Metode Penelitian Eksperimen, Grounded Research

Metode Penelitian Eksperimen, Grounded Research
Metode Penelitian Eksperimen Selain metode deskriptif, metode eksperimental merupakan metode yang sering digunakan, terutama pada bidang eksakta. Dengan cara ini, peneliti sengaja membangkitkan timbulnya sebuah kejadian atau keadaan yang kemudian diteliti akibatnya. Dengan kata lain, peneliti ingin mencari hubungan sebab-akibat dari sebuah fenomena yang ditimbulkan peneliti sendiri. Sugiyono (2008: 72) menyatakan, dalam penelitian eksperimen terdapat perlakuan. Dengan demikian metode penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. 

Nazir (2005: 64) menyatakan tujuan dari penelitian eksperimental adalah untuk menyelidiki ada-tidaknya hubungan sebab-akibat serta berapa besar hubungan sebabakibat tersebut dengan cara memberikan perlakuan-perlakuan tertentu pada kelompok eksperimen dan menyediakan kontrol untuk perbandingan. Penelitian eksperimental dapat mengubah teori-teori yang telah usang. Percobaan-percobaan dilakukan untuk menguji hipotesis serta untuk menemukan hubungan-hubungan kausal yang baru. Namun, walaupun hipotesis telah dapat diuji dengan metode percobaan, tetapi penerimaan atau penolakan hipotesis bukanlah merupakan penemuan suatu kebenaran yang mutlak. 

Eksperimentasi atau percobaan hanya merupakan penemuan suatu akhir atau tujuan yang diinginkan dalam penelitian. Percobaan hanya merupakan suatu cara untuk mencapai tujuan. Karena itu, maka seringkali ada kritik-kritik terhadap metode eksperimen karena interpretasi yang salah dari hasil percobaan, atau karena salahnya asumsi yang digunakan ataupun karena desain percobaan yang kurang sempurna. 

Kriteria Umum Metode Eksperimen 
Nazir (2005: 64) menyatakan bahwa pada dasarnya, kriteria umum dari metode eksperimental tidak jauh dengan metode penelitian yang lainnya. 

Beberapa kriteria penting yang terdapat dalam metode eksperimental yaitu: 
  1. Masalah yang dipilih harus masalah yang penting dan dapat dipecahkan. 
  2. Faktor-faktor serta variabel dalam percobaan harus didefinisikan sejelas-jelasnya. 
  3. Percobaan harus dilaksanakan dengan desain percobaan yang cocok, sehingga maksimilisasi variabel perlakuan dalam meminimalisasikan variabel pengganggu dan variabel random. 
  4. Ketelitian dalam observasi serta ketepatan ukuran sangat diperlukan. 
  5. Metode, material, serta referensi yang digunakan dalam penelitian harus digambarkan sejelas-jelasnya karena kemungkinan pengulangan percobaan ataupun penggunaan metode dan material untuk percobaan lain dalam bidang yang serupa. 
  6. Interpretasi serta uji statistik harus dinyatakan dalam beda signifikan dari parameterparameter yang dicari atau yang diestimasikan. 
Desain Eksperimen Terdapat beberapa bentuk desain eksperimen yang dapat digunakan dalam penelitian, yaitu: pre-experimental design, true experimental, factorial design, dan quasi experimental design. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Pre-Eksperimental Designs (nondesign) 
Dikatakan pre-eksperimental, karena desain ini belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh. Pada desain ini, tidak terdapat kelas kontrol dan pemilihan sampel yang tidak random, sehingga masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Jadi, hasil eksperimen yang merupakan variabel dependen, bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel independen. 

a. One-shot case study 
Paradigma dalam penelitian eksperimen model ini digambarkan sebagai berikut: 

X = treatment yang diberikan (variabel independen) 
O = observasi (variabel dependen) 

Paradigma ini dapat dibaca sebagai berikut: terdapat suatu kelompok yang diberi treatment/perlakuan, dan selanjutnya diobservasi hasilnya 

b. One group pretest-posttest design 

O1 = nilai pretes (sebelum diberi perlakuan) 
X = perlakuan 
O2 = nilai posttest (setelah diberi perlakuan) 
Pengaruh perlakuan = (O2 - O1) 

c. Intact group comparison 
Pada desain ini, terdapat satu kelompok yang digunakan untuk penelitian, tetapi dibagi dua, yaitu setengah kelompok untuk eksperimen (yang diberi perlakuan) dan setengah kelompok untuk kelompok kontrol (yang tidak diberi perlakuan). Paradigma penelitiannya dapat digambarkan sebagai berikut: 

O1 = hasil pengukuran setengah kelompok yang diberi perlakuan 
O2 = hasil pengukuran setengah kelompok yang tidak diberi perlakuan 
Pengaruh perlakuan = (O1 – O2) 

2. True Experimental Design 
Dikatakan true experimental karena dalam desain ini, peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Dengan demikian, validitas internal dapat menjadi tinggi. Ciri utama dari true experimental adalah bahwa sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random dari sebuah populasi. Jadi cirinya adalah adanya kelompok kontrol dan sampel yang dipilih secara random. 

a. Posttest only control design

Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R). Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok yang lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. Pengaruh adanya perlakuan adalah (O1 : O2). Dalam penelitian yang sesungguhnya, pengaruh perlakuan dianalisis dengan uji beda, menggunakan statistik t-test misalnya. 

b. Pretest-Posttest Control Group Design

Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara random, kemudian diberi pretest untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil pretest yang baik bila nilai kelompok eksperimen tidak berbeda secara signifikan. Pengaruh perlakuan adalah (O2 – O1) – (O4 – O3) 

3. Factorial Design 
Desain faktorial merupakan modifikasi dari desain true experimental, yaitu dengan memperhatikan kemungkinan adanya variabel moderator yang mempengaruhi perlakuan (variabel independen) terhadap hasil (variabel dependen). Paradigma desain faktorial dapat digambarkan sebagai berikut:

Pada desain ini semua kelompok dipilih secara random, kemudian masing-masing diberi pretest. Kelompok untuk penelitian dinyatakan baik, bila setiap kelompok memiliki nilai pretes yang sama. Dalam hal ini, variabel moderatornya adalah Y1 dan Y2. 

Contoh: 
Dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh prosedur kerja baru terhadap kepuasan pelayanan pada masyarakat. Untuk itu, dipilih empat kelompok secara random. Variabel moderatornya adalah jenis kelamin, yaitu laki-laki (Y) dan perempuan (X). 

Perlakuan (prosedur kerja baru) dicobakan pada kelompok eksperimen pertama yang telah diberi pretest (O1 = kelompok laki-laki) dan kelompok eksperimen kedua yang telah diberi pretest (O2 = kelompok perempuan). Pengaruh perlakuan (X) terhadap kepuasan pelayanan untuk kelompok laki-laki = (O2 – O1) – (O4 – O3). Pengaruh perlakuan (prosedur kerja baru) terhadap nilai penjualan barang untuk kelompok perempuan = (O6 – O5) – (O8 – O7). 

Bila terdapat perbedaan pengaruh prosedur kerja baru terhadap kepuasan masyarakat antara kelompok kerja pria dan wanita, maka penyebab utamanya adalah bukan karena treatment yang diberikan (karena treatment yang diberikan sama), tetapi karena adanya variabel moderator, yang dalam hal ini adalah jenis kelamin. Pria dan wanita menggunakan prosedur kerja baru yang sama, tempat kerja yang sama nyamannya, tetapi pada umumnya, kelompok wanita lebih ramah dalam memberikan pelayanan, sehingga dapat meningkatkan kepuasan masyarakat. 

4. Quasi Eksperimental Design 
Bentuk desain eksperimen ini merupakan pengembangan dari true experimental design, yang sulit dilaksanakan. Desain ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Walaupun demikian desain ini lebih baik dari pre-experimental design. Quasi experimental design, digunakan karena pada kenyataannya sulit mendapatkan kelompok kontrol yang digunakan untuk penelitian.

Berikut dua bentuk desain kuasi eksperimen yang dikemukakan oleh Sugiyono (2008: 77): 

a. Time Series Design 

Dalam desain ini, kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak dapat dipilih secara random. Sebelum diberi perlakuan, kelompok diberi pretes sampai empat kali, dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan kejelasan keadaan kelompok sebelum diberi perlakuan. Bila hasil pretes selama empat kali ternyata nilainya berbeda-beda, berarti kelompok tersebut keadaannya labil, tidak menentu dan tidak konsisten. Setelah kestabilan keadaan kelompok dapat diketahui dengan jelas, maka baru diberi treatment. Desain penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok saja, sehingga tidak memerlukan kelompok kontrol. 

b. Nonequivalent Control Group Design 
Desain ini hampir sama dengan pretest-posttest control group design, hanya pada desain ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random. 


Grounded Research 
Grounded research merupakan lawan dari penelitian secara verifikasi. Metode penelitian yang dicetuskan oleh Glaser dan Strauss (Nazir, 2005:74) ini merupakan suatu metode yang mendasarkan diri pada fakta dan menggunakan analisis perbandingan yang vertujuan untuk mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep-konsep, membuktikan teori dan mengembangkan teori dimana pengumpulan data dan analisis data berjalan pada waktu yang bersamaan. 

Seperti diketahui, kebanyakan dari penelitian beranjak dari teori, yang mana dari teori dijabarkan hipotesis-hipotesis untuk menguji kebenaran hipotesis yang juga berarti menguji kebenaran teori. Namun, Grounded research bertolak dari fakta, dan dari fakta tanpa teori dicoba mewujudkan suatu teori. Dari defenisi di atas, dapat dilihat bahwa metode yang digunakan dalam grounded research adalah reaksi terhadap metode penelitian yang asasnya verifikasi teori. Dalam grounded research, data merupakan sumber teori, dan teori disebut grounded karena teori tersebut berdasarkan data. 

Data yang diperoleh dapat dibandingkan melalui kategorikategori. Nazir (2005: 75) menyatakan, tujuan dari grounded research adalah untuk mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep-konsep, membuktikan teori, dan mengembangkan teori. Metode yang digunakan dalam grounded research adalah studi perbandingan yang bertujuan untuk menentukan sampai seberapa jauh suatu gejala berlaku umum. Penelitian juga bertujuan untuk menspesifikasikan konsep. Dengan kata lain, dalam mempelajari suatu kasus/ gejala, maka perlu untuk membandingkan gejala/ kasus tersebut dengan kasus/ gejala serupa. 

Perbandingan demikian akan menjelaskan unsur-unsur baru khas dari kasus yang sedang dipelajari. Penelitian grounded memiliki sebuah tujuan yang sangat berat, yakni mengembangkan teori. Bukti-bukti yang tepat tidak diperlukan untuk mengembangkan teori. Satu kasus saja dapat membuktikan indikasi tersebut. Tugas peneliti adalah mengembangkan suatu teori yang dapat menjelaskan kebanyakan dan perilaku yang relevan Ciri-Ciri Grounded Research Grounded research memiliki ciri-ciri tersendiri. 

Ciri yang paling pokok dari grounded research adalah menggunakan data sebagai sumber teori, sehingga teori yang dibangun berdasarkan logika tidak ada tempatnya dalam penganut grounded research. Perhatikan diagram berikut ini:

Dasar analisis dari grounded research adalah sifat-sifat yang ditemukan , untuk kemudian dikelompokkan berdasarkan kategori. Kategori dalam pengertian grounded research adalah konsep-konsep melalui mana data dapat diperbandingkan. Sebuah kategori adalah suatu konsep yang dapat digunakan untuk menegaskan perbedaan dan persamaan dari hal-hal yang diperbandingkan. Kategori serta sifat yang ada dalam kategori tersebut adalah dasar utama analisis dalam grounded research. Pengumpulan data pada grounded research tidaklah secara random, namun lebih dikuasai oleh pengembangan analisis. 

Langkah-langkah Grounded Research Adapun langkah-langkah yang harus dilaksanakan dalam grounded research adalah sebagai berikut: 
1. Tentukan masalah yang ingin diteliti 
2. Kumpulkan data Untuk memperoleh data yang sesuai dengan penelitian. 

Kajilah pertanyaan-pertanyaan berikut ini: 
o Manakah kelompok atau individu yang penting yang harus diperbandingkan? 
o Apakah perbedaan dan persamaan di antara kelompok-kelompok tersebut? 
o Apakah cirri-ciri yang penting dari setiap kategori? 

3. Menganalisis dan menjelaskan data 
4. Membuat laporan penelitian 

Kelemahan Grounded Research Vredenberg (Nazir, 2005: 78) menyebutkan beberapa kelemahan grounded research sebagai berikut: 
  1. Grounded research menggunakan analisis perbandingan dan mensifatkan analisis perbandingan sebagai penemuan yang baru. Karena grounded research tidak menggunakan probability sampling, maka generalisasi yang dibuat akan mengandung banyak bias. 
  2. Akhir satu penelitian bergantung pada subjektivitas peneliti. Apakah hasilnya suatu teori atau hanya satu generalisasi saja, tidak ada seorang pun yang tahu kecuali peneliti itu sendiri. 
  3. Secara umum dapat disimpulkan bahwa teori yang diperoleh dalam grounded research tidak didasarkan atas langkah-langkah sistematis melalui siklus empiris dari metode ilmiah. Spekulasi dan sifat impresionistis menjadi kelemahan utama grounded research, sehingga diragukan adanya representativitas, validitas dan reliabilitas data.
  4. Grounded research dapat disamakan dengan pilot studi atau exploratory research belaka.
Blog, Updated at: 03.22

2 komentar :

  1. sangat membantu. bisa disebutkan daftar pustakanya?

    BalasHapus
  2. Maaf ya sist, kalimat ini kurang tepat "Ciri utama dari true experimental adalah bahwa sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random dari sebuah populasi."

    Diambil secara random dari populasi = random sampling.

    Ciri utama True Eksperimen itu random assignment bukan random sampling.

    Random assignment artinya partisipan diacak saat masuk ke sebuah grup. Baik peneliti maupun partisipan tidak tahu partisipan akan masuk ke grup mana. Tujuannya adalah untuk meminimalisir bias peneliti.

    Memang, True Experiment dalam pengambilan samplenya sebaiknya perlu random sampling, namun jika tidak memungkinkan, convenience sampling juga bisa. Hanya saja convenience sampling bisa melemahkan validitas eksternal alias kurang kuat digeneralisasikan ke populasi.

    BalasHapus

Popular Posts