Tujuan, Fungsi, dan Hubungan Filsafat, Teori dan Praktek Pendidikan Islam

Tujuan, Fungsi, dan Hubungan Filsafat, Teori dan Praktek Pendidikan Islam
Tujuan Filsafat Pendidikan Islam 
Filsafat pendidikan adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang pendidikan sampai ke akar-akarnya. Filsafat pendidikan pada dasarnya menjawab tiga permasalahan pokok pendidikan yaitu : 
  1. Apakah pendidikan itu? 
  2. Apa tujuan yang hendak ia capai? 
  3. Bagaimana cara terbaik merealisasikan tujuan tujuan tersebut? 

Made Pidarta (2007:86) mengutip Zanti Arbi mengungkapkan tentang tujuan filsafat pendidikan sebagai berikut : 
  1. Menginspirasikan; 
  2. Menganalisis; 
  3. Mengpreskriptifkan; 
  4. Mengivestigasi. 

Maksud menginspirasi adalah memberikan inspirasi kepada para pendidik untuk melaksanakan ide tertentu dalam pendidikan. Melalui filsafat tentang pendidikan, filosof memaparkan idenya: 
  • Bagaimana pendidikan itu?, 
  • Kemana diarahkannya pendidikan itu?, 
  • Siapa saja yang patut menerima pendidikan?, 
  • Dan bagaiman cara mendidik dan peran pendidik?. 

Selanjutnya yang dimaksud dengan menganalisis dalam filsafat pendidikan adalah memeriksa secara teliti bagian-bagian pendidikan agar dapat diketahui secara jelas validitasnya. Hal ini perlu dilakukan agar dalam penyusunan konsep pendidikan secara utuh tidak terjadi kerancuan, tumpang tindih, serta arah yang simpang siur. Memdeskriptifkan dalam filsafat pendidikan adalah upaya menjelaskan atau memberi pengarahan kepada pendidik melalui filsafat pendidikan. 

Yang dijelaskan dapat berupa hakikat manusia, aspek peserta didik yang perlu dikembangkan, batas-batas keterlibatan pendidik, arah dan target pendidikan sesuai dengan minat dan bakat peserta didik. Maksud menginvestigasi adalah memeriksa atau meneliti kebenaran teori pendidikan. Pendidik tidak dibenarkan begitu saja mengambil suatu konsep atau teori pendidikan untuk dipraktekkan di lapangan.

Senada dengan Made Pidarta, J.M. Daniel (1986:26) mengatakan bahwa filsafat memiliki tujuan-tujuan sebagai berikut: 
  1. Inspirasional, yaitu tujuan filsafat pendidikan yang menyatakan cita-cita utopia bagi pendidikan manusia, baik pendidikan formal maupun informal; 
  2. Analitik, yaitu menemukan dan menafsirkan makna dalam percakapan/bahasa dan praktek pendidikan; 
  3. Preskriptif, yaitu tujuan filsafat pendidikan memberikan panduan yang jelas dan tepat bagi praktik pendidikan; 
  4. Investigasi, yaitu tujuan filsafat pendidikan menyelidiki kebijakan dan praktek pendidkan yang diadopsi.
Fungsi Filsafat Pendidikan Islam 
Jika dilihat dari aspek hubungan antara filsafat dengan pendidikan, bisa terlihat dari beberapa indikator .Indikator ini sekaligus merupakan tujuan filsafat pendidikan. Tujuan tersebut antara lain : 

Pertama, filsafat dijadikan oleh para pakar pendidikan sebagai bahan atau media (intrument) analisis. Hal ini berarti bahwa filsafat merupakan salah satu cara pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori-teori pendidikan. Di samping menggunakan metode-metode ilmiah lainnya. 

Aliran filsafat tertentu akan mempengaruhi dan memberikan bentuk serta corak terhadap teori-teori pendidikan yang dikembangkan atas dasar aliran filsafat tersebut. Dengan kata lain, teori-teori dan pandangan filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh seorang filosof, pasti berdasar dan bercorak serta diwarnai oleh pandangan dan aliran filsafat yang dianutnya. 

Adapun corak atau aliran filsafat secara umum adalah sebagai berikut: 
1. Aliran Progresivisme. 
Aliran ini disebut juga aliran pragmatisme. Aliran ini menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah manusia. Dan menolak otoritarianisme absolut termasuk agama. 

2. Aliran Essensialisme. 
Aliran ini merupakan kritik terhadap kondisi hidup yang mengarah kepada keduniawian atau materialisme. Tujuan aliran ini adalah membentuk pribadi bahagia dunia dan akherat. 

3. Aliran Perennialisme. 
Aliran ini muncul dikarenakan adanya kekecewaan terhadap dunia modern. Aliran ini menyarankan kembali pada masa lampau sebagi solusi menghadapi modernisme.

4. Aliran rekontruksionisme. 
Aliran ini sama mempunyai kekecewaan terhadap proyek modernitas. Jalan yang ditempuh aliran ini berbeda dengan perennialisme. Aliran ini menyarankan dibentuknya konsensus umum tentang tujuan pokok atau tujuan tertinggi hidup manusia. 

5. Aliran Eksistensialisme. 
Aliran ini pada hakikatnya ingin mengembalikan keberadaan umat manusia sesuai dengan keadaan hidup asasi yang dimiliki dan dihadapinya (Zuhairini, 2004:20-30).

Kedua, filsafat juga berfungsi memberikan arah dan tujuan agar teori pendidikan yang telah dikembangkan oleh para ahlinya, yang didasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai relevansi dengan kehidupan yang realistis (nyata). Artinya mengarahkan agar teori dan pandangan filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut dapat diterapkan dalam praktek kependidikan sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang berkembang dalam masyarakat. 

Di samping itu, adalah merupakan kenyataan bahwa setiap masyarakat hidup dengan pandangan dan filsafat hidupnya sendiri-sendiri yang berbeda antara satu sama lainnya, dan dengan sendirinya akan menyangkut kebutuhan hidupnya. Di sinilah letak fungsi filsafat dan filsafat pendidikan dalam memilih dan mengarahkan teori-teori pendidikan dan kalau perlu adanya relevansi dengan kebutuhan, tujuan, dan pandangan hidup dan masyarakat.

Ketiga, filsafat termasuk filsafat pendidikan, juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk (guide) dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu atau paedagogik. Suatu praktek kependidikan yang didasarkan dan diarahkan oleh suatu filsafat pendidikan tertentu akan menghasilkan dan menimbulkan bentuk-bentuk dan gejalagejala kependidikan yang tertentu pula. 

Hal ini adalah merupakan data-data kependidikan yang ada dalam suatu masyarakat tertentu. Analisis filsafat berusaha untuk menganalisis dan memberikan arti terhadap data-data kependidikan tersebut, dan selanjutnya menyimpulkan serta menyusun teori-teori pendidikan yang realistis, yang selanjutnya akan berkembanglah ilmu pendidikan (paedagogik) (Uus Ruswandi dkk, 2008:38).

Setiap ilmu sudah pasti memiliki kegunaan, termasuk juga ilmu filsafat pendidikan Islam. Omar Mohammad al-Taomy al-Syaibany misalnya mengemukakan tiga manfaat dari mempelajari filsafat pendidikan Islam tersebut sebagai berikut: 
  1. Filsafat pendidikan itu dapat menolong para perancang pendidikan dan orang-orang yang melaksanakannya dalam suatu Negara untuk membentuk pemikiran sehat terhadap sistem pendidikan. Disamping itu, ia dapat menolong terhadap tujuan-tujuan dan fungsifungsinya serta meningkatkan mutu penyelesaian masalah pendidikan dan peningkatan tindakan dan keputusan termasuk rancangan-rancangan pendidikan mereka. Selain itu ia juga berguna untuk memperbaiki peningkatan pelaksanaan pendidikan serta kaidah dan cara mereka mengajar yang mencakup penilaian, bimbingan dan penyuluhan. 
  2. Filsafat pendidikan dapat menjadi asas yang terbaik untuk penilaian pendidikan dalam arti menyeluruh. Penilaian pendidikan itu dianggap persoalan yang perlu bagi setiap pengajaran yang baik. Dalam pengertian yang terbaru, penilaian pendidikan meliputi segala usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh sekolah, institusi-institusi pendidikan secara umum untuk mendidik angkatan baru dan warga Negara dan segala yang berkaitan dengan itu. 
  3. Filsafat pendidikan Islam akan menolong dan memberikan pendalaman pikiran bagi faktor-faktor spiritual, kebudayaan, sosial, ekonomi, dan politik di Negara (Abuddin Nata, 2005:16).
Dalam rangka memahami nilai mampaat mempelajari filsafat pendidikan, perlu diajukan tiga asumsi yang berhubungandengan hal ini, antara lain : 
  • Bahwa hidup tanpa perenungan adalah suatu kehidupan yang kurang berbobot; 
  • Bahwa apabila pendidikan sebagai proses eksperimentasi, maka hasil eksperimentasi pendidikan ini tidak segera diketahui; 
  • Bahwa berbuat salah tetapi kemudian tahu letak kesalahan dan memperbaikinya, lebih baik daripada berbuat baik tetapi tidak tahu letak kebaikannya. 

Jika asumsi yang dikemukakan diatas benar, maka dapat dikemukakan beberapa nilai atau mampaat filsafat pendidikan sebagai berikut: 
  1. Membiasakan berpikir kritis dan reflektif terhadap problemattika hidup dan kehidupan manusia; 
  2. Memberikan pengertian-pengertian yang mendalam akan problematika esensial dan dasar pertimbangan mana yang harus digunakan dalam menyelesaikan problem tersebut; 
  3. Memberikan kesempatan kepada pendidik untuk merenungkan kembali dan meninjau kembali filsafat pendidikan yang selama ini diyakininya (Burhanudin Salam, 2002:44). 

Djumransjah (2006:65) mengutip pendapat Brubacher mengatakan tentang fungsi filsafat pendidikan kepada para pendidik sebagai berikut : 
  • Fungsi spekulatif; 
  • Fungsi normatif; 
  • Fungsi kritik; 
  • Fungsi teori bagi praktik.
Dalam melaksanakan fungsi spekulatifnya, filsafat berusaha melakukan hal-hal sebagai berikut : 
  1. Menarik kesimpulan atau merangkum berbagai persoalan pendidikan ke dalam satu gambaran pokok melalui proses abstrak dan generalisasi; 
  2. Memahami persoalan pendidikan secara keseluruhan , dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pendidikan. 

Fungsi normatif filsafat pendidikan berhubungan dengan fungsi filsafat pendidikan sebagai perumus formulasi tujuan, norma, atau standar untuk mengarahkan pendidikan. Filsafat pendidikan menentukan arah tujuan pendidikan, akan kemana pendidikan itu?, model masyarakat yang bagaimana yang dikehendaki oleh pendidikan dan seterusnya. 

Fungsi kritik berhubungan dengan fungsi filsafat pendidikan untuk melakukan penelitian secara cermat yang didasarkan atas pemikiran-pemikiran dan praktik pendidikan, dalam hal-hal berikut : 
  1. Menguji dasar-dasar pemikiran logis, di mana kesimpulan pendidikan ada didalamnya; 
  2. Menguji dengan teliti bahwa bahasa yang digunakan benar-benar harus terang dan jelas; 
  3. Memerlukan bukti yang bermacam-macam, yang dapat dipergunakan untuk menguatkan atau menyangkal ungkapan tentang fakta pendidikan. 

Fungsi teori bagi praktik menyatakan bahwa konsep, ide, analisis dan kesimpulankesimpulan yang tardapat dalam fungsi filsafat pendidikan berfungsi sebagai teori. Teori ini merupakan dasar bagi praktik atau pelaksanaan pendidikan. Menurut Sanusi Uwes (2001:135-136) mengatakan bahwa fungsi filsafat pendidikan Islam adalah sebagi berikut: 

Pertama, berfungsi sebagai infra struktur bagi perilaku guru pada saat melaksanakan tugas pendidikan. Guru yang memahami filsafat akan memperlakukan unsur-unsur yang terlibat kegiatan pendidikan khususnya murid, waktu, bahan ajar, dan proses pendidikan dengan perilaku yang lebih manusiawi, bertujuan dan jelas argumennya karena di dukung oleh suasana batin yang memiliki karakter filsafat, seperti analitik, sistematik, rasional, dan universal. 

Kedua, mendisiplin perilaku pendidik dan terdidik. Disiplin dalam pengertian memiliki kesadaran berperilaku yang konsisten dengan nilai yang dihasilkan dari berpikir radikal dan sistematis mengenai hakikat mengajar dan mendidik. Filsafat pendidikan akan menuntun guru mendisiplinkan dirinya berdasarkan kesadaran makna hakiki pendidikan dan pengajaran tersebut. 

Ketiga, kritis terhadap lingkungan pendidikan. Berdasarkan pemahamannya terhadap hakikat pendidikan, hakikat ilmu, dan hakikat anak didik, guru akan selalu berpihak kepada kepentingan anak didik, dan karena itu segala hal yang mengakibatkan kerugian bagi anak didik, akan dikritisi secara proporsional sesuai dengan tingkat pemahaman yang dimilikinya. 

Keempat, selektif atas alternatif yang tersedia. Guru yang menjiwai filsafat akan selalu terdorong untuk senantiasa membaca dan membaca berbagai informasi yang berkaitan dengan teori, konsep, dan praksis pendidikan dari berbagai sudut pandang, baik ideologi, politik, ekonomi, dan sebagainya. 

Kelima, kritis terhadap istilah-istilah. Dengan memahami filsafat sebagai hasil dari bacaannya, maka akan sangat kritis terhadap penggunaan istlah-istilah yang digunakan oleh ilmuwan lain. 

Fungsi pendidikan lebih kongkret lagi dijelaskan oleh Ahmad D. Marimba. Menurutnya, bahwa filsafat pendidikan dapat menjadi pegangan pelaksanaan pendidikan yang menghasilkan generasi-generasi baru yang berkepribadian muslim. Generasi-generasi baru ini selanjutnya akan mengembangkan usaha-usaha pendidikan dan mungkin mengadakan penyempurnaan atau penyusunan kembali filsafat yang mendasari usaha-usaha pendidikan itu sehingga membawa hasil yang lebih besar. 

Selanjutnya Muzayyin Arifin mengatakan, bila dilihat dari fungsinya, maka filsafat pendidikan Islam merupakan pemikiran yang mendasar yang melandasi dan mengarahkan proses pelaksanaan pendidikan Islam. Oleh karena itu filsafat ini juga memberikan gambaran tentang sampai di mana proses tersebut dapat direncanakan dan dalam ruang lingkup serta dimensi bagaimana proses tersebut dilaksanakan. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa filsafat pendidikan Islam juga bertugas melakukan kritik-kritik tentang metodemetode yang digunakan dalam proses pendidikan Islam itu serta sekaligus memberikan pengarahan mendasar tentang bagaimana metode tersebut harus didayagunakan atau diciptakan agar efektif untuk mencapai tujuan. 

Dari uraiannya ini, lebih lanjut dapat disimpulkan bahwa filsafat pendidikan Islam itu seharusnya bertugas dalam 3 (tiga) dimensi, yakni: 
  1. Memberikan landasan dan sekaligus mengarahkan kepada proses pelaksanaan pendidikan yang berdasarkan Islam; 
  2. Melakukan kritik dan koreksi terhadap proses pelaksanaan pendidikan tersebut; 
  3. Melakukan evaluasi terhadap metode yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut (M. Arifin, 2005:6). 

Dengan memperhatikan uraian tersebut dapat diketahui ternyata filsafat pendidikan Islam berfungsi mengarahkan dan memberikan landasan pemikiran yang sistematik, mendalam, logis, universal, dan radikal terhadap berbagai masalah yang beroperasi dalam bidang pendidikan dengan menempatkan al-Qur’an dan al-Sunah sebagai dasar utama acuannya (Abuddin Nata, 2005:17-20). Pendidikan memiliki pengertian yang sempit dan pengertian yang luas. Dalam pengertian yang luas, pendidikan memiliki ruang lingkup yang luas. Disamping permasalahan pendidikan itu hanya berhubungan dengan hal praktis dan sehari-hari, pendidikan juga memiliki permasalahan yang mendasar dan mendalam. 

Diantara permasalahan pendidikan mendalam yang membutuhkan filsafat pendidikan antara lain: 
  1. Masalah kependidikan pertama dan mendasar adalah tentang apakah hakikat pendidikan itu. Mengapa pendidikan itu harus ada pada manusia dan merupakan hakikat hidup manusia. Apa pula hakikat manusia itu; 
  2. Apakah pendidikan itu berguna untuk membina kepribadian manusia; 
  3. Apakah sebenarnya tujuan manusia itu. Apakah pendidikan itu untuk individu, atau untuk kepentingan masyarakat. Apakah pendidikan itu dipusatkan untuk membina kepribadian manusia ataukah untuk pembinaan masyarakat; 
  4. Siapakah hakikatnya yang bertanggungjwawab terhadap pendidikan itu. Sampai dimana tanggung jawab itu; 
  5. Apakah hakikat pribadi manusia itu. Manakah yang lebih utama untuk di didik: akal, kemauan atau perasaannya; 
  6. Apakah hakikat masyarakat itu, bagaimana kedudukan individu dalam masyarakat; 
  7. Apakah isi pendidikan yang relevan dengan pendidikan yang ideal, apakah kurikulum yang mengutamakan pembinaan kepribadian dan sekaligus kecakapan untuk memangku suatu jabatan dalam masyarakat; 
  8. Bagaimana metode pendidikan yang efektif untuk mencapai tujuan pendidikan yang ideal (Prasetya, 2002:13-14). 

Secara praktis (dalam prakteknya),filsafat pendidikan Islam banyak berperan dalam memberikan alternatif-alternatif pemecahan berbagai macam problem yang dihadapi oleh pendidikan Islam, dan memberikan pengarahan terhadap perkembangan pendidikan Islam.Hal ini dilakukan dengan cara sebagai berikut: 
  • Pertama-tama filsafat pendidikan Islam, menunjukkan problema yang dihadapi oleh penddikan Islam, sebagai hasil dari pemikiran yang mendalam, dan berusaha untuk memahami duduk masalahnya; 
  • Filsafat pendidikan Islam, memberikan pandangan tertentu tentang manusia (menurut Islam); 
  • Filsafat pendidikan Islam dengan analisanya terhadap hakikat hidup dan kehidupan manusia, berkesimpulan bahwa manusia mempunyai potensi pembawaan yang harus ditumbuhkan dan diperkembangkan; 
  • Filsafat pendidikan Islam, dalam analisanya terhadap masalah-masalah pendidikan Islam masa kini yang dihadapinya, akan dapat memberikan informasi apakah proses pendidikan Islam yang berjalan selama ini mampu mencapai tujuan pendidikan Islam yang ideal, atau tidak; 

Dengan demikian peranan filsafat pendidikan Islam, menuju kedua arah, yaitu ke arah pengembangan konsep-konsep filosofis dari pendidikan Islam, yang secara otomatis akan menghasilkan teori-teori baru dalam ilmu pendidikan Islam, dan kedua kearah perbaikan dan pembaharuan praktek dan pelaksanaan pendidikan Islam (Zuhairini dkk, 2004:134- 136).

Metode Filsafat Pendidikan Islam Sebagai sebuah disiplin ilmu, filsafat pendidikan Islam sudah dipastikan memiliki metode pengembangan dan pengkajiannya yang khas, karena metode inilah sesungguhnya yang memberikan petunjuk operasional dan teknis dalam mengembangkan suatu ilmu. 

Sebagai suatu metode, pengembangan suatu ilmu biasanya memerlukan empat hal sebagai berikut: 

Pertama, bahan-bahan yang akan digunakan untuk pengembangan filsafat pendidikan. Dalam hal ini dapat berupa bahan tertulis yaitu, al-Qur’an dan al-Hadits yang disertai pendapat ulama serta para filosof lainnya; dan bahan yang diambil dari pengalaman empirik dalam praktek pendidikan. 

Kedua, metode pencarian bahan. Untuk mencari bahan-bahan yang bersifat tertulis dapat dilakukan melalui studi kepustakaan dan studi lapangan yang masing-masing prosedurnya telah diatur sedemikian rupa. Namun demikian, khusus dalam menggunakan al-Qur’an dan hadits dapat digunakan jasa Ensiklopedi al-Qur’an semacam Mu’jam al-Mufahras li alfazh al-Qur’an al-Karim, karangan Muhammad Fuad Abd al-Baqi (Kamus untuk mencari ayatayat yang diperlukan), dan Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits, karangan Weinseink (Kamus untuk mencari hadits yang diperlukan). 

Ketiga, Metode pembahasan. Untuk ini Muzayyin Arifin mengajukan alternatif metode analitis-sintetis, yaitu suatu metode yang berdasarkan pendekatan rasional dan logis terhadap sasaran pemikiran secara indukatif, dedukatif, dan analisa ilmiah. Metode ini lebih lanjut dijelaskan oleh muzayyin Arifin, dengan mengatakan: 

“Mengingat sasaran studi filsafat terletak pada problema kependidikan dalam masyarakat untuk digali hakikatnya, maka cara menggali dapat dilakukan dengan menggunakan metode berpikir induktif, yaitu cara berpikir yang manganalisa fakta-fakta khusus terlebih dahulu selanjutnya dipakai untuk bahan penarikan kesimpulan yang bersifat umum. Cara berpikir induktif ini tepat sekali digunakan untuk membahas bahan-bahan yang didapat dari hasil pengalaman. Di samping itu dapat pula digunakan Metode berpikir deduktif, yaitu berpikir dengan menggunakan premis-premis dari fakta yang bersifat umum menuju ke arah yang bersifat khusus. Cara berpikir deduktif ini tampak dapat digunakan untuk membahas bahan-bahan kajian yang bersumber dari bahan tertulis.”

Melalui dua pendekatan yang dikemukakan di atas, paling tidak, dapat diketahui persoalan pendidikan yang paling mendasar dan kemudian diberikan solusi untuk mengatasi hal tersebut. 

Keempat, pendekatan. Pendekatan ini biasanya diperlukan dalam analisa, dan berhubungan dengan teori-teori keilmuan tertentu yang akan dipilih untuk menjelaskan fenomena tertentu pula.Selanjutnya karena yang ingin dikembangkan dan dikaji masalah filsafat pendidikan Islam, maka pendekatan yang harus digunakan adalah perpaduan dari ketiga ilmu tersebut, yaitu filsafat, ilmu pendidikan, dan keislaman (Abuddin Nata, 2005:20- 24).

Filsafat pendidikan Islam ada yang bercorak tradisional dan dapat pula bercorak filsafat kritis. Pada filsafat pendidikan Islam yang bercorak tradisional, tentunya tidak bisa dipisahkan dengan aliran madzhab filsafat yang pernah berkembang dalam dunia Islam. Dalam hal ini, filsafat pendidikan Islam berusaha menganalisa pandangan aliran-aliran yang ada terhadap masalah-masalah kependidikan yang dihadapi pada masanya dan bagaimana implikasinya dalam proses pendidikan. Sedangkan pada filsafat pendidikan yang bercorak kritis, maka dalam hal ini di samping menggunakan metode-metode filsafat pendidikan Islam sebagaimana yang telah berkembang dalam dunia Islam, juga menggunakan filsafat pendidikan yang berkembang dalam dunia filsafat pada umumnya.

Filsafat pendidikan Islam dalam memecahkan problema pendidikan Islam (problema pendidikan yang dihadapi umat Islam) dapat menggunakan metode-metode antara lain: 
  • Metode spekulatif dan kontemplatif yang merupakan metode utama dalam setiap cabang filsafat. Dalam sistem filsafat Islam disebut tafakkur; 
  • Pendekatan normatif. Norma, artinya nilai, juga berarti aturan atau hukum-hukum. Menurut filsafat Islam, sumber nilai adalah Tuhan dan semua bentuk norma akan mengarahkan manusia kepada Islam; 
  • Analisa konsep yang juga disebut analisa bahasa. Konsep, berarti tangkapan atau pengertian seseorang terhadap sesuatu obyek. Dalam sistem filsafat Islam, menafsirkan dan juga menta’wilkan ayat-ayat Al-Qur’an merupakan praktek kongkret dari pendekatan analisa konsep atau analisa bahasa. 
  • Pendekatan historis. Histori artinya sejarah, yaitu mengambil pelajaran dari peristiwa dan kejadian masa lalu. 
  • Pendekatan ilmiah terhadap masalah aktual, yang pada hakikatnya merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari pola berpikir rasional, empiris dan eksperimental yang telah berkembang pada masa jayannya filsafat dalam Islam. 
  • Dalam sistem filsafat Islam, pernah pula berkembang pendekatan yang sifatnya komprehensif dan terpadu, antara sumber-sumber naqli, akli, dan imani, sebagaimana yang Nampak dikembangkan oleh Al-Gazali. Menurut Al-Gazali, kebenaran yang sebenarnya, yaitu kebenaran yang diyakininya betul-betul merupakan kebenaran. Kebenaran yang mendatangkan keamanan dalam jiwa, bukan kebenaran yang mendatangkan keragu-raguan. Untuk mencapai kebenaran yang benar-benar diyakini, harus melalui pengalaman dan merasakan. Pendekatan ini, lebih mendekati pola berpikir yang empiris dan intuitif (Zuharini, dkk., 2004: 131-134).
Metode- metode di atas dapat digunakan untuk menganalisa permasalahan pendidikan Islam dalam berbagai aspeknya, baik aspek normatif maupun aspek faktual. Secara normatif bahwa norma-norma yang dijadikan pegangan dan sumber filsafat pendidikan Islam di dialektikakan dengan realitas yang ada. Realitas yang ada juga di dialogkan dengan hal yang bersifat normatif.

Hubungan dan Perbedaan Filsafat, teori dan Praktek Pendidikan 
a. Hubungan Filsafat dan Teori Pendidikan 
Antara filsafat dan teori pendidikan memiliki hubungan yang erat. Hubungan keduanya hanya dapat dibedakan tidak dapat dipisahkan. Hubungan antara keduanya demikian erat sehingga kadang-kandang filsafat pendidikan disebut teori pendidikan,demikian pula sebaliknya. Misalnya di negara Amerika teori atau ilmu pendidikan disebut dengan Filsafat Pendidikan atau “Philosophy of Educatian” (Daniel, 1985:36). 

Secara singkat hubungan antara keduanya dapat dirumuskan sebagai berikut : 
  1. Filsafat pendidikan memberikan pandangan-pandangan filsafiahnya kepada teori pendidikan, khususnya pandangannya tentang manusia, peserta didik, tujuan pendidikan, dan bagaimana seharusnya belajar; 
  2. Teori pendidikan sebagai sebuah disiplin ilmu yang otonom, sering menemui masalah-masalah yang membutuhkan bantuan filsafat pendidikan. Kadang-kadang pandangan filsafat pendidikan dapat mengubah teori pendidikan; 
  3. Jika suatu teori pendidikan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara filsafiah, khususnya yang berhubungan dengan hidup dan manusia maka akan mengakibatkan perlakuan yang tidak bertanggungjawab; 
  4. Pelaksanaan teori pendidikan sering memberikan bahan-bahan baru kepada filsafat pendidikan untuk direnungkan; 
  5. Teori pendidikan dapat meng-cover pandangan filsafat pendidikan yang cocok baginya, meskipun pandangan-pandangan tersebut harus diolah kembali (Daniel, 1995:100). 

Dari penjelasan di atas terlihat hubungan yang demikian erat antara keduanya. Keduanya saling mempengaruhi. Sesuai dengan rumusan di atas dapat dikatakan pula bahwa masalah-maslah kependidikan baik pada level filosofis maupun tingkat teoretis dapat dijawab oleh relasi antara keduanya. Terdapat hubungan fungsional antara keduanya. 

Hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan pula dapat diuraikan sebagai berikut : 
  1. Filsafat, dalam arti analisa filsafat adalah salah satu pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori pendidikan. Pandangan filsafat-termasuk aliran filsafat- akan mempengaruhi bangunan teori; 
  2. Filsafat berfungsi untuk memberikan arah agar teori pendidikan yang telah dikembangkan, memiliki relevansi dengan dunia nyata. Teori yang dikembangkan itu setelah diarahkan oleh filsafat sesuai dengan kehidupan saat ini; 
  3. Filsafat memberi arah terhadap penngembangan teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan (Zuhairini dkk, 2004:16-17). 

Hubungan antara filsafat dan ilmu pendidikan juga dapat saling berkaitan Filsafat mempengaruhi pertumbuhan ilmu-ilmu yang lain. Inilah hubungan horizontal antara filsafat termasuk filsafat pendidikan dengan keilmuan lainnya. Filsafat pendidikan memiliki hubungan vertikal dengan ilmu yang lainnya ketika berhubungan ke bawah atau ke atas, seperti hubungan dengan ilmu pendidikan, sejarah pendidikan, dan seterusnya (Prasetya, 2002:75-76). Hal di atas menunjukkan bahwa filsafat pendidikan memiliki nilai signifikan bagi pertumbuhan dan perkembangan ilmu. Sehubungan dengan hal ini pula al- Syaibani (1979:33) mengatakan : 

“Falsafah pendidikan memiliki pengaruh atau kepentingan yang sangat besar bagi setiap sistem pendidikan yang berusaha maju. Pendidikan tidak akan tumbuh, berkembang dan maju jika tidak didasarkan kepada falsafat yang selalu disertai dengan pembaharuan dan daya-daya cipta dalam dunia yang senantiasa bertarung dengan ilmu dan teknologi. Selagi kita masih bertanya :”mengapa kita mengajar, bagaimana mengajar itu, selama itu pula pendidikan memerlukan filsafat”. 

Menurut Ali Saepullah sebagaimana dikutip Jalaludin (1997:23), filsafat pendidikan, dan teori pendidikan memiliki hubungan suplementer sebagai berikut: 
  1. Kegiatan merumuskan dasar-dasar, tujuan-tujuan pendidikan, konsep tentang hakikat manusia, serta konsepsi hakikat dan segi pendidkan; 
  2. Kegiatan merumuskan sistem atau teori pendidkan yang meliputi politik pendidikan, kepemimpinan pendidkan, metodologi pendidikan dan pengajaran, termasuk pola-pola akulturasi pendidikan dengan masyarakat. 

b. Perbedaan antara Filsafat Pendidikan dengan Teori Pendidikan 
Di samping memiliki hubungan, filsafat pendidikan dan teori pendidikan juga memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut disebabkan oleh karena filsafat pendidikan maupun teori pendidikan memiliki objek, metode, dan sistematika yang berbeda. Perbedaan antara keduanya antara lain sebagai berikut : 
  1. Filsafat pendidikan dan ilmu atau teori pendidikan merupakan dua disiplin ilmu yang berbeda. Masing-masing memiliki objek, metode, dan sistematika tersendiri yang berbeda; 
  2. Jika objek filsafat pendidikan adalah perenungan filosofis tentang masalah-masalah pendidikan, maka objek teori pendidikan adalah situasi pendidikan itu sendiri yang muncul secara jelas relasi antara pendidik dengan peserta didik; 
  3. Jika filsafat pendiidkan menggunakan pendekatan filosofis (sinopsis, normatif, induktif) dalam menelaah objeknya, maka teori pendidikan menggunakan pendekatan fenomenologis dalam menelaah objeknya; 
  4. Filsafat pendidikan dapat menjadi tamu terhormat bagi teori pendidikan, tetapi teori pendidikan dapat menjadi tuan rumah. Sebagai tuan rumah, teori pendidikan dapat menolak filsafat pendidikan yang tidak sesuai (Daniel, 1985:101-102). 
Perbedaan-perbedaan di atas menunjukkan bahwa meskipun keduanya memiliki hubungan juga memiliki perbedaan. Filsafat pendidikan memiliki objek yang berbeda dengan objek teori pendidikan. Objek filsafat pendidikan berupa perenungan folosofis atau hasil pemikiran. Pemikiran yang berasal dari para filosof atau pemikir pendidikan termasuk pendidikan Islam merupakan objek material dari filsafat pendidikan. Teori atau ilmu pendidikan memiliki objek situasi pendidikan ketika pendidikan itu berlangsung.

Ahmad Tafsir (2006:5) memberikan matrik perbedaan antara filsafat dan teori sebagai berikut:

Dari matrik di atas dapat diketahui bahwa filsafat dan teori atau ilmu memiliki perbedaan. Menurut matrik di atas, perbedaan tersebut meliputi jenis pengetahuan, paradigma, objek, metode dan kriteria.

c. Hubungan dan Perbedaan Teori dan Praktek Pendidikan 
Pendidikan memiliki cakupan yang sangat luas. Ruang lingkupnya mencakup seluruh pengalaman dan pemikiran manusia tentang pendidikan. Pendidikan dapat diamati sebagai sebuah praktik dalam kehidupan, seperti halnya dengan kegiatan-kegiatan lain seperti kegiatan ekonomi dan sebagainya. Praktek pendidikan adalah seperangkat kegiatan bersama yang bertujuan membantu pihak lain agar memdapatkan tingkah laku yang diharapkan. Praktik pendidikan dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek tujuan, aspek proses kegiatan, dan aspek motivasi. Tujuan praktik pendidikan adalah membantu pihak lain agar mendapatkan perubahan yang fundamental (Sadullah,1994:2).

Teori pendidikan adalah merupakan hasil kegiatan intelektual berupa rumusanrunusan tentang prinsip-prinsip dasar pendidikan.Prinsip-prinsip dasar ini berhubungan dengan masalah-masalah yang dihadapi pendidikan. Teori pendidikan disebut juga ilmu pendidikan sistematis. Dengan demikian maka fungsi teori pendidikan adalah merumuskan prinsip-prinsip pendidikan guna kepentingan pendidikan (Daniel,1985:37). 

Hubungan antara teori pendidikan dan praktik pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut: 
  1. Teori/ilmu pendidikan teoretis sebagai penjabaran dari filsafat pendidikan melahirkan ilmu pendidikan praktis; 
  2. Teori/ilmu pendidikan praktis menjadi panduan dalam kegiatan pendidikan langsung terutama kegiatan mendidik; 
  3. Pengalaman mendidik memberikan umpan balik kepada teori pendidikan , yang mampaatnya memungkinkan untuk merevisi teori semula; 
  4. Sebagai hasil revisi tersebut sangat mungkin teori pendidikan memberikan umpan balik kepada filsafat pendidikan (Pidarta, 2007:83-84).

Selanjutnya, anda mungkin sudah banyak membaca hubungan antara teori dan praktik pendiidkan ini. Sebagai analisa dan perbandingan silahkan anda ikuti penjelasan selanjutnya. J. M. Daniel (1985:122) menjelaskan tentang hubungan teori dan praktek sebagai berikut : 
  1. Teori merupakan dasar bagi praktik. Sedangkan praktik merupakan alat penguji keampuhan teori; 
  2. Teori itu untuk dipraktekkan, sedangkan praktik sebagai input baru bagi teori; 
  3. Teori sebagai pengecek keberhasilan praktik, sedangkan praktik menjadi pemikiran kembali bagi teori.
Daniel (1985:125) memberikan perbandingan antara teori dalam matrik sebagai berikut:

Dari tabel di atas dapat diketahui perbedaan antara teori dan praktek. Tetapi hendaknya dipahami bahwa perbedaan dan perbandingan itu hanya untuk memudahkan pemahaman. Sejatinya antara teori dan praktik memiliki hubungan yang sangat erat. 

Perbedaan antara keduanya juga terlihat dari penghampiran atau pendekatan terhadap pendidikan. Berikut skema perbedaan tersebut:

Untuk memberikan pemahaman yang lebih baik, berikut ini Anda diharapkan untuk mendiskusikan dan menjawab permasalahan di bawah ini : 
1) Menurut pendapat Anda apa saja tujuan filsafat pendidikan Islam itu ? 
2) filsafat pendidikan Islam memiliki fungsi yang signifikan hubungannya dengan pendidikan, apa fungsi filsafat pendidikan itu ? 
3) Diskusikan oleh Anda hubungan dan perbedaan antara filsafat, teori, dan praktek pendidikan! 

Selanjutnya coba Anda cocokkan hasil diskusi Anda dengan jawaban di bawah ini : 
1) Tujuan pendidikan Islam adalah : 
  • Inspirasional yaitu memberikan gagasan kreatif kepada pendidikan, 
  • Analitikal yaitu alat untuk menganalisa masalah pendidikan, 
  • Preskriptif yaitu memberikan panduan dan pedoman, 
  • Investigatif yaitu memeriksa. 

2) Fungsi filsafat pendidikan Islam adalah melakukan formulasi terhadap pengembangan pendidikan. Formulasi ini meliputi konsep-konsep mendasar pendidikan seperti apa tujuan pendidikan dan seterusnya. 

3) Hubungan antara filsafat, teori dan praktek pendidikan sangat erat. Filsafat memberikan arahan dan pedoman bagi teori. Teori menjadi dasar bagi praktek. Praktek memberikan unpan balik bagi teori. Teori memberi unpan balik bagi filsafat.
Blog, Updated at: 19.11

1 komentar :

Popular Posts