Etika dan Kebutuhan Peserta Didik

Etika dan Kebutuhan Peserta Didik
Etika Peserta Didik 
Pembahasan sebelumnya, penulis telah membahas tentang pengertian kode etik pendidik. Kode etik berasal dari dua kata yaitu kode dan etik, kode merupakan tanda (simbol) atau aturan sedangkan etik adalah etika, akhlak atau perangai. Selain pendidik kode etik juga dimiliki oleh peserta didik, karena kedua komponen ini merupakan faktor terpenting dalam proses pembelajaran. Etika peserta didik merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan baik secara langsung maupun tidak langsung, al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh Fhatiyah Hasan Sulaeman (1986:39-43) merumuskan sepuluh kewajiban peserta didik diantaranya sebagai berikut: 
  1. Belajar dengan niat ibadah untuk selalu mendekatkan kepada Allah Swt dengan niat ikhlas. Faktor terpenting yang harus dimiliki peserta didik adalah kesucian jiwa karena hal ini akan menghindari murid dari sifat-sifat tercela yang bertentangan dengan ajaran agama; 
  2. Mengurangi kecendrungan pada urusan dunia tetapi lebih mengutamakan pada urusan akhirat. Karena kecintaan terhadap urusan dunia akan menyebabkan mental-mental materialism; 
  3. Memiliki keperibadian tawadhu (rendah hati) dengan lebih mengutamakan kepentingan pendidikan daripada kepentingan pribadi. Peserta didik haruslah memiliki ilmu seperti padi ‘semakin berisi semakin merunduk’; 
  4. Menghindari pikiran-pikiran yang dapat mempengaruhi kebimbangan peserta didik yang timbul dari berbagai aliran; 
  5. Lebih mengutamakan ilmu-ilmu yang terpuji baik itu ilmu duniawi ataupun ukhrowi; 
  6. Menuntut ilmu secara bertahap sesuai dengan kemampuan yang dimiliki peserta didik; 
  7. Menuntut ilmu secara tuntas sampai memahami materi yang dipelajari, kemudian mempelajari ilmu yang lain sehingga peserta didik lebih memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam; 
  8. Mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu yang dipelajarinya; 
  9. Lebih memprioritaskan ilmu diniyah sebelum mempelajari ilmu duniawi, dengan bekal ilmu diniyah, peserta didik memiliki bekal ilmu agama yang akan mengarahkan kepada akhlak yang baik;
  10. Peserta didik haruslah patuh dan tunduk terhadap pendidik. 
Hampir senada dengan Pendapat di atas, Ahmad Tafsir (2006:168-169) mengatakan tentang etika murid kepada gurunya, beliau mengutip perkataan Sa’id Hawwa adalah sebagai berikut; 
  1. Murid haruslah mendahulukan kesucian jiwa sebelum memulai pelajaran yang akan diberikan oleh sang guru. Menyemarakan hati dengan ilmu tidak akan shah kecuali setelah hati itu suci dari kekotoran akhlak. Intinya di sini ialah murid itu jiwanya harus suci. Indikatornya terlihat pada akhlaknya; 
  2. Murid harus mengurangi keterikatan dengan kesibukan duniawiah karena kesibukan itu akan melengahkannya dari menuntut ilmu; 
  3. Tidak sombong terhadap orang yang berilmu, tidak bertindak sewenang-wenang terhadap guru, ia harus patuh terhadap guru; ia harus patuh kepada guru. Murid harus tawadhu kepada gurunya dan mencari pahala dengan cara berkhidmat kepada guru. Intinya ialah patuh pada guru, tawadhu merupakan salah satu indikator kepatuhan; 
  4. Murid yang dalam proses pembelajaran tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perbedaan pendapat atau khilafiyah antar mazhab karena hal ini akan membingungkan dan membimbangkan pikirannya; 
  5. Murid haruslah lebih mengutamakan ilmu yang terpenting untuk dirinya; 
  6. Tidak menekuni banyak ilmu sekaligus, melainkan berurutan dari yang paling penting. Ilmu yang lebih utama adalah ilmu tauhid mengenal keesaan Allah Swt; 
  7. Tidak mempelajari ilmu lain sebelum menguasai ilmu yang sedang dipelajarinya, karena antara satu ilmu dengan ilmu yang lain seringkali memiliki sifat prerequisite; 
  8. Murid hendaknya mengetahui ciri-ciri ilmu yang paling mulia dan paling utama. Ilmu agama lebih mulia dan abadi dibandingkan dengan ilmu dunia bersifat fana tetapi ilmu dunia tidak boleh diitinggalkan, sebab Nabi Muhammad Saw selalu berdoa untuk selalu meraih kebahagian dunia dan akhirat. 
Asma Hasan Fahmi sebagaimana dikutip oleh Abudin Nata (2006:134-135) menyebutkan empat etika untuk peserta didik dalam proses pembelajaran diantaranya adalah: 
  1. Seorang anak didik terlebih dahulu membersihkan hatinya dari segala macam jenis penyakit jiwa sebelum menuntut ilmu, karena dalam proses menuntut ilmu kebersihan hati akan memudahkan peserta didik menerima pelajaran; 
  2. Seorang anak didik harus memiliki tujuan menuntut ilmu dalam rangka menghias jiwa dengan sifat keutamaan, mendekatkan diri kepada Tuhan dan bukan untuk meraih kemegahan dan kedudukan;
  3. Peserta didik memiliki jiwa besar dan bersabar dalam menuntut ilmu, karena untuk mendapatkan ilmu pengetahuan memerlukan waktu dan proses panjang. Peserta didik dianjurkan untuk menuntut ilmu walaupun harus meninggalkan kampung halamanya, karena ini akan menambah pengetahuan dan berjiwa toleransi atas perbedaan ilmu pengetahuan; 
  4. Peserta didik wajib menghormati pendidik (guru) dan berusaha untuk selalu memperoleh kerelaan dari seorang pendidik, dengan menggunakan berbagai macam cara untuk memuliakannya. 

Jika dihubungkan dengan etika murid ketika mempelajari pelajarannya dan terhadap temannya, al Zarnujiy (tt:10) memberikan pedoman etika bagi peserta didik sebagai berikut: 
  1. Hendaklah murid mendahulukan pelajaran yang berkenaan dengan fardhu ‘ain (perintah yang wajib dikerjakan oleh setiap individu); 
  2. Pada tahap permulaan, hendaknya murid menghindari mempelajari urusan ikhtilaf (yang diperselisihkan) di kalangan para ulama, terutama tentang ilmu-ilmu logika dan ilmu-ilmu kalam, karena hal itu akan membingungkan jiwa dan pikiran; 
  3. Sebelum menghapal pelajaran yang telah dibacanya, hendaklah murid mentashih (minta koreksi) dengan benar-benar teliti, baik kepada guru atau kepada orang lain yang ia yakini kemampuannya; 
  4. Hendaklah murid datang sepagi mungkin untuk menyimak pelajaran yang akan diajarkan oleh guru, terutama pelajaran hadits; 
  5. Jika memungkinkan, hendaklah murid selalu hadir di majelis gurunya dalam memberikan pelajaran dan bacaan, karena hal itu pasti akan menambah dan menghasilkan kebaikan, adab, dan keutamaan; 
  6. Apabila murid hadir ke majelis guru, hendaklah ia mengucapkan salam kepada para hadirin dengan suara yang dapat di dengar dengan jelas oleh mereka semua; 
  7. Hendaknya murid tidak merasa malu untuk bertanya kepada guru mengenai sesuatu yang ia anggap sulit dan meminta penjelasan kepadanya tentang sesuatu yang tidak dimengerti, dengan lemah lembut dan tutur kata yang baik dan sopan; 
  8. Hendaknya seorang murid memperhatikan gilirannya ketika bertanya, jangan mendahului giliran orang lain tanpa seiring orang yang punya giliran tersebut; 
  9. Hendaknya murid duduk didepan guru dengan penuh adab ; 
  10. Hendaklah murid mempelajari setiap satu kitab sampai tuntas dan tidak membiarkannya putus ditengah jalan;
  11. Seorang murid hendaknya memberi semangat kepada kawan-kawan pelajar lainnya dalam meraih keberhasilan. 
Sehubungan dengan etika peserta didik terhadap pendidik al- Zarnujiy mengungkapkan sebagai berikut : 
  1. Sebelum mulai belajar, sebaiknya seorang murid berkonsentrasi dan beristikharah (meminta pilihan) kepada Allah mengenai orang yang akan ia timba ilmunya dan orang yang akan ia raih keindahan akhlak dan perilakunya. Kalau memungkinkan,hendaklah ia memilih guru yang benar-benar ahli, nyata sifat kasih sayangnya, tampak wibawanya, terkenal kepandaian mengasuhnya, sangat bagus pengajaran dan pemahamannya; 
  2. Bersungguh-sungguh mencari guru yang sempurna wawasan ilmu-ilmu syariatnya dan dipercaya oleh guru-guru sezamannnya, banyak hasil-hasil pembahasannya, dan sering berkumpul (bergaul dengan para ulama yang dipercaya). 
  3. Hendaklah murid melaksanakan semua perintah guru, juga tidak melanggar arahan dan peraturannya. Bahkan keadaan murid dengan guru itu semestinya bagaikan pasien dengan dokter ahli; 
  4. Hendaklah murid memandang guru dengan penuh penghormatan dan pengagungan, serta meyakini bahwa gurunya itu memiliki kedudukan yang sempurna; 
  5. Hendaklah murid mengetahui hak-hak guru dan tidak melupakan kebaikannya; 
  6. Hendaklah murid bersabar atas sikap kasar atau perangai buruk gurunya, dan hal itu hendaknya tidak menghalanginya untuk tetap meyakini kemuliaan gurunya; 
  7. Hendaknya murid tidak menemui guru di tempat yang tidak biasa, baik ketika guru sedang sendirian atau bersama yang lain, kecuali dengan izinnya; 
  8. Hendaknya murid duduk di hadapan guru dengan penuh adab, misalnya duduk bersimpuh atau seperti duduk tasyahud dengan tanpa meletakkan dua tangan di atas kedua paha, atau duduk bersila dengan penuh tawadhu, sopan, tenang, dan tunduk. 
  9. Semampu mungkin hendaknya murid memperhalus ucapannya ketika berbicara dengan guru; 
  10. Apabila murid mendengar guru menyebutkan hukum atau hikmah mengenai suatu masalah, menceritakan kisah, atau melantunkan syair, sedangkan murid telah hafal mengenainya, maka hendaklah murid mendengarkan dengan penuh perhatian, merasa sangat perlu, ingin tahu, dan bergembira terhadapnya, seolah-olah ia belum pernah mendengarnya; 
  11. Hendaknya murid tidak mendahului guru dalam menjelaskan suatu masalah atau menjawab suatu pertanyaan; 
  12. Apabila guru meminta sesuatu pada murid, maka berikanlah dengan tangan kanan.

Menurut Abd al-Amir Syams al-Din sebagaiman dikutip oleh Abuddin Nata (2006:115), etika peserta didik terbagi atas tiga aspek yaitu; 
Pertama, terkait dengan dirinya sendiri, meliputi membersihkan hati, memperbaiki niat atau motivasi dengan memiliki cita-cita dan usaha yang kuat untuk menggapai kesuksesaan, memiliki sifat zuhud (tidak materialistis), dan penuh kesederhanaan. 

Kedua, berkaitan dengan pendidik, meliputi patuh dan taat secara sempurna, memuliakan dan menghormatinya, senantiasa melayani kebutuhan pendidik dan menerima segala bentuk hukuman dari pendidik ketika peserta didik bersalah. 

Ketiga, berkaitan dengan pelajaran, senantiasa mengkaji dan mengulang-ulang mata pelajaran yang telah diberikannya, mengaktulisasikan dalam kehidupan sehari-hari ilmu yang telah diberikan seorang pendidik. 

Al-Ghazali memberikan penjelasan tentang etika peserta didik terhadap pendidik sebagai berikut : 
  1. Jika berkunjung kepada guru harus harus mengucapkan salam terlebih dahulu; 
  2. Jangan banyak bicara dihadapan guru; 
  3. Jangan bertanya kalau tidak atau belum meminta ijin guru; 
  4. Jangan bicara jika tidak diajak guru; 
  5. Jangan membantah perkataan atau pendapat guru:
  6. Jangan menganggap ilmu murid lebih dari guru jika guru belum memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang ditanyakan; 
  7. Jangan berbincang ditempat guru, atau berbicara kepada guru sambil tertawa-tawa; 
  8. Jika duduk dihadapan guru jangan banyak menoleh-noleh, tapi duduklah dengan menundukkan kepala dan tawadlu; 
  9. Jangan banyak bertanya ketika guru sedang bosan atau kurang enak; 
  10.  Jika guru berdiri maka berdirilah dengan penuh penghormatan; 
  11. Jika guru sudah akan pergi jangan dihentikan karena ingin bertanya; 
  12. Jangan bertanya kepada guru ketika sedang di jalan; 
  13. Jangan berprasangka buruk terhadap guru (Zainudin dkk, 1990:64). 
Dari pendapat di atas, seorang peserta didik sangat disarankan unuk menghormati pendidik. Penghormatan kepada pendidik ini sangat penting karena pendidik diposisikan sebagai sumber pengetahuan. Dengan memposisikan pendidik sebagai sumber pengetahuan, maka peserta didik memerlukan pendidik, oleh karena itu posisi pendidik sangat penting.

Dalam konteks pendidikan sekarang, etika-etika peserta didik tersebut sebagiannya sudah ditinggalkan. Pandangan modern sekarang dengan menggunakan pendekatan pendidikan andragogi, pendidik lebih diposisikan sebagai mitra dalam memecahkan persoalan peserta didik. Di samping peserta didik itu memiliki etika, peserta didik juga memiliki kewajiban. 

Kewajiban-kewajiban peserta didik tersebut diuraikan oleh Al Abrasyi (1993:147-148) sebagai berikut : 
  1. Sebelum belajar seorang murid hendaknya memulai dengan mensucikan hatinya dari sifat kehinaan, sebab proses belajar termasuk ibadah dan keabsahan ibadah harus disertai dengan kesucian hati; 
  2. Hendaknya mengorientasikan belajarnya dalam rangka memperbaiki dan menghiasi jiwanya dengan sifat-sifat yang mulia, dekat kepada Allah dan bukan untuk membanggakan diri; 
  3. Mencari ilmu hendaknya dilakukan secara terus-menerus; 
  4. Murid hendaknya tidak gonta-ganti guru, bahkan ia harus mengkonsentrasikan diri hanya pada seorang guru; 
  5. Hendaklah jangan mempersulit guru dengan banyak bertanya, tidak menyusahkan dalam meminta jawaban, tidak duduk di tempat guru, dan tidak memulai pembicaraan kecuali di suruh guru; 
  6. Jangan membuka rahasia guru dan jangan mengupat seseorang disisinya, jangan mencari-cari kesalahannya, dan memaapkan guru apabila memiliki kesalahan; 
  7. Bersungguh-sungguh dalam belajar sehingga mendapatkan hasil yang diinginkan; 
  8. Hendaknya menciptakan suasana kecintaan antara sesama siswa; 
  9. Hendaknya memulai salam ketika bertemu guru;
  10. Hendaknya terus-menerus belajar dan mengulangnya pada awal atau akhir malam; 
  11. Menyediakan diri untuk belajar sampai akhir hayat, dan tidak meremehkan ilmu pengetahuan. 
  12. Disamping memiliki kewajiban, peserta didik juga memiliki hak. Hak-hak peserta didik tersebut sebagai berikut :
  13. Mendapat perlakuan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya; 
  14. Mengikuti program pendidikan yang bersangkutan atas dasar pendidikan berkelanjutan, baik untuk meningkatkan kemampuan diri maupun untuk memperoleh pengakuan tingkat pendidikan tertentu; 
  15. Mendapat bantuan fasilitas belajar, beasiswa ataupun bantuan lain sesuai dengan persyaratan yang berlaku; 
  16. Pindah ke satuan pendidikan yang sejajar atau yang tingkatannya lebih tinggi denngan persyaratan penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan yang hendak dimasuki; 
  17. Memperoleh penilaian hasil belajarnya; 
  18. Menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang telah ditetapkan; 
  19. Mendapatkan pelayanan khusus bagi penyandang cacat (Oemar Hamalik, 1999:8). 

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 pasal 12 disebutkan bahwa peserta didik memiliki kewajiban sebagai berikut : 
  1. Menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan; 
  2. Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peaturan perundang-undangan yang berlaku. 

Kebutuhan Peserta Didik Di dalam proses pendidikan peserta didik di samping sebagai objek juga sebagai subjek. Oleh karena itu agar seorang pendidik berhasil dalam proses pendidikan, maka ia harus memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya. 

Diantara aspek yang harus dipahami oleh pendidik yaitu: 
  1. Kebutuhannya,
  2. Dimensi-dimensinya, 
  3. Intelegensinya, dan 
  4. Kepribadiannya. 
Banyak kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi oleh pendidik, diantaranya: 
  1. Kebutuhan Fisik Fisik peserta didik mengalami pertumbuhan fisik yang cepat terutama pada masa puberitas. Kebutuhan biologis, yaitu berupa makan, minum dan istirahat, dimana hal ini menuntut peserta didik untuk memenuhinya. 
  2. Kebutuhan Sosial Kebutuhan sosial yaitu kebutuhan yang berhubungan langsung dengan masyarakat agar peserta didik dapat berinteraksi dengan masyarakat lingkungannya, seperti diterima oleh teman-temannya secara wajar.
  3. Kebutuhan untuk mendapatkan status Peserta didik pada usia remaja membutuhkan suatu yang menjadikan dirinya berguna bagi masyarakat. Kebanggaan terhadap diri. 
  4. Kebutuhan Mandiri Peserta didik pada usia remaja ingin lepas dari batasan-batasan atau aturan orang tuanya dan mencoba untuk mengarahkan dan mendisiplinkan dirinya sendiri. 
  5. Kebutuhan untuk berprestasi Kebutuhan untuk berprestasi erat kaitannya dengan kebutuhan mendapat status dan mandiri. Artinya dengan terpenuhinya kebutuhan untuk memiliki status atau penghargaan dan kebutuhan untuk hidup mandiri dapat membuat peserta didik giat untuk mengejar prestasi. 
  6. Kebutuhan ingin disayangi dan dicintai Rasa ingin disayangi dan dicintai merupakan kebutuhan yang esensial, karena dengan terpenuhi kebutuhan ini akan mempengaruhi sikap mental peserta didik. Banyak anak-anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua, guru dan lain-lainnya mengalami prestasi dalam hidup. Dalam agama cinta kasih yang paling tinggi diharapkan dari Allah Swt. 
  7. Kebutuhan untuk mencurahkan perasaan Kebutuhan untuk curhat terutama remaja dimaksudkan suatu kebutuhan untuk dipahami ide-ide dan permasalahan yang dihadapinya. Peserta didik mengharapkan agar apa yang dialami, dirasakan terutama dalam masa pubertas. 
  8. Kebutuhan untuk memiliki filsafat hidup Peserta didik pada usia remaja mulai tertarik untuk mengetahui tentang kebenaran dan nilai-nilai ideal. Mereka mempunyai keinginan untuk mengenal apa tujuan hidup dan bagaimana kebahagiaan itu diperoleh. Karena itu mereka membutuhkan pengetahuanpengetahuan yang jelas sebagai suatu filsafat hidup yang memuaskan yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam mengarungi kehidupan ini. 
  9. Dimensi Fisik (Jasmani) Zakiah Daradjat sebagaimana dikutip oleh Ramayulis (2006:82) membagi manusia kepada tujuh dimensi pokok yamg masing-masingnya dapat dibagi kepada dimensidimensi kecil. 
Ketujuh dimensi tersebut adalah : dimensi, akal, agama, akhlak, kejiawaan, rasa kaindahan dan sosial kemasyarakatan Semua dimensi tersebut harus tumbuh kembangkan melalui pendidikan Islam.
Sedangkan fungsi akal m anusia terbagi kepada enam yaitu : 
  1. Akal adalah penahan nafsu. Dengan akal manusia dapat mengerti apa yang tidak dikehendaki oleh amanat yang dibebankan kepadanya sebagai kewajiban. 
  2. Akal adalah pengertian dan pemikiran yang berubah-ubah dalam menghadapi sesuatu baik yang tampak jelas maupun yang tidak jelas. 
  3. Akal adalah petunjuk yang dapat membedakan hidayah dan kesesatan 
  4. Akal adalah kesadaran batin dan pengaturan 
  5. Akal adalah pandangan batin yang berdaya tembus melebihi penglihatan mata. 
  6. Akal adalah daya ingat mengambil dari yang telah lampau untuk masa yang akan dihadapi. 
Ia menghimpun semua pelajaran dari apa yang pernah terjadi untuk menghadapi apa yang akan terjadi. Ia menyimpan, mewadahi, memulai dan mengulangi semua pengerian itu. Akal dapat memahami semua perintah kebajikan dan memahami setiap larangan mengenai kejahatan. (Ramayulis, 2006:86) Syekh Al-Muhasibi seorang sufi mengatakan bahwa akal ialah cahaya pengetahuan yang diberikan Allah kepada hati. Dengan akal seorang hamba dapat membedakan mana yang hak dan batil serta dapat memahami apa yang terlintas didalam benaknya, apapun, yang baik dan yang buruk, termasuk was-was, kekhawatiran dan keinginannya.Esensinya akal adalah sebuah insting yang diciptakan. Sedangkan materi akal dibagi ke dalam dua bagian yaitu akal insting dan akal eksprimen. Maka insting menghasilkan eksperimen dan dengan eksperimen akal dapat diketahui esensinya. (Al-Muhasibi, 2003:49).Meskipun demikian kemampuan akal cukup terbatas. 

Pada dimensi ini, akal memerlukan bantuan alqalb. Sebab dengan al-qalb tersebut, manusia dapat merasakan eksistensi immaterial dan kemudian menganalisanya lebih lanjut. Akal berhubungan dengan Intelegensi (kecerdasan). Kecerdasan dalam bahasa Inggris disebut intelligence dan bahasa Arab disebut al-dzaka menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan (al-qudrah) dalam memahami sesuatu secara cepat dan sempurna. Di dalam Islam Intelegensi disebut dengan aql atau akal yang berpusat di kepala. Akal adalah cahaya pengetahuan yang diberikan Allah kepada hati. 

Dengan akal seseorang hamba dapat membedakan antara yang benar dan yang salah serta dapat memahami semua yang terlintas di dalam benaknya, apapun yang baik dan yang buruk, termasuk was-was, kekhawatiran dan keinginan. Sesungguhnya hakikat akal adalah sifat atas suatu makna yang ada dalam kebenaran atau kesalahan suatu perkataan. Ia bukanlah materi dan bukan pula indra yang dapat dirasa, ia bukanlah sesuatu yang dapat dilihat. Akan tetapi akal mengetahui materi sebagaimana ia mengetahui esensi. 

Oleh karena itu lisan seseorang menunjukkan tingkatan akalnya jika pernyataannya benar, ia disebut orang berakal (pandai). Sebaliknya jika pernyataannya salah, ia disebut bodoh. Lisan itu menunjukkan bahwa di dalam tubuh ada cahaya yakni akal (al-Muhasibi, 2003:47-48). Kecerdasan intelektual berbeda pada setiap orang. Hal ini disebabkan oleh perbedaan dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam berbagai persoalan. Orang yang memiliki intelegensi tinggi akan lebih dapat menyelesaikan maslah lebih baik dari pada yang tidak memiliki intelegensi baik (Ramayulis, 2006:97). Beberapa ahli mengemukakan pendapat tentang ciri-ciri kecerdasan intelektual ini sebagai berikut :

• Menurut Thurstone dengan teori multifaktornya yang dapat menentukan kecerdasan intelektual, tujuh diantaranya yang dianggap paling utama untuk ebilitas-ebilitas mental, yaitu: 
  1. Faktor ingatan, yaitu kemampuan untuk mengingat. 
  2. Faktor verbal yaitu kecakapan untuk menggunakan bahasa.
  3. Faktor bilangan yaitu kemempuan untuk bekerja dengan bilangan, misalnya kecakapan berhitung dan sebagainya. 
  4. Faktor kelancaran kata-kata yaitu seberapa lancer seseorang mempergunakan katakata yang sukar ucapannya. 
  5. Faktor penalaran yaitu factor yang mendasari kecakapan untuk berpikir logis 
  6. Faktor persepsi yaitu kemampuan untuk mengamati dengan cepat dan cermat. 
  7. Faktor ruang yaitu kemempuan untuk mengadakan orientasi dalam ruang (Ramayulis, 2006:98). 
• Menurut Nana Syaodih sebagaimana dikutip oleh Ramayulis (2006:98) mengemukakan ciri-ciri perilaku cerdas atau perilaku individu yang memiliki kecerdasan tinggi adalah: 
  1. Terarah kepada tujuan (purposeful behavior). Perilaku cerdas selalu mempunyai tujuan dan diarahkan kepada pencapaian tujuan tersebut, tidak ada perilaku yang sia-sia. 
  2. Tingkah laku terkoordiansi (organized behavior). Seluruh aktivitas dan perilaku cerdas selalu terkoordinasi dengan baik. Tidak ada perilaku yang tidak direncanakan atau tidak terkendali. 
  3. Sikap jasmaniah yang baik (physical wee/toned behavior). Perilaku cerdas didukung oleh sikap jasmaniah yang baik. Peserta didik yang belajar secara cerdas, duduk dengan baik, menempatkan bahan yang dipelajari dengan baik, memegang alat tulis dengan baik dan sebagainya, tidak belajar sambil tiduran, sambil tengkurap dan sebagainya. 
  4. Memiliki daya adaptasi yang tinggi (adavtable behavior). Perilaku cerdas cepat membaca dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, tidak banyak mengeluh atau merasakan hambatan dan lingkungan. 
  5. Berorientasi kepada sukses (success oriented behavior). Perilaku cerdas berorientasi kepada keberhasilan, tidak takut gagal, selalu optimis. 
  6. Mempunyai motivasi yang tinggi (clearly motivated behavior). Perilaku cerdas selalu didorong oleh motivsi yang kuat baik yang datangnya dari dalam dirinya maupun dari luar.
  7. Dilakukan dengan cepat (rapid behavior). Perilaku cerdas dilakukan dengan cepat, karena ia dengan cepat dapat memahami situasi atau permasalahan. 
  8. Menyangkut kegiatan yang luas (broad behavior). Perilaku cerdas menyangkut suatu kegiatan yang luas dan kompleks yang membutuhkan pemahaman dan pemikiran yang mendalam.
Dimensi Keberagaman 
Dalam pandangan Islam, sejak lahir manusia telah mempunyai jiwa agama, jiwa yang mengakui adanya zat yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa yaitu Allah Swt. Sejak di dalam roh, manusia telah mempunyai komitmen bahwa Allah adala Tuhannya.   

Pandangan Islam terhadap fitrah inilah yang membedakan kerangka nilai dasar pendidikan Islam dengan yang lain. Dalam kontek makro, pandangan Islam terhadap manusia ada tiga implikasi dasar yaitu : 
Pertama, implikasi yang berkaitan dengan pendidikan diarahkan untuk mengembangkan fitrah seoptimal mungkin dengan tidak mendikotomikan materi.

Kedua, tujuan pendidikan, yaitu insan kamil yang akan tercapai bila manusia menjalankan fungsinya sebagai Abullah dan Khalifatullah sekaligus. 

Ketiga, muatan materi dan metodologi pendidikan, diadakan spesialisasi dengan metode integralistik dan disesuaikan dengan fitrah manusia (Ramayulis, 2006:88) Rasa keberagamaan merupakan fitrah dari Allah yang sangat besar. 

Kata fitrah berasal dari kata fathara yang makna sebenarnya adalah membuka atau membelah. Fitrah adalah sifat yang menetap pada setiap wujud ((Lois Ma’luf, tt:765-766) Dalam kamus lain, kata fitrah diartikan sebagai creation, nature, disposition, constitution, temperamen, innate character, instinc (Al-Khudrawi, tt:329). 

Bahtiar Surin (1976:646) mengatakan bahwa fitrah adalah ciptaan, kodrat jiwa, budi nurani, maksudnya bahwa rasa keagamaan, rasa pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah serasi dengan hati nurasi manusia. Manusia yang tidak bertuhan adalah manusia yang menyalahi fitrahnya sendiri. Menurut Muhammad Rasyid Ridla (1983:35) merupakan fitrah Allah telah menciptakan manusia menurut fitrah jibillah insaniyah (tabiat, bawaan, nature). Fitrah ini menghimpun dua kehidupan yaitu jasmani dan rohani. Dalam jibillah ini terdapat fitrah gharizah (naluri) beragama yang mengakui akan adanya kekuatan yang luar biasa yaitu Allah. Fitrah keagamaan ini merupakan kecenderungnan kearah kebaikan. Kecenderungan ke arah kebaikan ini dinamakan hanief. Kata hanief memiliki arti condong atau cenderung. Dalam al-Qur’an, kata hanif memiliki arti cenderung kepada yang benar. 

Dawam Rahardjo mengatakan bahwa hanif memiliki beberapa pengertian yaitu : 
  1. Orang yang meninggalkan atau menjauhi kesalahan dan mengarahkan dirinya kepada petunjuk; 
  2. Orang yang terus menerus mengikuti kepercayaan yang benar tanpa keinginan untuk berpaling daripadanya; 
  3. Seseorang yang cenderung menata perilakunya secara sempurna menurut Islam dan terus-menerus mempertahankannya secara teguh; 
  4. Yang percaya kepada seluruh nabi-nabi.

Kecenderungan manusia untuk beragama merupakan fitrah yang built in dan merupakan anugrah terbesar. Peserta didik perlu dipahami sebagai sosok yang memiliki fitrah ini dan pendidikan adalah sarana untuk mengembangkan potensi fitrah ini. 

Dimensi Akhlak 
Menurut Imam al-Ghazali, bahwa akhlak yang disebutnya dengan tabiat manusia dapat dilihat dalam dua b entuk, yaitu : 
  1. Tabiat-tabiat fitrah, kekuatan tabiat pada asal kesatuan tubuh dan berkelanjutan selama hidup. Sebagian tabiat tersebut lebih kuat dan lebih lama dibandingkan dengan tabiat lainnya. Seperti tabiat syahwat yang ada pada manusia sejak ia dilahirkan, lebih kuat dan lebih sulit diluruskan dan diarahkan dibanding tabiat marah. 
  2. Akhlak yang muncul dari suatu perangai yang banyak diamalkan dan ditaati, sehingga menjadi bagian dari adat kebiasaan yang berurat berakar pada dirinya (Ramayulis, 2006:89). Akhlak menurut pengertian Islam adalah salah satu hasil dari iman dan ibadat, Karena iman dan ibadat manusia tidak sempurna kecuali kalau dari situ muncul akhlak yang mulia. 

Maka akhlak dalam Islam bersumber pada iman dan taqwa dan mempunyai tujuan langsung, yang dekat yaitu harga diri dan tujuan jauh, yaitu ridha Allah Swt. Adapun ciri akhlak Islam antara lain : 
  1. Bersifat menyeluruh (universal). Akhlak Islam adalah suatu metode (minhaj) yang sempurna, meliputi seluruh gejala aktivitas biologis perseorangan dan masyarakat. Meliputi segala hubungan manusia dalam segala segi kehidupannya, baik hubungan dengan Tuhan, dengan manusia, makhluk lainnya dan dengan alam. 
  2. Ciri-ciri keseimbangan Islam dengan ajaran-ajaran dan akhlaknya menghargai tabiat manusia yang terdiri dari berbagai dimensi memperhatikan seluruh tuntutannya dan kemaslahatan dunia dan akhirat. 
  3. Bersifat sederhana. Akhlak dalam Islam berciri kesederhanaan dan tidak berlebihan pada salah satu aspek. Ciri ini memastikan manusia berada pada posisi pertengahan, tidak berlebih-lebihan dalam suatu urusan dan tidak pula bakhil. 
  4. Realistis. Akhlak Islam sesuai dengan kemampuan manusia dan sejalan dengan naluri yang sehat. Islam tidak membebankan manusia kecuali sesuai dengan kemampuannya dan dalam batas-batas yang masuk akal. 
  5. Kemudahan. Manusia tidak dibebani kecuali dalam batas-batas kesanggupan dan kekuatannya, Ia tidak dianggap bertanggungjawab dari akhlak (moral) dan syara’ kecuali jika berada dalam keamanan, kebebasan dan kesadaran akal yang sempurna. 
  6. Mengikat kepercayaan dengan amal, perkataan dan perbuatan, teori dan praktek. 
  7. Tetap dalam dasar-dasar dan prinsip-prinsip akhlak umum. Akhlak Islam kekal sesuai dengan zaman dan cocok untuk segala waktu ia tidak tunduk pada perubahan dan pertukaran sesuai dengan hawa nafsu (Ramayulis, 2006:90). 
Tujuan dari pendidikan akhlak dalam Islam adalah untuk membentuk manusia yang bermoral baik, keras kemauan, sopan dalam bicara dan perbuatan, mulia dalam tingkah laku perangai, bersifat bijaksana, sempurna, sopan dan beradab, ikhlas, jujur dan suci. Jika dihubungkan dengan peserta didik, maka dimensi akhlak merupakan tujuan yang harus dituju dalam rangka mengembangkan peserta didik. Peserta didik juga perlu menyadari hal ini dan menjadikan akhlak sebagai tujuan dari pendidikannya.

Dimensi Rohani (Kejiwaan) 
Rohani atau jiwa merupakan bagian penting dari peserta didik. Manusia dikatakan manusia karena memiliki dimensi rohani atau jiwa ini. Oleh karena itu pembahasan tentang jiwa sebagai bagiamana dari potensi peserta didik perlu dibahas. Selanjutnya akan diberikan beberapa pengertian nafs (jiwa) dari berbagai tokoh dan pandangan: Menurut Ibnu Arabi sebagaimana dikutif oleh W. Chittich, (2001:351) ketika membicarakan “nafs rahmani” mengatakan bahwa nafs memilki arti berhembus, menjadi riang, menyenangkan, meghilangkan kesedihan. Ibn al-Arabi mengutif dua hadits sebagai sumber ungkapan “nafs rahmani” yaitu: “jangan engkau kutuki angin, karena ia berasal dari nafs yang maha pengasih” dan hadits “aku dapati nafs yang maha pengasih menghapiriku dari arah Yaman”

Dalam hadits pertama, Nabi menunjukkan bahwa angin adalah sarana yang dijadikan Tuhan untuk menyenangkan serta menghibur hamba-hamba-Nya. Dan hadits kedua adalah ungkapan Nabi untuk menghibur para sahabatnya dalam menghadapi tantangan dari kerabat mereka dalam menjalankan misi kematian. Istilah nafs dapat diterjemahkan menjadi “jiwa” atau “diri’. Ada juga istilah lain yang keberadaannya hampir sama bahkan ada yang menyamakannya, misalnya istilah roh, ada juga yang membedakan istilah itu. Ketika ruh dan jiwa dibedakan, jiwa secara umum bertindak sebagai semacam barzakh antara ruh dan badan. Ruh tercipta dari cahaya seperti malaikat. Sedangkan badan dari tanah. Jiwa bertindak sebagai perantara diantara keduanya (Murata, 2000:313). 

Teks-teks sufi sering menggambarkan jiwa ini sebagai dimensi batin dari realita manusia yang memiliki sejumlah besar kemungkinan. Abu Thalib al-Makki sebagaimana dikutif oleh Murata mengungkapkan hal ini sebagai berikut: 
  1. Jiwa itu dirundung empat sifat yang berbeda. Yang pertama adalah makna dari sifatsufat kebesaran seperti sombong, tak terkalahkan, cinta akan puji-pujian, agung dan merdeka. Ia juga dikenai sifat-sifat dari syetan seperti menipu, kejam, iri, dan curiga. Jiwa juga dipandang perangai hewan yaitu suka akan makanan, minuman dan perkawinan. 
  2. Dalam kitab al-Luma, Abu Nasr al Sarraj menjelaskan tentang ciri-ciri jiwa (nafs) adalah kemarahan,  pencarian keagungan, iri hati, hasrat yang mengebu-gebu dan kecemburuan. 
Menurut Abu Abd Rahman al-Sualmi, jiwa memiliki tiga tingkat yaitu nafs amarah, nafs lawwamah dan muthmainnah. Al-Sulami lebih cenderung mengatakan bahwa jiwa itu cenderung jahat dan jiwa memiliki tujuh puluh cacat.

Menurut Jalaludin Rumi, kata nafs digunakan untuk menunjukm pada roh binatang yang dalam bahasa inggris disebut “soul” (jiwa) atau “self” (diri). Dalam bahasa Arab dan Persia, kata nafs sering dijumbuhkan dengan ruh atau jan, “spirit”. Rumi terkadang sering menggunakan kata nafs untuk menunjukkan tingkatan yang lebih tinggi, juga dalam pengertian Rumi, nafs juga mempunyai arti negatif (Chittick, 2000:40). Menurut al-Ghazali menentang nafsu adalah ibadah yang lebih tinggi nilainya hal ini sesuai dengan hadits Nabi “kita telah kembali dari jihad yang kecil untuk menuju kepada jihad yang besar” Nabi ditanya, jihad apakah yang besar itu wahai Rasulullah?. 

Menurut pandangan seorang filosof yaitu Plato, dia mengemukakan tentang tiga bagian jiwa yaitu jiwa rasional yang bertempat di kepala yang mempunyai keistimewaan yaitu kebijakan. Kedua adalah jiwa marah, tempatnya di dada yang keistimewaannya adalah keberanian. Ketiga jiwa syahwat yang tempatnya di perut dan keistimewaannya adalah kekuatan (Mursyi,tt:1). Substansi jiwa menurut al-Hasan adalah suatu sifat yang lembut dan tinggi yang dapat menjelaskan pencapaian (Thaha, tt:1). Jiwa, menurut Ibnu Maskawaih, adalah jauhar rohani yang tidak hancur dengan sebab kematian jasad. Ia adalah kesatuan yang tidak terbagi-bagi. Ia akan hidup selalu. Ia tidak dapat diraba dengan pancaindera karena ia bukan jisim dan bagian dari jisim (Sirajuddin Zar, 2004:133). Sebagaimana telah disebutkan di muka, Maskawaih mengatakan bahwa jiwa berasal dari limpahan Akal Aktif. 

Jiwa bersifat rohani, suatu substansi yang sederhana yang tidak dapat diraba oleh salah satu panca indera. Jiwa tidak bersifat material dibuktikan oleh Maskawaih dengan adanya kemungkinan jiwa dapat menerima gambaran-gambaran tentang banyak hal yang bertentangan satu dengan yang lain. Misalnya, jiwa dapat menerima gambaran konsep putih dan hitam dalam waktu yang sama, sedangkan materi hanya dapat menerima dalam satu waktu putih atau hitam saja. Jiwa dapat menerima gambaran segala sesuatu, baik yang inderawi maupun yang spiritual. 

Daya pengenalan dan kemampuan materi bahkan dunia materi semuanya tidak akan sanggup memberi kepuasan kepada jiwa, karena hal-hal spiritual juga menjadi kerinduan jiwa. Lebih dari itu, di dalam jiwa terdapat daya pengenalan akal yang tidak didahului pengenalan dengan pengenalan inderawi. Dengan daya pengenalan akal itu, jiwa mampu membedakan antara yang benar dan tidak benar berkaitan dengan hal-hal yang diperoleh pancaindera. Perbedaan itu dilakukan dengan jalan membanding-bandingkan obyek-obyek inderawi yang satu dengan yang lain dan membeda-bedakannya. Dengan demikian jiwa bertindak sebagai pembimbing pancaindera dan membetulkan kekeliruan-kekeliruan yang dialami pancaindera. 

Maskawaih menonjolkan kelebihan jiwa manusia atas binatang dengan adanya kekuatan berpikir yang menjadi sumber pertimbangan tingkah laku, yang selalu mengarah kepada kebaikan. Menurut Maskawaih, jiwa manusia mempunyai tiga kekuatan yang bertingkat-tingkat. 

Dari tingkat yang paling rendah disebutkan urutannya sebagai berikut: 
  1. An-Nafs al-bahimiyah ; 
  2. An-Nafs al-sabu’iah ; 
  3. An-Nafs an-nathiqah. 

Atas dasar adanya tiga macam kekuatan jiwa manusia tersebut dapat disebutkan adanya tiga macam keutamaan cabang yang berpokok pada keutamaan-keutamaan dasar itu. Dengan demikian keutamaan-keutamaan jiwa itu ada empat macam yaitu hikmah (wisdom), ‘iffah (kesucian), dan ‘adalah (keadilan). Kebijaksanaan adalah keutamaan jiwa cerdas. Kesucian adalah keutamaan nafsyu sahwat; keutamaan lahir jika manusia dapat menyalurkan syahwatnya sejalan dengan pertimbangan akal yang sehat, hingga ia bebas dari perbudakan syahwatnya.keberanian adalah keutuamaan jiwa ghadabiyah (sabu’iyah); keutamaan ini akan timbul apabila manusia dapat menundukkannya kepada jiwa nathiqah dan menggunakannya sesuai dengan tuntunan akal sehat. 

Keadilan adalah keutamaan jiwa yang terjadi dari kumpulan tiga macam keutamaan tersebut di atas. Maskawaih menyebutkan adanya keutamaan lain, selain empat macam keutamaan moral tersebut, yaitu keutamaan jiwa yang lebih sesuai dengan ketinggian martabat jiwa, yaitu berusaha memiliki pengetahuan, dan kesempurnaan jiwa yang sebenarnya adalah dengan pengetahuan dan bersatu dengan Akal Aktif. Jelas Maskawaih memperoleh dari Socrates yang mengatakan bahwa keutamaan adalah pengetahuan dan dari Neo-Platonisme yang mengatakan bahwa puncak keutamaan adalah bersatu dengan Akal Aktif, selanjutnya meningkat terus hingga bersatu dengan Tuhan (Mustofa, 2007:179). Manusia menjadi manusia yang sebenarnya jika memiliki jiwa yang cerdas. Dengan jiwa yang cerdas itu, manusia terangkat derajatnya, setingkat malaikat, dan dengan jiwa yang cerdas itu pula manusia dibedakan dari binatang. Sehubungan dengan kualitas dari tingkatan-tingkatan jiwa yang tiga macam tersebut, Maskawaih mengatakan bahwa jiwa yang rendah atau buruk (nafsu kebinatangan) mempunyai sifat-sifat ujub, sombong, pengolok-olok, penipu dan hina dina. 

Sedangkan jiwa yang cerdas mempunyai sifat-sifat adil, harga diri, berani, pemurah, benar dan cinta. Jiwa manusia menurut ibnu Thufail adalah mahkluk yang tertinggi maratabatnya. Manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasad dan ruh. Badan tersusun dari unsur-unsur, sedangkan jiwa tidak tersusun. Jiwa bukan jisim dan bukan pula suatu daya yang ada didalam jisim setelah badan hancur dan mengalami kematian, jiwa lepas dari badan, dan selanjutnya jiwa yang pernah mengenal Allah selama berada dalam jasad akan hidup dan kekal. Menurut ibnu Thufail jiwa terdiri dari tiga tingkat: dari rendah jiwa tumbuhan, ketingkat yang lebih tinggi jiwa hewan, kemudian ketingkat jiwa yang martabatnya lebih tinggi dari keduanya yaitu jiwa manusia. Bagi peserta didik, implikasi yang dapat diambil dari nafs itu adalah agar peserta didik dapat senantiasa meningkatkan kemampuan untuk membersihkan jiwa dari kecenderungan untuk berbuat jahat dan memfokuskan dirinya untuk senantiasa dapat berusaha meningkatkan jiwanya ke arah yang lebih baik.

Dimensi Seni (Keindahan) 
Seni adalah ekspresi roh dan daya manusia yang mengandung dan mengungkapkan keindahan. Seni adalah bagian dari hidup manusia. Allah telah menganugerahkan kepada mausia berbagai potensi rohani maupun indrawi (mata, telinga dan lain sebagainya). Seni sebagai salah satu potensi rohani, maka nilai seni dapat diungkapkan oleh perorangan sesuai dengan kecenderungannya, atau oleh sekelompok masyarakat sesuai dengan budayanya, tanpa adanya batasan yang ketat kecuali yang digariskan Allah (Ramayulis, 2006:87). 

Dimensi seni (keindahan) pada diri manusia tidak boleh diabaikan. Sebaiknya perlu ditumbuhkan, karena keindahan itu akan menggerakkan batinnya, memenuhi relungrelung hatinya, meringankan beban kehidupan yang kadang menjemukan, dan menjadikan merasakan keberadaan nilai-nilai serta lebih mampu menikmati keindahan hidup. 

Dimensi Sosial 
Seorang manusia adalah makhluk individual dan secara bersamaan adalah makhluk sosial Keserasian antar individu dan masyarakat tidak mempunyai kontradiksi antara tujuan sosial dan tujuan individu.Dalam Islam tanggung jawab tidak terbatas pada peerorangan, tetapi juga sosial sekaligus. Tanggung jawab perorangan pada pribadi merupakan asas, tetapi ia tidak mengabaikan tanggung jawab sosial yang merupakan dasar pembentuk masyarakat (Ramayulis, 2006:95). 

Untuk lebih memahami konsep-konsep tersebut, Anda diminta untuk mendiskusikan atau menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini : 
  1. Sebutkan sepuluh etika peserta didik menurut al- Ghazali! 
  2. Menurut Asma Hasan Fahmi terdapat empat etika peserta didik, sebutkan! 
  3. Berkaitan dengan aspek apa saja etika peserta didik menurut Abd Amir Syam al –Din? 
  4. Disamping diharapkan memiliki etika, peserta didik juga memiliki kewajiban-kewajiban. Sebutkan lima kewajiban peserta didik menurut al- Abrasyi! 
  5. Kebutuhan apa saja yang perlu diperhatikan oleh pendidik yang terdapat pada peserta didik ? Selanjutnya silahkan Anda cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban yang terdapat di bawah ini! 

1) 
  • Belajar dengan niat ibadah untuk selalu mendekatkan kepada Allah Swt dengan niat ikhlas. Faktor terpenting yang harus dimiliki peserta didik adalah kesucian jiwa karena hal ini akan menghindari murid dari sifat-sifat tercela yang bertentangan dengan ajaran agama;.
  • Mengurangi kecendrungan pada urusan dunia tetapi lebih mengutamakan pada urusan akhirat. Karena kecintaan terhadap urusan dunia akan menyebabkan mentalmental materialism; 
  • Memiliki keperibadian tawadhu (rendah hati) dengan lebih mengutamakan kepentingan pendidikan daripada kepentingan pribadi. Peserta didik haruslah memiliki ilmu seperti padi ‘semakin berisi semakin merunduk’; 
  • Menghindari pikiran-pikiran yang dapat mempengaruhi kebimbangan peserta didik yang timbul dari berbagai aliran; 
  • Lebih mengutamakan ilmu-ilmu yang terpuji baik itu ilmu duniawi ataupun ukhrowi; 
  • Menuntut ilmu secara bertahap sesuai dengan kemampuan yang dimiliki peserta didik; 
  • Menuntut ilmu secara tuntas sampai memahami materi yang dipelajari, kemudian mempelajari ilmu yang lain sehingga peserta didik lebih memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam; 
  • Mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu yang dipelajarinya; 
  • Lebih memprioritaskan ilmu diniyah sebelum mempelajari ilmu duniawi, dengan bekal ilmu diniyah, peserta didik memiliki bekal ilmu agama yang akan mengarahkan kepada akhlak yang baik; 
  • Peserta didik haruslah patuh dan tunduk terhadap pendidik 

2) 
  • Seorang anak didik terlebih dahulu membersihkan hatinya dari segala macam jenis penyakit jiwa . 
  • Seorang anak didik harus memiliki tujuan menuntut ilmu dalam rangka menghias jiwa dengan sifat keutamaan, mendekatkan diri kepada Tuhan dan bukan untuk meraih kemegahan dan kedudukan; 
  • Peserta didik memiliki jiwa besar dan bersabar dalam menuntut ilmu, 
  • Peserta didik wajib menghormati pendidik (guru) dan berusaha untuk selalu memperoleh kerelaan dari seorang pendidik 

3) 
Pertama, terkait dengan dirinya sendiri, meliputi membersihkan hati, memperbaiki niat atau motivasi dengan memiliki cita-cita dan usaha yang kuat untuk menggapai kesuksesaan, memiliki sifat zuhud (tidak materialistis), dan penuh kesederhanaan. 

Kedua, berkaitan dengan pendidik, meliputi patuh dan taat secara sempurna, memuliakan dan menghormatinya, senantiasa melayani kebutuhan pendidik dan menerima segala bentuk hukuman dari pendidik ketika peserta didik bersalah. 

Ketiga, berkaitan dengan pelajaran, senantiasa mengkaji dan mengulang-ulang mata pelajaran yang telah diberikannya, mengaktulisasikan dalam kehidupan sehari-hari ilmu yang telah diberikan seorang pendidik. 

4) 
  • Sebelum belajar seorang murid hendaknya memulai dengan mensucikan hatinya dari sifat kehinaan, sebab proses belajar termasuk ibadah dan keabsahan ibadah harus disertai dengan kesucian hati; 
  • Hendaknya mengorientasikan belajarnya dalam rangka memperbaiki dan menghiasi jiwanya dengan sifat-sifat yang mulia, dekat kepada Allah dan bukan untuk membanggakan diri; 
  • Mencari ilmu hendaknya dilakukan secara terus-menerus; 
  • Murid hendaknya tidak gonta-ganti guru, bahkan ia harus mengkonsentrasikan diri hanya pada seorang guru; 
  • Hendaklah jangan mempersulit guru dengan banyak bertanya, tidak menyusahkan dalam meminta jawaban, tidak duduk di tempat guru, dan tidak memulai pembicaraan kecuali di suruh guru. 
5) 
  • Fisik, 
  • Sosial, 
  • Status, 
  • Mandiri, 
  • Prestasi, 
  • Disayangi,
  • Mencurahkan perasaan,
  • Falsafah hidup 
Blog, Updated at: 22.28

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts