METODOLOGI SEJARAH DAN IMPLEMENTASI DALAM PENELITIAN

METODOLOGI SEJARAH DAN IMPLEMENTASI DALAM PENELITIAN
Dalam pengelompokannya, metodologi dan historiografi tergabung dalam mata kuliah keahlian berkarya, yang masing-masing mata kuliah itu mempunyai tujuan yang akan dicapai. Sesuai dengan tujuan mata kuliah yang mengharapkan mahasiswa memiliki pemahaman tentang berbagai konsep dan ruang lingkup yang berkaitan dengan metodologi sejarah, tulisan ini akan menguraikan prosedur-prosedur dalam penulisan skripsi kususnya penelitian sejarah murni. Untuk membekali pemahaman mahasiswa dalam penerapan metodologi sejarah, terlebih dahulu diuraikan perkembangan historiografi sejarah sebagai pedoman menulis hasil penelitian, sejarah apa yang akan ditulis. Dalam pelaksanaan penelitian, seseorang peneliti harus mengikuti langkah-langkah dalam penelitian sejarah yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Untuk memperkaya penjelasan sejarah maka diperlukan pendekatan terutama ilmu-ilmu sosial. 

Suatu saat mahasiswa program studi pendidikan sejarah akan sampai pada tahap penulisan karya ilmiah, kegiatan ini adalah wajib dan tuntutan bagi seseorang yang akan mengahiri studi. Dalam pelaksanaannya banyak mahasiswa mengalami kesulitan untuk memilih topik atau judul penelitian, banyak di antara mahasiswa mengajukan usul judul penelitian ditolak karena peristiwa yang mau diungkapkan sudah ditulis orang. Padahal menurut Zed (2005:1) hampir setiap persoalan sehari-hari dapat menjadi sumber inspirasi yang kaya dalam menemukan gagasan tentang masalah penelitian, umpamanya dapat dilihat dari isi-isu reformasi dewasa ini memerlukan penjelasan sejarah. Hanya saja karena kebanyakan ilmuwan ilmu sejarah, termasuk ilmuwan ilmu sosial cenderung a historis, sehingga reformasi sering hanya dijelaskan oleh pakar ilmu politik, hukum, ekonomi, sosiologi dan kebudayaan.

Guna membekali mahasiswa agar mampu menyusun skripsi, terutama menyangkut sejarah murni. Terlebih dulu mahasiswa harus mengikuti mata kuliah metodologi dan historiografi (3 sks), mata kuliah ini bertujuan menuntun mahasiswa agar memiliki pemahaman tentang berbagai konsep dan ruang lingkup yang berkaitan dengan metode dan metodologi sejarah, prosedur penelitian dan dapat melaksanakan penelitian sejarah (Alian, 2004: 9). Dengan demikiann lulusan program studi pendidikan sejarah tidak hanya professional pada bidang pendidikan sejarah, tetapi juga mampu mengemban tugas keilmuan dalam bidang ilmu sejarah.Tujuan yang paling fundamental dari setiap kegiatan ilmu pada prinsipnya sama yaitu menemukan dan menjelaskan gejala atau fenomena berdasarkan kerangkan pemikiran tertentu. Menemukan di sini artinya menemukan permasalahan permasalahan penelitian dan mengumpulkan data penelitian. Menjelaskan artinya menstrukturkan data atau fakta yang tersedia ke dalam hubungan-hubungan yang bisa dimengerti dalam suatu kerangka pemikiran tertentu atau teori. Dalam kedua tatanan kerja riset ilmia di atas (menemukan dan menjelaskan) tampak adanya kaitan erat antara dimensi teknis praktis dan teoritis. Keduanya tidak mungkin dipisahkan. 

Pada dasarnya metodologi adalah prosedur eksplanasi (penjelasan) yang digunakan suatu cabang ilmu, termasuk ilmu sejarah, oleh karena itu metodologi atau science of methods meruapakan ilmu yang membicarakan jalan (Kuntowijoyo, 1994: xii). Dengan demikian metodologi bisa diartikan ilmu atau kajian tentang metode (science of methods), cara atau prosedur, yang maksudnya adalah analisis tentang cara-cara, prinsip-prinsip atau prosedur yang akan menuntun, mengarahkan dalam penyelidikan satu bidang ilmu. Di sini adalah ilmu sejarah yaitu kenyataan tentang peristiwa yang terjadi di masa lampau, untuk disusun dijadikan sebuah cerita sejarah. http://dhaniiantika.blogspot.com/2011/06/metodologisejarah.html 

Penggarapan sejarah dengan menggunakan metodologi adalah hal yang mutlak, jika tidak seseorang penulis akan terjebak pada karya sejarah naratif. Karya seperti ini biasanya dihasilkan oleh penulis bukan ahli sejarah, yang banyak menghasilkan tulisan tanpa memakai teori dan metodologi. Dalam penggunaannya metodologi tidak berarti bagi penulis tanpa mengangkat masalah kerangkah teoritis dan konseptual, meskipun penulis menggunakan pendekatan karena pendekatan sebagai pokok metodologi hanya dapat dioperasionalisasikan dengan bantuan seperangkat konsep dan teori. Saat ini kebutuhan akan metodologi semakin perlu mengingat kemajuan ilmu pengetahuan di segala bidang. Peristiwa sejarah yang menyangkut berbagai aspek pada dimensi waktu yang berbeda, untuk itu diperlukan kemampuan menganalisis terhadap berbagai fakta, sangat diperlukan alat-alat analitis.

Perkembangan ilmu sejarah menunjukan bahwa penulisan sejarah konvensional sudah dianggap tidak memuaskan lagi di kalangan para sejarawan. Beberapa aspek yang mendukung adanya peristiwa sejarah sperti kekuatan-kekuatan yang bergerak dalam masyarakat dan kondisikondisi yang menentukan adanya situasi munculnya peristiwa sejarah ternyata belum terungkap. Oleh karena itu muncul perkembangan baru dalam penulisan sejarah, di antaranya metodologi struktural. Menulis dan penelitian sejarah, sudah jelas berhubungan dengan peristiwa masa lampau yang berkaitan dengan kegiatan manusia. Sesuai dengan sifatnya, riset sejarah memerlukan berpkir sejarah, artinya semua gejala atau proses selalu berlangsung dalam demensi waktu dan tahap-tahap perubahan yang sering ditakar dengan skala waktu (priodesasi). Peristiwa sejarah adalah rekaman cermat dan kritis serta analitis dari pengalaman kolektif manusia yang sudah terjadi. Sejarah bukan merupakan suatu yang timbul dari luar usaha manusia, dengan demikian manusialah sebagai pemegang peran dalam membuat cerita atauilmu sejarah, sehingga tidak terelakan bila ilmu sejarah ataupun cerita sejarah itu sifatnya serba subyak (Suswandari, 2003: 53). 

Hal ini sesuai dengan pendapat Djoko Soerjo, sejarah adalah rekonstruksi masa lalu, yaitu merekonstruksi apa saja yang sudah dipikirkan, dikerjakan, dikatakan, dirasakan, dan dialami oleh seseorang. Namun, perlu ditegaskan bahwa membangun kembali masa lalu bukanlah untuk kepentingan masa lalu itu sendiri. Sejarah memiliki kepentingan masa kini dan, bahkan, untuk masa yang akan datang. Oleh karena itu, orang tidak akan belajar dan mengkaji sejarah kalau tidak ada gunanya bagi kehidupan, dan kenyataannya, sejarah terus menerus dituliskan di setiap peradaban dan sepanjang waktu. Hal ini sebenarnya cukup bisa membuktikan bahwa sejarah itu adalah sangat diperlukan. 
http://initialdastroboy.wordpress.com/2011/07/11/metodologisejarah-teknik-verifikasi-sumber/. 

Tulisan ini akan menguraikan prosedur dalam penulisan skripsi khususnya penelitian sejarah murni, sebagai langkah awal untuk menuju pada penulisan terlebih dahulu akan diuraikan historiografi sejarah, hal ini bertujuan untuk memahami kriteria penulisan, sejarah apa yang dibuat. Selain itu diuraikan langkah-langkah dalam penelitian sejarah dan pentingnya pendekatan terutama pendekatan dari ilmu-ilmu sosial, agar dapat memprkaya penulisan sejarah. 

HISTORIOGRAFI SEJARAH 
Diakuinya sejarah sebagai ilmu memerlukan waktu yang cukup panjang. Pada masa sebelum Herodutus sejarah lebih nampak sebagai seni. Dalam kedudukannya sebagai seni, penulisan sejarah tidak perlu metodologi. Cerita sejarah yang menarik pada zaman Yunani dan Romawi adalah cerita tentang kepahlawanan (epos) yang di dalamnya banyak cerita yang berbau mitos. Misal cerita Ilyas dan Odyse. Cerita semacam ini tidak dapat dikatagorikan ke dalam ilmu pengetahuan sejarah. 

Contoh lain kisah tentang raja-raja Melayu yang dihubungkan dengan Iskandar Agung raja Macedonia, cerita sipahit lidah dan malin kundang. Penulisan sejarah pada zaman yunani menjadi berubah setelah adanya Herodutus dan Thucydides (Abad 5 SM). Karya Herodutus tentang tumbuh dan berkembangnya kerajaan Persia dan konfliknya dengan Yunani, dianggap tulisan pertama yang dilakukan secara sistematis dan konprehensif, yang menggunakan konsep sejarah lisan. Tulisan ini telah menggunakan pendekatan geografi dan antropologi. Oleh karena karyanya yang mempunyai bobot ilmiah ia dianggap bapak sejarah. Dalam penjelasannya ia memuji Yunani dan Persia, sehingga ia dianggap tidak patriotis. Namun demikian kelemahan tulisan Herodutos ia tidak ukurat dalam menjelaskan  tidak bisa menghindari sebab musabab supernatural. 

Sejarawan Yunani yang lain menghasilkan karya yang berbobot ilmiah bahkan melebihi Herodutus adalah Thucydides yang menceritakan peloponesos (431-404 BC). Cerita ini mengkisahkan antara negara Athena dan Sparta, antara demokrasi dan tirani yang dimenangkan oleh Athena. Tulisan ini adalah hasil kerja yang serius dan dilakukan dengan hati-hati, tidak berat sebelah (obyektif) dan fakta yang ditulis setelah melalui kritik sumber. Sekalipun sejarah yang ditulisnya terbatas pada aspek politik, diplomasi tetapi akurat dan menghindari penjelasan supernatural (Kuntowijoyo, 1995:38-39).

 Kebangkitan sejarah sebagai suatu disiplin ilmiah yang menggubakan metodologi mulai terjadi di Jerman dengan lahirnya tokoh metodologi Leovold von Ranke (1795-1886), seorang sejarawan dari Universitas Berlin yang berhasil menyusun suatu metode ilmiah untuk sejarah pada tahun 1824 yang kemudian digunakan pula di berbagai universitas di Eropa dan Amerika Serikat, serta pihak kolonial di Indonesia, Ranke inilah yang diangggap bapak historiografi modern. Menurutnya tugas ilmu sejarah adalah menunjukan apa yang benar-benar telah terjadi.

Penulisan sejarah yang dikembangkan Ranke sangat terkait pada peristiwa kebesaran sejarah nasional. Sekalipun Ranke mengawali pemunculannya dengan sejarah yang berjangkauan luas seperti orang-orang Roman dan German yang tersebar di Eropa barat. Akan tetapi dalam karir berikutnya tulisaan Ranke lebih banyak pada sejarah bangsa tertentu di Eropa. Oleh sebab itu tidak mengherankan bagi Ranke, sejarah adalah sejarah nasional dan menyangkut peristiwa yang terkait dengan orang-oraang besar, para negarawan, para jenderal, rohaniawan. Penulisan sejarah seperti ini dikembangkan juga oleh pihak kolonial di Indonesia yang kemudian diteruskan oleh penulis sejarah di tanah air. Terutama sejarah politik yang menyangkut prilaku para penguasa. Maka tidaklah mengherankan kalau terjadi pergantian penguasa maka terjadi pula pergantian isi buku. Buku-buku tersebut tidak sekedar mengandung sejarah politik, tetapi sejarah alat politik.

Pada awal-awal kemerdekaan bangsa Indonesia disugguhi bacaan sejarah Indonesia pada priode kolonial, penggambaran peristiwa sejarah bukanlah menekankan dinamika masyarakat Indonesia dalam suatu sistem tertentu melainkan lebih diarahkan untuk menyalahkan kolonialisme atau membenarkan apa yang dilakukan kelompok pribumi. Akibatnya, orang hanya berbicara tentang kelicikan politik devide et impera atau kekejaman onderneming, bangsa kolonial adalah bangsa penjajah yang sangat menakutkan dan memang semasa penjajahan begitu banyak orang Indonesia yang termakan bujuk rayu politik pecah pebela Belanda sehingga banyak tindakan mereka lebih kejam dari bangsa Belanda sendiri, inilah yang tidak banyak tergambar, artinya lupa dengan “kekonyolan” yang dimainkan oleh para elite tradisional, keuntungan yang diperoleh dari perkebunan oleh para elite sangat besar. 

Tradisi penulisan sejarah Indonesia pada masa kolonial secara sengaja menutup mata dari konsep interaksi, dan melupakan bahwa pada saat itu secara sosial, kultural, maupun psikologis yang ada bukan hanya kolonial barat atau asing melainkan juga bumiputra yang saling mempengaruhi dan berkepentingan. Adanya pemberontakan petani di Banten tahun 1888, telah mematahkan sejarah kolonial yang memandang rakyat Indonesia tidak memainkan peranan yang aktif, pemberontakan ini merupakan gerakan sosial yang melakukan pemberontakan terhadap Belanda. Secara metodologi penjelasan sejarah yang tidak menjelaskan peran rakyat Indonesia ini berarti uraian yang berat sebelah, tentunya para pembaca ada yang menduga ketidak jelasan peran pribumi disebabkan keterbatasan sumber, namun mungkin juga suatu kesengajaan penulis menyembunyikan fakta yang ada. Selain itu, kesalahan masa lalu penulisan sejarah nasional yang difokuskan pada Jawa sentris ingin diubah menjadi sentris yang lain seperti Bugis sentris atau Minang Sentris (Purwanto, 1997: 105). 

Di antara kelompok sejarawan Annales yang paling terkemuka dan yang membuat aliran itu semakin terkenal di universitas-universitas didunia, ialah Fernand Braudel (1902- 1985). Ia bahkan dianggap sebagai sejarawan paling terkemuka abad ke-20. Kerangka analisis Braudel telah menjadi inspirasi bagi ahli ilmu-ilmu sosial termasuk sejarawan dalam mengembangkan pendekatan dalam suatu penelitian, pengembangan ini sering juga disebut sejarah struktural, yang corak penulisan sejarah dan analisanya terhadap fenomenafenomena sejarah yang menggunakan pendekatan struktural, manusia sebagai pendukung sejarah berada dalam struktur yang ada dalam aspek kehidupan manusia. Salah satu sumbangan yang terbesar dari kelompok Annales dalam perkembangan ilmu sejarah adalah keberhasilannya menarik para sejarawan terhadap berbagai isu fundamental dan teori sosial. Sejarah struktural yang dinginkan oleh Fernand Braudel merupakan pandangan dari sebuah eksplanasi sosial yang menekankan pada pengaruh yang menentukan dari struktur terhadap masyarakatt yang ada di dalamnya. Tidak ada sejarah yang sepihak, oleh sebab itu menrurut Braudel, sejarawan berhubungan dengan “dialektika” perjalanan waktu dan memiliki tujuan membentuk keseimbanngan dalam penjelasan.

di Indonesia, sudah dibahas ketika diselenggarakan seminar sejarah nasional di Yogyakarta tahun 1957. Sejak saat itu perkembangan historioggrafi sejarah Indonesia secara umum dipengaruhi dua konsep besar yaitu “Indonesia sentris” dan “pendekatan multidemensional” terobosan ini bertujuan untuk mencari jalan menulis kembali sejarah Indonesia untuk kepentingan Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Umum, sehingga bisa menggantikan buku-buku sejarah kolonial. Dalam kesempatan itulah muncul suatu patokan yang dinamakan “sejarah Indonesia sentris” (Leirissa, 1994). Namun patut disayangkan upaya itu tidak bisa segera terwujud karena suasana politik. Baru pada tahun 1971 Depdikbud mencoba meluncurkan buku sejarah yang lebih baik (Sejarah Nasional Indonesia 6 jilid). Secara metodologis rumusan tersebut mengandung implikasi bahwa sejarah Indonesia yang diinginkan adalah sejarah yang berwawasan kebangsaan. Penulisan sejara untuk kepentingan pendidikan (sejarah paedagogis) yang muncul sejak itu sampai sekarang memang berpatokan pada kaidah ini.

Di kalangan “sejarawan akademik” Sartono Kartodirdjo-lah yang bisa disebut sebagai pelopor dalam sejarah sosial Indonesia. Nampaknya pengaruh seminar sejarah sejarah pertama yang diselenggarakan di Yogyakarta tahun 1957, yang dikenal dengan semboyan “sejarah Indonesia sentris” sangat membekas padanya. Ketika menghadiri seminar, ia baru tamat dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan menjadi satu-satunya sejarawan profesional Indonesia yang berperan dalam seminar itu. Kemudian ia mengajar di Universitas Gajah Mada. Setelah meneruskan sekolah di Amsterdam dengan Desertasi Pemberontakan Petani Banten tahun 1888, merupakan karya pelopor, bukan saja dalam historiografi Indonesia, tetapi dalam historiografi akademik pada umumnya (Leirissa, 1994).

Sebuah contoh dalam karya sejarah yang sangat menarik dan enak dibaca adalah pemberontakan petani Banten tahun 1888. Penggunaan konsep-konsep dasar dari berbagai ilmu sosial telah digunakan Sartono Kartodirdjo dalam menyoroti pemeberontakan petani di Banten pada tahun 1888 secara efisien dan produktif. Konsep-konsep yang digunakan misalnya, kelompok sosial, struktur sosial, stratifikasi sosial, mesianisme, nativisme, kebudayaan dan lain-lain. Dengan menggabungkan metode penelitian sejarah dengan berbagai konsep sosiologis dan antropologis, Sartono memunculkan “petani” bukan saja sebagai aktor sejarah tetapi juga sebagai faktor sejarah dalam masyarakat kolonial abad ke- 19. Ini adalah perbaikan, tidak saja terhadap historiografi kolonial, tetapi juga terhadap historiografi Indonesia. Pendekatan sejarah sosial yang kemudian lebih dikenal sebagai pendekatan multi-interpretability atau pendekatan multidimensional (Kartodirdjo, 1983), banyak diikuti penulis lainnya, baik kalangan mahasiswa yang menulis skripsi maupun sejarawan akademik.

PENELITIAN SEJARAAH 
Sudah menjadi kebiasaan yang sangat baik bagi program studi pendidikan sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sriwijaya, yaitu seminar proposal. Seminar ini dilaksanakan sebelum mahasiswa terjun ke lapangan untuk mengadakan penelitian. Melalui kegiatan ini pula memunculkan pengalaman penulis, terhadap beberapa proposal yang dibuat mahasiswa. Banyak proposal itu belum mencerminkan perumusan masalah penelitian yang belum jelas, karena tidak didasarkan pada suatu penelitian kepustakaan yang sesungguhnya. Kesalahan-kesalahan dalam merumuskan masalah ini disebakan karena: 
  1. Ide pertanyaan penelitian tidak bersandar pada bahan bacaan yang kuat, kecuali hanya apa yang teringat secara kira-kiran sepintas lalu. 
  2. Tidak melakukan seleksi kritis terhadap masalah penelitian sampai ia menulis draf kasar proposal. 
  3. Kalaupun ada, mahasiswa memutuskan ide penelitian secara tergsa-gesa dan terlalu kabur untuk diteliti secara bermakna.
  4. Perumusan tujuan masih kabur akhirnya tidak bisa dibuktikan. 
  5. Gagal mempertimbangkan pilihan metode dan prosedur analisis yang spesifik dan tepat untuk kasus penelitian yang direncanakan (Zed, 2005:6). 
Seseorang yang akan mengadakan penelitian hendaklah ia awali dengan memilih subyek penelitian (topik, tema atau judul). Seringkali mahasiswa atau peneliti sejarah kesulitan menemukan tema atau judul. Banyak alasan (kurang sumber, sudah banyak digarap orang), bahkan sering membuat frustasi. Pemilihan tema atau judul, menyangkut minat yang menjadi modal utama. Ada kecenderungan seseorang memilih tema menyangkut peristiwa yang terjadi di daerahnya, hal ini berarti ada kedekatan emosional, dengan harapan akan memudahkan peneliti untuk mengumpulkan data, kemungkinan seseorang ingin berbakti kepada desa atau daeranya sebagai tempat yang telah membesarkannya jika ini terjadi tidak menjadi masalah asalkan datanya ada dan dapat dipertanggung jawabkan. 

Setelah dapat tema carilah sumbernya apakah tersediah di berbagai pustakaan, tokoh-tokoh buku, bahkan dari teman. Lihat juga bahasa sumber, carilah topik yang dapat dikerjakan sesuai dengan kemampuan sehinggga dapat diselesaikan sesuai dengan rencana. Pemilihan topik hendaknya dilandasi kenyataan bahwa ada hal-hal tertentu yang dianggap unik (khas) karena tidak terjadi di tempat-tempat lain. Dalam memilih tema atau topik dan judul haruslah mempedomani 5W dan 1 H yaitu 1. What, menyangkut aktifitasnya. 2. When, menyangkut waktu, priode kapan yang akan kita teliti. 3. Who, siapa tokoh atau pelaku yang menjadi pusat perhatian si peneliti. 4. Where, wilayah/daerah mana yang ingin dipelajari (lingkup spasial). 5. Why, mengapa hal itu terjadi. 6. How, bagaimana peristiwa atau kejadian itu terjadi. Seseorang peneliti tentunya mengawali kegiatan dalam mencari topik dengan mengunjungi berbagai perpustakaan, topik penelitian sering muncul dari hasil bacaan, oleh karena itu sangat dianjurkan membaca beberapa buku dengan teliti guna menemukan masalah yang pas untuk diteliti. Setelah itu buatlah evaluasi dari isi buku tersebut, perhatikan kesalahan-kesalahan yang muncul dalam bacaan tersebut. Bedakan antara buku yang kadar ilmiahnya tinggi dan yang rendah untuk bagian ini biasanya menyangkut kualitas pengarang buku tersebut. 

LANGKAH DALAM PENELITIAN SEJARAH 
1. Heuristik 
Heuristik berasal dari kata Yunani hueriskan yang artinya mempeoleh (Renier, 1997: 113). Heuristik adalah teknik atau cara-cara untuk menemukan sumber yang bisa didapat melalui studi kepustakaan, pengamatan secara langsung di lapangan (jika memungkinkan), melalui interview untuk sejarah kontemporer. Penelitian sejarah yang dilakukan oleh mahasiswa biasanya hanya menggunakan sumber skunder, berupa buku-buku yang ditulis orang tentang suatu masalah, hal ini tidak masalah asal penggunaannya menggunakan kaedah-kaedah dalam penelitian sejarah. Idealnya peneliti mendapatkan sumber primer yang biasanya banyak terdapat di arsip nasional Jakarta terutama yang menyangkut dokumen kolonial dan perpusatakaan nasional Jakarta. 

Namun demikian, sumber primer tidak hanya terdapat di arsip nasional, mungkin juga terdapat di arsip-arsip pemerintahan. Misalnya, jika seseorang peneliti yang meneliti perpindahan pusat kegiatan ekonomi dari pasar 16 ilir ke Jaka Baring Palembang, tentunya kebijakan ini diambil oleh pemerintah daerah Palembang dengan alasan-alasan yang jelas dan data ini ada pada bagian pemerintahan kota. Saat ini data sejarah bisa didapat dari berbagai macam cara selain studi pustaka, sumber sejarah dapat juga diakses melalalui media cetak dan elektronik. Yang lebih pokok bagi seorang peneliti bagaimana menangani bukti-bukti sejarah dan bagaimana menghubungkannya.  

Dengan demikian dapat dipahami bahwa heuristik adalah upaya penelitian yang mendalam untuk menghimpun jejak sejarah atau mengumpulkan dokumen-dokumen agar dapat mengetahui segala bentuk peristiwa atau kejadian-kejadian bersejarah di masa lampau. Dalam pelaksanaannya kegiatan ini adalah suatu teknik atau suatu seni, keberhasilan seseorang dalam mencari sumber pada dasarnya tergantung dari wawasan peneliti mengenai sumber yang dikumpulkan.

Kegiatan menghimpun jejak-jejak sejarah biasanya dilakukan di perpustakan, tinjauan kepustakaan hanya dapat dilakukan apa bila topik yang akan dipelajari telah dipilih dan dirumuskan. Setelah topik penelitian dirumuskan, maka dibuat seleksi atas buku-buku yang menyangkut topik tersebut untuk dipelajari dengan seksama. Hanya buku-buku yang terkait langsung dengan topik yang dipilih itulah yang disisihkan untuk dipelajari dengan seksama. Tujuan mempelajari buku-buku yang bersangkutan dengan seksama adalah untuk memahami metodologi dan teori yang digunakan dalam masing-masing buku. 

Kemudian sedapat mungkin pengetahuan faktual yang dikemukakan dalam buku-buku itu dikaitkan dengan topik yang dipilih. Untuk membedakan peneliti satu dengan yang lain tentunya berbeda apa yang dicari dan yang didapat, itulah makanya disarankan pada peneliti untuk menyampaikan ke mana saja melakukan heuristik, perpustakaan mana saja materi dan buku apa yang diketemukan. 

Menurut Kunia, otentisitas suatu sumber sejarah minimal dapat diuji berdasarkan lima pertanyaan pokok sebagai berikut: 
1) Kapan sumber itu dibuat. 
Peneliti harus menemukan tanggal pembuatan dokumen yang dijadikan sumber penulisan sejarah. Akan lebih baik kalau peneliti dapat menemukan sumber yang tahun pembuatannya lebih muda. 

2) Di mana sumber itu dibuat. 
Peneliti harus mengetahui asal usul dan lokasi pembuatan sumber yang dapat menciptakan keasliannya. 

3) Siapa yang membuat. 
Hal ini mengharuskan adanya penyelidikan atas kepengarangan. Jadi setelah diketahui siapa pengarang dari suatu dokumen, peneliti sejarah berusaha untuk melakukan identifikasi terhadap pengarang mengenai sikap, watak, pendidikan, dan sebagainya yang berhubungan dengan sumber dokumen yang ia ciptakan tentang satu peristiwa sejarah di masa lampau yang langsung berhubungan dengan dirinya. Idealnya peneliti dapat mengidentifikasi pengarang buku atau dokumen yang digunakan dalam sumber penelitian, meskipun mereka satu kelompok tetapi karena terjadi perpecaha tentunya motif mereka juga berbeda. Jika perlu seorang peneliti dapat menganalisa bahasa yang digunakan, apakah gaya bahasa tersebut cocok dengan kebiasaan yang bersangkutan. 

4) Dari bahan apa sumber itu dibuat. 
Untuk hal ini analisis terhadap bahan atau materi yang berlaku pada zaman tertentu bisa menunjukan otentisitas. Beberapa pertimbangan yang dapat dipakai untuk menguji keaslian bahan dokumen, misalnya, kertas masih jarang ditemukan sebelum abad ke-15, dan percetakan tidak dikenal; potlot masih sulit ditemukan pada sebelum abad ke-16; dan kertas (India) baru ada pada akhir abad ke-19. Teknik menganalisa kertas dan tinta yang digunakan saat ini sudah dapat dilakukan. 

5) Apakah sumber itu dalam bentuk asli. 
Peneliti sejarah menguji mengenai integritas sumber sejarah. Kecacatan sumber sejarah dimungkinkan terjadi pada bagian-bagian dokumen atau keseluruhannya, yang disebabkan oleh usaha sengaja untuk memalsukan atau kesalahan disengaja oleh seseorang atau kelompok tertentu. Dalam banyak hal teks asli dapat direstorasi secara mendekati atau secara lengkap. Dalam pada itu pula peneliti sejarah harus berusaha untuk menetapkan kopi mana yang paling mendekati dokumen asli dalam aspek waktunya. Jika sumber itu tulisan tangan, peneliti dapat membanding-baningkan antara tanda tangan satu dengan yang lainnya http://initialdastroboy.wordpress.com/2011/07/11/metodologisejarah-teknik-verifikasi-sumber/ 

2. Kritik sumber 
Kritik sumber adalah proses menguji sumber, apakah sumber yang diketemukan asli atau palsu (kritiik ekstern) dan apakah isinya dapat dipercaya atau dipertanggung jawabkan atau tidak (kritik intern). Kritik ada dua macam: 

a. Kritik ekstern 
Kritik ekstern adalah penentuan asli atau tidaknya suatu sumber atau dokumen. Idealnya seseorang menemukan sumber yang asli bukan rangkapnya apa lagi foto kopinya. Apa lagi jaman sekarang kadang-kadang sulit membedakan asli atau bukan. Verifikasi atau pengujian sumber pada tahap ini, menyangkut aspek-aspek luar dari sumber terbut, di mana kapan dan siapa penulis sumber tersebuut (AB Yass, 2004: 35). 

b. Kritik intern 
Kritik intern adalah penentuan dapat tidaknya keterangan dalam dokumen digunakan sebagai fakta sejarah. Biasanya yang dicari adalah keterangan-keterangan yang benar. Tetapi keterangan yang tidak benar juga merupakan kerangan yang berguna, yang berarti ada pihak yang berusaha menyembunyikan kebenaran, ini ada hubungan dengan motif seseorang untuk menyembunyikan kebenaran sejarah. Implementasi tahap ini bagi seseorang peneliti yang sedang menyusun skripsi sangatlah perlu dilakukan, paling tidak anda melakukan kritik intern. Dengan membandingkan antara isi buku tentang hal yang sama tetapi terdapat perbedaan keterangan. Sebagai peneliti meskipun masih dalam tahap pembuatan skripsi, hendaknya melakukan pengujian atas data yang diperoleh, seperti: melakukan evaluasi terhadap isi buku yang telah dibaca, perhatikan kesalahan-kesalahan yang muncul dalam bacaan. 

Perhatikan pula apakah argumentasi yang digunakan relevan atau tidak, selain itu peneliti dapat membedakan isi buku yang kadar ilmiahnya tinggi dan yang rendah. Sebagai ilmu sejarah termasuk ilmu empiris maka sangatlah penting untuk menyaring fakta-fakta sejarah yang didapat dari sumber sejarah. Fakta sejarah didapat dari dokumen sejarah, sebagai hasil interpretasi. Dari interpretasi atas fakta-fakta barulah muncul tulisan sejarah. Teori dan konsep hanya merupakan alat untuk mempermudah analisis dan sintesis sejarah. Dalam bidang sejarah sumber dari dokumentasi jarang didapat, tentunya peneliti harus mencari bukti dari jenis lain namun harus berhati-hati pula dalam mengambil keputusan apakah keterangan itu benar-benar mengena dengan masalah penelitian. Menurut teori sumber-sumber yang didapat haruslah diteliti terlebih dahulu, pelaksanaan menulis dilakukan setelah sumber terkumpul. 

3. Interpretasi 
Fakta yang terkumpul dan telah siap untuk digunakan itu belum berguna, jika belum diberi arti. Fakta nampak mempunyai arti bila telah dimulai dihubungkan dan dibandingkan satu sama lain, inilah permulaan mengadakan penafsiran fakta. Interpretasi adalah menetapkan makna dan saling hubungan antara fakta-fakta yang diperoleh. Interpretasi diperlukan agar data yang mati bisa bicara atau mempunyai arti. Suatu peristiwa sejarah bisa ditafsirkan ulang oleh orang lain. Penafsiran yang berlainan tentang fakta-fakta sejarah mungkin saja terjadi, tergantung dari sudut pandang mana seseorang melihat peristiwa. Interpretasi ada dua macam, yaitu analisis dan sentesis. Analisis berarti menguraikan. 

Kadang-kadang sebuah sumber mengandung beberapa kemungkinan, misal seseorang menemukan daftar pengurus suatu ormas, dari kelompok sosialnya tertera di situ ada petani, pedagang, pns, orang swasta, guru, tukang, mandor. Dari data ini dapat disimpulkan bahwa ormas itu terbuka untuk umum. Sentesis artinya menyatukan, misal ditemukan data terjadi pertempuran, rapat-rapat, mobilisasi massa, pergantian pejabat, pembunuhan, orang-orang mengungsi, penurunan dan pengibaran bendera. Dari data ini dapat disimpulkan bahwa telah terjadi revolusi. Jadi revolusi adalah hasil interpretasi setelah data itu dikelompokan menjadi satu (Kutowijoyo, 1995: 100-101).

4. Hepotesa 
Dalam penelitian jenjang S 1 hepotesa jarang digunakan karena penelitian yang dibuat biasanya sudah ditulis orang, apa lagi peneliti menggunakan sumber skunder. Akan tetapi jika masalah yang diteliti menyangkut hal-hal yang belum jelas maka hepotesa dapat dilakukan. 

5. Historiografi
Historiografi adalah penulisan hasil penelitian. Historiografi adalah rekontruksi yang imajinatif dari masa lampau berdasarkan data yang diperoleh dengan menempuh proses (Gootschalk, 1986: 32). Penulisan laporan disusun berdasarkan serialisasi (kronologis, kausasi dan imajinasi). Penulisan sejarah sedapat mungkin disusun berdasarkan kronologis ini sangat penting agar peristiwa sejarah tidak menjadi kacau. Aspek kronologi dalam penulisan sejarah sangatlah penting, dalam ilmu-ilmu sosial mungkin aspek tahun tidak terlallu penting, dalam ilmu sosial kecuali sejarah orang berpikir tentang sistematika tidak tentang kronologi. Dalam ilmu sosial perubahan akan dikerjakan dengan sistematika seperrti perubahan ekonomi, perubahan masyarakat, perubahan politik dan perubahan kebudayaan. 

Dalam ilmu sejarah perubahan sosial itu akan diurutkan kronologinya (Kotowijoyo, 1995: 103). Selanjutnya cerita sejarah hendaknya disusun berdasarkan sebab akibat (kausasi). Proses mencari sebab dan akibat akan memperjelas jalannya suatu peristiwa. Suatu cerita sejarah yang terputus-putus karena datanya tidak lengkap, dapat diisi dengan imajinasi. Pengertian imajinasi di sini bukan dalam arti imajinasi yang fiktif seperti terdapat pada sastrawan, tetapi imajinasi yang masih dituntun oleh fakta sejarah yang ada. Selain itu penulisan sejarah dapat dilakukan dengan cara koligasi. Yang dimaksud proses koligasi adalah suatu cara sejarawan menerangkan kejadian atau peritiwa yang dipelajarinya, yaitu dengan menelusuri kejadian-kejadian yang secara sekilas tidak berhubungan, tetapi setelah ditelusuri ternyata mempunyai hubungan yang erat. 

6. Pendekatan 
Pendekatan adalah sudut pandang yang digunakan dalam meninjau serta mengupas suatu permasalahan. Dari segi mana peneliti memandangnya, dimensi mana yang diperhatikan, unsur-unsur apa mana yang diungkapkan. Hasil pelukisannya akan sangat ditentukan oleh jenis pendekatan yang dipakai (Kartodirdjo, 1993: 4). Di dalam penelitian sejarah yang sangat kompleks sifatnya diperlukan pendekatan multidimensional (approach multidimensi artinya pendekatan yang bersgi banyak). Analisis berdasarkan interpretasi satu paktor, misalnya faktor politik saja sudah barang tentu tidak akan mencukupi untuk menerangkan pola-pola sejarah.Ekspalasi itu diperoleh melalui analisis. Untuk memperjelas analisis, dalam proses penulisan sejarah, aplikasi metode dan teori sejarah perlu ditunjang oleh teori atau konsep ilmu-ilmu sosial yang relevan. Dengan kata lain, perlu dilakukan penulisan sejarah yang dituntut memberikan eksplanasi mengenai masalah yang terbatas, perlu dilakukan secara interdisipliner dengan menggunakan pendekatan multidimensional (multidimensional approach).

Gambaran mengenai suatu peristiwa sejarah akan lebih baik jika dantu dengan penjelasan yang menggunakan pendekatan tertentu terutama ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, politik, ekonomi dan geografi. Untuk itu penjelasan materi skripsi  akan lebih luas dan bermagna jika peneliti mengggunakan pendekatan. Namun demikian, penggunaan pendekatan bukanlah suatu tren untuk lebih menariknya skripsi, karena konsekuensinya jika peneliti memasukan pendekatan dalam penelitian, berarti harus ada kesiapan jika diminta para penguji menunjukan kajian sejarah dalam skripsi yang didekati dengan ilmu-ilmu lain.
Blog, Updated at: 10.22

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts