METODE KETELADANAN DAN SIGNIFIKANSINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM

METODE KETELADANAN DAN SIGNIFIKANSINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan secara sederhana berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Karena itu, pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.

Keberhasilan dari suatu pelaksanaan pendidikan itu akan sangat ditentukan oleh beberapa faktor. Salah satu faktor tersebut adalah metode pendidikan. Apabila kita perhatikan dalam proses perkembangan Pendidikan Agama Islam di Indonesia, bahwa salah satu gejala negatif sebagai penghalang yang paling menonjol dalam pelaksanaan pendidikan agama ialah masalah metode mengajar agama. Meskipun metode tidak akan berarti apa-apa bila dipandang terpisah dari komponenkomponen pendidikan yang lain. 

Dalam kaitannya dengan metode sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan Islam, dimana tujuan umum pendidikan Islam adalah membimbing anak agar menjadi orang muslim sejati, beriman teguh, beramal shaleh, dan berakhlak mulia, serta berguna bagi masyarakat, agama, dan Negara. Usaha dalam mencapai tujuan tersebut, pendidikan merupakan suatu usaha sedangkan metode merupakan cara untuk mempermudah dalam mencapai tujuan. Dalam hal ini, keteladanan berperan penting sebagai sebuah metode dalam mencapai tujuan dari pendidikan Islam.

Kebiasaan-kebiasaan orang yang lebih tua di lingkungan tertentu menjadi sasaran tiruan bagi anak-anak sekitarnya. 

Meniru adalah suatu faktor yang penting dalam periode pertama dalam pembentukan kebiasaan seorang anak. Umpamanya melihat sesuatu yang terjadi di hadapan matanya, maka ia akan meniru dan kemudian mengulang-ulangi perbuatan tersebut hingga menjadi kebiasaan baginya. Oleh karena itu, kehati-hatian para pendidik juga orangtua dalam bersikap dan berkata harus diperhatikan mengingat bahwa anak-anak lebih mudah meniru apa yang mereka saksikan. Kondisi ini, sejalan dengan Pendidikan Islam yang menekankan pentingnya pendidikan budi pekerti untuk mendidik akhlak manusia sesuai dengan ajaran Agama Islam. Saat ini, anak-anak mengalami krisis keteladanan. 

Hal ini terjadi karena sedikitnya media massa yang mengangkat tema tentang tokoh-tokoh teladan bagi anak-anak. Tayangantayangan televisi misalnya, didominasi acara hiburan dalam berbagai variasinya, acara sinetron atau acara gosip selebriti tidak dapat diharapkan memberikan contoh kehidupan islami secara utuh. Dalam kondisi krisis keteladanan ini, keluarga menjadi basis penting bagi anak untuk menemukan keteladanan, maka ayah dan ibu menjadi figur-figur pertama bagi anak untuk memenuhi kebutuhan ini. Oleh karenanya, orangtua harus memiliki kesadaran tinggi, untuk menjadi figur teladan dalam proses pembentukan akhlak islami anak. Sesungguhnya fase kanak-kanak merupakan fase yang paling cocok, paling panjang, dan paling penting bagi seorang pendidik menanamkan prinsip-prinsip yang baik, lurus dan pengarahan yang benar ke dalam jiwa dan perilaku anakanaknya. 

Kesempatan untuk itu terbuka lebar, ditopang oleh sarana dan prasarana yang modern yang cukup tersedia di setiap lembaga pendidikan pada satu sisi. Di sisi lain, mengingat pada fase ini anak-anak masih memiliki fitrah yang suci, jiwa yang bersih, bakat yang jernih, dan hati belum terkontaminasi debu dosa dan kemaksiatan. Pada dasarnya, manusia cenderung memerlukan sosok teladan dan panutan yang mampu mengarahkan pada jalan yang benar dan sekaligus menjadi perumpamaan dinamis yang menjelaskan cara mengamalkan syariat Allah. Oleh karena itu, Allah mengutus rasul-rasul-Nya untuk menjelaskan berbagai syariat melalui keteladanan.

Rasulullah Saw adalah sosok pendidik yang agung. Beliau sangat memperhatikan manusia dan segala kebutuhan, karakteristik dan kemampuan akalnya, terutama jika beliau bicara dengan anak-anak. Jenis bakat dan kepada siapa pun merupakan pertimbangan beliau dalam mendidik manusia. Kepada wanita, beliau memahami fitrahnya sebagai wanita; terhadap laki-laki beliau memahami fitrahnya sebagai laki-laki; kepada orang dewasa memahami fitrah dan identitasnya sebagai manusia dewasa; dan kepada anak-anak, beliau memahami karakternya sebagai anak-anak. 

Beliau adalah manusia yang paling memenuhi janjinya, manusia yang paling wara’ dan hati-hati dalam memelihara harta titipan Allah dan dalam mengkonsumsi makanan, sehingga beliau tidak pernah memakan harta zakat. Dalam kondisi bagaimanapun, beliau senantiasa tampil teguh dan tidak kehilangan semangat, sebab beliau menyakini bahwa Allahsenantiasa menjadi sumber kekuatan sehingga beliau tetap memperoleh kesabaran.

oleh kesabaran. Aisyah (isteri Rasulullah) sendiri telah menyebutkan bahwa akhlak Rasulullah Saw, adalah al-Quran. Bagaimana tidak, kepribadian, karakter, perilaku dan interaksi beliau dengan manusia merupakan pengejewantahan hakikat al-Quran, etika, dan hukum-hukumnya secara praktis, manusiawi dan dinamis. Lebih dari itu akhlak beliau merupakan perwujudan landasan dan metode pendidikan yang terdapat dalam al-Quran. Tujuan Pendidikan Islam adalah menyiapkan sang anak untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bermanfaat bagi dirinya dan bagi pergaulan masyarakat di sekelilingnya. 

Tujuan itu akan tercapai bila sang anak memperoleh bekal ilmu pengetahuan yang cukup disertai dengan akhlak yang luhur dan budi pekerti yang baik, sehingga tumbuh dengan tubuh yang sehat, pikiran yang cerdas dan jiwa yang dinamis. Akan tetapi, hal ini tidak akan terwujud bilamana metode pendidikan yang salah dan figur keteladanan juga tidak nampak. Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan serta tujuan pendidikan hanya ada dalam teori, tetapi tidak dalam kenyataan, sebab faktor utama yang akan menyampaikan ke sana tidak terealisasi dalam perilaku sehari-hari, sehingga anak-anak bingung mencari dan menentukan figur yang dapat dijadikan teladan dalam kesehariannya.

METODE KETELADANAN DALAM ISLAM
Metode dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah يقة الطر yang bentuk jamaknya adalah الطرق yang berarti cara, jalan atau langkah-langkah strategis yang harus dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Metode secara etimologi, berasal dari dua kata, yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui” dan hodos berarti “jalan” atau “cara”. Menurut Ahmad Husain al-Liqany, sebagaimana dikutip oleh Ramayulis, Metode adalah “langkah-langkah yang diambil pendidik guna membantu para peserta didik merealisasikan tujuan tertentu”. Bila dihubungkan dengan pendidikan, maka langkah tersebut harus diwujudkan dalam proses pendidikan dalam rangka pembentukan kepribadian. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa metode merupakan cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.

Dalam bahasa Arab, keteladanan berasal dari kata “uswah” dan “qudwah”. Pengertian yang diberikan oleh AlAshfahani sebagaimana dikutip Armai Arief, bahwa menurut beliau “al-uswah” dan “al-Iswah” sebagaimana kata “alqudwah” dan “al-Qidwah” berarti “suatu keadaan ketika seorang manusia mengikuti manusia lain, apakah dalam kebaikan, kejelekan, kejahatan, atau kemurtadan”. Senada dengan Al-Ashfahani, Ibn Zakaria mendifinisikan, bahwa “uswah” berarti “qudwah” yang artinya ikutan, mengikuti yang diikuti.

Jadi metode keteladanan (الصالة بالقدوة الطريقة) adalah suatu metode Pendidikan Islam dengan cara pendidik memberikan contoh-contoh teladan yang baik kepada peserta didik, agar ditiru dan dilaksanakan, sebab keteladanan yang baik akan menumbuhkan hasrat bagi orang lain untuk meniru atau mengikutinya. Metode ini disebut juga: الحسنة بالاسوة الطريقة , yaitu keteladanan yang baik. 

Dengan adanya contoh ucapan, perbuatan dan tingkah laku yang baik dalam hal apapun, maka hal itu merupakan amaliah yang paling berkesan, baik bagi peserta didik maupun dalam kehidupan pergaulan manusia. Heri Jauhari Muhtar menyebutkan bahwa metode keteladanan adalah suatu metode pendidikan dengan cara memberikan contoh yang baik kepada para peserta didik, baik dalam ucapan maupun dalam perbuatan.

Metode keteladanan ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Muslim, sebagaimana dikutip oleh Imam Al-Nawawi dalam bukunya Shahih Muslim Syarahat alKamilu lin-Nawawi, yaitu: 
 ا ِ ب ْدَ أْ بِنـَفْسِ ك 
Artinya: Mulailah dari diri sendiri. (H.R. Muslim)

Keteladanan ada 2 macam, yaitu sengaja dan tidak sengaja. Keteladanan terkadang diupayakan dengan cara disengaja, yaitu pendidik sengaja memberi contoh yang baik kepada para peserta didiknya supaya mereka dapat menirunya. Umpamanya, pendidik memberikan contoh bagaimana cara membaca yang baik, mengajarkan shalat yang benar agar peserta didik menirunya. Dalam proses belajar mengajar, keteladanan yang disengaja dapat berupa pemberian secara langsung kepada peserta didiknya melalui kisah-kisah nabi yang di dalam kisah tersebut terdapat beberapa model prilaku yang patut dicontoh oleh peserta didik. 

Keteladanan yang tidak sengaja ialah keteladanan dalam keilmuan, kepemimpinan, sifat keikhlasan, dan sebangsanya. Keteladanan ini terjadi, ketika pendidik secara alami memberikan contoh-contoh yang baik dan tidak ada unsur sandiwara di dalamnya. Dalam hal ini, pendidik tampil sebagai figur yang dapat memberikan contoh-contoh yang baik di dalam mampu di luar kelas. Bentuk pendidikan semacam ini, keberhasilannya banyak bergantung pada kualitas kesungguhan dan karakter pendidik yang diteladani, seperti kualitas keilmuan, kepemimpinan, keikhlasan, dan sebagainya. 

Dalam kondisi pendidikan seperti ini, pengaruh keteladanan berjalan secara langsung tanpa disengaja. Oleh karena itu, setiap orang yang diharapkan menjadi pendidik, hendaknya memelihara tingkah lakunya, disertai kesadaran bahwa ia bertanggungjawab di hadapan Allah dan segala hal yang diikuti oleh peserta didik sebagai pengagumnya. Semakin tinggi kualitas pendidik akan semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pendidikannya.

Pentingnya Keteladanan dalam Pendidikan Islam 
Proses belajar memang dapat tercapai secara maksimal dengan metode meniru (imitation), seperti seseorang yang meniru orang lain dalam melakukan sesuatu atau meniru mengucapkan sebuah kata. Dengan metode ini, seorang peserta didik dapat belajar bahasa, belajar sopan santun, adat istiadat, moral dan sifat manusia pada para pendidik.

Kecenderung meneladani pendidik merupakan hal yang banyak diakui oleh para ahli pendidikan, baik dari Barat maupun dari Timur, karena secara psikologis anak memang senang meniru, tidak saja yang baik, tetapi juga yang jelekpun ditiru. Sifat anak didik itu diakui dalam Islam. Umat meneladani Nabi Saw, Nabi meneladani al-Quran. Aisyah pernah berkata bahwa akhlak Rasulullah itu adalah al-Quran. 

Landasan yuridis sebagai dasar pelaksanaan keteladanan sebagaimana yang tercantum pada Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS pada pasal (4) ayat (4) yang berbunyi: “Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran” 

Pada dasarnya, manusia cenderung memerlukan sosok teladan dan panutan yang mampu mengarahkannya pada jalan kebenaran dan sekaligus menjadi perumpamaan dinamis yang menjelaskan cara mengamalkan syariat Allah.

Upaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan belajar siswa, diantaranya dapat dilakukan melalui upaya perbaikan proses pembelajaran. Dalam memperbaiki proses pembelajaran ini, peranan pendidik sangat penting, yaitu menetapkan metode pembelajaran yang tepat. Oleh karena itu, sasaran proses pembelajaran adalah siswa belajar, maka dalam menetapkan metode pembelajaran, fokus perhatian pendidik adalah upaya membelajarkan siswa. Sesungguhnya mengajar hendaknya dilakukan dengan metode pembelajaran efektif, agar diperoleh hasil yang lebih baik.

Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan pendidik dalam mengembangkan varian model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif di dalam proses pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat, pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar secara efektif dan menyenangkan, sehingga siswa dapat meraih hasil belajar dan prestasi yang optimal.

Metode pembelajaran yang ditetapkan pendidik banyak memungkinkan siswa belajar proses (learning by process), bukan hanya belajar produk (learning by product). Belajar produk pada umumnya hanya menekankan pada segi kognitif. Sedangkan belajar proses dapat memungkinkan tercapainya tujuan belajar, baik segi kognitif, afektif (sikap) maupun psikomotor (keterampilan). Oleh karena itu, metode pembelajaran lebih banyak menekankan pembelajaran melalui proses. Proses pembelajaran menuntut pendidik dalam merancang berbagai metode pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang dinamis pada diri peserta didik. Rancangan ini merupakan acuan dan panduan, baik bagi pendidik itu sendiri maupun bagi siswa.

Adapun keteladanan, dalam hal akhlak utama yang berhubungan dengan Rasulullah Saw, baik yang berkenaan dengan kemuliaan, kezuhudan, tawadhu, sabar, kuat, berani, jujur maupun yang berhubungan dengan cara berpolitiknya senanatiasa berpegang teguh pada prinsip ajaran Islam. Melalui metode ini, para orangtua dan pendidik memberikan contoh atau teladan terhadap peserta didiknya bagaimana cara berbicara, berbuat, bersikap, mengerjakan sesuatu atau cara beribadah, dan sebagainya. 

Pada metode ini, peserta didik dapat melihat, menyaksikan dan menyakini cara yang sebenarnya, sehingga mereka dapat melaksanakan dengan lebih baik dan lebih mudah. Seorang anak harus memperoleh teladan dari keluarga dan orangtuanya, agar ia semenjak kecil sudah menerima norma-norma Islam dan berjalan berdasarkan konsepsi yang tinggi itu. Masyarakat harus memperoleh suri teladan dari pemimpin dan pejabat, agar norma-norma di jalankan dan mereka yang diperintah dapat mengikutinya.

Bila suatu masyarakat Islam terbentuk, maka masyarakat itu akan mendidik anak-anaknya dengan normanorma Islam melalui suri teladan yang diterapkan, baik dalam masyarakat maupun dalam keluarga. Figur keteladanan dalam pendidikan Islam, dipandang sangat penting karena merupakan kecenderungan anak untuk senantiasa mencari sosok yang dapat diteladani seperti orangtua, pendidik dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

KONSEPSI PENDIDIKAN ISLAM 
Hakikat Pendidikan Islam 
Pendidikan Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju kedewasaan, baik secara akal, mental maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban sebagai seorang hamba di hadapan Khaliq-Nya dan juga sebagai Khalifatu fil ardh (pemelihara) pada alam semesta ini. 

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu, sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Pendidikan, secara sederhana berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi perannya di masa yang akan datang. Pendidikan dalam pengertian yang luas adalah meliputi perbuatan atau semua usaha generasi tua untuk mengalihkan (melimpahkan) pengetahuan, pengalaman, kecakapan dan keterampilan kepada generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka, agar dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik jasmaniah maupun rohaniah.

Pendidikan Islam menurut M. Athiyah al-Abrasyi adalah pendidikan yang ideal di mana ilmu yang diajarkan mengandung kelezatan-kelezatan rohani untuk dapat sampai kepada hakekat ilmiah dan akhlak terpuji. Mencapai suatu akhlak yang sempurna, bukan berarti bahwa kita tidak mementingkan pendidikan jasmani, tetapi kita memperhatikan segi-segi akhlak dan segi-segi lainnya. Anak-anak membutuhkan kekuatan jasmani, akal, ilmu dan anak-anak juga membutuhkan pendidikan budi pekerti, perasaan, kemauan, cita rasa dan kepribadian.


Menurut konsepsi ilmu Pendidikan Islam, manusia dengan aspek-aspek kepribadiannya yang berkembang sejak dini dapat dipengaruhi oleh para pendidik di lembaga formal nonformal, dan informal dengan corak dan bentuk idealitas yang diinginkan mereka dalam batas-batas fitrahnya. Konsepsi pendidikan model Islam, tidak hanya melihat bahwa pendidikan itu sebagai upaya "mencerdaskan" semata (pendidikan intelek, kecerdasan), melainkan sejalan dengan konsep Islam tentang manusia dan hakekat eksistensinya. Pendidikan Islam sebagai suatu pranata sosial, juga sangat terkait dengan pandangan Islam tentang hakekat keberadaan (eksistensi) manusia. Oleh karena itu, pendidikan Islam juga berupaya untuk menumbuhkan pemahaman dan kesadaran, bahwa manusia itu sama di depan Allah, perbedaanya adalah kadar ketaqwaan sebagai bentuk perbedaan secara kualitatif. 

Pendidikan Islam berupaya untuk menumbuhkan pemahaman dan kesadaran pada manusia, maka sangat urgen sekali untuk memperhatikan konsep atau pandangan Islam tentang manusia sebagai makhluk yang diproses ke arah kebahagiaan dunia dan akhirat. Pandangan Islam tentang manusia antara lain: Konsep Islam tentang manusia, khsusunya anak, sebagai subyek didik sesuai dengan hadis Rasulullah Saw, anak manusia dilahirkan dalam fitrah atau dengan "potensi" tertentu. Dalam al-Qur'an diperintahkan pada manusia untuk menegakkan diri pada agama dengan tulus dan mantap, agama yang cocok dengan fitrah manusia yang digariskan oleh Allah.

Dilihat dari cakupannya, pendidikan dapat dipahami pada tiga wilayah pengertian. Pertama, pendidikan dalam makna maha luas, yakni ketika pendidikan diproporsikan sebagai kenyataan kehidupan manusia. Kehidupan adalah pendidikan dan pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Kedua, pendidikan dalam makna luas terbatas, ketika pendidikan diproporsikan sebagai sejumlah program pengembangan kualitas manusia. Ketiga, pendidikan dalam makna sempit, yakni ketika pendidikan diproporsikan terbatas pada pendidikan formal sekolah.

Terbentuknya kepribadian yang utama ini, tidak dapat ditentukan secara kuantitas terhadap orang yang mengalami pendidikan, melainkan ia bersifat kualitatif, tidak dapat diketahui dan dilihat secara konkrit (unobservable), tetapi hanya dapat diketahui melalui pola dan tingkah laku yang tercermin melalui orang-orang yang telah sadar dan terdidik. Melalui pendidikan, suatu bangsa dapat menyalurkan aspirasi warisan kultural dan intelektualnya di masa yang akan datang, sehingga akan dapat membantu perkembangan dan pertumbuhan di dalam menjalankan aktivitas-aktivitasnya. Olehnya itu, pendidikan sangat penting dan perlu diterapkan bagi anak-anak sedini mungkin. Dalam hal ini, pendidikan secara umum dan pendidikan agama Islam pada khususnya.

Sebagai agama yang bersumber pada wahyu al-Quran dan Sunnah, Islam terbukti memiliki ajaran yang komprehensif, yaitu ajaran yang tidak hanya ditujukan untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia ini, tetapi juga di akhirat nanti. Dengan sifatnya yang demikian itu, Islam memiliki ciri ajaran tauhid dan persatuan, memuliakan manusia, memandang hukum alam sebagai ketentuan Tuhan, menghargai akal dan ilmu, memberikan kebebasan, kemerdekaan, keadilan dan persaudaraan, mengutamakan amal, mendorong terciptanya akhlak yang mulia, mengajarkan kehidupan sosial, mengutamakan toleransi, mengutamakan kepemimpinan yang beriman, dan menghendaki ulama yang ahli dalam bidangnya. Pendidikan Islam adalah suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh  hamba Allah, sebagaimana Islam menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan baik duniawi maupun ukhrawi.

Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulan bahwa pendidikan agama Islam adalah bimbingan, arahan yang diberikan kepada anak dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, baik jasmani maupun rohani di dalam mencapai tingkat kedewasaan sesuai dengan ajaran Islam. Olehnya itu, pendidikan Islam sebagai suatu usaha tersebut, tidak hanya dilakukan di berbagai lembaga pendidikan sebagai bagian integral dalam kesatuan sistem pendidikan nasional, tetapi juga harus memandang Islam sebagai agama universal yang menjadi inspirasi segala usaha pendidikan manusia.

Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam 
Dasar pendidikan adalah pandangan hidup yang melandasi seluruh aktifitas pendidikan, sedangkan tujuan pendidikan adalah apa yang akan dicapai melalui pendidikan. Islam sebagai pandangan hidup yang berlandaskan nilai-nilai ilahiyah, baik yang termuat dalam al-Qur’an maupun Sunnah Rasul diyakini mengandung kebenaran mutlak yang bersifat transedental, universal dan eternal (abadi), sehingga akidah diyakini oleh pemeluknya, akan selalu sesuai dengan fitrah manusia, artinya memenuhi kebutuhan manusia kapan dan di manapun (likulli zamanin wa makanin). 

Pendidikan Islam adalah upaya normatif yang berfungsi untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia, maka harus didasarkan pada nilai-nilai tersebut di atas, baik dalam menyusun teori maupun praktik pendidikan. Dasar pendidikan Islam adalah yang tergolong intrinsik, fundamental, dan memiliki posisi paling tinggi adalah Tauhid, sebab merupakan seluruh fondasi dari seluruh bangunan ajaran Islam. 

Pandangan hidup Tauhid, tidak hanya pengakuan akan keEsaan Allah, tetapi juga menyakini kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan (unity of mankind), kesatuan tuntunan hidup (unity of guidance), dan kesatuan tujuan dari kesatuan hidup (unity of Godhead). Dengan dasar Tauhid ini, tampak jelas bahwa Pendidikan Islam berlandaskan pandangan teosentrisme (berpusat pada Tuhan). Perlu juga dijelaskan bahwa pandangan hidup yang melandasi pendidikan Islam merupakan perpaduan antara teosentrisme dan humanisme, sehingga terbentuk istilah humanisme-teosentris. Nilai-nilai yang dimaksud meliputi; kemanusiaan, kesatuan umat manusia, keseimbangan, dan rahmat bagi seluruh alam (rahmatan li- al-‘alamin).

Tujuan pendidikan merupakan masalah inti dalam pendidikan, dan saripati dari seluruh renungan pedagogik. Suatu rumusan tujuan akan tepat, apabila sesuai dengan fungsinya. Para ahli Pendidikan Islam, secara redaksional berbeda dalam merumuskan tujuan Pendidikan Islam. Walaupun demikian, semuanya berada dalam main-stream pemikiran yang sama, bahwa tujuan Pendidikan Islam adalah hasil yang ingin dicapai dari proses pendidikan yang berlandaskan Islam. Tujuan pendidikan Islam: 

a. Tujuan Tertinggi/Terakhir; Tujuan tertinggi/terakhir pada dasarnya sesuai dengan tujuan hidup dan peranannya anak sebagai ciptaan Allah, yaitu: 
  1. Menjadi hamba Allah yang bertaqwa, 
  2. Mengantarkan subjek didik menjadi khalifatullah fil ard (wakil Tuhan di bumi) yang mampu memakmurkannya, 
  3. Memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan hidup di dunia sampai akhirat. 

b. Tujuan Umum Pendidikan Islam; Berbeda dengan tujuan tertinggi yang lebih mengutamakan pendekatan filosofis, tujuan umum lebih bersifat empirik dan realistik. Tujuan umum berfungsi sebagai arah, yang taraf pencapaiannya dapat diukur, sebab menyangkut perubahan sikap, perilaku dan kepribadian subjek didik, sehingga mampu menghadirkan diinya sebagai sebuah pribadi yang utuh (selfrealization). 

c. Tujuan Khusus Pendidikan Islam; Tujuan khusus ialah pengkhususan atau operasionalisasi tujuan tertinggi dan tujuan umum pendidikan Islam. Pengkhususan tersebut  didasarkan pada kultur dan cita-cita suatu bangsa di mana pendidikan itu diselenggarakan, termasuk juga minat, bakat, dan kesanggupan subjek didik. 

Dalam menetapkan tujuan pendidikan, Islam mempertimbangkan posisi manusia sebagai ciptaan Tuhan yang terbaik (QS. al-Tin [95]: 4) dan sebagai Khalifah fil ardhi (QS. Yunus [10]: 14), begitu pula tentang Islam yang rahmatan lil ‘alamin atau universal, “mengandung ajaran-ajaran yang konkrit, dapat disesuaikan dengan situasi setempat dan dengan kebutuhan zaman”. Islam sebagai agama pilihan (QS. alMaidah [5]: 3) menjadi pedoman dan panutan kita yang abadi, tidak ada keraguan lagi. Tujuan akhir dari Pendidikan Islam, yakni terbentuknya kepribadian muslim atau terwujudnya masyarakat yang secara normatif filosofis menyakini nilai-nilai islami yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah untuk dijadikan pedoman dalam menjalani segala aspek kehidupan. 

Sebagai suatu metode pendidikan, metode keteladanan dapat diterapkan dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan, yaitu dengan adanya keteladanan dari seorang pendidik kepada peserta didik. Metode keteladanan mempunyai peranan besar dalam menunjang terwujudnya tujuan Pendidikan Islam, terutama pendidikan ibadah, akhlak dan lain-lain. Demikian beberapa rumusan tujuan Pendidikan Islam, makna dan fungsinya dalam upaya pembentukan kepribadian muslim, perpaduan iman dan amal saleh, yaitu keyakinan adanya kebenaran mutlak yang menjadi satu-satunya tujuan hidup dan sentral pengabdian diri dan perbuatan yang sejalan dengan harkat dan nilai kemanusiaan. 

Kelebihan dan Kekurangan Metode Keteladanan Kelebihan metode keteladanan antara lain: 
  1. Metode keteladanan akan memberikan kemudahan kepada pendidik dalam melakukan evaluasi terhadap hasil dari proses belajar mengajar yang dijalankannya, 
  2. Metode keteladanan akan memudahkan peserta didik dalam mempraktikkan dan mengimplementasikan ilmu yang dipelajarinya selama proses pendidikan berlangsung, 
  3. Bila keteladanan di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan atau sekolah dan masyarakat baik, maka akan tercipta situasi yang baik, 
  4. Metode keteladanan dapat menciptakan hubungan harmonis antara peserta didik dengan pendidik,
  5. Dengan metode keteladanan tujuan pendidikan yang ingin dicapai menjadi lebih terarah dan tercapai dengan baik, 
  6. Dengan metode keteladanan pendidik secara tidak langsung dapat mengimplementasikan ilmu yang diajarkannya, 
  7. Metode keteladanan juga mendorong pendidik untuk senantiasa berbuat baik, karena menyadari dirinya akan dicontoh oleh peserta didiknya.

Dari kelebihan-kelebihan yang telah disebutkan di atas, dapat dikatakan bahwa metode keteladanan memiliki peranan yang sangat signifikan dalam upaya mewujudkan pendidikan Islam, dimana selain diajarkan secara teoritik, peserta didik juga dapat melihat secara langsung bagaimana praktik atau pengamalan dari pendidiknya yang kemudian dapat dijadikan teladan atau contoh dalam berprilaku dan mengamalkan atau mengaplikasikan materi pendidikan yang telah dipelajari selama proses belajar mengajar berlangsung. 

Selain mempunyai kelebihan dan keunggulan dibandingkan dengan metode lainnya, dalam penerapannya metode keteladanan juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan, diantaranya: 
  • Jika dalam proses belajar mengajar figur yang diteladani, dalam hal ini pendidik tidak baik, maka peserta didik akan cenderung mengikuti hal-hal yang tidak baik tersebut, 
  • Jika dalam proses belajar mengajar hanya memberikan teori yang verbalistik, tanpa diikuti dengan implementasi nyata, maka sulit mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. 

Dari serangkaian kelebihan dan kekurangan di atas, dapat dikatakan bahwa, metode keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang mempunyai pengaruh dan terbukti efektif dengan berbagai kelebihannya, meskipun juga tidak terlepas dari sejumlah kekurangannya dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual dan etos sosial anak. Dalam konteks ini, pendidik menjadi figur terbaik dalam pandangan anak didik, sebab segala tindak-tanduk dan sopan santunnya, disadari atau tidak, akan ditiru atau diteladani oleh peserta didiknya. Peranan pendidik dalam hal ini adalah sosok kunci yang akan memberikan teladan kepada peserta didik, sosok yang akan dijadikan model atau teladan oleh peserta didik. Jadi, sukses atau tidaknya metode keteladalan dalam suatu proses pembelajaran sangat tergantung pada sosok pendidik yang diteladani. 

Oleh karena itu, keteladanan yang baik (uswatun hasanah) adalah salah satu metode yang cocok diterapkan untuk merealisasikan tujuan Pendidikan Islam. Alasannya, keteladanan memiliki peranan yang sangat signifikan dalam upaya mencapai keberhasilan pendidikan, dan juga dapat memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap pembentukan nilai-nilai islami, terutama pada pelaksanaan pendidikan ibadah dan pendidikan akhlak. Karakteristik Pendidik; Keteladan dalam Pendidikan Islam Pendidik adalah spiritual father seorang (bapak rohani) bagi siswa. Untuk itu, seorang pendidik harus memiliki kepribadian yang baik yang telah dipraktikkan oleh Nabi Muhammad Saw. Adapun sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang pendidik adalah; pendidik harus memiliki sifat sabar, kasih sayang, zuhud, tawadu, syajaah, jujur dan ahklak karimah. 

Dengan demikian, maka patut dicela, apabila seorang pendidik hanya memberikan pelajaran kepada peserta didiknya, sedangkan ia sendiri tidak mengerjakan apa yang dikatakannya. Ia ibarat sebuah lilin yang memberi penerangan kepada yang lain, sedangkan dirinya sendiri terbakar. Keteladanan merupakan salah satu metode pendidikan yang sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Pendidik harus memberi teladan terlebih dahulu, apabila ia menghendaki anak didiknya berperilaku yang baik.

Pendidik harus memulai terlebih dahulu segala sesuatu yang baik itu dari darinya sendiri. Apabila kita menghendaki anak-anak berkata sopan-santun, mulialah dari diri kita untuk membiasakan bertutur kata yang sopan dan santun. Ada pribahasa mengatakan bahwa apa yang dilakukan atau dicontohkan lebih ampuh dari pada berjuta kata-kata. Begitu juga, bila kita menghendaki anak-anak yang shalih, maka mulailah keshalihan itu dari diri kita terlebih dahulu. 

Untuk mengembangkan kepribadian Islam, ada tiga langkah yang harus ditempuh sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Saw, yaitu; 
  1. Menanamkan aqidah Islam kepada seseorang dengan cara yang sesuai dengan kategori aqidah tersebut, yaitu sebagai ‘aqidah aqliyah’, aqidah yang muncul dari proses pemikiran yang mendalam. 
  2. Menanamkan sikap konsisten atau istiqamah pada orang yang sudah memiliki aqidah Islam, agar cara berpikir dan berprilakunya tetap berada di atas pondasi aqidah yang diyakininya. 
  3. Mengembangkan kepribadian Islam yang sudah terbentuk pada seseorang dengan senantiasa mengajaknya untuk bersungguh-sungguh mengisi pemikirannya dengan tsaqafah islamiyah dan mengamalkan ketaatan kepada Allah Swt. 

Keteladanan memberikan pengaruh yang lebih besar daripada nasihat. Jika perilaku pendidik berbeda atau bertolak belakang dengan nasihat-nasihat yang disampaikan pada anak, niscaya kegiatan pembelajaran akan gagal. Berbagai hal yang perlu diperhatikan seorang pendidik dalam mencerminkan keteladanan kepada anak didiknya, di antaranya: 
  1. Seorang pendidik harus menjauhkan diri dari sikap dusta agar anak-anak tidak belajar berdusta. 
  2. Seorang pendidik tidak boleh membuang sampah sembarangan. 
  3. Bagaimanapun marahnya, seorang pendidik tidak boleh mengeluarkan kata-kata kasar dan umpatan, agar anakanak atau peserta didik tidak menirunya. 
  4. Pendidik yang akan mengajarkan surah-surah pendek harus memiliki kemampuan hafalan dan bacaan al-Quran yang benar, agar pada gilirannya anak-anak akan membaca dan menghafal al-Quran dengan benar pula. 
  5. Pendidik harus menghindari obrolan berlebihan antar mereka yang menyebabkan anak didik terlantar. 
  6. Pendidik harus memiliki sikap toleran terhadap anak didik yang melakukan kesalahan dan menasehatinya dengan bahasa yang lembut tanpa bermaksud memanjakan, agar anak didik terbiasa memaafkan kesalahan dan berlaku sopan dan santun terhadap orang lain.

Dalam Pendidikan Islam, pendidik mempunyai tugas dan tanggungjawab yang berat sekaligus mulia. Dikatakan berat karena pendidik mengemban amanah masyarakat dalam melaksanakan fungsi pendidikan. Pemberian amanah oleh masyarakat tersebut tidak hanya berorientasi pada transformasi ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai murabbi> mursyid, dan sebagai dinamisator masyarakat. 

Sebagai murabbi>, pendidik bertanggungjawab memantau perkembangan kepribadian anak dari segala dimensi, sedangkan sebagai dinamisator masyarakat, ia bertanggungjawab memberikan pelayanan yang baik, membangkitkan mereka dan mengangkat derajatnya ke arah yang lebih baik. Sebagai mursyid, karakteristik dan tugasnya adalah orang yang mampu menjadi model atau sentral identifikasi dirinya atau menjadi pusat panutan, teladan dan konsultan bagi peserta didiknya. Keberhasilan seorang pendidik dalam mengembang tugasnya, baik sebagai murabbi, mursyid, maupun sebagai agen perubahan dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh kualifikasi pendidikan dan kompetensi mendidik yang mereka miliki. 

Sebagai teladan, pendidik harus memiliki kepribadian yang dapat dijadikan profil dan idola. Seluruh kehidupannya adalah figur yang paripurna. Itulah kesan terhadap pendidik sebagai sosok ideal. Sedikit saja pendidik berbuat yang tidak baik atau kurang baik, akan mengurangi kewibawaan dan kharismanya secara perlahan dari jati diri. Seorang pendidik di samping harus menguasai pengetahuan yang akan diajarkan kepada siswa, juga harus memiliki sifat-sifat terpuji yang dapat ditranspormasikan kepada para siswanya, sehingga penting dipatuhi tingkah lakunya dapat ditiru dan diteladani dengan baik. Hal ini disepakati oleh para ahli pendidik, karena betapapun rencana yang telah disiapkan, biaya dan perlengkapan yang disediakan, tetapi semuanya tidak akan berarti apa-apa, jika pendidik yang berada di depan siswa tidak dapat dipatuhi dan diteladani sifat dan perbuatannya. Atas dasar ini, maka para ahli sepakat menetapkan sifat-sifat tertentu yang harus dimiliki oleh para pendidik. 

Beberapa karakter atau sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pendidik, yaitu: 
  1. Pendidik harus bersifat zuhud, 
  2. Pendidik harus memiliki jiwa yang bersih, sifat dan akhlak yang baik, 
  3. Pendidik harus ikhlas dalam melaksanakan tugasnya, 
  4. Pendidik harus bersifat pemaaf terhadap siswanya, memiliki kepribadian dan harga diri. 
  5. Pendidik harus dapat menempatkan dirinya sebagai seorang bapak/ibu sebelum ia menjadi seorang pendidik, 
  6. Pendidik harus mengetahui bakat, tabiat, dan watak siswa-siswanya, dan harus menguasai bidang studi yang akan diajarkannya.  

Mahmud Yunus mengatakan bahwa Ibnu Sina mengajukan beberapa sifat lain dari yang terlihat secara eksplisit dalam sifat-sifat pendidik di atas, yaitu: sifat tenang, tidak bermuka masam, tidak berolok-olok, dan memiliki sifat sopan santun. Demikian diantara sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang pendidik, agar ia menjadi teladan yang baik bagi peserta didiknya di sekolah, anak-anaknya di rumah dan di tengah masyarakatnya, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai secara maksimal sesuai dengan harapan. 
Blog, Updated at: 04.38

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts