PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS AGAMA

PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS AGAMA
Pengalaman sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan bahwa pendidikan adalah alat penting perjuangan dalam mencapai kemerdekaan, integritas bangsa, maupun pembangunan nasional. Pendidikan sebagai alat perjuangan membangun integritas nasional telah dimulai sejak masa pergerakan kebangsaan melawan penjajah sekitar dasawarsa pertama abad XX, dengan tujuan mencapai kemerdekaan. Selanjutnya pembangunan satu kesatuan sistem pendidikan dilaksanakan sesudah pencapaian kemerdekaan untuk mewujudkan cita-cita negara kebangsaan yang dapat melindungi kedaulatan pemerintah Republik Indonesia, menjamin persatuan dan kesatuan bangsa, keamanan, dan keadilan bagi warga negaranya. Pada masa pembangunan dewasa ini, pengembangan sistem pendidikan nasional telah semakin maju dan diharapkan lebih dapat memberikan kemakmuran bagi warganya, di samping persatuan dan kesatuan bangsa serta pembentukan kepribadian dan budaya bangsa (Sodiq A. Kuntoro, 2006:132). 

K.H. Ahmad Dahlan adalah salah satu tokoh pendidikan yang turut memperjuangkan nasib bangsa Indonesia dalam bidang pendidikannya. Organisasi Muhammadiyah yang didirikannya menjadi salah satu gerakan pendidikan dari kelompok agama (Islam). Arti penting berdirinya Muhammadiyah saat itu menurut Sodiq A. Kuntoro (2006:136) adalah pertama, pergulatan pendidikan dalam masa pergerakan kebangsaan menjadi memiliki basis yang luas bagi masyarakat pribumi; kedua, semangat dan nilai-nilai keagamaan (Islam) ikut mewarnai dan menjadi basis pergerakan kebangsaan. Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan mengarahkan kegiatannya pada pemurnian keyakinan dan pelaksanaan ajaran Islam di kalangan umat yang saat itu mengalami penyimpangan, kejenuhan, kemandegan, serta kemerosotan. 

K.H. Ahmad Dahlan berpandangan bahwa keadaan masyarakat yang menyedihkan secara ekonomi, politik, sosial, dan budaya akibat penjajahan dan kehidupan agama yang kurang sesuai dengan Qur’an dan Hadits menyebabkan sikap yang fatalistik dan statis, yaitu menerima keadaan buruk dan penderitaan sebagai pemberian. Untuk mengatasi keadaan ini diperlukan kebangkitan kesadaran baru agar masyarakat memiliki kepercayaan diri (self reliance) untuk mengubah dirinya. Bagi orang yang taat agama, kembali pada ajaran Qur’an dan Hadits diyakini sebagai cara membangun kembali jati diri (self identity) dan kepercayaan diri, keberanian untuk berjuang melawan kemungkaran (penindasan) serta mempunyai kemauan untuk membangun kebaikan (kemerdekaan) (Sodiq A. Kuntoro, 2006:138). Hal ini menjadi dasar perjuangan pendidikan Muhammadiyah. 

Kondisi tersebut di atas yang melatarbelakangi pemikiran K.H. Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan. K.H. Ahmad Dahlan adalah pelopor pendidikan Islam yang memadukan antara pendidikan agama dan ilmu pengetahuan umum. Dalam pendidikan Muhammadiyah, dua sisi kebutuhan dasar hidup manusia, kebutuhan material dan spiritual berusaha dikembangkan secara harmonis (Sodiq A. Kuntoro, 2006:135). Latar belakang yang mendasari konsep pemikirannya ini karena ia merasakan bahwa pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah Hindia Belanda saat itu bersifat sekular dan tidak sesuai  dengan kondisi masyarakat Indonesia yang agamis (Hasbullah, 2001:30). Pendidikan di sekolah saat itu hanya memberikan ilmu pengetahuan umum saja tanpa ada pembelajaran tentang ilmu agama. Padahal, menurut beliau pengetahuan agama perlu ditanamkan guna menunjang pendidikan moral bagi para siswanya. Sebaliknya, pendidikan tradisional milik kaum pribumi saat itu adalah pesantren juga hanya memberikan pengetahuan agama saja tanpa memberikan pelajaran pengetahuan umum. Menurut K.H. Ahmad Dahlan yang demikian pun juga memiliki kekurangan, karena siswa menjadi terbatas pengetahuannya dan tidak maju (Hasbullah, 2001:29). Berdasarkan kondisi tersebut, akhirnya ia mendirikan sekolah Muhammadiyah yang mengajarkan agama dan pengetahuan umum secara bersamasama. 

 Pendidikan Muhammadiyah yang didirikan K.H. Ahmad Dahlan saat itu memelopori pendidikan yang menyatukan pengetahuan agama dengan pengetahuan umum sekaligus. Dengan demikian dua sisi kebutuhan dasar hidup manusia, kebutuhan material dan spiritual dapat dikembangkan secara harmonis. Di sekolah Muhammadiyah diajarkan pula Bahasa Arab sebagai mata pelajaran sehingga pemahaman mengenai Qur’an dan Hadist dapat dilakukan secara bebas oleh siswa sendiri. Anak-anak dengan demikian memperolah kebebasan berfikir dalam memahami agama (Mitsuo Nakamura yang dikutip dalam Sodiq A. Kuntoro, 2006:139). Kebebasan berfikir ini yang diharapkan sebagai proses yang membebaskan anak, sehingga tidak merasa terkekang dan merasa senang belajar agama. 

Dibutuhkan sistem pendidikan yang memiliki materi yang komprehensif serta ditopang oleh pengelolaan dan pelaksanaan yang benar untuk membangun manusia yang memiliki nilai-nilai karakter seperti dirumuskan dalam tujuan pendidikan nasional. Terkait dengan hal ini, pendidikan Muhammadiyah yang mengembangkan nilai-nilai agama Islam dan pengetahuan umum seperti yang telah diangkat dalam konsep pendidikan K.H. Ahmad Dahlan memiliki tujuan yang seiring dengan tujuan pendidikan nasional. Secara umum pendidikan Islam mengembang misi utama memanusiakan manusia, yakni menjadikan manusia mampu mengembang seluruh potensi yang dimilikinya sehingga berfungsi maksimal sesuai dengan aturan-aturan yang digariskan dalam Al Quran dan Hadits, yang pada akhirnya akan terwujud manusia yang utuh (Marzuki, 2011:467). 

Konsep pendidikan K.H. Ahmad Dahlan mengacu pada sistem ajaran Islam. Sistem ajaran Islam dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu bagian aqidah (keyakinan), bagian syariah (aturan-aturan hukum tentang ibadah, dan muamalah), dan bagian akhlak (karakter). Ketiga bagian tersebut tidak dapat dipisahkan, harus menjadi satu kesatuan yang utuh yang saling memengaruhi. Aqidah merupakan pondasi yang menjadi tumpuan terwujudnya syariah dan akhlak. Sementara itu, syariah merupakan bentuk bangunan yang hanya bisa terwujud bila dilandasi oleh aqidah yang benar dan akan mengarah pada pencapaian akhlak (karakter) yang seutuhnya (Marzuki, 2011:468). Dengan demikian, akhlak (karakter) sebenarnya merupakan hasil atau akibat dari terwujudnya bangunan syariah yang benar yang dilandasi oleh pondasi aqidah yang kokoh. Tanpa aqidah dan syariah tidak akan terwujud akhlak (karakter) yang sebenarnya. 

Pendidikan karakter tidak terlepas dari penanaman nilai-nilai moral dan keagamaan bagi siswa. Kesadaran akan pentingnya nilai, moral dan keagamaan serta pengembangan pengajaran yang memadukan keimanan dan ketaqwaan sejalan dengan esensi pendidikan sebagai sarana perubahan. Paulo Freire yang dikutip dalam Firdaus M. Yunus (2007: 1) menyatakan bahwa pendidikan dipandang sebagai salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi manusia menjadi manusia agar terhindar dari berbagai bentuk penindasan, kebodohan, sampai ketertinggalan. Oleh karenanya sebagai pusat pendidikan, manusia harus menjadikan pendidikan sebagai alat pembebasan guna mengantarkan dirinya menjadi makhluk yang bermartabat. Pernyataan ini menunjukkan pentingnya fungsi pendidikan dalam membentuk manusia yang ideal. 

Pendidikan karakter yang selama ini diwacanakan di negara kita lebih banyak berorientasi ke Barat, lebih banyak mempergunakan referensi-referensi dari Barat. Kenyataannya, konsep nilai yang terkandung dalam pendidikan karakter tersebut, antara Barat dengan Timur jauh berbeda. Nilai yang diartikan sebagai “konsep tentang yang baik dan yang diinginkan” dapat diterima di Barat maupun di Timur (Harun Nasution, 1998:289). Yang menjadi permasalahan ialah kriteria apa yang dipakai untuk menentukan yang baik dan yang diinginkan itu. Orang di Barat lebih memakai akal sedang orang Timur lebih memakai nilai-nilai agama dan kebudayaan sebagai basis nilai pengembangan karakter. Terjadilah di sini perbedaan tentang nilai-nilai. Apa yang dianggap orang Barat baik, kemungkinan dianggap orang Timur sebaliknya. Dimasukkannya nilai-nilai Barat ke Timur menimbulkan kekacauan nilai dalam masyarakat di Timur. 

Sesuai dengan pendapat yang ada di Barat, bahwa agama adalah hasil pemikiran manusia, nilai-nilai agama disejajarkan dengan nilai-nilai ekonomi, politik, pengetahuan, susila, dan sebagainya. Akibatnya nilai-nilai itu berkembang dalam kelompoknya masingmasing, terlepas dari kelompok-kelompok lainnya. Sedangkan pengertian di Timur, nilai ekonomi, nilai politik, nilai sosial, nilai pengetahuan, nilai susila, dan sebagainya tidak bisa dilepaskan dari agama (Harun Nasution, 1998:289). Bahkan agamalah yang menjadi dasar dari nilai-nilai dalam berbagai kelompok itu. 

Selanjutnya mengenai konsep pendidikan, pengertian pendidikan bagi kita di Timur, bertujuan bukan hanya mengisi yang dididik dengan ilmu pengetahuan dan mengembangkan ketrampilannya saja, tetapi juga mengembangkan aspek moral dan agamanya (Harun Nasution, 1998:290). Dari sini terlihat bahwa akar pendidikan karakter sebenarnya telah ada dalam pendidikan kita sejak dulu. Konsep ini sejalan dengan konsep manusia yang tersusun dari tubuh, akal, dan hati nurani seperti diyakini oleh orang Timur. 

Konsep pendidikan seperti itu menghendaki bukan hanya pengintegrasian nilai-nilai kebudayaan nasional, tetapi juga pengintegrasian ajaran-ajaran agama ke dalam pendidikan. Dengan demikian yang dimaksud dengan nilai-nilai kebudayaan nasional adalah nilai-nilai kebudayaan nasional yang bernafaskan agama. Jika ini yang dimaksud, bukan nilai nasional yang bersifat sekular seperti di Barat, maka pengintegrasian agama ke dalam pendidikan nasional akan sejalan dan sesuai dengan sifat bangsa kita yang agamis. Menurut Harun Nasution (1998:290), keresahan timbul selama ini karena konsep-konsep Barat yang didasarkan atas filsafat yang sekular dibawa melalui pendidikan modern ke dalam masyarakat agamis di Indonesia. 

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih lanjut pendidikan karakter berbasis agama, yang secara empirik pernah dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan dan terbukti berhasil menandingi pendidikan pemerintah kolonial Belanda yang intelektualis dan kurang memperhatikan aspek agama dan moral saat itu. Upaya mengkaji lebih lanjut pendidikan karakter berbasis nilai-nilai agama yang diterapkan oleh K.H. Ahmad Dahlan dengan harapan dapat menemukan konsep pendidikan karakter yang paling sesuai untuk diterapkan di negara kita, sehingga kita akan memiliki konsep pendidikan karakter sendiri, yang khas dan sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia, yaitu masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai agama. 

Metode Penelitian 
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan historis. Bogdan (1975:5) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian bidang sosial, budaya, filsafat, yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata, atau catatan-catatan yang berhubungan dengan makna, nilai serta pengertian. Penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata, catatan, yang berhubungan denga makna, nilai, serta pengertian (Bogdan dan Taylor, 1975:5). Menurut Noeng Muhadjir (2007:159) metode penelitian kualitatif relevan untuk mengungkap penelitian studi pustaka yang lebih menekankan pada olahan kebermaknaan secara filosofis, teoritis, dan kultural yang senantiasa terkait dengan sistem nilai. 

Penelitian ini berkaitan dengan obyek material yang ada hubungannya dengan dimensi sejarah, karena menyangkut data-data pemikiran pendidikan dari K.H. Ahmad Dahlan di masa lampau. Menurut Kaelan (2005:90) data yang terkumpul dalam kaitannya dengan dimensi historis harus dianalisis dengan metode historis pula. Dalam penelitian yang menggunakan metode sejarah, menyangkut tentang langkah-langkah penelitian, obyek penelitian, serta prosedur penelitian. Namun metode sejarah dalam pembahasan ini adalah berkaitan dengan metode analisis data, karena berkait dengan dimensi historis. Data yang terkumpul dalam berbagai kategorinya, kemudian dilakukan verifikasi, atau dalam ilmu sejarah disebut kritik untuk memperoleh keabsahan sumber sejarah. Dalam hubungan ini juga harus diverifikasi keaslian (otentisitas) sumber yang dilakukan melalui kritik ekstern. Keabsahan dan kesahihan sumber (kredibilitas) yang ditelusuri melalui kritik intern. Pada prinsipnya metode verifikasi historis ini menekankan bahwa data historis seharusnya adalah yang otentik (asli) dan kredible. Adakalanya sumber itu berupa karya kedua, artinya merupakan terbitan orang lain, atau interpretator. Jika karya asli tidak memungkinkan untuk ditemukan, dan dalam bahasa yang sangat sulit, maka dimungkinkan untuk menggunakan sumber data sekunder, yang berupa karya, yang merupakan hasil interpretasi orang lain. Namun jika dalam penelitian terdapat karya asli, dan peneliti menggunakan sumber sekunder, maka data tersebut dapat dikategorikan tidak sahih dan tidak valid (Kaelan, 2005:90-91). Dengan demikian keaslian sumber dari data historis sangat menentukan valid tidaknya data. 

Dalam penelitian ini, peneliti mendeskrisikan data yang telah diperoleh baik yang berupa dokumen atau tulisan-tulisan yang bersifat kualitatif. Dalam hal ini, peneliti menjadi faktor kunci dalam memperoleh data secara kualitatif, sehingga data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis, dan dalam pendekatan kualitatif ini proses penelitian sangat menentukan hasil penelitian yang diharapkan. 

Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini sesuai menurut Kaelan (2005:19) meliputi: 
  1. Mengumpulkan data berdasarkan pengamatan situasi yang alamiah, tanpa dipengaruhi atau dimanipulasi; 
  2. Meletakkan obyek penelitian yaitu konsep pendidikan K.H. Ahmad Dahlan, hubungannya dengan konsep pendidikan karakter yang terkandung di dalamnya; 
  3. Menempatkan peneliti sebagai alat utama dalam pengumpuan data;
  4. Melakukan analisis sejak awal dan sepanjang penelitian, untuk menemukan pola-pola yang dapat dikembangkan menjadi teori; 
  5. Mengutamakan perspektif emik atau pandangan responden; dan menganalisis data secara induktif. 

1. Pendidikan Karakter berbasis Agama 
Pendidikan dilihat dari sudut pandang problematikanya, menurut Driyarkara dalam Sudiarja (2006:271), pendidikan adalah problem eksistensia yang mendasarkan diri pada “antropologia transcendental” dengan metode yang disebut “existensilistikofenomenologika”, bahwa fenomena pendidikan meliputi: 
  1. Mendidik sambil hidup bersama; 
  2. Pendidikan yang mengatasi perbuatan; 
  3. Pemaparan persoalan; 
  4. Pendidikan dan eksistensi manusia. 

Proses mendidik terjadi dalam perbuatan-perbuatan yang tidak dengan sendirinya berupa perbuatan pendidikan, sehingga ada distansi atau jarak antara pendidikan dan perbuatan dimana pendidikan itu menjelma. Pandangan tentang pendidikan yang secara aplikatif dilaksanakan dalam rangka menjawab problematika yang ada di masyarakat, seperti yang telah dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan ketika menghadapi pendidikan kolonial yang dualistis. K.H Ahmad Dahlan (1868-1923) adalah tipe man of action, sehingga lebih banyak mewariskan amal usaha dibanding tulisan. Untuk menelusuri bagaimana orientasi filosofis pendidikan beliau, harus lebih banyak merujuk pada bagaimana beliau membangun sistem pendidikan. Namun naskah pidato terakhir beliau pada kongres Muhammadiyah ke-12 tahun 1923, sesaat sebelum beliau meninggal, yang berjudul Tali Pengikat Hidup (Ahmad Dahlan, 1985), menarik untuk dicermati karena menunjukkan secara eksplisit konsep beliau terhadap pencerahan akal suci melalui filsafat dan logika. 

Sedikitnya ada tiga kalimat kunci yang menggambarkan tingginya minat Beliau dalam pencerahan akal, yaitu: 
  1. Pengetahuan tertinggi adalah pengetahuan tentang kesatuan hidup yang dapat dicapai dengan sikap kritis dan terbuka dengan mempergunakan akal sehat dan istiqomah terhadap kebenaran akali dengan didasari hati yang suci; 
  2. Akal adalah kebutuhan dasar hidup manusia; 
  3. Ilmu mantiq atau logika adalah pendidikan tertinggi bagi akal manusia yang hanya akan dicapai hanya jika manusia menyerah kepada petunjuk Allah swt. 

Cita-cita pendidikan yang digagas K.H. Ahmad Dahlan adalah lahirnya manusiamanusia baru yang mampu tampil sebagai “ulama-intelek” atau “intelek-ulama”, yaitu seorang muslim yang memiliki keteguhan iman dan ilmu yang luas, kuat jasmani dan rohani. Dalam rangka mengintegrasikan kedua sistem pendidikan tersebut, K.H. Ahmad Dahlan melakukan dua tindakan sekaligus melalui pendidikan integralistik; memberi pelajaran agama di sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, dan mendirikan sekolah-sekolah sendiri di mana agama dan pengetahuan umum bersama-sama diajarkan. Konsep yang kedua, yang sampai saat ini masih tetap diterapkan di negara kita. 

Pendidikan yang diselenggarakan oleh K.H. Ahmad Dahlan berakar pada pengamalan nilai-nilai agama yang menjadi pandangan hidup masyarakat kita. Hal ini dinilai sesuai dengan hakikat pendidikan itu sendiri, karena kegiatan pendidikan yang terlepas dari akar budaya, pandangan hidup, dan kesejarahan masyarakatnya akan menimbulkan keterasingan yang mematikan semangat, gairah, atau motivasi untuk membangun kemajuan budaya dan masyarakatnya. Apalagi jika ditambah pula dengan pendidikan model banking system, yang menghancurkan kemerdekaan dan kreativitas anak (Paulo Freire, 1972), dimana anak sebagai tujuan pendidikan (subyek) justru diubah menjadi obyek yang menerima secara pasif pengetahuan yang diberikan. 

Apabila dikaji dari teori yang lain, dalam praktik pendidikan, John Dewey juga menekankan konsep sosial pendidikan yang melihat, berpikir, dan melakukan sebagai satu kesatuan yang mengalir dari pengalaman yang berkesinambungan. Antara berpikir (thinking), dan melakukan (doing) tidak dapat dipisahkan. Berpikir tidak lengkap apabila tidak diuji dengan pengalaman. Berpikir dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya terjadi dalam otak, tetapi dengan melakukan sesuatu atas obyek tertentu, maka manusia berpikir (Sodiq A. Kuntoro, 2011:5). Antara teori dengan praktik, bagi John Dewey tidak dapat dipisahkan, sama seperti antara berpikir dan melakukan tidak dapat dipisahkan. Rupanya terdapat kesamaan antara konsep John Dewey dengan K.H. Ahmad Dahlan, bahwa keduanya menekankan pada pengamalan. Menurut K.H. Ahmad Dahlan, agama tidak cukup sekedar dipahami secara tekstual, melainkan harus dilakukan atau diamalkan dalam kehidupan seharihari untuk perbaikan kehidupan. 

Pendidikan tidak hanya sekedar mencerdaskan anak secara intelektualitas, tapi lebih kepada membangun secara utuh kepribadian dan karakternya. Banyak ahli yang rupanya sependapat bahwa pendidikan harus memperhatikan ketiga aspek penting, yakni moral, mental, dan fisik. Dari ketiga aspek tersebut yang paling berperan penting dalam membentuk kepribadian seseorang adalah dari aspek moralnya. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai membangun manusia seutuhnya. Darmiyati Zuchdi (2010) menyebutkan bahwa Nation and character building dalam membangun bangsa ini adalah hal yang amat filosofis dan menyangkut pengembangan esensi pembangunan manusia seutuhnya. Pembangunan politik, ekonomi, hukum, keamanan serta penguasaan sains dan teknologi harus menyatu dengan pembangunan karakter manusia sebagai pelaku dari politik, ekonomi, hukum, dan pengembangan serta pengguna sains dan teknologi, agar berujung pada kesejahteraan, kemaslahatan dan perdamaian umat manusia. 

Pendidikan karakter tidak dapat terlepas dari konteks masyarakat dimana pendidikan tersebut diterapkan. Indonesia misalnya, adalah negara yang mengedepankan konsep keTuhanan dalam kehidupan sehari-hari, hal ini tercermin dari dasar negara Pancasila, dimana sila pertama adalah berisi tentang ke-Tuhanan. Dengan demikian sudah selayaknya jika dalam pelaksanaan pendidikan karakter di Indonesia juga menyesuaikan dengan dasar tersebut. 

Kilpatrick dan Lickona merupakan pencetus utama pendidikan karakter dari dunia Barat. Keduanya percaya adanya keberadaan moral absolut yang perlu diajarkan kepada generasi muda agar paham betul mana yang baik dan benar. Lickona (1992) dan Kilpatrick (1992) tidak sependapat dengan cara pendidikan moral reasoning dan values clarification yang diajarkan dalam pendidikan di Amerika, karena sesungguhnya terdapat nilai moral universal yang bersifat absolut (bukan bersifat relatif) yang bersumber dari agama-agama di dunia, yang disebutnya sebagai the golden rule. Contohnya adalah berbuat jujur, menolong orang, hormat, dan bertanggung jawab (Martianto, 2002). 

Beberapa teori sebelumnya telah menyebutkan bahwa agama mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan pendidikan karakter. Khususnya dalam Islam, disebutkan oleh Harun Nasution (1998:57) bahwa ibadah dalam agama Islam, erat sekali hubungannya dengan pendidikan akhlak. Ibadah dalam Al Quran dikaitkan dengan takwa, dan takwa berarti melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Perintah Tuhan berkaitan dengan perbuatan-perbuatan baik, sedang larangan Tuhan berkaitan dengan perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Dengan demikian orang bertakwa adalah orang yang melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya, yaitu orang yang berbuat baik dan jauh dari hal-hal yang tidak baik. Menurut Harun Nasution (1998:57), inilah yang dimaksud dengan ajaran amar ma’ruf nahi munkar, yaitu mengajak pada kebaikan dan mencegah orang dari hal-hal yang tidak baik. Tegasnya, orang yang bertakwa adalah orang yang berakhlak mulia atau dengan kata lain memiliki karakter yang baik. 

Lebih lanjut dikatakan oleh Harun Nasution (1998:58) bahwa Al Quran dan hadits mengaitkan pelaksanaan ibadah dengan penjauhan diri dari melaksanakan hal-hal yang tidak baik. Ayat mengatakan shalat menjauhkan orang dari perbuatan dan tidak baik (QS 29:45). Dijelaskan pula bahwa di dalam ibadah haji, zakat, dan puasa dekat hubungannya dengan pendidikan akhlak. Dalam melaksanakan ibadah haji dilarang diucapkan kata-kata tidak sopan, cacian, dan pertengkaran. Pelaksanaan zakat tidak hanya terbatas pada pengeluaran harta, tetapi mencakup senyuman kepada sesame manusia, menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, menjauhkan duri dari jalan umum, dan menuntun orang yang lemah penglihatannya. Disebutkan pula bahwa tidak akan diterima puasa seseorang jika tidak dapat menahan diri dari berkata tidak sopan apalagi berbohong. 

Tujuan akhir dan utama dari pelaksanaan ibadah dalam Islam, baik shalat, puasa, haji, dan zakat adalah pembinaan dan pendidikan akhlak atau karakter mulia. Tujuan ibadah dalam Islam bukan semata-mata menjauhkan diri dari neraka dan masuk surga, tetapi tujuan yang di dalamnya terdapat dorongan bagi kepentingan dan pembinaan akhlak yang menyangkut kepentingan masyarakat. Masyarakat yang baik dan bahagia adalah masyarakat yang para anggotanya memiliki akhlak mulia dan budi pekerti luhur. 

Pandangan K.H. Ahmad Dahlan tentang agama, bahwa beragama itu adalah beramal, artinya berkarya dan berbuat sesuatu, melakukan tindakan sesuai dengan isi pedoman Al Quran dan Sunnah. Orang yang beragama adalah orang yang menghadapkan jiwa dan hidupnya hanya kepada Allah SWT, yang dibuktikan dengan tindakan dan perbuatan seperti rela berkorban baik harta benda maupun miliknya dan dirinya, serta bekerja dalam kehidupannya untuk Allah (Kyai Suja’, 2009:34). Dengan demikian, mengajarkan agama berarti mengajarkan anak untuk melakukan segala tindakan yang sesuai dengan yang dianjurkan, tidak hanya mengajarkan pengetahuan saja. Sejauh ini agama relevan untuk menanamkan karakter yang baik terhadap siswa, karena pada hakikatnya karakter terbentuk dari tindakan yang dilakukan secara rutin dan terus menerus. 

K.H. Ahmad Dahlan menganggap perlu dilakukan upaya untuk membangkitkan kesadaran baru agar masyarakat memiliki kepercayaan diri untuk mengubah diri agar lebih baik. Bagi orang yang beragama dilakukan dengan kembali pada ajaran Qur’an dan hadits yang diyakini sebagai cara membangun kembali jati diri (self-identity) dan kepercayaan diri, keberanian untuk berjuang melawan kemungkaran (penindasan) serta mempunyai kemauan untuk membangun kebaikan (kemerdekaan). 

2. Pendidikan untuk Memperbaiki Akhlak dan Perilaku 
Berdasarkan beberapa sumber yang berhasil dihimpun, perjuangan K.H. Ahmad Dahlan di bidang pendidikan, sebenarnya telah dilakukan jauh sebelum organisasi Muhammadiyah ia dirikan. Menurut Junus Salam (1968:9), sebelum Muhammadiyah berdiri, K.H. Ahmad Dahlan telah mengajar agama kepada anak-anak di sekolah negeri, seperti di sekolah Kweekschool (dulunya disebut Sekolah Radja) di Jetis, Yogyakarta; Sekolah Pamong Pradja (Opleidingschool voor Inlandsch Amtenaren, OSVIA) di Magelang. Tidak jarang pula K.H. Ahmad Dahlan berdagang sambil bertabligh ke tempat-tempat yang dituju. 

Lebih lanjut dijelaskan oleh Junus Salam (1968:17), alasan K.H. Ahmad Dahlan mengajar agama di Kweekschool (sekolah guru), karena menurut beliau murid-murid ini kelak akan mempunyai murid, sedangkan polisi dan pamong praja kelak akan mengatur masyarakat, oleh karena itu, kepada mereka perlu dan harus dimasukkan pelajaran dan jiwa Islam yang sedalam-dalamnya. Beberapa alasan inilah yang mendasari keinginan K.H. Ahmad Dahlan untuk mengajarkan agama di sekolah-sekolah tersebut. 

Aktivitas pendidikan yang dilakukan oleh K.H.A. Dahlan berangkat dari keprihatinan beliau atas kondisi masyarakat saat itu. Menurut Ahmad Syafii Maarif, pada tahun 1912 sebagian besar masyarakat Indonesia berada dalam kondisi yang memprihatinkan dari sisi pendidikannya, hampir lebih dari 90% masyarakat buta huruf, terutama kaum perempuannya (Hasil wawancara tanggal 1 Desember 2011). Kondisi demikian yang mendorong K.H.A. Dahlan untuk segera melakukan perubahan dalam bidang pendidikan. Hal ini menunjukkan keprihatinan beliau terhadap kondisi masyarakat pribumi, yang sebagian besar masih dalam kemunduran, baik dari sisi intelektual maupun keagamaan. Keprihatinan tersebut yang kemudian mendorongnya mendirikan Muhammadiyah sebagai basis perjuangannya dalam bidang pendidikan dan sosial kemasyarakatan. 

K.H. Ahmad Dahlan memiliki cara-cara khusus dalam mendidik dan mendekati murid-muridnya. Dalam Junus Salam (1968:17) dijelaskan bahwa sesudah Muhammadiyah berdiri, beliau menyelenggarakan pengajaran yang diberi nama Fathul-Ashrar MiftahusSa’adah, untuk membimbing pemuda-pemuda yang berusia kurang lebih 25 tahun, supaya gemar beramal kebaikan dan berani menjadi kader yang membela Muhammadiyah dan terhindar dari kebiasaan keroyalan dan kenakalan. Ada strategi tersendiri yang digunakan oleh K.H. Ahmad Dahlan untuk mendidik anak-anak tersebut, mula-mula diikutinya segala keinginan dan kemauan mereka, seperti pergi berpiknik, dan bagi yang gemar bermain musik, dipanggilnya untuk bermain. Kemudian sedikit demi sedikit mereka ia didik hingga kemudian dapat menjadi pemimpin-pemimpin dan orang-orang yang shaleh. Dari sini nampak proses dialogis yang digunakan oleh K.H. Ahmad Dahlan dalam penyelenggaraan pendidikan khususnya sebagai upaya untuk memperbaiki akhlak generasi muda. 

Keterangan lebih lanjut dijelaskan oleh Munir Mulkhan bahwa pengajaran FathulAsrhar Miftahus-Sa’adah tersebut sebagai proses membina anak-anak muda yang sedang bermasalah. Mereka dikumpulkan, disuruh bercerita mengapa dia menjadi nakal, berangkat dari situ muncul kesadaran tentang problem atau permasalahan yang mereka hadapi, sehingga dalam sistem pengajaran ini memberi ruang kepada anak-anak muda tersebut untuk mencari solusi (hasil wawancara tanggal 2 Mei 2012). Keterangan ini diperkuat dengan sumber tertulis dari Junus Salam (1968:17), yang menjelaskan bahwa sesudah Muhammadiyah berdiri, K.H. Ahmad Dahlan menyelenggarakan pengajaran yang diberi nama Fathul-Ashrar Miftahus-Sa’adah, untuk membimbing pemuda-pemuda yang berusia kurang lebih 25 tahun, supaya gemar beramal kebaikan dan berani menjadi kader yang membela Muhammadiyah dan terhindar dari kebiasaan keroyalan dan kenakalan. Proses dialog untuk mencari pemecahan atau solusi atas permasalahan tersebut, ternyata hampir sama dengan strategi pembebasannya Paulo Freire (1999) yaitu problematisasi dan conscientisasi/penyadaran. Bahwa proses penyadaran dilakukan melalui dialog atas permasalahan-permasalahan yang dialami. 

Bagi para pemuda, perlu dibangun karakter keberanian berjuang, berjuang untuk menjaga agama dan bangsa. Tidak boleh takut dengan kesusahan, bahkan rela berkorban untuk harta benda dan jiwa raga bagi kebahagiaan hidup di dunia dan akherat. Konsep akhlak/budi pekerti seperti yang digambarkan K.H. Ahmad Dahlan itu bukan sekedar kepemilikan (having), sifat-sifat kepribadian, tetapi suatu kondisi diri (being) yang dinamis, aktif untuk berpengetahuan, bersikap, dan bertindak kemanusiaan yang baik terhadap kehidupan. 

Kegiatan dakwah dan pengajaran yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan tidak hanya melalui lisan dan tulisan, tetapi juga dilakukannya melalui tindakan dan contoh nyata dari apa yang dikatakannya. Semangat rela berkorban yang selalu dihimbaunya, dicontohkannya sendiri ketika K.H. Ahmad Dahlan melelang barang-barang peralatan rumah tangga di rumahnya untuk menutup kekurangan gaji guru di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Dikisahkan oleh Kyai Syuja’ (2009:163-164), dia adalah salah seorang murid dari K.H. Ahmad Dahlan, bahwa pada tahun 1922 sekolah-sekolah Muhammadiyah berkembang cukup pesat. Bertambahnya jumlah sekolah berarti mewajibkan pula ditambahnya jumlah guru, hal ini menimbulkan pembiayaan menjadi bertambah besar, yang mengakibatkan Muhammadiyah mengalami kekurangan dana dan terpaksa menunggak pembayaran kepada para guru sampai hampir f 400. Akhirnya K.H. Ahmad Dahlan memutuskan untuk menutupnya dengan melelang harta benda miliknya, mulai dari alat rumah tangga, pakaian, surban, sampai meja dan kursi rumahnya. Tindakan tersebut merupakan contoh nyata yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan dalam rangka melakukan perjuangan dalam pendidikan. Pendidikan karakter untuk bersedia berkorban dalam kepentingan dirinya untuk kepentingan sosial yang lebih besar tidak cukup dikatakan dengan bahasa lisan, tetapi harus dikatakan dalam bahasa tindakan yang betul-betul dirasakan oleh orang lain. 

Perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan dilatarbelakangi oleh kesadaran beliau bahwa pendidikan mutlak diperlukan guna membuka kesadaran masyarakat pribumi akan posisi dirinya sebagai bangsa yang terjajah. Dijelaskan oleh Junus Salam (1968:18), bahwa pada saat itu bangsa Indonesia tidak banyak yang bisa membaca dan menulis. Kondisi tersebut yang kemudian mendorong K.H.A. Dahlan mendirikan sekolahsekolah untuk rakyat, sebagai tempat menuntut ilmu pengetahuan umum dan agama. 

Pendidikan yang diselenggarakan oleh K.H. Ahmad Dahlan tidak hanya bertujuan untuk mencerdaskan umat muslim secara intelektual saja, melainkan juga berupaya untuk mengembangkan kepribadiannya. Seorang muslim yang maju secara intelektual, sekaligus memahami dan memegang teguh ajaran agamanya, serta mengamalkan segala perintah agama merupakan tujuan akhir dari pendidikan yang diusahakannya. Hasil akhir yang didambakannya dari pendidikan tadi adalah terbentuknya masyarakat yang sejahtera, damai, serta terbebas dari segala kungkungan, termasuk kungkungan kolonialisme Barat. 

K.H. Ahmad Dahlan telah menggagas sejak lama bahwa tujuan pendidikan yang utama itu adalah pengembangan akhlak, bukan sekedar pengumpulan pengetahuan atau ketrampilan seperti yang dilakukan dalam pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah kolonial Belanda. Pendidikan akhlak dalam pandangan K.H. Ahmad Dahlan dilakukan dengan proses dialogis dalam metode yang diterapkannya dalam perkumpulan Fathul Asrar Miftahus Sa’adah, yang berorientasi pada melakukan dialog untuk mencari solusi permasalahan yang dihadapi para generasi muda, serta menekankan pada prinsip bahwa beragama adalah beramal. Mengamalkan agama sebagai upaya memperbaiki akhlak merupakan fondasi utama pendidikan karakter K.H. Ahmad Dahlan. 

Pokok-pokok pikiran dan pandangan K.H. Ahmad Dahlan sebagaimana tertulis dalam pesan K.H. Ahmad Dahlan yang dipublikasikan oleh hoofbestuur Muhammadiyah Majlis Taman Pustaka (1923) adalah sebagai berikut. Dalam bidang aqidah, pandangan K.H. Ahmad Dahlan sejalan dengan pandangan dan pemikiran ulama Salaf. Menurut pandangan beliau, beragama itu adalah beramal; artinya berkarya dan berbuat sesuatu, melakukan tindakan sesuai dengan isi pedoman Alquran dan Sunnah. Orang yang beragama adalah orang yang menghadapkan jiwanya dan hidupnya hanya kepada Allah SWT, yang dibuktikan dengan tindakan dan perbuatan seperti: rela berkorban baik harta benda miliknya dan dirinya; serta bekerja dalam kehidupannya untuk Allah. Ini berarti, K.H. Ahmad Dahlan menekankan keberagamaan dari segi mengamalkan ajaran Islam dalam suatu tindakan berbuat kebaikan, untuk menghilangkan kondisi yang kurang baik (amar ma’ruf nahi munkar). 

K.H. Ahmad Dahlan menyatakan bahwa tindakan nyata adalah wujud konkrit dari penterjemahan Alquran, dan organisasi adalah wadah dari tindakan nyata tersebut. Untuk memperoleh pemahaman demikian, orang Islam harus selalu memperluas dan mempertajam kemampuan akal pikiran dengan ilmu manthiq atau logika. Hal ini berarti, bahwa K.H. Ahmad Dahlan sangat menganjurkan penggunaan pikiran (rasio) dalam memahami Al Quran dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. 

K.H. Ahmad Dahlan menyatakan, bahwa kunci persoalan peningkatan kualitas hidup dan kemajuan umat Islam adalah pemahaman terhadap berbagai ilmu pengetahuan yang sedang berkembang dalam tata kehidupan masyarakat. Kaitannya dengan pandangan ini, beliau menyampaikan pesan “Menjadilah Insinyur, Guru, Mester, dan kembalilah berjuang dalam Muhammadiyah” (Abdul Munir Mulkhan, 1990:9). Ini mengisyaratkan kader-kader Muhammadiyah hendaknya menguasai ilmu pengetahuan umum, kemudian mengikuti dan berjuang dalam organisasi Muhammadiyah. Organisasi Muhammadiyah diharapkan memiliki kader yang menguasai ilmu pengetahuan, kemudian mengabdikan dirinya untuk Muhammadiyah. Muhammadiyah menyatukan ilmu pengetahuan dan keagamaan untuk dapat memperbaiki kehidupan yang kurang baik yang banyak dialami masyarakat waktu itu. Pembinaan generasi muda (kader) dilakukannya dengan jalan interaksi langsung. Untuk melaksanakan teorinya tersebut, ia mendirikan kepanduan yang kemudian diberi nama Hizbul Wathan, serta pengajian pemuda remaja yang dikenal dengan nama Fathul Asrar Miftahus Sa’adah. 

Strategi menghadapi perubahan sosial akibat modernisasi, menurut K.H. Ahmad Dahlan adalah merujuk pada Alquran, menghilangkan sikap fatalisme, sikap taklid. Strategi tersebut menurut Abdul Munir Mulkhan (1990:9) dengan cara menghidupkan jiwa dan semangat ijtihad melalui peningkatan kemampuan berpikir logis-rasional dan mengkaji realitas sosial. Oleh karenanya, yang menjadi obyek gerakan dakwah Muhammadiyah adalah membangun jiwa dan semangat pembaharuan pada seluruh lapisan masyarakat, mulai dari rakyat kecil, kaum fakir miskin, para hartawan, dan para intelektual. 

Ajaran Islam, yang menjadi dasar pendidikan akhlak yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan, terdiri dari tiga perkara, yaitu iman, ilmu, dan amal. Dengan iman, orang mendapat kepercayaan kepada Allah dan segala sabda-Nya, dan dengan demikian membuahkan kepercayaan kepada diri sendiri. Dengan ijin dan kekuasaan Allah, setiap orang mampu melakukan segala sesuatu, di bawah petunjuk ilmu karunia-Nya. Oleh karenanya, ilmu harus dicari dan dimiliki setinggi mungkin. Ajaran Islam mewajibkan pemeluknya untuk mencari ilmu itu. Dengan ilmu yang telah didapatkan, setiap orang harus melakukan sesuatu dan mengamalkan ajaran agamanya, agar tujuan ajaran yang baik itu dapat direalisir (KRH. Hadjid, 2008). 

Pemahaman K.H. Ahmad Dahlan tentang ajaran Islam, yang kemudian mendorongnya untuk memberikan pengajian tafsir kepada murid-muridnya. Kisah tentang pengajian tafsir Surat Al-Ma’un dikisahkan pula oleh Kyai Syuja’ (2009:62), murid lain dari K.H. Ahmad Dahlan, bahwa pengajian pernah terhenti pada Surat Al-Ma’un. Beliau tidak bersedia menambah surat lagi dan hanya mengulang Surat Al-Ma’un hingga beberapa kali pengajian. Murid-murid menjadi bosan dan salah seorang di antaranya yang bernama Syuja’ memberanikan diri menyatakan kebosanannya. Atas pertanyaan tersebut, K.H. Ahmad Dahlan menjawab bahwa pelajaran tidak akan ditambah sebelum yang telah diajarkan diamalkan terlebih dahulu. Murid-muridnya bertambah heran, karena sebelumnya mereka tidak pernah mendengar pelajaran tafsir harus diamalkan. Selanjutnya mereka bertanya bagaimana cara mengamalkan Surat Al-Ma’un itu. Oleh K.H. Ahmad Dahlan mereka diajak ke pasar, ditangkapinya anak-anak yatim dan piatu yang bergelandangan, serta dikumpulkannya peminta-minta yang beroperasi sepanjang jalan. Semua dikumpulkan kemudian digiring ke Masjid Agung, di mana K.H. Ahmad Dahlan telah menyediakan sabun mandi dan pakaian-pakaian bekas yang masih baik dan utuh. Beramai-ramai K.H. Ahmad Dahlan memandikan mereka dan mengganti pakaiannya yang kotor dan kumal itu dengan yang bersih. Pekerjaan itu dilakukan beberapa hari berturut-turut, dan sibuklah murid-murid itu berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya untuk mengumpulkan pakaian, uang, dan sabun. 

K.H. Ahmad Dahlan mengatakan, bahwa demikian itulah cara mengamalkan Surat Al-Ma’un, yang memerintahkan setiap Muslim untuk memelihara dan memperhatikan anak yatim dan orang miskin. Sejak saat itu, dalam tubuh Persyarikatan Muhammadiyah didirikan bagian PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) yang diorganisir dan diketuai K.H. Syuja’, yang merupakan saudara tua dari Fachruddin. K.H. Syuja’ mencoba mendirikan rumah sakit seperti yang didirikan oleh Pemerintah dan umat Kristen di Yogyakarta. Dia ingin Muhammadiyah mempunyai rumah sakit juga. Akhirnya beberapa tahun kemudian berdirilah Rumah Sakit PKO (sekarang PKU) Muhammadiyah, lengkap dengan gedung, kamar-kamar, dan juru rawat serta bidan, alat-alat dan seorang dokter dengan beberapa orang manteri. Di daerah-daerah lain yang cabang Muhammadiyahnya belum mampu membangun rumah sakit, mereka dirikan balai pengobatan. 

Proses pendidikan karakter yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan terhadap para muridnya dilakukan dengan perlahan namun pasti. Keberanian bertindak atau melakukan amal kebaikan adalah sesuatu yang lebih penting daripada sekedar membaca dan menghafalkan surat sebanyak-banyaknya. Hafalan surat yang banyak namun tidak diimbangi dengan pemahaman dan melaksanakan isi surat tersebut dinilai kurang bermanfaat oleh beliau. Oleh karenanya, metodenya dalam mengajar murid-muridnya adalah bukan hanya membaca dan menghafal surat-surat dari Al Quran, tapi dengan memahami makna kemudian melaksanakannya atau mengamalkan kebaikan dalam hidup sehari-hari. 

Dasar pendidikan akhlak K.H. Ahmad Dahlan didasari oleh ajaran Islam yang terdiri dari tiga perkara, seperti telah disebutkan sebelumnya yaitu iman, ilmu, dan amal, menjadi dasar dari seluruh usaha pendidikan yang beliau lakukan. Iman (keyakinan) di dalam hati yang menjadi dasar awal, yang kemudian dilanjutkan dengan ilmu (pengetahuan) untuk mendukung keyakinan yang sudah dimiliki. Setelah iman dan ilmu dimiliki, maka seseorang akan dengan ikhlas melakukan amal (perbuatan) yang sudah menjadi ketentuan agama. Apabila dibandingkan dengan teori pendidikan karakter dari Lickona (1991:51), bahwa karakter memiliki tiga bagian yang saling berhubungan yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral behavior. Diawali dengan mengetahui segala hal yang baik, kemudian diikuti keinginan (dari dalam hati) segala hal yang baik, dan akhirnya diikuti dengan melakukan segala hal yang baik. Ketiganya, menurut Lickona dibentuk oleh kebiasaan pikiran, kebiasaan kebiasaan hati, dan kebiasaan tindakan, untuk dapat tercapai ketiganya dibutuhkan sebuah pengetahuan untuk bisa menilai apa yang benar, perduli tentang apa yang benar, kemudian melakukan apa yang mereka yakini benar tersebut. 

Lickona (1992) dan Killpatrick (1992), keduanya tidak sependapat dengan cara pendidikan moral reasoning dan values clarification seperti yang diajarkan dalam pendidikan di Amerika. Menurut mereka berdua, sesungguhnya terdapat nilai moral universal yang bersifat absolut (bukan bersifat relatif) yang bersumber dari agama-agama di dunia, yang disebutnya sebagai the golden rule, seperti kejujuran, saling menolong, menghormati orang lain, tanggungjawab, dan lain sebagainya (Martianto, 2002:15). Berdasar pada teori tersebut, meskipun K.H. Ahmad Dahlan hidup jauh sebelum teori ini muncul, namun ternyata yang dilakukan oleh beliau saat itu, yang menggunakan agama sebagai dasar pendidikannya, dapat dikatakan masih relevan untuk diterapkan sampai saat ini.
Blog, Updated at: 02.04

2 komentar :

  1. kenapa ya, belum ada peneliti membahas pendidikan Muhammadiah yang mengenai pendanaan pendidikan.

    BalasHapus
  2. Kenapa ya, belum ada penelitian bagaiman caranya KH A Dahlan mencari/mengumpulkan dana untuk pengelolaan pendidikan atau dana pengembangan pendidikan

    BalasHapus

Popular Posts