Bentuk-Bentuk Pengungkapan Epistemologi Menurut Al-Qur’an

Bentuk-Bentuk Pengungkapan Epistemologi Menurut Al-Qur’an
A. Makna Epistemologi dan Pengungkapannya Dalam Al-Qur’an 
a) Makna Epistemologi 
Pengertian epistemologi secara etimologi berasal dari kata episteme dan logos. Kata episteme memiliki makna pengetahuan sedang logos berarti ilmu atau teori. Jadi epistemologi adalah teori ilmu pengetahuan. Epistemologi merupakan cabang filsafat yang berbicara secara khusus mengenai sifat keaslian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan. Makna lain epistemologi ialah suatu ilmu yang secara khusus membahas dan mempersoalkan apa itu pengetahuan, dari mana pengetahuan itu diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya.

Sementara itu The Liang Gie mendefinisikan, epistemologi adalah cabang filsafat yang terkait dengan masalah dasar ilmu pengetahuan, yakni dari mana pengetahuan itu diperoleh, dan bagaimana cara memperolehnya serta bagaimana tingkat validitasnya.

Diterangkan pula bahwa epistemologi bersangkutan dengan masalah yang meliputi, filsafat yang berusaha mencari hakekat dan kebenaran pengetahuan, metode yang berusaha mengantarkan manusia untuk memperoleh pengetahuan, sistem yang bertujuan memperoleh realitas kebenaran pengetahuan. 

Pendapat lain menyebutkan bahwa epistemologi sama dengan filsafat pengetahuan, yaitu suatu kajian yang membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dan metode-metode apa saja yang digunakan. 

Selain epistemologi ada dua bentuk asas lain yang ada dalam suatu ilmu, yaitu: ontologi dan aksiologi. Ontologi ialah suatu obyek yang menjadi dasar kajian atau sebagai ojeknya. Sedangkan aksiologi, yaitu ilmu pengetahuan yang secara khusus membahas tentang nilai, manfaat, kegunaan serta fungsi ilmu itu sendiri. Dalam hal ini secara sederhana dapat dipahami bahwa sesuatu yang perlu dipikirkan disebut (ontologi), yakni ada objek yang jelas, kemudian bagaimana proses kerjanya yang disebut epistemologi, dan baru kemudian bagaimana manfaat atau kegunaannya yang disebut aksiologi. Dengan demikian pengetahuan yang benar yaitu harus memiliki unsur ontologis, epistemologis dan aksiologis.

P. Hardono Hadi mendefinisikan epistemologi sebagaimana yang dikutip oleh Mujamil Qomar, epistemologi adalah bagian filsafat yang mempelajari dan menentukan kodrat dan arah pengetahuan. Jadi epistemologi adalah cabang filsafat yang berurusan mengenai hakikat dan ruang lingkup pengetahuan. 

Pengertian-pengertian di atas pada dasarnya hampir sama adapun yang membedakannya adalah pada kodrat dan hakikat pengetahuan. Kodrat pengetahuan itu berkaitan dengan keaslian sifat pengetahuan, sedangkan hakikat pengetahuan itu berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan sehingga menghasilkan suatu pengertian yang benar. 

Masalah epistemologi para ahli filsafat mempunyai pandangan berbeda walaupun pada dasarnya memiliki kesamaan tujuan. Adapun pandangan para ahli tersebut bisa dicermati sebagaimana berikut: 
  1. Dagobert D. Runes; menyatakan epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber, struktur, metode-metode, dan validitas pengetahuan. 
  2. Azyumardi Azra; mendefinisikan bahwa epistemologi adalah sebagai ilmu yang membahas tentang keaslian, pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan.
  3. Mudlor Achmad; epistemologi ialah bagian filsafat yang mempertanyakan, hakikat, unsur, macam, tumpuan, batas, dan sasaran pengetahuan. 
  4. M. Arifin; epistemologi yaitu cabang filsafat yang mempertanyakan asal pengetahuan yang meliput hakikat, sumber, dan validitas pengetahuan. 
  5. A.M. Saefuddin menyebutkan epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab; apakah ilmu itu, dari mana asalnya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa yang dapat kita ketahui, dan sampai di manakah batasannya, yang dapat diringkan menjadi dua masalah pokok, yaitu masalah sumber ilmu dan masalah kebenaran ilmu.
Dari berbagai pengertian di atas dapatlah digarisbawahi bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempersoalkan bagaimana memperoleh pengetahuan, dengan apa pengetahuan itu di peroleh dan bagaimana hakekatnya yang dikajinya dengan menggunakan metode ilmiah, yaitu cara untuk menyusun pengetahuan yang benar. Metode ilmiah merupakan prosedur untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang benar, sehingga secara akademik hasilnya dapat dipertanggung jawabkan. Jadi pengetahuan yang benar itu harus diperoleh melalui metode yang benar. 

Diketahui pula bahwa tidak semua ilmu itu disebut ilmiah, karena ada ilmu yang diyakini kebenarannya namun secara akademik tidak dianggap benar dan ilmiah karena secara akademik tidak mampu menunjukkan secara ilmiah, contoh ilmu magic. Sedangkan ilmu yang dianggap ilmiah ialah Ilmu yang mampu menjelaskan keberadaannya secara ilmiah, yakni memiliki metodologi yang jelas, sehingga secara akademik dia mampu membuktikan kebenaran secara benar dan ilmiah. 

Dengan demikian metode ilmiah dalam ilmu pengetahuan merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhinya.

Dari kerangka pemikiran di atas dapat dipahami, epistemologi adalah salah satu sub sistem dari sistem filsafat (ontologi, epistemologi, dan aksiologi), sehingga epistemologi itu sendiri tidak bisa memisahkan diri dari filsafat. Dalam konteks ini epistemologi ialah segala bentuk pekerjaan dan pemikiran manusia yang selalu mempertanyakan dari mana ilmu pengetahuan itu diperoleh.

Aktivitas-aktivitas dalam filsafat pengetahuan dapat ditempuh melalui kontemplasi atau perenungan-perenungan secara filosofis dan analitik. Kontemplasi atau perenungan ini dalam bahasa Arab disebut dengan istilah tafakkar, tadabbar, tadakkar, dan sebagainya. Masalah ini dalam Al-Qur’an disebutkan kurang lebih 130 ayat yang menyuruh manusia menggunakan akalnya untuk merenung dan berfikir. Sebagai contoh, Allah berfirman: Yang artinya: 

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kejadian langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah AlQur’an”. (QS. al-A’raf: 185).

Merenung dan berfikir yang telah diyakini sebagai cirikhas cara kerja berfikir filosofis, karena tidak akan ada filsafat tanpa melalui perenungan-peenungan (kontemplasi) itu. Filsafat selalu mengandalkan kontemplasi (berfikir mendalam), baik ketika menelaah wilayah kerja (kajian) ontology, axiology, maupun epistemology, walaupun tidak menutup kemungkinan menggunakan pendekatan lain, seperti analisis konsep, atau analisis bahasa. 

Epistemologi (teori ilmu pengetahuan) ialah inti sentral setiap keilmuan. Dalam konteks Islam epistemologi merupakan parameter yang bisa memetakkan apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin menurut bidang-bidangnya, yakni apa yang mungkin diketahui dan harus diketahui serta apa yang sama sekali tidak mungkin diketahui. Dengan demikian epistemologi dapat dijadikan sebagai filter terhadap objek-objek pengetahuan karena tidak semua objek mesti dapat dijelajahi oleh pengetahuan manusia. Epistemologi merupakan cara dan arah berfikir manusia untuk memperoleh dan menemukan ilmu pengetahuan dibangun melalui kemampuan rasio (akal), indera dan intuisi.9 

b) Diskursus Epistemologi Dikalangan Ulama 
a. ULAMA’ FIQIH 
FIQIH, SECARA BAHASA BERARTI FAHAM TERHADAP TUJUAN SESEORANG PEMBICARA DARI PEMBICARAANNYA. MENURUT ISTILAH FIQIH IALAH MENGETAHUI HUKUM-HUKUM SYARA’ MENGENAI PERBUATAN MANUSIA MELALUI DALIL-DALILNYA YANG TERPERINCI. PENGERTIAN LAIN FIQIH ADALAH ILMU YANG DIHASILKAN OLEH PIKIRAN SERTA IJTIHAD (PENELITIAN). OLEH KARENA ITU TUHAN TIDAK BISA DISEBUT SEBAGAI “FAQIH” (AHLI ILMU FIQIH), KARENA BAGINYA TIDAK ADA SESUATU YANG TIDAK JELAS. DENGAN DEMIKIAN FIQIH ADALAH SUATU BIDANG KEILMUAN AGAMA, SECARA KHUSUS BERBICARA MENGENAI HUKUM (SYARI’AT) AGAMA BERFUNGSI UNTUK MENGATUR TATA KEHIDUPAN MANUSIA DIMANA BELUM DIKETAHUI ATAU BELUM JELAS KEDUDUKAN HUKUMNYA YANG BISA DIJALANKAN ATAU DIAMALKAN. SEDANGKAN PARA ULAMA HUKUM ISLAM SECARA GARIS BESAR MEMAKNAI FIQIH ADALAH SEBAGAI HUKUM-HUKUM SYARI’AH YANG BERSIFAT AMALIAH, YANG TELAH DIISTINBATKAN OLEH PARA MUJTAHID DARI DALIL-DALIL SYAR’I YANG TERPERINCI. 

KAJIAN DALAM ILMU FIQH ITU MELIPUTI SELURUH HUKUM AGAMA, BAIK YANG BERHUBUNGAN DENGAN HUKUM-HUKUM KEPERCAYAAN ATAU HUKUM-HUKUM PERBUATAN DAN ATAU HUKUMHUKUM AKHLAK. PARA ULAMA YANG BERKECIMPUNG DALAM HUKUM ISLAM (FIQH) MEREKA SEPAKAT BAHWA SUMBER HUKUM ISLAM, YAKNI SUMBER HUKUM YANG DIJADIKAN PIJAKAN DALAM MENGURAI PERSOALAN-PERSOALAN HUKUM YANG BELUM JELAS KETENTUAN HUKUMNYA. MAKA YANG MENJADI LANDASAN HUKUM ISLAM ADALAH TEKS (AL-QUR’AN/ WAHYU, HADITS, DAN IJTIHAD

ULAMA, SERTA IJMA’ DAN QIYAS). SECARA EPISTEMOLOGI SUMBER PENGETAHUAN HUKUM ISLAM, PERTAMA BERASAL DARI TEKS (WAHYU). DALAM FILSAFAT ISLAM HAL INI MENGACU PADA EPISTEMOLOGI BAYANI. BAYANI ADALAH METODE PEMIKIRAN KHAS ARAB YANG MENEKANKAN OTORITAS TEKS (NASH), SECARA LANGSUNG ATAU TIDAK LANGSUNG, DAN DI JUSTIFIKASI OLEH AKAL KEBAHASAAN YANG DIGALI LEWAT INFERENSI (ISTIDLAL). SECARA LANGSUNG BERARTI MEMAHAMI TEKS SEBAGAI PENGETAHUAN HUKUM, DAN TIDAK LANGSUNG BERARTI MENGETAHUI TEKS SEBAGAI PENGETAHUAN MENTAH SEHINGGA PERLU TAFSIR DAN PENALARAN. JADI DALAM PERSPEKTIF KEAGAMAAN, SASARAN BIDIK METODE BAYANI ADALAH ASPEK EKSOTERIK (SYARIAT). DALAM BAHASA ARAB BAYANI BERARTI PENJELASAN (EKSPLANASI), SEDANGKAN DALAM KAMUS LISAN AL-ARAB BAYANI MENGANDUNG BEBERAPA ARTI, DIANTARANYA: AL-FASHL WA INFISHAL (MEMISAHKAN DAN TERPISAH), DAN AL-DHUHUR WA AL-IDHAR (JELAS DAN PENJELAS). 

PADA MASA SYAFII (767-820 M), YANG DIANGGAP SEBAGAI PELETAK DASAR JURISPRUDENCE ISLAM, BAYANI BERARTI NAMA YANG MENCAKUP MAKNA-MAKNA YANG MENGANDUNG PERSOALAN USHUL (POKOK) DAN YANG BERKEMBANG HINGGA KE CABANG (FURU’). SECARA METODOLOGI SYAFII MEMBAGI BAYAN INI DALAM LIMA BAGIAN DAN TINGKATAN. 
  1. BAYAN YANG TIDAK BUTUH PENJELASAN LANJUT, BERKENAN DENGAN SESUATU YANG TELAH JELAS HUKUMNYA (SUDAH ADA PENJELASAN DARI TUHAN), YAKNI YANG TERTERA DALAM ALQUR’AN SEBAGAI KETENTUAN BAGI MAKHLUKNYA. 
  2. BAYAN YANG BEBERAPA BAGIAN MASIH GLOBAL SEHINGGA BUTUH PENJELASAN SUNNAH, 
  3. BAYAN YANG KESELURUHANNYA MASIH GLOBAL SEHINGGA BUTUH PENJELASAN SUNNAH, 
  4. BAYAN SUNNAH, SEBAGAI URAIAN ATAS SESUATU YANG TIDAK TERDAPAT DALAM AL-QUR’AN, 
  5. BAYAN IJTIHAD YANG DILAKUKAN DENGAN QIYAS ATAS SESUATU YANG TIDAK TERDAPAT DALAM AL-QUR’AN MAUPUN SUNNAH. DARI KELIMA HAL TERSEBUT AS-SYAFII MENYATAKAN BAHWA, YANG POKOK (USHUL) SEBAGAI BENTUK SUMBER PENGETAHUAN DALAM HUKUM ISLAM ADALAH AL-QUR’AN, SUNNAH DAN QIYAS, KEMUDIAN DITAMBAH IJMA’.

SEBAGAI SUMBER PENGETAHUAN HUKUM ISLAM EPISTEMOLOGI BAYANI SEBAGAI BENTUK EPISTEMOLOGI HUKUM ISLAM (FIQH/ SYARIAT), SELALU BERPIJAK PADA TEKS (NASH). DALAM USHUL FIQIH YANG DIMAKSUD NASH SEBAGAI SEMBER PENGETAHUAN HUKUM ISLAM ADALAH AL-QUR’AN DAN HADITS. 

MAKA, DALAM HAL INI EPISTEMOLOGI HUKUM ISLAM MENARUH PERHATIAN BESAR DAN TELITI PADA PROSES TRANSMISI TEKS DARI GENERASI KE GENERASI. HAL INI MUTLAK DIPERLUKAN KARENA TEKS SEBAGAI SUMBER PENGETAHUAN BENAR TIDAKNYA TRANSMISI TEKS MENENTUKAN BENAR SALAHNYA KETENTUAN HUKUM YANG DIAMBIL. JIKA TRANSMISI TEKS BISA DIPERTANGGUNG JAWABKAN BERARTI TEKS TERSEBUT BENAR DAN BISA DIJADIKAN DASAR HUKUM. SEBALIKNYA, JIKA TRANSMISINYA DIRAGUKAN, MAKA KEBENARAN TEKS TIDAK BISA DIPERTANGGUNGJAWABKAN DAN ITU BERARTI IA TIDAK BISA DIJADIKAN LANDASAN HUKUM. 

ADAPUN CARA MEMPEROLEH PENGETAHUAN DALAM HUKUM ISLAM DENGAN MENEMPUH DUA JALAN MENEMPUH DUA JALAN. PERTAMA, BERPEGANG PADA REDAKSI (LAFAT) TEKS DENGAN KAIDAH BAHSA ARAB SEPERTI NAHWU, DAN SHARAF SEBAGAI ALAT ANALISA. KEDUA, MENGGUNAKAN METODE QIYAS (ANALOGI) DAN INILAH PRINSIP UTAMA EPISTEMOLOGI HUKUM ISLAM (FIQH/ SYARIAT). 

ADA BEBERAPA SYARAT YANG HARUS DIPENUHI DALAM MELAKUKAN QIYAS; 
  1. ADANYA AL-ASHL, YAKNI NAS SUCI YANG MEMBERIKAN HUKUM DAN DIAPAKAI SEBAGAI UKURAN, 
  2. AL-FAR; SESUATU YANG TIDAK ADA HUKUMNYA DALAM NAS, 
  3. HUKUM AL-ASHL, KETEPATAN HUKUM YANG DIBERIKAN OLEH ASH, 
  4. ILLAT, KEADAAN TERTENTU YANG DIPAKAI SEBAGAI DASAR PENETAPAN HUKUM ASHL. 
MENURUT JABIRI, METODE QIYAS SEBAGAI CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN DALAM HUKUM ISLAM TERSEBUT DIGUNAKAN DALAM TIGA ASPEK. PERTAMA QIYAS DALAM KAITANNYA DENGAN STATUS DAN DERAJAT HUKUM YANG ADA PADA ASHL MAUPUN FURU’ 22 BAGIAN INI MENCAKUP TIGA HAL 
  1. QIYAS JALI, DI MANA FAR MEMPUNYAI PERSOALAN HUKUM YANG KUAT DIBANDING ASHL, 
  2. QIYAS FI MA’NA ALNASH, DI MANA ASHL DAN FAR MEMPUNYAI DERAJAT HUKUM SAMA, 
  3. QIYAS AL-KHAFI, DI MANA ILLAT ASHL TIDAK DIKETAHUI SECARA JELAS DAN HANYA MENURUT PERKIRAAN MUJTAHID, CONTOH MEMUKUL ORANG TUA, PERSAMAAN HUKUMNYA DALAM AL-QURAN HANYA ADA LARANGAN BERKATA “AH”. 

KEDUA, YANG BERKAITAN DENGAN ILLAT YANG ADA PADA ASHL DAN FAR, ATAU MENUNJUKKAN KE ARAH SITU (QIYAS BI I’TIBAR BINA AL HUKUM ALA DZIKR AL-ILLAH AU BI ‘ITIBAR DZIKR MA YADULL ‘ALAIHA). BAGIAN INI MELIPUTI DUA HAL: 
  1. QIYAS AL-ILLAT, YAITU MENETAPKAN ILLAT YANG ADA ASHL KEPADA FAR, 
  2. QIYAS ALDILALAH, YAITU MENETAPKAN PETUNJUK (DILALAH) YANG ADA PADA ASHL KEPADA FAR, BUKAN ILLAHNYA. 
KETIGA, QIYAS BERLKAITAN DENGAN POTENSI ATAU KECENDERUNGAN UNTUK MENYATUKAN ANTARA ASHL DAN FAR. YANG OLEH AL-GHOZALI DIBAGI DALAM EMPAT TINGKATAN: 
  1. ADANAYA PERUBAHAN HUKUM BARU 
  2. KESERASIAN, 
  3. KESERUPAAN, 
  4. MENJAUHKAN (THARD).
MENURUT ABB AL-JABABAR, SEORANG PEMIKIR TEOLOGI MUKTAZILAH, SEBAGAIMANA YANG DIPAHAMI ABD WAHAB KALAF, METODE QIYAS TERSEBUT TIDAK HANYA UNTUK MENGGALI PENGETAHUAN DARI TEKS TETAPI JUGA BISA DIKEMBANGKAN DAN DIGUNAKAN UNTUK MENGUNGKAPKAN PERSOALAN-PERSOALAN NONFISIK (GHAIB).

ADA SEMACAM PERBEDAAN POLA PIKIR MENGENAI EPISTEMOLOGI HUKUM ISLAM (FIQH), YAITU POLA PIKIR ZHAHIRIYYAT, (TEKSTUALIS), BATHINIYYAT, MAKNAWIYYAT (KONTEKSTUALIS), DAN GABUNGAN ANTARA TEKTUALIS DAN KONTEKSTUALIS. SEMENTARA MAZHAB BESAR DALAM HUKUM ISLAM (FIQH), YAITU MALIKI, HAMBALI, DAN SYAFII, MEREKA SEPAKAT BAHWA SUMBER UTAMA HUKUM ISLAM YAITU NASH (TEKS/ WAHYU, AL-QUR’AN, DAN AS-SUNNAH/ HADITS). JADI ULAMA FIQIH BERSEPAKAT BAHWA SUMBER PENGETAHUAN HUKUM ISLAM (FIQIH), SEMUA BERASAL DARI ALLAH, SUNNAH NABI (AL-HADITS) DAN KESEPAKATAN PARA (IJMA’ ULAMA) MELALUI BEBERAN METODE ANALOGI (QIYAS).

b. Ulama’ Kalam 
Islam sebagai agama mempunyai dua dimensi, yaitu keyakinan atau akidah dan sesuatu yang diamalkan atau amaliah. Amal perbuatan tersebut merupakan perpanjangan dan impemenasi dari akidah itu. Keimanan dalam Islam merupakan dasar atau fondasi dalam keberagaman. Keimanan atau akidah dalam dunia keilmuan (Islam) dijabarkan melalui suatu disiplin ilmu yang sering diistilahkan dengan ilmu tauhid, ilmu aqaid, ilmu kalam, dan sebagainya. 

Dengan demikian, maka aspek pokok dalam ilmu tauhid atau kalam adalah keyakinan akan adanya eksistensi Allah yang Maha sempurna. Ilmu kalam merupakan cabang ilmu keIslaman yang berdiri sendiri, yang secara khusus membicarakan mengenai keberadaan Tuhan dan segala kekuasaannya. Ilmu ini berkembang sejak pada masa khalifah al-Ma’mun (813-833) dari Bani Abbasiyah. Sebelum itu pembahasan terhadap kepercayaan Islam disebut al Fiqhu Fiddin sebagai lawan dari Fiqhu Fil ‘Ilmi. 

Ilmu ini lahir karena adanya khilafiyah dikalangan ulama mengenai persoalan, diantaranya apakah kalam Allah (al-Qur’an) itu qadim atau hadits, bagaimana wujud Allah, Sifat-sifat Allah, kekuasaan Allah dan lain sebagainya. Ibnu Khaldun (1333-1378) dalam bukunya Muqaddimah, yang dikutip Sahilun A Nasir menjelaskan, ilmu kalam adalah ilmu yang berisi alasan-alasan mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman, dengan menggunakan dalil-dalil fikiran dan berisi bantahan-bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan salaf dan ahli sunnah. 

Disebut ilmu kalam karena pembahasannya mengenai eksistensi Tuhan dan hal-hal yang berhubungan dengan-Nya digunakan argumentasi-argumentasi filosofis dengan menggunakan logika atau mantik. Prof. Dr. Hasbi Ash-Shiddieqy sebagaimana yang dilangsir Muhammad Ahmad, ia menyebutkan bahwa disebut ilmu kalam karena: 
  1. Problem yang diperselisihkan para ulama dalam ilmu ini yang menyebabkan umat Islam terpecah ke dalam beberapa golongan adalah masalah kalam Allah atau al-Qur’an apakah ia diciptakan (makhluk) atau tidak (qadim) 
  2. Materi-materi ilmu kalam adalah teori-teori (kalam); tidak ada yang diwujudkan ke dalam kenyataan atau diamalkan dengan anggota. 
  3. Ilmu ini, di dalam menerangkan cara atau dalam menetapkan dalil pokok-pokok akidah serupa dengan mantik. 
  4. Ulama-ulama mutakalimin membicarakan di dalam ilmu ini hal-hal yang tidak dibicarakan oleh ulama salaf, seperti penakwilan ayatayat mutasyabihat, pembahasan tentang qada, kalam dam lainlain.
Penamaan ilmu kalam ini sebenarnya hanya dimaksudkan untuk membedakan antara mutakallimin dengan filosof Islam. Bedaya hanya pada landasan awal berpijak, mutakallimin lebih dahulu bertolak dari al-Qur’an dan hadits, sementara filosof berpijak pada logika.

Para Mutakallimin memiliki ciri khas khusus dalam memecahkan persoalan kalam (aqidah/ tauhid), mereka lebih banyak menggunakan otoritas akal atau logika (mantiq) dalam memecahkan persoalan aqidah. Meskipun para mutakallimin dapat menggunakan otoritas akal dalam mencari kebenaran, akan tetapi mereka tidak pernah puas, karena ada hal-hal yang diluar jangkauan akalnya. Objek kajian dalam ilmu ini adalah hal-hal yang tidak dapat di indera dan juga hal-hal yang tidak mungkin bisa dijangkau dengan akal, nalar atau rasio. Tetapi bisa dipikirkan dan ditemukan dengan bantuan akal, nalar dan rasio. Sebab akal manusia dalam mengenal Allah hanya mampu sampai pada bata mengetahui bahwa Zat Tuhan Yang Maha Kuasa itu ada. 

Dan ketika merenung dan memikirkan ketika tidak mampu menjangkaunya mereka (para mutakallimin kembali pada wahyu). Menurut akal, kebenaran sesuatu dapat diamati, diteliti (dianalisis) dan dicapai melalui bantuan akal. Landasan ini muncul karena ada sebagian ayat al-Qur’an yang perlu penjelasan, yang disebut ayat mutasyabihat. Jadi ilmu kalam itu selalu berlandaskan pada al-Qur’an (nas-nas agama), dipertemukan dengan dalil-dalil pikiran dalam membahas aqidah dan ibadah. Para ulama mutakallimin berpendapat bahwa sumber pengetahuan itu semua berasal wahyu (al-Qur’an) kemudian diperjelas melalui analogi-analogi yang berasal pemikiran akal dan pemahaman indera. 

Dalam hal ini (ilmu kalam) juga terjadi khilafiyah, sebagai contoh kaum Khawarij memandang, sumber segala ilmu itu hanya berasal dari kalam Tuhan, dan kaum ini mendapat julukan sebagai kaum tekstualis, kemudian kaum Murjiah dikenal sebagai kaum mengikuti faham rasionalisme, kaum Qadariah, dikenal sebagai kaum yang mengikuti faham realisme, dan kaum Jabariah dikenal sebagai kaum yang mengikuti faham idealisme.

Sebagai mana pengertiannya tauhid adalah sebagai ilmu yang secara khusus membahas tentang wujud Allah, sifat-sifat-Nya dan as’al-Nya (Allah), adalah bersumber pada al-Qur’an dan hadist sebagai sumber kedua. Untuk menerima al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber Tauhid, harus menggunakan akal. Jadi dalil yang dipakai dalam ilmu kalam itu berdasarkan dalil naqli, yaitu yang bersumber dari teks atau nas al-Qur’an dan Hadits, dan berdasarkan dalil aqli, yaitu berdasrkan pemahaman akal (nalar). Jadi landasan epistemologi kalam, para mutakallimin sepakat bahwa pengetahuan kalam itu berdasarkan wahyu (al-Qur’an ) sebagai sumber pertama dan al-Hadits sebagai sumber kedua, kemudian akal sebagai sumber ketiga, ketika sumber pertama dan kedua belum menunjukkan kejelasan (mutasyabihat).

c. SUFISTIK/ TASAWUF 
Sebagaimana ilmu fiqih, ilmu kalam, tasawuf adalah merupakan bagian dari ilmu filsafat yang berbicara tentang kesatuan wujud, yang disebut juga dengan istilah mistik. Istilah tasawuf dipopulerkan oleh Islam, di mana ajaran-ajarannya bersandarkan pada ajaran Islam. Tasawuf adalah nama lain dari mistisisme dalam Islam. Di kalangan orientalis Barat menyebutnya dengan sebutan Sufisme. Kata sufisme itu merupakan istilah khusus mistisisme dalam Islam. Sehingga kata sufisme itu tidak ada pada mistisisme sebagaimana dalam agama-agama lain. 

Tasawuf adalah aspek ajaran Islam yang paling penting, karena peranan tasawuf merupakan jantung atau urat nadi pelaksanaan ajaran-ajaran Islam. Tasawuf inilah yang merupakan kunci kesempurnaan amaliah ajaran Islam. Memang di samping aspek tasawuf, dalam Islam ada aspek lain yaitu apa yang disebut dengan akidah dan syari’ah, atau dengan kata lain bahwa yang dimaksud “ad-din” (agama) adalah terdiri dari Islam, iman dan ihsan, di mana ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan. Oleh orientalis Barat tasawuf disebutnya dengan istilah Sufisme ini juga memiliki pengertian secara khusus yang telah menimbulkan perbedaan pendapat dikalangan para ahli. 

Secara etimologi Kata tasawuf diambil dari kata shafa yang memiliki berarti bersih. Disebut sufi karena hatinya tulus dan bersih di hadapan Tuhannya. Pendapat lain mengatakan bahwa kata tersebut diambil dari kata shuffah yang berarti serambi mesjid Nabawi di Madinah yang ditempati oleh sahabat-sahabat Nabi yang miskin dari golongan Muhajirin. Mereka ini disebut ahl al-Suffah walaupun miskin namun memiliki hati mulia dan memang sifat tidak mementingkan dunia dan berhati mulia adalah sifat-sifat kaum sufi. Teori lainnya menegaskan bahwa kata sufi diambil dari kata suf yaitu kain yang dibuat dari bulu atau wool dan kaum sufi memilih memakai wool yang kasar adalah sebagai bentuk simbol kesederhanaan.

Dari berbagai teori di atas, dapat dipahami bahwa istilah sufi dapat dihubungkan dengan dua aspek, yaitu aspek lahiriyah dan aspek batiniyah. Teori yang menghubungkan orang yang menjalani kehidupan tasawuf dengan orang-orang yang berada di serambi mesjid dan berpakaian bulu domba merupakan tinjauan aspek lahiriyah dari sufi. Ia dianggap sebagai orang yang telah meninggalkan dunia dan hasrat jasmani, dan menggunakan bendabenda dunia ini hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti berpakaian dan makan untuk sekedar menghindarkan diri dari kepanasan, kedinginan, serta kelaparan. 

Sementara teori yang melihat sufi sebagai orang yang mendapat keistimewaan di hadapan Tuhan tampak lebih menitik beratkan pada aspek batiniah. Tetapi sebagian ahli bahasa menyebutkan bahwa perkataan Sufi bukan berasal dari bahasa Arab, tetapi bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. Asal katanya adalah theosofie yang bererti ilmu ketuhanan. Kemudian di-Arabkan dan diucapkan dengan lidah Arab sehingga berubah menjadi tasauf (tasawuf), yang biasa disebut Sophos (kebijaksanaan). Kata Sophos, berasal dari bahasa Yunani yang berarti hikmah atau bijaksana. Kata ini sering dinilai dari asal kata tasawuf. Karena salah satu sifat para sufi adalah bijaksana atau kebijaksanaan.

Dengan demikian tasawuf dari segi Linguistik (kebahasaan) ini dapat dipahami bahwa tasawuf adalah sebagai sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana untuk memcapai hakekat akhlak yang mulia.

Adapun Secara terminologi, pengertian tasawuf sangat variatif, akan tetapi secara garuis besarnya (inti tasawuf) sebagaimana penjelasan Prof. Dr. Harun Nasution tasawuf adalah kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung antara mansuia dengan Tuhannya. Tasawuf juga menekankan pada kesadaran fitrah yang dapat menggerakkan jiwa kepada kegiatan-kegiatan tertentu untuk memperoleh sesuatu perasaan bersatu atau hubungan dengan wujud Tuhan yang Mutlak (al-Haq). Sebagaimana yang dikemukakan oleh Badar bin Al-Husain, “ sufi adalah orang-orang yang telah memilih Al-Haq (Allah) semata-mata untuk dirinya”

Makna lain dari tasawuf yaitu sebagaimana yang dikemukan oleh M. Amin Al-Kurdy yang dilangsir oleh A. Mustofa, “tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui hal ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari (sifat-sifat) yang buruk dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji, cara melakukan suluk, melangkah menuju (keridhaan) Allah dan meninggalkan larangan-Nya menuju pada perintah-Nya dan Abu Muhammad AlJariri yang dilangsir Amin Syukur, mengartikan tasawuf dengan “masuk ke dalam akhlak yang mulia dan keluar dari semua akhlak yang hina.

Tasawuf sebagaimana disebutkan dalam artinya di atas bahwa ajaran tasawuf itu bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan, dan intisari dari sufisme itu adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhal. dengarl cara mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran berada dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ittihat, hulul, wahdatul wujud, atau menyatu dengan Tuhan. Tasawuf sebagai aspek esoterik Islam, secara epistemologik dalam memperoleh kebenaran dan ilmu memakai intuisi, atau dalam istilah teknisnya memakai dzauq dan wujdan. 

Apabila intuisi tersebut diartikan sebagai sumber kebenaran/ilmu, terdiri dari pertimbangan tanpa mengambil jalan berfikir logis berdasarkan fakta yang timbul dari sumber yang tidak dikenal atau belum diselidiki, maka dalam tasawuf perolehan intuisi itu tidak terjadi serta merta, tetapi melalui proses panjang dengan apa yang disebut mujahadah dan riyadlah serta tafakur dan tadabbur. Yakni suatu upaya yang pencerahan hati nurani agar bisa menangkap cahaya kebenaran. Dan setelah memperolehnya dirumuskan dalam kerangka berfikir sistematis, sebagaimana tersebut dalam Tasawuf Falsafi dan Mistik Falsafi. Tasawuf Falsafi ialah suatu model tasawuf yang proses dan produknya memadukan antara visi tasawuf dan filsafat. 

Di satu pihak memakai term-term filsafat, namun di pihak lain memakai metode pendekatan dzauq/wujdan atau intuisi. Sedang mistik filsafat (istilah ini sekedar membedakan dengan yang pertama) ialah suatu model pendekatan dengan Yang Hak dengan sarana rasio. Tasawuf ini tidak bersifat spiritual semata yang hanya berlandaskan pada sikap memerangi jasmani dan mensucikan jiwa, tetapi bersifat teoritis yang berdasarkan pada studi dan analisis. Kesucian jiwa tidak akan sempurna hanya melalui amalan jasmaniah, tetapi secara primer dan esensial harus melalui akal dan pemikiran tertentu seseorang bisa mencapai Yang Hak. Secara konvensional, tasawuf telah dibakukan dalam jenjangjenjang spiritual berupa maqamat dan ahwal, sebagai fase-fase menuju kesempurnaan spritual yang harus dilalui dengan tahapan takhalli, tahalli, dan tajalli.

Sebagai ilmu keIslaman yang berdiri sendiri, dalam aspek epistemologis tasawuf menggunakan intuisi/wujdan/ dzauq itu dengan qalb sebagai sarananya, bukan indera dan akal. Dalam tasawuf, qalb diumpamakan sebagai cermin, ia bisa menangkap gambar di depannya apabila ia terbebas dari hijab. Ini perlu diupayakan melalui rnujahadah dan riyadlah. mujahadah dan riyadlah ini tidak keluar dari bingkai yang telah ditentukan tadi sebagai proses (takhalli dan tahalli) untuk mencapai tujuan tasawuf, yakni ma'rifatullah (Tajalli). 

Meskipun pengetahuan intuitif tasawuf dikatakan tidak menggunakan rasio, tetapi pada hakikatnya antara keduanya mempunyai hubungan interaktif. Pengetahuan intuitif sama dengan pengetahuan imajinatif. Perbedaan antara keduanya hanya dalam metodologi dan sistematikanya, sebab keduanya ikut membentuk bangunan pengetahuan dan filsafat. Pengetahuan intuitif dapat membuka pemahaman tanpa ada suatu metodik yang terarah, dan sistematika yang runtut sebagaimana lazimnya dalam pengetahuan rasional. Sedang akal dalam menangkap pengetahuan melalui pemahaman yang sistematis dan metodis. Menurut Iqbal misalnya, akal dan intuisi berasal dari akar yang sama dan saling mengisi, yang pertama menangkap kebenaran secara sepotong-potong, sedang yang kedua menangkapnya secara utuh.

Menurut Bergson, obyek akal pada yang rasional, sedang intuisi terhadap yang meta/ supra-rasional. Dengan kata lain intuisi adalah jenis akal yang lebih tinggi daripada akal biasa, atau yang oleh Javad Nurbakh disebut dengan Akal Kulli (Universal).Oleh karena itu Iqbal menyatakan bahwa pengetahuan intuitif lebih tinggi daripada pengetahuan rasional dan empirikal, karena akal dan indera adalah instrumen yang lebih kompeten untuk menghadapi obyek materi serta hubungan kuantitatif, atau materi. Intuisi dapat menuntun pada kehidupan (immateri). 

Lebih tegas lagi dikatakan oleh Bergson bahwa sebenarnya intuisi bersifat intelektual dan sekaligus supraintelektual. Bukti adanya hubungan interaktif antara keduanya ialah bahwa ilham dan illuminasi secara psikologis timbul dari akal ketika melakukan aktifitas secara intens. Ketika seseorang berfikir dan belum menemukan pemecahannya, maka dia mengendapkannya dalam beberapa waktu (inkubasi). Pada saat inilah pikiran dapat dijernihkan dan selanjutnya akan terjadi ide-ide yang seakan-akan datang secara tiba-tiba, tanpa disadari. Namun sesungguhnya melalui proses berfikir silogistik, dengan suatu proses yang samar-samar.

Dengan kata lain, pengetahuan intuitif itu adalah hasil penumpukan pengalaman dan pemikiran seseorang. Intuisi yang benar adalah proses pemendekan terhadap pengetahuan yang seharusnya diungkap oleh indra dan pemikiran relektif. Pengetahuan intuitif adalah hasil kerja silogistik di bawah sadar. Karena dalam suatu bidang, akan lebih mudah memperoleh intuisi yang baik dalam bidangnya masing-masing. Apabila analisis psikologis tersebut dikaitkan dengan tasawuf, maka masa inkubasi itu sama dengan kondisi terbebaskan pikiran dan perasaan seseorang dari materi, sehingga dia bisa berkonsentrasikan terhadap suatu persoalan, ketika itu dia akan mendapat pengetahuan intuitif atau ma'rifatullah. Materi dan dosa itulah yang disebut penghalang (hijab) qalb dari persoalan metafisis. Dalam tasawuf seseorang akan memperoleh pengetahuan sejenis tersebut apabila telah mencapai maqam tertentu, dan disiplin yang tepat, serta terkonsentrasikan dalam bidang tertentu. 

Di sisi lain dalam teori emanasi sufistik, seseorang bisa mencapai ilmu tertentu atau alma'rifah setelah dia menghilangkan kegandaan sehingga terjadi ittihad Dalam filsafat Islam pengetahuan dalam tasawuf masuk pada epistemologi Irfani, kata irfani berasal dari kata dasar bahasa Arab 'arafa semacam dengan makrifat, berarti pengetahuan. Tetapi ia berbeda dengan ilmu (‘ilm). Irfan atau makrifat berkaitan dengan pengetahuan yang diperoleh secara langsung lewat pengalaman (experience), sedang ilmu menunjuk pada pengetahuan yang diperoleh lewat transformasi (naql) atau rasionalitas (aql). Karena itu, secara terminologis, irfan bisa diartikan sebagai pengungkapan atas pengetahuan yang diperoleh lewat penyinaran hakekat oleh Tuhankepada hamba-Nya (kasyf) setelah adanya olah ruhani (riyadlah) yang dilakukan atas dasar cinta (love). Kebalikan dari epistemologi bayani, sasaran bidik irfani adalah aspek esoterik syariat, apa yang ada dibalik teks.45 Pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks atau keruntutan logika, tetapi dengan olah ruhani, di mana dengan kesucian hati, Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Dari situ kemudian dikonsep atau masuk dalam pikiran sebelum dikemulcakan kepada orang lain. 

Dengan demikian, sebagaimana disampaikan Suhrawardi, secara metodologis, pengetahuan ruhani setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan, 
  1. Persiapan,
  2. Penerimaan, 
  3. Pengungkapan, baik dengan lisan atau tulisan.
Tahap pertavna, persiapan. Untuk bisa menerima limpahan pengetahuan (khasyf, seseorang yang biasanya disebut salik (penempuh jalan spiritual) harus menyelesaikan jenjang-jenjang kehidupan spiritual. Para tokoh berbeda pendapat tentang jumlah jenjang yang harus dilalui. Namun, setidaknya, ada tujuh tahapan yang harus dijalani, yang semua ini berangkat dari tingkatan yang paling dasar menuju pada tingkatan puncak di mana saat itu qalbu (hati) telah menjadi netral dan jernih sehingga siap menerima limpahan pengetahuan. (1) Taubat, meninggalkan segala perbuatan yang kurang baik disertai penyesalan yang mendalam untuk kemudian menggantinya dengan perbuatan-perbuatan baru yang terpuji. Perilaku taubat ini sendiri terdiri atas beberapa tingkatan. 
Pertama-tama, taubat dari perbuatan-perbuatan dosa dan makanan haram, kemudian taubat dari ghaflah (lalai mengingat Tuhan). 
Kedua, tahap penerimaan. Jika telah mencapai tingkat tertentu dalam sufisme, seseorang akan mendapatkan limpahan pengetahuan langsung dari Tuhan secara illuminatif atau noetic. Dalam kajian filsafat Mehdi Yazdi, pada tahap ini, seseorang akan mendapatkan realitas kesadaran diri yang demikian mutlak (kasyf), sehingga dengan kesadaran itu ia mampu melihat realitas dirinya sendiri (musyahadah)48 sebagai objek yang diketahui. Namun, realitas kesadaran dan realitas yang disadari tersebut, karena bukan objek eksternal, keduanya bukan sesuatu yang berbeda tetapi merupakan eksistensi yang sama, sehingga objek yang diketahui tidak lain adalah kesadaran yang mengetahui itu sendiri, begitu pula sebaliknya (ittihad. 

Sedemikian rupa, sehingga dalam perspektif epistemologis, pengetahuan irfani (tasawuf) tidak diperoleh melalui representasi atau data-data indera apa pun, bahkan objek eksternal sama sekali tidak berfungsi dalam pembentukan gagasan umum pengetahuan ini. Pengetahuan ini justru terbentuk melalui univikasi eksistensial yang oleh Mehdi Yazdi disebut `ilmu huduri atau pengetahuan swaobjek (selfobject knowledge), atau jika dalam teori permainan bahasa (language game) Wittgenstein, pengetahuan irfani ini tidak lain adalah bahasa wujud itu sendiri.

Ketiga pengungkapan. Ini merupakan tahap terakhir dari proses pencapaian pengetahuan irfani, di mana pengalaman mistik diinterpretasikan dan diungkapkan kepada orang lain, lewat ucapan atau tulisan. Namun demikian, karena pengetahuan irfani bukan masuk tatanan konsepsi dan representasi tetapi terkait dengan kesatuan simpleks kehadiran Tuhan dalam diri dan kehadiran diri dalam Tuhan, sehingga tidak bisa dikomunikasikan, maka tidak semua pengalaman ini bisa diungkapkan. Sesuai dengan sasaran bidik irfan yang esoterik, isu sentral irfan adalah zahir & batin, bukan sebagai konsep yang berlawanan tetapi sebagai pasangan. Menurut Muhasibi (w. 857 M), al-Ghazali (w. 1111 M), Ibn Arabi (w 1240 M), juga para sufis yang lain, teks keagamaan (al-Qur’an dan hadits) tidak hanya mengandung apa yang tersurat (zahir ) tetapi juga apa yang tersirat (batin). Aspek zahir teks adalah bacaannya (tilawah) sedang aspek batinnya adalah takwilnya. Jika dianalogikan dengan bayani, konsep zahir-batin ini tidak berbeda dengan lafat-makna. Bedanya, dalam epistemologi bayani, atau epistemologi barat, dalam epistemologi barat atau dalam epistemologi bayani seseorang berangkat dari lafat menuju makna; sedang dalam tasawuf atau irfani, seseorang justru berangkat dari makna menuju lafat, dari batin menuju zahir, atau dalam bahasa alGhazali, makna sebagai ashl, sedang lafat mengikuti makna (sebagai furu’).

B. TERM-TERM YANG LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG MERUJUK PADA EPISTEMOLOGI 
a) Term-Term yang Langsung Merujuk Pada Epistemologi 
Akal (ratio) adalah merupakan salah satu dari perangkat anugerah (hidayah) yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. petunjuk akal yang dikhususkan kepada manusia itu mempunyai makna bahwa manusia yang diberikan tugas untuk memikul amanat sebagai pengatur kehidupan di muka bumi ini. Dengan kemampuan akalnya manusia mampu menemukan dan mencipta hal-hal baru yang dapat dimanfaatkan bagi kemakmuran dan kemaslahatan manusia itu sendiri. Dengan kemampuan akalnya pula manusia mampu mengubah dan membentuk alam (nature) menjadi kebudayaan (kultur), membuka dan menciptakan sarana penghidupan yang bermanfaat untuk eksistensinya. Yakni manusia dengan kecerdasan akalnya manusia mampu merubah keberadaannya yang asal mulanya terbelakang menjadi maju dan modern.

Hal ini menunjukkan bahwa akal (rasio), nalar yang dimiliki manusia merupakan anugerah dari Tuhan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Di dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat dalam bentuk yang bervariasi baik langsung maupun tidak langsung, menyuruh manusia untuk menggunakan akalnya dengan baik dan benar, yakni untuk memikirkan ciptaan dan mengingat (berdzikir) Tuhan. 

Akal yang dimiliki manusia merupakan sarana untuk mengetahui dan memperoleh suatu pengetahuan (al-ilm). Hal ini bisa dilakukan melalui daya pikir (nalarnya) terhadap apa yang diketahui, untuk dikembangkan menjadi suatu pengetahuan baru, maupun yang belum diketahuinya. Dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang secara langsung bisa merujuk pada epistemologi, yang dapat dijadikan dalil argumentative dalam pengetahuan Islam. 

Adapun ayat-ayat (term-term) yang merujuk pada hal tersebut yaitu; 
1. Tafakkarun: Yang berarti berfikir. 
Dalam kitab lisan al-Arab kata ini diambil dari kata al-fikr yang bermakna فاشيئ الخاطر اعمل (melakukan sesuatu dengan keinginan hati), al-fikr juga bisa bermakna sibawaih (pandangan atau angan-angan), makna lain al-Jauhari (berfikir dan berangan-angan), dan al-Khajjah (kepentingan). Jadi maksud al-fikr disini adalah orang yang menggunakan pikirannya untuk memprediksi terhadap apa yang belum diketahui. Sementara itu berfikir adalah tingkah laku yang menggunakan ide, yakni suatu proses simbolis dalam memikirkan suatu hal. 

Dalam pengertian yang lain berfikir adalah merupakan aktivitas psikis yang itensional, dan terjadi apabila seseorang menjumpai suatu persoalan (problem) yang harus dipecahkan, seperti berfikir tentang kejadian alam, berpikir untuk membuat pesawat terbang, dan lain sebagainya. Dengan demikian bahwa prose dalam berfikir itu seseorang akan menghubungkan pengertian satu dengan pengertian lainya dalam rangka memperoleh pemecahan (jalan keluar) atas apa (problem) yang dihadapi. Dalam proses berfikir seseorang akan memunculkan suatu pertanyaan dalam dirinya yaitu; mengapa, untuk apa, bagaimana, di mana, kenapa dan lain sebagainya. Para ahli, mengemukakan ada tiga fungsi dari berfikir, yakni membentuk pengertian, membentuk pendapat (opini) dan membentuk kesimpulan.

Membentuk pengertian dapat dipahami yaitu sebagai suatu perbuatan dalam proses berfikir (dengan memanfaatkan isi dan ingatan) bersifat riil, abstrak dan umum serta mengandung sifat hakikat sesuatu. Sementara itu membentuk pendapat adalah sebagai bentuk hasil pekerjaan pikir dalam meletakkan hubungan antara tanggapan yang satu dengan lainnya, yakni antara pengertian yang satu dengan pengertian lainnya dan dinyatakan dalam bentuk bahasa (kalimat). Dan membentuk kesimpulan adalah sebagai bentuk hasil dari proses berpikir dan pendapat-pendapat lain yang hasilnya dapat dipahami dan dimengerti atau sebagai bentuk jawaban atas apa yang sedang dipikirkan, yakni jawaban atas problem yang belum terpecahkan.

Dengan demikian berpikir adalah suatu proses untuk memperoleh pengetahuan yang belum diketahui jawabannya atau sebagai bentuk proses pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Berpikir merupakan kunci pokok dalam menjawab segala pengetahuan yang belum jelas atau sebagai prose untuk memperoleh pengetahuan baru. Dengan berpikir seorang akan menemukan jawaban atas apa yang belum diketahuinya. Dalam al- Qur'an kata yang mengandung pengertian perintah untuk menggunakan pikiran (berpikir), yakni yang senada dengan kata tafakkarun tersebut sebanyak l5 kali, yaitu terdapat dalam Q.S.: 13:3. 16:11, 69. 30:21. 39: 42. 45:13. 59:21. 34:46. 2:219, 266. 7:184. 30:8. 7:176. 10:24. 16:44. 

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata tafakkarun mengandung pengertian untuk mengfungsikal akalnya untuk memikirkan dan menemukan jawaban atas apa yang belum diketahui, serta merenungkan segala kekuasaan Allah agar manusia mau beriman. Sementara itu pengertian lain mengenai fungsi akal dalam alQur'an yang menggunakan kata tafakkarun sebagaimana tercermin pada sebagian ayat-ayat di atas, yaitu (a) Untuk berfikir tentang kekuasaan Allah, (b) Untuk berfikir tentang: perintah dan larangan Allah, kebenaran nabi Muhammad, dan lain sebagainya. Jadi kata tafakkarun dalam konteks epistemologis merupakan satu bentuk sumber epistemologi, secara langsung merujuk pada fungsi akal. 

2. Tadabbarun: yaitu yang mengandung arti “merenungkan”. 
Seperti dalam surat dalam surat Shad: 29, QS. Muhammad: 24. Disamping itu ayat tersebut mengandung perintah untuk berfikir tentang kebenaran al-Qur’an, dengan memperhatikannya maka akan mendapat pelajaran dari al- Qur’an tersebut.  

Dalam kamus Bahasa Arab (al-Munawwir) kata tadabbarun itu berasal dari kata dabara yang mempunyai makna الامر تدبر memikirkan, mempertimbangkan, dan menelaah atas segala sesuatu. 

Merenung dalam filsafat merupakan salah metode untuk menemukan pengetahuan. Jadi secara epistemologis, kata tadabbarun yang terdapat dalam ayat al-Qur’an merupakan bagian dari epistemologi. Dan kata inilah menurut al-Qur’an sebagai bentukan dari fungsi akal yang merupakan sarana untuk memperoleh ilmu. 

3. Tadakkarun: yang berarti “mengingat” (berfikir) di dalam al-Qur’an kata ini disebut sebanyak 16 kali yaitu QS: 19:67. 6:80. 32A. 7:57. 10:3. 16:90. 24:1,27. 2:221. 14:25. 39:27. 44:58. 6:126. T:26,130. 16:13. Ayat-ayat tersebut diterangkan bahwa orang yang ingat (berfikir). Mengingat merupakan salah satu metode untuk menemukan pengetahuan, karena dengan mengingat apa yang telah diketahui dengan didukung data-data yang ada, maka kebenaran yang diperoleh tidak akan menimbulkan suatu keraguan. Dan mengingat adalah merupakan salah satu fungsi akal. Dan karena ingatan yang lemah akan menyebabkan pengetahuan yang diperoleh akan diragukan kebenarannya.

4. Ta’qilun : Yang berarti berakal. Kata ini berasal daru ‘aqala atau akal. Kata akal dalam bahasa indonesia berasal dari bahsa Arab العقل (aL- ‘Aql) yang mengandung arti mengikat atau menahan, tapi secara umum akal dipahami sebagai potensi yang disiapkan untuk menerima ilmu pengetahuan العلم لقبول القوةالمهية . Dalam al-Qur'an kalimat al-‘aql tidak pernah disebut dalam kata benda, tetapi selalu dalam bentuk kata kerja, baik kata kerja f’iil madhi maupun fi’il muddhari’. Dalam al- Qur'an kata ini disebut sebanyak 49 kali yaitu satu kali dalam bentuk kalimat عقلوه.24 kali dalam bentuk kalimat تعقلون, satu kali نعقل, satu kali يعقلها dan 22 kali dalam bentuk kalimat يعقلون.
 
Ayat-ayat yang tersebut di atas, 7-ayat diantaranya menerangkan tentang orang yang tidak berakal yaitu orang yang: Bisu, tuli dan buta akan seruan Allah, bila disuruh sembahyang mereka mengejek c. Membuat kedustaan atas nama Allah, Tidak mau mendengar dan memahami kebenaran e. Kalau berbicara dengan suara yang keras ,Meminta syafa’at kepada selain Allah, dan dua ayat menerangkan tentang orang yang berakal yaitu orang yang: Jika bertamu mereka mengucapkan salam ,dan tidak berbuat keji. Kemudian 22 ayat lainnya menerangkan tentang fungsi akal yaitu untuk: Untuk memahami adanya kekuasaan Allah, untuk memahami tentang hukum Allah, untuk memahami bahwa kehidupan dunia ini tidaklah main-main, untuk memahami bahwa alam akhirat lebih utama daripada alam dunia, untuk mengetahui bahwa syaitan itu menyesatkan, untuk memahami proses kejadian manusia, untuk mengambil pelajaran dari kisah yang ada dalam al-Qur’an.

B. Term-Term yang Tidak Langsung Merujuk Epistemologi 
Dalam al-Qur’an secara implisit (tidak langsung) juga terdapat ayatayat yang menerangkan tentang fungsi akal dengan menggunakan beberapa istilah yaitu: 

1. Ulul Albab 
Ulul Albab berarti, “orang yang berfikir”. Dalam al- Qur'an disebut sebanyak 11 kali yaitu Q. S.: 2:179. 28:29. 2:269. 3:7. 12:111. 13:19. 14:52. 38:43. 39:9, 8, 21. Dalam ayat-ayat tersebut dua di antaranya menerangkan tentang orang yang berakal yaitu mereka yang: Di beri hikmah oleh Allah dan Beribadah di waktu malam dengan sujud dan berdiri, takut pada azab akhirat dan dapat membedakan mana orang yang tahu dan orang yang tidak tahu. Kemudian ayat yang lainnya berbicara tentang fungsi akal yaitu: Untuk mengambil pelajaran dari adanya qishash, untuk mengambil pelajaran dari adanya ayat muhkamat dan mutsyabihat, untuk mengambil pelajaran dari kisah-kisah terdahulu, untuk memahami kebenaran nabi Muhammad, untuk mengetahui adanya Tuhan, untuk berfikir kritis dari apa yang dilihat dan didengar, untuk memahami adanya kekuasaan Allah. 

Ulul Albab juga mengandung makna orang yang mengetahui hal ini sesuai dengan firman Allah “adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan mereka yang tidak mengetahui” (QS. Az-Zumar/ 39: 9). M. Shihab memberikan pengertian, ulul albab itu menekankan pada seseorang bahwa begitu besar nilai ilmu pengetahuan dan kedudukan orang yang berilmu. Demikian juga ayat “inilah kamu (wahai ahl al-kitab), kamu ini membantah tentang hal-hal yang kamau  ketahui, maka mengapalah membantah pula dalam hal-hal yang kalian tidak ketahui” (QS. 3:66). Ini merupakan kritik pedas terhadap mereka yang berbicara atau membantah suatu perkara tanpa adanya data objektif lagi ilmiah yang berkaitan dengan perkara tersebut. Inilah yang menjadikan inspirasi pra ilmuwan, karena dan penemuan dan pemikiran ilmu pasti tidak akan pernah berkembang. 

Berbagai macam ayat al-Qur’an yang menerangkan fungsi akal, secara global dapat disimpulkan, fungsi akal dalam al- Qur’an adalah: 
  1. Untuk memperhatikan adanya kekuasaan Allah, sehingga menambah tebalnya iman seseorang 
  2. Untuk mengetahui adanya Tuhan 
  3. Untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah 
  4. Untuk mengambil pelajaran dari kisah-kisah terdahulu 
  5. Untuk berfikir kritis 
  6. Untuk menangkap kebenaran sejati yang dibawa nabi Muhammad 
  7. Untuk memahami ayat muhkamat dan mutasyabihat 
  8. Untuk berfikir segala sesuatu yang berguna untuk kebahagiaan manusia 
  9. Untuk memahami dan memikirkan proses terciptanya manusia. 
Dari beberapa gambaran fungsi akal di atas, al-Qur’an juga memberikan gambaran, akal manusia itu mempunyai banyak kelebihan. Sebab akal tersebut manusia mampu memecahkan segala macam persoalan, dengan akal manusia menciptakan dan menemukan berbagai macam ilmu pengetahuan. Dan kata ulul-albab ini menunjukkan bahwa hanya orang yang berakal yang mampu memikirkan segala macam ciptaan Tuhan, dan menciptakan kebaikankebaikan di muka bumi.

2. Ulil Abshar 
Ulil Abshar; mengandung arti “orang yang mempunyai pandangan”. Kata ini di dalam al-Qur'an disebut sebanyak 3 kali yaitu Q.S.: 3:13. 24:44. 59:2. Ketiga ayat tersebut menerangkan bahwa fungsi akal adalah: (a) Untuk memahami adanya kekuasaan Allah (b) Untuk memahami kisah-kisah orang terdahulu. Dalam tafsir Al-Misbah kata ulil abshar mengandung pengertian orang yang memiliki penglihatan. 

Dengan bekal akal seseorang akan mampu melihat dan memahami secara bijak dan penuh rasa syukur. Akal dalam konteks abshar ini mengandung pengertian bahwa akal manusia itu tidak hanya berfungsi berfikir, akan tetapi juga berfungsi untuk menalar dan melogika terhadap segala fenomena atau kejadian-kejadian yang dijumpai, serta memahaminya dan memandangnya secara wajar dan penuh permikiran, pertimbangan, pemahaman dan pandangan yang baik dan benar. 
Blog, Updated at: 02.21

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts