Konsep dan Pentingnya Penelitian dan Pengembangan

Konsep dan Pentingnya Penelitian dan Pengembangan
Penelitian dan pengembangan atau Research and Development [R&D] adalah sebuah strategi atau metode penelitian yang cukup handal dalam memperbaiki praktik berbagai bidang. Dalam bidang industri antara 4-5% biaya digunakan untuk mengadakan R&D. Oleh karena itu kemajuan di bidang industri terutama elektronika, komunikasi, transportasi, obat-obatan, dllnya berkembang sangat cepat. 

Dalam bidang pendidikan dan kurikulum, penyediaan dana untuk penelitian dan pengembangan masih dibawah 1%. Oleh karena itu, kemajuan di bidang pendidikan seringkali tertinggal jauh dibandingkan bidang industri. R&D adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, di mana semua kegiatannya dapat dipertanggung-jawabkan. Produk tersebut tidak selalu berbentuk benda atau perangkat keras (hardware), seperti buku, modul, peralatan laboratorium, tapi juga bisa perangkat lunak (software), seperti program komputer untuk pengolahan data, pembelajaran kelas, pelatihan, bimbingan, evaluasi, dllnya. 

Langkah-langkah atau proses R&D dilakukan melalui suatu siklus, yang diawali dengan melakukan analisis kebutuhan. Permasalahan yang ada membutuhkan pemecahan, dengan memanfaatkan suatu produk tertentu. Langkah selanjutnya adalah menentukan karakteristik atau spesifikasi produk yang akan dihasilkan. Setelah itu barulah dibuat produk awal (draft) yang masih kasar, kemudian produk tersebut diujicoba pada lapangan dengan sampel terbatas dan sampel lebih luas secara berulang-ulang. Selama kegiatan ujicoba, dilakukan observasi dan evaluasi. Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi, selanjutnya diadakan penyempurnaan. Evaluasi dan penyempurnaan dilakukan secara kontinu sehingga diperoleh sebuah produk yang terbaik atau standar. 

Penelitian di bidang pendidikan, umumnya tidak diarahkan pada pengembangan suatu produk, tetapi lebih ditujukan untuk menemukan pengetahuan baru, berkenaan dengan fenomena-fenomena bersifat fundamental serta praktik pendidikan. Penelitian tentang fenomena pendidikan fundamental dilakukan melalui penelitian dasar (basic research), sedang penelitian tentang praktik pendidikan dilakukan melalui penelitian terapan (applied research). R&D (kadang-kadang disebut pengembangan berbasis penelitian) merupakan penelitian untuk mengembangkan dan memvalidasi produk. 

Di lain pihak, penelitian pendidikan juga merupakan penelitian untuk menemukan pengetahuan baru melalui penelitian dasar atau menjawab pertanyaan spesifik tentang masalah praktis atau menerapkan pengetahuan melalui penelitian terapan. R&D merupakan metode penghubung atau penghilang kesenjangan antara penelitian dasar dan penelitian terapan. Sering ditemukan adanya kesenjangan antara hasil penelitian dasar bersifat teoritis dengan penelitian terapan bersifat praktis. Kesenjangan ini dapat dihilangkan atau dihubungkan melalui kegiatan R&D. Suatu produk yang baik akan dihasilkan (perangkat keras atau perangkat lunak) maka produk tersebut akan memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. 

Karakteristik tersebut merupakan perpaduan dari sejumlah konsep, prinsip, asumsi, hipotesis, prosedur berkenaan dengan sesuatu yang telah ditemukan atau dihasilkan dari penelitian dasar. Penerapan dari produk-produk R&D diteliti dengan menggunakan penelitian terapan. Dengan demikian, ke-3 jenis penelitian ini saling terkait dan mendukung satu sama lain. Kemajuan dalam pendidikan dan kurikulum pembelajaran sangat didukung oleh hasil penelitian ke-3 jenis penelitian ini. Penelitian dasar mengembangkan konsep, prinsip dan teori; R&D mengembangkan model proses, bahan, dan sarana-fasilitas; dan penelitian terapan mengembangkan praktik pelaksanaan pendidikan dan kurikulum pembelajaran. Di dalam pelaksanaan R&D, digunakan beberapa metode yaitu metode deskriptif, evaluatif, dan eksperimental. 

Metode deskriptif sebagai langkah awal untuk menghimpun data/kondisi yang ada yaitu: 
  1. kondisi produk yang ada sebagai bahan perbandingan atau dasar (embrio) untuk produk yang dikembangkan, 
  2. kondisi pihak pengguna, seperti sekolah, pengajar, kepala sekolah, pebelajar, serta pengguna lainnya, 
  3. kondisi faktor pendukung dan penghambat terhadap kegiatan pengembangan dan penggunaan produk yang akan dihasilkan, yaitu unsur manusia, sarana, biaya, pengelolaan, dan lingkungan. 
Metode evaluatif digunakan untuk mengevaluasi proses ujicoba pengembangan produk. Produk dikembangkan melalui serangkaian ujicoba, dan setiap kegiatan ujicoba diadakan evaluasi, baik terhadap hasil maupun prosesnya. Temuan-temuan selama ujicoba digunakan sebagai pertimbangan untuk melakukan penyempurnaan-penyempurnaan. Metode eksperimen digunakan untuk menguji keampuhan dari produk yang dihasilkan. Walaupun dalam tahap ujicoba telah ada evaluasi (pengukuran), tetapi pengukuran tersebut masih dalam kerangka pengembangan produk, belum ada kelompok pembanding. 

Dalam melaksanakan metode eksperimen, diadakan pengukuran selain terhadap kelompok eksperimen, juga terhadap kelompok pembanding atau kelompok kontrol. Pemilihan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dilakukan secara random atau terkontrol. Komparasi hasil implementasi metode eksperimen pada tiap kelompok dapat digunakan untuk menunjukkan atau menjelaskan tingkat keampuhan dari produk yang dihasilkan. Strategi R&D banyak digunakan dalam teknologi instruksional atau teknologi pembelajaran, yang sekarang lebih difokuskan pada sistem instruksional atau sistem pembelajaran. 

Strategi ini banyak digunakan untuk mengembangkan model-model meliputi: desain atau perencanaan pembelajaran, proses atau pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan model-model program pembelajaran. R&D juga banyak digunakan untuk mengembangkan bahan ajar, media pembelajaran dan manajemen pembelajaran. Penggunaan strategi R&D dalam teknologi instruksional banyak digunakan dalam pendidikan dan pelatihan bidang industri, bisnis, militer, teknologi, kedokteran, dllnya. 

Pendekatan ini digunakan untuk pengembangan dari segi software, hardware, teknoware maupun manageware. Para pendidik dan peneliti berupaya untuk mencari kesenjangan antara penelitian dasar dan penelitian terapan. Penelitian yang menghubungkan antara penelitian dasar dan penelitian terapan adalah metode R&D (Gambar). R&D bukanlah sebagai pengganti penelitian dasar dan penelitian terapan, namun ketiga jenis penelitian ini sangat diperlukan untuk mengadakan perubahan, khususnya dalam bidang pendidikan.

R&D dalam konteks pendidikan disebut penelitian dan pengembangan pendidikan (E,R,&D) merupakan proses yang digunakan untuk mengembangkan dan memvalidasi produk-produk pendidikan, seperti buku ajar, strategi/metode/model/program pembelajaran/pelatihan, dan sebagainya. Tahaptahap dari proses R&D ditunjukkan sebagai siklus penelitian dan pengembangan.

Langkah-Langkah R&D
 Dalam rangka menjelaskan langkah-langkah R&D, pada makalah ini dikemukakan contoh proyek R&D dalam bidang teknologi pembelajaran yang dikembangkan di Far West Laboratory, Amerika Serikat. Produk yang dikembangkan berupa program pelatihan pengajar untuk meningkatkan keterampilan khusus dalam mengajar. Program pelatihan ini disusun dalam paket pelatihan. Setiap paket pelatihan dirancang untuk waktu 15 jam latihan, meliputi bahan yang disajikan dalam bentuk media elektronik dan media cetak. 

Pertama-tama, pengajar peserta latihan menonton film atau video yang telah disusun para pengembang, mencermati bagaimana pengajar-model mengajar dengan memperagakan salah satu keterampilan mengajar. Pengajar peserta latihan kemudian membuat rencana pembelajaran untuk kelasnya. Pengajar peserta latihan mempraktekkan rancangan yang dibuat dalam kelas kecil (jumlah pebelajar sedikit). Selama penyajian diadakan observasi melalui rekaman video.  

Hasil rekaman video didiskusikan bersama antara pengajar peserta latihan dan para pengembang. Hal ini dimaksudkan untuk memberi masukan bagi penyempurnaan rancangan dan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan pengajar peserta latihan. Berdasarkan masukan tersebut, pengajar peserta latihan membuat rancangan pembelajaran baru yang lebih baik. Kemudian, mereka mempraktekkannya lagi dengan lebih baik. Kegiatan pembuatan rancangan, praktek, pengamatan, dan diskusi penyempurnaan dilakukan secara berulangulang sampai ditemukan rancangan dan pelaksanaan praktek mengajar yang terbaik (standar). 

Untuk mengetahui hasil penerapan model pembelajaran yang telah dikembangkan, diadakan pengujian pada kelas yang lebih besar (jumlah pebelajar lebih banyak). Mengacu kepada percobaan yang telah dilakukan pada Far West Laboratory tersebut, secara lengkap Borg dan Gall (1983) menyatakan ada 10 langkah pelaksanaan strategi R&D, meliputi: 
  1. Penelitian dan pengumpulan data (Research and information collection) Pada penelitian dan pengumpulan data ini dilakukan analisis kebutuhan, studi literatur, dan penelitian skala kecil. 
  2. Perencanaan (Planning); Pada tahap perencanaan dilakukan identifikasi kemampuan yang diperlukan untuk pelaksanaan penelitian, membuat rumusan tujuan yang hendak dicapai, membuat desain atau langkah-langkah penelitian, dan merencanakan kemungkinan pengujian di lingkup terbatas. 
  3. Pengembangan produk awal atau draft (Develop preliminary form of product); Pengembangan produk ini meliputi penyiapan bahan ajar, proses pembelajaran, dan instrumen evaluasi. 
  4. Ujicoba lapangan awal (Preliminary field testing); Ujicoba lapangan awal atau ujicoba terbatas dilakukan pada 1-3 sekolah menggunakan 6-12 subjek. Selama ujicoba dilakukan observasi, wawancara, dan pengedaran angket. Tujuannya adalah untuk mendapatkan evaluasi kualitatif terhadap produk yang dikembangkan. 
  5. Merevisi produk utama (Main product revision); Revisi produk utama dilakukan berdasarkan temuan-temuan pada ujicoba lapangan awal. 
  6. Ujicoba lapangan utama (Main field testing); Ujicoba ini dilakukan pada 5-15 sekolah dengan 30-100 subjek. Data kuantitatif tentang penampilan pengajar, sebelum dan sesudah menggunakan model dikumpulkan. Data yang diperoleh, selanjutnya dievaluasi dan kalau mungkin dibandingkan dengan kelompok kontrol. 
  7. Penyempurnaan produk operasional (Operational product revision); Penyempurnaan produk operasional dilakukan berdasarkan temuan-temuan ketika melaksanakan ujicoba lapangan utama. 
  8. Ujicoba lapangan operasional (Operatinal field testing); Ujicoba ini dilakukan pada 10-30 sekolah dengan melibatkan 40-200 subjek. Pengujian dilakukan melalui angket, wawancara, observasi, dllnya. 
  9. Penyempurnaan produk akhir (Final product revision); Penyempurnaan dilakukan berdasarkan temuan-temuan pada ujicoba lapangan operasional.
  10. Deseminasi dan implementasi (Dissemination and implementation); Membuat laporan tentang produk pada pertemuan profesional dan mempublikasikannya pada jurnal, bekerjasama dengan penerbit, memonitor distribusi untuk melakukan pengendalian kualitas. 

Kesepuluh tahapan ini, jika diikuti dengan baik akan dihasilkan produk berbasis penelitian yang siap pakai, misalnya di sekolah. Walaupun ada 10 tahapan, tiap langkah harus dilakukan secara cermat agar dihasilkan produk yang berkualitas. 

Penjelasan Setiap Langkah R&D 
1. Penelitian dan Pengumpulan Data 
Seperti diuraikan di atas, penelitian dan pengumplan data ini meliputi: 
  1. analisis kebutuhan, 
  2. studi literatur, dan 
  3. penelitian skala kecil. 
Analisis kebutuhan: Produk yang dikembangkan dalam pendidikan dapat berupa perangkat keras (seperti alat bantu pembelajaran, buku ajar, modul atau paket belajar) dan perangkat lunak (seperti program-program pendidikan dan pembelajaran, modelmodel pembelajaran, dan kurikulum). 

Beberapa kriteria harus dipertimbangkan dalam memilih produk yang akan dikembangkan adalah sebagai berikut. 
  1. Apakah produk yang akan dibuat tersebut penting untuk bidang pendidikan? 
  2. Apakah produk yang akan dikembangkan memiliki nilai ilmu, keindahan, dan kepraktisan? 
  3. Apakah para pengembang yang bersangkutan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman dalam mengembangkan produk terkait? 
  4. Dapatkan produk tersebut dikembangkan dalam jangka waktu yang tersedia? 

Kriteria pertama, yaitu produk pendidikan yang akan dihasilkan harus betul-betul yang penting dan dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Produk yang akan dikembangkan harus didasarkan pada analisis kebutuhan. Masalah-masalah atau kelemahan-kelemahan apa yang dihadapi oleh sekolah pada saat ini? Di antara masalah tersebut, mana yang paling mendesak dan paling besar pengaruhnya terhadap pelaksanaan pendidikan. Untuk mengatasi masalah tersebut, produk pendidikan apa yang perlu dikembangkan dan dipandang paling ampuh. Pemilihan produk yang akan dikembangkan harus disesuaikan dengan bidang keahlian dan kemampuan para pengembang terkait, kelayakan atau ketersediaan waktu, peralatan, dan biaya. 

Studi Literatur: Untuk mengembangkan suatu produk pendidikan perlu dilakukan studi literatur. Studi ini bertujuan untuk menemukan konsep-konsep atau landasanlandasan teoretis yang memperkuat suatu produk. Produk pendidikan, terutama produk yang berbentuk model, program, sistem, pendekatan, software, dan sejenisnya, memiliki dasar-dasar konsep atau teori tertentu. Untuk menggali konsep-konsep atau teori-teori yang mendukung suatu produk perlu dilakukan studi literatur secara intensif. Melalui studi literatur juga perlu dikaji ruang lingkup suatu keluasaan penggunaan produk, kondisi-kondisi pendukung agar produk dapat digunakan atau diimplementasikan secara optimal, serta keunggulan atau keterbatasannya. 

Studi literatur juga diperlukan untuk mengetahui langkahlangkah yang paling tepat dalam pengembangan suatu produk. Ada kemungkinan produk sejenis dikembangkan di tempat lain oleh pengembang lain. Hal-hal tersebut dikaji melalui studi literatur dari laporan atau artikel hasil penelitian. Berdasarkan hasil studi ini, selain dapat diketahui prosedur dan hasil-hasil penelitiannya, juga diketahui kesulitan dan hambatan yang dihadapi serta pemecahan masalah yang dilakukan, dan juga keunikan-keunikan lain dari proses kegiatan pengembangan. 

Penelitian skala kecil Kadang-kadang hasil analisis kebutuhan dan studi literatur belum cukup untuk memberikan dasar-dasar konkrit untuk pengembangan suatu produk. Untuk itu, perlu dilengkapi dengan penelitian ke lapangan. Pada contoh penelitian dan pengembangan yang dilaksanakan di Far West Laboratory, paket pelatihan pengajar yang dikembangkan berkaitan dengan keterampilan-keterampilan mengajar. Para pengembang mengadakan penelitian lapangan terhadap beberapa orang pengajar untuk mengetahui keterampilan-keterampilan mengajar mereka dan faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanan pembelajaran, meliputi sarana dan fasilitas pembelajaran, suasana kelas, dan iklim sekolah keseluruhan. 

2. Perencanaan 
Perencanan ini menghasilkan rancangan produk yang disusun berdasarkan hasil studi literatur, analisis kebutuhan, dan studi lapangan. Rancangan produk yang akan dikembangkan minimal mencakup: 
a) tujuan penggunaan produk; 
b) siapa pengguna produk; 
c) deskripsi komponen-komponen produk dan penggunaannya. 

Contoh rumusan tujuan dalam paket pelatihan keterampilan mengajar pengajar, misalnya pengajar mampu menyajikan pelajaran dalam langkah-langkah kecil secara sistematis, pengajar mampu memberikan contoh dalam kehidupan; pengajar mampu membangkitkan motivasi belajar pebelajar, dllnya. Di samping itu, kriteria pencapaian tujuan harus menjadi perhatian pengembang. Dalam konsep belajar tuntas, kriteria penguasaan ini biasanya bernilai antara 75% atau 80% dari tujuan yang harus dikuasai. Selanjutnya yang perlu dirumuskan adalah komponen-komponen produk. 

Misalnya dalam kasus paket pelatihan keterampilan pengajar di atas, komponenkomponen produk meliputi: tujuan pelatihan, materi pelatihan, proses pembelajaran, media alat bantu pembelalaran, evaluasi hasil pembelajaran, dan sumber-sumber belajar. Dalam proses pengembangan produk perlu dirumuskan lebih rinci, mulai dari penentuan produk, penyusunan draft, uji dan penyempurnaan draft, ujicoba utama dan revisi produk operasional/akhir, sampai dengan diseminasi dan implementasi. Kegiatan selanjutnya adalah merencanakan subjek ujicoba dan lokasi ujicoba, baik untuk ujicoba lapangan awal, ujicoba lapangan utama maupun ujicoba lapangan operasional. 

Karena produk yang akan dihasilkan merupakan produk standar, maka jumlah subjek yang terlibat dalam lingkup lokasi penelitian dan pengembangan harus representatif, apakah untuk populasi tingkat nasional, propinsi atau kabupaten. Pada kasus program pelatihan pengajar di atas, ujicoba lapangan awal subjeknya 1-3 sekolah dengan 6-12 subjek pengajar. Pada ujicoba lapangan utama atau ujicoba lebih luas, subjeknya 5-15 sekolah dengan 30-100 subjek. 

Pengujian produk ahkir menggunakan 10-30 sekolah dengan melibatkan 40-200 subjek. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah perencanaan biaya, orangorang yang membantu, alat dan bahan, serta waktu yang diperlukan untuk melaksanakan semua kegiatan penelitian dan pengembangan. Untuk pelaksanaan ujicoba, hal yang perlu direncanakan dengan seksama adalah instrumen-instrumen yang diperlukan selama pengujian dan teknik-teknik analisis data. 

3. Pengembangan Produk Awal 
Dari hasil analisis kebutuhan akan dapat ditentukan jenis produk-produk sangat diperlukan saat ini, misalnya oleh sekolah. Hasil-hasil studi literratur akan memberikan informasi tentang beberapa karakterisktik penting dari produk yang dikembangkan dan bentuk-bentuk produk yang telah dikembangkan. Kemudian, hasil-hasil penelitian dalam lingkup terbatas akan memberikan informasi tentang produk sejenis yang telah digunakan, pelaksanaan produk yang ada, dan kemungkinan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pengunaan produk yang akan dikembangkan. 

Pada pengembangan produk awal ini, produk yang dibuat masih berupa produk awal atau draft dan bersifat tentatif. Walaupun masih berupa produk awal, namun produk telah disusun selengkap dan sesempurna mungkin. Pada contoh produk pelatihan untuk peningkatan keterampilan pengajar dalam mengajar yang dikembangan di Far West Laboratory, produk awal/draft paket pelatihan telah memuat komponen-komponen paket secara lengkap, misalnya paket pelatihan tersebut terdiri dari 5 paket materi pelatihan, 1buku pedoman pelaksanaan, dan 1 CD atau video yang memuat contoh-contoh pembelajaran. 

Pada setiap paket materi pelatihan memuat identitas paket (misalnya judul paket, nomor kode, jumlah jam latihan, dan prasyarat), rumusan tujuan, uraian materi pelatihan, tugastugas dan latihan yang harus dikerjakan, media, alat dan bahan yang dapat digunakan, tes akhir dan buku-buku rujukan. Buku pedoman pelaksanaan, misalnya memuat petunjuk-petunjuk pembimbingan, pemberian tugas latihan praktek bagi pembimbing atau fasiltator. Buku pedoman juga berisi format-format observasi, instrumen evaluasi proses dan hasil belajar, dan format pelaporan kemajuan peserta pelatihan. CD, misalnya berisikan contoh-contoh bentuk keterampilan pengajar mengajar. 

Sebelum diujicoba di lapangan, draft perlu dievaluasi melalui desk evaluation oleh para penimbang ahli. Evaluasi ini bertujuan mendapatkan analisis dan pertimbangan logis dari para penimbang ahli, selanjutnya dilakukan penyempunaan berdasarkan hasil desk evaluation tersebut. 

4. Ujicoba Lapangan Awal dan Penyempurnaan Produk 
Ujicoba dan penyempurnaan produk awal difokuskan pada pengembangan dan penyempurnaan materi produk, belum memperhatikan kelayakan dalam konteks populasi. Tujuan ujicoba lapangan awal adalah untuk mendapatkan evaluasi kualitatif dari produk pendidikan-baru yang dikembangkan. Ujicoba lapangan awal sebaiknya dilakukan di tempat yang kondisinya sama dengan tempat produk diimplementasikan. 

Hal ini berkaitan dengan implementasi produk dalam kondisi sesungguhnya, baik menyangkut keadaan dan jumlah pebelajar, maupun sarana dan fasilitas pembelajarannya sesuai dengan keadaan nyata di sekolah. Pada contoh paket pelatihan keterampilan mengajar di atas, kegiatan pertama yang harus dilakukan adalah mengadakan pertemuan, rapat atau diskusi dengan pengajar-pengajar peserta latihan. Pada pertemuan tersebut, pertama-tama pengembang menjelaskan tujuan umum pelatihan, langkah-langkah yang dilakukan dan beberapa hal pokok yang perlu mendapatkan perhatian. 

Setelah itu, para peserta pelatihan diberi paket pelatihan, dan diberi waktu yang cukup untuk mempelajarinya, selanjutnya diadakan diskusi bersama antara pengembang dan peserta pelatihan. Para peserta dapat mengklarifikasi hal-hal yang belum jelas atau belum dipahami dengan baik. Di samping itu, masukanmasukan dari peserta pelatihan sangat penting dijaring untuk penyempurnaan produk awal. Produk yang telah disempurnakan ini diberikan kembali kepada peserta latihan untuk pelaksanaan ujicoba lapangan awal. Pengajar peserta latihan diminta untuk menerapkan paket pelatihan (keterampilan mengajar) di kelasnya masing-masing. 

Namun, sebelum itu, pengajar perlu membuat persiapan mengajar atau merevisi persiapan mengajar yang telah ada sebelumnya, disesuaikan dengan tuntutan paket pelatihan. Selama pelaksanaan pembelajaran, para pengembang melakukan observasi pengamatan secara intensif, yaitu mencatat hal-hal penting dilakukan pengajar dan pebelajar, misalnya respon pebelajar terhadap pembelajaran dan aktivitas belajar pebelajar. Setelah selesai pembelajaran, apakah dalam satu atau beberapa pertemuan, pengembang mengadakan pertemuan dengan para pengajar untuk mendikusikan pembelajaran yang diakukan oleh para pengajar. Ujicoba ini dilakukan secara berulang-ulang sampai para pengajar selesai berlatih mencobakan semua keterampilan mengajar. Pada ujicoba ini, juga dikumpulkan data melalui wawancara, observasi, dan kuesioner digunakan untuk menyempurnakan produk. 

5. Ujicoba Lapangan Utama dan Penyempurnaan 
Produk Borg and Gall (1983) menyatakan bahwa tujuan dari ujicoba lapangan utama adalah untuk menentukan apakah produk pendidikan sudah mencapai tujuan atau tidak. Tujuan lain dari ujicoba ini adalah untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan untuk memperbaiki pembelajaran. Pada umumnya, pada ujicoba ini digunakan rancangan eksperimen. Pada kasus program pelatihan pengajar di atas, one-group pretest-posttest design digunakan untuk menguji: Apakah keterampilan pengajar meningkat secara signifikan atau tidak?. Pembelajaran yang dilakukan oleh pengajar direkam dengan videotape. Hasil rekaman videotape selanjutnya dianalisis. 

 Menurut Sukmadinata (2006), ujicoba ini dimaksudkan agar produk yang dikembangkan merupakan produk standar, apakah pada tingkat kabupaten/kota, propinsi, nasional. Agar menghasilkan suatu produk yang mempunyai standar pada tingkat kabupaten/ kota, misalnya, sampel ujicoba harus mewakili populasi kabupaten/kota. Demikian juga untuk standar pada tingkat propinsi dan nasional. Ujicoba lapangan utama ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan produk dalam konteks populasi. Untuk itu diperlukan jumlah sampel yang lebih besar yang harus mewakili populasi, baik dalam jumlah maupun karakteristiknya. 

6. Ujicoba Lapangan Operasional dan Penyempurnaan 
Produk Borg dan Gall (1983) masih mengadakan penyempurnaan pada tahap ini. Pada tahap ini tidak dilakukan pengujian hasil dengan kelompok kontrol karena tidak diadakan pengukuran dampak dari penggunaan keterampilan mengajar. Menurut Borg dan Gall (1983), tujuan ujicoba lapangan operasional ini adalah menentukan apakah produk pendidikan siap digunakan di sekolah tanpa kehadiran pengembang. Agar siap digunakan secara operasional, paket produk harus lengkap dan diuji secara keseluruhan dalam setiap hal. 

Pada kasus program pelatihan pengajar, ujicoba lapangan operasinal ini diatur dan dikoordinasikan oleh staf sekolah secara teratur dan seharusnya mendekati operasional sekolah. Balikan (feedback) dari koordinator dan pengajar yang melaksanakan pembelajaran dikumpulkan dengan kuesioner. Wawancara dipusatkan pada bagian-bagian pembelajaran atau materi yang perlu mendapat perhatian sehingga operasional pembelajaran menjadi lebih efektif. Menurut Sukmadinata (2006), pengujian produk akhir ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan produk dan keunggulan dalam praktek. Pada pengujian ini, tidak dilakukan untuk menyempurnakan produk (paket pelatihan) karena produk sudah dipandang sempurna pada ujicoba lapangan utama. 

Pengujian pada tahap ini dimaksudkan untuk mengetahui dampak penggunaan keterampilan mengajar terhadap pengetahuan dan keterampilan pebelajar. Pengujian sebaiknya digunakan kelompok kontrol, dan dapat menggunakan model rancangan “The randomized Pretest-Posttest Control Group Design (Eksperimen murni) atau minimal “The Maching Pretest-Posttest Control Group Design” (Eksperimen quasi). Kelompok eksperimen diberikan perlauan dengan pendekatan keterampilan mengajar baru, sedangkan kelompok kontrol diajar menggunakan pendekatan keterampilan biasa/konvensional dan hasil pre-test dan post-test kedua kelompok dibandingkan.

Perbedaan signifikansi antara pre-test dan post-test menunjukkan kebermaknaan hasil belajar, sedang perbedaan antara hasil post-test kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menunjukkan pengaruh metode keterampilan mengajar baru. 

7. Diseminasi dan Implementasi 
Diseminasi merujuk kepada proses yang membantu pengguna menyadari pentingnya produk-produk R&D, sedangkan implementasi merujuk kepada proses yang membantu pengguna produk R&D untuk mengunakannya dengan cara yang dimaksud oleh pengembang. 

Modifikasi Tahap-Tahap R&D 
Model-model R&D yang dikembangkan oleh para ahli sebenarnya merupakan bentuk modifikasi dari model R&D yang dikembangkan oleh Borg dan Gall (1983), seperti diperlihatkan pada Tabel  Sukmadinata dan kawan-kawan mengusulkan langkah-langkah R&D terdiri dari 3 tahapan, yaitu:

1. Studi pendahuluan. 
Sudi ini meliputi: 
a) studi kepustakaan, 
b) survai lapangan, dan 
c) penyusunan produk awal atau draft model. 

Draft model yang telah dibuat selanjutnya ditelaah dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh para ahli, selanjutnya draft disempurnakan berdasarkan masukan-masukan dari para ahli. 

2. Ujicoba pengembangan model. 
Pada tahap ini dilakukan dua langkah: 
1) ujicoba terbatas dan 
2) ujicoba luas. 

3. Uji produk akhir dan sosialisasi hasil. 
Uji ini dilakukan sama seperti ujicoba luas. Sosialisasi hasil mengacu pada diseminasi dan implementasi. 
Blog, Updated at: 02.48

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts