Menumbuhkan Nilai Sastera bagi Pendidikan Anak

Menumbuhkan Nilai Sastera bagi Pendidikan Anak
Karya sastera merupakan potret sebuah budaya/kebudayaan suatu masyarakat pada zamannya. Adanya pernyataan tersebut dikarenakan karya sastera merupakan hasil karya kreasi sasterawan yang hidup pada pembabakan waktu terkait dengan tata kehidupan masyarakatnya. Sastera hadir di tengah masyarakat yang penuh dengan aturan, norma, kaidah, dan juga doktrin agama. Oleh karena itu, karya sastera dipandang mempunyai kemampuan untuk menjadi sarana dalam mengubah tata-sosial masyarakat. Rohinah M. Noor mengutip pernyataan Umar bin Khattab yang berwasiat terhadap rakyatnya, “Ajarilah anak-anakmu sastera, karena sastera membuat anak yang pengecut menjadi jujur dan pemberani” (Noor, 2011:5). 

Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa sastera memiliki peranan penting dalam pengembangan karakter anak. Bacaan sastera yang imajinatif merupakan langkah awal dalam mengajarkan dan memberikan tuntunan moralitas. Apabila karya sastera dianggap memiliki manfaat bagi permasalahan yang sekarang dihadapi, yaitu krisis multi-dimensional, maka pembelajaran sastera harus dipandang sebagai sesuatu yang penting dalam kurikulum yang ada di sekolah, yang patut diberikan sebagaimana mestinya. Jika pengajaran sastera diberikan dengan cara yang tepat, maka pengajaran sastera tersebut dapat memberikan sumbangan yang besar untuk memecahkan masalah yang sedang melanda, yaitu krisis multi-dimensional. 

Akar permasalah dari krisis multidimensional ini berawal dari munculnya permasalahan ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan-keamanan. Dari kesekian banyak permasalahan, sumber utama akar permasalahan ada pada faktor manusia sebagai penggerak dari permasalahanpermasalahan tersebut. Dengan adanya arus modernisasi memberikan warna terhadap kehidupan masyarakat; dan yang menjadikan prihatin, justru perubahan itu mengarah pada krisis moral dan akhlak. Sekarang ini, di layar kaca dipertontonkan mental-mental keculasan, kemunafi kan, dan ketidakjujuran dari para publik fi gur di kalangan pemerintahan di Tanah Air. Melihat permasalahan di atas, yang menjadi titik sorot adalah sistem pendidikan di Tanah Air. Sebab dengan pendidikan, peradaban sebuah masyarakat bisa terbentuk. Dengan pendidikan diharapkan mampu menumbuhkan jiwa-jiwa kebaikan pada setiap manusia. 

Dan salah satunya adalah dengan pembelajaran sastera yang diberikan oleh pendidik terhadap peserta didik. Seiring dengan perkembangan zaman, sastera terus berkembang mengikuti derap peradaban. Bentuk sastera dengan berbagai wajah terus bermunculan, baik yang berbentuk prosa maupun puisi. Dengan sifatnya yang khas dan unik, sastera terus mewartakan nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan, hingga mampu menumbuhkan kepekaan nurani pembacanya. Semakin sering membaca karya sastera, batin pembaca akan semakin terisi oleh pengalamanpengalaman baru dan unik yang belum tentu didapatkan dalam kehidupan nyata. Itu artinya, sastera telah memberikan asupan gizi batin yang nikmat dan bermakna bagi pembaca. Para guru dan orang tua seyogianyalah menyadari benar-benar betapa besar manfaat sastera bagi anak-anak. 

Bahasa menunjukkan bangsa, dan sastera mencerminkan budaya. Sastera sungguh menarik, menawan hati, memberi motivasi, dan selalu berkembang. Adanya sastera tentu adapula karyanya. Karya sastera, yang merupakan hasil imajinasi manusia lewat medium bahasa, akan dituangkan ke dalam bentuk tulisan dan pada akhirnya akan lahir buku-buku karya sastera. Buku-buku (sastera) tersebut dapat memegang peranan penting dalam kehidupan anak-anak, tetapi peranan buku-buku tersebut bergantung pada orang tua dan para guru yang membimbingnya. Para orang tua dan guru bertanggung jawab bagi penyebarluasan warisan sastera. Oleh karena itu, upaya mengakrabi sastera perlu dilakukan sejak dini. Kelak diharapkan generasi muda menjadi sosok yang memiliki karakter dan kepribadian yang kuat. 

Generasi yang mampu mengatasi berbagai persoalan hidup dan kehidupan dengan cara yang arif, matang, dan dewasa. Karya sastera bisa menjadi mata zaman yang mampu menembus dimensi ruang dan waktu. Karya sastera mampu menengadahkan berbagai peristiwa masa silam, menyuguhkan peristiwa pada konteks kekinian, sekaligus bisa meneropong berbagai kemungkinan peristiwa yang akan terjadi pada masa mendatang. Hal ini berarti, semakin banyak membaca dan mengapresiasi sastera, maka semakin banyak pula asupan gizi batin yang masuk ke dalam jiwa pembaca, sehingga terangsang untuk menjadi manusia berbudaya yang responsif terhadap berbagai persoalan hidup dan kehidupan. 

HAKIKAT SASTERA 
Sastera adalah pembayangan atau pelukisan kehidupan dan pikiran imajinatif ke dalam bentuk-bentuk dan struktur-struktur bahasa (Tarigan, 2005:3). Sastera menerangi serta memperjelas kondisi insani dengan cara membayangkan atau melukiskan wawasanwawasan kita. Sementara Azzah Zain (2007:34) mengumandangkan makna sastera sebagai sebuah karangan dengan bahasa yang indah dan isi yang baik. 

Bercermin dari pendapat tersebut, ternyata sastera idealnya harus mampu memberikan wajah-wajah manusiawi yang tercermin dari imajinasi yang dituangkan lewat medium bahasa yang indah. Seiring dengan pendapat di atas, Bachrudin Musthafa (2008:24) berpendapat bahwa sastera merupakan tulisan yang mampu memberikan kepuasan tersendiri bagi para pembaca yang menikmati intensitas imajinasi para pengarang melalui untaian kata-kata terpilih yang disajikannya. Pada umumnya, sastera berupa teks rekaan, baik puisi maupun prosa, yang nilainya tergantung pada kedalaman pikiran dan ekspresi jiwa (Zaidan, 2009:181). Ekspresi jiwa seseorang dapat bermanfaat manakala dapat menghibur dan mampu memberikan kontribusi yang positif dan berguna bagi pembacanya. 

Sebuah karya sastera memotret manusia dan kehidupannya untuk kemudian dipahami oleh pembaca sebagai upaya untuk memahami manusia dan kehidupannya. Hal ini sesuai dengan pandangan Horatius bahwa sastera harus bertujuan dan berfungsi utile et dulce atau “bermanfaat dan indah” (dalam Pradotokusumo, 2005:6). Bermanfaat karena pembaca dapat menarik pelajaran yang berharga dalam membaca karya sastera, yang mungkin bisa menjadi pegangan hidupnya, karena mengungkapkan nilai-nilai luhur. Mungkin juga karya sastera mengisahkan halhal yang tidak terpuji, namun pembaca masih bisa menarik pelajaran, sebab dalam membaca dan menyimak karya sastera, pembaca dapat ingat dan sadar untuk tidak berbuat demikian. 

Selain itu, sastera harus bisa memberi rasa nikmat melalui keindahan isi dan keindahan bahasanya. Berkat keindahannya, karya sastera dianggap menampilkan kualitas estetis yang paling beragam, sekaligus paling tinggi. Aspek estetis karya sastera dihasilkan oleh keragaman genre yang bersifat dinamis. Ketakterbatasan cerita yang dihasilkan tergantung pada kemampuan pengarang dan pembaca untuk menciptakan dan menafsirkannya. Sementara bahasa sebagai medium karya sastera memiliki kemampuan untuk berkembang, yang tergantung pada kemampuan imajinasi pengalaman pembaca. Secara umum, manfaat mengapresiasi sastera, pembaca dapat menambah pengetahuannya tentang kehidupan suatu masyarakat dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. 

Menurut Olsen, cipta sastera sedikitnya mengandung tiga elemen, yakni:
  1. Aesthetic properties, baik yang berhubungan dengan unsur-unsur intrinsik maupun media pemaparan suatu cipta sastera; 
  2. Aesthetic dimension, yang berhubungan dengan dimensi keindahan yang dikandung oleh suatu cipta sastera; serta 
  3. Aesthetic object, yang berhubungan dengan kemampuan cipta sastera untuk dijadikan objek kegiatan manusia sesuai dengan keanekaragaman tujuan yang ingin dicapainya. 

Dari pendapat Olsen dapat disimpulkan bahwa cipta sastera pada dasarnya mampu memberikan manfaat yang lebih bernilai daripada sekedar pengisi waktu luang atau pemberi hiburan (dalam Aminuddin, 2011:60). Pada kasus lain, tulisan sastera dianggap sebagai wahana untuk mengabadikan sejarah. Dengan menulis sastera, pembaca dapat mengetahui kejadian-kejadian masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Dengan imajinasi yang tinggi, sastera dapat menyuguhkan peristiwa-peristiwa realitas. Salah satu penerus rekaman sejarah lewat sastera adalah generasi muda. Alasan generasi muda, dalam hal ini anak-anak sebagai pewaris budaya, karena anak-anak dipercaya sebagai pemegang dunia pada masa berikutnya. 

IHWAL SASTERA ANAK DAN MEMILIH SASTERA ANAK 
Imajinasi anak erat kaitannya dengan sastera anak. Sastera anak merupakan sastera yang dapat menghibur dan memberikan pengaruh terhadap perkembangan jiwa anak. Burhan Nurgiyantoro (2005a:3) berpendapat bahwa yang dimaksud sastera anak adalah sastera yang memberikan kesenangan dan pemahaman tentang kehidupan dan dapat menstimulasi imajinasi anak. Dengan sastera anak diharapkan anak (sebagai pembaca) dapat memperoleh kesenangan.

Seiring dengan pendapat Burhan Nurgiyantoro (2005a), Rohinah M. Noor (2011:37) juga mengemukakan bahwa sastera anak adalah sastera yang memiliki citraan dan atau metafora kehidupan yang disampaikan kepada anak yang melibatkan, baik aspek emosi, perasaan, pikiran, saraf sensori, maupun pengalaman moral; dan diekspresikan dalam bentuk-bentuk kebahasaan yang dapat dijangkau dan dipahami oleh pembaca anakanak. Sastera anak (buku anak) adalah bacaan yang mampu menempatkan sudut pandang anak sebagai pusat penceritaan. 

Sastera anak dipandang dapat membentuk karakter dengan efektif, karena nilai-nilai dan moral yang terkandung dalam karya sastera disampaikan secara ringan dan tidak menggurui. Bacaan karya sastera anak diresepsi oleh pembaca, sehingga pembaca dapat merekonstruksi nilai yang baik untuk kehidupan. Sealiran dengan pendapat Stewig, dalam Burhan Nurgiyantoro (2005a:4), yang berpendapat bahwa peran sastera anak, disamping memberikan kesenangan juga memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap kehidupan. Rebecca J. Lukens (2003:9) berpendapat bahwa sastera merupakan sebuah kebenaran yang signifi kan, yang diekspresikan ke dalam unsur-unsur yang layak dan bahasa yang mengesankan. Bahasa yang mengesankan bagi anak adalah bahasa yang mampu menghipnotis jiwa anak. 

Dalam bahasa sastera, tersirat penanaman nilai moral yang nantinya dapat diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kecerdasan emosional anak dapat berkembang. Sastera anak adalah sastera yang berbicara tentang apa saja yang menyangkut masalah kehidupan ini, sehingga mampu memberikan informasi dan pemahaman yang lebih baik tentang kehidupan itu sendiri kepada anak (Tarigan, 2005:5). Garis batas yang nyata antara sastera anak-anak dan sastera orang dewasa sangat kabur dan samar-samar. Keduanya tidak ada pembatas, buku anak-anak adalah buku bacaan bagi anak-anak, namun pada kenyataannya sering dijumpai buku anak-anak sangat menarik perhatian orang dewasa. Sastera anak, dalam hal ini, merupakan karya sastera yang menempatkan mata anak sebagai pengamat utama dan fokus penceritaan. Hasil karya antara sastera anak dan sastera dewasa, yaitu sastera anak menyuguhkan masa-kini, sementara sastera dewasa menyuguhkan masa-lalu. Ada diantara orang dewasa dan anak-anak, yaitu remaja. Konten karya sastera remaja cenderung menatap masa-depan. Baik sastera anak, sastera dewasa, maupun sastera remaja, semuanya mempunyai manfaat yang sama, yaitu dulce et utile atau “indah dan bermanfaat” (Pradotokusumo, 2005:6). 

Lebih dari itu, sastera diharapkan dapat dijadikan ajang pembentuk nilai dan moral sehingga pembaca (anak-anak) mampu mengelola emosi EQ (Emotional Quotient atau kecerdasan emosional), IQ (Intelligence Quotient atau kecerdasan intelektual), dan SQ (Spiritual Quotient atau kecerdasan spiritual). Kecerdasan-kecerdasan seperti ini sangat diperlukan dalam perkembangan kehidupan anak-anak (Faidi, 2013). Sementara itu, cerita rakyat berkembang di berbagai wilayah di Nusantara. Dalam ilmu sastera anak-anak, cerita rakyat diklasifi kasikan ke dalam genre sastera tradisional. Dalam cerita rakyat, pada dasarnya cerita rakyat diperuntukkan bagi siapa saja. Untuk memilih bahan sastera anak, Murti Bunanta (2008:312) menyarankan lebih baik tidak dikumpulkan dari cerita yang mengandung hal-hal yang berkaitan dengan hubungan suami-isteri, seks, dan sejenisnya. Takhayul, yang oleh awam disebutkan sebagai cerita rakyat, juga bukan materi cerita anak. 

Cerita yang mengandung incest juga tidak akan leluasa digunakan sebagai cerita anak, baik buku, fi lm animasi, pembacaan cerita, maupun dramatisasi. Bahan sastera anak seyogianya disesuaikan dengan perkembangan umur anak. Bahan cerita yang mengandung balas dendam untuk pembalasan itu sendiri, lanjut Murti Bunanta, tidak tepat. Sementara kisah raja beristri banyak dapat dikumpulkan menjadi cerita anak, asal ceritanya tidak tentang masalah suamiistri, tetapi misalnya mengajarkan cinta yang tulus antara kakak beradik dari istri berlainan, seperti dalam cerita “Legenda Pohon Beringin” (Bunanta, 2008:313). Mengenai perkembangan kognitif, Piaget membagi perkembangan kecerdasan anak ke dalam empat tahap (dalam Winataputra et al., 2008:3.40-3.41). 

Tahapan perkembangan intelektual yang dimaksud adalah sebagai berikut:
 (1) tahap sensori-motor atau the sensory-motor period, antara 0–2 tahun;
 (2) tahap pra-operasional atau the pre-operational period, antara 2–7 tahun; 
(3) tahap operasional konkret atau the concrete operational, antara 7–11 tahun; dan 
(4) tahap operasi formal atau the formal operational, antara 11 atau 12 tahun ke atas. 

Berkaitan dengan kesasteraan, Burhan Nurgiyantoro (2005b:201-202) mengungkapkan bahwa dalam 1.6 tahun hingga 2 tahun, anak akan menyukai aktivitas atau permainan bunyi yang mengandung perulangan-perulangan yang ritmis. Anak menyukai bunyi-bunyian yang bersajak dan berirama. Bunyi-bunyian ritmis akan memicu tumbuhnya rasa keindahan pada diri anak. Hal itu dapat dijumpai dan atau perlu dilakukan oleh ibu yang menggendong, menyanyikan, atau meninabobokan si buah hati sehingga terdengar indah di inderanya. Pada tahap kedua, anak mulai dapat “mengoperasikan” sesuatu yang sudah mencerminkan aktivitas mental dan tidak lagi semata-mata bersifat fi sik. 

Sementara pada tahap ketiga, anak mulai dapat memahami logika secara stabil. Pada tahap keempat, tahap awal adolesen, anak sudah mampu berpikir abstrak. Aktivitas yang menunjang pertumbuhan dan perkembangan bahasa anak, seperti nyanyian, permainan perulangan bunyi, tembangtembang ninabobo, dan lain-lain, dapat dikategorikan sebagai tahap awal pengenalan sastera kepada anak, pengenalan dan pemicu bakat dan apresiasi keindahan kepada anak. Sastera dapat memberikan nilai bagi pembentukan kepribadian anak. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan asupan gizi batin berupa cerita-cerita sastera yang mengandung nilai didaktis. Ketika sang ibu membacakan cerita kepada anak, anak cenderung memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi terhadap cerita sastera yang ber-genre fantasi. Mereka akan bertanya manakala ada hal-hal yang asing bagi dunianya. 

Salah satu cerita sastera yang dapat dinantinanti dan disukai anak adalah dongeng. Mendongeng merupakan sesuatu yang diminati anak, dengan kisah-kisahnya yang unik dan lucu sehingga anak mulai tertawa. Dari ceritanya yang menyedihkan, anak akan dihipnotis oleh cerita, sehingga anak menjadi sedih. Dengan mendengarkan dongeng, anak akan memiliki keinginan yang tinggi terhadap minat membaca. Mereka akan merasa ketagihan manakala ibunya tidak membacakan cerita ketika menjelang tidur. Dongeng merupakan salah satu cerita rakyat (folktale) yang cukup beragam cakupannya (Nurgiyantoro, 2005a:198). Pengistilahan dongeng merupakan cerita yang tidak benar-benar terjadi dan sering tidak masuk akal. Rohinah M. Noor (2011:49) mengatakan bahwa membacakan cerita atau dongeng pada anak-anak adalah salah satu cara berkomunikasi dengan si kecil. 

Komunikasi yang dilakukan oleh si pencerita akan membawa dampak positif karena melalui cerita, pesan-pesan moral yang ada dalam cerita ataupun yang akan pencerita sisipkan akan didengar oleh anak. Dalam dongeng terdapat unsur pembangun cerita. Ada dua unsur pembangun cerita dongeng, yaitu unsur pembangun intrinsik dan unsur pembangun ekstrinsik. Unsur pembangun intrinsik, atau nilai intrinsik sastera, merupakan unsur yang membangun tubuh karya sastera itu sendiri. Sementara unsur pembangun ekstrinsik, yaitu unsur yang membangun karya sastera di luar tubuh karya tersebut. Masa kanak-kanak merupakan masa sangat penting, karena anak berada pada usia emas (golden age). 

Anak berada pada fase menyerap informasi sebanyak-banyaknya dan rasa ingin tahu yang begitu tinggi. Manusia disebut homo fobula atau makhluk pengisah, dan anakanak adalah pendengar baik dan setia. Kisah berupa dongeng binatang (fabel), legenda, atau kisah orang-orang saleh dapat diberikan kepada anak. Fabel sederhana yang biasa diceritakan kepada anak-anak, seperti “Kurakura dan Kera Bertanam Pisang”, “Kerbau dan Buaya”, “Kancil dan Buaya”, dan “Si Kancil Anak Nakal” merupakan dongeng dunia binatang yang menarik minat bagi anak-anak, karena berisi pesan bahwa perbuatan culas itu akan merugikan diri sendiri; sementara perilaku terpuji akan berbuah kemenangan dan kebahagiaan. 

Begitu pula cerita “Bawang Putih dan Bawang Merah” dan “Timun Mas” bukan sekedar membawa imajinasi anak-anak, tetapi tersimpan amanat dan pesan moral, seperti gambaran kasih-sayang, kesabaran, tolong-menolong, perjuangan, keteguhan, dan sebagainya. Nilai ekstrinsik, atau nilai pendidikan, dapat diberikan oleh sastera bagi anak-anak. Henry Guntur Tarigan (2005:6) mengemukakan bahwa terdapat enam macam nilai ekstrinsik sastera bagi anak-anak, yaitu: 

Pertama, memberikan kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan. Nilai seperti ini akan tercapai apabila sastera dapat memperluas cakrawala anak-anak dengan cara menyajikan pengalaman-pengalaman baru dan wawasan-wawasan baru. 

Kedua, memupuk dan mengembangkan imajinasi. Sastera dapat membantu anak-anak mempertimbangkan dan memikirkan alam, insan, pengalaman, atau gagasan dengan/ dalam berbagai cara. Karya sastera yang baik dapat mengungkapkan serta membangkitkan keanehan dan keingintahuan. Sastera dapat menolong sang anak mengenal berbagai gagasan yang belum/tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Sastera kerapkali memberi jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan “bagaimana/apa jadinya kalau …?” sang anak. 

Ketiga, memberi pengalaman-pengalaman baru. Sastera dapat memberikan pengalamanpengalaman aneh yang seolah-olah dialami sendiri oleh sang anak. Perspektif-perspektif atau pandangan-pandangan baru akan diturunkan sebaik sang anak memperoleh serta memiliki pengalaman aneh seperti itu melalui sastera. Tulisan yang baik dapat membawa atau mentranspormasikan sang pembacanya ke tempat lain, ke masa lain, serta memperluas dan mengembangkan cakrawala kehidupannya.

Keempat, mengembangkan wawasan menjadi perilaku insani. Sastera merefl eksikan kehidupan, mempunyai daya yang ampuh dan unggul untuk membayangkan serta memberinya bentuk yang indah, dan memberi koherensi yang serasi kepada pengalaman insani. Kelima, memperkenalkan kesemestaan pengalaman. Sastera terus-menerus mengemukakan masalah universal mengenai makna kehidupan dan hubungan manusia dengan alam dan manusia atau makhluk lainnya.

Keenam, memberi harta warisan sastera dari generasi terdahulu. Sastera merupakan sumber utama bagi penerusan atau penyebaran warisan sastera dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sastera memerankan peranan penting dalam pemahaman dan penilaian warisan budaya manusia. Untuk mengetahui pertumbuhan konsep struktur cerita pada anak, Applebee (via Huck et al.) melakukan penelitian terhadap anak usia 2 sampai 5 tahun (dalam Nurgiyantoro, 2005b:213). 

Penelitian itu dilakukan untuk mengetahui perkembangan pemahaman anak terhadap pola struktur cerita. Pola-pola itu menunjukkan adanya peningkatan kemampuan anak untuk mengaitkan berbagai peristiwa secara bersama. Struktur yang berhasil diidentifi kasi oleh Applebee tersebut, dalam urutan yang semakin meningkat, adalah sebagai berikut: 
  1. Kumpulan atau heap, yaitu kumpulan item yang tak terhubungkan; 
  2. Urutan atau sequence, yaitu penghubungan secara arbitrer terhadap peristiwa yang mirip;
  3. Cerita sederhana atau primitive narrative, yaitu penghubungan peristiwa berdasarkan sebab, efek, atau sifat komplementer lain; 
  4. Penghubungan tak terfokus atau unfocus chain, yaitu penghubungan lewat atribut umum yang berupa pemindahan peristiwaperistiwa; 
  5. Penghubungan memfokus atau focused chain, yaitu penghubungan berbagai peristiwa yang berkaitan ke dalam hubungan yang bermakna; serta 
  6. Narasi atau narrative, yaitu penghubungan telah terfokus, menghubungkan tiap peristiwa, dan item ke dalam tema atau pola karakter tertentu (dalam Nurgiyantoro, 2005b:214). 

Anak usia dua tahun, pada umumnya, berada dalam tingkat heap (kumpulan), dan belum mampu mengorganisasikan berbagai peristiwa atau objek ke dalam struktur yang semestinya. Dalam perkembangan selanjutnya, anak usia lima tahun sudah mampu mengorganisasikan berbagai peristiwa dan objek ke dalam tema, hubungan yang bermakna, untuk menghasilkan cerita yang sebenarnya.

Karya sastera memiliki muatan pendidikan, sebaliknya dunia pendidikan juga memerlukan sastera sebagai wahana pendidikan. Jadi, pendidikan dan sastera merupakan dua aspek yang saling menunjang. Murti Bunanta (2008:313) mengungkapkan bahwa untuk cerita remaja dapat dicari cerita yang mengajarkan moral atau nilai pergaulan remaja. Misalnya, cerita rakyat “Lembusuarna” dari Kalimantan Timur. Intinya mengajarkan kepada remaja untuk tidak berpacaran berduaan di Sungai Mahakam, karena bila larangan ini dilanggar, Lembusuarna (makhluk berbadan buaya dan berkepala lembu) akan murka dan menenggelamkan mereka. Nilai-nilai di atas dapat memberi nilai etika dan pendidikan bagi remaja. Pengajaran sastera di institusi pendidikan tidaklah dapat dipandang remeh. 

Melalui pengajaran sastera, sesungguhnya telah dibawa ke tingkat manusia terdidik, yaitu manusia yang mampu berpikir tentang hidup, pandai memahami rahasia hidup, menghayati kehidupan dengan arif, dan mempertajam pengalaman-pengalaman baru. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan oleh para pembimbing, yaitu kegiatan berekspresi. Kegiatan berekspresi termasuk salah satu kegiatan mengakrabi sastera dan mengungkap nilai-nilai yang terdapat dalam karya sastera. Hal ini bisa dilakukan dengan mengekspresikan atau mengungkapkan teks sastera ke dalam bentuk pembacaan dan permainan peran. Misalnya, membacakan puisi, mendongeng, bercerita, atau bermain drama, termasuk kegiatan berekspresi. Kegiatan semacam ini melatih anak untuk menumbuhkan kepekaan dalam menangkap nilai keindahan yang terkandung dalam karya sastera secara lisan. 

Puisi akan terasa lebih indah jika dibacakan dengan penghayatan dan eskpresi yang tepat. Demikian juga halnya dengan mendongeng, bercerita, atau bermain drama. Nilai-nilai dan pengalaman hidup yang terkandung dalam karya sastera jadi terkesan lebih indah dan menyentuh kepekaan estetik anak dan pada akhirnya akan menjadi pendidikan bagi anak. Sastera disuguhkan terhadap anak-anak dan mereka bergaul, berapresiasi sehingga pada akhirnya menemukan nilai-nilai estetis dalam karya sastera yang dibaca ataupun yang didengarnya. Melalui pergaulannya dengan sastera, anak akan dipromosikan paling sedikit empat aspek perkembangan pada diri anakanak, atau menurut Henry Guntur Tarigan (2005:11) disebut juga dengan nilai ekstrinsik sastera bagi pendidikan anak, yang terangkum dalam empat perkembangan. Pertama, Perkembangan Bahasa. 

Pergaulan anak-anak dengan sastera, baik lisan maupun tulisan, jelas mempunyai dampak positif terhadap perkembangan bahasa mereka. Dengan menyimak atau membaca karya sastera, maka secara sadar atau tidak sadar pemerolehan bahasa mereka kian meningkat. Bertambahnya kosakata, maka meningkat pula keterampilan berbahasa anak-anak. Dengan demikian, jelas bahwa sastera berfungsi untuk menunjang perkembangan bahasa anak-anak. Kedua, Perkembangan Kognitif. Pengalaman-pengalaman sastera merupakan salah satu sarana untuk merangsang serta menunjang perkembangan kognitif anak-anak. Bahasa berhubungan erat dengan penalaran dan pikiran anak-anak. Kian terampil anak-anak berbahasa, kian sistematis pula cara mereka berpikir. Ketiga, Perkembangan Kepribadian. 

Kepribadian seorang anak akan jelas terlihat pada saat dia mencoba memperoleh kemampuan untuk mengeskpresikan emosinya, mengekspresikan empatinya terhadap orang lain, dan mengembangkan perasaannya mengenai harga diri dan jati dirinya. Keempat, Perkembangan Sosial. Manusia adalah makhluk sosial, hidup bermasyarakat. Untuk menjadi anggota masyarakat, maka kita pun mengalami proses sosialisasi. Begitu pula anak-anak yang sedang tumbuh, yang berada pada masa perkembangan. 

Sementara itu, B. Rahmanto (1996:16-25) mengemukakan manfaat pengajaran sastera dalam dunia pendidikan adalah sebagai berikut: 
  1. Membantu keterampilan berbahasa; 
  2. Meningkatkan pengetahuan budaya; 
  3. Mengembangkan cipta dan rasa, yang meliputi indera, penalaran, perasaan, kesadaran sosial, dan religius; serta 
  4. Menunjang pembentukan watak.
HAMBATAN DAN UPAYA MENGAKRABKAN SASTERA 
Orang tua masih merasa mahal membeli bukubuku cerita anak, atau menonton pagelaran drama. Sebagian orang tua merasa senang jika anaknya membeli makanan atau mainan. Sementara ketika ada anak yang sedang membaca novel Laskar Pelangi, Harry Potter, dan fi ksi lainnya, orang tua belum apresiatif. Cerita mengenai petualangan, sihir, atau dunia persilatan dianggap tidak ada kaitannya dengan pelajaran hidup. Kegiatan membaca cerita fi ksi dianggap menghabiskan waktu belajar. 

Hal ini berbeda dengan kondisi di negara yang pendidikannya maju. Mereka menganggap bahwa anak-anak perlu didorong untuk membaca fi ksi, bukan hanya buku non-fi ksi. Mereka paham bahwa buku-buku fi ksi sangat penting dalam membangun peradaban. Cerita fi ksi di AS (Amerika Serikat) didominasi oleh tema-tema superhero, yang mampu membentuk AS menjadi bangsa unggul di dunia. Fiksi Jepang mengangkat semangat kemandirian, dan menjadikan Jepang menjadi negara mandiri. Buku-buku fi ksi bisa menanamkan kecintaan anak pada bacaan, menumbuhkan imajinasi, memperluas wawasan, membantu anak belajar mencintai keindahan, mempertajam intuisi, serta memperhalus perasaan. Kendala lain, kurikulum pendidikan yang saat ini digunakan kurang memberikan ruang gerak pada pembelajaran sastera. Pembelajaran sastera di Indonesia disajikan secara integratif dengan pembelajaran bahasa Indonesia. 

Akibatnya, muncul permasalahan sebagai berikut: 
  1. Adanya ketidakseimbangan bobot materi dan cara penyajian bahasa dengan sastera;
  2. Pembelajaran bahasa lebih dominan, dan pembelajaran sastera bersifat pelengkap saja;
  3. Sastera disajikan dengan gaya yang sama, saat guru mengajarkan bahasa; serta
  4. Pembelajaran sastera disajikan dengan cara kognitif, akibat keterbatasan waktu. 
Ada pandangan pada pengajaran sastera, yang terkadang dianggap kurang bermanfaat. Sikap yang kurang apresiatif muncul dari siswa dan guru sendiri, sehingga pengajaran sastera menjadi pelajaran marginal. Kemendiknas RI [Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia] menyatakan bahwa penyajian pengajaran sastera hanya sekedar memenuhi tuntutan kurikulum, kering, kurang hidup, dan cenderung kurang mendapat tempat di hati siswa (Kemendiknas RI. 2011:59). Pengajaran sastera di berbagai jenjang pendidikan selama ini dianggap kurang penting dan dianaktirikan oleh para guru, apalagi para guru yang pengetahuan dan apresiasi (dan budayanya) rendah. Pada dasarnya, pengajaran sastera mempunyai relevansi dengan kondisi aktual di dunia nyata, maka dapat dipandang pengajaran sastera menduduki tempat yang selayaknya. Jika pengajaran sastera dilakukan secara tepat, maka pengajaran sastera dapat memberikan sumbangan yang besar untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang cukup sulit untuk dipecahkan di dalam masyarakat (Rahmanto, 1996:15). 

Sastera hanya sebatas diajarkan dengan cara tradisional, yakni guru aktif menerangkan tentang sastera tanpa pernah siswa bersastera secara langsung. Guru sastera di sekolah masih terdapat kurang menjiwai dan memiliki kecintaan terhadap sastera. Padahal, semangat dan kecintaan kepada sastera dan kepada tugasnya akan berpengaruh kepada siswa. Mengajarkan sastera kepada siswa bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi mengajarkan sikap terhadap nilai-nilai. Sikap guru sangat besar peranannya dalam mencapai tujuan pengajaran di sekolah. Pada mayoritas sekolah, berkaitan dengan pengembangan kemampuan otak, cenderung dominan lebih bertumpu pengembangan otak kiri. Kerja otak kiri berkaitan dengan logika, rasio, kemampuan menulis dan membaca, serta merupakan pusat matematika. Bagian otak ini merupakan pengendali IQ (Intelligence Quotient). 

Daya ingat otak bagian ini juga bersifat jangka pendek. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas keseharian di sekolah, di tempat les, dan di bimbingan belajar yang hanya asupan otak kiri semata. Ternyata, kecerdasan intelektual saja tidak cukup bagi seseorang dalam menjalani hidup ini. Kecerdasan emosional juga amat dipentingkan dalam hidup ini. Salah satu piranti yang dapat digunakan untuk mengasah kecerdasan emosional seseorang adalah pembelajaran sastera. Khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik, dan warna adalah fungsi kerja otak kanan. 

Daya ingat otak kanan bersifat panjang (long term memory). Achmad Faidi (2013:126) menjelaskan cara mengaktifk an otak kiri dan otak kanan sekaligus, yakni ketika guru mengajarkan materi pelajaran yang dominan menggunakan otak kiri, maka ia bisa menyelingi pelajaran dengan pola permainan, dan cara-cara tertentu yang bisa membuat siswa menggunakan otak kanan mereka. Pada akhirnya, aktivitas kedua otak itu saling menyatu dan juga saling membangun. Menurut Engle, dalam Henry Guntur Tarigan (2005:56), kesiapan imaji berawal pada kelahiran dan mencakup semua aksi dan interaksi antara anak-anak dan para anggota masyarakat/lingkungan mereka. Sastera memberikan suatu pengaruh dalam kehidupan sang anak. Hal ini dapat membantu anak-anak memahami perasaan-perasaan mereka. 

Menurut Glazer pula, ada empat cara sastera memberikan pengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan emosional/ pribadi anak, yaitu: 
  1. Sastera memperlihatkan kepada anak-anak bahwa banyak dari perasaan-perasaan mereka juga bersifat umum bagi anak-anak lainnya; 
  2. Sastera menjelajahi serta meneliti perasaan dari berbagai sudut pandang, memberikan suatu gambar yang lebih utuh dan bulat, serta memberi dasar bagi penamaan emosi tersebut; 
  3. Gerak-tindak dari berbagai tokoh memperlihatkan berbagai pilihan mengenai cara-cara menggarap emosi-emosi tertentu; serta 
  4. Sastera turut memperjelas bahwa seorang insan menggali berbagai emosi diri (dalam Tarigan, 2005). 
Tugas guru sastera tidak hanya memberi pengetahuan (aspek kognitif), tetapi juga keterampilan (aspek psikomotorik) dan menanamkan rasa cinta (aspek afektif), baik melalui kegiatan di dalam kelas maupun di luar kelas. Selama ini, pengajaran sastera di sebagian besar sekolah hanya terjadi dalam ruang yang dibatasi oleh dinding kelas. Hasilnya, imajinasi dan kreasi siswa kurang berkembang optimal, misalnya ketika siswa mendapat tugas menulis puisi berkenaan dengan alam. Dalam proses pembelajaran, seorang guru dituntut untuk aktif, kreatif, inovatif, dan menciptakan strategi yang jitu. Guru juga dituntut mengembangkan kompetensinya sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang berkualitas, baik dari segi isi (materi) maupun dari kemasannya. Dalam konteks pembelajaran sastera, tentu saja, guru dituntut untuk mampu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan, serta tidak ketinggalan zaman. Penciptaan suasana belajar-mengajar yang menarik dan menyenangkan agar siswa bisa menikmatinya. Untuk mengajarkan puisi, siswa bisa diajak mempelajari contoh-contoh puisi sederhana yang ada. 

Guru bisa memberi contoh untuk membaca puisi dengan intonasi, nada, dan irama yang tepat, sehingga siswa mendapat kesan keindahan sebuah puisi. Untuk mengakrabkan siswa menulis puisi, siswa bisa diajak ke luar kelas, ke taman, atau kebun sekolah. Fenomena alam terlihat, terasa, dan terdengar dapat dijadikan bahan menulis teks puisi. Fenomena alam tampak indah, seperti pemandangan buah-buahan bergelayutan, gerak daun jatuh, desah gesekan antara dedaunan tertiup angin, keindahan bunga bermekaran, aneka kicauan burung, atau kepak sayap kupu-kupu, dapat menjadi inspirasi untuk menuangkannya dalam bait-bait puisi. Begitu pula luasnya cakrawala, hijaunya padang rumput, berkelok-keloknya aliran sungai, dan fenomena alam lain yang dirasakan dapat menjadi sumber teks puisi. Adapun prosa merupakan karangan bebas yang diekspresikan pengarang. Menurut Supriyadi (2006:27), prosa adalah karangan sastera bebas yang mengekspresikan pengalaman batin pengarang mengenai masalah hidup dan kehidupan dengan bahasa yang indah (estetik). 

Untuk mengakrabkan anak dengan prosa, dapat digunakan dengan metode menyimak atau mendengarkan. Cerita berbentuk lisan biasanya sudah sering dituturkan orang tuanya sewaktu anak masih usia balita (dibawah lima tahun). Dalam bentuk tulisan, guru dapat memberikan contoh model prosa anak dari buku pelajaran, majalah, surat kabar, dan sebagainya. Anak dapat pula diajak untuk mengakrabi cerita anak dengan berkunjung ke toko buku, pameran buku, atau perpustakaan. Untuk melatih menulis cerita, kegiatan belajar di luar ruangan kelas juga dapat dipilih untuk mengajarkan menulis cerita pendek atau pengalaman, misalnya ke kantin, taman, kebun, atau pinggir jalan. Siswa dapat diminta mengamati dan memilih satu potret kehidupan yang dilihatnya. Misalnya, kehidupan anak mengasong atau mengamen di bus. Kemudian di tengah jalan melihat anak lain jauh lebih malang nasibnya.

Ia kedinginan sambil memegang perutnya karena kelaparan. Biarkan imajinasi anak mengembara, sehingga ia secara bebas bisa berekspresi menuangkan gagasannya pada tulisan. Upaya lain untuk mengakrabkan dengan prosa adalah mengikuti lomba menulis cerpen (cerita pendek), sayembara membaca dongeng, atau mengikuti undangan peluncuran buku novel oleh pengarangnya. Pada diri anak tumbuh hasrat dan minat terhadap karya sastera. Orang tua dapat membawa anak menonton drama, baik tradisional maupun kontemporer. Menonton drama adalah sesuatu hal yang menggembirakan anak-anak. Sekolah dapat juga mengadakan pagelaran drama, seperti dalam acara kenaikan kelas. Pagelaran dapat menjadi ajang bagi anak-anak untuk mengaktualisasikan minat dan bakatnya, juga anak memiliki kesempatan untuk menonton. Menurut Yus Rusyana (1982:20), suatu pementasan akan menjadi topik pembicaraan berhari-hari lamanya di antara mereka, dan itu merupakan kenikmatan tersendiri bagi anak-anak. Ketika anak-anak telibat dalam pementasan, mereka mendapat pengalaman terlibat membawakan tokoh dengan watak tertentu. 

Ketika satu kelompok ambil bagian dalam melakukan pertunjukan, siswa-siswa lain perlu melakukan apresiasi. Selesai bermain peran, guru dan siswa perlu melakukan diskusi seputar kesan dalam bermain peran. Diskusi dapat berupa permasalahan mengenai kelebihan dan kelemahan dalam berperan. Selain itu pula melakukan evaluasi mengenai jalannya kegiatan drama dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi. Baik dari tontonan maupun terlibat dalam pementasan tersebut, anak akan mendapat kenikmatan luar biasa dan sangat berguna bagi kepentingan pengajaran sastera (Rusyana, 1982). Dengan banyak membaca, mendengarkan, turut menonton, atau mementaskan karya sastera dalam berbagai genre (bentuk), pengalaman batin dan rohaniah anak akan terasupi oleh berbagai macam nilai yang mampu menyuburkan nuraninya. 

Ini artinya, secara tidak langsung, karya sastera akan mampu membangun basis karakter dan kepribadian yang kuat pada anak. Dampak lainnya membekali, sehingga anak tidak gampang terpengaruh untuk melakukan tindakan-tindakan negatif yang bisa merusak citra kemanusiaan dan keluhuran budi. Hal ini bisa dilakukan dengan cara melakukan aktivitas apresiasi terhadap karya sastera dengan bimbingan para guru atau orang tua. Apresiasi sastera adalah bagaimana memahami dan menghargai karya sastera melalui proses pendalaman, penafsiran, perenungan, dan pemaknaan nilai-nilai estetika yang terkandung di dalamnya. 
Blog, Updated at: 11.34

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts