Strategi dan Metode Pembelajaran PKn

Strategi dan Metode Pembelajaran PKn
Pada bagian pendahuluan di atas dalam modul ini, Anda telah memahami pentingnya penguasaan metode pembelajaran PKn bagi guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) khususnya dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran PKn. Pada kegiatan belajar ini, akan dibahas tentang pengertian, ruang lingkup, tujuan, penerapan, dan penyesuaian metode pembelajaran dengan kebutuhan, karakteristik, dan konteks kehidupan peserta didik di MI. Pada kegiatan belajar ini, Anda diharapkan akan punya pemahaman tentang apa saja metode pembelajaran PKn dan bagaimana mengembangkannya. Oleh karena itu, apabila Anda sudah menguasai pembahasan materi pada kegiatan belajar 1, maka Anda akan sangat terbantu dalam melaksanakan tugas merencanakan pembelajaran serta melanjutkan penguasaan materi pada kegiatan belajar berikutnya. 

Apa strategi dan metode pembelajaran itu? Apa perbedaannya dengan pendekatan dan teknik? 
Empat istilah yang sering digunakan dalam proses pembelajaran ini seringkali digunakan saling bertukar makna dan fungsi. Tidak hanya dalam tataran praktis melainkan dalam tataran teoritik, empat istilah ini diartikan saling bertukar makna (overlaping), bahkan ada pula yang menyamakan artinya. Untuk kepentingan analisis, dipandang perlu kita bedakan agar dapat mempermudah penggunaannya, meskipun pada akhirnya tergantung pada kesepakatan. 

Dalam modul ini, istilah pendekatan diartikan sebagai cara memandang sesuatu (a way of viewing), cara mendekati suatu persoalan/fenomena/proses. Dalam konteks pembelajaran, pendekatan berarti cara mendekati suatu persoalan, objek, dan unsurunsur pembelajaran, antara lain siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Misalnya, agar siswa mau dan mampu berkomunikasi atau berbicara dalam suatu diskusi, maka seorang guru dapat berupaya mendekati siswa dengan mengggali informasi tentang apa yang menjadi kesenangan, hobi, harapan, dan cita-cita siswa tersebut. Selanjutnya, guru berupaya mencari cara yang dapat merangsang/mendorong siswa berbicara, menumbuhkan minat/perhatian dengan media stimulus, seperti gambar, cerita, film, pemodelan, percontohan, kasus, dan sebagainya. Dalam konteks ini, strategi dapat diartikan sebagai cara untuk mencapai suatu target (a way of achieving target). Dalam konteks pembelajaran, strategi berarti cara mencapai suatu target pembelajaran. Metode pembelajaran berarti cara untuk mengatasi masalah dalam mencapai target (a way of handling)

Dengan demikian, maknanya hampir sama dengan makna strategi sehingga penggunaan istilah ini seringkali tumpang tindih. Namun, pengertian metode dalam modul ini lebih spesifik karena lebih menekankan pada upaya mengatasi masalah dalam proses mencapai target. Sedangkan teknik berarti cara melakukan sesuatu secara lebih khusus lagi (a way of tackling). Misalnya, bagaimana agar perhatian siswa dalam proses pembelajaran tetap terjaga, maka ketika guru bertanya, sampaikanlah pertanyaan tersebut kepada seluruh kelas terlebih dahulu, kemudian bila tidak ada yang menjawab, barulah guru menyebut nama siswa untuk menjawab pertanyaan guru. Teknik bertanya yang baik tidak diawali dengan menyebut dahulu nama siswa. Dalam modul ini, penggunaan istilah strategi dan metode bermakna saling tumpang tindih. Oleh karena itu, dalam modul ini untuk mengidentifikasi metode pembelajaran digunakan pula istilah strategi. Sebelum membahas strategi dan metode pembelajaran, pembahasan akan diawali dengan uraian pendekatan PKn. 

Apa pendekatan pembelajaran PKn itu? 
Inovasi pembelajaran PKn dalam komponen pendekatan harus selalu dilakukan oleh semua praktisi pendidikan khususnya guru. Salah satu tindakan inovasi itu adalah pergeseran dalam penerapan pendekatan pembelajaran PKn dari pendekatan yang berorientasi pada tujuan dan isi (content based curriculum) ke arah yang lebih menekankan pada proses (process based curriculum) bahkan sekarang telah bergeser pada inovasi yang lebih terkini, yakni pendekatan yang berorientasi pada kompetensi (competency based curriculum). Gagasan ini dimaksudkan agar melalui pendidikan kewarganegaraan dapat terbentuk warga negara yang lebih mandiri dalam memahami dan mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi serta mampu mengambil keputusan-keputusan yang terbaik bagi dirinya, lingkungan serta masyarakatnya. 

Kemampuan ini telah dirangkum menjadi tiga sasaran pembelajaran PKn yang dikenal pula sebagai orientasi tujuan pembelajaran PKn untuk pembentukan warga negara yang demokratis, ialah membentuk warga negara yang baik dan cerdas (good and smart citizen), partisipatif (participative citizen), dan bertanggung jawab (responsible citizen). Penekanan pada proses dan kompetensi akan lebih menjanjikan keberhasilan daripada yang menekankan hanya pada hasil. Oleh karena itu, keterampilan bagi warga negara dalam membuat atau mengambil keputusan perlu dilatihkan secara terus menerus agar warga negara memiliki keterampilan dalam mengembangkan berbagai alternatif untuk sampai pada pembuatan keputusan yang tepat. Untuk itu pendekatan-pendekatan yang bersifat desentralisasi atau pemberian hak kewenangan kepada guru dalam kerangka otonomi pendidikan sangat baik bagi sekolah sebagai satuan pendidikan maupun individu guru. Hal ini sudah seharusnya dilaksanakan, dalam semua mata pelajaran dan secara khusus dalam pendidikan kewarganegaraan. 

Kondisi semacam itu, harus pula diciptakan di lingkungan masyarakat sehingga tidak terjadi kesenjangan penerapan nilai-nilai dan moral antara apa yang disampaikan di sekolah dengan apa yang terjadi dalam lingkungan keluarga dan masyarakat sebagaimana terjadi dewasa ini. Penekanan perubahan sebagaimana dikemukakan di atas, terutama menyangkut pendekatan dalam pembelajaran PKn pada skala mikro maupun pendekatan PKn dalam arti yang lebih luas. Pendekatan pembelajaran PKn seyogianya sejalan dengan tujuan PKn yakni membangun siswa sebagai warga negara yang baik dan cerdas secara intelektual, emosional, sosial, spiritual, mau bertanggung jawab, dan mampu berpartisipasi dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Turner dkk (1990) mengidentifikasi pendekatan pembelajaran PKn sebagai berikut: audiovisual materials, case studies, community resourse persons, cooperative learning, debates, polls, interviews, dan surveys, mock trials, role plays and simulations, writing letters to public officials. Apa dan bagaimana pendekatan pembelajaran tersebut, berikut ini uraiannya.

1. Pendekatan sumber belajar audio-visual 
Bahan-bahan materi pembelajaran berupa audiovisual meliputi berbagai ragam film, filmstrips, videotape, slide, video camera, cassette recording, compact disk, DVD dan lainlain. Saat ini, bahan-bahan audiovisual sudah banyak yang diproduksi baik oleh suatu perusahaan, instansi pemerintah maupun pribadi. Dengan perkembangan teknologi camera, para guru dapat mengembangkan sendiri sumber pembelajaran audiovisual untuk PKn dengan cara merekam berbagai peristiwa politik, hukum, dan kewarganegaraan yang penting untuk pembelajaran di kelas. Bahan materi audiovisual merupakan pendekatan yang menarik dan efisien dalam menyampaikan informasi. 

Presentasi menggunakan audiovisual dapat menyederhanakan gagasan atau informasi yang abstrak menjadi konkret/nyata sehingga mudah diserap oleh siswa. Materi audiovisual juga merupakan pendekatan yang memfokuskan pada topik atau konsep tertentu untuk mendukung keterampilan siswa dalam melakukan observasi dan menganalisis suatu masalah. Dengan pendekatan pembelajaran audiovisual yang diselenggarakan oleh guru, maka siswa yang merasa kesulitan membaca buku teks dapat terbantu.

2. Pendekatan Studi Kasus 
Pendekatan studi kasus merupakan pendekatan yang menyajikan kejadian situasi konflik atau dilema. Siswa menganalisis masalah berdasarkan fakta kasus untuk menghasilkan keputusan menurut langkah-langkah secara bertahap serta mempertimbangkan konsekuensi dari keputusan yang diambil tersebut. Studi kasus mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan, menetapkan komponenkomponen yang dianggap penting dalam situasi; menganalisis, menyimpulkan, dan membandingkan serta mempertentangkan komponen-komponen tersebut; dan membuat penilaian terhadap kasus tersebut. Singkatnya, siswa melaksanakan semua jenjang berpikir dari tingkatan yang paling sederhana (recall) hingga tingkatan yang paling tinggi (evaluation). 

3. Pendekatan nara sumber masyarakat 
Setiap komunitas masyarakat memiliki nara sumber yang dapat dihadirkan di kelas untuk berbagi pengetahuan/informasi yang terkait dengan politik, ekonomi, hukum, atau masalah-masalah internasional. Nara sumber yang dapat dihadirkan di kelas adalah juru kampanye, calon pemimpin, pejabat yang bekerja pada institusi pemerintahan, polisi, guru besar ilmu politik atau ekonomi, pimpinan perusahaan, dan lain-lain. Nara sumber biasanya adalah orang yang berpengetahuan dan pandangan luas yang akan memperkaya mata pelajaran. Oleh karena itu, untuk menambah pengetahuan politik, misalnya, seseorang tidak selalu harus membaca buku. Mengundang ahli politik ke kelas akan lebih menarik bagi siswa untuk meningkatkan kompetensi tentang politik. Dengan menambah pengetahuan melalui nara sumber, pendekatan ini akan membantu siswa mengaitkan proses politik secara teoritis dengan kehidupan nyata dan sekaligus mengenal bagaimana mesin politik itu bekerja di masyarakat. 

4. Pendekatan Cooperative 
Learning Pendekatan cooperative learning dimaksudkan untuk mendorong siswa bekerja sama dalam sebuah tim sesuai dengan tujuan yang telah disepakati. Setiap anggota kelompok atau tim diberi tugas khusus yang harus diselesaikan. Siswa dijanjikan akan diberi hadiah seperti nilai (point) tambahan bila mau dan mampu membantu anggota lain dalam menyelesaikan pekerjaan tim. Penilaian didasarkan atas hasil pekerjaan tim, bukan pekerjaan individual meskipun ada pula nilai khusus untuk individu. Pendekatan cooperative learning mendorong siswa agar terlibat dalam belajar mandiri. Bekerja dalam kelompok memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar dalam kemampuan akademik dan sekaligus sosial (academic and social skills). Dengan belajar dalam kelompok diharapkan siswa akan memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, mau mendengar pendapat orang lain, mampu menyelesaikan konflik, dan mampu menjelaskan masalah serta solusinya. Keterampilan sosial (social skills) dimaksudkan pula untuk melatih siswa mau mendengarkan gagasan anggota lain dalam kelompok, berkompromi, bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama, dan mengembangkan rasa tanggung jawab terhadap sikap dan perbuatan yang pernah dilakukannya. 

5. Pendekatan Debat 
Debat merupakan cara pengungkapan atau pembahasan atau pertukaran pendapat mengenai sesuatu hal dengan saling memberi argumen untuk mempertahankan argumen masing-maisng yang telah berlangsung selama berabad-abad. Sebagai pendekatan pembelajaran, debat merupakan cara klasik bagi guru untuk mendorong siswa agar memiliki kemampuan berargumen sesuai dengan posisinya. Peserta debat dalam proses pembelajaran di kelas dapat memilih posisi dan topik debat. Tujuan peserta debat adalah untuk meyakinkan lawannnya bahwa posisi dirinya yang benar atau yang paling meyakinkan. Oleh karena itu, seorang pendebat berupaya mengembangkan argumenargumen dan pernyataan sesuai posisinya dengan melawan argumen-argumen dari lawan baik secara perseorangan maupun tim/kelompok. 

Pendekatan pembelajaran debat memberi kesempatan kepada siswa untuk meneliti dan mengartikulasikan argumen secara jelas dan logis agar tercapai simpulan yang rasional. Debat yang baik memerlukan kemampuan dan pengetahuan yang luas hasil kajian reflektif, berpikir kritis, dan kemampuan berkomunikasi yang baik. Para siswa yang tidak terlibat langsung dalam proses debat masih dapat berpartisipasi dalam proses belajar seperti mendengarkan informasi (mungkin) baru/aktual, menilai argumenargumen yang dikemukakan peserta debat, menilai kualitas penyajiannya, dan membuat keputusan atau simpulan alternatif. 

6. Pendekatan pemungutan suara, wawancara, dan survey 
Pemungutan suara, wawancara, dan survey merupakan pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk mengumpulkan data primer dan informasi dari tangan pertama (firsthand) tentang pandangan atau pendapat kelompok masyarakat. Kegiatan pembelajaran ini sangat efektif untuk mengeksplorasi ranah perasaan (afektif) tentang isu atau tentang peran seseorang dalam proses politik. Sebagai strategi pembelajaran, pemungutan suara, wawancara, dan survey merupakan cara yang bermanfaat untuk mengumpulkan data faktual tentang bidang kajian tertentu. Menerapkan pendekatan pemungutan suara, wawancara, dna survey memberi kesempatan kepada siswa untuk mempraktekkan sejumlah keterampilan berpikir kritis. Mampu mengajukan pertanyaan merupakan suatu keterampilan bagi siswa dalam berkomunikasi, mengumpulkan informasi, dan menilai data. Selain itu, pendekatan ini dapat melatih para siswa untuk menumbuhkan kesadarannya terhadap lingkungan hidup. Melalui kegiatan berinteraksi dengan teman, tetangga, dan anggota masyarakat lain, siswa dapat belajar banyak tentang bagaimana warga negara berpikir dan untuk mengetahui apakah mereka mengetahui pemerintah, politik, hukum, ekonomi, dan sistem kehidupan internasional. 

7. Pendekatan pengadilan tiruan (Mock trials) 
Pendekatan pengadilan tiruan sebenarnya merupakan simulasi proses peradilan yang diperankan oleh siswa. Melalui langkah-langkah yang harus ditempuh dalam proses peradilan yang dimulai oleh proses penuntutan oleh jaksa, proses pembelaan oleh pengacara dan pembuktian dengan alat bukti serta mendatangkan dan mendengarkan keterangan saksi sampai proses pengambilan putusan oleh hakim. Isu atau kasus pelanggaran hukum yang dibahas dapat dipilih dari peristiwa nyata atau rekaan. Pendekatan pengadilan tiruan merupakan pendekatan yang bermanfaat karena dapat membantu siswa mengembangkan pertanyaan, pengambilan keputusan, berpikir kritis, dan keterampilan berkomunikasi dengan benar. Dengan pendekatan ini pun para siswa akan memperoleh pengetahuan tentang hukum dan pengalaman langsung tentang tentang proses peradilan, terutama peran dari masingmasing perangkat pengadilan seperti peran jaksa, pengacara, hakim, panitera bahkan terdakwa. 

8. Pendekatan bermain peran dan simulasi 
Bermain peran merupakan pendekatan yang memfasilitasi siswa berperan dalam melakukan perbuatan atau perilaku orang yang dipersepsikan orang lain itu berbicara dan melakukan sesuai dengan peran dan situasinya. Esensi bermain peran adalah orang yang memiliki keyakinan dan bagaimana mereka menjawab. Misalnya, sekelompok siswa mungkin memerankan tindakan yang dilakukan oleh seorang Presiden atau Menteri atau para pahlawan. Oleh karena itu, bermain peran merupakan cara yang sangat bermanfaat untuk mengeksplorasi perilaku politik karena mereka membantu siswa memahami pentingnya individu dalam proses politik. Simulasi termasuk bermain peran tetapi situasinya terstruktur sehingga lebih mendekati kejadian yang sebenarnya. Para siswa dapat mensimulasikan tentang kegiatan rapat di badan legislatif, proses dengar pendapat, rapat komisi, atau interaksi di lingkungan birokrasi. 

9. Pendekatan menulis surat kepada pejabat publik 
Menulis surat kepada pejabat publik merupakan salah satu cara dalam partisipasi politik. Surat untuk pimpinan pemerintahan banyak menyerupai surat bisnis. Aturan penulisan surat tentu perlu diterapkan. Surat yang ditulis seyogianya berisi pesan yang dapat dipertanggungjawabkan misalnya hasil penelitian, dikembangkan secara logis, dan ditulis secara jelas. Dalam sistem pemerintahan demokrasi perwakilan, para siswa harus berpartisipasi dalam proses politik sebanyak mungkin. Berkomunikasi dengan pejabat publik melalui surat merupakan cara bagi siswa untuk mengungkapkan pendapatnya tentang berbagai isu. Sebaliknya, aktifitas ini membantu pejabat publik menjaga hubungan dengan konstituennya dna melaksanakan kewajiban sebagai wakil rakyat. 

Partisipasi dalam sistem pemerintahan demokrasi hendaknya dapat membantu siswa untuk percaya diri. Oleh karena itu, para siswa diberi latihan praktek mengembangkan keterampilan ang terkait dengan cara menganalisis berbagai isu, membangun opini, dan mengkomunikasikan gagasan dalam bentuk tulisan. Demikianlah sejumlah pendekatan pembelajaran PKn yang dapat dipilih oleh guru berdasarkan pertimbangan karakteristik siswa, lingkungan sekolah, sarana, prasarana, dan kemampuan guru.

1. Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) Beberapa strategi dan metode yang termasuk ke dalam jenis ini meliputi: gambaran ikhtisar terstruktur (structured overview), ceramah (lecture), demonstrasi, membandingkan dan mengontraskan/mempertentangkan (compare and contrast). Secara umum, pembelajaran langsung ini menggunakan pendekatan ekspositori, bersifat satu arah, dan peran guru sangat dominan. 

Metode pembelajaran langsung ini sangat efektif apabila digunakan oleh seorang guru yang memiliki bakat sebagai orator. Berikut ini adalah metode pembelajaran compare and contrast sebagai salah satu metode pembelajaran langsung. 

Apakah metode pembandingan dan pengontrasan itu? 
Metode pembandingan dan pengontrasan digunakan untuk menandai persamaan dan perbedaan antara satu dengan yang lain. Dalam metode ini ada tindakan pengelompokan. Sebenarnya selain dikelompokkan kedalam pembelaajran langsung, metode ini dapat pula dimasukkan ke dalam metode pembelqajaran tidak langsung karena ada tuntutan yang mengajak siswa untuk bersama-sama mengelompokkan istilah, kosa kata, dan ciriciri dari kata kunci suatu konsep. 

Tujuannya adalah membantu siswa membedakan antara berbagai jenis gagasan atau kelompok gagasan konseptual. Dalam pembelajaran PKn, tentu saja banyak jenis konsep yang abstrak sehingga memerlukan penjelasan dan untuk memahami konsep tersebut perlu ada pembandingan dan pengontrasan agar mudah dipahami oleh siswa. 

2. Pembelajaran Interaktif (Interactive Instruction) 
Beberapa strategi dan metode yang termasuk ke dalam jenis pembelajarn interaktif meliputi: debat, bermain peran (role playing), curah pendapat (brainstorming), diskusi, kelompok belajar kooperatif (cooperative learning groups), jigsaw, pemecahan masalah, kelompok tutorial, wawancara, dan konferensi. Secara umum, pembelajaran interaktif ini menggunakan pendekatan siswa aktif, bersifat dua arah, dan peran siswa lebih dominan. 

Metode pembelajaran interaktif sangat tepat digunakan untuk mengaktifkan siswa dalam belajar. Berikut adalah uraian beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran PKn di madrasah ibtidaiyah. 

a. Debat 
Apakah debat itu? 
Debat adalah beradu argumen secara terstruktur antara dua pihak (individu atau tim atau kelompok) yang berlawanan dengan cara mempertahankan dan/atau menyerang dalil atau pendapat yang dikemukakan. Langkah dan aturan main debat bermacammacam tergantung pada tempat dan peserta. Proses debat dipimpin dan pemenangnya ditentukan oleh wasit atau hakim. Debat merupakan aspek yang fundamental dari masyarakat demokratis. Oleh karena itu, metode ini snagat cocok dikembangkan dalam mata pelajaran PKn. 

Apakah tujuan debat itu? 
Tujuan dari strategi debat adalah melibatkan para siswa dalam berbagai aktivitas yang terkait dengan mata pelajaran. 

Debat mendorong peserta berpikir bukan hanya mengenai fakta dari suatu situasi melainkan implikasinya. Peserta didik pun didorong untuk berpikir secara kritis dan strategis tentang posisinya dan posisi lawan. Dengan cara berkompetisi maka debat mendorong peserta untuk melibatkan diri dan berkomitmen terhadap posisi. Debat mendorong siswa untuk berupaya meneliti, mengembangkan kemampuan mendengarkan/menyimak, dan kemampuan berorasi, menciptakan kondisi siswa untuk berpikir secara kritis, dan memungkinkan guru dapat menilai kualitas belajar siswa. Debat juga dapat memberi peluang kepada teman-teman siswa untuk menilai keterlibatan. Oleh karena itu, metode debat sangat efektif bagi pembelajaran PKn terutama dalam mempersiapkan peserta didik hidup dalam masyarakat demokratis. 

b. Bermain peran (role playing) 
Apakah bermain peran itu? 
Bermain peran atau role playing adalah metode pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk memerankan karakter dalam situasi tertentu. Artinya, bahwa siswa harus memainkan satu peran tertentu sehingga yang bermain tersebut harus mampu berbuat (berbicara atau bertindak) sesuai dengan perannya. Misalnya, jika peran yang dimainkan adalah polisi, maka ia harus mampu berperan sebagai polisi. Bermain peran terjadi dalam situasi buatan (tiruan) atau simulasi. 

Apa tujuan bermain peran? 
Bermain peran memberi kesempatan kepada siswa untuk bertindak dengan memerankan karakter dalam situasi hipotetis. Kesempatan ini bertujuan: 
  1. Membina sikap, yakni membantu siswa untuk merasakan, menyadari, dan peka terhadap masalah sosial. 
  2. Memahami nilai yang ada di lingkungan masyarakat yang beragam. 
  3. Memberi pembelajaran yang menyenangkan karena banyak peran yang bervariasi sehingga menyegarkan situasi. 
  4. Memberi kesempatan untuk menghayati peran tertentu dalam bentuk simulasi sebelum terlibat dalam situasi sebenarnya. 
c. Curah pendapat (brainstorming) 
Apa metode curah pendapat itu? 
Metode curah pendapat atau brainstorming merupakan metode pembelajaran yang melibatkan kelompok besar atau kecil yang mendorong para siswa untuk memecahkan masalah tertentu. Aktivitas dalam curah pendapat terdiri atas dua tahap, yakni pertama adalah tahap identifikasi gagasan; dan kedua adalah tahap menilai gagasan.

Penerapan metode ini dimuali dengan mengajukan pertanyaan atau masalah atau dengan memperkenalkan tema. Kemudian, siswa memberikan respon atau jawaban atau gagasan/pendapat yang relevan. Selanjutnya, guru harus menerima jawaban siswa tanpa kritik atau tanggapan terhadap jawaban siswa. Mungkin pada awalnya, banyak siswa yang engggan berbicara dalam kelompok, tetapi dengan kegiatan curah pendapat diharapkan semua siswa mau berpartisipasi dalam menyampaikan pendapat. Dengan mengungkapkan gagasan dan mendengarkan apa yang dikemukakan oleh siswa lain, maka para siswa akan menyesuaikan pengetahuan dan pemahaman sebelumnya dengan menerima informasi baru.

Dalam kegiatan curah pendapat, guru perlu mendorong siswa agar mendengarkan siswa lainnya yang sedang berbicara. Siswa seyogianya diingatkan agar mendengarkan dengan seksama terhadap apa yang dikemukakan, mengingatkan pula kepada pembicara ketika suaranya tidak terdengar jelas.

Dalam menerapkan metode curah pendapat, ada dua prinsip yang perlu diperhatikan: 
  1. Diutamakan bahwa agar diperoleh gagasan sebanyak mungkin pada tahap curah pendapat. 
  2. Menunda pemberian kritik, atau tidak langsung menilai gagasan yang dikemukakan.
Adapun tujuan penggunaan metode curah pendapat dalam pembelajaran adalah sebagai berikut. 
  1. Memfokuskan perhatian siswa pada suatu tema/topik 
  2. Membangkitkan semangat siswa untuk berpendapat 
  3. Melatih siswa mengekspresikan gagasan-gagasan baru menurut daya imajinasinya 
  4. Melatih daya kreativitas siswa 
  5. Melatih siswa mau menerima dan menghargai perbedaan individu 
  6. Mendorong siswa berani mengambil resiko dalam berbagi pendapat dan bila pendapatnya salah 
  7. Menunjukkan kepada siswa bahwa pengetahuan dan kecakapan berbahasa memiliki kegunaan dan dapat diterima 

Demikian tiga contoh uraian metode pembelajaran interaktif yang dapat diterapkan dalam mata pelajaran PKn di Madrasah Ibtidaiyah. Uraian untuk metode pembelajaran interaktif lainnya, dapat Anda temukan pada buku-buku tentang metode pembelajaran atau pada modul khusus tentang metode pembelajaran. 

3. Pembelajaran tidak langsung 
Beberapa strategi dan metode yang termasuk ke dalam jenis pembelajarn tidak langsung meliputi: pemecahan masalah, studi kasus, inkuri, diskusi reflektif, pembentukan konsep, dan pemetaan konsep. Secara umum, pembelajaran tidak langsung ini menggunakan pendekatan siswa aktif, bersifat dua arah, dan peran siswa lebih dominan. Metode pembelajaran tidak langsung sangat tepat digunakan untuk mengaktifkan siswa dalam belajar. Berikut adalah uraian beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran PKn di madrasah ibtidaiyah. 

a. Pemecahan masalah Apakah metode pemecahan masalah itu? 
Ada dua jenis metode pemecahan masalah, ialah pemecahan masalah yang bersifat reflektif dan pemecahan masalah kreatif. Bagaimanapun jenis pemecahan masalah yang digunakan oleh kelas, pemecahan masalah memfokuskan pada upaya mengetahui persoalan dengan mempertimbangkan semua faktor kemungkinan untuk menemukan solusi. Karena semua gagasan awalnya diterima, pemecahan masalah memungkinkan dapat menemukan solusi terbaik bukan solusi yang paling mudah atau usulan solusi pertama. Metode pemecahan masalah digunakan untuk membantu siswa berpikir tentang masalah tanpa menerapkan gagasan yang dimiliki sebelumnya. Merumuskan masalah yang dihadapi berbeda dengan akibat dari masalah untuk mencegah pendapat yang gegabah. Sebagai metode pembelajaran, pemecahan masalah merupakan bentuk seni berpikir yang paling murni. Di kelas, pemecahan masalah untuk membantu siswa memahami masalah etika yang dilematis, membantu merencanakan strategi masa depan. 

b. Metode Inkuiri Apa inkuiri itu? 
Metode pembelajaran inkuiri memberi kesempatan kepada siswa memperoleh pengalaman mengumpulkan informasi. Hal ini tentu memerlukan kemampuan berinteraksi yang intensif diantara peserta didik dengan guru, bidang studi, sumber belajar, dan lingkungan belajar. 

Secara aktif, siswa terlibat dalam proses belajar, seperti: 
  • Bertindak secara antusias dan penuh perhatian; 
  • Mengembangkan pertanyaan; 
  • Menganalisis masalah kontroversial dan dilematis; 
  • Memeriksa dugaan awal dan informasi yang sudah diketahui sebelumnya; 
  • Mengembangkan, mengungkapkan, dan menguji hipotesis; dan, 
  • Menyimpulkan dan menghasilkan solusi.
Bertanya adalah inti dari belajar inkuiri. Siswa harus mengajukan pertanyaan yang relevan dan mengembangkan bagaimana cara menjawab dan menjelaskannya. Inkuiri menempatkan proses berpikir dalam interaksi antar sesama siswa dalam menganalisis persoalan, data, topik, konsep, bahan dan masalah. Teknik berpikir yang dapat diterapkan antara lain berpikir divergen, berpikir deduktif, dan berpikir induktif. Dalam melatih berpikir divergen, guru memfasilitasi dan mendorong siswa agar menyadari bahwa suatu pertanyaan atau masalah dapat memiliki lebih dari satu jawaban dan/atau solusi yang benar dan baik. 

c. Peta konsep 
Apa peta konsep itu? 
Peta konsep adalah bentuk khusus dari diagram jaring untuk mengeksplorasi pengetahuan dan mengumpulkan dan berbagi informasi. Peta konsep adalah strategi untuk mengembangkan konsep yang terdiri atas sejumlah sel yang didalamnya ada konsep, pertanyaan yang terkait dengan sel konsep atau pertanyaan lain. Keterkaitan antar sel konsep dihubungkan oleh tanda panah yang diberi label. Label ini menjelaskan hubungan antar sel konsep. Tanda panah menunjukkan arah keterkaitan antar sel konsep dan bila dibaca dapat membentuk kalimat. 

Contoh peta konsep sebagai berikut.

Peta konsep digunakan untuk: 
  • Mengembangkan pemahaman tentang batang tubuh ilmu pengetahuan. 
  • Mencari informasi baru dan keterkaitannya. 
  • Melihat pengetahuan terdahulu. 
  • Mengumpulkan pengetahuan dan informasi. 
  • Berbagi pengetahuan dan informasi yang diperoleh. 
  • Pilihan untuk memecahkan masalah. 
4. Pembelajaran melalui pengalaman (experiential learning) 
Beberapa strategi dan metode yang termasuk ke dalam jenis pembelajarn melalui pengalaman meliputi: karyawisata, percobaan, simulasi, permainan, pengamatan lapangan, bermain peran, survey, dan sebagainya. Secara umum, pembelajaran melalui pengalaman ini menggunakan pendekatan siswa aktif, bersifat interaksi multi arah, dan peran siswa lebih dominan.

Metode pembelajaran melalui pengalaman sangat tepat digunakan untuk mengaktifkan siswa dalam belajar. Berikut adalah uraian salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran PKn di madrasah ibtidaiyah, yakni simulasi.

Apakah simulasi itu?
Simulasi adalah bentuk belajar melalui pengalaman atau belajar dengan mengalami. Sebagai metode pembelajaran, simulasi memerlukan skenario apa yang akan diperankan oleh siswa. Simulasi berarti pula pekerjaan tiruan atau meniru perilaku pekerjaan, profesi, atau kegiatan tertentu. Mereka dapat menjadi representasi dari sebuah realitas pada saat siswa berinteraksi dengan siswa lain. Guru harus memantau apa yang diperankan oleh siswa apakah mereka berperan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Misalnya, simulasi mengajar, simulasi melakukan pertolongan terhadap orang yang kena bencana alam, simulasi mengatasi kebakaran. Simulasi dapat pula sebagai model pembelajaran, yakni peniruan yang menuntut kemampuan tertentu.

Simulasi bertujuan meningkatkan penguasaan konsep melalui praktik pengalaman sehingga dapat membantu siswa memahami nuansa sebuah konsep atau lingkungan sekitar. Para siswa akan lebih menghayati arti kehidupan bila sering terlibat dalam simulasi. Oleh karena itu, para guru dianjurkan untuk menerapkan metode ini dalam kegiatan pembelajaran PKn. 

Dalam melaksanakan simulasi diharapkan guru dapat menanamkan disiplin dan sikap hati-hati. Karena bila tidak disiplin maka keterampilan akan sulit dikuasai bahkan tujuan akan sulit dicapai. Demikian pula kebiasaan kerjasama dapat ditanamkan melalui simulasi terutama dalam simulasi pekerjaan yang perlu dilakukan secara bersama.

Simulasi sebagai metode pembelajaran mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Sasaran, ialah siswa yang jumlahnya dapat bervariasi sesuai dengan kebutuhan apa yang akan disimulasikan. Bila kelas besar maka agar semua siswa daapt terlibat, kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan jumlah per kelompok antara 5-10 orang siswa. 
b. Tema yang dipilih disesuaikan dengan tujuan yang akan disimulasikan. Apa target keterampilan simulasi, apakah keterampilan intelektual, afektif, perilaku sosial sesuai dengan praktik kehidupan nyata sehari-hari. Sejumlah alat yang akan digunakan dalam simulasi perlu dipersiapkan baik oleh guru maupun oleh siswa, seperti sarana dan prasarana ruangan untuk simulasi persidangan di pengadilan, ruangan dan peralatan mengajar untuk simulasi proses pembelajaran, dan sebagainya. 
c. Prosedur simulasi dapat diurutkan sebagai berikut: 
1) guru menciptakan situasi atau membuat pemodelan jika diperlukan 
2) mengadakan tanya jawab 
3) guru membagi peran untuk tiap siswa 
4) guru menyampaikan aturan main 
5) siswa baik secara individual maupun kelompok bersiap-siap 
6) siswa melakukan simulasi dan guru mengamati aktivitas siswa 

Untuk kelancaran pelaksanaan simulasi dan pencapaian tujuan pembelajaran, ada delapan keterampilan dasar mengajar yang perlu dikuasai oleh guru. Namun, dari delapan keterampilan tersebut ada empat keterampilan dasar mengajar yang utama, yakni keterampilan bertanya, menjelaskan, memberi penguatan, dan mengajar kelompok kecil sebagai berikut: 

a. Keterampilan bertanya 
Keterampilan bertanya ini digunakan oleh guru terutama untuk memantapkan penguasaan konsep atau pemahaman siswa terhadap apa yang telah disimulasikan. Ada sejumlah teknik bertanya, seperti mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas terlebih dahulu, tidak menyebut nama sebelum pertanyaan diajukan. 

b. Keterampilan menjelaskan 
Keterampilan menjelaskan ini penting dikuasai oleh guru ketika memperkenalkan apa simulasi, tema apa yang dipilih, aturan main. Penjelasan yang baik adalah penjelasan yang mudah dipahami oleh siswa, misalnya penjelasan yang disertai oleh uraian ilustrasi, contoh, pemodelan, bahkan memberi tekanan terhadap hal-hal yang penting dikuasai. Kemampuan menjelaskan menjadi sangat penting karena bila salah menjelaskan maka tujuan simulasi tidak akan tercapai.

c. Keterampilan memberi penguatan 
Keterampilan memberi penguatan adalah memberi pernyataan yang dapat mendorong atau memotivasi untuk berulangnya sesuatu yang pernah dilakukan oleh siswa. Memberi penguatan yang langsung dapat dirasakan oleh siswa dalam konteks simulasi adalah memotivasi dan membangkitkan minat siswa agar mau, antusias, dan bersemangat untuk bersimulasi. 

d. Keterampilan mengajar kelompok kecil 
Ada simulasi yang dilakukan dalam kelompok kecil, terutama apabila kelas yang dihadapi guru adalah kelas besar. Kelas tersebut perlu dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Dalam kelompok kecil inilah, seorang guru perlu memahami dan mengelola kegiatan kelompok kecil. Semua siswa yang ada di kelompok kecil harus dapat terlayani dan mendapat bantuan dan perhatian yang adil.
Blog, Updated at: 22.39

1 komentar :

Popular Posts