METODE ANALISIS AKAR MASALAH DAN SOLUSI

METODE ANALISIS AKAR MASALAH DAN SOLUSI
Perbincangan tentang suatu masalah yang berlangsung dalam rapat, sidang, diskusi, maupun talk show sering kali berkembang menjadi semakin rumit. Ketika itulah, walaupun amat sangat jarang, dirasakan pentingnya mengetahui apa yang menjadi akar atau duduk perkara dari masalah. Sayangnya ketika ada seseorang yang menyatakan sesuatu sebagai akar masalah, peserta lain pun mengemukakan sesuatu yang lain sebagai akar masalah. Masing-masing mengklaim pernyataannya sebagai akar masalah, tetapi tidak disertai penjelasan yang gamblang, eksplisit, sistematik, dan mudah diperagakan; dengan kata lain tidak metodis. 

Akibatnya, perbincangan lisan maupun tertulis menjadi bertele-tele dan tidak berakhir dengan solusi (yang mendasar); menghamburkan pikiran, waktu/ ruang, dan biaya; serta tetap membingungkan hadirin maupun banyak orang yang awam. Secara keseluruhan perbincangan tersebut tidak mencerdaskan, tidak meningkatkan kualitas berpikir, dan tidak membantu masyarakat mengatasi masalah. Oleh karena itu diperlukan adanya suatu metode sekurang-kurangnya sesuatu yang lebih metodis dan dapat diperagakan– untuk membantu proses berpikir dan proses perbincangan agar produktif.

Tulisan ini menyajikan suatu metode berpikir dengan menggunakan tata alir (flow chart) yang terutama dimaksudkan untuk mendapatkan “sebab terdalam atau akar suatu masalah”, dan kemudian, berdasarkan itu, dapat membuat alternatif solusi dasar. Metode ini dilengkapi dengan beberapa konsep dan syarat yang perlu digunakan dalam menerapkannya”. Konsep yang terpenting adalah pendekatan terhadap masalah (realitas); sumber-sumber kebenaran (hati nurani, ilmu, filsafat, agama, ditambah seni sebagai fasilitator); dan teori-teori kebenaran (theory of truth), yang secara keseluruhan mengarahkan kecerdasan akal dan kejujuran dalam proses berpikir.

Munculnya kebutuhan menyusun MAAMS ini didorong oleh dua inspirasi, faktual dan konseptual. Yang faktual, yakni banyak orang yang menyatakan sesuatu sebagai akar masalah (sosial-politik dan kebijakan publik, terutama) tetapi mereka tidak memberikan metode atau caranya. Barangkali hal ini memang disebabkan oleh belum lazimnya penggunaan metode untuk itu. Sepanjang pengalaman kuliah, belum ada dosen yang menggunakan metode penelusuran atau analisis akar masalah untuk masalah-masalah sosial-politik dan kebijakan publik. Pencarian kepustakaan sejenis di perpustakaan maya dengan menggunakan piranti Google pada awal Juli 2007 menemukan istilah root cause analysis (RCA), why-because analysis (WBA), fishbone diagram dan why-why analysis di sebuah buku (Cooke, 1991:254, Chang, 2003: 29, Gaspers, 2007:59- 72), yang kebanyakan diterapkan dalam bidang kedokteran, keteknikan, dan manajemen.

Penggunaan metode analisis akar masalah dengan model visual dalam masalah-masalah sosial politik dan kebijakan publik, dalam kepustakaan berbahasa Indonesia, tampaknya bahkan belum ada. Penulis baru menemukan satu contoh yang mirip dengan penggunaan metode ini tetapi tanpa disertai model visual dan urutan tata caranya, yakni pada tulisan Kwik Kian Gie berjudul “KKN Akar Semua Permasalahan Bangsa” (Kompas, 2004). Kelangkaan ini merupakan sesuatu yang layak dikaji tersendiri, khususnya untuk tujuan pengembangan ilmu sosial (dan humaniora) yang di Indonesia sedang dalam keadaan krisis berkepanjangan (Heryanto, 1999) tanpa perhatian yang memadai, di tingkat fakultas, universitas, maupun konsorsium nasional.

Inspirasi faktual lainnya bersifat praktis, meski tidak sepenuhnya, yakni untuk memfasilitasi mahasiswa di kelas Ilmu Sosial Dasar (ISD) dan kemudian menyusul kelas Etika dan Filsafat Komunikasi, dengan menyajikan pengajaran yang lebih meyakinkan. ISD yang sejak awal penulis artikan sebagai Ilmu tentang Masalah Sosial dan Solusi yang Dasar, memaksa penulis sendiri untuk dapat memberikan pemahaman yang jelas tentang apa yang “dasar” dari ISD maupun masalah sosialkemanusiaan, agar jelas pula solusi dasarnya. “Dasar” dalam ISD tidak tepat bila diartikan sebagai awal atau pengantar seperti yang diasumsikan oleh para pengajar ISD lainnya maupun panduan kurikulum/silabusnya sebab tidak ada mata kuliah lanjutannya dan memang tidak cukup perlu bagi mahasiswa non-sosial. Jadi, “dasar” harus diartikan kurang lebih sebagai mendasar, yang paling dasar/dalam, yang inti, atau akar. 

Inspirasi yang konseptual berasal dari analisis Aristoteles tentang kekhususan filsafat yakni “mencari sebab-sebab yang terdalam dari seluruh realitas” (Bagus, 1991). Pernyataan ini tidak cukup mudah untuk dicerna  juga bagi penulis sendiri apalagi untuk diterapkan dalam pengajaran bagi orang lain. Penulis, mulanya, hanya sekedar bertanya “apa sebab-sebab terdalam dari keseluruhan masalah sosial?” tanpa mampu menjawab secara memuaskan atau meyakinkan diri sendiri. Karena itu cara mencari tersebut perlu dijabarkan ke tingkat yang lebih kongkret.

Inspirasi konseptual lainnya adalah pengetahuan bahwa kegiatan berpikir pada umumnya, atau hampir selalu, mengandaikan adanya suatu metode tertentu. Apalagi bila kegiatan berpikir itu lebih mendalam sifatnya karena menyangkut akar. Hal ini bisa dibandingkan dengan kegiatan berpikir filsafati  yang lebih mendalam dibanding berpikir biasa yang ditandai dengan metode tertentu yang digunakan oleh masingmasing filsufnya (Rapar, 1996; Bakker, 1986). Dengan menggunakan metode dalam kegiatan berpikir, jalan menuju pemahaman obyek yang dipermasalahkan menjadi teratur dan sistematis. Dengan metode tersedia ‘jalan yang melaluinya’ meta hodos, methodos  orang lain dapat tiba pada akhir yang (kurang lebih) sama, sekurang-kurangnya dapat diperbandingkan atau diuji dengan ukuran yang sama.

Beberapa Konsep Pendukung 
Sebelum analisis dilakukan perlu diperhatikan lebih dulu tiga komponen konseptual yang melengkapi MAAMS. 

Pertama, mengenai instansi atau sumber kebenaran, yang tidak hanya satu seperti hakikatnya penampakan realitas yang beragam. Ia mencakup hati nurani, ilmu, filsafat, dan agama (ditambah seni sebagai fasilitatornya); semuanya digunakan secara menyeluruh dan saling melengkapi. Sedangkan teori kebenaran antara lain: teori korespondensi, teori konsistensi/ koherensi, teori pragmatis (Muhadjir, 2001), dan teori konsensus dari Habermas (Budi Hardiman, 1990).

Kedua, mengenai pendekatan terhadap masalah (dan solusi) yang dibedakan menjadi dua. Ada masalah sosial dan kemanusiaan yang khas individual ungkapan populernya: “tergantung pada individu masing-masing ada pula masalah yang khas sistemik. Masalah sosial dan kemanusiaan sebagian besar membutuhkan keduaduanya. Pendekatan individual/personal/mentalistik beranggapan bahwa letak sebab dari masalah adalah di dalam diri manusia pelaku (aktor/agen), kualitas perorangan seperti niat, iman, disiplin-diri, nilai-budaya, kadar moralitas, kognisi, dan sebagainya yang proses  internalisasinya tak dapat dikenai sanksi hukum (lebih bersifat imbauan). Pendekatan sistemik/struktural/ institusional/legalistik beranggapan bahwa letak sebab dari masalah adalah di luar diri manusia berupa kesempatan, kualitas sistem, kualitas hukum, undangundang, peraturan yang mempunyai sifat memaksa. Kedua pendekatan ini karena dipandang sebagai dualitas (Herry-Priyono, 2002: 22-36)  juga digunakan sekaligus dengan proporsi tertentu sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

Ketiga, berkaitan dengan kecerdasan (IQ) dan kejujuran (EQ dan SQ) dalam berpikir, khususnya dalam mengidentifikasi sebab-sebab. Di samping kecerdasan yang memadai, yang lebih diutamakan adalah kejujuran yang merupakan keutamaan moral dasar (MagnisSuseno, 1989). Kejujuran sangat dituntut, khususnya ketika menemukan sebab negatif yang ternyata berkait dengan diri sendiri. Pada titik ini sering orang menghindar untuk tidak mengidentifikasinya, dan sebagai gantinya menyebut sebab lain yang juga masuk akal, bahkan tampak sangat masuk akal, tapi tidak berkait dengan dirinya. Jika ini yang terjadi akar masalah/penyebab tidak ditemukan, atau kalaupun dianggap sebagai akar masalah, jadinya semu bahkan menyesatkan secara sengaja (manipulasi). Dari kesembilan unsur kejujuran, yang terpenting adalah pengakuan yang tulus bahwa diriku atau pendapatku lebih keliru dibanding orang lain (Harsono P., 2002). Jika ketulusan tidak muncul perlu pengkondisian agar pengakuan akhirnya muncul, seperti yang dilakukan di pengadilan (dengan sumpah dan lie detector) 
Blog, Updated at: 01.16

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts