Perspektif Pendekatan Penelitian

Perspektif Pendekatan Penelitian
Agar dapat mengetahui serta mendeskripsikan keadaan yang sebenarnya secara rinci dan aktual dengan melihat masalah dan tujuan penelitian seperti yang tertuang dalam pendahuluan, maka metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Meski demikian, dalam penelitian ini tidak menutup kemungkinan menggunakan cara-cara yang digunakan dalam penelitian kuantitatif, selama dalam menggunakan cara-cara tersebut dipandang oleh penulis mampu memaksimalkan pencarian data dan menganalisisnya, seperti menghitung prosentase, dan menghitung skor kompetensi kepala sekolah. 

Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, yang dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah yang diselidiki dengan melukiskan keadaan subjek dan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau bagaimana adanya. Pada umumnya penelitian deskriptif merupakan penelitian yang non hipotesis sehingga dalam rangka penelitiannya bahkan tidak perlu merumuskan hipotesisnya (Suharsimi Arikunto, 2007 : 126). 

Metode penelitian deskriptif adalah metode yang digunakan untuk mendapatkan gambaran keseluruhan obyek penelitian secara akurat. Pelaksanaan metode penelitian deskriptif tidak terbatas hanya sampai pada pengumpulan dan penyusunan data, tetapi meliputi analisis dan interpretasi tentang arti data tersebut, selain itu semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang diteliti (Moleong, 2005 : 11).

Sugiyono (1998), mengatakan bahwa metode penelitian deskriptif bertujuan untuk mendapatkan dan menyampaikan fakta-fakta dengan jelas dan teliti. Studi deskriptif harus lengkap, tanpa banyak detail yang tidak penting dengan menunjukkan apa yang penting atau tidak. Dalam konsep Grounded Research bahwa suatu cara penelitian bersifat kualitatif menjadi berpengaruh dengan suatu pandangan yang berbeda tentang hubungan antara teori dan pengamatan. 

Fokus Penelitian 
Kepala sekolah adalah pimpinan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan. Kepala sekolah memiliki peran yang besar dalam mengembangkan mutu pendidikan di sekolahnya. Keberhasilan kepala sekolah dalam pelaksanaan tugas dan fungsi yang merupakan implementasi dari kompetensi manajerial, supervisi, kewirausahaan, kepribadian dan sosial sangat ditentukan oleh kinerja kepala sekolah. Oleh karena itu kepala sekolah hendaknya senantiasa berusaha mengembangkan diri untuk mewujudkan performa kinerja yang optimal. 

Berdasarkan pemikiran tersebut fokus dalam penelitian ini adalah : 
1. Kinerja kepala sekolah dasar di Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang, yang dilihat dari kompetensi, motivasi, dan pendidikan dan latihan.
2. Faktor-faktor kinerja kepala sekolah dasar di Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang, yang meliputi : kepeimimpinan dan kerjasama 

Lokasi Penelitian 
Lokasi dalam penelitian ini adalah di wilayah Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Objek penelitian berada di Dinas Pendidikan, tepatnya di bawah naungan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang. Wilayah penelitian ini berada wilayah pantura yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian nelayan dan petani. Wilayah Rembang berada di wilayah pantura, di ujung Timur bagian Utara Jawa Tengah. 

Kondisi ini mempengaruhi karakteristik masyarakat dalam menjalani hidupnya, termasuk kontribusinya dalam bidang pendidikan. Mereka cenderung bekerja keras mencari nafkah keluarga dibanding memperdulikan pendidikan, sehingga masalah pendidikan sepenuhnya diserahkan kepada sekoah. Walaupun ada yang peduli pendidikan, tetapi tidak sebanding dengan jumlah penduduknya. Demikian juga anak-anaknya, sepulang sekolah kebanyakan membantu orang tua mengerjakan pekerjaan bertani atau nelayan. Hal ini sesuai dengan keadaan nelayan yang tidak pernah berhenti bekerja. 

Ketika musim kemarau mengolah garam, dan ketika musim hujan tambak dipakai untuk perikanan seperti bandeng dan udang windu. Penelitian tentang kualitas pelayanan pendidikan ini lebih difokuskan pada Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang, yang membawahi 26 sekolah dasar . Adapun pemilihan lokasi penelitian di Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang tersebut dikarenakan : ada permasalahan dalam kinerja kepala sekolah dasar seperti yang tertuang dalam pendahuluan, seperti : kompetensi kepala sekolah yang kurang memadai, supervisi belum optimal, kerja sama belum optimal dan rendahnya motivasi. Permasalahan tersebut perlu dideskripsikan agar menemukan pemecahanannnya.

Fenomena Pengamatan 
Fenomena yang diamati dalam penelitian ini adalah kinerja kepala sekolah dan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja kepala sekolah dasar 
  1. Kinerja kepala sekolah dasar dalam melakukan tugas profesinya terlihat ketika kepala sekolah melaksakan tugas sehari-hari yang merupakan pencerminan dari lima kompetensi kepala sekolah: kompetensi manajerial , kompetensi supervisi, kompetensi kewirausahaan, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial, serta faktor motivasi, dan pendidikan dan latihan. 
  2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja kepala sekolah, yaitu merupakan segala fenomena yang ada dan yang dapat berdampak positif atau negatif terhadap kinerja kepala sekolah baik yang bersifat internal maupun eksternal yaitu tentang kepemimpinan dan kerja sama.

Jenis dan Sumber Data 
Jenis dan sumber data yang penulis tentukan dan peroleh adalah : 
  1. Data primer, penulis peroleh melalui : wawancara dengan informan 
  2. Sumber data skunder, penulis peroleh melalui telaah dokumentasi.
Pemilihan Informan Informan penelitian adalah sumber informasi utama yaitu orang yang benar-benar tahu atau pelaku yang terlibat langsung dengan permasalahan penelitian. Dalam hal ini besaran informan tidak menentukan, tetapi yang penting adalah kedalaman informasi yang diperoleh oleh peneliti. Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Jadi ia harus mempunyai banyak pengalaman tentang latar penelitian (Moleong, 2005 : 132). Bagi peneliti, informan ini membantu agar secepatnya dan tetap seteliti mungkin dapat membenamkan diri dalam konteks permasalahan penelitian. 

Sehingga dalam waktu singkat informan dapat memberi informasi yang sebanyak-banyaknya. Informan ini sekaligus menjadi sampling internal. Dikatakan sebagai sampling internal karena informan dimanfaatkan untuk berbicara, bertukar pikiran, atau membandingkan suatu kejadian yang ditemukan dari subjek lain (Bogdan dan Biklen, 1981 : 65 dalam Moleong, 2005 : 132). Dalam penelitian deskriptif kualitatif tidak mengenal adanya populasi. Dengan demikian dalam penelitian ini tidak membuat batasan tentang populasi penelitian. 

Objek yang diteliti berupa manusia, situasi, dan fenomena dengan menggunakan purposive sample yaitu sampel yang dipilih tidak secara acak tetapi sampel bertujuan (Moleong, 2005 : 224). Dengan menggunakan teknik purposive sampling, peneliti memilih informan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk digali informasinya melalui wawancara. Adapun prosesnya melalui snowbolling, yaitu proses pengambilan informan yang tidak mempersoalkan dari mana atau dari siapa ia mulai tetapi bila hal itu sudah berjalan, maka pemilihan berikutnya bergantung pada apa keperluan peneliti (Moleong opcit Hal 166) 

Sebagaimana dikemukakan Spradley (dalam Faisal, 1990 : 44-45) bahwa ada beberapa persyaratan untuk menjadi seorang informan, yaitu : 
  1. Mereka yang menguasai atau memahami sesuatu melalui proses enkulturasi sehingga sesuatu itu bukan sekedar diketahui tetapi juga dihayati. 
  2. Mereka yang tergolong masih sedang berkecimpung/terlibat pada kegiatan yang diteliti. 
  3. Mereka yang memiliki kesempatan/waktu yang memadai untuk dimintai informasi. 
  4. Mereka yang tidak cenderung menyampaikan informasi hasil kemasannya sendiri. 
  5. Mereka yang pada mulanya tergolong cukup asing akan peneliti sehingga lebih menggairahkan untuk dijadikan semacam guru atau nara sumber.

Terkait dengan hal tersebut di atas maka yang dijadikan informan dalam penelitian ini adalah : 
  1. Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas pendidikan Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang , 
  2. Pengawas TK/SD di wilayah Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Kecamatan Kaliori, 
  3. Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), 
  4. Ketua Gugus Sekolah, 
  5. Ketua Komite Sekolah di wilayah Kecamatan Kaliori, 
  6. Kepala Sekolah Dasar , dan 
  7. Guru di wilayah Kecamatan Kaliori.
Juga dimungkinkan ada informan lain yang lebih ahli dibidang ini yang penulis temukan di lapangan, akan penulis gali juga informasinya. Penulis memilih mereka, karena mereka selalu berhubungan dengan kerja kepala sekolah, sehingga langsung maupun tidak langsung akan tahu kinerja kepala sekolah. G. Instrumen Penelitian Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Terdapat beberapa alasan yang mendasar mengapa peneliti dijadikan sebagai instrumen utama, yaitu sebagaimana dikemukakan 

Nasution (1988:55) antara lain dikemukakan : 
  1. Peneliti peka dan dapat bereaksi terhadap segala stimulus dari lingkungan yang harus diperkirakannya bermakna atau tidak bagi penelitian. 
  2. Peneliti dapat mudah menyesuaikan diri terhadap aspek keadaan dan dapat mengumpulkan aneka ragam sekaligus. 
  3. Peneliti mudah menangkap atau memahami keseluruhan situasi dalam segala seluk beluknya.
  4. Peneliti dapat merasakan, menyelami dan memahami suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia berdasarkan pengamatannya. 
  5. Peneliti dapat segara menganalisis data yang diperoleh sehinga segara menentukan arah pengamatan/penelitian. 
  6. Peneliti sebagai instrumen dapat mengambil kesimpulan berdasarkan data yang dikumpulkan pada suatu saat dan segara menggunakannya sebagai balikan untuk memperoleh penegasan, perubahan, perbaikan, atau penolakan. 
  7. Peneliti tetap memperhatikan respon yang menyimpang, bahkan respon yang bertentangan akan dipakai untuk mempertinggi tingkat kepercayaan dan pemahaman mengenai aspek yang diteliti. 
Sebagai instrumen penelitian, peneliti berperan serta dalam pengamatan. Peneliti berinteraksi dengan informan dan mengamati fokus yang menjadi permasalahan penelitian. Peneliti mengumpulkan data berupa catatan dan isian dari lembar pengamatan, catatan lapangan itu dikumpulkan secara sistematis dan berlaku tanpa gangguan. 

Sebagai pengamat dan peneliti, peneliti berperan serta dalam kehidupan sehari-hari subjeknya/informannya pada setiap situasi yang dinginkannya untuk dapat dipahaminya. Tetapi tidak seluruh peristiwa subjeknya perlu berperan serta. Jika sudah berada pada masalah penelitian, peneliti bisa berbicara dengan subjeknya, bertukar pendapat, berkelakar, menunjukkan perasaan simpati kepada mereka, dan merasakan bersama apa yang dirasakan oleh subjeknya. 

Cara-cara berkomunikasi dan berinteraksi yang demikian dapat memberi peluang peneliti untuk dapat memandang kebiasaan, konflik, dan perubahan yang terjadi dalam diri subjek dan keterkaitannya dengan permasalahan. Cara inilah yang dipandang perlu untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Alat bantu instrumen penelitian yang penulis gunakan adalah pedoman wawancara. Alat bantu instrumen tersebut berada dalam lampiran tulisan ini. 

Teknik Pengumpulan Data 
Dalam penelitian kualitatif, peneliti sendirilah yang menjadi instrumen. Peneliti meninjau langsung ke lapangan untuk mengumpulkan data atau informasi yang sesuai dengan fokus penelitian. Keberhasilan suatu penelitian naturalistik atau kualitatif sangat tergantung pada ketelitian dan kelengkapan catatan lapangan (field notes) yang disusun peneliti. 

Untuk kepentingan itu, peneliti menyediakan peralatan berupa buku catatan, tape recorder, dan camera/foto, yang terlebih dahulu dibicarakan dengan nara sumber agar tidak mengganggu proses pengumpulan data. Untuk memperoleh data dan informasi yang akurat, maka diperlukan tekhnik pengumpulan data yang sesuai dengan metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data tersebut terdiri dari wawancara, observasi dan studi dokumentasi.

1. Metode Wawancara 
Teknik ini digunakan untuk menggali informasi yang lebih mendalam tentang latar belakang dan fokus penelitian. Dalam pelaksanaan wawancara peneliti dapat berkomunikasi langsung dengan responden sehingga mendapatkan penjelasan dan keterangan tentang informasi yang diperlukan. Dengan wawancara pula peneliti mengecek ulang informasi yang telah di dapat. Untuk memelihara kewajaran suasana dalam proses wawancara struktur, peneliti juga menggunakan tipe wawancara informal atau wawancara tak struktur. 

Melalui obrolan yang akrab, maksudnya agar tidak diketahui, bahwa sedang meneliti dirinya sehingga tidak merasa dipaksa atau adanya unsur rekayasa. Wawancara antara peneliti dengan rersponden atau informan dilakukan secara mendalam. Dalam wawancara yang dilaksanakan tersebut, peneliti berusaha agar proses wawancara berlangsung dengan baik sehingga mendapatkan informasi yang akurat sebagai data dalam penelitian ini. Wawancara dalam penelitian ini untuk memperoleh data dari beberapa responden atau informan, yaitu kepala UPT Dinas Pendidikan, pengawas sekolah, ketua Kelompok Kerja Kepala Sekola, ketua gugus sekolah, Komite Sekolah, kepala sekolah, dan guru. 

2. Metode Observasi/Pengamatan 
Teknik observasi sering diartikan sebagai suatu kegiatan aktiva yang sempit, yakni memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata. 

Di dalam pengertian psikologik observasi meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera Teknik observasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengamati langsung kegiatan Kepala Sekolah dalam manajeman pendidikan dan seluruh kegiatan penyelenggaraan sekolah. 

Metode pengamatan yang dipilih peneliti adalah tipe pengamatan terbuka. Kehadiran peneliti diketahui secara terbuka oleh subyek penelitian. Merekapun secara sukarela memberikan kesempatan kepada peneliti untuk mengamati peristiwa yang terjadi dan aktivitas yang mereka lakukan. Penggunaan pengamatan memungkinkan peneliti dapat melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya (Moleong, 2005 : 125). Observasi atau pengamatan dilakukan untuk memperoleh gambaran yang utuh, jelas dan mendalam dari fokus penelitian. 

3. Metode Dokumentasi 
Studi dokumentasi sangatlah besar manfaatnya karena dapat menggambarkan latar belakang mengenai pokok masalah penelitian juga dapat dijadikan bahan pengecekan atau trianggulasi terhadap kesesuaian data. Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda dan sebagainya. Metode ini digunakan untuk melihat situasi dan kondisi lainnya yang terkait dengan data-data tertulis tentang kinerja kepala sekolah 

Teknik Analisis Data 
Analisis data kualitatif bertujuan pada proses penggalian makna, penggambaran, penjelasan, dan penempatan data pada konteksnya masingmasing. Uraian data jenis ini berupa kalimat-kalimat, bukan angka-angka atau tabel. Untuk itu data yang diperoleh harus diorganisir dalam struktur yang mudah dipahami dan diuraikan (Arikunto, 2007 : 126). 

Gambar  Proses Analisis Data Kualitatif

Sumber : Arikunto, 2007 : 126

Dari bagan di atas dapat dijelaskan bahwa proses pengumpulan data kualitatif yang dilakukan perlu di-display. Display akan sangat membantu baik bagi peneliti maupun bagi orang lain, display merupakan media penjelas objek yang diteliti. Selain itu, proses reduksi data ditujukan untuk menyaring, memilih dan memilah data yang diperlukan, menyusunnya kedalam suatu urutan rasional dan logis, serta mengaitkannya dengan aspek-aspek terkait. Hasilnya adalah berupa kesimpulan tentang objek yang diteliti.

Menurut Moleong (2005 :248), analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. 

Adapun tahapan-tahapan dalam menganalisis data adalah sebagai berikut : 
  1. Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, dengan hal itu diberi kode agar sumber datanya tetap dan dapat ditelusuri, 
  2. Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, mensintesiskan, membuat ikhtiar, dan membuat indeksnya, 
  3. Berfikir, dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna, mencari data dan menemukan pola dan hubungan-hubungan, dan membuat temuan baru 
Dalam pelaksanaan penelitian, analisis data dapat dilakukan bersamaan dengan proses pengamatan. Jadi selama proses penelitian berlangsung data yang diperoleh dapat langsung dianalisis. Sesuai dengan metode penelitian dan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, maka untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan dari lapangan, teknik analisis yang digunakan adalah analisis diskriptif. 

Melalui teknik ini, akan digambarkan seluruh data atau fakta yang diperoleh dengan mengembangkan kategori-kategori yang relevan dengan tujuan penelitian dan penafsiran terhadap hasil analisis diskriptif dengan berpedoman pada teori-teori yang sesuai.
Blog, Updated at: 02.23

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts