Hakikat Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Hakikat Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Banyak ahli ilmu sosial berpendapat bahwa sifat-sifat kemanusiaan itu dipelajari (Perry dan Saidler, 1973). Proses belajar terhadap sifat-sifat tersebut berlangsung sejak manusia sangat muda, saat kanak-kanak. Proses tersebut berlangsung dalam interaksi akrab antara anak dengan orang dewasa sekelilingnya. Hubungan interaksi yang akrab ini dapat berlanggsung berkat adanya bahasa. Dengan berpusat pada pembahasan tentang manusia IPS memperkenalkan kepada peserta didik bahwa manusia dalam hidup bersama dituntut rasa tanggung jawab sosial. Mereka akan menyadari bahwa dalam hidup bersama ini adakalanya mereka menghadapi berbagai masalah, diantaranya ialah masalah sosial. Dalam konteks ini diantaranya menyangkut tentang orang-orang yang bernasib kurang menguntungkan; karena cacat, karena tidak mempunyai orang tua, karena terpisah dengan keluarga, bahkan dalam skala besar karena perang atau bencana alam. Hal-hal itu akan membawa dorongan kepada peserta didik terhadap kepekaan sosial.  

Pada hakekatnya IPS adalah telaah tentang manusia dan dunianya. Manusia selalu hidup bersama dengan sesamanya. Dalam hidup itu mereka harus mampu mengatasi rintangan yang mungkin timbul dari sekelilingnya maupun dari akibat hidup bersama. IPS melihat bagaimana manusia hidup bersama sesamanya di lingkungan sendiri, dengan tetangganya, yang dekat sampai jauh. Singkatnya yang menjadi bahan kajian atau bahan belajar IPS adalah keseluruhan tentang manusia.

Berdasarkan uraian tersebut tampak bahwa IPS merupakan kajian yang luas tentang manusia dan dunianya. Hal ini dapat membawa dampak bagi peserta didik yang dihadapkan dengan IPS. Hal demikian selanjutnya dapat membawa dampak ikutan (nurturant effect) yang baik, perluasan wawasan tentang manusia. Sedangkan dampak yang lain ialah bahwa dengan luasnya kajian tentang manusia itu dapat menimbulkan kesulitan pada mereka yang menggelutinya. 

Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) 
Upaya menyiapkan para peserta didik supaya dapat menjadi warga yang baik. Namun penafsiran tentang warga yang baik ini agaknya juga cukup banyak. Oleh karena itu Barr, dan kawan-kawan (1977); (1978); dan Barth dan Shemis (1980) menunjukkan bahwa sebenarnya bukan hanya ada satu telaah dalam IPS melainkan ada tiga. Mereka menyebutkan tradisi yang terdapat dalam IPS.  

Tradisi pertama ialah pewarisan budaya (Citizenship Transmission) yang menurut mereka bersifat indoktrinatif dalam menyajikan bahan belajar. Kewargaan (citizenship) dalam pengertian dari tradisi ini berarti kemampuan bertindak sebagai warga yang sesuai dengan nilai-nilai dasar yang telah disepakati dan dianggap baik. Mereka mengartikan indoktrinasi adalah semua pengalaman belajar (pendidikan) yang dilaksanakan dalam suasana belajar yang tidak kritis (uncritical learning) (Barr, dan kawan-kawan, 1977).

Tradisi kedua ialah tradisi ilmu sosial (social science tradition) yang merujuk kepada pengertian bahwa IPS sebenarnya dapat diturunkan dari salah satu ilmu sosial. Jadi sifat IPS dalam tradisi ini reduktif. Sifat-sifat kewargaan dapat diperoleh melalui pemahaman tentang segi metodologis ilmu sosial. 

Tradisi ketiga disebut inkuiri refleksi (reflective inquiry) yang didasarkan pada pemikiran reflektif (reflective thinking) dari Jhon Dewey. Dalam anggapan dari tradisi ini kewargaan tercermin dari kemampuan memecahkan masalah dalam suasana lingkungan yang salah nilai. Dalam telaah tentang nilai yang dikaji bukan masalah baik atau buruk itu sendiri melainkan tentang bagaimana kita menelaah nilai dengan tepat. 

Pemilihan Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen 
Sugiono (2010: 114) penelitian yang menggunakan jenis quasi experimental desingn mempunyai kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, meskipun kelompok kontrol itu tidak dapat sepenuhnya mengontrol secara tepat variabelvariabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan penelitian eksperimen karena kemampuan kedua kelas tidak setara. Sesuai dengan desain penelitian ini yaitu nonequivalent control group design, desain ini digunakan untuk penelitian yang membandingkan kelompok yang memiliki kemungkinan nonequivalent (tidak setara). Karena kemampuan kedua kelas tidak setara sehingga sulit untuk mengontrol variabel yang mempengaruhi jalanya pelaksanaan eksperimen.   

Menurut Slameto (2011: 54-72) ketidaksetaraan kedua kelas yang dibandingkan disebabkan karena variable-variabel dalam penelitian tidak hanya dipengaruhi oleh faktor yang diteliti dalam penelitian ini tapi bisa dipengaruhi faktor internal seperti kesehatan, cacat tubuh, inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan, dan kelelahan. 

Sedangkan faktor eksternal terdiri dari faktor keluarga:
  1. Cara orang tua mendidik 
  2. Relasi antar anggota keluarga 
  3. Suasana rumah 
  4. Keadaan ekonomi keluarga 
  5. Pengertian orang tua 
  6. Latar belakang kebudayaan 

Faktor sekolah 
  1. Metode mengajar 
  2. Kurikulum 
  3. Relasi guru dengan siswa 
  4. Relasi siswa dengan guru   
  5. Disiplin sekolah
  6. Alat pelajaran 
  7. Waktu sekolah 
  8. Keadaan gedung 
  9. Tugas rumah 
  10. Standar pelajaran di atas ukuran 
Faktor masyarakat
  1. Kegiatan siswa dalam masyarakat 
  2. Teman bergaul
  3. Bentuk kehidupan masyarakat
Kajian Hasil-hasil Penelitian Yang Relevan 
Diyan Tunggal Safitri, S. Pd ( 2011) Metode pembelajaran snowball throwing untuk meningkatkan hasil belajar Matematika. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil evaluasi di akhir siklus. Dari siklus I yang mencapai taraf ketuntasan klasikal 66,7% meningkat menjadi 97,4%. Jika dilihat dari hasil pengamatan kegiatan pembelajaran siswa siklus I adalah 77,5% sedangkan siklus II 87,5%. Dan hasil observasi terhadap kegiatan guru selama proses pembelajaran juga menunjukkan peningkatan dari 77% di siklus I menjadi 95,8% pada siklus II. Hal ini membuktikan bahwa metode pembelajaran Snowball Throwing dapat meningkatkan hasil belajar. 

Dwi Wulandari (2010) Penggunaan model snowball throwing dalam meningkatkan kreativitas belajar IPS siswa kelas V SD Negeri 03 Wonorejo Kecamatan Jatiyoso Kabupaten Karanganyar tahun ajaran 2009/2010. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta, Okteber 2010.

Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research/ CAR) yaitu penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu  praktek pembelajaran di kelasnya fokus terhadap kualitas pembelajaran yang meliputi proses dan hasil pembelajaran di kelas. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SDN 03 Wonorejo tahun ajaran 2009/2010. Subyek dalam penelitian ini adalah kelas V yang berjumlah 25 siswa. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran kooperatif yaitu metode snowball throwing. Data yang digunakan sebagai pembanding adalah nilai ulangan harian pada mata pelajaran IPS semester II tahun ajaran 2009/2010. Pada kelas yang dilakukan tindakan pengumpulan data pada penelitian ini dengan menggunakan metode observasi dan metode tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif.   

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas didapatkan hasil : 
  1. Pembelajaran IPS menggunakan metode snowball throwing dapat meningkatkan kreatifitas belajar siswa. (pra siklus = 37,3%, siklus I = 52%, siklus II = 68,67%, siklus III = 76,67%)
  2. Adanya dampak peningkatan tingkat kreatifitas belajar siswa terhadap peningkatan hasil belajar siswa (pra siklus = 52%, siklus I = 60%, siklus II 68%, siklus III = 88%).  
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh simpulan bahwa penggunaan metode snowball throwing pada pokok bahasan usaha ekonomi di Indonesia dapat meningkatkan kreatifitas belajar siswa. Peningkatan kreatifitas belajar siswa berdampak pula pada peningkatan hasil belajar siswa.

Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan tersebut, penggunaan Model Pembelajaran snowball throwing pada dasarnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara berkala. Hal itu menunjukkan adanya perubahan pada hasil belajar siswa dan tingkat ketuntasan belajar siswa yang menyajikan materi pelajaran oleh guru dengan menggunakan Model Pembelajaran snowball throwing. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya muncul suatu pertanyaan apakah penggunaan model pembelajaran snowball throwing itu menunjukkan perubahan yang signifikan karena yang dilakukan pada penelitian sebelumnya adalah dilakukannya pembelajaran secara bertahap (bersiklus) sampai benar-benar meningkat, oleh karena itu peneliti akan melakukan penelitian eksperimen dan pengujian apakah terdapat pengaruh yang signifikan pada hasil belajar siswa dengan menggunakan Model Pembelajaran snowball throwing dalam penelitian eksperimen yang akan di lakukan oleh peneliti tepatnya di SDN 01 Salatiga.
Blog, Updated at: 10.27

1 komentar :

Popular Posts