Batik Tradisional Sebagai Warisan Budaya Bangsa

Batik Tradisional Sebagai Warisan Budaya Bangsa 
Dalam pewarisan budaya khususnya yang berkenaan dengan kerajinan, apa yang diperoleh dari generasi terdahulu akan senantiasa mendapatkan sentuhan-sentuhan baru, dari manapun asal gagasannya. Ide dari luar komunitas (masyarakat) dapat berkenaan dengan desain, bahan maupun teknik, dan terhadap berbagai bentuk masukan dari luar itu dapat dilakukan adopsi sepenuhnya atau dengan adaptasi dan modifikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Ide dari dalam komunitas dapat muncul karena seniman pengrajin yang kaya akan imajinasi dan bersifat eksploratif.

Di dalam tardisi seni khususnya, akan selalu ditemui pengulangan-pengulangan sebagai fungsi dari penerusan perbendaharaan budaya yang telah terbentuk sebelumnya dan membuat tradisi tersebut memiliki ciri pengenal, meskipun dari waktu ke waktu akan tersaji hal-hal yang baru baik dalam kompisisi maupun teknik dan bahan. Demikian pula halnya dengan seni batik, dalam kebudayaan Jawa telah diterima suatu temuan masa lalu yang telah menjadi tradisi yaitu berupa motif dasar dari batik seperti Truntum, Semen, Kawung dan lain-lain. Motif Truntum misalnya, selalu terdiri bunga-bunga kecil diseluruh permukaan kain, namun demikian garapan (buatan) dari masing-masing pembatik bisa berbeda baik dalam ukuran bunganya, jaraknya maupun arah sebarannya serta hiasan-hiasan sela yang melintasinya. Sikap hidup bermasyarakat yang sangat diwarnai oleh kebersamaan dalam masyarakat tradisional membuat hasil karya suatu penciptaan dapat dinikmati secara turun-temurun seperti halnya kain batik. Dengan demikian batik adalah satu bagian dari warisan budaya.

Sesuai dengan sejarahnya yang tidak dapat dipisahkan dari budaya dan kehidupan sehari-sehari masyarakat, maka batik memiliki kandungan makna filosofis tersendiri dalam setiap motifnya. Menurut KRT. DR. Winarso Kalinggo, motif batik Surakarta mengandung makna filosofis sebagai berikut :

a. Batik Semen Rama
 Semen Rama

Batik ini dibuat pada masa pemerintahan Paku Buwono ke IV yang memegang tahta pada tahun 1788-1820 M. Motif ini memberikan pelajaran kepada putranya yang sudah diangkat sebagai Putra Mahkota calon penggantinya. Batik yang bercorak “semenan” dengan nama “semen-rama” ini diambil dari ajaran Prabu Ramawijaya kepada Raden Gunawan Wibisono saat akan mengganti raja di Alengka sepeninggal Prabu Dasamuka. Ajaran yang dikenal adalah “Hatha Brata” yang harus dilaksanakan oleh seorang calon pemimpin. 

b. Batik Ratu Ratih
 Ratu Ratih

Nama “ratu-ratih’ berasal dari kata “ratu-patih” karena terjadi salin-swara ada yang memberikan makna “tunjung-putih” yang artinya ratu jinunjung patih atau raja yang dijunjung oleh patih atau diembani oleh patih karena usianya yang masih muda. Batik ini muncul pada masa pemerintahan Paku Buwono ke VI, di mana pada saat diangkat menjadi raja usianya masih sangat muda sehingga diemban oleh patihnya (ayahnya sendiri) pada tahun 1824 M. Makna dari motif batik ini diibaratkan cincin emas yang bermata berlian yang dikaitkan dengan kemuliaan, keagungan dan mudah menyesuaikan dengan lingkungannya. Motif batik ini dipakai oleh semua golongan dan biasanya dipakai pada saat menghadiri jamuan.

c. Batik Truntum
 Truntum

Motif ini adalah karya dari Ratu Kencono atau dikenal dengan nama Ratu Beruk, permaisuri dari Paku Buwono III. Berupa motif dengan latar hitam dihiasi tebataran bunga tanjung atau melambangkan bintang yang bertebaran dimalam hari. Truntum berarti timbul kembali yang berkaitan dengan kata katresnan atau cinta kasih suami isteri. Maknanya bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari dua hal yaitu bungah-susah (senang-susah), padhang-peteng (terang-gelap), kaya-miskin dan seterusnya. Batik ini dipakai oleh orang tua pada saat menikahkan anaknya dengan harapan jangan sampai terjadi perselisihan antara ibu dan bapak dalam niat menjodohkan anaknya.

d. Batik Parang Kusumo
 Parang Kusumo

Kata “kusumo” artinya kembang atau bunga yang dikaitkan dengan kembanging ratu. Sesuai dengan namanya, batik Parang Kusumo hanya dipakai oleh kalangan keturunan raja secara turun-temurun bila berada di dalam kraton. Batik ini berkembang pada masa Penembahan Senopati Mataram pada abad XVI.

e. Batik Kawung
 Kawung

Batik Kawung, diambil dari bentuk buah aren yang namanya kolang-kaling dan melambangkan suatu ajaran tentang terjadinya kehidupan manusia yang dikaitkan dengan “sedulur papat-lima pancer”. Diharapkan bagi si pemakai akan selalu dijaga oleh yang melindungi hidup kita sehari-hari.

f. Batik Sidomulyo/ Sidoluhur/ Sidomukti
 Sidomulyo, Sidoluhur, Sidomukti

Pada dasarnya ketiga motif ini sama desainnya hanya dibedakan oleh dasar batiknya sehingga namanya juga berbeda. Menurut catatan di Kraton Surakarta, batik Sidomulyo dan batik Sidoluhur sudah ada sejak jaman Mataram Kartosuro abad XVII. Motif yang bercorak bentuk lapis dengan latar putih dinamakan batik Sidomulyo, sedangkan yang berlatar hitam dinamakan batik Sidoluhur. Makna Sidomulyo adalah kehidupan yang tercukupi sedangkan Sidoluhur artinya terpenuhinya kedudukan yang tinggi atau mempunyai pangkat yang tinggi. Batik Sidomulyo, Sidoluhur, dan Sidomukti dalam tradisi jawa dipakai untuk penganten atau untuk semua golongan tua dan muda.

g. Batik Semen Bondhet
 Semen Bondhet

Batik ini juga termasuk jenis “semenan” dengan latar putih. Awalnya motif ini hanya dipakai oleh kalangan abdi dalem kerajaan yang berpangkat Bupati-Anom dan jabatan di atasnya tetapi dalam perkembangannya dipakai oleh semua golongan khususnya yang berusia muda. Batik ini melambangkan cinta kasih yang saling beriringan seperti halnya sepasang penganten baru. Bondhet artinya berdampingan dengan mesra. Batik ini mengandung makna sebuah harapan ketentraman lahir dan batin.

Perluasan pemakaian batik di luar kraton menyebabkan pihak Kraton Surakarta membuat ketentuan mengenai pemakaian pola batik. Ketentuan tersebut di antaranya mengatur sejumlah pola yang hanya boleh dikenakan oleh raja dan keluarga istana. Pola yang hanya boleh dikenakan oleh keluarga istana ini disebut sebagai ”pola larangan”. Semua pola ”parang”, terutama Parang Rusak Barong, Cemukiran, dan Udan Liris, serta berbagai ”semen” yang menggunakan ”sawat ageng” merupakan pola larangan Kraton Surakarta.
Blog, Updated at: 18.13

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts