PENELITIAN DESKRIPTIF INTERPRETATIF

PENELITIAN DESKRIPTIF INTERPRETATIF
Penelitian Pendidikan tidak hanya milik komunitas akademis atau birokrat perencana pendidikan. Seringkali kalau kita berbicara mengenai penelitian pendidikan, image kita akan terbangun dengan sebuah laporan penelitian dengan bahasa yang tidak mudah untuk dipahami, penggunaan teori pendidikan yang canggih dan penggunaan rumus statistik yang membuat pusing. Kesimpulan sementara yang dapat terbentuk adalah bahwa penelitian pendidikan hanya menjadi milik komunitas pendidikan tertentu, yang memang telah memiliki kemampuan secara khusus. 

Sehingga tidak dapat dipahami oleh ’orang lain’ yang tidak berada di dalamnya. Asumsi itu tidak benar, meskipun dalam kenyataannya laporan penelitian selalu berbahasa ’kelas berat’. Penelitian pendidikan yang baik selalu menghasilkan sejumlah temuan, dengan bahasa yang komunikatif, mudah dicerna, dan dapat ditindaklanjuti. Laporan pendidikan yang baik, diharapkan memberi semangat kepada para pembaca untuk memahami masalah, menikmati kupasan masalah (pemecahan masalah) dan merasa mampu untuk ikut mangatasi masalah-masalah itu. Tulisan ini bersifat elementer, karena ditujukan terutama bagi para peminat penelitian yang masih berada dalam tahapan awal. 

Tulisan ini ditujukan kepada para guru (SD dan Sekolah Menengah), yang masih perlu belajar penelitian pendidikan untuk membantu tugas-tugasnya memecahkan masalah pendidikan yang muncul di tempat tugas. Penelitian pendidikan idealnya adalah sebuah cara berpikir yang harus dimiliki guru, kepala sekolah dan birokrat pendidikan lokal untuk mengatasi masalah pendidikan yang dihadapi mereka di lapangan. Seorang guru dapat segera menerapkan upaya strategis seperti cara-cara penelitian, dalam hal ini meliputi mendiskripsi masalah, menetapkan tujuan, mengambil manfaat, upaya untuk menganalisis masalah sesuai dengan sejumlah asumsi teori yang dipahaminya. 

Upaya itu sangat bermanfaat apabila seorang guru ingin mengatasi masalah pendidikan dengan cara-cara akademis dan profesional. Buku ini memang ditujukan kepada guru yang bertugas di apangan dan memiliki idealisme untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang dialami. Dengan membaca naskah ini, diharapkan teman-teman guru tidak lagi merasa asing dengan langkah-langkah strategis dalam penelitian. Penelitian juga tidak dapat dianggap sakral, karena dipercaya hanya milik ilmuwan pendidikan, tetapi telah terjadi ’desakralisasi’ untuk menju kepada azas fungsional. Penelitian sesungguhnya adalah upaya untuk mengatasi masalah pendidikan dalam tugas yang dihadapi guru dengan tepat dan fungsional. 

Pemanfaatan langkah-langkah penelitian, diharapkan dapat membantu sejumlah guru untuk melakukan ’sharing’ dengan sesama komunitas guru secara aktif. Kelompok kerja profesi guru, seperti KKG (kelompok kerja guru), MGMP (musyawarah guru mata pelajaran) adalah komunitas yang dapat digunakan sebagai arena kerja guru untuk melakukan penelitian pendidikan. Di komunitas ini temanteman guru bisa saling memberi informasi, berbagi pengalaman dan saling memberi kritik atas upaya yang telah dilakukan. Pada setiap penutup bab, penulis memberi bagian pelatihan, yang berisi sejumlah isian untuk mengadakan evaluasi hasil pelatihan langkah-langkah penelitian deskriptif-interpretatif. 

Dengan demikian tulisan ini diharapkan membantu guru untuk memulai suatu langkah besar yang sangat menentukan perbaikan proses belajar dan cara-cara mengajar guru. Memang tulisan ini masih sederhana, membutuhkan diskusi yang intensif untuk memahami isi tulisan ini. Terutama membutuhkan latihan intensif untuk melakukan sendiri penelitian dengan ’rasa percaya diri’, upaya penelitian sejauh pengamatan tidak bisa dipahami dengan cara menghafal tetapi harus dengan latihan yang terus-menerus.

MASALAH PENELITIAN PENDIDIKAN 
Anda adalah seorang guru di pinggiran kota kabupaten, memiliki sejumlah pengalaman dalam mengajar siswa lebih dari sepuluh tahun. Seringkali anda mengalami kejadian/peristiwa pendidikan yang khas dan unik yang terjadi berulangulang, kejadian itu dapat menyangkut diri Anda sebagai guru atau diantara teman guru dan siswa Anda. Sebagai contoh anda mengalami sendiri atmosphere belajar siswa menurun, atau Anda tiba-tiba kehilangan spirit untuk menjadi guru yang baik. 

Anda merasakan betul bahwa nilai harian siswa ada kecenderungan menurun sehingga anda menjadi serba salah dan ujung-ujungnya anda menyalahkan diri sendiri karena sebagai guru tidak bisa tampil optimal. Masalah penelitian harus tergambar dengan mudah dan dapat dirumuskan dengan sederhana, jelas dan lengkap. Sebenarnya masalah pendidikan (educational problema) yang terjadi pada tataran kejadian keseharian khususnya di dalam ruang kelas. Istilah masalah sendiri timbul ketika Anda memiliki harapan (statement of ideal) sedangkan kejadian keseharian menunjukkan perkembangan yang sebaliknya, apa yang terjadi nyata (statement of facts) tidak sesuai dengan harapan. 

Kerlinger (1973:16) mentakrifkan masalah sebagai pernyataanpernyataan yang dicoba untuk ditemukan jawabannya. Masalah pendidikan dapat berkembang dalam bentuk dan macamnya yang berbeda-beda, perbedaan masalah tergantung kepada sudut pandang masing-masing guru/peneliti. Pada masalah turunnya atmosphere belajar siswa, penyebabnya dapat berasal dari banyak unsur. 
  1. Masalah yang berasal dari kehadiran Guru: Selama ini guru mengajar guru yang tidak tepat, guru tidak begitu menguasai substansi (kontent) belajar, guru mengalami kejenuhan dalam membantu belajar siswa sehingga kurang memberi waktu kepada proses pembimbingan. 
  2. Masalah yang berasal di luar guru, yaitu masalah yang bersumber dari siswa, manajemen sekolah dan orangtua siswa dan masyarakat. 

Masalah di luar guru tampaknya sangat beragam, seperti sulitnya meningkatkan belajar siswa pada mata pelajaran Matematika. Terbatasnya waktu belajar siswa di rumah, atau orangtua yang kurang memperhatikan siswa dalam mengatasi kesukaran belajar. Masalah-masalah itu sebenarnya dapat terjadi tunggal (karena satu alasan) tetapi dapat pula saling mengkait sehingga terjadi tumpang tindih. 

Secara umum masalah pendidikan terpusat kepada proses untuk menjawab berbagai masalah yang bersumber kepada: 
  • pemuasan sikap akademik seseorang 
  • ada upaya keingin tahuan seseorang/kelompok orang kepada masalah-masalah baru 
  • meletakkan dasar untuk dapat memecahkan masalah berdasarkan penelitian yang sedang dan telah selesai 
  • memenuhi keingin tahuan sosial 
  • menyediakan sesuatu yang memiliki manfaat. 
Kriteria masalah demikian tidak dapat membatasi dengan penentuan kriteria tentang masalah. Suatu masalah sebenarnya merupakan proses yang sedang mengalami halangan di dalam mencapai tujuannya (goal). Biasanya, halangan tersebut hendak kita akhiri, dan hal inilah yang antara lain menjadi tujuan suatu penelitian (research obyective). Bahwa apa yang dinamakan masalah itu tidak bersifat limitatif-dalam hal ini misalnya hanya timbul bila ada hambatan/kesenjangan-dapat lebih jelas bila dihubungkan dengan berbagai sifat penelitian, terutama penelitian eksploratif (Maria SW. Sumardjono, 1996: 22-23). Penelitian eksploraratif bertujuan memperoleh pengetahuan tentang suatu gejala, sehingga, setelah melalui tahap observasi, masalah serta hipotesisnya dapat dirumuskan. 

Jelaslah bahwa dalam penelitian eksploratif pengetahuan tentang gejala yang hendak diteliti masih sangat terbatas dan merupakan langkah pertama bagi penelitian yang lebih mendalam (Singarimbun dan Effendi, 1989: 4; Babbie, 1986: 72; Vredenbregt, 1985: 53) Namun demikian, dalam pemilihan masalah hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut 
  1. Otoritas peneliti, dalam hubungannya dengan penguasaan teoritis dan metodologis; sebagai guru yang akan meneliti hendaknya dibantu dengan beberapa ilmu bantu untuk membangun ilmu pendidikan yaitu ilmu psikology, sosiologi dan ilmu pendidikan sendiri. 
  2. Fasilitas yang tersedia, terutama dana dan waktu; bagi guru yang akan meneliti sebenarnya tergantung niat yang dimiliki, waktu untuk melakukan penelitian dan sedikit dana untuk melaksanakan. 
  3. Kemungkinan memperoleh data yang adekuat; dapat dilakukan dengan mengambil data sekunder (statistik pendidikan, data sosiografi/demografi, statistik sekolah dll) dan juga data primer meliputi pernyataan masingmasing informan dalam pelaksanaan penelitian lapangan. Data yang baik adalah data yang memberikan informasi secara tepat dalam pelaksanaan penelitian yang sedang dilakukan (sesuai dengan tujuan penelitian). 
  4. Apakah masalah yang hendak diteliti itu penting/berfaedah bagi negara/ masyarakat dan ilmu pengetahuan. Masalah penelitian adalah masalah yang dianggap penting dan dirasakan mengganggu kegiatan pendidikan keseharian, dirasakan sebagai hambatan yang mengganggu yang harus diatasi bersama (guru, orangtua siswa, siswa, pemerintah dan swasta) secara simultan. 

Dalam prakteknya sering terjadi kesalahan dalam merumuskan masalah, yang antara lain disebabkan oleh: 
  1. Pengumpulan data yang dilakukan tanpa perencanaan terinci; sehingga data dapat bias, tidak sesuai dengan tujuan penelitian. 
  2. Pengambilan data yang sudah tersedia dan usaha untuk memaksakan perumusan masalahnya; 
  3. Perumusan tujuan yang dilakukan terlalu umum dan meragukan, sehingga interpretasi hasil serta kesimpulan tidak sahih (valid); hal ini tentunya tidak dapat digunakan untuk mengatasi masalah pendidikan yang muncul di masyarakat. 
  4. Tidak disebutkannya batasan (limitation) dalam pendekatannya-baik secara eksplisit maupun implisit- yang berguna untuk membatasi kesimpulan dan penerapannya pada situasi lain. 

Tidak ada keharusan yang mengikat dalam hal perumusan masalah-dapat berbentuk pernyataan maupun pertanyaan. Biasanya lebih mudah merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan, yang sudah barang tentu bukan sekadar bertanyakarena suatu masalah yang baik sedapat mungkin: 
  1. harus menyatakan hubungan antara dua gejala (variabel), 
  2. harus dinyatakan secara jelas serta tidak mengandung keraguan, dan 
  3. menyiratkan kemungkinan untuk dapat diuji secara empiris (Kerlinger, 1973: 17-18).  
Anda adalah guru yang bertugas di suatu daerah dengan karakteristik tertentu, cobalah Anda susun sebuah identifikasi masalah pendidikan yang sering muncul atau Anda hadapi dalam tugas keseharian. Dari identifikasi masalah yang muncul, adakah persamaan diantara masalah-masalah itu, dan Anda perkirakan teori pendidikan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah itu?

TUJUAN DAN MANFAAT 
Apa yang hendak dicapai dalam penelitian hendaknya dikemukakan dengan jelas dan tegas. Perlu pula diingatkan bahwa antara masalah, tujuan, dan kesimpulan yang kelak diperoleh haruslah sinkron atau konsisten. Jika masalah dirinci menjadi empat hal, tujuan penelitian harus meliputi keempat haal tersebut, dan melalui pengujian hipotesis (jika ada) terhadap keempat hal tersebut akan diperoleh kesimpulan yang meliputi keempat hal itu pula. 

Tujuan penelitian (research obyective) biasanya dinyatakan dengan kalimat yang sederhana, kalimat tunggal dan tidak bersayap sehingga memuat kejelasan yang dimaksud. 
  1. Tujuan penelitian harus dapat menggugah minat penelitian bagi pembacanya, untuk terlibat dan menekuni. 
  2. Kalimat harus jelas, padat, tunggal dan tidak bersayap 
  3. Tujuan penelitian harus memuat unsur pokok yang dijadikan acuan penelitian 
Sedangkan pernyataan tentang tujuan penelitian dapat dijabarkan menjadi beberapa unsur (Suryono Sukamto, 2006: 9): 
  1. Mendapatkan pengetahuan tentang sutu gejala, sehingga dapat merumuskan masalah. 
  2. Memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam tentang suatu gejala, sehingga dapat merumuskan pendapat sementara (hipotesa). 
  3. Untuk dapat menggambarkan secara lengkap karakteristik atau ciri-ciri dari suatu keadaan, perilaku pribadi, perilaku kelompok, fenomena pendidikan. 
  4. Mendapatkan keterangan tentang frequensi peristiwa, dan juga mendapat keterangan hubungan antara suatu gejala dengan gejala yang lain 
  5. Menguji hipothesa yang berisikan hubungan sebab dan akibat dari hubungan 2 variabel atau lebih.  

Selain tujuan penelitian, peneliti juga sudah harus membayangkan manfaat yang didatangkan dari penelitian itu. Manfaat penelitian seringkali disebut sebagai arti dan kegunaan (signifikansi) bagi perkembangan ilmu Pendidikan/ ilmu keguruan atau juga bagi perkembangan pemanfaatan ditengah masyarakatnya. Manfaat pertama seringkali disebut signifikansi ilmu dan manfaat kedua disebut sebagai signifikasi sosial. Manfaat ilmu, dalam penelitian pendidikan diharapkan periset dapat menyumbangkan sejumlah keterangan yang melengkapi asumsi teori pendidikan tertentu. Bagaimana teori prestasi belajar dapat dibangun dengan pemahaman baru tentang ketersediaan fasilitas-belajar dan peningkatan status gizi siswa. 

Sedangkan signifikansi sosial mencakup, bagaimana temuan penelitian yang dilakukan itu dapat memiliki manfaat kepada pengambil kebijakan dan para periset sendiri (guru ybs). Tugas yang Dilaksanakan Guru Anda adalah guru yang bertugas di suatu daerah dengan karakteristik tertentu, cobalah Anda susun tujuan penelitian sesuai dengan masalah yang terjadi. Tujuan penelitian tersebut Anda hubungkan dengan manfaat penelitian , dalam bentuk signifikansi ilmu dan signifikansi sosial.
Blog, Updated at: 09.46

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts