MEDIA DAN SUMBER PEMBELAJARAN PKN

MEDIA DAN SUMBER PEMBELAJARAN PKN
Modul ini akan membahas media dan sumber pembelajaran PKn untuk peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Mengapa kita harus mengembangkan media dan sumber pembelajaran? Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya Anda membuka kembali apakah hakikat pembelajaran PKn itu. Masih ingatkah anda, apakah tujuan pembelajaran PKn di MI itu? Baiklah, coba Anda perhatikan rumusan tujuan pembelajaran PKn menurut standar isi. Salah satu tujuan PKn adalah berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan. Agar peserta didik memiliki kemampuan seperti ini, banyak upaya yang harus dilakukan oleh guru. Kita menyadari bahwa kemampuan berpikir anak SD/MI masih terbatas. Umumnya mereka baru mampu berpikir secara konkret, jadi belum dapat berpikir abstrak. Kemampuan berpikir anak SD/MI umumnya bersifat holistik, belum mampu berpikir secara parsial. Oleh karena itu, pembelajaran PKn di tingkat Madrasah Ibtidaiyah memerlukan bantuan yang lebih bervariasi. Guru perlu mengupayakan agar pembelajaran betul-betul dapat mempermudah peserta didik belajar. Untuk itulah guru perlu menggunakan media dan sumber pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan berpikir peserta didik. 

Dalam modul ini Anda akan diajak menganalisis dan mengembangkan media dan sumber pembelajaran yang tepat untuk peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah. Sehingga dengan mempelajari materi dalam modul ini 

Anda diharapkan memiliki kemampuan sebagai berikut: 
  1. Dapat mengembangkan dan menerapkan media pembelajaran PKn yang relevan untuk MI.
  2. Dapat memilih, mengembangkan, dan menerapkan sumber pembelajaran PKn yang relavan untuk MI.

Semua kemampuan di atas sangat penting bagi semua mahasiswa calon sarjana dan atau calon guru profesional khususnya dalam mempersiapkan kemampuan untuk kegiatan belajar mengajar di kelas PKn MI. Lebih jauh lagi, mengembangkan dan menerapkan media dan sumber pembelajaran ini penting bagi calon guru dan atau guru-guru pemula yang sering mengalami kesulitan dalam menentukan media dan sumber pembelajaran untuk kompetensi dasar tertentu. Khusus bagi calon guru dan guru pemula PKn di MI diharapkan agar sedapat mungkin memperbanyak latihan dalam mengembangkan media dan sumber pembelajaran ini. Dengan memahami dan menguasai materi ini diharapkan Anda akan terbantu dan tidak mengalami kesulitan lagi dalam membelajarkan peserta didik di kelas. Dengan demikian, kemampuan Anda menerapkan media dan sumber dalam pembelajaran PKn menjadi semakin kaya. Implikasi lebih lanjut, para siswa akan semakin menyenangi belajar PKn karena gurunya memiliki kemampuan dalam menerapkan memilih, menerapkan media dan sumber pembelajaran yang beragam sesuai dengan kebutuhan para siswa. Dengan kata lain, para siswa pun akan sangat terbantu dalam proses belajarnya sehingga Anda akan mendapat sambutan yang positif dari para peserta didik.

Agar semua harapan di atas dapat terwujud, maka di dalam modul ini disajikan pembahasan dan latihan dengan butir uraian sebagai berikut: 
  1. Pengembangan media pembelajaran PKn 
  2. Pengembangan sumber pembelajaran PKn 

Untuk membantu Anda dalam mencapai harapan kemampuan di atas ikutilah petunjuk belajar sebagai berikut: 
  1. Bacalah dengan cermat bagian Pendahuluan modul ini sampai Anda faham betul, apa, untuk apa dan bagaimana mempelajari modul ini. 
  2. Baca sepintas bagian demi bagian dan temukan kata-kata kunci dan kata-kata yang Anda anggap baru. Carilah dan baca pengertian kata-kata kunci dalam daftar katakata sulit (Glosarium) atau dalam kamus atau dalam ensiklopedia. 
  3. Tangkaplah pengertian demi pengertian dari isi modul ini melalui pemahaman sendiri dan atau tukar pikiran dengan mahasiswa atau guru lain dan dengan tutor Anda.
  4. Terapkan prinsip, konsep, dan prosedur yang dituntut oleh kurikulum tentang ketentuan keharusan menerapkan media dan sumber pembelajaran PKn di MI. 
  5. Mantapkan pemahaman Anda melalui diskusi mengenai pengalaman simulasi dalam kelompok kecil atau klasikal pada saat tutorial. 

Media Pembelajaran PKn 
Pada bagian pendahuluan telah dikemukakan bahwa kemampuan guru dalam memilih dan mengembangkan media dan sumber pembelajaran sangatlah penting. Dengam media pembelajaran, guru dapat membantu siswa menyederhanakan materi yang abstrak menjadi konkret, sehingga pemahaman siswa terhadap suatu konsep akan semakin cepat meningkat. Sejalan dengan semakin mudahnya belajar dan adanya kesadaran terhadap pemahaman apa yang sedang dipelajari maka semakin penting mememilih dan mengembangkan media pembelajaran. Penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman merupakan proses yang sejalan dengan tingkat perkembangan. Artinya semakin muda usia siswa maka semakin tinggi tingkat kebutuhan terhadap media pembelajaran. Hal ini ada kaitannya dengan tingkat perkembangan prilaku kognitif dari Piaget dan kawan-kawannya yang telah melakukan penelitian mulai tahun 1920 sampai 1964. Masih ingatkah anda dengan teori-teori tentang perkembangan prilaku kognitif tersebut? Baiklah, sekedar untuk mengingatkan saja bahwa perkembangan prilaku kognitif menurut Piaget terdiri atas empat fase, yakni: fase pertama, sensorimotor period (0,0 - 2,0); fase kedua, preoperational period (2,0 - 7,0); fase ketiga, concrete operational period (7,0 - 11 or 12,0); dan fase keempat, formal operational period (11,0 or 12,0 - 14,0 or 15,0). Pada hakekatnya dapat disimpulkan bahwa semakin tua usia anak semakin tinggi kemampuan berpikir abstrak dan semakin mudah usia anak maka semakin konkret kemampuan berpikirnya sehingga semakin memerlukan media dalam proses pembelajarannya. 

Pengertian Media 
Apa media pembelajaran itu? 
Proses pembelajaran merupakan suatu sistem karena di dalamnya terdapat berbagai komponen yang saling berkaitan, mempengaruhi, dan bahkan saling ketergantungan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Komponen-komponen dimaksud adalah tujuan, materi, metode, media, dan evaluasi.


Pembelajaran merupakan proses komunikasi antara guru sebagai fasilitator dengan siswa sebagai pembelajar. Dalam komunikasi ada proses penyampaian pesan (message) dari komunikator kepada komunikan. Dalam penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan diperlukan saluran (media), agar message tersebut tersalurkan secara efektif dan efisien. 

Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium, yang berarti perantara atau pengantar. Dengan kata lain, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima.

Media yang dirancang dengan baik dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri peserta didik. Media sebagai alat bantu visual dapat:
  1. Mendorong motivasi belajar 
  2. Memperjelas dan mempermudah konsep yang abstrak 
  3. Mempertinggi daya serap atau retensi belajar 
Beberapa pengertian media pembelajaran: 
  • Menurut istilah, media adalah segala bentuk atau saluran yang dipergunakan untuk proses penyaluran informasi. 
  • Schram (1977) menyatakan bahwa media adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran 
  • NEA (1969) menyatakan bahwa media adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun audio visual, termasuk teknologi perangkat kerasnya. 
  • Aect (1977) menyatakan bahwa media adalah segala bentuk dan saluran yang dipergunakan untuk proses penyaluran pesan. 
  • Miarso (1989) menyatakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan yg dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa untuk belajar.

Media pembelajaran yang disusun dengan baik, memiliki manfaat atau nilai praktis yaitu: 
  • Memvisualkan yang abstrak (animasi peredaran darah) 
  • Membawa objek yang sukar didapat (binatang buas/berbahaya) 
  • Membawa objek yang terlalu besar (gunung, pasar) d) Menampilkan objek yang tidak dapat diamati mata (mikro organisme) 
  • Mengamati gerakan yang terlalu cepat (jalannya peluru) 
  • Memungkinkan berinteraksi dengan lingkungannya 
  • Memungkinkan Keseragaman pengalaman 
  • Mengurangi resiko apabila objek berbahaya 
  • Menyajikan informasi yang konsisten dan diulang sesuai dengan kebutuhan 
  • Membangkitkan motivasi belajar 
  • Dapat disajikan dengan menarik dan variatif 
  • Mengontrol arah maupun kecepatan peserta didik 
  • Menyajikan informasi belajar secara serempak dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan 
  • Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu, dll 

Kedudukan Media Dalam Proses Pembelajaran 
Prinsip pembelajaran yang baik adalah jika proses belajar mampu mengembangkan konsep, generalisasi, dan bahan abstrak dapat menjadi hal yang jelas dan nyata. Sumber belajar yang digunakan pengajar dan anak adalah buku‑buku dan sumber informasi, tetapi akan menjadi lebih jelas dan efektif jika pengajar menyertai dengan berbagai media pengajaran yang dapat membantu menjelaskan bahan lebih realistik (Hartono, 1996). Dengan demikian, salah satu tugas guru yang tidak kalah pentingnya adalah mencari dan menentukan media pembelajaran. Dalam pembelajaran PKn, mencari dan menentukan media dan sumber belajar sangat penting sebab bahan ajarnya sangat dinamis. Penyakit yang paling berkecamuk di sekolah ialah verbalisme, yang terdapat dalam tiap situasi belajar (Nasution, 1986:96). 

Menurutnya, penyakit tersebut biasanya tidak terdapat dalam hal-hal yang dipelajari anak-anak sebelum mereka bersekolah karena perbendaharaan bahasanya diperolehnya dengan pengalaman langsung, dengan melihat, mendengar, mencecap, meraba serta menggunakan alat dria lainnya. Hasil pelajaran tersebut dapat dianggap permanen dan tidak mudah dilupakannya, karena kata-kata yang mereka peroleh benar-benar mereka kenal yang diperolehnya melalui pengalaman yang konkrit. 

Pernyataan di atas menggambarkan betapa pentingnya media dalam proses pembelajaran di sekolah. Media pembelajaran merupakan alat bantu yang dapat mempermudah proses penerimaan materi pelajaran yang disampaikan pendidik dan sudah barang tentu akan mempermudah pencapaian keberhasilan tujuan pembelajaran. Hal ini dikarenakan peserta didik akan lebih termotivasi dalam mempelajari materi bahasan. 

Media pembelajaran yang dirancang dengan baik dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa, sehingga dapat mendorong terjadinya proses kegiatan pada diri siswa. Di samping itu media dapat membawakan pesan atau informasi belajar dengan keandalan yang tinggi yaitu dapat diulang tanpa mengalami perubahan isi.

Kriteria Pemilihan Media 
Salah satu kemampuan yang dituntut dari seorang guru adalah ketepatan memilih media pembelajaran. Mengapa demikian? Karena memilih media yang tepat diyakini akan meningkatkan motivasi belajar yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajarnya. Sebaliknya, ketidaktepatan memilih media akan melahirkan kebosanan siswa dalam mengikuti pelajaran. 

Media yang paling baik adalah media yang paling sesuai dengan tujuan pembelajaran/karakter bahan ajar, metode yang akan digunakan, dan keadaan/ kebutuhan siswa, serta kemampuan guru/sekolah. Untuk itu, sebelum Saudara memilih media pembelajaran sebaiknya pahami dahulu bebarapa hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan pemilihan media seperti dikemukakan Jarolimek (Kosasih Djahiri, 1979:76) berikut ini. 
  • Tujuan instruksional yang ingin dicapai 
  • Tingkat usia dan kematangan siswa 
  • Kemampuan baca siswa 
  • Tingkat kesulitan dan jenis konsep pelajaran tersebut 
  • Keadaan/latar belakang pengertahuan atau pengalaman siswa 

Kriteria tersebut hampir sejalan dengan pandangan ahli lain bahwa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran adalah: 
  • Tidak ada satu-satunya media yang paling baik untuk semua siswa dan semua tujuan pembelajaran 
  • Penggunaan harus relevan dan konsisten dengan tujuan pem-belajaran 
  • Media yang digunakan hendaknya cukup dikenal siswa 
  • Media hendaknya sesuai dengan sifat pelajaran 
  • Media harus sesuai dengan kemampuan dan pola belajar audience 
  • Media hendaknya dipilih secara obyektif, bukan didasarkan oleh karena kesukaan subyektif.
  • Lingkungan sekitar perlu diperhatikan dalam menggunakan media, karena penggunaan media tertentu dapat mempengaruhi pihak-pihak lain, misalnya mengganggu penerimaan siaran TV (Dit.SLTP, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, 2002, Modul PKN C.01: 38).
Selanjutnya Winataputra (1989:163) menegaskan bahwa hal yang harus diperhatikan dalam menetapkan media yang akan dipakai dalam PKn adalah bahwa media itu harus dapat memberikan rangsangan kognitif atau cognitive simulation. Dengan terciptanya kondisi psikologis tersebut maka para siswa akan ditantang untuk dapat meningkatkan taraf moralitasnya. Pemberian rangsangan moral kognitif tersebut dapat melalui kliping surat kabar atau media yang bersifat auditif seperti radio dan kaset yang berkaitan dengan masalah aktual. 

Untuk pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, media yang diperlukan dan relevan dengan tujuan dan materi pembelajaran tidak banyak tersedia di toko-toko, sehingga guru dituntut untuk mampu mengembangkannya sendiri. Persoalan kita sekarang, bagaimanakah teknik pembuatan media yang kita inginkan? Dalam hal ini, guru dituntut untuk mahir dan kreatif membuat media sesuai dengan jenis media yang telah dipilih atau ditentukan sebelumnya. Sebelum membuat media terlebih dahulu harus menganalisis materi apa yang akan disampaikan kepada peserta didik; kemudian menetapkan media apa yang akan dikembangkan; setelah itu kemudian menyiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk mengembangkan media itu; baru setelah itu membuat media yang kita kehendaki. Perlu diingat bahwa tidak ada satu-satunya media yang paling baik untuk semua siswa dan semua pokok bahasan atau mata pelajaran. 

Oleh karena itu, sangatlah diperlukan kecermatan guru dalam memilih media pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang memiliki ciri khas mengemban misi sebagai pendidikan politik dan pendidikan nilai-moral. Dilihat dari sumber pengadaannya, media yang lebih banyak digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan media yang dibuat atau direkayasa sendiri oleh guru seperti transparansi, Flif Chart, flannel/magnetic board, kliping, gambar, dan media stimulus seperti cerita kasus dan media VCT daftar. Hal lain yang perlu Saudara perhatikan adalah materi Pendidikan Kewarganegaraan sangat berkaitan dengan peristiwa-peristiwa aktual dinamika politik dan ketatanegaraan yang sedang berubah. 

Peristiwa-peristiwa tersebut seyogianya dikaitkan dengan proses pembelajaran sesuai dengan materi pokok yang sedang dibahas. Dalam kaitan ini, media televisi, film, tape recorder, video recorder, dan manusia sebagai model (tokoh) sangatlah membantu keberhasilan proses pembelajaran. Televisi yang menayangkan siaran langsung sidang MPR atau debat publik tokoh politik sangat relevan dijadikan media dan sekaligus sumber pembelajaran ketika mambahas materi pokok kemerdekaan mengemukakan pendapat (kelas VII) dan budaya demokrasi (kelas VIII). Demikian pula materi pokok perlindungan hukum dan peradilan nasional dapat menggunakan media televisi yang sedang menyiarkan atau mendiskusikan proses peradilan terhadap pejabat yang diduga melakukan penyimpangan. Waktu penayangan tersebut seringkali tidak berbarengan dengan pembahasan materi pokok yang relevan. Oleh karena itu, guru dapat merekam dengan menggunakan tape recorder atau video recorder sehingga hasilnya bisa diputar kembali setiap waktu.

Klasifikasi Media Pembelajaran 
Permasalahan kita sekarang, jenis-jenis media pembelajaran manakah yang bisa digunakan dalam pembelajaran materi Pendidikan Kewarganegaraan? Penggunaan media pembelajaran pada dasarnya untuk membantu mempermudah pemahaman siswa terhadap suatu ide atau teori. Artinya, jenis-jenis media tersebut dapat digunakan dalam pembelajaran materi Pendidikan Kewarganegaraan dengan memperhatikan prinsip relevansi dan konsistensi antara tujuan pembelajaran, materi pelajaran, kondisi siswa dan lingkungannya serta karakteristik media yang akan digunakan. 

Para ahli (Edgar Dale, Burton, dan Romiszowski) mengemukakan berbagai jenis media pembelajaran dengan kriteria yang berbeda-beda. Edgar Dale (1969) mengemukakan jenis media yang terkenal dengan isitilah kerucut pengalaman (the cone of experience) yaitu: 
  1. Pengalaman langsung; 
  2. Pengalaman yang diatur; 
  3. Diramatisasi; 
  4. Demonstrasi; 
  5. Karyawisata; 
  6. Pameran; 
  7. Gambar hidup; 
  8. Rekaman, radio, gambar mati;
  9. Lambang visual; dan 
  10. Lambang verbal. 
Berdasarkan 10 pengalaman tersebut, siswa dapat belajar dengan mengalami secara langsung dengan melakukannya atau berbuat (nomor 1 s.d. 5); mengamati orang lain melakukannya (nomor 6 s.d. 8), dan membaca atau menggunakan lambang (nomor 9 dan 10). Kerucut pengalaman tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. 
Model Kerucut Pengalaman Edgar Dale ( 1969 )

edia berdasarkan pengalaman langsung dan pengalaman tak langsung. Pengalaman langsung yaitu turut melakukan dan mengalaminya. Sedangkan pengalaman tak langsung dilihat berdasarkan pengamatan langsung (seperti melihat peristiwa yang terjadi dan melihat peristiwa dipentaskan), berdasarkan gambar (melihat film dan foto), berdasarkan lukisan (menggunakan peta, diagram, grafik, dsb), berdasarkan bahasa (membaca uraian dan mendengarkan uraian), dan berdasarkan lambang seperti lambang istilah, rumus dan indeks. Sedangkan Romiszowski (Sapriya (1999) mengemukakan bahwa media dapat diartikan dalam pengertian sempit dan pengertian luas. Dalam pengertian sempit, media meliputi sejumlah alat yang dapat digunakan secara efektif untuk proses pengajaran yang telah direncanakan. Sedangkan dalam pengerttian luas, diartikan bukan hanya media komunikasi elektronik yang rumit melainkan juga mencakup sejumlah perangkat yang Model Kerucut Pengalaman Edgar Dale ( 1969 ) Hampir sejalan dengan Egdar Dale, Burton (dalam Nasution, 1989) membagi media berdasarkan pengalaman langsung dan pengalaman tak langsung. Pengalaman langsung yaitu turut melakukan dan mengalaminya. 

Sedangkan pengalaman tak langsung dilihat berdasarkan pengamatan langsung (seperti melihat peristiwa yang terjadi dan melihat peristiwa dipentaskan), berdasarkan gambar (melihat film dan foto), berdasarkan lukisan (menggunakan peta, diagram, grafik, dsb), berdasarkan bahasa (membaca uraian dan mendengarkan uraian), dan berdasarkan lambang seperti lambang istilah, rumus dan indeks. Sedangkan Romiszowski (Sapriya (1999) mengemukakan bahwa media dapat diartikan dalam pengertian sempit dan pengertian luas. Dalam pengertian sempit, media meliputi sejumlah alat yang dapat digunakan secara efektif untuk proses pengajaran yang telah direncanakan. Sedangkan dalam pengerttian luas, diartikan bukan hanya media komunikasi elektronik yang rumit melainkan juga mencakup sejumlah perangkat yang lebih sederhana seperti slide, photo, diagram, dan chart buatan guru, benda-benda dan kunjungan ke tempat di luar sekolah. Bahkan guru pun dapat menjadi salah satu media presentasi seperi halnya radio dan televisi yang menyampaikan informasi.

Para ahli pendidikan dan pengajaran berpendapat bahwa media sangat diperlukan pada anak‑anak tingkat dasar sampai menengah dan akan banyak berkurang jika mereka sudah sampai pada tingkat pendidikan tinggi. Pada tingkat sekolah dasar dan menengah, pengajar akan banyak membantu anak didik dengan mengembangkan semua indera yang ada, yakni dengan mendengar, melihat, meraba, memanipulasi, atau mendemonstrasikan dengan media yang dapat dipilih. 

Media pembelajaran adalah sarana yang membantu para pengajar. Ia bukan tujuan sehingga kaidah proses pembelajaran di kelas tetap berlaku. Pengajar juga perlu sadar bahwa tidak semua anak senang dengan peragaan media. Anak-anak yang peka dan auditif mungkin tidak banyak memerlukannya tetapi anak yang bersifat visual akan banyak meminta bantuan media untuk memperjelas pemahaman bahan yang disajikan. Demikian pula waktu penyajian media sangat menentukan berhasil tidaknya penjelasan dengan bantuan media .
Blog, Updated at: 22.59

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts