerja sama. Dalam hal ini, walaupun tujuan yang ingin dicapai sama tetapi tidak selalu menguntungkan kedua belah pihak. Kerjasama atau kolaborasi terjadi apabila lebih dari satu orang/lembaga bekerjasama dalam suatu kegiatan penelitian dengan memberikan sumbangan dalam bentuk ilmu pengetahuan dan tindakan yang sifatnya intelektual maupun material (Subranyaman, 1983:34)

Kerjasama oleh beberapa penulis lebih dari satu orang sudah banyak dilakukan, terutama dalam bentuk pengembangan ilmu pengetahuan. Lazimnya ilmuwan tidak bekerja secara sendirian dalam mengembangkan ilmu pengetahuan karena mereka saling membutuhkan. Kerjasama penelitian secara internasional yang dilakukan antara ilmuwan Cina dengan ilmuwan Amerka diberi nama Sino-American, yaitu kerjasama dalam penelitian biomedical dan training (Malbon, 1991)

Konsep kolaborasi tumbuh dari anggapan bahwa ada kalanya karya penelitian tidak dapat dikerjakan seorang diri, sehingga dibutuhkan bantuan penuls lain. Jika dilihat dari sumbangannya , bantuan tersebut dapat bermacam-macam bentuknya. Bantuan dalam penelitian dapat berupa penyediaan sumber data, korespondensi lewat surat, pertukaran gagasan, kunjungan ke laboratorium di tempat lain, dan tukar menukar makalah (Frame dan Carpenter, 1979: 481). Jika dilihat dari bentuk kerjasama antar ilmuwan dalam menghasilkan suatu karya sama maka dikenal bentuk kolaborasi sebagai berikut: 
  • Kolaborasi dosen-mahasiswa. Kolaborasi bentuk ini terjadi jika dosen dan mahasiswa melakukan kerja sama untuk menghasilkan karya sama. Kolaborasi bentuk ini sering dijumpai dilingkungan perguruan tinggi, dimana dosen memberikan gagasan dan petunjuknya, dan mungkin berikut biayanya, sedangkan asisten dosen dan mahasiswa yang melaksanakannya. Hasilnya berupa laporan penelitian, makalah atau artikel dengan mencantumkan nama dosen dan mahasiswa. 
  • Kolaborasi sesama rekan sejawat. Kolaborasi ini merupakan bentuk kerjasama yang dilakukan oleh beberapa orang dalam satu lingkungan kerja, untuk menghasilkan satu karya sama. Kolaborasi ini sering terjadi di lembaga-lembaga penelitian, dimana beberapa orang melakukan penelitian secara bersama, baik dalam bentuk suatu penelitian atau lebih, dan masing-masing orang menyumbangkan keahliannya dalam berbagai aspek penelitian. 
  • Kolaborasi penyelia (supervisor) asisten. Kolaborasi jenis ini merupakan karya sama antara peneliti dengan asistennya. Dalam penelitian yang dilakukan di laboratorium, adakalanya peneliti urtama berkolaborasi dengan asisten laboratorium atau teknisi laboratorium. 
  • Kolaborasi Peneliti-konsultan. Kolaborasi semacan ini biasanya dilakukan dalam skala besar. Untuk penelitian perorangan atau oleh satu tim, peneliti dapat bekerjasama dengan konsultan atau lembaga konsultan, khususnya dalam hal pengumpulan data serta pengolahan dan analisis data. 
  • Kolaborasi antar lembaga. Ilmuwan dan teknisi dari lembaga yang berbeda bekerjasama dalam melakukan penelitian yang berguna untuk masing-masing lembaga tersebut. 
  • Kolaborasi Internasional. Kolaborasi yang menyangkut beberapa negara atau kerjasama penelitian antar ilmuwan/peneliti dari beberapa negara. Kolaborasi internasional lebih cenderung mengacu tepat jika dilihat pada lokasi penelitian, sehingga ada kolaborasi lokal, regional, nasional dan internasional. 

Kajian bibliometrik terhadap karya kolaborasi lebih banyak ditujukan pada ko-penulis dari pada sub-penulis, karena parameternya lebih jelas, batasnya tampak dan mudah diukur. Pada konsep ko-penulis, kolaborasi dikerjakan secara bersama-sama dan nama-nama pengarang disebutkan satu persatu dalam karyanya, sedangkan pada konsep sub-penulis, merupakan penulis yang memberikan bantuan teknis dan teoritis, sehingga namanya tidak disebutkan dalam karyanya sebagai pengarang. Untuk menghargai jerihnya biasanya nama sub-penulis disebutkan dalam pendahuluan atau catatan kaki. Selanjutnya, dalam kajian kolaborasi yang menjadi objek penelitiannyanya adalah co-penulis, sesuai dengan pertimbangan yang diberikan Subranyaman (1983:34) tentang kemudahan yang terdapat pada kajian ko-penulis antara lain: 
  • tidak bervariasi 
  • mudah diperoleh dan dihitung 
  • dapat dihitung 
  • non-aktif artinya proses penilaian kolaborasi tidak mempengaruhi terjadinya proses kolaborasi itu sendiri. 
Untuk ukuran kolaborasi, Egghe (1991) menyatakan bahwa kolaborasi biasanya diungkapkan melalui sebuah himpunan makalah yang ditulis secara bersama-sama atau ditulis kelompok peneliti. Kolaborasi menunjukkan kerjasama atau hubungan antar individu dalam kelompok sosial. 

SUMBER-SUMBER ARTIKEL DI ATAS :
Beaver, B de B and Rosen R. “Studies in Scientific Collaboration” Scientometrics 1(1), 1978:65-84
Clarke, Beverly L.” Multiple authorship trends in scientific papers,” Science 143 (3608) , 1964:822-824
Egghe, L. “Theory of collaborative Measures,” Information Processing & management, 27 (2-3), 1991:177-202
Fairthorne, Robert A. “Empirical hyperbolic distributions (Bradford-Zift-Medelbrot) for bibliometric description and prediction” Journal of documentation 25, 1969:319-343
Frame, J. Davidson and Mark P Carpenter. “International research collaboration” Social studies of science 9, 1979: 481-497
Lawani, SM. Bibliometric:Its theoritical foundation, methode and application. Libri 31(4), 1981:294-345
Malbon, Craig C. “Sino –American coolaboration in biomedical research and training” The America Physiological Society, 1991
Pao, Miranda Lee. “Coauthorship as communication measure,” Library research 2. 1981: 327-338
Price, Derek J de Solla. Little science big science. New York : Columbia University Press, 1963
Raptis, Paschalis. “Authorship characteristic in five international library sciencejournals,” Libri 4(1) 1992:35-52
Shaw, W.M” International Theory and scientific communication,” Scientometrics 3(3), 1981:235-249
Subramanyam, K. “Bibliometric studies of research collaboration a review,” Journal of Information Science, 6(1). 1983:33-38
Sulistyo Basuki.”Kolaborasi penulis kedokteran Indonesia 1981-1988” Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Ilmu Informasi 1(1), September 1993:1-15
Wallace, Danny P “A solution in search of a problem. Bibliometrics &Libraries” Library Journal, May I, 1987: 43-47.
White, Howard D; McCain, Katherine W.”Bibliometric”. Annual Review of Information Science and technology (ARIST),4, 1989:119-186
Blog, Updated at: 05.33

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts