Pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI)

Pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI)
Pendidikan agama merupakan salah satu dari tiga subyek pelajaran yang harus dimasukkan dalam kurikulum setiap lembaga pendidikan formal di Indonesia. Hal ini karena kehidupan beragama merupkan salah satu dimensi kehidupan yang diharapkan dapat terwujud secara terpadu 

Dalam bahasa Indonesia, istilah pendidikan berasal dari kata “`didik” dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “an”, mengandung arti “perbuatan” (hal, cara atau sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani “paedagogie”, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian ditejemahkan dalam bahasa Inggris “education” yang berarti pengembangan atau bimbingan. 

Dalam bahasa Arab pengertian pendidikan, sering digunakan beberapa istilah antara lain, al-ta’lim, al-tarbiyah, dan al-ta’dib, al-ta’lim berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampaian pengetahuan dan ketrampilan. Al-tarbiyah berarti mengasuh mendidik dan al-ta’dib lebih condong pada proses mendidik yang bermuara pada penyempurnaan akhlak/moral peserta didik.

Namun, kata pendidikan ini lebih sering diterjemahkan dengan “tarbiyah” yang berarti pendidikan. Dari segi terminologis, Samsul Nizar menyimpulkan dari beberapa pemikiran ilmuwan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan secara bertahap dan simultan (proses), terencana yang dilakukan oleh orang yang memiliki persayaratan tertentu sebagai pendidik. Selanjutnya kata pendidikan ini dihubungkan dengan Agama Islam, dan menjadi satu kesatuan yang tidak dapat diartikan secara terpisah. Pendidikan agama Islam (PAI) merupakan bagian dari pendidikan Islam dan pendidikan Nasional, yang menjadi mata pelajaran wajib di setiap lembaga pendidikan Islam. 

Pendidikan agama Islam sebagaimana yang tertuang dalam GBPP PAI di sekolah umum, dijelaskan bahwa pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa. Menurut Zakiyah Darajat (1987:87) pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. 

Mata pelajaran pendidikan agama Islam secara keseluruhannya dalam lingkup Al-Qur’an dan Al-hadits, keimanan, akhlak, fiqh/ibadah, dan sejarah, sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup pendidikan agama Islam mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun lingkungannya (hablun minallah wa hablun minannas).

Jadi pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 

Dari pengertian tersebut dapat ditemukan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran pendidikan agama islam, yaitu berikut ini : 
  1. Pendidikan Agama Islam sebagai usaha sadar, yakni suatu kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan yang dilakukan secara berencana dan sadar atas tujuan yang hendak dicapai. 
  2. Peserta didik yang hendak disiapkan untuk mencapai tujuan, dalam arti ada yang dibimbing, diajari dan/atau dilatih dalam peningkatan keyakinan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan terhadap ajaran Islam.
  3. Pendidikan atau Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) yang melakukan kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau pelatihan secara sadar terhadap peserta didiknya untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam. 
  4. Kegiatan (pembelajaran) Pendidikan Agama Islam diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama Islam dari peserta didik, yang disamping untuk membentuk kesalehan pribadi, juga sekaligus untuk membentuk kesalehan sosial.

Dasar-dasar Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam 
Pelaksanaan pendidikan agama Islam di Sekolah mempunyai dasar yang kuat. Dasar tersebut menurut Zuhairini dkk. dapat ditinjau dari berbagai segi, yaitu : 
a. Dasar Yuridis / Hukum 
Dasar pelaksanaan pendidikan agama berasal dari perundang-undangan yang secara tidak langsung dapat menjadi pegangan dalam melaksanakan pendidikan agama di sekolah secara formal. Dasar Yuridis formal tersebut terdiri dari tiga macam, yaitu : 
  • Dasar Ideal, yaitu dasar falsafah negara Pancasila, sila pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa 
  • Dasar Struktural/konstitusional, yaitu UUD’45 dalam Bab XI pasal 29 ayat 1 dan 2, yang berbunyi : 
  1. Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa ; 
  2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaan itu. 
  3. Dasar operasional, yaitu terdapat dalam Tap MPR No.IV/MPR/1973 yang kemudian dikokohkan dalam Tap MPR No.IV/MPR/1978 jo. Ketetapan MPR Np. II/MPR/1983, diperkuat oleh Tap. MPR No. II/MPR/1988 dan Tap. MPR No. II/MPR 1993 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara yanng pada pokoknya menyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan agama secara langsung dimaksudkan dalam kurikulum sekolah-sekolah formal, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. 
b. Segi Religius 
Yang dimaksud dengan dasar religius/agama adalah dasar yang bersumber dari ajaran islam baik yang tertera dalam Al Qur’an atau Hadits Nabi. Menurut ajaran islam pendidikan agama adalah perintah Tuhan dan merupakan perwujudan ibadah kepada-Nya.

c. Aspek Psikologis 
Psikologis adalah dasar yang berhubungan dengan aspek kejiwaan kehidupan bermasyarakat. Hal ini didasarkan bahwa, dalam hidupnya manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat seringkali dihadapkan pada hal-hal yang membuat hatinya tidak tenang dan tidak tenteram sehingga memerlukan pegangan hidup. 

Sebagaiamana telah dikemukakan oleh Zuhairini dkk bahwa : semua manusia di dunia ini selalu membutuhkan adanya pegangan hidup (agama). Mereka merasakan bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya zat Yang Maha Kuasa, ttempat mereka memohon pertolongan-Nya. Hal semacam ini terjadi pada masyarakat yang masih primitif maupun masyrakat yang sudah modern. ereka merasa tenang dan tentram hatinya kalau mereka dapat mendekat dan mengabdi kepada Zat Ynag Maha Kuasa. Berdasarkan uraian ini jelaslah bahwa untuk membuat hati tenang dan tentram ialah dengan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Tujuan Pendidikan Agama Islam 
Tujuan artinya sesuatu yang dituju, yaitu yang akan dicapai dengan suatu usaha atau kegiatan. Dalam bahasa arab dinyatakan dengan ghayat atau maqasid. Sedang dalam bahasa Inggris, istilah tujuan dinyatakan dengan “goal atau purpose atau objective”  Suatu kegiatan akan berakhir, bila tujuannya sudah tercapai. Kalau tujuan tersebut bukan tujuan akhir, kegiatan selanjutnya akan segera dimulai untuk mencapai tujuan selanjutnya dan terus begitu sampai kepada tujuan akhir.

Dalam merumuskan tujuan tentunya tidak boleh menyimpang dari ajaran Islam. Sebagaimana yang telah diungkapkan Zakiyah Darajat dalam bukunya Metodologi Pengajaran Agama Islam menyebutkan tiga prinsip dalam merumuskan tujuan yaitu: 
  1. Memelihara kebutuhan pokok hidup yang vital, seperti agama, jiwa dan raga, keturunan, harta, akal dan kehormatan. 
  2. Menyempurnakan dan melengkapi kebutuhan hidup sehingga yang diperlukan mudah didapat, kesulitan dapat diatasi dan dihilangkan. 
  3. Mewujudkan keindahan dan kesempurnaan dalam suatu kebutuhan. 

Pendidikan agama Islam di sekolah / madrasah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembangdalam hal keimanan, ketakwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi. 

Penekanan terpenting dari ajaran agama Islam pada dasarnya adalah hubungan antar sesama manusia yang sarat dengan nilai-nilai yang berkaitan dengan moralitas sosial itu. Sejalan dengan hal ini, arah pelajaran etika di dalam al Qur’an dan secara tegas di dalam hadis Nabi mengenai diutusnya Nabi adalah untuk memperbaiki moralitas bangsa Arab waktu itu. 

Oleh karena itu, berbicara pendidikan agama islam, baik makna maupun tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas sosial. Penanaman nilai-nilai ini juga dalam rangka menuai keberhasilan hidup (hasanah) di dunia bagi anak didik yang kemudian akan mempu membuahkan kebaikan (hasanah) di akhirat kelak. 

Fungsi Pendidikan Agama Islam 
Sebagai suatu subyek pelajaran, pendidikan agama Islam mempunyai fungsi berbeda dengan subyek pelajaran yang lain. Ia dapat memiliki fungsi yang bermacam-macam, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai masing-masing lembaga pendidikan. Namun secara umum, Abdul majid mengemukakan bahwa kurikulum pendidikan agama Islam untuk sekolah/madrasah berfungsi sebagai berikut : 
a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya dan pertama-tama kewajiban dilakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga. Sekolah berfungsi untuk menumbuhkan menanamkan keimanan dan ketakwaan dilakukanoleh setiap orang tua dalam keluarga. Sekolah berfungsi untuk menumbuh kembangkankan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan ketakwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya. 

b. Penanaman nilai, sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

c. Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan-nya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam. Penyesuaian menta, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam. 

d. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangankekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari. 

e. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya. 

f. Pengajaran, tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan nir-nyata), sistem dan fungsionalnya. 

g. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.

Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Secara umum, sebagaimana tujuan pendidikan agama islam di atas, maka dapat ditarik beberapa dimensi yang hendak dituju oleh kegiatan pembelajaran pendidikan agama Islam. Yaitu, 
  • Dimensi keimanan peserta didik terhadap ajaran agama Islam. 
  • Dimensi pemahaman atau penalaran intelektual serta keilmuan peserta didik terhadap ajaran agama Islam. 
  • Dimensi penghayatan atau pengalaman batin yang dirasakan peserta didik dalam menjalankan ajaran Islam. 
  • Dimensi pengamalan, dalam arti bagaimana ajaran islam yang telah di imani, dipahami dan dihayati oleh peserta didik itu mampu menumbuhkan motivasi dalam dirinya untuk mengamalkan ajaran agama dan nilai-nilainya dalam kehidupan pribadinya serta merealisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sedang menurut Hasbi Ash-Shidiqi, ruang lingkup pendidikan agama Islam meliputi :
  1. Tarbiyah jismiyyah, yaitu segala rupa pendidikan yang wujudnya menyuburkan dan menyehatkan tubuh serta menegakkannya, supaya dapat merintangi kesukaran yang dihadapi dalam pengalamannya. 
  2. Tarbiyah aqliyah, yaitu sebagaimana rupa pendidikan dan pelajaran yang hasilnya dapat mencerdaskan akal menajamkan otak semisal ilmu berhitung. 
  3. Tarbiyah adabiyah, segala sesuatu praktek maupun teori yang dapat meningkatkan budi dan meningkatkn perangai. Tarbiyah adabiyah atau pendidikan budi pekerti/akhlak dalam ajaran islam merupakam salah satu ajaran pokok yang mesti diajarkan agar umatnya memiliki dan melaksanakan akhlak yang mulia sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Dengan melihat arti pendidikan islam dan ruang lingkupnya diatas, jelaslah bahwa dengan pendidikan Islam kita berusaha untuk membentuk manusia yang berkepribadian kuat dan baik (akhlakul karimah) berdasarkan pada ajaran agama Islam. Oleh karena itulah, pendidikan Islam sangat penting sebab dengan pendidikan Islam, orang tua atau guru sebisa mungkin mengarahkan anak untuk membentuk kepribadian yang sesuai dengan ajaran islam.

Pentingnya Pendidikan Agama Islam bagi Peserta Didik 
Setelah kita mengetahui tujuan, fungsi maupun lapangan pendidikan agama Islam, tentunya pendidikan agama Islam sangat penting dalam mengarahkan potensi dan kepribadian peserta didik dalam pendidikan Islam. Begitu pentingnya pendidikan agama Islam di sekolah dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu pendidikan agama islam di Indonesia dimasukkan ke dalam kurikulum nasional yang wajib diikuti oleh semua anak didik mulai jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi . 

Bagi umat Islam tentunya pendidikan agama yang wajib diikutinya itu adalah pendidikan agama islam. Dalam hal ini pendidikan agama Islam mempunyai tujuan kurikuler yang merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang termaktub dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, yaitu :  

Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Mengingat betapa pentingnya pendidikan agama islam dalam mewujudkan tujuan pendidikan Nasional, maka pendidikan agama Islam harus diberikan dan dilaksanakan di sekolah dengan sebaik-baiknya.

Kurikulum Pendidikan Agama Islam 
1. Pengertian Kurikulum 
Secara etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Latin “curriculum”, semula berarti lapangan perlombaan lari. Dan terdapat pula dalam bahasa Yunani “courir” yang artinya berlari. Istilah kurikulum berasal dari dunia olahraga pada zaman Romawi Kuno. Kemudian istilah itu digunakan untuk menyebut sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu gelar atau ijazah. 

Secara istilah beberapa ahli mengendefinisikan : 
M. Arifin memandang kurikulum sebagai seluruh bahan pelajaran yang harus disajikan dalam proses kependidikan dalam suatu sistem institusional pendidikan 

Corow and Crow mendefinisikan bahwa kurikulum adalah rancangan pengajaran atau sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sitematis untuk menyelesaikan suatu program. 

Menurut Zakiah Darajat, kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan pendidikan tertentu. 

Dari beberapa pengertian diatas, definisi M. Arifin dan Corow and Crow, lebih tradisional karena kurikulum lebih menitik beratkan pada materi pelajaran semata. Sedang pengertian Zakiah Daradjat lebih luas dari pengertian sebelumnya karena disini kurikulum tidak hanya dipandang dalam artian mata pelajaran, namun juga mencakup seluruh program di dalam kegiatan pendidikan. 

Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 disebutkan bahwa “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.

Jadi kurikulum ialah suatu program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang direncanakan dan dirancang secara sistemik atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.

2. Materi / Isi Pendidikan Agama Islam 
Kurikulum yang baik dan relevan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan islam adalah yang bersifat integrated dan komperehensif serta menjadikan Al-Qur’an dan As Sunnah sebagai pedoman utama dalam hidup. Sebagaimana kita ketahui ajaran pokok Islam adalah meliputi : masalah Aqidah (keimanan), syari’ah (keislaman), dan akhlak (ihsan). Ketiga kelompok ilmu agama ini kemudian dilengkapi dengan pembahasan dasar hukum Islam yaitu Al Qur’an dan Al Hadits serta ditambah lagi dengan sejarah Islam (tarikh)  sehingga secara berurutan : 
  • Tauhid (ketuhanan), suatu bidang studi yang mengajarkan dan membimbing untuk dapat mengetahui, meyakini dan mengamalkan akidah islam secara benar. 
  • Akhlak ; Mempelajari tentang akhlak-akhlak terpuji yang harus di teladani dan tercela yang harus dijauhi. Serta mengajarkan pada peserta didik untuk membentuk dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam bentuk tingkah laku baik dalam hubungan dengan Allah, sesama manusia maupun manusia dengan alam. 
  • Fiqh/Ibadah ; merupakan pengajaran dan bimbingan untuk mengetahui syari’at Islam yang di dalamnya mengandung perintah-perintah agama yang harus diamalkan dan larangan yang harus dijauhi. Berisi normanorma hukum, nilai-nilai dan sikap yang menjadi dasar dan pandangan hidup seorang muslim, yang harus di patuhi dan dilaksanakan oleh dirinya, keluarganya dan masyarakat lingkungannya. 
  • Studi Al Qur’an; merupakan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran membaca dan mengartikan/menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an tertentu yang sesuai dengan kepentingan siswa menurut tingkat-tingkat sekolah yang bersangkutan. Sehingga dapat dijadikan modal kemampuan untuk mempelajari, meresapi dan menghayati pokok-pokok kandungan dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. 
  • Al Hadits; seperti halnya Al Qur’an diatas merupakan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran membaca dan mengartikan hadits-hadits tertentu sesuai dengan kepentingan siswa. Sehingga siswa dapat mempelajari, menghayati dan menarik hikmah yang terkandung di dalamnya. 
  • Tarikh Islam; memberikan pengetahuan tentang sejarah dan kebudayaan Islam, meliputi masa sebelum kelahiran Islam, masa Nabi dan sesudahnyabaik dalam daulah Islamiyah maupun pada negara-negara lainnya di dunia, khususnya perkembangan agama islam di tanah air.
3. Standar Kompetensi Pendidikan Agama Islam 
Kompetensi dasar berisis sekumpulan kemampuan minimal yang harus dukuasai siswa selama menempuh pendidikan disekolah dasar/madrasah Ibtidaiyyah. Kemmapuan ini berorientasi pada perilaku efektif dan psikomorik dengan dudkungan pengetahuan kognitif dalam rangka memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allad SWT. 

Kemampuan-kemampuan yang tercantum dalam komponen kemampuan dasar ini merupakan penjabaran dari kemampuan dasar umum yang harus dicapai di sekolah menengah umum/Madrasah aliyah yaitu : 
  • Beriman kepada Allah SWt dan lima rukun iman yang lain dengan mengetahui fungsi dan hikmahnya serta terefleksi dalam sikap, perilaku dan akhlak peserta didik dalam dimensi vertikal maupun horisontal. 
  • Dapat membaca, menulis, dan memahami ayat Al Qur’an serta mengetahui hukum bacaannya dan mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. 
  • Mampu beribadah dengan baik sesuai dengan tuntunan syariat Islam baik ibadah wajib, maupun ibadah Sunnah. 
  • Dapat meneladani sifat, sikap, dan kepribadian Rasulullah, sahabat, dan tabi’in serta mampu mengambil hikmah dari sejarah perkembangan Islam untuk kepentingan hidup sehari-hari masa kini dan masa depan. 
  • Mampu megamalkan sistem muamalat Islam dalam tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Metodologi Pendidikan Agama Islam 
1. Pengertian Metodologi 
Metodologi merupakan pembahasan tentang metode atau metodemetode. Ditinjau dari segi bahasa metode berasal dari bahasa Yunani “methodos” kata ini terdiri dari dua suku kata, yaitu “metha” yang berarti melalui/melewati dan “hodos” yang berarti jalan/cara.

Dalam bahasa Inggris dikenal term method dan way yang diterjemahkan dengan metode & cara dalam bahasa Arab, kata metode diungkapkan dalam berbagai kata seperti kata at-thoriqoh, al manhaj, dan al wasilah. At thoriqoh berarti jalan, al manhaj berarti sistem, dan al wasilah berarti mediator/perantara. Dengan demikian, kata Arab yang paling dekat dengan arti metode adalah ath-thoriqoh. Maka metode memiliki arti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. 

Selanjutnya jika kata metode tersebut dikaitkan dengan pendidikan Islam, dapat membawa arti metode sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi obyek sasaran, yaitu pribadi Islami. Selain itu metode dapat pula membawa arti sebagai cara untuk memahami, menggali, dan mengembangkan ajaran Islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangna zaman. Inilah pengertian-pengertian metode yang dapat dipahami dapat dipahami dari berbagai pendapat yang dibuat para ahli. 

Dari pendekatan kebahasaan tersebut nampak bahwa metode lebih menunjukkan kepada jalan dalam arti jalan yang bersifat non fisik. Yakni jalan dalam bentuk ide-ide yang mengacu kepada cara yang mengantarkan seseorang untuk sampai pada tujuan yang ditentukan. Namun demikian, secara terminologis atau istilah kata metode bisa membawa kepada pengretian yang bermacam-macam sesuai dengan konteksnya. Hasan langgulung mengatakan, karena pelajaran agama sebagaimana diungkapkan di dalam Al Quran itu bukan hanya satu segi saja, melainkan bermaca-macam, yaitu ada kognitifnya seperti tentang fakta-fakta sejarah, syarat-syarat sah sholat, ada aspek afektifnya, seperti penghayatan pada nilai-nilai keimanan dan akhlakh, dan ada aspek psikomotorik seperti praktek sholat, haji, dan sebagainya, maka metode untuk mengajarkannya pun bermacam-macam, sehingga metode pendidikan islam itu dapat diartikan sebagai metode pengajaran yang disesuaikna dengan materi atau bahan pelajaran yang terdapat dalam islam itu sendiri. Karena muatan ajaran islam itu luas, maka metode Pendidikan islam pun luas cakupannya. 

Menurut Ahmad tafsir metode pengajaran agama Islam adalah cara paling efektif dan efisien dalam mengajarkan agama Islam. Pemilihan metode yang tepat disamping efektif dan efisien juga akan membawa suasana belajar yang menarik bagi siswa. 

2. Macam-macam Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam 
Metode mempunyai kedudukan yang penting dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan.melalui metode yang tepat bukan saja materi pelajaran dimungkinkan tercapai pada peserta didik, tetapi lebih jauh dari itu, melalui metode pendidikan pengertian-pengertian fungsional akan terserap oleh peserta dididk.

Banyak metode yang telah dikemukakan oleh ahli pendidikan dalam proses pembelajaran. Setiap metode memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan metode diantaranya, tujuan pembelajaran, kondisi peserta didik, materi ajar, situasi dan fasilitas. Tentunya pemilihan metode harus didasarkan pada hal-hal tersebut, sehingga tujuan pembelajaran dapat tersampaikan. 

Dibawah ini beberapa metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam antara lain : 
a. Metode ceramah 
Ceramah merupakan metode adalah metode tradisional, yaitu menyampaikan suatu pelajaran dengan jalan penuturan secara lisan pada peserta didik. Ciri metode ini yang sangat menonjol adalah peran guru di dalam kelas tampak sangat dominan, sehingga peserta didik hanya berperan sebagai obyek bukan sebagai subyek pendidikan. 

b. Metode kerja kelompok 
Metode kerja kelompok adalah penyajian materi dengan cara pemberian tugas-tugas untuk mempelajari sesuatu kepada kelompok-kelompok belajar yang sudah ditentukan dalam rangka mencapai tujuan. 

c. Metode tanya jawab 
Metode ini merupakan salah satu teknik mengajar yang dapat membantu kekurangan-kekurangan yang terdapat pada metode ceramah. Ini disebabkan karena guru dapat memperoleh gambaran sejauh mana dapat mengerti dan dapat mengungkap apa yang telah diceramahkan.

d. Metode Teladan
Dalam Al Qur’an kata teladan diproyeksikan dengan kata uswah yang kemudian diberi sifat dibelakangnya seperti sifat hasanah yang berarti baik. Metode ini dianggap penting karena aspek agama yang terpenting adalah akhlak yang termasuk dalam kawasan afektif yang terwujud dalam bentuk tingkah laku (behavioral). 

e. Metode kisah 
Kisah atau cerita sebagai suatu metode pendidikana mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan. Islammenyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita itu, dan menyadari pengaruhnya yang besar terhadap perasaan. Oleh karena itu Islam mengeksploitasi cerita itu untuk dijadikan salah satu teknik pendidikan. Ia menggunakan berbagai jenis cerita; cerita sejarah faktual yang menampilkan suatu contoh kehidupan manusia yang dimaksudkan agar kehidupan manusia bisa seperti pelaku yang ditampilkan oleh contoh tersebut. 

f. Metode Pembiasaan 
Cara lain yang digunakan oleh Al Qur’an dalam memberikan materi pendidikan adalah melalui kebiasaan yang dilakukan secara bertahap. Al Qur’an menjadikan kebiasaan itu sebagai salah satu teknik atau metode pendidikan. Lalu ia mengeubah seluruh sifa-sifat baik menjadi kebiasaan peserta didik. Sehingga peserta didik dapat menuanikan kebiasaan itu tanpa terlalu payah.

g. Metode diskusi 
Metode diskusi merupakan salah satu cara yang dapat digunakan dalam meyelesaikan masalah serta dapat memperluas pengetahuan. Proses diskusi dapat dilakukan dengan cara bertukar pikiran/pendapat maupun dengan bantah-bantahan sampai akhirnya menemukan satu kesimpulan. Metode ini baik digunakan dalam mengasah penalaran peserta didik.

h. Metode Demonstrasi 
Demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau sekedar tiruan.

i. Metode Inquiry 
Merupakan salah satu metode pengajaran dengan cara guru menyuguhkan suatu peristiwa kepada siswa yang mengandung teka-teki dan memotivasi siswa untuk mencari pemecahan masalah. Metode ini ditelusuri dari fakta menuju teori. 

j. Metode Problem Solving 
Problem solving adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan jalan dimana siswa dihadapkan pada suatu permasalahan dan dituntut untuk mencari solusinya. Dalam mata pelajaran PAI metode baik digunakan dalam meyajikan materi fikih. Yakni dengan menyajikan permasalahan khilafiah ulama maupun permasalah kontemporer yang tidak disebutkan hukumnya secara eksplisit dalam AlQur’an dan Hadits.
Blog, Updated at: 22.20

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts