Dasar Hukum Mawarits dalam Islam

Dasar Hukum Mawarits dalam Islam 
Seorang muslim yang telah meninggal dunia dan memiliki harta warisan, harta yang ditinggalkan tersebut menurut ajaran agama Islam menjadi hak milik keluarga dan kerabatnya yang bisa disebut dengan ahli waris, dan pembagian harta warisan untuk ahli waris tersebut telah diatur sebagaimana yang ada dalam hukum syari`at. Adapun untuk lebih lanjut mengenai harta warisan dalam Islam adalah sebagimana berikut ini.

1. Pengertian Mawarits
Kata Mawarits adalah bentuk jama` dari kata Miratsartinya harta warisan. Mirats dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata (waritsa-yaritsu-irtsan-miiraatsan). Maknanya menurut segi bahasa : ialah berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain,atau dari suatu kaum kepada kaum lain. Pengertian menurut bahasa ini tidak terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan harta, tetapi mencakup harta benda dan non harta benda.ﹶ

Sedangkan makna Miratsmenurut segi istilah yang dikenal para ulama ialah : berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup, baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang), tanah, atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar'i.

2. Dasar Hukum Mawarits dari al-Qur`an dan Hadits
Dengan adanya kewajiban untuk menjalankan syari`at islam dalam perkara waris, maka wajib kifayah pula belajar dan mengajarkan ilmu faraidh. Adapun mengenai pensyari`atanMawarits sebagaimanaterdapat dalam ayat al-Qur`an dan Hadis NabiMuhammad.

Dasar hukum yang bersumber dari al-Qur`an, terdapat pada Surah al-Nisa` ayat 7, 11-12
(1) Surah al-Nisa` ayat 7
uÉÉA%y`Ìh=Ïj9Ò=ŠÅÁtR$£JÏiBx8ts?Èb#t$Î!ºuqø9$#tbqç/tø%F{$#urÏä!$|¡ÏiY=Ï9urÒ=ŠÅÁtR$£JÏiBx8ts?Èb#t$Î!ºuqø9$#šcqç/tø%F{$#ur$£JÏB¨@s%çm÷ZÏB÷rr&uŽèYx.4$Y7ŠÅÁtR$ZÊrãøÿ¨BÇÐÈ
7. bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.

(2) Surah Al-Nisa` 11-12
ÞOä3ŠÏ¹qリ!$#þÎûöNà2Ï»s9÷rr&(̍x.©%#Ï9ã@÷VÏBÅeáymÈû÷üusVRW{$#4bÎ*sù£`ä.[ä!$|¡ÎSs-öqsùÈû÷ütGt^øO$#£`ßgn=sù$sVè=èO$tBx8ts?(bÎ)urôMtR%x.ZoyÏmºur$ygn=sùß#óÁÏiZ9$#4Ïm÷ƒuqt/L{urÈe@ä3Ï97Ïnºur$yJåk÷]ÏiBâ¨ß¡9$#$£JÏBx8ts?bÎ)tb%x.¼çms9Ó$s!ur4bÎ*sùóO©9`ä3tƒ¼ã&©!Ó$s!urÿ¼çmrOÍururçn#uqt/r&ÏmÏiBT|sùß]è=W9$#4bÎ*sùtb%x.ÿ¼ã&s!×ouq÷zÎ)ÏmÏiBT|sùâ¨ß¡9$#4.`ÏBÏ÷èt/7p§Ï¹urÓÅ»qãƒ!$pkÍ5÷rr&AûøïyŠ3öNä.ät!$t/#uäöNä.ät!$oYö/r&urŸwtbrâôs?öNßgƒr&Ü>tø%r&ö/ä3s9$YèøÿtR4ZpŸÒƒÌsùšÆÏiB«!$#3¨bÎ)©!$#tb%x.$¸JŠÎ=tã$VJŠÅ3ymÇÊÊÈ*öNà6s9urß#óÁÏR$tBx8ts?öNà6ã_ºurør&bÎ)óO©9`ä3tƒ£`ßg©9Ó$s!ur4bÎ*sùtb$Ÿ2 Æßgs9Ó$s!urãNà6n=sùßìç/9$#$£JÏBz`ò2ts?4.`ÏBÏ÷èt/7p§Ï¹uršúüϹqãƒ!$ygÎ/÷rr&&úøïyŠ4 Æßgs9urßìç/9$#$£JÏBóOçFø.ts?bÎ)öN©9`à6tƒöNä3©9Ós9ur4bÎ*sùtb$Ÿ2öNà6s9Ó$s!ur£`ßgn=sùß`ßJV9$#$£JÏBLäêò2ts?4.`ÏiBÏ÷èt/7p§Ï¹uršcqß¹qè?!$ygÎ/÷rr&&ûøïyŠ3bÎ)uršc%x.×@ã_uß^uq・'s#»n=Ÿ2Írr&×or&tøB$#ÿ¼ã&s!urîˆr&÷rr&×M÷zé&Èe@ä3Î=sù7Ïnºur$yJßg÷YÏiBâ¨ß¡9$#4bÎ*sù(#þqçR%Ÿ2uŽsYò2r&`ÏBy7Ï9ºsŒôMßgsùâä!%Ÿ2uŽà°ÎûÏ]è=W9$#4.`ÏBÏ÷èt/7p§Ï¹ur4Ó|»qãƒ!$pkÍ5÷rr&AûøïyŠuŽöxî9h!$ŸÒãB4Zp§Ï¹urz`ÏiB«!$#3ª!$#uríOŠÎ=tæÒOŠÎ=ymÇÊËÈ
Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separuh harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka Para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris) (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.

Dasarhukum yang terdapat dari Hadis Nabi Muhammad, serta Atsar Sahabat antara lain.
(1) Hadis dari Ahmad, Tirmidzi dan Nasa`i

تعلموالفرائض وعلمواهاالناس فإني امرؤ مقبوض فان العلم سيقبض وتظهر الفتن حتى يختلف اثنان في الفريضة فلا يجدان من يقضي بينهما (روه الحاكم وصحح اسناده)

“Pelajarilah faraidh (pembagian harta warisan) itu dan ajarkanlah kepada orang lain. Sesungguhnya aku adalah seseorang manusia yang akan meninggal dunia. Dan sesungguhnya ilmu itupun akan ikut tercabut pula. Juga akan lahir fitnah-fitnah sehingga terjadilah perselisihan antara dua orang karena harta warisan. Kemudian mereka berdua itu tidak menemukan orang yang akan memberi keputusan (terhadap masalah yang diperselisihkan itu) diantara mereka berdua”

(2) Shohih Bukhori, Hadis Riwayat Ibnu `Abbas


حَدَّثَنَامُوسَىبْنُإِسْمَاعِيلَحَدَّثَنَاوُهَيْبٌحَدَّثَنَاابْنُطَاوُسٍعَنْأَبِيهِعَنْابْنِعَبَّاسٍرَضِيَاللَّهُعَنْهُمَا
عَنْالنَّبِيِّصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَقَالَأَلْحِقُواالْفَرَائِضَبِأَهْلِهَافَمَابَقِيَفَهُوَلِأَوْلَىرَجُلٍذَكَرٍ

“Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Ibnu Thawus dari ayahnya dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Berikanlah bagian fara`idh (warisan yang telah ditetapkan) kepada yang berhak, maka bagian yang tersisa bagi pewaris lelaki yang paling dekat (nasabnya)”.

(3) Sunan Ibnu Majah, Atsar dari Abu bakar tentang bagian nenek dalam masalah warisan.
حَدَّثَنَاأَحْمَدُبْنُعَمْرِوبْنِالسَّرْحِالْمِصْرِيُّأَنْبَأَنَاعَبْدُاللَّهِبْنُوَهْبٍأَنْبَأَنَايُونُسُعَنْابْنِشِهَابٍحَدَّثَهُعَنْقَبِيصَةَبْنِذُؤَيْ

بٍحَدَّثَنَاسُوَيْدُبْنُسَعِيدٍحَدَّثَنَامَالِكُبْنُأَنَسٍعَنْابْنِشِهَابٍعَنْعُثْمَانَبْنِإِسْحَقَبْنِخَرَشَةَعَنْقَبِيصَةَبْنِذُؤَيْبٍقَالَجَاءَتْالْجَدَّ

ةُإِلَىأَبِيبَكْرٍالصِّدِّيقِتَسْأَلُهُمِيرَاثَهَافَقَالَلَهَاأَبُوبَكْرٍمَالَكِفِيكِتَابِاللَّهِشَيْءٌوَمَاعَلِمْتُلَكِفِيسُنَّةِرَسُولِاللَّهِصَلَّىا

للَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَشَيْئًافَارْجِعِيحَتَّىأَسْأَلَالنَّاسَفَسَأَلَالنَّاسَفَقَالَالْمُغِيرَةُبْنُشُعْبَةَحَضَرْتُرَسُولَاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَ

يْهِوَسَلَّمَأَعْطَاهَاالسُّدُسَفَقَالَأَبُوبَكْرٍهَلْمَعَكَغَيْرُكَفَقَامَمُحَمَّدُبْنُمَسْلَمَةَالْأَنْصَارِيُّفَقَالَمِثْلَمَاقَالَالْمُغِيرَةُبْنُ

شُعْبَةَفَأَنْفَذَهُلَهَاأَبُوبَكْرٍ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin 'Amru bin As Sarh Al Mishri; telah memberitakan kepada kami Abdullah bin Wahab; telah memberitakan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab; telah menceritakan kepadanya dari Qabishah bin Dzu`aib; Demikian juga telah diriwayatkan dari jalur yang lainnya, dan telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Sa'id; telah menceritakan kepada kami Malik bin Anas dari Ibnu Syihab dari 'Utsman bin Ishaq bin Kharasy dari Qabishah bin Dzuaib ia berkata; "Datang seorang nenek kepada Abu Bakar dan bertanya kepadanya tentang bagian warisannya, maka Abu Bakar berkata kepadanya; "Aku tidak mendapatkan sesuatupun untukmu di dalam Kitabullah dan aku tidak mengetahui sesuatupun bagimu di dalam Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka kembalilah sehingga aku bertanya kepada orang-orang. Maka bertanyalah ia kepada orang-orang, dan Al Mughirah bin Syu'bah berkata; 'Aku hadir dihadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau memberinya seperenam.' Bertanyalah Abu Bakar; 'Apakah selainmu ada yang bersamamu? ' Maka bangunlah Muhammad bin Maslamah Al Anshariy, dan dia berkata seperti yang dikatakan Al Mughirah bin Syu'bah, kemudian Abu Bakar memberikan seperenam kepadanya."

A. Pembahasan Permasalahan Mawarits dalam Islam
1. Kelompok ahli waris
Kelompok ahli waris yang telah ditetapkan oleh syari`at antara lain :

a. Dzawil Furudl (Dzawul Fara`id)
Dzawil Furudl adalah ahli waris yang mendapat bagian tertentu dalam keadaan tertentu. Bagian kelompok ini sudah jelas tertera dalam ayat al-Quran. Ahli waris tersebut antara lain:
  • Anak perempuan tunggal
  • Ibu 
  • Bapak
  • Duda
  • Janda
  • Saudara laki-laki (dalam hal kalalah)
  • Saudara laki-laki dan saudari bersyrkah (dalam hal kalalah)
  • Saudari (dalam hal kalalah) (Sajuti Thalib, 1982:65)
  • Cucu perempuan dari putra
  • Kakek
  • Nenek
  • Saudai se-Ayah (Ahmad Azhar, 1981:26)
b. Ashabah
Ahli waris Ashabah ialah ahli waris yang tidak ditentukan bagiannya. Ahli waris ini memiliki tiga kemungkinan dalam hal harta pusaka. Kemungkinan untuk menerima sisa harta pusaka, kemungkinan tidak mendapat harta pusaka karena sudah terbagi, da mendapatkan semua harta pusaka karena tidak adanya dzawil furudl.

Ahli waris ashabah terbagi menjadi tiga, yaitu:
1) Ashabah bin Nafsi
Yaitu kelompok ashabah yang dengan sendirinya sudah menjadi ashobah, tanpa harus memiliki syarat satu pun. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah putra (anak laki-laki) cuku laki-laki dari putra, saudara sekandung atau se-Ayah dengan paman.

2) Ashabah bil-ghairi
Yaitu ahli waris yang menadi ashobah sebab ditarik oleh ahli waris ashobah yang lain. Seperti anak perempuan ditarik oleh anak laki-laki, cucu perempuan ditarik oleh saudara kandung atau se-Ayah.

3) Ashabah ma’al ghairi
Yaitu ahli waris yang menjadi ashabah karena bersama-sama dengan yang lain. Misalnya saudari kandung atau se-Ayah karena bersama-sama putri.

Secara keseluruhan ahli waris yang termasuk ashabah ini yaitu:
  1. Anak laki-laki/putra
  2. Cucu laki-laki dari putra terus kebawah asal saja pertaliannya masih terus laki-laki/bapak.
  3. Bapak
  4. Kakek dari pihak bapak dan terus keatas asal pertaliannya belum putus dari pihak bapak.
  5. Saudara seibu
  6. Saudara sebapak
  7. Putra saudara sekandung
  8. Putra saudara sebapak
  9. Paman yang sekandung dengan bapak
  10. Paman sebapak dengan bapak
  11. Putra paman yang sekandung dengan bapak
  12. Putra paman yang sebapak dengan paman
  13. Saudari sekandung ditarik oleh saudara sekandung
  14. Saudari se-Ayah yang ditarik oleh saudari se-Ayah
  15. Putri yang ditarik oleh putra
  16. Cucu perempuan yang ditarik cucu laki-laki dari putra
  17. Saudari kandung karena bersama-sama putri
  18. Saudari se-Ayah karena sama-sama putri
c. Dzawil Arham
Dzawil arham atau dzul arham adalah orang-orang yang dihubungkan nasabnya dengan pewaris karena pewaris sebagai leluhur yang menurunkannya. Dalam patrilinialisme dzawil arham ini merupakan golongan ketiga. Pengertian ini khusus dikenakan pada hubungan darah melalui wanita saja, sebagai kebalikan dari pengertian ashabah yang khusus dihubungkan dengan garis laki-laki.

Dengan pengertian lengkap dari Dzawil arham dalam tradisi patrilinialisme antara lain:
  • Ahli waris yang masih punya hubungan darah dengan pewaris
  • Bukan termasuk dzawil furudl dan ashabah dan (jenisnya)
  • Arah hubungan yaitu, anggota keluarga perempuan digaris bapak dan anggota keluarga dari garis ibu (baik laki-laki maupun perempuan)
  • Ahli waris yang termasuk dzawil arham ini tertupup selam masih ada kelompok dzawil furudl dan ashabah.
Mereka yang termasuk dalam dzawil arham ini dipilah-pilah menurut hubungan nasabnya dengan pewaris oleh Fatchurrahman:
  • Cucu dari putri
  • Anak cucu perempuan dari putra
Hubungan nasab karena sebagai leluhur dari pewaris yaitu:
  • Bapak dari ibu dan kakak dari ibu
  • Ibu dari ayahnya ibu dan nenek dari bapaknya ibu
  • Hubungan nasab ke samping atau keturunan orang tua pewaris
  • Anak saudari kandung, se-Ayah atau seibu
  • Putri saudara kandung, se-Ayah atau seibu dan seterusnya kebawah
  • Putri dari putra saudara kandung, se-Ayah atau seibu dan seterusnya kebawah
  • Putra saudara seibu dan seterusnya kebawah
  • Mereka yang dihubungkan nasabnya kepada kedua kakek dari bapak ibu pewaris
  • Saudara ayah seibu, saudari sebapak, saudari seibu, dan saudari ibu sekandung atau se-Ayah atau seibu
  • Anak dari orang-orang (i)
  • Saudara bapak dari ayah yang seibu, saudari ayah serta saudari ibu dan saudari ibu dari bapak sekandung atau sebapak atau seibu
  • Anak-anak orang yang disebutkan (j)
  • Saudara ayah dari bapaknya bapak yang seibu, saudara se-Ayah dari bapaknya yang seibu
  • Anak-anak orang-orang yang tersebut (m)
2. Persyaratan penetapan bagian
a. Keutamaan
Dimaksudkan dengan keutamaan adalah suatu prinsip untuk mendahulukan ahli waris yang satu dibandingkan dengan yang lain. Dalam proses awal pembagian harta warisan, hal ini harus diketahui terlebih dahulu. Ahli waris manayang harus didahulukan untuk mendapatkan harta warisan, dan ahli waris mana pula yang menempati posisi sesudahnya.

Prinsip keutamaan dalam hal waris islam terpantul dalam beberapa ayat al-Quran seperti QS al Anfal (8): 75 dan al ahzab (33): 6. Intinya ahli waris yang bertlian darah lebih dekat dibandingkan dengan orang lainnya, begitu juga di antara sesama orang yang bertalian darah ada yang lebih didahulukan dibandingkan dengan yang lainnya.

b. Hijab
Secara terminologi hijab berarti melindungi orang-orang tertentu untuk menerima pusaka semuanya atau sebagian karena ada seseorang yang lain. Hijab ini memiliki ari yang berbeda sebab pada tema hijab, seseorang itu sudah berhak menjadi ahli waris, dalam arti telah memenuhi persyaratan untuk menadi ahli waris, tetapi ia hanya batal menerima bagian harta warisan yang diakibatkan adanya aktor luar yaitu adanya ahli waris yang dekat hubungnanya dengan pewaris. Sedangkan faktor penghalang untuk mewarisi diakibatkan faktor dari dalam calon ahli waris itu, karena tindakan, sikap, dan perbuatan yang dilakukannya.

Berdasarkan uraian diatas maka hijab itu dapat dibagi pada dua macam yaitu:
  • Hijab hirman ialah terhijabnya ahli waris dalam memperolah seluruh bagian akibat adanya ahli waris yang lain.
  • Hijab nuqhsan ialah berkurangnya bagian yang semestinya diperoleh oleh ahli waris karena adanya ahli waris yang lain. Dengan demikian, ahli waris itu masih mendapat bagian, hanya bagiannya berkurang atau menurun bagiannya yang semula.
3. Perhitungan pembagian harta warisan
Untuk mulai menghitung harta warisan harus melalui beberapa hal. Pertama, menentukan siapa-siapa yang berhak menerima dari ahli waris yang ada. untuk itu harus dilihat siapa yang saja yang tidak tertutup/terhalang. Kedua, menentukan bagaian masing-masing ahli waris dan siapa-siapa yang akan menjadi ashabah.

Contoh, jika seseorang mati dan meninggalkan ahli waris seperti berikut:
  1. Bapak
  2. Ibu
  3. Suami
  4. Kakek
  5. Paman
  6. Keponakan
  7. Anak laki-laki
  8. Anak perempuan saudara sekandung
  9. Saudara seibu
Dengan demikian maka bapak mendapat 1/6 karena ada anak. Ibu mendapat 1/6 karena ada anak. Suami dapat ¼ karena ada anak. Dan anak laki-laki dan anak perempuan menjadi ashabah. Sedangkan yang lain sudah tertutup. Perihal ii sudah dujelaskan dalam materi sebelumnya.

Setelah mengetahui asal masalahnya atau bisa dikatakan bagian tiap-tiap ahli waris. Maka kita dapat menghitungnya. Asal masalah adalah kelipatan persekutuan bilangan terkecil (KPT/KPK), yang dapat dibagi kepada setiap ahli waris sesuai dengan bagian-bagiannya.
12
Bapak
1/6
2/12
Ibu
1/6
2/12
Suami
1/4
3/12
anak lk & pr
A
5/12


4. Pembahasan Aul dan Radd
a. Permasalahan Aul
Cara memecahkan masalah aul adalah dengan mengetahui pokoknya dulu, yaitu yang menimbulkan masalah dan mengetahui bagian tiap-tiap ahli waris. Permasalahan aul sebenarnya terjadi ketika terdapat selisih lebih banyak dari harta warisan yang ada. Kekurangan ini terjadi bukan karena salah dalam penetapan perhitungannya, akan tetapi membutuhkan kaidah yang lain dalam penetapannya. Jika tidak permasalahan harta warisan tidak akan selesai.

Contoh:
Seseorang meninggal dunia, ahli warisnya terdiri atas suami, dua orang saudara perempuan kandung. Harta warisannya sudah dipakai keperluan si mayit dan masih tersisa 42 juta. Jika dihitung dengan cara yang pertama maka asal masalahnya ada 6 sedangkan penyelesaiannya membutuhkan tujuh bagian.

Ahli Waris
Bagian
Asal Masalah 6
7
bagian yang diterima
Suami
1/2 
3
 3/7
3/7 × 42 jt = 18jt
2 saudara perempuan sekandung
 2/3
4
4/7 
 4/7 × 42 jt = 24jt
Jumlah

7



Keterangan:
Jumlah asal masalah yang semula 6, dirubah menjadi 7 bagiannya tiap-tiap ahli waris bisa terpenuhi. Jika kita masih menggunakan asal masalahnya 6 maka akan terjadi selisih 7jt yang semula hartanya 42jt menjadi 49jt.

b. Permasalah Radd
Radd dalam masalah Mawarits ialah mengembalikan apa yang tersisa dari bagian dzawul furudl nasabiyah kepada mereka yang sesuai dengan besar kecilnya bagian mereka apabila tidak ada orang lain yang berhak menerima (Ash Ahabuni 106:1995). Apabila bersama ashabul furudh didapatkan ahli waris yang tidak mendapatkan fardh berupa salah seorang suami/istri, maka salah seorang istri/suami mengambil bagiannya dari pokok harta peninggalan. Sisa bagian ini untuk ashabul furudh sesuai dengan jumlah mereka apabila terdiri atas satu golongan, bak yang ada itu hanya seorang di antara mereka, seperti anak perempuan, ataupun banyak sepertiga orang anak perempuan. Apabila ashabul furudh lebih banyak dari satu golongan, seperti seorang ibu dan seorang anak perempuan maka sisanya dibagikan sesuai dengan bagiannya masing-masing.

Contoh:
Seseorang meninggal dunia, ahli warisnya terdiri dari suami, anak perempuan, dan ibu. Harta warisan setelah dipotong untuk keperluan si mayit masih tersisa 72jt.

Ahli Waris
Bagian
Asal Masalah 12
bagian yang diterima
Suami
 ¼
3
3 × 6jt =  18jt
Anak Perempuan
1/2 
6
6 × 6jt =  36jt
Ibu
1/6 
2
2 × 6jt =  12jt 
Jumlah

11
66jt

Keterangan:
Dan 72jt / 12 = 6jt. Dalam masalah ini sisa uang tersebut harus dibagi kesemua ahli waris kecuali suami dan istri. Dengan perbandingan antara anak perempuan dan ibu maka bagian anak perempuan ditambah 4,5jt dan ibu 1,5jt.

Saham anak perempuan dengan ibu 8. Setelah dikurangi saham suami maka tersisa 54jt, maka 54/8 = 6,75jt.
Blog, Updated at: 07.16

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts