IMPLEMENTASI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK JIGSAW

IMPLEMENTASI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK JIGSAW
Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki fungsi membentuk peserta didik yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan sebaiknya juga harus dapat mendukung salah satu fungsi sekolah tersebut. Kegiatan pembelajaran perlu dilaksanakan agar siswa dapat belajar secara efektif. Seperti yang diungkapkan Slameto dalam Riyanto (2009: 63), “Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi aktif, meningkatkan minat, dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional”. Maka penting bagi guru untuk memilih dan menggunakan pendekatan belajar yang sesuai dengan siswa. 

Hal itu sesuai dengan yang telah disebutkan Sanjaya (2009: 3), bahwa guru merupakan ujung tombak dalam pencapaian kualitas pembelajaran, berkaitan dengan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran melalui penggunaan strategi pembelajaran yang menunjang ketercapaian efektivitas pembelajaran. Strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru meliputi cara-cara untuk memilih kegiatan belajar dalam proses pembelajaran. Namun saat ini masih ada guru yang belum memilih cara-cara yang dapat mencapai efektivitas dalam pembelajaran. Masih ada guru yang menggunakan cara konvensional dalam melaksanakan pembelajaran. Tingginya intensitas penjelasan materi yang dilakukan oleh guru menjadikan siswa tidak melakukan banyak aktivitas, padahal “keaktifan individu dalam belajar menjadi unsur yang sangat penting dan menentukan kesuksesan belajar” (Baharuddin, 2009: 171). 

Pembelajaran yang dilakukan dengan melibatkan aktivitas siswa akan lebih diminati oleh siswa daripada pembelajaran yang menjadikan siswa pasif. Hal tersebut seiring dengan pernyataan Dewey dalam Riyanto (2009: 73), bahwa siswa akan mengalami belajar apabila telah mengerjakan untuk dirinya sendiri dan siswa dapat berinisiatif sendiri dari kegiatan belajar tersebut. Selain itu, dalam belajar perlu ada aktivitas, sebab pada prinsipnya belajar itu adalah berbuat, “learning by doing” (Sardiman, 2011: 103). Seiring dengan pernyataan tersebut, maka perlu dilakukan pemilihan metode pembelajaran yang dapat mengaspirasi keaktifan siswa dalam pembelajaran. 

Menurut Dierich dalam Yamin (2007: 85-86), keaktifan dalam pembelajaran dapat berupa kegiatan visual, kegiatan lisan, kegiatan mendengarkan, kegiatan menulis, kegiatan menggambar, hingga kegiatan mental dan emosional yang berupa kegiatan membaca, bertanya, mendengarkan penjelasan guru maupun diskusi kelompok, mencatat materi mengerjakan tugas dan latihan yang diberikan oleh guru, semangat bekerjasama dalam kelompok, berani mengemukakan pendapat dalam diskusi, menjawab pertanyaan maupun menanggapi pendapat orang lain.

Pembelajaran yang dapat memancing keaktifan siswa selama proses pembelajaran adalah strategi yang menggunakan pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada siswa, diantaranya adalah Strategi Pembelajaran Kooperatif. Strategi Pembelajaran Kooperatif tidak hanya membelajarkan kecakapan akademik saja, namun juga keterampilan sosial melalui kegiatan pembelajaran di kelas yang dilaksanakan secara berkelompok. Sesuai yang disampaikan oleh Riyanto (2009:79), bahwa implikasi prinsip belajar bagi siswa agar menjadi aktif salah satunya dengan pemberian tugas maupun pemberian kesempatan untuk melaksanakan eksperimen dalam kelompok. 

Dengan penggunaan berbagai teknik dalam strategi pembelajaran kooperatif, diantaranya teknik pembelajaran Jigsaw, dapat menjadikan siswa memusatkan perhatian kepada pembelajaran, sehingga pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran dapat ditingkatkan, sekaligus juga membelajarkan keterampilan sosial. Hal tersebut tampak dari adanya kerja sama antar siswa dalam teknik pembelajaran Jigsaw sebagai upaya untuk memahami konsep dalam materi pelajaran. Kerjasama tersebut akan melatih keterampilan siswa dalam hal bersosialisasi dengan teman sebaya dan juga akan berpengaruh terhadap meningkatnya keaktifan belajar siswa. 

Berdasarkan pengamatan terhadap proses pembelajaran yang dilakukan peneliti selama praktik mengajar atau Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada bulan Juli 2011 hingga bulan September 2011 dan juga melalui wawancara dengan guru mata pelajaran pada awal bulan Desember 2011, diketahui bahwa terdapat siswa yang belum berpartisipasi aktif selama pembelajaran berlangsung dan cenderung tidak banyak bertanya maupun menanggapi materi yang dijelaskan, belum berinisiatif untuk mengerjakan soal apabila tidak diminta mengerjakan, hingga terkadang tidak mendengarkan penjelasan guru. 

Apabila dilakukan penilaian dengan membandingkan kegiatan yang dilakukan siswa dalam pembelajaran selama pengamatan menggunakan aspek-aspek keaktifan belajar, diantaranya membaca, bertanya tentang materi yang belum dipahami, mendengarkan penjelasan guru maupun diskusi kelompok, mencatat materi, mengerjakan tugas dan latihan yang diberikan oleh guru, semangat bekerjasama dalam kelompok, berani mengemukakan pendapat dalam diskusi, menjawab pertanyaan maupun menanggapi pendapat orang lain, dapat dikatakan bahwa keaktifan belajar siswa belum optimal. Strategi pembelajaran yang dilaksanakan di kelas merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya keaktifan belajar siswa. Penggunaan strategi pembelajaran yang tepat diduga dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa. 

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 
1. Observasi Partisipasi 
Menurut Sugiyono (2009: 227), dalam observasi partisipasi “peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian”. Observasi partisipasi dalam penelitian ini dilakukan dengan mengikuti pembelajaran dalam setiap siklus, untuk memperoleh data seputar pelaksanaan pembelajaran, penggunaan teknik pembelajaran, kesesuaiannya dengan rencana pembelajaran yang telah dirancang, serta berbagai perilaku siswa yang muncul selama pembelajaran melalui pengamatan. Menurut metode observasi yang digunakan, observasi dalam penelitian ini adalah observasi terstruktur. Uno (2011: 96) menyebutkan bahwa observasi terstruktur ditandai dengan ketersediaan format yang rinci dalam pelaksanaan pengamatan. Dalam penelitian ini juga disediakan pedoman untuk pelaksanaan observasi serta lembar observasi yang digunakan selama pengamatan. 

2. Angket 
Angket atau kuesioner digunakan untuk memperoleh data Keaktifan Belajar Akuntansi yang dapat diungkap dari diri siswa. Teknik ini juga dapat digunakan untuk mendukung data yang diperoleh dari observasi. Dengan digunakannya angket pada penelitian ini maka data Keaktifan Belajar Akuntansi dapat diperoleh dari subjek penelitian secara langsung, dalam hal ini adalah siswa. 

3. Dokumentasi 
Dokumentasi dilakukan dengan mencari data berupa catatan maupun dokumen tertulis lainnya (Arikunto, 2002: 206). Dalam penelitian ini, dokumen yang digunakan adalah catatan lapangan dan lembar observasi untuk mencatat kejadian selama pembelajaran dilaksanakan dan juga mencatat kemunculan berbagai perilaku siswa dalam kaitannya dengan kegiatan yang mencerminkan Keaktifan Belajar Akuntansi. 

4. Wawancara 
Dalam penelitian ini, wawancara digunakan untuk mengetahui hal-hal yang dirasakan siswa dalam pengimplementasian Teknik Jigsaw dan peningkatan keaktifan melalui kegiatan yang dilakukan siswa selama pembelajaran berlangsung. “Wawancara atau interviu dapat diartikan sebagai teknik mengumpulkan data dengan menggunakan bahasa lisan baik secara tatap muka ataupun melalui saluran media tertentu.” (Sanjaya, 2009: 96). Teknik ini dapat digunakan apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga dilakukan apabila peneliti ingin mengetahui halhal dari dalam diri responden secara lebih mendalam. 

Hal-hal yang dimaksud dapat berupa masalah atau hal negatif yang dirasakan, maupun berbagai hal positif yang muncul dengan implementasi teknik pembelajaran tersebut. Penelitian ini menggunakan jenis wawancara semi structured, yaitu dengan dilakukannya penyusunan kisi-kisi pertanyaan yang akan dibentuk menjadi pertanyaan dan kemudian dikembangkan lagi untuk memperoleh keterangan yang lebih lengkap dan mendalam (Arikunto, 2002: 202). Pertanyaan yang disampaikan akan berkaitan dengan penerapan Teknik Jigsaw dan juga peningkatan keaktifan yang dialami siswa. 

Selanjutnya dari pertanyaan yang telah dibuat, pewawancara dapat mengembangkan dengan pertanyaan tambahan misalnya terkait kegiatan yang telah dilakukan siswa selama pembelajaran Akuntansi berlangsung dalam konteks keaktifan belajar siswa. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan teknik analisis data sebagai berikut: 

1. Analisis Data Kualitatif 
Penelitian ini menggunakan Teknik Analisis Kualitatif yang dikembangkan Miles Huberman, sebagaimana biasa digunakan untuk analisis data kualitatif yaitu saat pengumpulan data dan setelah selesai pengumpulan data (Sugiyono, 2009: 246) yang meliputi: 

a. Reduksi Data 
Menurut Sugiyono (2009: 247), “Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari pola dan temanya”. Dengan dilakukannya reduksi data, akan diperoleh data yang lebih jelas dan data tersebut akan menjadi informasi yang bermakna. Data yang diperoleh dari penelitian ini semula berupa data mentah yang berasal dari catatan lapangan, hasil observasi, angket, dan juga dokumentasi lainnya. Data-data tersebut akan direduksi untuk memperoleh informasi yang lebih bermakna sesuai tujuan penelitian. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan Keaktifan Belajar Akuntansi maka akan dilakukan reduksi data untuk memperoleh data yang dapat berkaitan dengan Keaktifan Belajar Akuntansi siswa yang diteliti. 

b. Penyajian Data 
Penyajian data dalam penelitian dilakukan setelah data mentah direduksi. Penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk tabel, grafik, dan sebagainya (Sugiyono, 2009: 249). Setelah dilakukan penyajian data dalam bentuk tabel maupun grafik, data akan lebih mudah dipahami. Dalam penelitian ini, data hasil observasi dan angket yang telah direduksi akan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Data yang mencerminkan Keaktifan Belajar Akuntansi akan disajikan dalam tabel, dan data mengenai peningkatan yang terjadi pada keaktifan belajar siswa akan digambarkan dalam grafik.

c. Penarikan Kesimpulan 
Penarikan kesimpulan dilakukan setelah adanya pemaknaan data yang disajikan ke dalam sebuah pernyataan. Dengan menelaah intisari dari berbagai data yang disajikan akan diperoleh kesimpulan bagi penelitian yang dilakukan. Penarikan kesimpulan ini dilakukan untuk menjawab rumusan masalah yang diajukan pada awal penelitian. 

2. Analisis Data Kuantitatif 
Dalam penelitian ini terdapat dua instrumen penelitian yang juga akan dianalisis secara kuantitatif yaitu angket dan lembar observasi. Data yang diperoleh dari angket akan dihitung menurut persentase responden yang memilih alternatif jawaban yang disediakan. Selain itu, data dari lembar observasi berbentuk rating scale adalah data kuantitatif, yang menunjukkan penilaian atas kemunculan kegiatan yang mencerminkan Keaktifan Belajar Akuntansi sesuai dengan kriteria yang ditentukan. 

Data yang diperoleh selanjutnya akan dianalisis untuk mengetahui persentase skor keaktifan siswa sebagai berikut (Sugiyono, 2009: 144): 
a. Menentukan kriteria pemberian skor terhadap masing-masing diskriptor pada setiap aspek keaktifan siswa yang diamati. 
b. Menjumlahkan skor untuk masing-masing aspek keaktifan yang diamati. 
c. Menghitung skor keaktifan pada setiap aspek yang diamati dengan rumus: 

Blog, Updated at: 09.30

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts