Helmintologi Dalam Perspektif Filsafat Ilmu

Helmintologi Dalam Perspektif Filsafat Ilmu
Kesehatan sesungguhnya adalah hak asasi manusia, di samping kesehatan adalah investasi bagi perorangan, keluarga, dan bangsa. Maknanya adalah pengembangan bidang kesehatan yang include dalam pembangunan bidang kesehatan jika tidak mengindahkan dampak positif dan dampak negatif terhadap kesehatan manusia, kesehatan lingkungan, kesehatan sosial, dan kesehatan budayanya merupakan bentuk dari pelanggaran hak asasi manusia. United Nation Development Program (UNDP) menyatakan bahwa Human Development Index (HDI) sesungguhnya merupakan etalase dari kesejahteraan sebuah negara dan bangsa; dengan damai makronya: kesehatan, pendidikan, dan ekonomi (in come) penduduk (Hapsara, 2004). 

Pembangunan kesehatan dalam kaitannya dengan konteks demokratisasi, desentralisasi dan globalisasi, sesungguhnya perlu memperhatikan 3 hal sebagai berikut: 
  1. Prinsip-prinsip dasar yang merupakan nilai-nilai kebenaran dengan aturan pokok yang berlaku sebagai landasan utama berfikir dan bertindak dalam pembangunan kesehatan. 
  2. Kejelasan transformasi pembangunan kesehatan di masa depan yang diharapkan dapat mempersatukan berbagai upaya kesehatan secara terencana dan menyeluruh. 
  3. Sinergisme upaya-upaya kesehatan yang bersifat dinamis, yaitu upaya kesehatan yang dikembangkan dan dilaksanakan secara terarah, terkait, dan demokratis (Hapsara, 2004). 
Ditegaskan lagi oleh Hapsara (2004), bahwa untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010, telah ditetapkan empat misi pembangunan kesehatan sebagai berikut: 
  1. Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan. 
  2. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. 
  3. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya. 

Dari angka kejadian infeksi geohelminths Soedarto (1992), nampak hampir tersebar merata di seluruh daerah di Indonesia, dengan angka kejadian yang bervariasi. Jika ini dijadikan sebagai dasar bagi penyusunan kebijakan kesehatan masyarakat yang ada saat ini, mesti mempertimbangkan pentingnya visi-visi dan disiplin ilmu-ilmu baru yang dapat membantu upaya memerangi dan mencegah penyakit ini. Ekoepidemiologi adalah salah satu dari disiplin ilmu tersebut. 

Kajian Helmintologi dengan menggunakan pendekatan ekoepidemiologi yang menitikberatkan pada keterkaitan hubungan antara inang (host), agen (agent), dan lingkungan (environment) yang terkondisikan atau membantu perkembangbiakan suatu penyakit, perlu digunakan secara lebih luas pada kesehatan masyarakat sebagai suatu kebijakan dalam melakukan pengontrolan secara terintegrasi yang nyata terhadap masalahmasalah kesehatan masyarakat. Pengontrolan dapat dilakukan secara terintegrasi yakni dengan menggunakan jasa satelit bagi penginderaan epidemiologi, Sistem Informasi Geografis (SIG), medical geography, biometeorologi, kesehatan lingkungan, serta integrasi di antara kesemuanya itu. 

Dengan menggunakan pendekatan ekoepidemiologis, yang didukung oleh data penginderaan jauh dan aplikasi SIG, diharapkan gejala atau kejadian infeksi geohelminth yang bervariasi ini dapat dijelaskan melalui suatu penelitian prospektif. Penelitian dilakukan dengan menitikberatkan pengamatannya pada perubahan dan penyebaran spesifik lingkungan geohelminth tersebut dalam hubungannya dengan konsentrasi telur dan larva geohelminth di tanah serta pengaruhnya terhadap prevalensi infeksi geohelminth di masyarakat. BroBasmussen (1984), dan Morales (2006), mengatakan bahwa ekoepidemiologi adalah suatu konsep baru sebagai analogi bagi epidemiologi manusia. Hingga saat ini disiplin ini masih semata diterapkan sebagai suatu kegiatan akademis, belum diterjemahkan ke dalam kebijakan-kebijakan kesehatan masyarakat di banyak negara. Upaya-upaya untuk mengaitkan kebijakankebijakan kesehatan masyarakat dengan ekoepidemiologi bagi suatu pengontrolan secara luas dan cepat terhadap penyakit terkait lingkungan telah dilakukan sejak lama. Di Venezuela misalnya, sudah mulai dilakukan penerapan visi-visi ekoepidemiologi dalam praktik keseharian dari kesehatan masyarakat. 

Bagaimana penerapan pendekatan ekoepidemiologi di Indonesia, yang didukung oleh data penginderaan jauh dan aplikasi SIG? Pendekatan ekoepidemiologis ini di Indonesia sesungguhnya juga masih lebih banyak menjadi percakapan pada tataran akademis yang masih perlu diterjemahkan dalam tingkatan pengambilan keputusan dan kebijakan. Mengingat pendekatan ekoepidemiologis yang didukung oleh data penginderaan jauh dan aplikasi SIG, dengan menitikberatkan pengamatannya pada perubahan dan penyebaran spesifik lingkungan geohelminths dalam hubungannya dengan konsentrasi telur atau larva geohelminths di tanah serta pengaruhnya terhadap prevalensi infeksi geohelminth di masyarakat, belum pernah dilakukan apalagi di daerah daerah otonomi maka perlu dilakukan penelitian terlebih dahulu. 

Pemilihan topik kajian helmintologi dalam perspektif filsafat ilmu dapat dijadikan bahan referensi bagi para mahasiswa yang ingin mendalami bidang ilmu epidemiologi, parasitologi (khususnya geohelminth), dan medical geography. Hasil penelitian bidang ini dapat dipergunakan sebagai database, oleh pihak Dinkes dalam menentukan prioritas Rencana Strategis tahunan, jangka menengah, maupun jangka panjang ke depan. Melalui aplikasi teknologi remote sensing dan SIG, pihak Dinkes dapat melakukan pengontrolan dinamika geohelminth secara akurat dan cepat. Dapat juga digunakan sebagai pedoman bagi petugas kesehatan dalam menentukan prioritas penyuluhan dan isi pesan pemberantasan penyakit cacing, terutama yang penularannya melalui tanah. 

Filsafat Ilmu dan Pengetahuan 
Ilmu, seperti dikemukakan oleh Suriasumantri (1980) adalah merupakan kumpulan pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan ilmu dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya. The Liang Gie (1991), mengemukakan bahwa ilmu merupakan aktivitas manusia, suatu kegiatan melakukan sesuatu yang dilaksanakan orang atau lebih tepat suatu rangkaian aktivitas yang membentuk suatu proses. The Liang Gie (1991) juga menyimpulkan bahwa ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa angka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, ataupun melakukan penerapan. 

Perlu kiranya dibedakan antara pengertian ilmu (science) dengan pengetahuan (knowledge). Alfandi (2001) menyebutkan bahwa ilmu adalah sistem pengetahuan di bidang tertentu, yang bersifat umum, sistematis, metodologis, logis, umum, untuk mencapai kebenaran dan kebahagiaan hidup manusia. Dengan kata lain ilmu adalah kumpulan pengetahuan yang menjelaskan hubungan kausal suatu obyek berdasarkan metode tertentu yang merupakan satu kesatuan sistematis. 

Pengertian pengetahuan, masih menurut Alfandi (2001) adalah pembentukan pola pikir asosiatif antara pikiran dan kenyataan yang didasarkan pada kumpulan pengalaman manusia di suatu bidang tertentu tanpa memahami adanya hubungan kausal yang hakiki dan universal, yang belum dapat digolongkan sebagai ilmu, karena belum menjawab pertanyaan sebagai dasar ilmu, yaitu; mengapa. 

Dalam keseharian kita, pengertian ilmu pengetahuan biasanya yang dimaksudkan adalah dengan ilmu. Jadi di sini biasanya disebutkan ilmu pengetahuan, yang jika didefinisikan adalah suatu pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis (sistem pengetahuan) yang terdiri dari sekumpulan pengetahuan di bidang tertentu, yang mempunyai metode tertentu, yang ditujukan untuk mencapai kebenaran (ilmiah) dan secara pragmatis dapat digunakan untuk mencapai kebahagiaan umat manusia” (Alfandi, 2001). 

Lebih lanjut, Archie. J. Bahm, dalam bukunya What is Science mengemukakan enam komponen dari ragam bangun ilmu pengetahuan yaitu; 
  1. Adanya masalah, 
  2. Adanya sikap ilmiah, 
  3. Menggunakan metode ilmiah, 
  4. Adanya aktivitas, 
  5. Adanya kesimpulan, dan 
  6. Adanya pengaruh. 
Dalam kaitannya dengan itu semua, secara lebih tegas Suriasumantri dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM (1996), mengatakan bahwa semua pengetahuan apakah itu ilmu, seni, atau pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga landasan yaitu; ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi membahas tentang apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang ada. Dasar ontologis dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi obyek penelaahan ilmu. Epistemologi membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, epistemologi adalah suatu teori pengetahuan. Aksiologi membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkannya. 

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Helmintologi 
Disebutkan oleh Suriasumantri (1996), bahwa pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga landasan yaitu; ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Kajian bidang Helmintologi pun akan ditinjau dari tiga landasan tersebut. Ontologi membahas tentang apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang ada. Dasar ontologis dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi obyek penelaan ilmu tentang kecacingan tersebut. Dari pemahaman tersebut maka kajian ontologi hakikat dan struktur pengetahuan tentang kecacingan (helmintologi) tersebut. 

Hakikat 
Helmintologi adalah ilmu cabang dari parasitologi, yang dalam bidang kedokteran dikenal sebagai ilmu yang mempelajari infeksi kecacingan pada manusia, apakah itu menyangkut infeksi kecacingan, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya infeksi kecacingan, dampak yang ditimbulkan oleh infeksi karena cacing, serta upaya pencegahan dan pengobatan infeksi kecacingan tersebut. 

Helmintologi, diadopsi dari kata helmintos yang artinya cacing, dan logos yang artinya ilmu. Sementara Parasitologi berasal dari kata parasitos yang artinya organisme yang mengambil makan, dan logos yang artinya ilmu, telaah. Dalam kaitan dengan masalah kesehatan, maka parasitologi medik mempelajari parasit yang menghinggapi manusia dapat menyebabkan penyakit dan bahkan kematian (Jangkung, 2002). 

Masalah kecacingan di masyarakat, selalu identik dengan kondisi sanitasi dan personal hygiene. Karena identik itulah maka permasalahan tentang kecacingan di Indonesia berbeda dari suatu masyarakat ke masyarakat  lainnya. Dalam lingkungan masyarakat tertentu, ada mitos bahwa anak-anak tidak boleh memakan daging ikan terlalu banyak sebab nantinya akan menderita kecacingan, sebab cacing dalam perut manusia suka sekali terhadap daging ikan. Mitos ini sebenarnya mengandung maksudnya bahwa dalam kondisi ekonomi masyarakat yang lemah untuk membelanjakan kebutuhan makanan keluarga tiap hari, pengaturannya harus secara pasti. Pemaknaan mitos ini mengandung pengertian bahwa membelanjakan makan untuk keluarga setiap hari harus dikelola secara bijaksana. Jadi tiap orang dalam keluarga sudah mempunyai jatah makanan masingmasing mulai dari yang usianya paling tua sampai ke anak-anak. 

Mitos kecacingan karena terlalu banyak makan ikan ini sampai sekarang masih tetap dipraktikkan dalam keluargakeluarga sederhana di desa-desa di Indonesia sebagai upaya untuk membangun pola hidup hemat, tidak boros, tidak menyia-nyiakan makanan sebagai suatu anugerah Tuhan. Pada sisi lainnya, dari sudut pandang ilmu kesehatan justru anak tersebutlah yang membutuhkan intake zat gizi lebih sebab dia berada dalam masa tumbuh-kembang. 

Struktur Helmintologi 
Yang dibicarakan di dalam struktur helmintologi di sini adalah membicarakan sistematika ilmu tentang kecacingan itu sendiri. 

 Parasit cacing termasuk golongan binatang yang mempunyai banyak sel (multiseluler) dan tubuhnya simetris bilateral. Parasit cacing yang penting bagi manusia dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan besar yaitu filum Platyhelminthes dan filum Nemathelminthes. Di dalam filum Platyhelminthes terdapat dua kelas yang penting: kelas Cestoidea dan kelas Trematoda. Sedangkan di dalam filum Nemathelminthes yang penting adalah kelas Nematoda. 

Epistemologi Helmintologi 
Epistemologi menurut Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM (1996) disebutkan juga sebagai teori pengetahuan (theory of knowledge) (Tim Dosen, 1996). Selanjutnya oleh tim tersebut disebutkan pula bahwa persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 
  1. Bagaimana manusia dapat mengetahui sesuatu, 
  2. Dari mana pengetahuan itu diperoleh,
  3. Bagaimana validitas pengetahuan itu dapat dinilai, 
  4. Apa perbedaan antara pengetahuan apriori (pengetahuan pengalaman) dengan pengetahuan aposteriori atau pengetahuan purnapengalaman (Tim Dosen, 1996). 
Dari pemahaman tersebut maka kajian epistemologi helmintologi meliputi; obyek helmintologi, cara memperoleh pengetahuan tentang helmintologi, ukuran kebenaran pengetahuannya. 

Obyek Helmintologi 
Obyek pengetahuan sains seperti dikutip oleh Ahmad Tafsir dari Jujun. S. Suriasumantri (1994) mengatakan bahwa obyek pengetahuan sains atau obyek yang diteliti sains ialah semua obyek yang empiris (Tafsir; 2004). Aplikasinya dalam bidang helmintologi adalah; host yang dalam hal ini adalah manusia, agent adalah cacing itu sendiri, dan environment atau lingkungan. Secara lebih terperinci akan dibatasi uraian ini tentang geohelminth, atau ada yang menyebutnya soil transmitted helminths, ataupun soil mediatted helminths. 

Dari golongan cacing-cacing yang penularannya melalui tanah, ada tiga jenis yang menimbulkan masalah kesehatan masyarakat, oleh karena prevalensinya tinggi. Dan ini dapat dipakai sebagai indikator sosial ekonomi masyarakat, dan sanitasi lingkungan yang jelek. Ketiga jenis tersebut ialah: Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Trichuris trichiura (cacing cambuk), dan Hookworm (cacing kait). 

Pada prinsipnya usaha untuk pemberantasan cacing dapat dilakukan dengan memutuskan rantai daur hidup dari cacing-cacing yang hendak diberantas. 

Ascaris lumbricoides 
Nama Indonesia cacing ini adalah cacing gelang. Infeksi dengan cacing ini disebut ascariasis. 

Parasit cacing paling sering ditemukan pada manusia dan penyebarannya dapat sangat luas di daerah tropik, yang beriklim panas dan lembab maupun di daerah subtropik yang keadaan lingkungan hidupnya sesuai. Di daerah pedesaan Indonesia, prevalensi infeksi cacing ini dapat mencapai 90%, sementara di kota di mana lahan tanahnya lebih sempit umumnya lebih rendah (Soedarto, 1992). 

Manusia akan terinfeksi bila menelan minuman atau makanan yang terkontaminasi dengan telur yang infektif. Sedangkan pada anak-anak biasanya lewat tangannya yang terkontaminasi dengan tanah yang telah tercemar telur cacing, telur yang infektif tadi akan menetas di dalam usus halus dan keluarlah “larva rabditiform” yang akan menembus dinding usus dan masuk ke vena kecil atau pembuluh limfa. Untuk memberantas cacing harus memutuskan rantai daur hidupnya, yang dapat dilakukan dengan dua metode yaitu pencegahan dan pengobatan. 

Trichuris trichiura 
Nama Indonesia cacing ini adalah cacing cambuk karena bentuknya mirip cambuk. Infeksi dengan cacing ini disebut trikuriasis. 

Trichuris trichiura tersebar luas di daerah tropik yang panas dan lembab. Frekuensi tertinggi didapatkan pada daerah dengan hujan lebat dan sering, kelembaban yang tinggi, teduh dan tanah yang basah. Di Indonesia sangat tinggi yaitu di daerah pedesaan, serta di wilayah kumuh di daerah perkotaan. 

Telur Trichuris tak tahan terhadap sinar matahari langsung dan akibat kekeringan. Infeksi terjadi apabila telur yang berisi embrio tertelan dengan perantaraan tangan, makanan atau minuman dan alat permainan anak-anak yang berkontaminasi. Cacing dewasa hidup di usus besar manusia, terutama di daerah sekum dengan membenamkan kepalanya di dalam dinding usus. Kadang-kadang cacing didapatkan hidup di apendiks dan illeum bagian distal. 

Sumber penularan trikuriasis adalah manusia untuk manusia lainnya. Trikuriasis pada hewan tidak menular pada manusia. Telur yang keluar bersama tinja penderita belum mengandung larva, oleh karena itu belum infektif. Bila lingkungannya terutama temperatur, kelembaban dan keteduhan kurang menguntungkan maka pertumbuhan telur akan terlambat sampai beberapa bulan. 

Cacing Kait (Hookworm) 
Nama cacing ini diberikan karena bentuknya seperti kaitan yang diterjemahkan juga dari kata hook-woorm. Ada juga yang menamakannya dengan nama cacing tambang. Nama tersebut diperoleh karena cacing ini sering menghinggapi para pekerja di tambang di Eropa yang di masa lalu belum memiliki fasilitas sanitasi yang baik. Ada dua spesies yang merupakan parasit pada manusia yaitu Anclylostoma duodenale dan Necator americanus. 

Faktor-faktor yang menguntungkan penyebaran cacing kait: 
  • Adanya sumber penularan yaitu orangorang yang mengandung cacing tambang ini dalam ususnya. 
  • Cara/kebiasaan berak, sehingga telur cacing tambang ini jatuh pada tempat yang menguntungkan untuk pertumbuhan selanjutnya. 
  • Tanah pasir atau campuran tanah liat dan pasir yang mengandung humus merupakan tempat pembiakan yang baik untuk larva cacing tambang.
  • Iklim panas, kelembaban rendah dan curah hujan 30 s.d. 40 inci, lingkungan yang teduh sangat cocok untuk tempat pertumbuhan larva. 
  • Adanya kesempatan untuk kontak antara larva filariform yang infektif dengan kulit manusia. Penduduk yang miskin dengan tingkat pendidikan yang rendah di mana mereka tidak biasa menggunakan alas kaki terutama untuk penduduk pedesaan, sangat mudah terinfeksi dengan cacing tambang. 
Cara Memperoleh Pengetahuan tentang Gohelminth Perkembangan sains pada awalnya didorong oleh paham humanisme, kemudian secara berturut-turut rasionalisme, empirisme, dan positivisme yang memerlukan alat untuk membuktikan logikanya, mengajukan bukti empirisnya yang terukur, dan sebagai alatnya ialah metode ilmiah (Tafsir, 2004). Oleh Archi J. Bahm, disebutkan bahwa; metode ilmiah meliputi 5 langkah yaitu; 
  • Menyadari akan masalah, 
  • Menguji masalah, 
  • Mengusulkan solusi, 
  • Menguji usulan atau proposal, 
  • Memecahkan masalah (Archi. J. Bahm: 17). 
Dengan demikian aplikasinya dalam bidang geohelminth atau dengan kata lain untuk memperoleh pengetahuan tentang geohelminth dipergunakan metode ilmiah yang dalam hal ini dapat disebutkan satu contoh metode ilmiah yang dapat dipergunakan dengan melibatkan sejumlah bidang pengetahuan terkait. Rancangan penelitian yang dapat dikembangkan adalah penelitian Cohort selama satu tahun. 

Dipilihnya desain ini, karena tujuan penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara kondisi ekoepidemiologi (faktor risiko) dengan konsentrasi telur dan larva geohelminth di tanah (efek), juga antara konsentrasi telur dan larva geohelminth di tanah (faktor risiko) dengan prevalensi dan insidens geohelminth di masyarakat (efek), dengan pendekatan longitudinal ke depan atau pendekatan prospektif.  
Blog, Updated at: 01.54

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts