Pengertian Menurut Konsep Pendidikan Masyarakat

Pengertian Menurut Konsep Pendidikan Masyarakat
Pembelajaran yang dilakukan sebagai proses atau bagian dari program pembangunan atau pengembangan masyarakat, biasanya diikuti oleh peserta orang dewasa sehingga pendidikan masyarakat biasa disebut Pendidikan Orang Dewasa (POD) atau adult education. Pendidikan masyarakat merupakan jenis pendidikan non-formal (di luar sekolah). Fasilitator infomobilisasi bekerja di dalam jenis pendidikan ini. 

Pengertian membelajarkan, belajar dan pembelajaran menurut konsep POD adalah sebagai berikut: 
  • Membelajarkan, adalah upaya ‘pendidik’ untuk membantu ‘peserta didik‘ melakukan kegiatan belajar. Membelajarkan merupakan kegiatan sistematis dan dilakukan secara sengaja oleh pendidik untuk membantu peserta didik agar melakukan kegiatan belajar. 
  • Belajar. Sebagai proses, adalah upaya sadar ‘peserta didik’ untuk melakukan perubahan atau penyesuaian tingkah laku. Sebagai hasil, adalah perubahan tingkah laku yang diperoleh peserta didik dari kegiatan belajar; perubahan tingkah laku mencakup pengetahuan  sikap  keterampilan (PSK). Belajar bisa juga dilakukan sendiri (tanpa pendidik). 
  • Pembelajaran, adalah setiap upaya yang sistematis dan disengaja oleh ‘pendidik’ untuk menciptakan kondisi-kondisi agar peserta didik melakukan kegiatan belajar. Pelakunya adalah 2 pihak, yaitu: peserta didik (siswa, peserta pelatihan, kader, murid, dan sebagainya.) dan pendidik (guru, tutor, pelatih, fasilitator, dan sebagainya.). 

Pembelajaran Menurut PLA/PRA 
Participatory Rural Appraisal (PRA) atau Participatory Learning and Action (PLA) adalah metodologi pendekatan pembangunan (pengembangan masyarakat) yang mengadopsi konsep pembelajaran masyarakat. Tokoh pengembang PRA/PLA adalah Robert Chambers dari Inggris, yang menyatakan bahwa salah satu sumber atau akar PRA/PLA adalah pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan kritis atau pendidikan pembebasan yang mengartikan pembelajaran masyarakat sebagai pembelajaran untuk mengatasi masalah dan meningkatkan kualitas hidupnya. Orang dewasa tidak butuh belajar teori yang tidak relevan dengan kehidupannya. Orang dewasa, belajar sesuatu untuk dapat diterapkan. Petani, belajar teori wanatani, supaya bisa dikembangkan di kebunnya.


Itu sebabnya berkembang istilah pembelajaran aksi, PRA dan PLA: karena orang dewasa belajar agar bisa bertindak. Inilah sebabnya mengapa program infomobilisasi mengadopsiPRA/PLA sebagai metodologi pendekatan. Dalam konsep PRA/PLA, 3 agenda harus menjadi satu kesatuan, yaitu: pengkajian, pembelajaran masyarakat, dan aksi/tindakan/kegiatan.

Pembelajaran Menurut Komunikasi Pembangunan 
Participatory Development Communication (PDC) atau komunikasi pembangunan partisipatif (kombangpar) sebagai pendekatan dalam pembangunan, menempatkan masyarakat sebagai aktor (subyek) seperti pemangku kepentingan lainnya (pemdes, dinas/ instasi pemerintah, LSM, dan sebagainya) dalam sebuah hubungan kemitraan (partnership).
Masyarakat bukanlah hanya sasaran atau penerima manfaat program saja. Seorang praktisi pembangunan  seperti FI memiliki 2 peran utama, yaitu:

  • Salah satu pelaku komunikasi di dalam suatu komunitas, sedangkan pelaku lainnya adalah para pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya yang ada di komunitas tersebut; 
  • Fasilitator proses pengembangan partisipatif yang bertugas membangun dialog, kerjasama, dan keterlibatan di antara berbagai pemangku kepentingan yang ada di komunitas. 


Seluruh kegiatan yang dilakukan seorang FI dalam menjalankan perannya sebagai pelaku komunikasi dan fasilitator proses partisipatif pendampingan masyarakat, dapat disebut sebagai tugas membelajarkan masyarakat dengan menekankan pada aspek penggunaan informasi. Sumber belajar bagi seorang FI untuk menjalankan peran tersebut berasal dari beragam pendekatan, bidang studi (disiplin ilmu) dan ideologi, antara lain: pendidikan orang dewasa, advokasi, pemasaran sosial (social marketing), pengkajian/penelitian partisipatif (seperti PRA/PLA), bahkan juga program komunikasiinformasi-edukasi dan “penyuluhan partisipatif’. Jadi, tidak ada perbedaan prinsipil antara membelajarkan menurut konsep POD, PRA/ PLA dengan kombangpar karena akar atau sumber perkembangannya sejalan.

Tugas seorang praktisi pembangunan yang menggunakan pendekatan kombangpar, bukanlah untuk mentransfer atau menyebarluaskan informasi, melainkan menggunakan komunikasiinformasi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Ini berarti peningkatan kapasitas masyarakat untuk bisa berpartisipasi secara aktif. Juga menggunakan komunikasi berbasis masyarakat (community communication) untuk bisa mengembangkan sistem informasi-komunikasi lokal yang lebih demokratis dan memiliki struktur horisontal (tidak tersentral).

PROSES PEMBELAJARAN 
Filosofi pendidikan Paulo Freire merupakan sumber inspirasi utama para fasilitator pembelajaran yang menggunakan idiom partisipasi, pemberdayaan, dan pembebasan. Karena itu, berikut ini akan dipaparkan konsep pembelajaran atau pendidikan yang berkembang atas pemikiran Paulo Freire dan juga menjadi konsep dasar POD, PRA/PLA, dan kombangpar.

Proses Pendidikan Hadap Masalah
Kritik Paulo Freire terhadap dunia pendidikan yang disebut ‘pendidikan gaya bank’, masih sangat relevan sampai kini. Pendidikan ‘gaya bank’ memperlakukan masyarakat atau siswa sekolah sebagai obyek belajar (murid yang harus diajar atau dicekoki ilmu) dengan sifat ANTI DIALOGIS (searah) sehingga terjadilah proses dehumanisasi (penindasan). Hasil dari pendidikan semacam ini adalah ‘burung beo’ (murid yang pintar karena menghafal atau dimuati informasi sebanyak-banyaknya) tetapi canggung menghadapi realitas sosial atau kehidupan yang nyata.

Paulo Freire menyebut kegiatan pembelajaran sebagai proses AKSIREFLEKSI-AKSI atau disebut juga sebagai proses DIALEKTIKA. Refleksi artinya merenungi, menganalisis, atau memaknai suatu peristiwa atau keadaan atau pengalaman, sehingga timbul kesadaran. Kesadaran itu mendorong suatu tindakan atau aksi. Proses dialektika terjadi karena perenungan itu menjadi pelajaran dan mendasari aksi berikutnya terutama untuk mengatasi dan mencari jalan keluar dari masalah yang terjadi. Karena itulah, konsep pembelajaran Paulo Freire juga disebut sebagai pendidikan HADAP MASALAH (problem posing). Kita belajar mengenai realitas kehidupan untuk bisa membuatnya lebih baik, itulah tujuan dari kita belajar.

Proses pembelajaran aksi-refleksi-aksi terjadi berulang-ulang (bukan hanya satu kali) sehingga sebenarnya membentuk sebuah spiral pembelajaran. Setiap kali sebuah proses dialektika terjadi, akan dilanjutkan dengan dialektika berikutnya, dan begitu seterusnya. Artinya, sebuah proses pembelajaran tidak pernah menjadi rutinitas melainkan sebuah proses perkembangan dan transformasi. Belajar merupakan sesuatu yang terjadi sepanjang hidup.

Skema  Spiral Pembelajaran/Pendidikan Kritis


  • Obyek belajar: Realitas kehidupan yang harus diperbaharui 
  • Pendekatan: hadap masalah (problem posing) 
  • Sifat: DIALOGIS (saling memanusiakan) 
  • Proses dan tujuan: humanisasi (“memanusia”) 
  • Inti proses: penyadaran (konsientisasi)

Proses Pendidikan Orang Dewasa (POD) 
Konsep pendidikan orang dewasa (POD) atau adult education merupakan istilah yang berkembang di kalangan universitas sejak tahun 1960-an khususnya untuk bidang studi pendidikan dan pembangunandan disebut juga ilmu andragogi (kebalikan dari pedagogi atau ilmu “mengajar anak”). POD berkembang dengan adanya sumbangan pemikiran Paulo Freire. Daur pembelajaran orang dewasa dengan mengadopsi filosofi Paulo Freire dapat digambarkan sebagai berikut:

Skema 2. Daur Belajar Orang Dewasa


Tugas fasilitator pembelajaran hadap masalah adalah mengembangkan proses sebagai berikut:
1. Mulai dari Pengalaman Peserta 
Fasilitator mendorong peserta untuk menyampaikan pengalamannya dengan cara menguraikan kembali rincian fakta, unsur-unsur, urutan kejadian, dll. dari kenyataan tersebut. Kemudian menggali tanggapan dan kesan peserta atas kenyataan tersebut.

2. Lakukan Analisis 
Fasilitator mendorong peserta untuk menemukan pola dengan mengkaji sebab-sebab dan kaitan-kaitan permasalahan yang ada dalam realitas tersebut yakni tatanan, aturan-aturan, sistem yang menjadi akar persoalan.

3. Tarik Kesimpulan 
Fasilitator mengajak peserta merumuskan makna realitas tersebut sebagai suatu pelajaran dan pemahaman atau pengertian baru yang lebih utuh, berupa prinsip-prinsip atau kesimpulan umum (generalisasi) dari hasil pengkajian atas pengalaman tersebut.

4. Terapkan 
Fasilitator mengajak peserta merumuskan dan merencanakan tindakan-tindakan baru yang lebih baik berdasarkan hasil pemahaman atau pengertian baru tersebut, sehingga sangat memungkinkan untuk menciptakan kenyataan-kenyataan baru yang lebih baik. Proses pengalaman belumlah lengkap, sebelum pemahaman baru penemuan baru tersebut dilaksanakan dan diuji dalam perilaku yang sesungguhnya. Tahap inilah bagian yang bersifat “eksperimental”. Orang dewasa bukanlah ”gelas kosong” yang dengan mudah dapat dituangkan sesuatu ke dalamnya. Orang dewasa kaya pengalaman, punya pendirian dan sikap nilai tertentu.

Dalam memfasilitasi pembelajaran dengan orang dewasa di atas, perlu diperhatikan prinsipprinsip sebagai berikut:

  • Prinsip pertama; tidak menggurui atau mengajari orang dewasa, tetapi ajaklah mereka BELAJAR bersama, karena: 


  1. Orang dewasa menganggap dirinya mampu BELAJAR sendiri. 
  2. Orang dewasa mampu mengatur dirinya sendiri (mandiri) dan tidak suka diajari apalagi diperintah kecuali jika mereka diberi kesempatan untuk bertanya mengapa? Dan mengambil keputusan sendiri. Sikap yang terkesan mengguruinya akan cenderung ditolaknya, atau dihindarinya.


  • Prinsip Kedua; jangan menyalahkan atau merendahkan pendapat masyarakat (Orang Dewasa), karena: 
  1. Harga diri sangat penting bagi orang dewasa. Dia menuntut untuk dihargai, terutama menyangkut diri dan kehidupannya. 
  2. Orang dewasa memilki kesadaran akan dirinya dalam menanggapi penilaian orang lain. 
  • Prinsip Ketiga; Kembangkan proses belajar dari pengalaman masyarakat atau hubungkan antara teori dengan kehidupan sehari-hari masyarakat karena: 
  1. Orang dewasa lebih senang mengobrol dan diskusi pengalaman untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan diri mereka dan lingkungan
  2. Orang dewasa senang menceritakan pengalamannya dan senang mendengarkan pengalaman orang lain. 
  • Prinsip Keempat; Berikan informasi yang memang dibutuhkan masyarakat, karena: 
  1. Setiap orang dewasa mengontrol proses belajarnya, karena ia selalu punya tujuan pribadi untuk belajar.
  2. Orang dewasa tidak suka belajar sesuatau yang tidak bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari (tidak suka TEORI yang tidak diaplikasikan) 
  3. Orang dewasa cenderung ingin segera menerapkan pengetahuan dan keterampilan baru.
  • Prinsip Kelima; pertimbangan keterbatasan kemampuan belajar masyarakat (Orang Dewasa), karena kemampuan untuk menyerap informasi juga semakin kurang berdasar usia dan perubahan fisik.
Blog, Updated at: 21.17

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts