AKTIVITAS BELAJAR, HASIL BELAJAR, METODE DISKUSI DAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

AKTIVITAS BELAJAR, HASIL BELAJAR, METODE DISKUSI DAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
Sebelum mempersiapkan penelitian, penulis terlebih dahulu mempelajari beberapa buku hasil karya para pakar pendidikan dan juga skripsi yang terkait dengan penelitian ini, untuk dijadikan dasar landasan teori. Sejauh pengamatan penulis ada skripsi yang membahas tentang pembelajaran melalui Metode Diskusi diantaranya: Pertama skripsi yang disusun oleh Penelitian Siti Julaekha 3198041 dengan judul “Pengaruh Aktifitas Mengikuti Metode Belajar Diskusi Terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Fiqih di MA Pondok Pesantren AlFadlu Kaliwungu Kendal” yang membahas tentang metode diskusi dari segi pengertian, tujuan, tehnik, kelebihan dan kelemahan. 

Sedangkan dalam penelitian skripsi ini akan membahas tentang keberhasilan metode diskusi dalam pembelajaran PAI yang akan dikomparasikan dengan metode tanya jawab, Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang. 2005. Kedua Skripsi yang disusun oleh Luluk Arifatul Kharida (4201405008), Mahasiswa fakultas MIPA UNNES Semarang, dengan judul “ Penerapan Model Pembelajaran diskusi untuk meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada pokok bahasan Elastisitas Bahan Kelas XI SMA Islam sultan Agung 1 Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dengan 2 siklus. 

Data hasil kognitif diperoleh dari nilai tes pada akhir siklus, sedangkan data aktivitas siswa dan aktivitas guru diperoleh dari lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas belajar dari siklus 1 ke siklus II, hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian pada siklus I, untuk hasil belajar kognitif sebesar 62,67 dengan ketuntasan 60%, untuk nilai aktivitas belajar sebesar 64,62 dengan ketuntasan 50%. Pada siklus II, untuk hasil belajar kognitif sebesar 72,31 dengan ketuntasan 86,67%, untuk nilai aktivitas belajar sebesar 76,42 dengan ketuntasan 86,67%.

Ketiga Skripsi yang disusun oleh Muntholib (073111508), mahasiswa fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, dengan judul “Penerapan Metode Diskusi untuk Meningkatkan Prestasi Mata Pelajaran Aqidah Akhlak Pokok Materi Menerapkan Akhlak Terpuji Kepada Diri Sendiri (Studi Tindakan pada Kelas VIII MTs Sultan Fatah Gaji Kec. Guntur Kab Demak Semester 1 tahun ajaran 2010/2011)”. Hasil penelitian menunjukkan adanya Peningkatan peningkatan prestsi belajar pada pembelajaran aqidah akhlak pokok materi menerapkan akhlak terpuji kepada diri sendiri di kelas VIII Semester 1 MTs Sultan Fatah Gaji Kec. Guntur Kab Demak setelah menerapkan metode diskusi dapat dilihat dari prestasi belajar peserta didik tiap siklus dimana pada pra siklus tingkat ketuntasan belajar siswa ada 15 siswa atau 41,67% naik menjadi 19 siswa atau 52,77% meningkat lagi pada siklus II menjadi 24 siswa atau 66,67% dan di akhir siklus III menjadi 31 siswa atau 86,21%. Ini berarti metode diskusi yang digunakan berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa.

Dari beberapa hasil penelitian yang ada, terlihat bahwa ada kemiripan judul yang diangkat dengan judul penelitian yang akan peneliti lakukan, sedangkan pada penulisan skripsi ini, penulis lebih menitikberatkan pada kajian “Upaya meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam mata pelajaran PKn materi pokok peraturan perundang-undangan tingkat pusat dan daerah kelas V melalui metode diskusi di MI Miftahus Sibyan Tugurejo Semarang” maksudnya yaitu bagaimana meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa terutama pada bidang studi pendidikan kewarganegaraan melalui penerapan metode diskusi sehingga pembelajaran yang ada di kelas lebih aktif dan bermakna bagi peserta didik dan tidak monoton yang pengaruhnya pada keberhasilan siswa belajar. Melalui penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh peneliti diharapkan dapat menjadi satu alternatif dalam pemecahan masalah yang ada dalam proses pembelajaran PKn dan seorang pendidik menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi-materi kepada peserta didiknya.

B. Deskripsi Teori   
1. Aktivitas Belajar 
a. Pengertian Aktivitas Belajar 
Belajar bukanlah berproses dalam kehampaan. Tidak pula pernah sepi dari berbagai aktivitas, tidak pernah terlihat orang yang belajar tanpa melibatkan aktivitas raganya. Apalagi bila aktivitas belajar itu berhubungan dengan masalah belajar menulis, mencatat memandang, membaca, mengingat, berfikir, atau praktek. Aktivitas istilah umum yang dikaitkan dengan keadaan bergerak, eksplorasi dan berbagai repson lainnya terhadap rangsangan sekitar. Sedangkan belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing).

Dalam aktivitas kehidupan manusia sehari-hari hampir tidak pernah dapat terlepas dari kegiatan belajar, baik ketika seseorang melakukan aktivitas sendiri, maupun di dalam suatu kelompok tertentu. Dipahami ataupun tidak dipahami, sesungguhnya sebagian besar aktivitas di dalam kehidupan sehari-hari kita merupakan kegiatan belajar.

Aktivitas belajar adalah kegiatan siswa dalam proses belajar, mulai dari kegiatan fisik sampai kegiatan psikis. Adapun Kegiatan fisik berupa keterampilan-keterampilan dasar, sedangkan kegiatan psikis berupa keterampilan terintegrasi. Keterampilan dasar antara lain mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan dan mengkomunikasikan. Sedangkan keterampilan  terintegrasi antara lain terdiri dari mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan hubungan antar variabel, mengumpulkan dan mengolah data, menganalisis penelitian, menyusun hipotesis, mendefinisikan variabel eksperimen.

Aktivitas belajar yang dilakukan siswa sering mengalami beberapa problem baik metode belajarnya maupun interaksi dalam proses belajar mengajar. Hal ini membuktikan pemecahan terutama dalam menghadapi masalah yang lebih pelik, manusia dapat menggunakan cara ilmiah, cara-cara pemecahan masalah secara ilmiah inilah yang disebut dengan metode diskusi. Cara belajar dengan metode diskusi sangat terkait dengan cara belajar rasional, yaitu cara belajar dengan menggunakan cara berpikir logis, ilmiah dan sesuai dengan akal sehat. Hal ini sesuai dengan firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 269:
Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakallah. (Q.S Al-Baqarah: 269)

Dalam aktivitas belajar ada beberapa prinsip yang berorientasi pada pandangan ilmu jiwa, yaitu pandangan ilmu jiwa lama dan modern. Menurut pandangan ilmu jiwa lama teori aktivitas belajar mengungkapkan konsep tabularasa yang mengibaratkan jiwa (Psyche) berupa keaktifan rohani. Teori ini menyatakan seseorang bagaikan kertas putih yang tidak tertulis. Maksudnya, dalam dunia pendidikan, yang memberi bentuk dan mengatur isi dari kertas itu adalah guru, karena gurulah yang harus aktif sedangkan siswa bersifat reseptif.

Dalam teori aktivitas belajar menurut pandangan ilmu jiwa lama yang banyak berkreativitas adalah guru, gurulah yang selalu aktif dalam menentukan bahan pelajaran, meneliti, menguraikan, memecahkan masalah, mengadakan perbandingan, dan membuat ikhtisar.Siswa hanya mendengarkan, mencatat, menjawab bila ditanya. Siswa hanya bekerja keras atas perintah guru, menurut cara yang ditentukan oleh guru dan berfikir menurut arah yang telah digariskan oleh guru. Sedangkan menurut pandangan ilmu jiwa modern, Teori aktivitas belajar ini menyatakan jiwa manusia itu sebagai sesuatu yang dinamis, memiliki potensi dan energi sendiri dan dapat menjadi aktif bila didorong oleh berbagai macam kebutuhan. Dengan demikian siswa harus dipandang sebagai organisme yang mempunyai dorongan untuk berkembang.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran. Dengan melakukan berbagai aktivitas dalam kegiatan pembelajaran diharapkan siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri tentang konsep-konsep PKn dengan bantuan guru.

b. Ciri-ciri Aktivitas Belajar 
Seseorang tidak akan dapat menghindarkan diri dari suatu situasi dalam proses belajar. Situasi akan menentukan aktivitas apa yang akan dilakukan dalam rangka belajar.15 Sardiman mengutip pendapat Paul D. Dierich membagi aktivitas belajar menjadi 8 kelompok, sebagai berikut:  
  1. Kegiatan-kegiatan visual (Visual activities): misalnya: membaca, melihat gambar-gambar, menga-mati eksperimen, demonstrasi, pameran, mengamati orang lain bekerja, atau bermain. 
  2. Kegiatan-kegiatan lisan (Oral activities): seperti: mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi sa-ran, mengemukakan pendapat, berwawancara, diskusi bertanya, memberi sesuatu, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi. 
  3. Kegiatan-kegiatan mendengarkan (Listening activities): sebagai contoh: mendengarkan penyajian, bahan, mendengarkan percakapan, atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan instrumen musik, mendengarkan siaran radio. 
  4. Kegiatan-kegiatan menulis (Writing activities): misalnya: menulis cerita, karangan, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat sketsa, atau rangku-man, mngerjakan tes, mengisi angket. 
  5. Kegiatan-kegiatan menggambar (Drawing activities): yang termasuk didalamnya antara lain: menggambar, membuat grafik, dia-gram, peta, pola. 
  6. Kegiatan-kegiatan metrik (Motor activities): melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan (simulasi), menari, berkebun. 
  7. Kegiatan-kegiatan mental (Mental activities): merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, menemukan hubungan-hubungan, membuat keputusan. 
  8. Kegiatan-kegiatan emosional (Emotional activities): minat, membedakan, berani, tenang, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan dalam kelompok ini terdapat pada semua kegiatan tersebut di atas, dan bersifat tumpang tindih.
Belajar perlu ada aktivitas, sebab pada prinsipnya belajar itu adalah berbuat, “learning by doing”. Kegiatan yang selalu memperhatikan pe-ngembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik yang diwujudkan dalam beberapa aktivitas belajar. 

c. Nilai Aktivitas dalam Pembelajaran 
Penggunaan asas aktivitas dalam proses pembelajaran bagi para peserta didik mengandung nilai , antara lain: 
  1. Para siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri. 
  2. Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral. 
  3. Memupuk kerjasama yang harmonis di kalangan siswa. 
  4. Para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri. 
  5. Memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi de-mokratis. 
  6. Mempererat hubungan sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara orang tua dengan guru. 
  7. Pengajaran diselenggarakan secara realistis dan konkret sehingga me-ngembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta menghindarkan ver-balitas. 
  8. Pengajaran di sekolah menjadi hidup sebagaimana aktivitas dalam kehidupan di masyarakat.
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas siswa dalam pembelajaran 
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas pada diri seseorang atau siswa yaitu terdiri atas dua bagian, di antaranya faktor internal dan faktor eksternal.

Untuk lebih jelasnya mengenai kedua faktor tersebut sebagai berikut: 
1) Faktor internal yaitu seluruh aspek yang terdapat dalam diri individu yang belajar, baik aspek fisiologis (fisik) maupun aspek psikologis (psikhis). Adapun penjelasan mengenai aspek fisik dan psikologis adalah sebagai berikut: 

a) Aspek Fisik (Fisiologis) Orang yang belajar membutuhkan fisik yang sehat. Fisik yang sehat akan mempengaruhi seluruh jaringan tubuh sehingga aktivitas belajar tidak rendah. Keadaan sakit pada pisik/tubuh mengakibatkan cepat lemah, kurang bersemangat, mudah pusing dan sebagainya. Oleh karena itu agar seseorang dapat belajar dengan baik maka harus mengusahakan kesehatan dirinya.

b) Aspek Psikhis (Psikologi) sedikitnya ada delapan faktor psikologis yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan aktivitas belajar. 

Faktor-faktor psikologis itu adalah sebagai berikut:
  1. Perhatian adalah keaktifan jiwa yang diarahkan kepada sesuatu obyek, baik didalam maupun di luar dirinya. Makin sempurna perhatian yang menyertai aktivitas maka akan semakin sukseslah aktivitas belajar itu. Oleh karena itu, guru seharusnya selalu berusaha untuk menarik perhatian anak didiknya agar aktivitas belajar mereka turut berhasil.
  2. Pengamatan adalah cara mengenal dunia riil, baik dirinya sendiri maupun lingkungan dengan segenap panca indera. Karena fungsi pengamatan sangat sentral, maka alat-alat pengamatan yaitu panca indera perlu mendapatkan perhatian yang optimal dari pendidik, sebab tidak berfungsinya panca indera akan berakibat terhadap jalannya usaha pendidikan pada anak didik. 
  3. Tanggapan adalah gambaran ingatan dari pengamatan, dalam mana obyek yang telah diamati tidak lagi berada dalam ruang dan waktu pengamatan.
  4. Fantasi adalah sebagai kemampuan jiwa untuk membentuk membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan-bayangan baru. Dengan kekuatan fantasi manusia dapat melepaskan diri dari keadaan yang dihadapinya dan menjangkau ke depan, keadaan-keadaan yang akan mendatang. Dengan pantasi ini, maka dalam belajar akan memiliki wawasan yang lebih longgar karena dididik untuk memahami diri atau pihak lain. 
  5. Ingatan (memori) ialah kekuatan jiwa untuk menerima, menyimpan dan memproduksi kesan-kesan. Jadi ada tiga unsur dalam perbuatan ingatan, ialah: menerima kesan-kesan, menyimpan, dan mereproduksikan. Dengan adanya kemampuan untuk mengingat pada manusia ini berarti ada suatu indikasi bahwa manusia mampu untuk menyimpan dan menimbulkan kembali dari sesuatu yang pernah dialami.20 
  6. Berfikir adalah merupakan aktivitas mental untuk dapat merumuskan pengertian, mensintesis dan menarik kesimpulan 
  7. Bakat adalah salah satu kemampuan manusia untuk melakukan suatu kegiatan dan sudah ada sejak manusia ada. 
  8. Motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan. Apabila aktivitas belajar itu didorong oleh suatu motif dari dalam diri siswa, maka keberhasilan belajar itu akan menjadi mudah diraih dalam waktu yang relative tidak cukup lama. 
2) Faktor eksternal 
Menurut Ngalim Purwanto faktor eksternal terdiri atas : 
  1. keadaan keluarga, 
  2. guru dan cara mengajar 
  3. alat-alat pelajaran,
  4. motivasi sosial, dan 
  5. lingkungan serta kesempatan.
Menurut Sanjaya menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas belajar siswa sebagai berikut:
a) Guru 
Guru merupakan ujung tombak dalam proses pembelajaran yang sa-ngat mempengaruhi keberhasilan aktivitas belajar siswa karena guru berha-dapan langsung dengan siswa. Beberapa hal yang mempengaruhi keberha-silan aktivitas belajar siswa yang ada pada guru antara lain: kemampuan guru, sikap profesionalitas guru, latar belakang pendidikan guru, dan pengala-man mengajar. 

b) Sarana belajar 
Keberhasilan implementasi pembelajaran berorientasi aktivitas siswa juga dipengaruhi oleh ketersediaan sarana belajar. Yang termasuk keterse-diaan sarana itu meliputi ruang kelas dan setting tempat duduk siswa, media, dan sumber belajar. 

c) Lingkungan belajar 
Lingkungan belajar merupakan faktor lain yang dapat mempenga-ruhi keberhasilan pembelajaran berorientasi aktivitas siswa. Ada dua hal yang termasuk ke dalam faktor lingkungan belajar yaitu lingkungan fisik dan lingkungan psikologis. Lingkungan fisik meliputi keadaan dan kondisi sekolah, misalnya jumlah kelas, laboratorium, perpustakaan, kantin, kamar kecil yang tersedia; serta di mana lokasi sekolah itu berada. 

Termasuk ke dalam lingkungan fisik lagi adalah keadaan dan jumlah guru. Keadaan guru misalnya adalah kesesuaian bidang studi yang melatar belakangi pendidikan guru dengan mata pelajaran yang diberikannya. Yang dimaksud dengan lingkungan psikologis adalah iklim sosial yang ada di lingkungan sekolah itu. Misalnya, keharmonisan hubungan antara guru dengan guru, antara guru dengan kepala sekolah, termasuk ke-harmonisan antara pihak sekolah dengan orangtua.

Menurut Mulyasa ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan untuk membangkitkan aktivitas belajar peserta didik antara lain: 
  1. Peserta didik akan belajar lebih giat apabila topik yang dipelajarinya menarik, dan berguna bagi dirinya. 
  2. Tujuan pembelajaran harus disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada peserta didik sehingga mereka mengetahui tujuan belajar. Peserta didik juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan. 
  3. Peserta didik harus selalu diberitahu tentang kompetensi, dan hasil belajarnya. 
  4. Pemberian pujian dan hadiah lebih baik daripada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan. 
  5. Manfaatkan sikap, cita-cita, rasa ingin tahu, dan ambisi peserta didik. 
  6. Usahakan untuk memperhatikan perbedaan individual peserta didik, misalnya perbedaan kemampuan, latar belakang dan sikap terhadap sekolah atau subjek tertentu. 
  7. Usahakan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dengan jalan memperhatikan kondisi fisik, memberi rasa aman, menunjukkan bahwa guru memperhatikan mereka, mengatur pengalaman belajar sedemikian rupa sehingga setiap peserta didik pernah memperoleh kepuasan dan penghargaan, serta mengarahkan pengalaman belajar kearah keberhasilan, sehingga mencapai prestasi dan mempunyai kepercayaan diri.

Supaya pembelajaran dapat berlangsung secara efektif, guru harus mampu mewujudkan proses pembelajaran dalam suasana kondusif. Tohirin mengemukakan ciri-ciri pembelajaran yang efektif antara lain: “Berpusat pada siswa, interaksi edukatif antara guru dengan siswa, suasana demokratis, variasi metode mengajar, guru profesional, bahan yang sesuai dan bermanfaat, lingkungan yang kondusif, dan sarana belajar yang menunjang”

2. Hasil Belajar 
a. Pengertian Hasil Belajar 
Belajar merupakan suatu rangkaian proses kegiatan respons yang terjadi dalam suatu rangkaian belajar mengajar yang berakhir pada terjadinya tingkah laku, baik jasmaniah maupun rohaniah akibat pengalaman atau pengetahuan yang diperoleh. Menurut Sholeh Abdul Azis dan Abdul Aziz Abdul Majid.  

Belajar adalah suatu perubahan di dalam pemikiran siswa yang dihasilkan dari pengalaman terdahulu kemudian menimbulkan perubahan baru dalam pemikiran siswa. Dalam bukunya Theory and Problems of Psychology of Learning dinyatakan bahwa Learning can be defined as any relatively permanent change in an organism’s behavioral repertoire that occurs as a result of experience.  (belajar adalah dapat diartikan sebagai perubahan yang relatif tetap dalam tingkah laku seseorang yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman). Pada dasarnya pembelajaran merupakan interaksi antara guru dan peserta didik, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. 

Hasil belajar secara bahasa adalah sesuatu yang diadakan, dibuat, dijadikan, dan sebagainya oleh usaha. Hasil belajar adalah sesuatu yang diadakan oleh usaha belajar peserta didik. Tidak jauh dari pengertian tersebut Mulyono Abdurrahman mendefinisikan hasil belajar sebagai “kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar”. Ag. Soejono mendefinisikan hasil pendidikan yaitu “Situasi kematangan anak didik pada akhir usaha pendidik”. Nana Sudjana memberikan definisi hasil belajar adalah “kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”. Secara istilah hasil belajar semakna dengan prestasi belajar. Menurut Winkel “Prestasi adalah bukti keberhasilan usaha yang dicapai”. Dalam kaitannya dengan prestasi belajar Winkel menambahkan bahwa: Belajar adalah suatu proses mental yang mengarah kepada pengetahuan, kecakapan, skill, kebiasaan atau sikap yang semuanya diperoleh dan dilaksanakan sehingga menimbulkan tingkah laku yang progresif dan adaptif. 

b. Evaluasi Hasil Belajar 
Dilihat dari segi bahasa, kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris yaitu evaluation yang berasal dari kata value yang berarti nilai, sedang istilah evaluation diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai penilaian. Secara etimologis kata penilaian berarti memberikan nilai pada seseorang, suatu benda, keadaan atau peristiwa. untuk memberikan penilaian pada hal-hal tersebut kita perlu mengambil satu keputusan yakni mengenai nilai apa yang diberikan (misal: baik buruk, tinggi rendah). Keputusan tersebut tentu saja harus didasarkan kepada fakta-fakta yang ada dan sesuai dengan permasalahnnya.

Adapun menurut Benyamin S. Bloom sebagaimana dikutip oleh Suke Silverius, evaluasi merupakan "pengumpulan suatu kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam diri pribadi siswa.

Untuk mengukur hasil belajar siswa dibutuhkan evaluasi atau penilaian dengan tes yang berfungsi untuk memperoleh umpan balik dan selanjutnya digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar, maka penilaian itu disebut penilaian formatif. Tetapi jika penilaian itu berfungsi untuk mendapatkan informasi sampai mana prestasi atau penguasaan dan pencapaian belajar siswa yang selanjutnya diperuntukkan bagi penentuan lulus tidaknya seorang siswa maka penilaian itu disebut penilaian sumatif.

Jika dilihat dari segi alatnya, penilaian hasil belajar dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu tes dan non tes. Tes ada yang diberikan secara lisan (menuntut jawaban secara lisan) ini dapat dilakukan secara individu maupun kelompok, ada tes tulisan (menuntut jawaban dalam bentuk tulisan), tes ini ada yang disusun secara obyektif dan uraian dan tes tindakan (menuntut jawaban dalam bentuk perbuatan). Sedangkan non tes sebagai alat penilaiannya mencakup observasi, kuesioner, wawancara, skala sosiometri, studi kasus.dalam penelitian ini cara penilaian dilakukan dengan tes tertulis essay.  

Pada saat pelaksanaan (dalam proses) pembelajaran PKn diperlukan tes formatif untuk mengetahui apakah proses pembelajaran yang sedang berlangsung sudah betul atau belum. Data yang diperoleh dari evaluasi formatif dipergunakan untuk pengembangan, need assessment, dan diagnostic decision. Sedangkan pada akhir pembelajaran diadakan evaluasi sumatif untuk mengetahui apakah yang diajarkan efektif atau tidak. Evaluasi sumatif ini untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan, keterampilan, atau sikap peserta didik menangkap pelajaran. 
Blog, Updated at: 10.50

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts