Metode Penelitian Sejarah, Deskriptif/ Survei

Metode Penelitian Sejarah, Deskriptif/ Survei
Metode Penelitian Sejarah Penelitian dapat dilihat dari segi perspektif serta waktu terjadinya fenomenafenomena yang diselidiki. Metode sejarah mempunyai perspektif historis. Penelitian historis adalah usaha untuk mempelajari dan menggali fakta-fakta dan menyusun kesimpulan mengenai peristiwa-peristiwa masa lampau. Dalam penelitian ini, peneliti dituntut menemukan fakta, menilai dan menafsirkan fakta yang diperolehnya secara sistematik objektif untuk memahami masa lampau. 

Temuan masa lampau tersebut dapat dijadikan bahan untuk masa sekarang dan meramalkan peristiwa yang akan datang. Banyak ahli yang menyamakan metode sejarah dengan metode dokumenter, karena dalam metode sejarah banyak data didasarkan pada dokumen-dokumen. Namun, sebenarnya metode sejarah tidak sama dengan metode dokumenter, karena metode dokumenter dapat saja mengenai masalah dini dan tidak perlu mengenai masalah masa lalu. 

Metode sejarah menggunakan catatan observasi atau pengamatan orang lain yang tidak dapat diulang-ulang kembali. Ini nyata sekali bedanya dengan metode penelitian eksperimen pada fenomena natura, di mana data observasi dapat dikontrol dengan percobaan. 

Defenisi Metode Penelitian Sejarah 
Sejarah adalah pengetahuan yang tepat terhadap apa yang telah terjadi. Nevins (Nazir, 2005: 48) menyatakan bahwa Sejarah adalah deskripsi yang terpadu dari keadaan-keadaan atau fakta-fakta masa lampau yang ditulis berdasarkan penelitian serta studi yang kritis untuk mencari kebenaran. Menurut Nazir (2005: 48) penelitian dengan menggunakan metode sejarah adalah penyelidikan yang kritis terhadap keadaankeadaan, perkembangan, serta pengalaman di masa lampau dan menimbang secara cukup teliti dan hati-hati tentang bukti validitas dari sumber-sumber sejarah, serta interpretasi dari sumber-sumber keterangan tersebut. 

Dari defenisi tersebut, maka biografi dapat menjadi sejarah jika perorangan tersebut dihubungkan dengan fenomena masyarakat pada masanya. Jika biografi dibatasi dalam kehidupan perorangan saja dan terisolasi dari masyarakat, maka bibliografi tersebut bukan sejarah. Metode sejarah merupakan suatu usaha untuk memberikan interpretasi dari suatu status keadaan di masa yang lampau untuk memperoleh suatu generalisasi yang berguna untuk memahami kenyataan sejarah, membandingkan dengan keadaan sekarang dan dapat meramalkan keadaan yang akan datang. Dengan demikian, tujuan dari penelitian dengan metode sejarah adalah untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara objektif dan sistematis dengan mengumpulkan, mengevaluasikan, serta menjelaskan dan mensintesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan menarik kesimpulan secara tepat. 

Ciri-Ciri Metode Sejarah Nazir (2005: 48) menungkapkan beberapa ciri khas metode sejarah, yaitu sebagai berikut: 
  1. Metode sejarah lebih banyak menggantungkan diri pada data yang diamati orang lain di masa-masa lampau. 
  2. Data yang digunakan lebih banyak bergantung pada data primer dibandingkan dengan data sekunder. Bobot data harus dikritik, baik secara internal maupun secara eksternal. 
  3. Metode sejarah mencari data secara lebih tuntas serta menggali informasi yang lebih tua yang tidak diterbitkan ataupun yang tidak dikutip dalam bahan acuan yang standar. 
  4. Sumber data harus dinyatakan secara definitif, baik nama pengarang, tempat dan waktu. Sumber tersebut harus diuji kebenaran dan ketulenannya. Fakta harus dibenarkan oleh sekurang-kurangnya dua saksi yang tidak pernah berhubungan. 
Sumber Data pada Metode Sejarah 
Sumber data dalam penelitian ini umumnya terdiri dari dokumen tertulis, peninggalanpeninggalan masa lampau, benda purbakala, karya-karya seni, dan mungkin saksi mata dalam peristiwa tertentu. Sudjana dan Ibrahim (1989: 81) menyatakan bahwa ada dua sumber dalam metode penelitian sejarah, yaitu sumber primer (utama) dan sumber sekunder (kedua). Sumber utama antara laindokumen, peninggalan langsung dari peristiwa dan catatan saksi mata. Misalnya notulen rapat, benda peninggalan sejarah, karya seni, dan lain-lain. Sumber kedua adalah sumber dari tangan kedua, misalnya: buku, hasil penelitian, artikel, ensiklopedia, dan lain-lain. 

Peneliti biasanya berusaha keras untuk mendapatkan sumber utama agar hasil penelitiannya dapat lebih dipercaya. Baik dalam sumber utama maupun sumber kedua, peneliti dituntut untuk menilai fakta dan memberi interpretasi atas dasar pemikiran yang ada pada dirinya. Oleh sebab itu, peneliti harus memiliki latar belakang pengetahuan yang relevan dengan masalah yang ditelitinya. Sumber dari sejarah yang merupakan data yang digunakan dalam metode penelitian sejarah dapat diklasifikasikan secara bermacam-macam. Nazir (2005: 49) mengklasifikasikan sumber dari sejarah antara lain: remain, dokumen, sumber primer, sumber sekunder, materi fisik, materi tulisan dan sebagainya. 

a. Remain dan dokumen 
Jika sumber sejarah ditinjau dari sengaja atau tidak sengajanya bahan atau sumber data tersebut ditinggalkan, maka sumber sejarah dibagi dua, yaitu: remain dan dokumen. Remain adalah peninggalan-peninggalan yang tidak disengaja, baik berupa barang fisik ataupun peninggalan rohani. Di lain pihak, terdapat juga catatan-catatan yang sengaja ditinggalkan dan disebut dokumen. Remain atau relics, yaitu bahan-bahan fisis atau tulisan yang mempunyai nilai-nilai sejarah yang terdapat tanpa suatu kesadaran menghasilkannya untuk suatu keperluan pembuktian sejarah. 

Peninggalan materi termasuk: alat, perkakas, perhiasan-perhiasan kuno, bangunan seperti piramida, candi, senjata-senjata, sendok, benda budaya, dan sebagainya. Dokumen, yaitu laporan dari kejadian-kejadian yang berisi pandangan serta pemikiran-pemikiran manusia di masa yang lalu. Dokumen tersebut secara sadar ditulis untuk tujuan komunikasi dan transmisi keterangan. Contoh dari dokumen antara lain: buku harian, batu bertulis, daun-daun lontar, relief-relief pada candi, surat-surat kabar, dan sebagainya. 

Jika sumber sejarah di atas diperluas lagi, maka sumber tersebut dapat dibagi menjadi sebagai berikut: 
1. Keterangan ditinggalkan secara sadar: 
a) Sumber tertulis: catatan harian, memori, biografi dan sebagainya. 
b) Karangan tradisional: balada, cerita-cerita tradisional, anekdot-anekdot, dan sebagainya. 
c) Hasil-hasil artistic: potret, gambar, lukisan, patung dan sebagainya

2. Relic atau testimony tanpa sadar: pakaian, bahan makanan, alat rumah tangga, mesinmesin, buku, makam-makam, dan sebagainya. 
3. Inskripsi, dokumen, monumen: memorial, kuburan, candi, dan sebagainya. 

Sebuah makam atau kuburan dapat dimasukkan dalam dua kategori di atas. Jika sebuah makam ditemukan dan pada makam tersebut hanya ada nama saja yang tertulis, maka makam tersebut adalah relic. Namun, jika di bawah nama tersebut terdapat lagi beberapa keterangan seperti jabatan, kelahiran, serta tugas-tugas lain, maka makam tersebut merupakan dokumen yang sengaja ditinggalkan. 

Oleh Nevins (Nazir, 2005: 50), sumber-sumber sejarah dibagi kedalam kelompokkelompok sebagai berikut: 
1) Pertinggal fisis: tempat-tempat bersejarah, piramida, pot-pot, senjata-senjata, gedung-gedung, dan sebagainya 
2) Cerita secara oral: yaitu materi yang dipindahkan dari mulut ke mulut seperti balada, cerita rakyat, tradisi-tradisi, legenda, dan sebagainya 
3) Materi inskripsi: yaitu materi-materi pada tulisan tidak seperti biasa seperti tulisan pada pot-pot, pada piring, pada patung dan sebagainya 
4) Materi tulisan tangan: paripus, hiroglif, dokumen-dokumen modern, dan sebagainya 
5) Buku dan cetakan: bahan-bahan yang tercetak 
6) Bahan audio-visual: film-film, televisi, microfilm, kaset-kaset, radio dan sebagainya 
7) Observasi langsung: hasil pengamatan penulis atau pengamatan oleh orang-orang yang diwawancarai. 

b. Sumber Primer dan Sumber Sekunder 
Menurut Nazir (2005: 50), selain pembagian sumber seperti di atas, sumber sejarah dapat juga dibedakan antara sumber primer dan sumber sekunder. Sumber-sumber primer adalah tempat atau gudang penyimpan yang orisinal dari data sejarah. Data primer merupakan sumber-sumber dasar yang merupakan bukti atau saksi utama dari kejadian yang lalu. Contoh dari data atau sumber primer adalah: catatan resmi yang dibuat pada suatu acara atau upacara, suatu keterangan oleh saksi mata, keputusan-keputusan rapat, foto-foto dan sebagainya. Suatu peraturan dasar dari metode sejarah adalah menggunakan data primer sebanyak mungkin. Di lain pihak adalah sumber-sumber sekunder. Sumber-sumber sekunder adalah catatan tentang adanya suatu peristiwa, ataupun catatan-catatan yang “jaraknya” telah jauh dari sumber orisinil. 

Misalnya, keputusan rapat suatu perkumpulan bukan didasarkan dari keputusan (minutes) dari rapat itu sendiri, tapi dari sumber berita di surat kabar. Berita surat kabar tentang rapat tersebut adalah sumber sekunder. 

Dalam metode sejarah, maka menggunakan sumber sekunder, padahal sumber primer ada, merupakan error yang besar sekali. Ini dapat diterima, karena sumber-sumber data masa lampau akan terjadi banyak sekali distorsi dalam transmisi. Adanya distorsi akibat dari transmisi keterangan dapat membuat interpretasi keterangan yang salah tentang suatu fenomena sejarah. Kritik Terhadap Keaslian Sumber Sumber yang digunakan sebagai data dalam metode penelitian sejarah adalah sumber yang benar-benar orisinil. 

Karena itu, ada dua hal yang harus diperhatikan untuk melihat apakah sumber sejarah tersebut orisinil atau tidak. Nazir (2005:51) membagi hal tersebut menjadi kritik eksternal dan kritik internal. Kritik eksternal adalah menyelidiki keadaan ‘luar’ dari sumber. Melihat autentik tidaknya suatu tulisan, meneliti bentuk kertasnya, menyelidiki bentuk papirus, meneliti bahan-bahan bakunya dan formatnya. Juga diselidiki usia dari sumber serta rupa dari sumber tersebut. Kritik internal terhadap sumber sejarah adalah melihat dan menyelidiki isi dari bahan sejarah dan dokumen sejarah. Apakah pernyataan yang dibuat benar-benar merupakan fakta historis? Apakah isinya cocok dengan sejarah? 

Kritik internal termasuk diantaranya isi, bahasa yang digunakan, tata bahasa, situasi di saat penulisan, ide dan sebagainya. Bagi peneliti dengan menggunakan metode penelitian sejarah, kedua kritik di atas digunakan dalam menentukan validitas sumber. Dalam mempelajari validitas sumber ini, maka sulit diadakan batasan, bila dikerjakan kritik eksternal dan bila dikerjakan kritik internal. Maka dari itu, walaupun suatu sumber telah lolos dalam kritik eksternal, belum tentu sumber tersebut lolos dalam kritik internal. 

Jenis-Jenis Penelitian Sejarah Penelitian sejarah banyak sekali macamnya. Akan tetapi secara umum Nazir (2005: 52) membaginya menjadi empat jenis, yaitu: 

1. Penelitian sejarah komparatif 
Jika penelitian dengan metode sejarah dikerjakan untuk membandingkan faktor-faktor dari fenomena-fenomena sejenis pada suatu periode masa lampau, maka penelitian tersebut dinamakan penelitian sejarah komparatif. Misalnya, ingin dibandingkan sistem pengajaran di Cina dan Jawa pada masa kerajaan Majapahit. Dalam hal ini, si peneliti ingin memperllihatkan unsur-unsur perbedaan dan persamaan dari fenomena-fenomena sejenis. Atau misalnya, seorang peneliti ingin membandingkan usaha tani serta faktor sosial yang mempengaruhi usaha tani dari beberapa negara dan membandingkannya dengan usaha tani Indonesia dalam tahaptahap tren waktu zaman pertengahan.

2. Penelitian Yuridis atau Legal 
Jika dalam metode sejarah diinginkan untuk menyelidiki hal-hal yang menyangkut dengan hukum, baik hukum formal ataupun hukum nonformal dalam masa yang lalu, maka penelitian sejarah tersebut digolongkan dalam penelitian yuridis. Misalnya, peneliti ingin mengetahui dan menganalisis tentang keputusan-keputusan pengadilan akibat-akibat hukum adat serta pengaruhnya terhadap suatu masyarakat pada masa lampau, serta ingin membuat generalisasi tentang pengaruh-pengaruh hukum tersebut atas masyarakat, maka penelitian sejarah tersebut termasuk dalam penelitian yuridis. 

3. Penelitan Biografis 
Metode sejarah yang digunakan untuk meneliti kehidupan seseorang dan hubungannya dengan masyarakat dinamakan penelitian biografis. Dalam penelitian ini, diteliti sifatsifat, watak, pengaruh, baik pengaruh lingkungan maupun pengaruh pemikiran dan ide dari subjek penelitian dalam masa hidupnya, serta pembentukan watak figur yang diterima selama hayatnya. Sumber-sumber data sejarah untuk penelitian biografis antara lain: surat-surat pribadi, buku harian, hasil karya seseorang, karangankarangan seseorang tentang figur yang diselidiki ataupun catatan-catatan teman dari orang yang diteliti tersebut. 

4. Penelitian Bibliografis 
Penelitian dengan metode sejarah untuk mencari, menganalisis, membuat interpretasi serta generalisasi dari fakta-fakta yang merupakan pendapat para ahli dalam suatu masalah atau suatu organisasi dikelompokkan dalam penelitian biografis. Penelitian ini mencakup hasil pemikiran dan ide yang telah ditulis oleh pemikir-pemikir dan ahliahli. Kerja penelitian ini termasuk menghimpun karya-karya tertentu dari seorang penulis atau seorang filosof dan menerbitkan kembali dokumen-dokumen unik yang dianggap hilang dan tersembunyi, seraya memberikan intepretasi serta generalisasi yang tepat terhadap karya-karya tersebut. 

Langkah-Langkah Pokok Metode Penelitian Sejarah 
Langkah-langkah pokok dalam penelitian sejarah Menurut Nazir (2005: 53) meliputi: 
1. Definisikan masalah. 
Untuk mendefenisikan masalah, tanyalah pertanyaan berikut pada diri sendiri: 
  • Apakah metode penelitian sejarah adalah metode terbaik untuk menjawab masalah tersebut? 
  • Apakah data-data yang diperlukan culup tersedia dan dapat diperoleh? 
  • Apakah hasil penelitian nantinya cukup berguna? 
1. Rumuskan tujuan penelitian. 
Dari masalah yang telah diformulasikan, maka rumuskan tujuan-tujuan penelitian. Hubungkan keberadaan teori dengan perumusan tujuan penelitian 

2. Rumuskan hipotesis. 
Rumuskan hipotesis sebagai keterangan sementara yang akan diuji kebenarannya. Keberadaan hipotesis akan memberikan arahan dan fokus bagi penelitian. 

3. Kumpulkan data. 
Pengumpulan data dimulai dari mengumpulkan data-data primer, dan dilanjutkan mengumpulkan data sekunder. 

4. Evaluasi data. 
Data yang dikumpulkan perlu dievaluasi dengan melakukan kritis eksternal dan kritis internal 

5. Interpretasi dan generalisasi. 
Analisis data serta buat interpretasi dan generalisasi dan fenomena-fenomena yang diselidiki.

6. Laporan.
Blog, Updated at: 02.54

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts