SYSTEMATIC REVIEW SEBAGAI METODE PENELITIAN UNTUK MENSINTESIS HASIL-HASIL PENELITIAN

SYSTEMATIC REVIEW SEBAGAI METODE PENELITIAN UNTUK MENSINTESIS HASIL-HASIL PENELITIAN
Dalam Buku the World Report on Knowledge for Better Health (WHO, 2004) telah diungkapkan bahwa salah satu permasalahan dalam penelitian kesehatan adalah terkait dengan kurangnya pemanfaatan hasil penelitian oleh pengguna (the utilization of research results). Bahkan, permasalahan ini tidak saja terjadi di negara berkembang namun juga terjadi di negara maju. Pemanfaatan hasil penelitian oleh penentu kebijakan mencakup penyediaan fakta pada keseluruhan sekuensi proses kebijakan (policy process). 

Dalam sekuensi proses kebijakan, hasil penelitian mempunyai peran atau fungsi sebagai berikut: 
(i) membantu identifikasi masalah menjadi agenda kebijakan, 
(ii) membantu solusi masalah, 
(iii) membantu policy makers untuk berfikir alternatif (policy options) (baik menyangkut prioritas masalah maupun solusi), dan 
(iv) membantu justifikasi suatu kebijakan (keputusan) (Hass & Springer, 1998). 

Untuk memberikan fakta bagi pengguna (penentu kebijakan dan pelaksana pelayanan kesehatan), peneliti di samping harus mampu memberikan fakta yang valid dan komprehensif, ia juga harus mampu mengemas fakta tersebut dalam format yang mudah dipahami oleh penentu kebijakan. Word Health Organization (2004) menganjurkan bahwa terdapat hirarki metode penyajian fakta kepada pengguna sebagai berikut: 
(i) inovasi dalam ranah teori, metodologi dan penelitian dasar, 
(ii) laporan penelitian tunggal dan artikel,
(iii) sintesis hasil penelitian: (systematic review: meta-analisis, meta-sintesis), 
(iv) masukan untuk penentu kebijakan (actionable message: policy brief dan policy paper). 

Secara hirarkis, jenjang metodologi “research into action” agar mudah dipakai oleh penentu kebijakan, dapat diilustrasikan sebagaimana Gambar.
Gambar Hirarki Metodologi Penelitian untuk Masukan Kebijakan (WHO, 2004) 

Dari Gambar di atas tampak bahwa dari penelitian tunggal, agar dapat dipakai oleh penentu kebijakan masih melalui dua tahap lagi, yakni sintesis (systematic review) dan pengemasan hasil penelitian menjadi pesan yang mudah dipahami (actionable messages) berupa policy brief dan policy paper. 

Dari hirarki penyajian fakta demi tercapainya penggunaan hasil penelitian, khususnya oleh penentu kebijakan, tampaknya selama ini berbagai lembaga penelitian di Indonesia termasuk Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, belum mengembangkan dan membudayakan metodologi sintesis hasil penelitian (meta-analisis, meta-sintesis) dan juga pengembangan format pesan yang mudah dipahami oleh penentu kebijakan (policy brief dan policy paper). Tulisan ini mencoba menyampaikan “sebuah pengantar” tentang systematic review sebagai metode kajian (metode penelitian) dalam menyajikan fakta kepada pengguna hasil penelitian (penentu kebijakan).

MENINGKATKAN PEMANFAATAN HASIL PENELITIAN 
Sebelum dibahas tentang metode systematic review, ada baiknya dibahas bagaimana meningkatkan pemanfaatan hasil penelitian untuk pengguna. Hasil penelitian tentunya dapat digunakan sebagai masukan dalam kebijakan strategik, kebijakan program, maupun kebijakan teknis operasional, tergantung dari disain dan karakteristik penelitian yang disajikan. Misalnya, hasil penelitian dari survei besar tentunya dapat digunakan untuk masukan kebijakan strategik (Rencana Pembangunan Jangka Menengah, Rencana Strategis); hasil penelitian evaluasi program atau pengembangan model pelayanan dapat digunakan untuk memperbaiki manajemen program; sementara hasil penelitian yang bersifat evaluasi teknis program dapat digunakan untuk perbaikan kebijakan teknis operasional di lapangan. 

Harus disadari bahwa aktor penentu kebijakan dan aktor peneliti adalah dua makhluk yang hidup pada dunia yang berbeda, sehingga masing-masing mempunyai karakteristik yang berbeda. Aktor penentu kebijakan hidup pada “dunia kebijakan” yang bercirikan politis, sementara aktor peneliti hidup pada “dunia penelitian” yang bercirikan ilmiah. Perbedaan karakteristik aktor penentu kebijakan dan aktor peneliti adalah sebagaimana ditunjukkan pada Tabel  

Perbedaan karakteristik antara aktor penentu kebijakan dan aktor peneliti inilah yang menyebabkan kendala dalam translasi hasil penelitian menjadi kebijakan. Oleh karena itu, pada era tahun 1980-an Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkenalkan suatu pendekatan khusus dalam manajemen proses penelitian, yang disebut dengan “client oriented research activities” (CORA) (Varkevisser et al., 2003). Pada dasarnya, prinsip CORA adalah mendorong (push) para peneliti untuk memahami dan masuk dalam dunia penentu kebijakan, dan menarik (pull) para penentu kebijakan untuk memahami dan masuk dalam dunia penelitian. Praktik riilnya dalam manajemen proses penelitian, adalah “bekerja bersama” mulai dari penetapan agenda riset, penyusunan proposal (penentuan pertanyaan penelitian), sampai kepada pemanfaatan hasil penelitian pada proses penetapan.

Tabel  Perbedaan Aktor Penentu Kebijakan dan Aktor Peneliti (World Helath Organization, 2004)
kebijakan (policy process). Proses persinggungan “bekerja bersama” antara aktor peneliti dan aktor penentu kebijakan digambarkan dalam model penelitian CORA sebagaimana diilustrasikan pada Gambar. Dalam gambar tersebut tampak bahwa publikasi hasil penelitian pada jurnal ilmiah tidak mempunyai dampak langsung kepada kebijakan, namun hanya memberi tambahan koleksi pada stok pengetahuan. Agar probabilitas pemanfaatan hasil penelitian menjadi meningkat, maka peneliti dan klien, yakni penentu kebijakan dan praktisi, harus “duduk bersama” pada tahap interface (a), yaitu identifikasi topik penelitian dan pertanyaan penelitian yang dibutuhkan, dan tahap interface (b), yaitu penyampaian hasil penelitian dalam format forum kebijakan, dan bukannya seminar ilmiah antar peneliti. Dengan “duduk bersama” pada Interface a (proses penelitian) dan Interface b (proses kebijakan), maka komunikasi antara “produsen” dan “konsumen” akan menjadi mesra (saling memahami), sehingga hasil penelitian akan dapat dimanfaatkan lebih optimal. 

RUANG LINGKUP SYSTEMATIC REVIEW 
Systematic review adalah suatu metode penelitian untuk melakukan identifikasi, evaluasi dan interpretasi terhadap semua hasil penelitian yang relevan terkait pertanyaan penelitian tertentu, topik tertentu, atau fenomena yang menjadi perhatian (Kitchenham, 2004). Studi sendiri (individual study) merupakan bentuk studi primer (primary study), sedangkan systematic review adalah studi sekunder (secondary study). Systematic review akan sangat bermanfaat untuk melakukan sintesis dari berbagai hasil penelitian yang relevan, sehingga fakta yang disajikan kepada penentu kebijakan menjadi lebih komprehensif dan berimbang.

Gambar Hubungan antara Riset dan Kebijakan dalam Perspektif Pemanfaatan Hasil Riset (Diadaptasi dari Hanney S.R. et al, 2002)

Banyak jaringan penelitian kesehatan maupun penelitian sosial di dunia yang melakukan systematic review. Setidaknya terdapat dua jaringan yang melakukan systematic review, yakni The Cochrane Collaboration dan The Campbell Collaboration. The Cochrane Collaboration merupakan jaringan yang melakukan systematic review di bidang penelitian kedokteran (medical research), sementara The Campbell Collaboration banyak melakukan systematic review di bidang penelitian kebijakan (penelitian sosial ekonomi). Dengan membuka website The Cochrane Collaboration, www.cochrane.org/resources, maupun website The Campbell Collaboration, www. campbellcollaboration.org/resources, akan dapat diunduh atau dibaca pedoman-pedoman untuk melakukan systematic review, maupun hasil-hasil systematic review terkait topik-topik tertentu. Kedudukan metodologi systematic review dalam metodologi penelitian dapat digambarkan sebagai irisan bawang (onion slice) seperti Gambar. 
Gambar  Kedudukan Metodologi Systematic Review dalam Metodologi yang Lain

Pada prinsipnya systematic review adalah metode penelitian yang merangkum hasil-hasil penelitian primer untuk menyajikan fakta yang lebih komprehensif dan berimbang. Sementara itu, metaanalisis adalah salah satu cara untuk melakukan sintesa hasil secara statistik (teknik kuantitatif). Cara lain untuk melakukan sintesis hasil adalah teknik naratif (teknik kualitatif). Dengan kata lain, metaanalisis adalah bagian dari metode systematic review dengan pendekatan kuantitatif. Selanjutnya, review yang tidak sistematis (traditional review) adalah metoda review (tinjauan) yang cara pengumpulan faktanya dan teknik sintesisnya tidak mengikuti cara-cara baku sebagaimana systematic review. Perbedaan systematic review dan traditional review ditunjukkan pada Tabel. 

Tabel. Perbedaan Systematic Review dan Traditional Review (Perry & Hammond, 2002)

Dari Tabel terlihat bahwa systematic review adalah menggunakan pendekatan metodologi penelitian yang sistematis, sementara traditional review tidak menggunakan metodologi penelitian yang baku, lebih kepada kemauan (inklinasi) penulis, terkait dengan ke arah mana tulisan akan dibawa. Contoh tulisan ilmiah yang menggunakan traditional review adalah tinjauan pustaka.

METODE SYSTEMATIC REVIEW 
Seperti pada metodologi penelitian individual, pada prinsipnya penelitian systematic review dimulai dengan membuat protokol penelitian systematic review dan tahap berikutnya melaksanakan penelitian systematic review. Secara sekuensial, proses penelitian systematic review ditunjukkan pada Tabel. 

Analog dengan metodologi penelitian secara umum, di mana terdapat metode kuantitatif dan kualitatif, maka dalam systematic review juga terdapat metode kuantitatif dan metode kualitatif. Metode kuantitatif systematic review adalah digunakan untuk mensintesis hasil-hasil penelitian dengan pendekatan kuantitatif. Misalnya, Randomized Control Trials (RCT), Cohort Study, Case-Control Study, atau studi prevalensi. Pendekatan statistik dalam melakukan sintesis hasil penelitian kuantitatif ini disebut dengan “meta-analisis”. Secara definisi, meta-analisis adalah teknik melakukan agregasi data untuk mendapatkan kekuatan statistik (statistical power) dalam identifikasi hubungan sebab akibat antara faktor risiko atau perlakuan dengan suatu efek (outcome) (Perry & Hammond, 2002). 

Sementara itu, pendekatan kualitatif dalam systematic review digunakan untuk mensintesis (merangkum) hasil-hasil penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif. Metode mensintesis (merangkum) hasil-hasil penelitian kualitatif ini disebut dengan “meta-sintesis”. Secara definisi, meta-sintesis adalah teknik melakukan integrasi data untuk mendapatkan teori maupun konsep baru atau tingkatan pemahaman yang lebih mendalam dan menyeluruh (Perry & Hammond, 2002). Sebagaimana telah disebutkan bahwa pengambilan data hasil penelitian dengan metode systematic review adalah melalui searching di internet (PubMed, MEDLINE, dan lain-lain). Maka kesulitan bagi peneliti adalah cara memperoleh data hasil-hasil penelitian tersebut, karena banyak penelitian boleh jadi belum dipublikasikan, atau ada kendala akses, misalnya, harus membayar sejumlah uang untuk akses ke internet. Untuk mengatasi kendala tersebut, maka sebaiknya proposal systematic review dapat dianggarkan secara resmi, untuk membiayai kunjungan ke berbagai perpustakaan atau membayar akses artikel di internet.

Tabel  Urutan Proses Penelitian Systematic Review (Perry & Hammond, 2002)

META-ANALISIS SEBAGAI METODE SYSTEMATIC REVIEW KUANTITATIF 
Sebagaimana telah disitir di depan bahwa metaanalisis adalah teknik statistik untuk mengkombinasikan temuan dari beberapa hasil penelitian terdahulu. Metaanalisis biasanya digunakan untuk menilai efektivitas intervensi klinis dengan mengkombinasikan beberapa hasil penelitian randomized control trials (RCT). Maka dari itu, meta-analisis merupakan pondasi (tulang punggung) dalam kedokteran berbasis fakta (evidence based medicine). 

Karena meta-analisis adalah metode mengkombinasikan hasil penelitian kuantitatif secara statistik (secara kuantitatif) maka langkah-langkah dalam melakukan meta-analisis adalah sama dengan langkah-langkah melakukan systematic review secara umum. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut (Perry & Hammond, 2002): 
1) Identifikasi pertanyaan penelitian (pertanyaan penelitian meta-analisis) 
2) Mengembangkan protokol penelitian metaanalisis 
3) Menetapkan lokasi data-base hasil penelitian sebagai wilayah pencarian (misalnya MEDLINE, PubMed) 
4) Seleksi hasil-hasil penelitian yang relevan 
5) Pilih hasil-hasil penelitian yang berkualitas 
6) Ekstraksi data dari studi individual 
7) Sintesis hasil-hasil penelitian dengan metode meta-analisis (funnel plot dan forest plot). 
8) Penyajian hasil penelitian dalam laporan penelitian hasil meta-analisis 

Langkah krusial dalam meta-analisis adalah pemilihan studi yang berkualitas. Karena apabila studi yang diikutkan dalam meta-analisis tidak berkualitas, maka tentunya hasil meta-analisis yang merupakan ukuran statistik dari kombinasi beberapa hasil penelitian akan tidak valid juga. Juga, dari beberapa review para ahli membuktikan bahwa peneliti akan cenderung mempublikasikan hasil yang positif sebagaimana dihipotesiskan sejak awal, dibanding mempublikasikan hasil yang berlawanan dengan hipotesis awal. Oleh karena itu, seleksi hasil penelitian yang berkualitas dan tidak mengandung bias merupakan kunci validitas hasil penelitian metaanalisis. Untuk itu, pepatah “garbage in garbage out” berlaku pada metodolgi penelitian meta-analisis. Untuk meminimalkan kelemahan ini, maka penetapan kriteria inklusi dan eksklusi harus jelas sehingga hasil penelitian yang terpilih dalam meta-analisis adalah benar-benar penelitian dengan variabel (topik) yang sama dan menggunakan metode yang sama. Saringan berikutnya adalah bahwa peneliti harus memilih penelitian yang benar-benar berkualitas. Jadi quality control terkait dengan penelitian yang akan dimasukkan dalam meta-analisis harus kuat. 

META-SINTESIS SEBAGAI METODE SYSTEMATIC REVIEW KUALITATIF 
Hampir sama dengan langkah-langkah systematic review kuantitatif, maka systematic review kualitatif mencakup langkah-langkah sebagai berikut (Francis & Baldesari, 2006): 
1) Memformulasikan pertanyaan penelitian (formulating the review question) 
2) Melakukan pencarian literatur systematic review (conducting a systematic literature search) 
3) Melakukan skrining dan seleksi artikel penelitian yang cocok (screening and selecting appropriate research articles) 
4) Melakukan analisis dan sintesis temuan-temuan kualitatif (analyzing and synthesizing qualitative findings) 
5) Memberlakukan kendali mutu (maintaining quality control) 
6) Menyusun laporan akhir (presenting findings) 

Dalam melakukan meta-sintesis (sintesis data kualitatif) terdapat 2 (dua) pendekatan, yakni metaagregasi (meta-aggregation) dan meta-etnografi (meta-ethnography) (Lewin, 2008). Pada metaagregasi, sintesis bertujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian (review question) dengan cara merangkum berbagai hasil penelitian (summarizing). Sementara, meta-etnografi, sintesis bertujuan untuk mengembangkan teori baru (new theory) dalam rangka melengkapi teori yang sudah ada. Pada meta-agregasi topik penelitian dielaborasi menjadi tema-tema tertentu untuk menghasilkan kerangka analisis (conceptual framework). Kemudian, dalam tema-tema tertentu tersebut dilakukan pencarian artikel hasil penelitian yang relevan dan dibandingkan dan dirangkum antar yang satu dengan yang lainnya. Pada pendekatan meta-agregasi, hasil sintesis merupakan “agregat” dari berbagai hasil penelitian sesuai dengan tema yang relevan. Contoh pendekatan meta-agregasi ini adalah systematic review dengan judul: “Pengalaman Pasien dengan Ulcus Pedis” (Patient’s Experience with Leg Ulcers) (Briggs et al, 2007). Penelitian ini bertujuan melakukan sintesis semua hasil penelitian kualitatif untuk mengeksplorasi pengalaman hidup pasien dengan ulcus kaki. Sumber literatur adalah semua publikasi kualitatif terkait dengan pengalaman hidup pasien dengan ulcus kaki melalui metode pencarian sistematik. Proses sintesis meliputi (i) tema-tema dan konsep dari studi yang relevan diekstraksi, (ii) hasil ekstraksi ini ditata menjadi temuan penting (utama), (iii) temuan-temuan dikelompokkan ke dalam kategori, (iv) kategori-kategori kemudian disintesis menjadi tema (disesuaikan dengan kerangka konseptual yang disusun). 

Pada meta-etnografi, pendekatannya adalah “interpretive” terhadap hasil-hasil penelitian studi primer. Karena pendekatannya adalah interpretive, maka teknik analisisnya bersifat “iteratif” (spiral). Hasilhasil penelitian studi primer dilakukan pemaknaan ulang (re-interpretasi) sehingga menghasilkan pemahaman baru atau teori baru. 

Contoh pendekatan meta-ethnografi ini adalah systematic review dengan judul: “Faktor-Faktor yang Berpengaruh pada Kepatuhan Berobat TB” (Munro et al, 2007). Tujuan penelitian ini adalah memahami faktor-faktor yang dilihat oleh pasien, keluarga dan tenaga kesehatan yang berpengaruh pada kepatuhan berobat TB. Sumber literatur adalah publikasi studi kualitatif mengenai pengalaman pengobatan TB yang diidentifikasi melalui pencarian sistematis. Proses sintesis mencakup (i) identifikasi tema-tema dari studi yang relevan, (ii) membandingkan tema dalam satu artikel dengan tema pada artikel lain, (iii) mengembangkan konsep yang lebih luas (konsep baru) yang mampu menangkap tema serupa dari artikel yang berbeda, (iv) mengkonstruksi kerangka baru untuk mengintegrasikan berbagai konsep dalam satu kesatuan. 

Dari masing-masing contoh systematic review denganpendekatanmeta-agregasidanmeta-etnografi, tampak bahwa metode sintesis meta-agregasi lebih kepada upaya merangkum (to aggregate) hasil-hasil penelitian yang relevan. Oleh karena itu, pada metode sintesis meta-agregasi harus dibuat terlebih dahulu kerangka konsep penelitian yang menggambarkan tema-tema yang saling terkait (berhubungan), kemudian hasil-hasil studi primer diplot pada tematema yang telah diidentifikasi. Dengan kata lain penyajian hasil lebih kepada melakukan agregat (deskriptif). Sementara, pada metode sintesis metaetnografi hasil temuan pada studi primer dilakukan interpretasi ulang (re-interpretasi) untuk mendapatkan pemahaman (pemaknaan) baru, dengan melakukan analisis cross-thematic secara iteratif, sehingga antara ekstraksi dan analisis tidak bersifat liner sekuensial. Pada sintesis meta-etnografi, analisisnya bersifat induktif interpretif. 

Terkait dengan penyajian fakta (evidence) untuk pengambilan keputusan dalam penentuan kebijakan, penulis melihat bahwa metode systematic review dengan pendekatan meta-agregasi merupakan pendekatan penting dalam rangka menyajikan fakta yang komprehensif dan berimbang untuk masukan pengambilan dalam penentuan kebijakan, baik terkait kebjakan strategis, kebijakan manajerial, maupun kebijakan teknis operasional. Untuk itu, ke depan penulis sarankan agar lembaga-lembaga penelitian termasuk Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan dapat mengembangkan metodologi systematic review (khususnya pendekatan metaagregasi) dan juga mengembangkan bahan masukan untuk penentu kebijakan dalam bentuk actionable messages (policy brief dan policy paper), guna meningkatkan utilisasi hasil penelitian. 

Kesulitan yang dihadapi peneliti pada metasintesis adalah hampir sama dengan meta-analisis, yakni teknik mendapatkan artikel yang berkualitas dengan tema yang diinginkan. Di samping itu, mengagregasikan atau melakukan re-interpretasi hasil penelitian kualitatif (naratif) dari berbagai hasil penelitian dengan konteks yang berbeda, membutuhkan pengalaman yang matang dari peneliti terkait analisis kualitatif. Solusi untuk masalah ini tentunya peneliti harus meningkatkan kemampuannya dalam analisis kualitatif. Bantuan perangkat lunak komputer khusus untuk analisis data kualitatif, seperti ATLAS, NUD.IST, dan lain-lain, kiranya juga sangat membantu peneliti. 
Blog, Updated at: 03.34

2 komentar :

  1. trimakasih, jadi tambah jelas

    BalasHapus
  2. scoping review, apa bedanya dg sistematic review ??

    BalasHapus

Popular Posts