Corak Dan Metode Penafsiran Al-Qur’an

Corak Dan Metode Penafsiran Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah sumber ajaran Islam. Kitab suci itu menempati posisi sentral, bukan saja dalam perkembangannya ilmu-ilmu ke-Islaman, tetapi juga merupakan inspirator, pemandu dan pemadu gerakan-gerakan umat Islam sepanjang 14 abad sejarah pergerakan umat ini (Hasan Hanafi, 1989, 77). 

Al-Qur’an bagaikan samudra yang tidak pernah kering airnya, gelombangnya tidak pernah reda, kekayaan dan hazanah yang di kandungnya tidak pernah habis, dapat di layari dan diselami dengan berbagai cara, dan memberikan manfaat dan dampak yang luar biasa bagi kehidupan umat manusia. Dalam kedudukannya sebagai kitab suci (Scripture) dan mu’jizat bagi akum muslimin, Al-Qur’an merupakan sumber keamanan, sumber motivasi dan inspirasi, sumber nilai dan sumber dari segala sumber hukum yang tidak pernah kering atau jenuh bagi yang mengimaninya. Tantangan, sindiran, kritikan, hardikan, Al-Qur’an tidak pernah reda baik kepada pendukung maupun penantangnya untuk berfikir, beridalog, memberikan kebenaran termasuk membuktikan kebenaran dan keasliannya, dan hal ini terbukti sangat manjur dan melahirkan gelombang kajian ilmiah. Di dalamnya (Al-Qur’an) terdapat dokumen historis yang merekam kondisi sosio ekonomis, religius, ideologis, politis dan budaya dari peradaban umat manusia sampai abad ke VII masehi, namun pada saat yang sama menawarkan hazanah petunjuk dan tata aturan tindakan bagi umat manusia yang ingin hidup dibawah nuangan dan yang mencari makna kehidupan mereka didalamnya.

Jika demikian itu halnya, maka pemahaman terdapat ayat-ayat AlQur’an melalui penafsiran-penafsiran, mempunyai peranan yang sangat besar bagi maju mundurnya umat, menjamin istilah kunci untuk membuka gudang simpanan yang tertimbun dalam Al-Qur’an (Shihab, 1999:83).

Sebagai pedoman hidup untuk segala zaman, dan dalam berbagai aspek kehidupan mansusia, Al-Qur’an merupakan kitab suci yang terbuka (open ended), untuk dipahami di tafsirkan dan di ta’wilkan dalam prespektif metode tafsir maupun prespektif dimensi-dimensi atau tema-tema kehidupan manusia dari sini mencullah ilmu-ilmu untuk mengkaji AlQur’an dari berbagai aspeknya (asbab al – nuzul, filologi tradisi dan substansi) termasuk di dalamnya ilmu tafsir. Berkembanglanh ilmu-ilmu tafsir dari para mufassir dalam berbagai ragam dan coraknya yang secara garis besar dapat dikelompokkan dalam tiga kategori: Tafsir bil ma’tsur (bil manqul), tafsir bil al ra’y, dan Tafsir maudzu’i. dari ketiga kategori tersebut kemudian berkembang lagi metode tafsir yang merupakan pecahan dari masingmasing, atau gabungan dari dua atau tiga diantaranya. Tafsir bil ma’tsur, misalnya dapat di bedakan dalam tafsir bil ma’tsur dengan tradisi dan bil ma’tsur dengan nabi (bin nabiy). Atau gabungan dua dari tiga model tafsir tersebut Tafsir maudzu’i bil manqul.

Berikut ini akan dikemukakan sepintas tentang perkembangan metode penafsiran, keistimewaan dan kelemahannya. 

TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 
a. Tafsir Bil Manqul (Bil Ma'tsur/Birriwayah) 
Bermacam-macam metodologi tafsir dan coraknya telah diperkenalkan dan diterapkan oleh pakar-pakar Al-Qur'an. Kalau kita mengamati metode penafsiran sahabat-sahabat nabi SAW, ditemukan bahwa pada dasarnya, setelah gagal menemukan penjelasan nabi dalam masalahmasalah tertentu, mereka merujuk kepada penggunaan bahasa dan sya'irsya'ir Arab. Cukup banyak contoh yang dapat dikemukakan dalam hal ini. Misalnya Umar ibn al-Khattab pernah bertanya tentang arti takhawwuf dalam firman Allah : Aw ya'khuzahum 'ala takhawwuf (QS. 16:47). Seorang Arab dari kabilah Hudzail menjelaskan bahwa artinya adalah "pengurangan". Arti ini berdasarkan penggunaan bahasa yang dibuktikan dengan sya'ir pra Islam. “Umar ketika itu puas dan menganjurkan untuk mempelajari sya'ir-sya'ir tersebut dalam rangka memahami Al-Qur'an (Asy-Syatibi, tt :18).

Setelah masa sahabatpun, para tabi'in dan atba 'at-tabi'in, masih mengandalkan metode periwayatan dan kebahasaan sebelumnya. Jika kita berpendapat bahwa al-Farra (w. 207) merupakan orang pertama yang mendikte-kan tafsirnya Ma'aniy Al-Qur'an (Zahaby, 1961:142), maka dari tafsirnya kita dapat melihat bahwa faktor kebahasaan menjadi landasan yang sangat kokoh. Demikian pula Al-Thabari (w. 310 H) yang memadukan antara riwayat dan bahasa (Shihab, 1999:85). Cara penafsirian yang ditempuh oleh para sahabat dan generasi berikutnya itu dalam kerangka metodologis, disebut jenis tafsir bil al-ma'tsur (periwayatan). Metode periwayatan ini oleh al-Zarqani didefinisikan sebagai semua bentuk keterangan dalam Al-Qur'an, al sunnah atau ucapan sahabat yang menjelaskan maksud Allah SWT pada nash Al-Qur'an.

Metode bil ma'tsur, memiliki keistimewaan, namun juga mempunyai kelemahan-kelemahan. Keistimewaannya, antara lain, adalah : 
  1. Menekankan pentingnya bahasan dalam memahami Al-Qur'an, 
  2. Memaparkan ketelitian redaksi ayat ketika menyampaikan pesan-pesan, 
  3. Mengikat mufassir dalam bingkai teks ayat-ayat, sehingga membatasinya terjerumus dalam subyektivitas yang berlebihan (Shihab,1999:157), 
  4. Dapat dijadikan khazanah informasi kesejarahan dan periwayatan yang bermanfaat bagi generasi berikutnya (Zahabi,1961:157) 
Disisi lain, kelemahan yang terlihat dalam kitab-kitab tafsir yang mengandalkan metode ini, seperti yang dicatat oleh beberapa ahli tafsir, antara lain adalah : 
  1. Terjerumusnya sang mufassir dalam uraian kebahasaan dan kesusasteraan yang bertele-tele, sehingga pesan pokok Al-Qur'an menjadi kabur di celah uraian itu, 
  2. Seringkali konteks turunnya ayat (uraian asbab al-nuzul atau sisi kronologis turunnya ayat-ayat hukum yang dipahami dari uraian nasikh/mansukh) hampir dapat di katakan terabaikan sama sekali, sehingga ayat-ayat tersebut bagaikan turun bukan dalam satu masa atau berada di tengah-tengah masyarakat tanpa budaya (Shihab, 1999:49), 
  3. Terjadinya pemalsuan dalam tafsir karena fanatisme mazhab, politik dan usaha-usaha musuh Islam.
  4. Masuknya unsur Isra'iliyat ke dalam tafsir, yaitu unsur-unsur Yahudi dan Nasrani ke dalam penafsiran Al-Qur'an, 
Berkembangnya penafsiran bi al ma 'tsur zaman itu cukup dapat dipahami karena para mufassir mengandalkan penguasaan bahasa, serta menguraikan ketelitiannya secara baik, juga mereka ingin membuktikan kemu'jizatan Al-Qur'an dan segi bahasanya. Namun, menerapkan metode ini serta membuktikan kemu'jizatan itu untuk masa kini, agaknya sangat sulit karena kita telah kehilangan kemampuan dan rasa bahasa Arab itu. Metode periwayatan yang mereka terapkan juga cukup beralasan dan mempunyai keistimewaan dan kelemahannya. 

Metode ini istimewa bila ditinjau dari sudut informasi kesejarahan yang luas, serta obyektivitas mereka dalam menguraikan riwayat itu, sampai-sampai ada diantara mereka yang menyampaikan riwayat-riwayat tanpa melakukan penyeleleksian yang ketat. Imam Ahmad menilai bahwa tafsir yang berdasarkan riwayat, seperti halnya riwayat-riwayat tentang peperangan dan kepahlawanan, kesemuanya tidak mempunyai dasar yang kokoh (Ridlo, 1967:8). 

Cukup beralasan sikap generasi lalu ketika mengandalkan riwayat AlQur'an. Karena, ketika itu, masa antara generasi mereka dengan generasi para sahabat dan tabi'in masih cukup dekat dan laju perubahan sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan belum demikian pesat. Disamping itu, penghormatan kepada sahabat, dalam kedudukan mereka sebagai muridmurid nabi dan orang-orang berjasa, dan demikian pula terhadap tabi'in sebagai generasi peringkat kedua khairun qurun3, masih sangat terkesan dalam jiwa mereka. Dengan kata lain, pengakuan akan keistimewaan generasi terdahulu atas generasi berikutnya masih cukup mantap. 

b. Tafsir Bil Ma'qul (Bi AI-Ra'yi) 
Tafsir bi al-ra'yi adalah jenis metode penafsiran Al-Qur'an dimana seorang mufassir menggunakan akal (rasio) sebagai pendekatan utamanya. Sejalan dengan definisi diatas, Ash-Shabuni menyatakan bahwa tafsir bi alra'yi adalah tafsir ijtihad yang dibina atas dasar-dasar yang tepat serta dapati diikuti, bukan atas dasar ra‘yu semata atau atas dorongan hawa nafsu atau penafsiran pemikiran seseorang dengan sesuka hatinya (Ash-Shabuni, 1985:351). Sementara menurut Manna al-Qattan, tafsir bi al-ra'yi adalah suatu metode tafsir dengan menjadikan akal dan pemahamannya sendiri sebagai sandaran dalam menjelaskan sesuatu (Qattan, 1976:351). Sedangkan azZarqani secara tegas menyatakan bahwa tafsir bi al-ra’yi merupakan tafsir ijtihad yang disepakati atau memiliki sanad kepada yang semestinya dan jauh dari kesesatan dan kebodohan (Zarqawi, tt:9).

Metode tafsir dengan aliran bi al-ra’yi dalam penafsiran modern telah berkembang dengan pesatnya. Namun untuk lebih efisiennya pembahasan, dapat dikemukakan di sini suatu pandangan dari Al-Farmawi yang membagi metode tafsir menjadi empat macam, yaitu tahliliy, imaliy, muqaran dan maudhu'i (Farmawi, 1977:23).

Berikut ini akan diuraikan secara singkat ke-empat macam metode penafsiran diatas, terutama metode tahliliy, muqaran dan ijmali, sedangkan metode maudhu'i akan dibahas dalam sub bab khusus pada bagian akhir bab ini. 

c. Metode Tafsir Tahliliy 
Metode tafsir tahliliy, atau yang oleh Baqir Shadr dinamai metode tajzi'iy adalah suatu metode yang berupaya menjelaskan kandungan ayatayat AI-Qur'an dari berbagai seginya dengan memperhatikan runtutan ayatayat Al-Qur'an sebagaimana yang tercantum dalam mushaf (Shadr, 1980:10). Cara kerja metode ini terdiri atas empat langkah, yaitu : 
  1. Mufassir mengikuti runtutan ayat sebagaimana yang telah tersusun dalam mushaf, 
  2. Diuraikan dengan mengemukakan arti kosakata dan diikuti dengan penjelasan mengenai arti global ayat, 
  3. Mengemukakan munasabah (koralasi) ayat-ayat serta menjelaskan hubungan maksud ayat-ayat tersebut satu sama lain, 
  4. Mufassir membahas asbab al-nuzul dan dalil-dalil yang berasal dari Rasul, sahabat dan tabi'in (Abd. Hay al-Farmawi, 1977:18). 
Kelemahan metode tahliliy menurut Quraish Shihab bahwa para penafsir tidak jarang hanya berusaha menemukan dalil atau lebih tepat dalil pembenaran terhadap pendapat-pendapatnya dengan ayat-ayat Al-Qur'an. Selain itu, terasa sekali bahwa metode ini tidak mampu memberikan jawaban jawaban yang tuntas terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi sekaligus tidak banyak memberi pagar-pagar metodologis yang dapat mengurangi subyektivitas mufassirnya. Kelemahan lain yang dirasakan dalam tafsir-tafsir yang menggunakan metode tahliliy yang perlu dicarikan penyebabnya adalah bahwa bahasan-bahasannya dirasakan sebagai mengikat generasi berikut. Hal ini mungkin karena sifat penafsirannya amat teoritis, tidak sepenuhnya mengacu pada penafsiran persoalan-persoalan khusus yang mereka alami dalam masyarakat mereka, sehingga uraianuraian yang bersifat teoritis dan umum itu mengesankan bahwa itulah pandangan Al-Qur'an untuk setiap waktu dan tempat (Shihab, 1999:87).

Contoh dari penafsiran ini adalah karya-karya mufassir klasik seperti tafsir "Jami' al Bayan fa Tafsir Al-Qur'an", karya Ibn Jarir al-Thabari, tafsir Mafatih al Ghaib, karya Fakhruddin al-Razi dan lain-lain. Tafsir al Thabari, dilihat dari coraknya termasuk tafsir bi al-ma 'tsur, yang menggunakan metode tahliliy, demikian pula dengan tafsir al-Razi. 

d. Metode Tafsir Muqoron 
Tafsir muqaran atau tafsir perbandingan4 adalah suatu metode yang berupaya menjelaskan arah dan kecenderungan masing-masing mufassir, serta menganalisis faktor yang melatar belakangi seorang mufassir menuju ke arah dan memilih kecenderungan tertentu, sehingga ditemukan mufassir yang dipengaruhi perbedaan mazhab dan mufassir yang bertendensi yang memperkuat suatu mazhab tertentu ('Ridh, 1992:42). Dalam bahasa yang lebih sistematis, Said Agil Munawar dan Quraish Shihab mendefinisikan tafsir muqaran sebagai metode penafsiran yang membandingkan ayat Al-Qur'an yang satu dengan ayat Al-Qur'an yang lain yang sama redaksinya, tetapi berbeda masalahnya atau membandingkan ayat Al-Qur'an dengan hadits-hadits nabi Muhammad saw, yang tampaknya bertentangan dengan ayat-ayat tersebut, atau membandingkan pendapat ulama tafsir yang lain tentang penafsiran ayat yang sama 

Dari beberapa pengertian diatas, dapat ditarik beberapa unsur dalam metode tafsir muqaran : 
  1. Arah kecenderungan mufassir dan faktor yang melatar belakanginya, 
  2. Penafsiran ayat Al-Qur'an dengan ayat- Al-Qur'an yang lain yang sama redaksinya namun berbeda masalahnya, 
  3. Penafsiran ayat Al-Qur'an dengan hadits-hadits nabi yang isinya bertentangan, 
  4. Pendapat ulama tafsir dengan pendapat ulama tafsir lainnya. 
Karya-karya tulis yang termasuk dalam klasifikasi penafsiran muqaran adalah karya tulis kontemporer, misalnya Al-Qur'an, Bible dan Sains Modern karya Maurice Bucaile dan Muhammad fi al-Taurat wa al Injil wa Al-Qur'an, karya Ibrahim Khalili (Rumi, 1413:57). 

e. Metode Tafsir Ijmaliy 
Tafsir ijmaliy adalah suatu metode penafsiran Al-Qur'an yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan cara mengemukakan makna global. Dalam sistematika uraiannya, mufassir membahas ayat demi ayat sesuai dengan susunannya yang ada dalam mushaf, kemudian mengemukakan makna global yang dimaksud oleh ayat tersebut. Dengan demikian cara kerja metode ini tidak jauh berbeda dengan metode tahliliy, karena keduanya tetap terikat dengan urutan ayat-ayat sebagaimana yang tersusun dalam mushaf, dan tidak mengaitkan pembahasannya dengan ayat lain dalam topik yang sama kecuali secara umum saja (Farmawi, 1977:67). ontoh dari tafsir yang mempergunakan metode ini adalah tafsir Jalalain. 

f. Metode Tafsir Maudhu'i/Tematik 
Al-Qur'an merupakan kitab suci bagi umat Islam dan menjadi sumber utama ajaran Islam. Ia menyatakan diri sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia (QS. Al Baqarah (2):83). 

Untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk dari Al-Qur'an, umat Islam sejak wafat Rasulullah hingga sekarang senantiasa berupaya untuk melakukan penafsiran-penafsiran terhadap Al-Qur'an. Pada masa Rasulullah SAW hingga permulaan masa tabi'in, tafsir Al-Qur'an belum tertulis, dan secara umum periwayatannya tersebar secara lisan. Kemudian pada masa Umar bin Abdul Aziz (99-101H), bersamaan dengan masa kodifikasi hadits secara resmi, tafsir Al-Qur'an ditulis bergabung dengan penulisan hadits-hadits, dan dihimpun dalam satu bab seperti bab-bab hadits. Sedang penyusunan kitab-kitab tafsir secara khusus dan berdiri sendiri oleh sementara ahli diduga dimulai dari al-Fara' (W. 207 H) dengan kitabnya yang berjudul Ma'ni Al-Qur'an (Zahaby, 1961:142). 

Ditinjau dari sudut cara penafsiran, sejak masa al-Fara' sampai tahun 1960 para mufassir menafsirkan Al-Qur'an secara ayat demi ayat, sesuai dengan susunannya dalam mushhaf Utsmani, atau disebut juga dengan metode tahliliy. Pada perkembangan selanjutnya bentuk tafsir tahliliy ini dinilai mempunyai beberapa kelemahan, antara lain bahwa tahliliy dapat menjadikan petunjuk-petunjuk Al-Qur'an terpisah-pisah serta menghasilkan pandangan-pandangan parsial dan kontradiktif dalam umat Islam (Shadr, 1980:10). Sebab sebagaimana dikatakan al-Syathibi bahwa setiap surat walaupun masalah-masalah yang dikemukakan berbeda, namun ada suatu sentral yang mengikat dan menghubungkan masalah-masalah yang berbeda tersebut (Syathibi, tt:249). Bahwa dapat dikatakan disini bahwa tema tertentu umumnya tidak dibicarakan dari satu tempat saja, tetapi tersebar di berbagai tempat didalam kitab suci Al-Qur'an (Amal, 1992 : 44). 

Lebih jauh as-Syathibi menyatakan: Tidak dibenarkan seseorang hanya memperhatikan bagianbagian dari satu pembicaraan, kecuali pada saat ia bermaksud hanya untuk memahami arti lahiriah dari satu kosa kata menurut tinjauan etimologis, bukan maksud si pembicara. Kalau arti tersebut tidak dipahaminya, maka ia harus segera memperhatikan seluruh pembicaraan dari awal hingga akhir (Syathibi, tt:144). Keadaan Al-Qur'an yang demikian ini tentunya mengharuskan adanya bentuk penafsiran yang lain yaitu Tafsir Tematik sebagaimana yang akan dibahas penelitian ini. 

1. Munculnya Tafsir Tematik 
Berangkat dari adanya kelemahan yang terdapat dalam tafsir bentuk tahliliy, dan adanya pandangan sebagaimana dikemukakan oleh as-Syathibi sebagaimana tersebut diatas, maka pada bulan Januari 1960 M., Syekh Mahmud Syalthut menyusun kitab tafsirnya, Tafsir Al-Qur'an al-Karim, dalam bentuk penerapan ide yang dikemukakan oleh as-Syathibi tersebut. 

Syalthut tidak lagi menafsirkan ayat demi ayat tetapi membahas surat demi surat, atau bagian-bagian tertentu dalam surat-surat, kemudian merangkainya dengan tema sentral yang terdapat dalam suatu surat tersebut, tafsir yang demikian ini kemudian dinamai dengan tafsir Maudlu'i (Shihab, 1999:74) atau tafsir tematik dalam tahap awal. Namun apa yang ditempuh oleh Syalthut belum menjadikan pembahasan petunjuk Al-Qur'an dipaparkan dalam bentuk menyeluruh, karena dikemukakan diatas, satu masalah dapat ditemukan dalam berbagai surat (tidak terbatas hanya dalam satu surat). Atas dasar ini timbul ide untuk menghimpun semua ayat yang berbicara tentang satu masalah tertentu, kemudian mengaitkan satu dengan yang lain, dan menafsirkan secara utuh dan menyeluruh, sebagaimana dilakukan oleh Ahmad Sayyid al-Kuniy pada akhir tahun enam puluh (Shihab, 1999:74). Ide ini pada hakekatnya merupakan kelanjutan dari bentuk tafsir gaya Mahmud Syaltut diatas. Dengan demikian perkembangan tafsir tematik terdapat dua macam. 

Pertama: Tafsir Tematik model Mahmud Syalthut, dan kedua: Tafsir Tematik model al-Kumiy. Akan tetapi, pada perkembangan selanjutnya tafsir tematik model al-Kumiy itulah yang oleh "ulama kontemporer" ditetapkan sebagai tafsir tematik atau tafsir Maudl'ui (Farmawy, 1977 : 41). Dari sini Ali Khalil sebagaimana dikutip oleh Abd al-Hay alFarmawi memberikan batasan pengertian tafsir tematik, yaitu : Mengumpulan ayat-ayat Al-Qur'an yang mempunyai satu tujuan dan bersekutu dengan tema tertentu. Kemudian sedapat mungkin ayat-ayat tersebut disusun menurut kronologi turunnya disertai dengan pemahaman asbab al-Nuzulnya. Lalu oleh mufassir dikomentari, dikaji secara khusus dalam kerangka tematik, ditinjau segala aspeknya, ditimbang dengan ilmu yang benar, yang pada gilirannya mufassir dapat menjelaskan sesuai dengan hakikat topiknya, sehingga dapat ditemukan tujuannya dengan mudah dan menguasainya dengan sempurna (Abd al-Hay al-Farmawy, 1977:41-42). Jadi lewat metode ini, penafsiran dilakukan dengan jalan memilih topik tertentu yang hendak dicarikan penjelasannya menurut Al-Qur'an, kemudian dikumpulkanlah semua ayat Al-Qur'an yang berhubungan dengan topik ini, kemudian dicarilah kaitan antara berbagai ayat ini agar satu sama lain bersifat menjelaskan, baru akhirnya ditarik kesimpulan akhir berdasarkan pemahaman mengenai ayat-ayat yang saling terkait itu. 

2. Ciri-Ciri Tafsir Tematik 
Jika pengertian tafsir tematik itu kita cermati, maka kita dapat menemukan ciri-ciri dari bentuk tafsir tematik, antara lain : 
  • Obyek pembahasan atau penafsirannya bukan ayat demi ayat seperti tersusun dalam urutan mushaf Utsmani sebagaimana yang berlaku dalam tafsir tahlilliy, melainkan suatu tema tertentu yang ingin diketahui makna atau pengertiannya secara integral menurut pandangan Al-Qur'an, 
  • Cara yang ditempuh adalah mengumpulkan seluruh ayat-ayat yang dipandang saling berkait dan bersekutu dalam satu tema tertentu, 
  • Dalam proses penafsirannya senantiasa memperhatikan aspek kronologi turunnya ayat dan asbab al-Nuzulnya, 
  • Sebelum ayat-ayat tersebut ditafsirkan secara tematik, masing-masing ayat dan lafaz-lafaz yang terkandung didalamnya dipahami dan ditinjau dan berbagai aspeknya, seperti bahasa, konteks kesejarahan, "munasabat", dan sebagainya, 
  • Penafsiran Al-Qur'an secara tematik ini juga memerlukan berbagai ilmu, baik yang tergolong dalam "ulum al tafsir" maupun ilmu-ilmu lain yang relevan, seperti sejarah, sosiologi, antropologi dan sebagainya, 
  • Arah pembahasan tafsir tematik senantiasa terfokus kepada satu topik yang ditetapkan, 
  • Tujuan utama yang ingin dicapai oleh tafsir tematik sebagaimana dikemukakan oleh al-Farmawy (1977 : 51-55) dalam bukunya alBidayah di al-Tafsir al-Maudlu'i adalah memahami makna dan hidayah dari Al-Qur'an dan bukan sekedar mengetahui i'jaz Al-Qur'an, seperti keindahan bahasa atau ketinggian nilai sastranya atau kehebatankehebatan Al-Qur'an lainnya. 
  • Dalam tafsir tematik sumber utama atau dasar yang dipakai untuk menafsirkan adalah Al-Qur'an berbicara menurut konsepnva sendiri, apapun yang diinginkannva dan bukan menurut selera mufassirnya, 
Dari sini dapat ditegaskan bahwa tafsir tematik sebagai suatu metode pada kenyataannya tidak dapat secara mutlak berdiri sendiri terlepas dari metode-metode lainnya. Sebab sebelum mufassir menyodorkan penafsirannya secara tematik, ia harus terlebih dahulu menganalisis ayatayat yang berkaitan dengan tema yang akan dibahas secara terperinci. Ini berarti ia memerlukan juga metode tahliliy, dan untuk tidak terjebak dalam pemahaman yang mungkin keliru akibat mengambil produk tafsir tahliliy, mufassir perlu menggunakan metode muqaran agar dapat menginterpretasikan dan atau menterjemahkan berbagai pendapat yang ada, disamping untuk memahami lebih jauh perbedaan kandungan antara satu ayat dengan ayat yang lain, dan lain sebagainya. 

3. Langkah-Langkah Tafsir Tematik 
Prof. Dr. Abd al-Hay al-Farmawy dalam bukunya al-Bidayah fa alTafsir al-Maudlu'iy (1977: 49-50), memberikan pedoman secara garis besar langkah-langkah yang hendaknya ditempuh untuk menerapkan bentuk penafsiran Al-Qur'an secara tematik. langkah-langkah tersebut adalah : 
  • Membentuk satu masalah dalam Al-Qur'an yang akan dibahas secara tematik, 
  • Menyusun runtutan ayat sesuai dengan kronologi turunnya disertai pengetahuan tentang asbab al-Nuzulnya, 
  • Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam suratnya masing-masing, 
  • Menyusun pembahasan dalam kerangka (outline) yang sistematis, 
  • Melengkapi pembahasan dengan hadits-hadits yang relevan dengan pokok pembahasan, 
  • Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-ayatnya yang mempunyai pengertian yang sama, atau mengkompromikan antara`am (umum) dan yang khash (khusus), mutlaq dan muqayyat (terikat), atau yang pada lahirnya bertentangan, sehingga kesemuanya bertemu dalam satu muara, tanpa perbedaan atau pemaksaan. 
Disini barangkali dapat dikemukakan beberapa kitab yang membahas tema-tema Al-Qur'an yang coraknya mirip dengan tafsir tematik, seperti : 
  1. Al-Mar 'ah di Al-Qur'an al-Karim, oleh Abbas al-'Aqqad, 
  2. Al-Riba fi Al-Qur'an, oleh Abu al-A'la al-Maududiy, 
  3. Al-'Agidah fi Al-Qur'an al-Karim, oleh Muhammad Abu Zahrah,
  4. Al-Uluhiyyah wa al-Risalah fi Al-Qur'an al-Karim, oleh Muhammad asSahmiy, 
  5. Al-Insan fi Al-Qur'an al-Karim, oleh Abbas al-'Aqqad, 
  6. Maqumat al-Insaniyyah fi Al-Qur'an al-Karim, oleh Ahmad Ibrahim Muna, 
  7. Ayat al-Qasam Al-Qur'an al-Karim, oleh Ahmad Kamal al-Muhdiy (Farmawi, 1977:60). 
Masih dalam buku yang sama Prof Dr. Abd al-Hay al-Farmawy, juga telah memberikan contoh-contoh bentuk tafsir tematik, antara lain berjudul : "Adab al- Isti 'zan fi A1-Qur'an al-Karim", "Ghadldl al Bashari wa hifd al-Fajr fi AI-Qur'an al-Karim", "Ummiyat al-Arab". 14 Agar lebih komunikatif dan informatif perhatikan tabel berikut :

4. Keistimewaan Tafsir Tematik 
Diantara keistimewaan penafsiran Al-Qur'an dengan metode tematik adalah : 
  • Tafsir tematik dapat menutup kelemahan yang terdapat pada metode lain sebagaimana digambarkan dalam uraian diatas, 
  • Tafsir tematik untuk menafsirkan ayat atau dengan hadits nabi, sehingga tafsir tematik bisa dikatakan sebagai tafsir al-Ma 'tsur, suatu cara terbaik dalam menafsirkan Al-Qur'an, 
  • Kesimpulan yang dihasilkan mudah dipahami, hal ini disebabkan tafsir tematik membawa kepada petunjuk Al-Qur'an tanpa mengemukakan berbagai pembahasan terperinci dalam suatu disiplin ilmu. 
Juga dengan metode ini, dapat dibuktikan bahwa persoalan yang disentuh Al-Qur'an bukan bersifat teoritis semata-mata dan atau tidak dapat membawa kita kepada pendapat Al-Qur'an tentang berbagai problem hidup disertai jawaban jawabannya. Ia dapat memperjelaskan kembali fungsi Al-Qur'an sebagai kitab suci, 

d. Metode ini memungkinkan seseorang untuk menolak anggapan adanya ayat-ayat yang bertentangan dengan Al-Qur'an. 
Disamping itu tafsir tematik dapat membuktikan bahwa ayat-ayat Al-Qur'an sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat (Shihab, 1999:117). Perlu dicermati bahwa disamping mempunyai beberapa keistimewaan, namun tafsir tematik itu sebagai terjadi juga dalam metodemetode lain, tidak bisa terhindar dari kelemahan-kelemahan. Kelemahan utama jelas bahwa tafsir tematik tidak mampu menjelaskan atau menafsirkan secara langsung seluruh persoalan yang terdapat pada setiap ayat atau surat-surat hal yang tertentu dibutuhkan oleh setiap pembaca AlQur'an yang ingin memahami lebih dalam tentang makna ayat-ayat yang sedang dibacanya. Sebagai tafsir tematik berangkat dan tema tertentu, dan bukan ayat demi ayat secara berurutan sebagaimana terdapat dalam mushhaf. 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa barangkali sampai saat ini belum ada satu metodepun yang telah sempurna untuk dapat menjelaskan semua aspek yang ada dalam Al-Qur'an. Oleh karena itu, disamping diperlukan adanya kerja sama antara berbagai metode yang telah ada, upaya pengembangan metode-metode tafsir masih terbentang luas dan menantang kita untuk dapat pemahaman yang komprehensif terhadap AlQur'an. 

5. Perbedaan Tafsir Tematik dengan Beberapa Metode Tafsir Lainnya. 
Dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan "Ulum al-Taftir" dapat kita temukan berbagai karya ulama di bidang tafsir Al-Qur'an dengan variasi metode yang dipakai pula. Diantara metode-metode tafsir yang dikenal sampai sekarang ini antara lain adalah : 
  • Metode tahliliy 
  • Metode ijmali
  • Metode maqaran, dan 
  • Metode maudlu'1 (Farmawi, 1977:17). 
Atau metode tematik sebagaimana yang kita bahas. Untuk lebih memperjelas kajian kita tentang tafsir tematik, berikut ini penulis kemukakan perbedaan-perbedaan pokok antara metode tafsir tematik dengan metode tahliliy, metode ijmaliy dan metode maqaran, dimana analisis perbedaan tersebut penulis simpulkan dari al-Bidayah fi al-Tafsir alMaudlu'i, karya Prof. Dr. Abd al-Hay al-Farmawy (Farmawy, 1977 : 52-57). 

a. Perbedaan Tafsir Tematik dengan Tafsir Tahlili. 
Yang dimakmsud dengan tafsir tahliliy adalah "penjelasan tentang arti dan maksud ayat-ayat Al-Qur'an dari sekian banyak seginya yang ditempuh oleh mufassir dengan menjelaskan ayat demi ayat dan surat demi surat sesuai urutannya dalam mushhaf melalui penafsiran kosa kata, penjelasan sebab nuzul, munasabah serta kandungan ayat-ayat tersebut sesuai dengan keahlian dan kecenderungan-kecenderungan mufassir (Shihab, 1999: 177). 

Metode tersebut jelas berbeda dengan metode tematik. Perbedaan itu antara lain : 
  • Pertama, dalam tafsir tahliliy langkah-langkah yang ditempuh mufassirin dalam menafsirkan adalah sesuatu dengan urutan (secara tauqifi) ayat-ayat dan surat-surat yang ada dalam mushhaf. Sedang dalam tafsir tematik, mufassir tidak terikat dengan urutan masa turunnya ayat atau kronologi kejadian, dan mengumpulkan ayat-ayat tersebut dalam satu tema setelah dipisahkan oleh surat. 
  • Kedua, dalam tafsir tahliliy mufassir berusaha untuk membahas segala sesuatu yang ditemukan dalam setiap ayat. Sedang dalam tafsir tematik, mufassir tidak membahas segala segi permasalahan yang dikandung oleh satu ayat, tetapi hanya yang dikaitkan dengan tema yang dibahasnya. 
  • Ketiga, dalam tafsir tahliliy berusaha menjelaskan setiap kosa kata yang ada didalam ayat-ayat Al-Qur'an sesuai dengan langkah-langkah tafsir tahliliy, sedang tafsir tematik hanya menjelaskan arti dari kosa kata yang dibutuhkan atau dihubungkan dengan tema yang dibahas. 
  • Keempat, tafsir tematik memungkinkan mufassir untuk menyusun berbagai macam tema Al-Qur'an yang dibahas secara sendiri-sendiri, terpisah satu sama lain, sehingga petunjuk Al-Qur'an yang berhubungan dengan tema yang dibahas secara integratif dapat dicapai. Sedang dalam tafsir tahliliy sangat sulit untuk dapat mencapai hal yang demikian itu. 
b. Perbedaan tafsir Tematik dengan Tafsir Ijmaliy 
Tafsir Ijmaliy adalah "Penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an dengan cara menjelaskan maknanya secara global sesuai dengan urutan dalam mushhaf. Dalam menjelaskan makna ayat-ayat tersebut mufassir meletakkannya dalam kerangka pembahasan yang mudah dipahami oleh orang path umumnya (Farmawy, 1997 :43). 

Adapun perbedaan tafsir tematik dengan tafsir Ijmaliy tersebut antara lain : Pertama, tafsir tematik bertujuan membahas satu tema Al-Qur'an, sedang tafsir Ijmaliy bertujuan membahas ayat-ayat Al-Qur'an untuk mengetahui maknanya secara global, dan dalam pembahasannya mengikuti urutan ayat yang terdapat dalam mushhaf Utsmani. Kedua, dalam tafsir tematik, mufassir bertujuan membahas satu topik dalam Al-Qur'an itu secara tuntas dan tidak keluar dari kerangka tematik yang telah ditetapkan, sedang tafsir Ijmaliy tidak bertujuan membahas satu tema tertentu dalam Al-Qur'an tanpa mengaitkan dengan tema yang sama yang terdapat dalam ayat lain. 

c. Perbedaan Tafsir Tematik dengan Tafsir Muqaran 
Tafsir Muqaran adalah membandingkan ayat-ayat Al-Qur'an yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi, yang berbicara tentang masalah atau kasus yang berbeda dan yang memiliki redaksi yang berbeda bagi masalah atau kasus yang sama atau diduga sama. Termasuk dalam obyek membahas metode ini adalah membandingkan Al-Qur'an dengan haditshadits nabi SAW, yang tampaknya bertentangan, serta membandingkan pendapat-pendapat ulama tafsir yang menyangkut penafsiran ayat-ayat AlQur'an (Shihab, 1999: 118). 

Sisi perbedaan antara tafsir muqarran dengan tafsir tematik antara lain bahwa para mufassir dalam tafsir muqaran biasanya hanya menjelaskan halhal yang berkaitan dengan perbedaan kandungan dimaksud oleh masingmasing atau perbedaan kasus atau masalah itu sendiri. Dan mufassir yang menempuh metode ini tidak mengarahkan pandangannya kepada petunjukpetunjuk yang dikandung oleh ayat-ayat yang dibandingkan itu, kecuali dalam rangka penjelasan sebab-sebab perbedaan redaksional. Sementara dalam tafsir tematik, seorang mufassir, disamping menghimpun semua ayat yang berkaitan dengan masalah yang dibahas, ia juga mencari permasalahan-permasalahan, serta segala petunjuk yang dikandungnya, selama berkaitan dengan pokok bahasan yang ditetapkan. 

Disini terlihat bahwa jangkauan bahasan tafsir muqaran lebih sempit dibandingkan tafsir tematik, karena yang pertama hanya terbatas dalam 19 perbedaan redaksi semata-mata, sedang dalam tafsir tematik juga mencari persamaan-persamaan.
Blog, Updated at: 06.02

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts