ISLAMISASI KURIKULUM DAN METODE ILMU PENDIDIKAN ISLAM (MENURUT KONSEP NAQUIB AL-ATTAS)

ISLAMISASI KURIKULUM DAN METODE ILMU PENDIDIKAN ISLAM (MENURUT KONSEP NAQUIB AL-ATTAS)
Pendidikan merupakan bagian vital dalam kehidupan manusia. Pendidikan (terutama Islam) dengan berbagai coraknya-berorientasi memberikan bekal kepada manusia (peserta didik) untuk mencapai kebahagiaan dania dan akhirat. Oleh karena itu, semestinya pendidikan (Islam) selalu diperbaharu konsep dan aktualisasinya dalam rangka merespon perkembangan zaman yang selalu dinamis dan temporal, agar peserta didik dalam pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan hidup setelah mati (eskatologi), tetapi kabahagiaan hidup di dunia juga bisa diraih. 

 Dalam kenyataannya, dikalangan dunia Islam telah muncul berbagai isu mengenai krisis pendidikan dan problem lain yang amat mendesaku untuk dipecahkan (Syed Sajjad Husein & Syed Ali Ashraf, 1986). Lebih dari itu, Isma’il Raji Al-Faruqi mensinyalir bahwa didapati krisis yang terburuk dalam hal pendidikan di kalangan dunia Islam. Inilah yang menuntut agar selalu dilakukan pembaharuan (modernisasi) dalam hal pendidikan dan segala hal yang terkait dengan kehidupan uamt Islam. Pada persoalan kurikulum keilmuan misalnya, selama ini pendidikan Islam masih sering hanya dimaknai secara persial dan tidak integral (mencakup berbagai aspek kehidupan), sehingga peran pendidikan Islam di era global sering dipertanyakan. Masih terdapat pemahaman dikotomis keilmuan dalam pendidika Islam. 

Pendidikan Islam sering hanya dipahami sebagai pemindahan pengetahuan (knowledge) dab nilainilai (values) ajaran Islam yang tertuang dalam teks-teks agama, sedangkan ilmu-ilmu sosial (social sceiences guestiswissenchaften) dan ilmu-ilmu alam (nature sciences/ naturewissenchaften) dianggap pengatahuan yang umum (secular). Padahal Islam tidak pernah mendikotomikan (memisahkan dengan tanpa saling terkait) antara ilmu-ilmu agama dan umum. Semua ilmu dalam Islam dianggap penting asalkan berguna bagi kemaslahatan umat manusia. Bertolak dari problematika tersebut di atas, di Islam pun dikenal dua sistem pendidikan yang berbeda proses dan tujuannya. 

Pertama, sistem pendidikan tradisiona yang hanysa sebatas mengajarkan pengetahuan klasik dan kurang peduli terhadap peradaban teknologi modern, ini sering diwarnai oleh corak pemikiran Timur Tengah. Kedua, sistem pendidikan modern yang diimpor dari barat yang kurang memperdulikan kelimuan Islam klasik. Bentuj ekstrim dari sistem yang kedua ini berupa univeritas modern yang sepenuhnya sekuler dan karena itu pendekatannya bersifat non-agamis. Para alumninya sering tidak menyadari warisan ilmu klasik dari tradisi mereka sendiri.

1. Riwayat Hidup Syed Muhammad Naquid al-Attas 
Syed Muhammad Naquid al-Attas dilahirkan di Bogor, Jawa Barat pada tanggal 5 September 1931. Pada waktu itu Indonesia berada dibawah kolonialisme Belanda. Bila dilihat dari garis keturunannya, al-Attas termasuk orang yang beruntung secara inheren. Sebab dari kedua belah pihak, baik pihak ayah maupun ibu merupakan orang-orang yang berdarah biru. Ibunya yang asli Bogor itu masih keturunan bangsawan Sunda. Sedangkan pihak ayahnya masih tergolong bangsawan di Johor. 

Bahkan mendapat gelar Sayyed yang dalam tradisi Islam orang yang mendapat gelar tersebut merupakan keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW. Melihat garis keturunan di atas dapat dikatakan bahwa al-Attas merupakan bibit unggul dalam percaturan perkembangan intelektual Islam di Indonesia dan Malaysia. Faktor inheren keluarga al-Attas inilah yang selanjutnya membentuk karakter dalam dirinya Bimbingan orang tua selama lima tahun pertama merupakan penanaman sifat dasar bagi kelanjutan hidupnya. 

Beliau sangat tertarik dengan praktek sufi yang berkembang di Indonesia dan Malaysia. Sehingga cukup wajar bila tesis yang diangkat adalah konsep wujudiyyah ar-Raniry. Salah satu alasannya adalah dia ingin membuktikan bahwa islamisasi yang berkembang di kawasan tersebut bukan dilaksanakan oleh Belanda melainkan murni dari upaya umat Islam sendiri. Belum puas dengan pengembangan intelektualnya, al-Attas kemudian melanjutkan studinya ke School of Oriental and African Studies di Universitas London. 

Disinilah beliau bertemu dengan Lings, seorang professor asal Inggris yang mempunyai pengaruh besar dalam diri al-Attas, walaupun demikian pengaruh tersebut hanya pada batas dataran metodologis. Selama kurang lebih dua tahun (1963-1965), dengan bimbingan Martin Lings, al-Attas menyelesaikan perkuliahannya dan mempertahankan Disertasinya yang berjudul The Mysticism of Hamzah Fansuri. Memasuki tahapan pengabdian kepada Islam, al-Attas memulai dengan jabatan jurusan Kajian Melayu pada Universitas Malaya. Hal ini dilaksanakan pada tahun 1966-1970. 

Disini beliau menekankan arti pentingnya Kajian Melayu. Sebab mengkaji sejarah Melayu dengan sendirinya juga mendalami proses Islamisasi di Indonesia dan Malaysia. Berdirinya Universitas Kebangsaan Malaysia tidak bisa lepas dari peranannya. Karena al-Attas sangat intens dalam memasyarakatkan budaya Melayu, maka bahasa pengantar yang digunakan dalam universitas tersebut adalah Bahasa Melayu. Hal ini, oleh al-Attas dimaksudkan agar disamping melestarikan nilai-nilai keislaman juga menggali tradisi intelektual Melayu yang sarat dengan nilai Islam. Bahkan pada pertengahan tahun 70-an al-Attas menentang keras kebijaksanaan pemerintah yang berupaya menghilangkan pengajaran Bahasa Melayu-Jawi di pendidikan dasar dan lanjutan Malaysia. 

Sebab, dengan menghilangkan tersebut berarti telah terjadi penghapusan sarana Islamisasi yang paling strategis. Pada bulan April 1977, al-Attas menyampaikan sebuah makalah yang berjudul Preliminary Thoughts on the Nature of Knowledge and the Definition and Aims of Education di hadapan peserta konperensi Dunia pertama tentang pendidikan Islam di Makkah al-Mukkaramah. Dengan orasi yang meyakinkan banyak peserta yang memberikan respon positif, yaitu dengan diterimanya ide tersebut oleh organisasi Konferensi Islam. Selanjutnya, sebagai realisasi dari ide-ide cemerlang al-Attas, OKI member kepercayaan kepadanya untuk mendirikan sebuah univeristas Internasional di Malaysia pada tahun 1984. Konsep universitas ini sama dengan universitas lainnya, yang membedakan hanya pada tambahan pengajaran dasar-dasar Islam dan Bahasa Arab. 

Tujuannya agar mahasiswa mempunyai ilmu sebagai filter terhadap konsep yang tidak Islami, sehingga Islamisasi terjadi dalam diri mahasiswa bukan terhadap disiplin itu sendiri. Belakangan konsep Universitas Internasional ini berubah ke IIIT (Internasional Institute of Islamic Thought) dengan Islamisasi disiplin.18 Merasa tidak sejalan dengan kebijasanaan rektorat, al-Attas berusaha mendirikan lembaga pengajaran dan penelitian yang khusus pada pemikiran Islam, terutama filsafat, sebagai jantung proses Islamisasi. Gagasan tersebut disambut positif oleh pemerintah Malaysia, sehingga pada tanggal 22 November 1978 berdirilah secara resmi ISTAC (Internasional Institute of Islamic Thought and Civilization) dengan al-Attas sebagai ketuanya. 

2. Pemikiran al-Attas dalam Bidang Pendidikan 
a. Konsep Ta’dib 
 Sebagai intelektual dan ilmuan Muslim yang sangat dihormati dan berpengaruh, selama ini Naquid dikenal sebagai pakar dibidang filsafat, teologi dan metafisika. Gagasannya di sekitar revitalisasi nilai-nilai keislaman, khususnya dalam bidang pendidikan, tak jarang membuat banyak kalangan terperanjat lantaran konsep yang digagasnya dinilai baru dank arena itu mengundang kontroversi. Salah satu konsep pendidikan yang dilontarkan Naquid, seperti ditulis dalam The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquid Al-Attas (1998) yang telah di-Indonesiakan oleh Mizan (2003), yaitu mengenai ta’dib. 

Dalam pandangan Naquid, masalah mendasar dalam pendidikan Islam selama ini adalah hilangnya nilai-nilai adab (etika) dalam arti luas. Hal ini terjadi, kata Naquid, disebabkan kerancuan dalam memahami konseop tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Naquid cendrung lebih memakai ta’dib daripada istilah tarbiyah maupun ta’lim. Baginya, alasan mendasar memakai istilah ta’dib adalah, karena adab berkaitan erat dengan ilmu. Ilmu tidak bisa diajarkan dan ditularkan kepada anak didik kecuali orang tersebut memiliki adab yang tepat terhadap ilmu pengetahuan dalam pelbagai bidang. 

Sementara, bila dicermati lebih mendalam, jika konsep pendidikan Islam hany terbatas pada tarbiyah atau ta’lim ini, telah dirasuki oleh pandangan hidup barat yang melandaskan nilai-nilai dualism, sekulerisme, humanism dan sofisme sehingga nilainilai adab semakin menjadi kabur dan semakin jauh dari nilai-nilai hikmah ilahiyah. Kekaburan makna adab atau kehancuran adab itu, dalam pandangan Naquid, menjadi sebab utama dari kezaliman, kebodohan dan kegilaan. Ta’dib adalah masalah fundamental yang dikemukakan oleh al-Attas. Baginya masalah, mendasar dalam pendidikan Islam adalah hilangnya nilai-nilai adab dalam arti luas.

Hal ini lebih disebabkan oleh rancunya pemahaman konsep tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Al-Attas lebih cendrung menggunakan istilah ta’dib untuk konsep pendidikan Islam sebab jika konsep ta’dib ini diterapkan secara konprenhensif, integral dan sistematis dalam praktik pendidikan Islam, berbagai persoalan pengembangan sumber daya manusia muslim diharapkan dapat diatasi. Tujuan pendidikan dalam Islam menurut Al-Attas adalah adab, yaitu mencakup seluruh pengenalan dan pengakuan mengenai tempat sesuatu secara benar dan tapat: pencapaian kualitas, sifat-sifat dan perilaku yang baik untuk mendisiplinikan pikiran dan jiwa, penonjolan tingkah laku yang benar dan tepat sebagai kebaikan dari tingkah laku yang salah salah dan tidak sesuai. 

Oleh karena itu adab mensyaratkan ilmu pengetahuan dan metode mengetahui yang benar agar mampu menjaga manusia dari kesalahan penilaian dan perbuatan sehingga manusia dapat memposisikan dirinya pada tempat yang benar dan sesuai. Ilmu pengertahuan yang bisa mendorong lahirnya perilaku mulia ini adalah kebijaksanaan (hikmah) yang menghasilkan keadilan pada diri individu dan Negara, masyarakat dan alam sekitarnya. Al-Quran menegaskan bahwa contoh ideal bagi orang beradab adalah Nabi Muhammad SAW, yang disebut sebagai manusia sempurna atau “al-Ihsan al-Kulli”. 

Maka, matlamat utama dalam sistem pendidikan Islam haruslah menjadi cerminan kea rah melahirkan manusia yang beradab dan sempurna. Dalam pada itu, jika benar-benar diteliti, konsep ta’dib adalah konsep yang paling tepat untuk pendidikan dalam Islam berbanding tarbiyyah dan ta’lim. Menurut al-Attas, “Struktur konsep ta’dib sudah menyangkut unsure-unsur ilmu (‘ilm), instruksi (ta’lim) dan pembinaan yang baik (tarbiyyah), sehingga tidak perlu lagi dikatakan bahwa konsep pendidikan Islam itu adalah sebagaimana yang terdapat dalam tiga serangkai konotasi Tarbiyyah-Ta’lim-Ta’dib.” Sementara itu, beliau juga mendefinisikan orang yang terpelajar sebagai orang baik, dan “baik” yang dimaksudkan di sini adalah adab dalam arti kata yang menyeluruh yaitu yang meliputi kehidupan spiritual dan material seseorang, serta yang berusaha menyamakan kualitas kebaikan yang diterimanya. 

Oleh Karen itu orang yang benar-benar terpelajar menurut perspektif Islam didefinisikan al-Attas sebagai orang yang beradab. Al-Fathani menyatakan keperluan seseorang individu itu untuk segera konsisten mempunyai adab, maka antara kunci terbaik kea rah pembentukan adab adalah kewajiban untuk senantiasa berada dalam lingkungan Majelis Ilmu. Dalam pada itu, Kyai Hasyim Asy’ari menyatakan bahwa antara iman, syariat dan adab saling berhubungan. Menurut beliau, orang tidak beradap maka tidak dapat menegakan syari’at, tiada iman dan tiada tauhid padanya. Pada bidang pendidikan ada penekanan pada tanggung jawab murib dan tanggung jawab guru, semua ini ditekankan pada etika dan adab.

Penekanan terhadap proses ta’dib, yaitu sebuah proses pendidikan yang mengarahkan para siswanya menjadi orang-orang yang beradab. Ini penting memandangkan sekiranya adab itu hilang dalam diri seseorang, maka ia akan mengakibatkan kemudharatan, kezaliman,kebodohan dan kerusakkan. Dengan demikian adab harus ditanam dalam diri seluruh manausia segenap lapisan masyarakat, baik pada murid, guru, pemimpin rumah tangga, pemimpin masyarakat dan sebagainya.

Dengan demikian menurut al-Attas pendidikan adalah pengenalan dan pengakuan mengenai tempat sesuatu sesuai dengan tatanan penciptaan yang ditanamkan secara prograsif ke dalam diri manusia sehingga menggiring pada pengenalan Tuhan dalam tatanan wujud dan maujud. Pendidikan adalah proses ganda, bagian pertamanya masuknya unit-unit makna (ma’na) suatu objek pengetahuan ke dalan jiwa seseorang (Hushu) dan kedua melibatkan sampainya jiwa (Wushul) pada unit-unit makna tersebut.

Ini semua menunjukkan pengetahuan mengenai realitas individu: hakikat yang sesungguhnya, daya pikirnya, jiwa dan kecendrungan etiknya, jua peranan serta tanggung jawabnya di dunia dan tujuan akhirnya di akhirat. Sepanjang sejarah Islam, sebelum zaman sekuler sekarang ini, masalah-masalah ini sangat penting dalam kurikulum pendidikan di semua jenjang, arah dan tujuan , muatan, materi dan evaluasi peserta didik dan guru. Disini nampak sangat jelas dalam mata hati kita bahwa kebenaran metafisis sentralitas Tuhan sebagai realitas tertinggi sepenuhnya tujuan dan makna adab dan pendidikan sebagai ta’dib. 

Al-Attas berpendapat bahwa dalam proses pembelajaran, siswa akan mendemonstransikan tingkap pemahaman terhadap materi secara berbeda-beda, atau lebih tepatnya pemahaman terhadap makna pembelajaran itu. Hal itu karena ilmu dan hikmah yang merupakan dua komponen utama dalam konsepsi adab benar-benar merupakan anugerah Allah SWT.

b. Persiapan Spiritual 
Sebagaimana halnya semua tindakan atau perbuatan dalam Islam, pendidikan harus didahului oleh suatu niat yang disadari, seperti bunyi hadist “perbuatan seseorang itu berdasarkan niat (niyyah). Dan Allah SWT akan memberikan pahala sesuai dengan niat hamba-Nya” prinsip dasar tindakan ini tidak dapat diberi penekanan secara berlebihan sebab konsep keikhlasan, kejujuran dan kesabaran sengat penting dalam Islam. 

Abu Sa’id al Khazzaz, seorang sufi terkenal abad ke-9 M. mengatakan bahawa salah satu prinsi etika adalah keikhlasan, disamping kebenaran dan kesabaran. Peserta didik harus mengenal prinsip ini sejak dini dan harus mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga kualitas imannya akan menjadi lebih kuat dan lebih kukuh, disamping amal perbuatannya yang lurus dan ikhlas. Ketika memberikan komentar terhadap al-Quran Surah al-Kahfi ayat 18: 110. 

Al-Kharaz menjelaskan bahwa ikhlas seseorang harus mendasarkan segala perbuatannya hanya karena Allah, secara lahiriah dan batiniah, dengan akal dan pengetahauan yang melindungi jiwa dan hatinya secara terus menerus mengawasi tujuannya. Sejalan dengan itu, ia hendaknya tidak usah mencari sanjungan dan pujian atau menunjukan kelebihan dirinya dihadapan orang lain. Jika dihargai, ia akan cepatcepat mengembalikan penghargaan itu hanya kepada Allah demi perlindungan dan pertolongan-Nya. Disamping kesabaran, al-Attas menekankan kejujuran dan keikhlasan niat dalam mencari dan mengajarkan ilmu, kejujuran menurut al-Attas adalah sifat dari ucapan atau pernyataan, seperti kesesuaiannya denga niat dalam hati. Hal ini berarti, disamping kesesuaian tipe pertama ada pula kesesuaian tipe kedua, yaitu kesesuaian antar statement yang diucapkan dan niat dalam akal dan hati. 

Tingkah laku eskternal (termasuk yang diucapkan secara lisan atau tertulis) dan fakta-fakta atau realitas yang tampak benar dan menjadi bias hal itu tidak sesuai dengan niat dalam hati dan akal. Al-Quran menggarisbawahi pandangan penting ini dalam beberapa kata saja ketika Tuhan menyatakan bahwa kaum munafiq pada kenyataannya berdusta meskipun telah menyatakan dengan benar bahwa Nabi SAW adalah utusan Allah. Kesabaran juga signifikan dalam menuntut jenis ilmu yang akan membawa pad kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sebagaiman umumnya intelektual Muslim pada masa lalu, at-Attas mengakui adanya sifat spiritual yang mendasar dalam pendidikan.Ibn Hazm (w. 1064 M) di barat sangat menyayangkan jika manusia mengubah tujuan spiritual suatu pengetahuan dengan tujuan keduniawi. Dalam semangart yang sama, al-Ghazali menekankan bahwa membersihkan hati merupakan tugas pertama belajar dalam mencari ilmu pengetahuan. Sedangkan bagi seorang guru, al- Ghazali menempatkan keikhlasan sebagai kewajiban kedua setelah membimbing peserta didik dengan penuh rasa simpati seakan-akan sebagai anak sendiri.

Hadits terkenal tindakan itu di tentukan oleh niat, sebagaimana di kutib di atas, menjadi statement uama Nashir ad-Din dalam thesisnya mengenai adat peserta didik, al Thusi menekankan bahwa penting bagi petuntut ilmu untuk mencari Ridha Allah Swt, menghilangkan kebodohan dari hati dan menjauhkan diri dari segala perbuatan bodoh, menghidupkan agama Allah dan melestarikanIslam melalui amar ma;ruf Nahi Mungkar. Seperti halnya tokoh-tokoh pada masa lampau. Al-Attas memberikan nasehat kepada peserta didik dan guru untuk menumbuhkan sifat keikhlasan niat dalam nelajar mengajar. Dengan kata lain, peserta didik wajib mengembangkan adat yang sempurna dalam ilmu pengetahuan karena pengetahuan tidak bisa di ajarkan kepada siapapun tanpa adab. 

Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan. Adalah kewajiban bagi orang tua dan pesert didik, khususnya pada taraf pendidikan tinggi, untuk mengerti dan melaksanakan pandangan yang sempurna harus selalu diingat oleh guru. Di samping itu, al-attas menekankan bahwa penuntut ilmu harus melakukan internalisasi adab mengaplikasikan sikap tersebut. Al-attas sependapat denagn ikhwan al-shafa yang menjadikan kedudukan ahliahli hikmah (l-hukama) lebih tinggi daripada guru biasa (al’muallimun). Jika ingin membuka pintu hikmah bagi guru-guru (al-mua’llimin) yang menyingkap rahasia kepada peserta didik 9 al-muridin, para ahli hikmah menyarankan bahwa mareka (guru dan peserta didik: “harus” dijinakkan dan di sucikan jiwanya melalui ta’dib. 

Al-attas menggarisbawahi prinsip bahwa peserta didik dan ilmuan harus datang bersama karena kecintaan marekaterhadap ilmu pengtahuan dan Islam. Dia mengancam kondisi beberapa ilmuan kontemporer yang bersikap hanya sebagai serdadu akademis. Dalam semangat sofis Yunani, mareka mengiklankan dan memperdagangkan produk untuk keuntungan gaji dan keistimewaan-keistimewaan dari orang awam, sebagai politis yang kuat, dan figure pengusaha. Situasi ini merupakan akumulasi dari ideology ekonomi yang sedang berlaku di berbagai dunia muslim, yang mengakibatkan sikapsikap mahasiswa secara umum cenderung memilih program akedemik, yang dalam segi sosio ekonomi lebih menjanjikan dan dalam segi niat sangat murah, tetapi secara akademik jumud. 

Karena konsistensi dan pendiriannya yang tak tergoyah dalam hal keikhlasan niat itu. Al-attas memisahkan diri dari bekas kawan-kawan dan mahasiswanya yang mencari ketenaran, kedudukan dan kekuasaan, mendukung pemimpin yang korup dan langsung atau tidak langsung, mempropagandakan ide-ide yang salah dan membingungkan dalam agama dan budaya. Menurut al-Attas dalam menguasai ilmu pengetahuan banyak hal yang perlu diperhatikan karena Tuhan Yang Maha Kuasa menjadi sumber dan pemberi ilmu dan kebijaksanaan mengetahui mereka-mereka yang benar-benar layak mendapatkan anugerahnya.

c. Kebergantungan pada otoritas dan peranan guru 
Pendidikan Islam berlandasan sumber-sumber yang jelas dan mapan, yang pemahaman, penafsiran dan penjelasannya membutuhkan ilmu pengetahuan yang otoritatif. Al-Quran memerintahkan umat Islam mengembalikan amanah kepada yang berhak. Al-Quran juga menyeru umat Islam untuk bertanya mengenai kebenaran kepada orang yang tepat dan otoritatif pada bidangnya (ahl al Zikr) jika tidak mengetahui sesuatu. Konsultasi (shura) kepada mereka yang ahli dalam ilmu pengetahuan dan pengalaman pada akhirnya menjadi kewajiban bagi seorang muslim, termasuk Nabi Muhammad SAW dan berkembang menjadi cirri masyarakat.

Salah satu aspek yang penting dalam pendidikan Islam adalah pencarian dan pengakuan otoritas yang benar dalam setiap cabang ilmu pengetahuan. Al-Attas mengatakan bahwa otoritas tertinggi adalah al-Quran dan Nabi SAW, yang diteruskan oleh para sahabat dan para ilmuan laki-laki dan perempuan yang benar-benar mengikuti sunnahnya, memiliki derajat pengetahuan, kebijaksanaan dan pengalaman spiritual yang selalu mempraktekan agama pada tingkat ikhsan. Hal yang perlu diperhatikan ketika berhadapan dengan otoritas adalah rendah hati, hormat, ikhlas dalam menerima sikap intelektual mereka, memiliki kemampuan untuk menafsirkan dan menjelaskan, disamaping juga dapat mencurahkan kasih sayang terhadap mereka. 

 Oleh karena itu peranan guru dianggap sangat penting, peserta didik disarankan tidak tergesa-gesa belajar pada sembarangan guru, sebaiknya peserta didik harus meluangkan waktu untuk mencari siapakah guru terbaik dalam bidang yang digemarinya. Pentingnya mendapatkan guru yang memiliki reputasi tinggi untuk mencapai gelar tertentu menjadi tradisi, tetapi al-Ghazali mengingatkan dan menekankan peserta didik untuk tidak bersikap sombong, tetapi harus memperhatikan mereka yang mampu membantunya dalam mencapai kebijaksanaan, kesuksesan dan kebahagiaan dan tidak hanya berlandaskan kepada mereka yang termasyur atau terkenal.

Perlu dijelaskan bahwa pendidikan modern, karena didomisili oleh tujuan memproduksi warga Negara yang berguna, memindahkan otoritas tersebut dari guru ke universitas yang berfungsi sebagai institusi komersial. Akhirnya, Universitaslah yang memberikan gelar dan bukannya dosen. Ketika seorang dosen, apapun kemampuannya dipensiunkan dari universitas, dengan sengaja atau tidak, ia akan kehilangan kekuasaannya atau bahkan identitasnya. Hal ini merupakan kondisi yang cukup tragis sebagai hasil dari filsafat sekuler mengenai kehidupan dan nilai-nilai materialistic yang diadopsi darinya.

Jelaslah bahwa prinsip Islam dan aplikasinya lebih afektif dalam membebaskan pendidikan dan lembaga pendidikan dari monopoli dan control Negara dan kepentingan bisnis. Lebih signifikan lagi, prinsip Islam dan aplikasinya menjamin individu dapat mempertahankan otoritas identitas dan kebahagiaannya.

Indikasi lain dari peranan pengajar memiliki otoritas dalam filsafat al-Attas adalah pandangan bahwa mahasiswa harus menyelesaikan masa belajarnya di bawah pengajar khusus dan selayaknya untuk tidak menyalurkan ilmunya sebelum menyelesaikan bidang yang ia pelajari. Praktik tradisional ini ditulis dengan baik oleh al-Zarnuji. Praktik al-Attas ini dapat dihubungkan dengan sifatnya yang lain, seperti tidak bergantung pada kuantitas buku yang selalu banyak, tetapi hanya bertumpu pada buku yang sudah disahkan, hal ini bisa dilihat dari perpustakaan pribadinya yang relative memiliki kuantitas buku terbatas. Dalam hal ini, dia sering mengutip saran Ibn Khaldun bahwa membaca terlalu banyak buku pada satu subjek akan memusingkan peserta didik.

Adab guru dan peserta didik dalam filsafat pendidikan al-Attas tampaknya diilhami oleh prinsip yang dipertahankan oleh ilmuan Muslim terkenal, khususnya alGhazali, mungkin akan sangat berguna jika kita merangkum pandangan al-Ghazali mengenai tugas-tugas guru dan peserta didik yang saling member mamfaat. Selain persiapan spiritual, seperti yang telah dijelaskan pada bagian terdahulu, gurr dan peserta didik harus mengamalkan adab, yaitu mendisplinkan diri pikiran dan jiwa. Peserta didik harus menghormati dan percaya kepada guru. Harus sabar dengan kekurangan gurunya dan menempatkan dalam perspektif yang wajar.

Peserta didik seharusnya tidak menyibukan diri pada opini yang bermacammacam. Sebaiknya ia menguasai teori sebaik penguasaan praktik. Tingkat ilmu seseorang yang bisa dibanggakan adalah yang memuaskan guru. Gurupun seharusnya tidak menafikan nasehat yang datang dari peserta didik dan harus membiarkannya berproses sesuai kemampuannya. Guru juga harus menghargai kemampuan peserta didik dan mengoreksinya dengan penuh rasa simpati. Peranan guru dan otoritas dalam pendidikan Islam yang berpengaruh dan sangat penting itu tidak berarti menekan individualitas peserta didik, kebebasannya atau kreatifitasnya. Al-Attas menganggap bahwa taqlid sekalipun seperti yang dipahami dan dipraktikkan sebagian generasi muslim pilihan, mensyaratkan adanya tingkat pengetahuan dan nilai-nilai etika, termasuk saling mempercayai.

Dia membantah pemahaman bahwa taqlid hanya sebatas proses peniruan buta yang memandulkan kemampuan rasional dan intelektual seseorang. Sebaliknya, mempraktekkan taqlid atau menyerahkan pada otoritas tertentu, membutuhkan pengetahuan murni atas sesuatu masalah dalam rangka membedakan antara berbagai pendangan ahli mengenai hal itu. Jadi, menurut al-Attas, taqlid tidaklah berseberangan dengan ilmu pengetahuan, tetapi merupakan sesuatu sifat alami dan positif pada tahap awal perkembangan penuntut ilmu atau seseorang yang tidak berkesempatan mengecap pendidikan dan latihan yang cukup untuk memahami alasan dan bukti-bukti secara detail. 

bn Hazm, satu dari ilmuan yang tidak setuju dengan taqlid, tampak bertentangan dengan alasannya sendiri ketika membolehkan taqlid untuk mengamalkan jika keputusan ilmuan sesuai dengan perintah Allah serta sabda dan perilaku Nabi. Untuk memutuskan apakah pandangan ilmuan selaras dengan al-Quran dan sunnah atau tidak, diperlukan beberapa tingkat pengetahuan. Bagaimanapun, disisi lain Ibn Hazm tidak menganggap penerimaan hadist yang shahih dari Nabi SAW dan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan dalam ayat-ayat al-Quran dengan maknamaknanya yang jelas sebagai taqlid. Kerena taqlid, menurutnya adalah penerimaan kata-kata seseorang selain Nabi dan yang dilakukan tanpa sebuah bukti. 

Berbeda dari ilmuan muslim modern, al-Attas melanjutkan tradisi Islam trdahulu dalam hal otoritas dan mengaplikasikan ide universal mereka secara kritis dan kreatif untuk menyelesaikan banyak permasalahan yang dihadapi. Dia dikecewakan oleh pemborosan asset intelektual yang dilakukan oleh para ilmuan, mereka mampu merevisi dan menerjemahkan karya-karya dari para pemikir besar muslim sedara efektif, bahkan mengejarkan ide-ide mereka di universitas, tetapi tidak cukup mampu mengaplikasikan ide-ide dan menginterpretasikannya untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan modern uang kita hadapi. Lebih buruk lagi, al-Attas melihat bahwa banyak guru dalam pemikiran Islam bahkan tidak mencerminkan ideide dan kepribadian yang mulia dalam kehidupan pribadi mereka. Banyak guru filsafat uang, misalnya tidak menunjukkan dasar-dasar berfikir logis dalam menyelesaikan urusan pribadi mereka sendiri.

Dia menginginkan kedisiplinan yang konsisten dari semua mahasiswanya untuk mengetahui hal-hal yang paling penting dan mengaplikasikannya secara tepat dalam kehidupan pribadi dan sosial. Selain keikhlasan tujuan dan penghargaan terhadap ilmu dan guru, dia menyarankan mehasiswanya untuk memahami dengan benar isi dan pesan yang disampaikan guru mereka. Dalam kelas-kelasnya bahwa siswa seharusnya member pertanyaan dengan sebaik-baiknya sehingga jawaban dapat diberikan dengan tepat. Dia menyatakan bahwa sekarang ini orang-orang terpelajar yang berpengalaman sekalipun tidak mampu melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang jelas dalam seminar ataupun diskusi. Sering kita pertanyakan diberikan, dia pertama kali akan mengulangi apa yang dimaksud oleh penanya sebagai komfirmasi, kemudian baru menjawab pertanyaan. 

Dalam tugas-tugas dikelas, contohnya dia pada umumnya menanyakan mahasiswanya untuk mengetahui apakah mereka benar-benar mengerti apa yang telah diajarkan, sebelum memberikan evaluasi terhadap pendapat mereka. Sering dia menerangkan kepada mereka bahwa pertanyaan adalah gambaran dari pengetahuan sehingga mahasiswa harus mengetahui bagaimana dan apa yang harus ditanyakan. Sebuah pertanyaan yang tidak mungkin dijawab sebenarnya ujian sebuah pertanyaan karena secara definitive memerlukan jawaban. Pertanyaan seperti, mengapa Tuhan menciptakan Kejahatan? Atau siapakah nama orang yang pertama sekali menyebarkan Islam di tanah Melayu? Sebenarnya bukan pertanyaan. Alasannya, pertanyaan pertama tidak bisa dijawab secara benar kecuali oleh Tuhan sendiri ataupun melalui sumbersumber wahyu, yang karenanya, dalam Islam hal ini berada dalam katagori rukunrukun iman. Pertanyaan kedua juga sama tepatnya karena hakikat penyebaran Islam, tidak sama dengan penyebaran Kristen, adalah tanggung jawab setiap individu. Selain Nabi atau khalifah atau sultan yang secara ekplisit mengirimkan utusan-utusan ataupun guru-guru untuk mengajarkan agama Islam dan tersebarnya Islam di bangunan besar belahan dunia selalu dilakukan oleh beberapa orang berdasarkan kewajiban pribadi mereka.

Penghormatan kepada guru hanya bisa menjadi kenyataan jika para guru-guru tidak hanya memiliki otoritas secara akademik dalam bidang mereka, tetapi juga memberikan contoh moral secara konsisten. Sama seperti halnya guru-guru terkenal dalam sejarah Islam, al-Attas mengajarkan dan mempraktikkan hubungan guru dan murib yang menjadikan loyalitas dan keikhlasan sebagai sifat yang sangat penting. Sepanjang tahun 1960-an dan 1970- an dia sangat aktif membimbing pergerakan terpelajar dalam universitas nasional, seperti masalah kebudayaan dan bahasa nasional, sekularisasi, westernisasi dan Islamisasi. Rumahnya menjadi sebuah sekolah, tempat ia biasanya menghabiskan waktu yang tidak terbatas, menjelaskan Islam dan masalah-masalah lain yang penting seperti hal diatas kepada pelajar dari berbagai universitas di negeri tersebut. 

d. Hirerki Ilmu Pengetahuan 
Al-Attas berpendapat secara konsisten bahwa muatan pendidikan itu sangat penting dank arena itu merupakan priotitas tertinggi dibandingkan metodenya, meskipun lembaga-lembaga pendidikan muslim modern sekuler, yang berada dibawah pengaruh ide-ide dan praktik-praktik pendidikan Barat, lebih menekankan metode yang telah ia permasalahkan. Pada tahun 1970, ia mengingatkan pemerintah Malaysia untuk tidak membenarkan kecendrungan ini. Setelah memberikan alasan secara halus mengenai pentingnya bahasa nasional sebagai media pembelajaran dengan tujuan persatuan dan kesatuan bangsa dan perlu adanya landasan etis bagi sistem pendidikan.

Ketika menekankan pentingnya muatan pendidikan dan metode, al-Attas tidak bermaksud bahwa metode tidak memiliki dampak positif terhadap output pendidikan, tetapi sebaliknya, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, adab itu sendiri termasuk metode yang benar untuk mengetahui dan berbuat sesuatu. Sekarang ini, materi-materi seperti metode-metode pengajaran dalam berbagai disiplin, seperti matematika, biologi, ekonomi dan bahkan agama sangat meluas, yang hanya menekankan teknikteknik untuk mengembangkan tujuan-tujuan pendidikan dengan demikian rupa agar prestasinya bisa dibuktikan secara empiris dan bentuk-bentuk terbaru dari teknologi pengajarannya bisa digunakan. Selain itu sekolah-sekolah dan institusi pendidikan tinggi semakin banyak materi-materi yang berjudul “Berfikir Kritis”, berpikir kretif, ketrampilan berpikir, menghidupkan ketrampilan-ketrampilan, ketrampilan computer, ketrampilan komunikasi dan lain-lain yang semua itu berorientasi pada tujuan-tujuan prakmatis, teknis dan komersil. Materi-materi ini merupakan alat yang berguna dan tidak ditolak dalam rangka filsafat pendidikan al-Attas, tetapi mereka bukan inti dari kandungan pendidikan yang sebenarnya.

Konsep masyarakat marginal sering disalahpahami oleh sebagian masyarakat muslim dari ini, yaitu sebagai orang-orang yang tidak memiliki kedudukan politik dan pengaruh birokrasi dalam Negara masing-masing. Namun apa yang dimaksud dengan ungkapan yang dikutip dalam paragraph diatas tidaklah merujuk pada marjinalisasi politis dan birokrasi sama sekali, tetapi merujuk pada gejala-gejala intelektual yang didalamnya pemimpin muslim dan pembuat kebijaksanaan dalam berbagai sector terjebak. Mereka tidak memahami dangan benar Islam dan tradisi cultural mereka sendiri serta hakikat semangat barat yang sangat mereka kagumi dan yang melekat dalam sejarah agama, filsafat, mitologi dan kebanggsaan kebudayaan barat. Itulah sebabnya, para pemimpin muslim akhirnya meniru penampilan eksternal dan teknologi yang populer dari kebudayaan dan kebangsaan barat, tanpa betul-betul mengetahui alasan yang sebanarnya. Semakin kritis peminpin-pemimpin muslim dari berbagai sector dalam mengidentifikasi dekadensi moral yang nyata, akan semakin haluslah sikap ernosntrisme dan nasionalisme barat, tetapi mereka tetap saja tidak memahami alasan-alasan yang sebenarnya. 

Sayangnya, semua pemimpin ini lebih tidak mengetahui sejarah, tradisi agama dan kultur mereka sendiri sehingga mengebiri pemikiran yang sebenarnya dapat memberikan solusi yang baik pada bangsa mereka. Beberapa aspek negative sejarah kebudayaan dan keagamaan yang mereka baca dari sumber-sumber barat telah menutupi pandangan terhadap kelebihan-kelebihan agama mereka sendiri dan khasanah yang diwariskannya. Berangkat dari hal tersebut, mereka membuat berbagai bentuk reformasi, meneriakkan perlunya perubahan dan penyesuaian yang terus menerus terhadap tren-tren hari ini, yang pada dasarnya mengikuti susunan argumentasi dan modus operandi Barat. Mereka secara terus menerus menunggu serpihan pemikiran di barat untuk mengakui dan menjusdifikasi keberanian dan semangat kebebasan mereka. Pada tahun 1972, al-Attas menulis bahwa penulis dan sastrawan melayu Indonesia modern mewakili masyarakat pinggiran karena alasan-alasan di atas dan arena obsesi mereka untuk menghasilkan tradisi kesusastraan yang baru semakin dangkal sifatnya, memotong asas-asas keagamaan, intelektual dan kebudayaan Islam. Oleh karena itu mereka terlunta-lunta begitu saja tanpa identitas dan tujuan.

Dalam kurikulum pendidikan untuk anak-anak orang liar, ada ruang-ruang tertentu yang disediakan bagi kebijaksanaan tradisional, kewajiban keagamaan. Hal-hal yang tabu dalam budaya, mistik dan ritualritual yang mengantarkan mereka kepada masa baligh bagi kedua jenis kelamin. Bahkan bagi kedua orang liar itu, pendidikan berarti menanamkan adab yang benar dalam jiwa anak-anak mereka sehingga membuat segala sesuatu berarti bagi diri dan masyarakatnya. Pendidikan sekuler modern juga memiliki hierarki dalam pengetahuan, bergantung pada orientasi filosofis dan ideologisnya. Jadi, masalahnya bukan untuk membuktikan adanya dan perlunya hierarki dalam kurikulum pendidikan, melainkan untuk menentukan tempat yang benar dan sesuai dalam ilmu pengetahuan sesuai hierarki ilmuanya. 

Kajian al-Attas mengenai muatan pendidikan Islam berangkat dari pandangan bahwa menusia bersifat dualistic, ilmu pengetahuan yang dapat memenuhi kebutuhannya dengan baik adalah yang memiliki dua aspek: Pertam, yang memenuhi kebutuhannya yang berdimensi permanen dan spiritual dan Kedua, yang memenuhi kebutuhan material dan emosional. Dalam hal ini, al-Attas sepakat dengan al-Ghazali bahwa kemudiansebuah ilmu ditentukan oleh buahnya dan keaslian prinsip-prinsipnya (watsaqat al dalil wa quwwatihi) dan yang pertama itu lebih penting dari yang kedua. 

Sebagai contoh, walaupun tidak setepat ilmu matematika, ilmu kedokteran lebih penting bagi seseorang. Begitu juga ilmu agama (‘ilm al-din) adalah lebih mulia (asyraf) daripada ilmu kedokteran.

Pembagian ilmu pengetahuan ke dalam beberapa kategori umum tergantung pada berbagai pertimbangan. Berdasarkan metode mempelajarinya, kita memiliki ilmu pengetahuan illuminatif atau gostik dan pengetahuan ilmiah. Kategori pertama adalah yang paling valid dan paling tinggi, yaitu wahyu yang diterima oleh Nabi kemudian diikuti intuisi orang-orang bijak, para wali dan ilmuan, kategori kedua berdasarkan pengalaman empiris dan akal. Ilmuan menanamkan dua kategori ini sebagai ilmu maqliyahm dan ilmu aqliyah (rasional) ataupun tajribiyyah (empiris). Bagaimanapun, jika dilihat dari segi kegunaannya bagi manusia. Ilmu pengetahuan dibagi menjadi dua yang baik (al mahmudah). Jika dilihat lebih dalam lagi dari aspek kewajiban manusia terhadapnya, pengetahuan dibagi menjadi fardhuain dan fardu kifayah. Sedangkan jika dilihat dari asal usul sosial dan kulturaly. Pengetahuan dibagi menjadi syariat dan non syariat atau ilmu-ilmu asing. Walaupun kategori kedua baru muncul kemudian, mereka tetap penting bila diletakkan pada tempatnya yang sesuai, yaitu fardhu kifayah. 

e. Fardhu Ain dan Fardhu Kifayah
Pada sisi lain, Naquib berpendapat bahwa untuk penanaman nilai-nilai spiritual termasuk spiritual intelegent dalam pendidikan Islam, ia menekankan pentingnya pengajaran ilmu fardhu ain. Yakni, ilmu pengetahuan yang menekankan dimensi ketahuan, intensifikasi hubungan manusia-tuhan dan manusia-manusia, serta nilai-nilai moralitas lainnya yang membentuk cara pandang murid terhadap kehidupan dan alam semesta. Bagi Naquib, pembagian tersebut harus dipandang dalam perspektif integral atau tauhid, yakni ilmu fardhu ain sebagai asas dan rujukan bagi ilmu fardhu kifayah. 

Berkaitan dengan islamisasi ilmu pengetahuan, sosok Naquib amat mencemaskan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Sosok ini termasuk orang pertama yang menyerukan pentingnya islamisasi “ilmu” dalam salah satu makalahnya, seperti ditulis Ensiklopedi of Islam, Naquib menjelaskan bahwa “masalah ilmu” terutama berhubangan dengan epitermologis Muslim amat lemah.

Adanya anggapan bahwa sains modern adalah satu-satunya cabang ilmu yang otoritatif segera melemahkan pandangan Islam mengenai ilmu. Naquib menolak posisi sains modern sebagai sumber pencapain kebenaran yang paling otoritatif dalam kaitannya denagn epistemologis. Karena banyak kebenaran agama yang tak dapat dicapai oleh sains yang hanya berhubungan dengan realitas empirik. Pada tingkat dan pemaknaan seperti ini, sains bertantangan dengan agama. Baginya, dalam proses pembalikan kesadaran epstomologis ini, progam islamisasi menjadi satu bagian kecil dan upaya besar pemecahan “masalah ilmu”.

Al-attas mengusulkan secara jelas pentingnya pemahaman dan aplikasi yang benar mengenai fardhu ain dan fardhu khifayah. Ini adalah cirri-ciri khas lain filsafat pendidikan Al-Attas yang menandakan kmitmen seumur hidupnya dalam menghidupkan kembali elemen-elemen universal prinsip-prinsip intelektual dan spiritual Islam periode awal. Penekanannya pada kategorisasi ini mungkin jua Karen perhatiannya terhadap kewajiban manusia dalam menuntut ilmu dan mengembangkan adab. Hal ini di sebabkan oleh sifat ilmu yang tidak terbatas pada satu pihak. Dan terbatasnya kehidupan seorang individu pada pihak lain. Sebagaimana telah disebutkan. Al-attas menganggap ilmu sebagai sesuatu yang tidak terbatas. Disisi lain dia menyatakan bahwa harus ada batasan kebenaran bagi setiap objek ilmu pengetahuan sehingga sesuatu yang kurang dan lebih dari batasan itu merupakan sebuah kesalahan dan kebatilan. Penemuan ini merupakan salah satu dari pelbagai konsribusi pentingnya terhadap pemikiran Islam modern.

Al-atttas mengambil prinsip ilmiah ini dari ayat Al-Quran, penglihatannya (Muhammad) tidak guyah (dari yang dilihatnya) dan tidak (pula) melampaui batas, (ma zagha al-bashar wa ma thagha). Pada tempat yang lain, Tuhan memerintahkan Muslim untuk tidak masuk dalam kontroversi mengenai ashab al kahfi, kecuali dalam hal-hal yang sudah jelas (illa mara’an zhahiran), Qs Al Kahfi (18):22. Batasan kebenaran bagi ilmu pengyahuan dalam kaitanny dengan belajar, dalam hal ini menurut Al-attas, bukanlah mengenai jumlah ashab al kahfi yang terlibat dalam cerita itu, melainkan mengenai Tuhan yang memenuhi janjiNya, QS Al Kahfi (18):21, kemungkinan sumber lain yang menghilhaminya untuk menghasilkan pandangan yang signifikan dan luas ini adalah berkat keutamaan (fadhillah) hikmah, control diri (‘iffah), keberanian (syaja’ah), dan keadilan (‘adl) yang dibimbing oleh agama. 

Dalam ceramah-ceramah umumnya mengenai pendidikan dan masalahmasalah yang berkaitan dan menekankan berulang-ulang bahwa sikap tersebut tidak bermakna bahwa harus ada batasan dalam mencari ilmu pengetahuan, karena objek ilmu pengetahuan memiliki batasan-batasan yang berbeda-beda. Sebaliknya, sikap itu mendorong sifat kejelasan dan ketetapan yang akan membuat proses pendidikan menjadi lebih jujur, terarah, praktis dan lebih bermakna bagi orang yang mencarinya. 

Benih prinsip dasar mengenai kewajiban terhadap ilmu ini bisa ditemukan dalam hadist Nabi yang terkenal “mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimat”. Istilah fardhu ain dan fardhu kifayah sudah ada paling tidak sebelum zaman Al-Syafi’i yang mengkin telah memperkenalkan untuk pertama kalinya istilah fardhu kifayah. Dia mendefinisikan fardhu kifayah sebagai kewajiban-kewajiban seperti membaca doa jenazah bagi seorang muslim, pemakamannya dan menjawab salam, yang jika dilaksanakan oleh seorang muslim, kewajiban semua komunitas di tempat tersebut telah dilaksanakan. Justifikasinya berdasarkan perintah-perintah alQuran untuk jihad.

Mengomentari hadist yang disebut diatas, alZarnuji menyifatkan bahwa kewajiban individu bukan pada pencarian semua aspek ilmu pengetahuan, melainkan apa-apa yang diperlukan untuk menjaga tempat seseorang dalam kehidupan. Pendapat fundamental ini terkesan agak terbatas. Namun, ia menjadi petunjuk pendidikan yang memiliki tujuan mendalam, praktis dan konprehensif jika dilengkapi prinsip-prinsip dasar hukum dan pendidikan yang lain bahwa “segala sesuatu menjadikan sesuatu itu wajib, maka ia dengan sendirinya adalah wajib”. Karena prinsip yang kreatif dan kaya ini, ahli pendidikan muslim mengembangkan konsep-konsep, seperti ilmu-ilmu pengtahuan (muqaddimah) dan ilmu-ilmu alat (‘alat). Walupun tidak penting, ilmu-ilmu pendahuluan sebagai alat tidak bisa dipisahkan dari ilmu-ilmu yang lebih tinggi dan oleh karenanya harus dikuasai dan diajarkan secara propresional.  
      
Berbeda dengan pengertian yang populer, al-Attas menyatakan bahwa fardhu ain bukanlah suatu kumpulan ilmu pengetahuan yang kaku dan tertutup. Suatu pandangan yang juga dipegang oleh ilmuan besar Islam, seperti Al-Ghazali. Cakupan fardhu ain ini sengat luas sesuai dengan perkembangan dan tanggung jawab spiritual, sosial dan professional seseorang. Hal ini berarti bahwa karena mencari ilmu tingkat tinggi secara keagamaan adalah wajib dan sarana yang lebih baik untuk memperolehnya merupakan sesuatu yang disyaratkan, maka muslim diwajibkan menguasai ilmu-ilmu yang membantu untuk memperoleh ilmu-ilmu yang lebih tinggi, seperti ilmu dan keterampilan membaca, manulis dan menghitung. 

Harus diingat, bahwa beberapa cendekiawan muslim, seperti yang telah diamati oleh al-Ghazali seribu tahun yang lalu, telah secara keliru menekankan bahwa ilmu pengetahuan yang harus dikuasai oleh setiap muslim sebagaimana yang diperintahkan dalam hadist tersebut di atas adalah ilmu yang menjadi spesialisasi mereka, walaupun secara umum, mereka tidak menafikan kegunaan ilmu-ilmu lain. Al-Ghazali menyebutkan bahwa ahli theology pada umunya menganggap theology sebagai ilmu yang paling penting karena melalui ilmu dapat diketahui keesaan Tuhan, Zat-Nya, Sifat-sifat-Nya. Para ahli  fiqh disisi lain, mempertahankan ilmu fiqih karena kegunaannya dalam menentukan hukum-hukum tertentu dari perkara-perkara sosial dan keagamaan. Begitu juga ahli hadist dan para sufi berpikir bahwa itu mengenai Al-Quran, hadist dan sufisme, masing-masing seharusnya dianggap sebagai fardhu ain. 

Dalam dunia modern sekuler sekarang ini, kata-kata ini secara praktis tidak didengar lagi karena telah tertutupi oleh suara para ahli teknologi, ahli computer, pengacara dan ilmu sosial. Pendapat al-Attas bahwa struktur ilmu pengetahuan dan kurikulum pendidikan Islam seharusnya menggambarkan manusia dan hakikiatnya yang harus diimplementasikan pertama-tama pada tingkat universitas. Struktur dan kurikulum ini secara bertahap kemudian diaplikasikan pada tingkat pendidikan randah. Secara alami, kurikulum tersebut diambil dari hakikat manusia yang bersifat ganda (dual nature), aspek fisikalnya lebih berhubungan dengan pengetahuannya mengenai ilmu-ilmu fisikal dan teknikal atau fardhu kifayah, sedangkan keadaan spritualnya sebagaimana terkandung dalam istilah-istilah ruh, nafs, qalb dan ‘aql lebih tepatnya berhubungan dengan ilmu inti atau fardhu ain.
Blog, Updated at: 09.37

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts