CITRAAN DALAM KUMPULAN SAJAK HAI-TI KARYA IBRAHIM SATTAH

CITRAAN DALAM KUMPULAN SAJAK HAI-TI KARYA IBRAHIM SATTAH
Pengimajian (citraan) dapat membuat pembaca memandang, merasakan, mendengar, bahkan mencium apa yang disampaikan pengarang melalui puisinya. Melalui citraan, pembaca dapat terbantu untuk menginterpretasi sebuah puisi. Hal ini sejalan dengan pernyataan S. Effendi dalam Waluyo (1987:80) bahwa pengimajian merupakan usaha penyair untuk menimbulkan imaji pembaca, sehingga pembaca dapat melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu dengan mata hatinya yang terdapat dalam sajak. Namun, tidak semua bentuk sajak yang dapat ditafsirkan citraannya secara jelas. 

Apalagi saat ini perkembangan genre sastra seperti sajak semakin berkembang. Pada kurun waktu belakangan ini, muncul bentuk sajak yang bersifat temporer, seperti sajak mbeling, sajak mantra, balada, ode, maupun sajak kongkrit yang cenderung memiliki makna ambigu, dan memiliki keunikan-keunikan tersendiri yang diperlihatkan oleh sajak-sajak tersebut. Misalnya, pada sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri yang memberikan warna dalam perkembangan persajakan Indonesia. Selain Sutardji Calzoum Bachri, masih banyak penyair yang menampilkan keunikan-keunikan dalam sajaknya. Satu di antaranya adalah Ibrahim Sattah yang sajak-sajaknya juga dapat digolongkan ke dalam bentuk puisi konkret, karena Ibrahim Sattah juga terlihat menampilkan imaji pembaca melalui bentuk grafis puisinya. 

Sajak-sajak karya Ibrahim Sattah ini memang terlihat seperti main-main, tanpa makna dan hanya mementingkan bunyi yang bertujuan menghadirkan efek magis dari sajaknya itu. Atas dasar inilah penulis tertarik untuk meneliti puisi Ibrahim Sattah. Ibrahim Sattah, penyair Riau yang lahir di Tarempa, Pulau Tujuh, sebuah pulau yang terletak di Laut Cina Selatan, Riau Kepulauan, 63 tahun silam ini, tidak memiliki banyak karya karena lebih dulu dipanggil oleh Yang Kuasa. Namun, dengan sajak-sajaknya yang tidak begitu banyak, yaitu hanya melahirkan tiga kumpulan sajak yakni Dandandid (1975), Ibrahim (1980), dan Hai-Ti (1981), penyair yang juga berprofesi sebagai polisi ini mampu membuat perhatian orang terpusat kepadanya, dengan kejutan-kejutan yang ditampilkan dalam sajaksajaknya. Dalam penelitian ini, penulis memilih kumpulan sajak Hai-Ti yang merupakan kumpulan sajaknya yang terakhir di masa kepenyairannya. 

Di dalam kumpulan sajaknya (Ibrahim Sattah) yang terakhir ini, penulis ingin mengetahui citraan apa yang dominan digunakan untuk membangun nilai estetik dalam puisinya dan nada puisi yang bagaimana yang cenderung digunakan di akhir kepenyairannya itu. Di samping itu, penulis juga ingin mengetahui aspek yang cenderung disuarakan oleh Ibrahim Sattah di akhir masa kepenyairannya. Apakah yang disuarakan itu merupakan aspek sosial, budaya, religius, atau nada lain yang menjadi dasar utama penciptaan puisinya. Selain itu, masih belum begitu banyak yang membicarakan dan mengungkap tentang sajak-sajak Ibrahim Sattah. Hal inilah yang menjadi dasar atau latar belakang penelitian yang berjudul ”Citraan dalam Kumpulan Sajak Hai-Ti Karya Ibrahim Sattah” ini dilakukan. Oleh karena itu, rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah citraan dalam Kumpulan Sajak Hai-Ti Karya Ibrahim Sattah? 

Untuk lebih memfokuskan titik masalah yang ditinjau, penelitian ini perlu dibatasi. Dalam penelitian ini, penulis membatasi: Peninjauan pada aspek citraan dalam kumpulan sajak Hai-Ti karya Ibrahim Sattah, yaitu pada citraan penglihatan, pendengaran, penciuman, rasaan atau pencecapan, rabaan, dan gerak. Berdasarkan latar belakang, permasalahan dan masalah yang dibatasi, penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan, mendeskripsikan, dan menganalisis citraan yang terdapat dalam kumpulan sajak Hai-Ti karya Ibrahim Sattah, lalu menentukan citraan yang dominan dalam kumpulan sajak tersebut. 

METODE PENELITIAN 
Sumber data dalam penelitian ini adalah sajak-sajak yang tergabung dalam kumpulan sajak Hai-Ti karya Ibrahim Sattah yang berjumlah 26 sajak. Dari sajaksajak yang ada, penulis mengklasifikasikan data yang diperoleh sesuai dengan masalah yang dibatasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik dokumentasi atau kepustakaan, yaitu dengan cara membaca buku-buku yang berkaitan dengan masalah yang penulis teliti. Hal ini sesuai dengan pendapat Arikunto tentang teknik dokumentasi. Arikunto (2006:234) mengatakan bahwa teknik dokumentasi adalah suatu teknik pengumpulan data dengan membaca buku-buku yang ada kaitannya dengan masalah yang diteliti. Pertama, pengumpulan data dalam sajak-sajak yang terdapat pada kumpulan sajak Hai-Ti karya Ibrahim Sattah yang kemudian dianalisis sesuai dengan pembatasan masalah yang telah dirumuskan. Penulis juga menggunakan buku-buku yang berhubungan dengan masalah penelitian ini sebagai bahan referensi dan landasan penganalisisan. 

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan membaca sajak-sajak karya Ibrahim Sattah yang terkumpul dalam kumpulan sajak Hai-Ti, mengklasifikasi data sesuai dengan masalah yang dikaji, yaitu citraan yang digunakan pada sajaksajak Ibrahim Sattah dalam buku Kumpulan Sajak Hai-Ti, mengklasifikasikan larik yang menandai citraan tersebut, menganalisis citraan yang terdapat pada kumpulan sajak Hai-Ti karya Ibrahim Sattah. Penganalisisan citraan dalam Kumpulan Sajak Hai-Ti Karya Ibrahim Sattah dilakukan berupa bentuk kata, frasa, kalimat, bait, dan dari keseluruhan sajak. Namun, dalam masing-masing sajak tidak mutlak kesemua bentuk analisis dilakukan, karena bisa saja dalam satu sajak hanya terdapat bentuk kata dan frasa, bentuk kata saja, bait atau hanya dari keseluruhan sajak. Jadi, teknik analisisnya tidak harus dilakukan berdasarkan bentuk-bentuk yang sudah disebutkan di atas dan menentukan bentuk citraan yang dominan dalam sajak-sajak Ibrahim Sattah yang tergabung dalam kumpulan sajak Hai-Ti. 

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat dipaparkan lebih rinci penggunaan citraan dalam kumpulan sajak Hai-Ti karya Ibrahim Sattah ini adalah: citraan penglihatan berjumlah 41 dalam 17 sajak, citraan pendengaran berjumlah 12 dalam 8 sajak, citraan penciuman tidak ditemukan, citraan rasaan atau pencecapan tidak ditemukan, citraan rabaan berjumlah 5 dalam 3 sajak, citraan gerak berjumlah 11 dalam 8 sajak. Dilihat dari paparan di atas, terlihat bahwa citraan penglihatan lebih dominan digunakan. Dari enam citraan, hanya terdapat empat citraan dalam kumpulan sajak Hai-Ti karya Ibrahim Sattah. Citraan penciuman dan citraan rasaan atau pencecapan tidak ditemukan dalam kumpulan sajak ini. Dengan kata lain, Ibrahim Sattah tidak menggunakan kedua citraan tersebut untuk lebih memusatkan daya bayang pembaca. Sementara, dari empat citraan yang ada, penggunaan citraan rabaan atau pencecapan memiliki jumlah paling sedikit, yaitu hanya 5 citraan dalam 3 judul sajak.  
Blog, Updated at: 11.21

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts