Arti Dan Berbagai Model Pembelajaran

Arti Dan Berbagai Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang mendeskripsikan dan melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perencanaan pengajaran bagi para guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajarannya. Komaruddin, (2000:152) memahami model dalam pembelajaran sebagai: 
  • Suatu tipe atau desain 
  • Suatu deskripsi atau analogi yang dipergunakan untuk membantu proses visualisasi sesuatu yang tidak dapat dengan langsung diamati, 
  • Suatu sistem asumsi-asumsi, data-data, dan inferensi-inferensi yang dipakai untuk menggambarkan secara matematis suatu obyek atau peristiwa; 
  • Suatu desain yang disederhanakan dari suatu sistem kerja, suatu terjemahan realitas yang disederhanakan; 
  • Suatu deskripsi dari suatu sistem yang mungkin atau imajiner; dan 
  • Penyajian yang diperkecil agar dapat menjelaskan dan menunjukkan sifat bentuk aslinya 

Jadi model pembelajaran dapat dipahami sebagai sesuatu yang tidak terjadi secara kebetulan, melainkan didesain sedemikian rupa agar pelaksanaan proses pembelajaran terstruktur, sistematis, dan mampu meningkatkan partisipasi aktif peserta didik sesuai dengan situasi dan kebutuhan, serta tujuan tertentu. Sebagai desain pelaksanaan proses pembelajaran, model pembelajaran meskenariokan strategi dan metode pembelajaran sesuai pendekatan yang digunakan. Penggunaan strategi, media dan pendekatan yang digunakan untuk pembelajaran akan memberi label dari model pembelajaran tersebut. Berkenaan dengan model pembelajaran ini, masing-masing ahli ada perbedaan pendapat, berbeda penekanannya, maka model pembelajarannya juga mengalami perbedaan. 

Walaupun nampak juga persamaan-persamaan dalam model mereka. Beberapa model yang ditawarkan oleh para ahli, misalnya model desain sistem instruksional dari Banathy yang mengandung enam unsur yaitu: 
  1. Perumusan tujuan, 
  2. Mengembangkan tes, 
  3. Menganalisis kegiatan belajar mengajar, 
  4. Menyusun pola system, 
  5. Melasksanakan test output, dan 
  6. Merubah untuk memperbaiki. 
Model disain pembelajaran dari vermon S. Gerlach, Donal F. Ely yang mengandung sepuluh unsur, yaitu: 
  1. Pengkhususan tujuan pengajaran, 
  2. Menyeleksi isi pelajaran, 
  3. Mengakses kemampuan dasar murid, 
  4. Strategi yang akan dilaksanakan, 
  5. Mengorganisasikan murid ke dalam kelompok-kelompok, 
  6. Alokasi waktu, 
  7. Alokasi unit tempat-tempat belajar, 
  8. Menyeleksi sumber-sumber belajar yang tepat, 
  9. Mengevaluasi penampilan guru dan siswa dan ,  suatu analisis bahan umpan balik oleh guru dan murid. 

Masih banyak model desain sistem instruksional dari ahli sepertinya: Model Kaufman, Model Jerrald E. Kempt, Model Malcoln Skilbeck, Model Hilda Taba, dan Model PPSI yang diperkenalkan pada kurikulum 1975/1976 dan masih berlaku dalam kurikulum 1984. Model PPSI ini, dengan prosedur pengembangan seperti gambar:

Selain itu, masih banyak model pembelajaran dengan pengutamaan tertentu, misalnya: Model pembelajaran behavioral yang terdiri dari model belajar tuntas (masteri learning), belajar kontrol diri sendiri, dan simulasi; Model pembelajaran alam sekitar, Model pemrosesan informasi, Model pembelajaran sekolah kerja, model pembelajaran pemecahan masalah sosial, model pengembangan kepribadian individu, dan model pembelajaran Portofolio. Namun yang diuraikan di sini adalah model pembelajaran yang bersifat inovatif dan partisipatif, yang dapat diterapkan pada bidang studi IPS, sepertinya: model pembelajaran contextual teaching and learning (CTL), model pembelajaran berdasarkan masalah sosial atau problem based instruction (PBI), model pembelajaran kreatif dan produktif, model pembelajaran tematik, model pembelajaran kooperatif, dan Model pembelajaran IPS.
Gambar Prosedur Pengembangan System Instruksional (Model PPSI) 

Model Pembelajaran CTL 
Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasimtarget penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat dalam jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan masalah dalam kehidupan jangka panjang. Pembelajaran CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Syaiful Sagala (2005:87) dan Masnur Muslich (2007:41) “Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Jadi, landasan filosofis CTL adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, tetapi merekonstruksikan atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya. 

Banyak padanan istilah yang visi dan misinya hampir sama dengan CTL, yaitu: 
  • Experiencial learning 
  • Real world education 
  • Active learning 
  • Learner centered instruction 
  • Learning-in-context 

Untuk memahami secara mendalam, kata-kata kunci (keywords) yang dapat dipakai sebagai pengingat bagi guru ketika melaksanakan pembelajaran berbasis CTL, yaitu: 
  1. Belajar pada hakikatnya real world learning 
  2. Mengutamakan pengalaman nyata 
  3. Berpikir tingkat tinggi 
  4. Berpusat pada siswa 
  5. Siswa aktif, kritis, dan kreatif 
  6. Pengetahuan bermakna dalam kehidupan 
  7. Dekat dengan kehidupan nyata 
  8. Perubahan tingkah laku 
  9. Siswa praktek bukan menghafal 
  10. Learning bukan teaching 
  11. Pendidikan (education) bukan pengajaran (instruction) 
  12. Pembentukan manusia 
  13. Memecahkan masalah 
John A. Zahorik dalam Masnur Muslich (2007:52) mengemukakan ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran CTL, yaitu: 
  • Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge), 
  • Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memerhatikan detailnya 
  • Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun: 
  1. Konsep sementara, (hipotesis), 
  2. Melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validasi), dan atas dasar tanggapan itu 
  3. Konsep tersebut direvisi dan dikembangkan 
  • Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) 
  • Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut. 
Di dalam melakukan pembelajaran CTL dengan melibatkan tujuh komponen utama, yaitu: 
  1. Konstruktivisme (Constructivism)
  2. Bertanya (Questioning) 
  3. Menemukan (Inquiry) 
  4. Masyarakat belajar (Learning Community) 
  5. Pemodelan (Modeling) 
  6. Refleksi (Reflection) 
  7. Penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)

Prosedur, strategi, dan metode yang digunakan dalam pembelajaran CTL secara konstruktivisme, dideskripsikan secara visualisasi seperti gambar. 
 
Gambar  Prosedur Pembelajaran Model Konstruktivisme (Direktorat ketenagaan Ditjen-Dikti, 2007:45)

Gambar  Strategi yang digunakan dalam Pembelajaran Konstruktivisme (Direktorat ketenagaan Ditjen-Dikti, 2007:48)

Gambar Metode yang dipakai dalam Pembelajaran Konstruktivisme (Direktorat ketenagaan Ditjen-Dikti, 2007:49) 

Model Pembelajaran Keterampilan Pemecahan Masalah Sosial 
Dalam kehidupan bermasyarakat individu merupakan ”aktor sosial”. Salah satu kemampuan yang dituntut untuk menjadi seorang aktor sosial yang baik adalah mengambil putusan secara nalar atau well informed and reasoned decision making (Banks dalam Direktorat ketenagaan Ditjen Dikti, 2007:121). 

Kemampuan tersebut akan tercermin melalui proses pembelajaran yang memungkinkan individu terlibat dalam berbagai bentuk kegiatan pemecahan masalah sosial baik secara individu maupun kelompok. Karena itu kemampuan pemecahan masalah sosial diperlukan. 
  1. Manusia sebagai mahluk sosial (homo sapiens) 
  2. Kecerdasan berkembang secara individual dalam konteks sosial budaya 
  3. Rasa ingin tahu (curiousity) sebagai bagian dari proses kecerdasan 
  4. Kemampuan memecahkan masalah merupakan sarana berpikir kritis-reflektif 

Selanjutnya, pembelajaran keterampilan pemecahan masalah sosial ini diperlukan: 
  1. Kebutuhan individu sebagai akator sosial 
  2. Kemampuan membuat putusan sebagai atribut personal aktor sosial 
  3. Partisipasi dalam proses pembuatan kebijakan publik sebagai bentuk kontribusi aktor sosial terhadap masyarakat 
  4. Demokratis, cerdas dan bertanggungjawab sebagai watak aktor sosial 

Adapun sarana pengembangan kemampuan pemecahan sosial, yaitu: 
  1. Akses terhadap media massa 
  2. Studi pustaka 
  3. Berdialog dengan nara sumber 
  4. Pertemuan sosial, dan 
  5. Partisipasi sosial 

Materi 
Materi pokok yang cocok untuk dijadikan fokus pembelajaran model, adalah: 
  1. Masalah-masalah sosial, politik, yuridis, ideologis, dan lain-lain yang ada dalam masyarakat sekitar. 
  2. Strategi komunikasi untuk mempengaruhi pejabat terkait 
  3. Pemecaham masalah yang mencerminkan konsep dan prinsip demokratis 
  4. Hubungan fungsional masalah dengan kebijakan publik 

Strategi Pembelajaran 
Model pembelajaran ini menerapkan pendekatan fungsional (functional approach) atau pendekatan berbasis masalah (problem based approach) dengan strategi instruksional yang digunakan pada dasarnya bertolak dari esensi strategi inquiry, discovery, problem solving, dan research-oriented yang dikemas dalam model ”proyect” dengan menggunakan multi metode dan aneka media dan sumber. Sebagai multi metode, pembelajaran dilakukan secara kombinasi: presntasi dosen, diskusi umum, diskusi kelompok, survei lapangan, studi kepustakaan, workshop, dan simulasi dengar pendapat (simulated-shearing). 

Sebagai aneka media dan sumber seperti: media cetakan, media terekam, media tersiar, dan nara sumber (pakar, praktisi, manusia kunci, pelaku sejarah) Untuk kepentingan perekaman proses belajar dan pengemasan hasil belajar dikembangkan portofolio pembelajaran secara terpadu atau pengalaman belajar yang terpadu dialami oleh siswa dalam melakanakan tugas-tugas beelajarnya. 

Dalam hal ini ditetapkan langkah-langkah 
  1. Mengidentifikasi masalah kebijakan publik dalam masyarakat 
  2. Memilih suatu masalah untuk dikaji oleh kelas 
  3. Mengumpulkan informasi yang terkait pada masalah itu 
  4. Mengembangkan fortofolio kelas 
  5. Menyajikan portofolio 
  6. Melakukan refleksi pengalaman belajar
Penerapan dalam Lingkungan Persekolahan
Blog, Updated at: 10.08

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts