Inovasi Dan Difusi Teknologi Agroforestri

Inovasi Dan Difusi Teknologi Agroforestri
Agroforestri secara ekonomi, sosial dan lingkungan penting bagi masyarakat pedesaan di Indonesia. Sistem ini telah lama digunakan oleh petani dan menjadi sistem pengelolaan lahan yang memberikan sumber penghasilan, memenuhi kebutuhan makanan, tanaman obatobatan, pakan ternak, kayu bakar dan berbagai hasil hutan atau kebun ikutan lainya. Agroforestri juga memiliki peran penting bagi lingkungan, seperti konservasi keanekaragaman hayati, ketersediaan sumber air dan penyerapan karbon. 

Namun, sebagaimana umumnya petani kecil di Indonesia, petani agroforestri menghadapi permasalahan dalam pengelolaan lahan mereka seperti sempitnya lahan dan tingkat produktivitas pertanian yang rendah sehingga berdampak pada rendahnya pendapatan petani. Keterbatasan dalam manajemen dan penerapan inovasi teknologi menjadi salah satu penyebab rendahnya nilai tambah dari produk agroforestri.

Inovasi teknologi agroforestri sangat diperlukan terutama untuk 
  1. Meningkatkan hasil dan kualitas produksi tanaman, 
  2. Diversifikasi produk dari agroforestri, 
  3. Meningkatkan nilai tambah, 
  4. Meningkatkan jalur dan potensi pasar, 
  5. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, dan 
  6. Meningkatkan fungsi konservasi lingkungan dari agroforestri. 
Untuk mencapai hasil yang optimum, difusi teknologi agroforestri perlu dilakukan kepada petani. Difusi teknologi agroforestri untuk petani di Indonesia berpotensi memberikan dampak positif untuk peningkatan produksi dan pendapatan petani. Namun, teknologi ini akan memiliki dampak yang lebih besar jika petani dapat mengadopsi teknologi tersebut. Keberhasilan adopsi teknologi agroforestri dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti faktor teknis, ekonomi dan sosial budaya. 

Tujuan penulis ini adalah mendiskusikan tentang inovasi, difusi dan adopsi teknologi agroforestri sebagai upaya untuk meningkatkan nilai tambah produk agroforestri dan pendapatan masyarakat, serta proses difusi dan faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi teknologi agroforestri.

Inovasi dan difusi teknologi agroforestri 
1. Inovasi teknologi agroforestri 
Agroforestri dapat didefinisikan sebagai sistem penggunaan lahan terpadu, yang memiliki aspek sosial dan ekologi, dilaksanakan melalui kombinasi pepohonan dengan tanaman pertanian dan/atau ternak (hewan), baik secara bersama-sama atau bergiliran, sehingga dari satu unit lahan tercapai hasil total nabati atau hewani yang optimal dalam arti berkesinambungan (Nair, 1993). Teknologi agroforestri dapat didefinisikan sebagai sebuah perbaikan melalui intervensi ilmiah untuk baik memodifikasi sistem yang ada atau mengembangkan yang baru (Nair, 1993). 

Menurut UU No. 18 tahun 2002, inovasi adalah kegiatan penelitian, pengembangan, dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi. Jadi, pada prinsipnya inovasi teknologi agroforestri adalah kegiatan terkait dengan pengembangan dan penerapan teknologi untuk meningkatkan atau memperbaiki sistem agroforestri. Teknologi ini biasanya digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh petani dalam upaya memaksimalkan produktivitas lahan. 

Teknologi agroforestri dapat bervariasi dan tergantung pada masalah dan kebutuhan di lapangan. Berbagai jenis teknologi terkait dengan kebutuhan spesifik petani, persyaratan lingkungan, ruang dan waktu (Sanchez, 1995). Misalnya, masalah kesuburan tanah yang rendah dapat diatasi dengan pengenalan berbagai teknologi seperti sistem pupuk organik atau pupuk hijau. Untuk meningkatkan pendapatan petani, kombinasi pohon bernilai tinggi, pertanian dan silvopasture dapat diterapkan. Teknologi lain seperti pemilihan jenis tanaman potensial baru, pengenalan bibit tanaman dengan potensi produksi tinggi ke dalam sistem agroforestri. 

Teknologi juga diterapkan untuk pengolahan dan nilai tambah produk agroforestri. Teknologi agroforestri memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan praktek pertanian (Nair, 1993). Sistem agroforestri dengan kombinasi pohon dan tanaman pertanian dan atau hewan menjadikan agroforestri lebih kompleks dari pertanian. Agroforestri lebih multi-komponen dan multi-produk dan memiliki karakteristik yang terkait dengan berbagai proses ekonomi, sosial dan ekologis (Mercer, 2004; Sanchez, 1995) sehingga harus dikelola secara intensif. 

Oleh karena itu, teknologi agroforestri perlu didifusikan kepada petani melalui berbagai tahap kegiatan. Tahapan difusi teknologi baru kepada petani memiliki peran penting dalam proses adopsi dan merupakan salah satu kunci sukses adopsi oleh petani. Untuk memahami difusi dan adopsi teknologi baru, teori difusi inovasi yang disampaikan Rogers (2003) dapat dijadikan sebagai salah satu acuan. 

2. Difusi teknologi agroforestri 
Penerapan difusi inovasi model yang diusulkan oleh Rogers (2003) memberikan kerangka untuk menjelaskan bagaimana teknologi baru didifusikan dan diadopsi. Konsep ini juga berlaku dalam ilmu agroforestri (Baig et al., 2005). Rogers (2003) mendefinisikan difusi sebagai "proses di mana teknologi baru dikomunikasikan melalui saluran tertentu dari waktu ke waktu kepada masyarakat dalam suatu sistem sosial"

Ada empat unsur utama dalam difusi teknologi, yaitu : 
  1. Inovasi teknologi Rogers (2003) mendefinisikan inovasi merupakan gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Karakteristik inovasi teknologi berperan dalam tingkat adopsi oleh seseorang, yaitu keunggulan relatif (relative advantage), kompatibilitas (compatibility), tingkat kerumitan (complexity), kemampuan untuk diuji cobakan (trialability) dan kemampuan diamati (observability). 
  2. Saluran komunikasi Teknologi baru harus dikomunikasikan kepada pengadopsi potensial melalui saluran komunikasi. Komunikasi didefinisikan sebagai "suatu proses di mana orang membuat dan berbagi informasi satu sama lain untuk mencapai saling pengertian/pemahaman" (Rogers, 2003). 
Komunikasi dapat dilakukan secara individu atau interpersonal terutama jika ditujukan untuk mengubah sikap atau perilaku penerima teknologi secara personal, atau secara masal yaitu jika ingin menyebarkan informasi teknologi kepada banyak orang pada saat yang sama. Komunikasi memiliki peran penting untuk membentuk dan mengubah sikap pengadopsi potensial dan mempengaruhi keputusan tidak atau mengadopsi teknologi baru (Rogers, 2003)

3) Waktu 
Jangka waktu ini merupakan proses keputusan seseorang untuk mengadopsi inovasi dari mulai seseorang mengetahui sampai memutuskan untuk mengadopsi atau menolaknya, dan pengukuhan (konfirmasi) terhadap keputusan itu. Dalam proses difusi inovasi teknologi Rogers (2003) memberikan tahapan adopsi teknologi yaitu pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi dan konfirmasi. Waktu yang dibutuhkan oleh petani untuk mengadopsi teknologi berbeda-beda diperhitungkan yaitu perbedaan waktu yang dibutuhkan oleh petani untuk mengadopsi teknologi baru. Dalam difusi teknologi agroforestri, peranan waktu sangat penting karena tanaman tahunan sebagai komponen agroforestri memerlukan waktu yang lama untuk menghasilkan produk, sehingga petani juga memerlukan waktu yang lama untuk mengadopsi teknologi agroforestri yang baru. 

Di satu sisi, jangka waktu yang lama akan memberikan kesempatan kepada petani untuk mempelajari dan mengkaji teknologi tersebut sebelum mengadopsi (Vosti et al., 1997, Ajayi et al., 2006) sehingga keraguan petani berkurang melalui waktu dan pengalaman, dan petani lebih percaya diri mengadopsi teknologi baru (Feder dan Umali, 1993). Namun, waktu lebih lama dan komplikasi dari proses tersebut juga dapat menyebabkan adopsi lebih lambat oleh beberapa petani (Amacher et al., 2004), terutama bagi petani yang memiliki lahan terbatas atau tidak memiliki pekerjaan alternatif untuk mendukung hidup mereka selama masa tunggu. 

4) Sistem sosial 
Sistem sosial didefinisikan "sebagai satu set unit yang saling terkait yang terlibat dalam pemecahan masalah secara bersama untuk mencapai tujuan bersama" (Rogers, 2003). Semua difusi terjadi dalam suatu sistem sosial, yang anggotanya dapat berupa individu, kelompok informal, organisasi, atau subsistem, tetapi yang mempunyai tujuan yang sama (Dearing, 2009; Rogers, 2003). 

Sosial budaya petani perlu diperhatikan ketika teknologi akan didifusikan. Design teknologi dapat dimodifikasi dan disesuaikan dengan sosial budaya, pengetahuan dan kearifan lokal sehingga petani dapat mengadopsi dan menerapkan teknologi tersebut sesuai dengan kondisi sosial dan budaya yang dimiliki. 
Blog, Updated at: 08.37

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts