KEMASAN DAN TEKNOLOGI PEMBELAJARAN MELALUI TEKNOLOGI INFORMASI

KEMASAN DAN TEKNOLOGI PEMBELAJARAN MELALUI TEKNOLOGI INFORMASI
Proses pembelajaran di sekolah selama ini selalu menempatkan siswa sebagai objek yang harus diisi oleh sejumlah ragam informasi dan sejumlah bahan-bahan ajar setumpuk lainnya. Terjadi komunikasi hanya satu arah yaitu antara guru ke siswa dengan membelajarkan melalui pendekatan ekspositori yang merupakan andalan dalam metode pembelajaran. Interaksi pembelajaran guru-siswa semacam ini sudah berlangsung lama yang berdampak verbalisme semakin merajalela. Pembelajaran seperti ini masih bersifat konvensional karena keterlibatan guru dengan siswa dalam suatu ruang kelas dalam bentuk tatap muka langsung sesuatu yang amat penting. 

Hingga Mochtar Buchori (2000) telah mengkritik kondisi pendidikan di Indonesia yang telah merampas kreativitas dan daya tarik siswa, sekolah cenderung kurang terarah dikarenakan kurikulum yang tidak serasi, malahan sekolah cenderung bersifat menunggu perkembangan. Seiring dengan perkembangan teknologi terutama kemajuan teknologi komunikasi yang menyebabkan sistim penyampaian materi pelajaran dapat dilakukan tanpa harus tatap muka antara guru dengan siswa, akan tetapi bentuk belajar yang terpisah antara guru dengan siswa tetapi dilakukan bersamaan, itulah pembelajaran jarak jauh (distance learning), seperti tutorial computer based, teleconfrence, correspondence cources, we based training dan e-learning. 

Perkembangan teknologi pembelajaran seperti ini memunculkan pembelajaran berbasis komputer, yang menyajikan kemasan bahan pembelajaran dalam bentuk hypermedia dan tidak terkecuali pembelajaran melalui internet seperti electronic mail. Kondisi ini dalam pembelajaran sangat menguntungkan terutama peserta didik akan terangsang untuk belajar, terjadi keaktipan belajar siswa, malahan siswa akan belajar lebih kreatif karena sumber belajar sangat bervareasi. 

A. Hakikat Kemasan Bahan Belajar melalui Teknologi Informasi 
Secara singkat, bahan belajar dapat diterjemahkan sebagai seperangkat material yang digunakan oleh seseorang untuk melakukan kegiatan belajar. Hamalik (1995) menempatkan bahan belajar sebagai bagian dari unsur-unsur dinamis dalam proses belajar disamping motivasi siswa, alat bantu belajar, suasana belajar dan kondisi subjek belajar.Bahan belajar menurut Hamalik, merupakan unsur belajar yang penting diperhatikan oleh guru. Melalui bahan tersebut, siswa dapat mempelajari hal-hal yang diperlukan dalam upaya mencapai tujuan belajar. Untuk itu, penentuan bahan belajar harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai apakah berupa pengetahuan, keterampilan, sikap atau pengalaman lainnya. 

Pada proses pembelajaran di sekolah, bahan-bahan belajar ini biasanya sudah digariskan dalam GBBP atau silabus. 
1. Teknologi Informasi dalam Pembelajaran 
Istilah TI (Teknologi Informasi) lahir pada abad ke duapuluh yang diawali dengan terbentuknya masyarakat informasi. Istilah TI yang menggunakan kata informasi, pada dasarnya sangat berkaitan dengan istilah TK (Teknologi Komunikasi) yang dikenal lebih dulu. Kita melihat ada teknologi komunikasi yang berfungsi untuk menyalurkan informasi, ada teknologi komunikasi yang berfungsi sebagai pengolah informasi dan ada juga teknologi komunikasi yang berfungsi sebgai penyimpan dan pengolah informasi. Fungsinya yang terakhir inilah menyebabkan kemudian ada orang yang menyebutkan teknologi komunikasi sebgai teknologi informasi. 

Menurut Richard Weiner dalam Webster,s New World Dictionary and Communications disebutkaaan bahwa teknologi informasi adalah pemrosesan, pengolahan dan penyebaran data oleh kombinasi komputer dan telekomunikasi. Teknologi informasi lebih kepada pengerjaan terhadap data. TI menitikberatkan perhatiannya kepada bagaimana data diolah dan diproses dengan menggunakan komputer dan telekomunikasi. Dengan demikian semakin jelas bahwa kelahiran istilah TI didasari perkembangan teknologi pengolahan data. Bila teknologi komunikasi merupakan alat untuk menambah kemampuan orang berkomunikasi, maka teknologi informasi adalah pengerjaan data oleh komputer dan telekomunikasi. 

Pemisahan istilah ini secara moderat ditunjukkan oleh organisasi sarjana komunikasi internasional (International Communication Associaton) yang mengelompokan sarjana komunikasi yang menekuni bidang teknologi komunikasi dalam divisi “ Communication and Technology”, sedangkan sarjana komunikasi yang menekuni teknologi informasi dikelompokkan kedalam divisi “Sistem Informasi”. (Abrar, 2001). Dalam konteks yang lebih luas, teknologi informasi merangkum semua aspek yang berhubungan dengan mesin (komputer dan telekomunikasi). Berkaitan dengan aspek kemasan (package), maka informasi yang diolah dan disampaikan oleh komputer untuk kepentingan belajar inilah yang dikemas melalui sebuah proses pengemasan. 

2. Pengembangan Bahan Pembelajaran 
Bahan ajar atau learning materials merupakan bahan pembelajaran yang secara langsung digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, bahan ajar yang lazimnya berisikan tentang semua cakupan materi dari semua mata pelajaran. Bahannya sendiri merupakan media atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pembelajaran, bisa berupa pesan visual, audio maupun pesan audio visual. Secara umum media dapat digunakan untuk menyampaikan pesan, dapat dikatagorikan menjadi dua, yaitu bahan ajar yang tercetak (printed materials) dan bahan ajar yang tidak tercetak (non printed materials). 

Dalam hal ini, bahan ajar dapat dikembangkan sebagai bahan ajar yang diproyeksikan sebagai bahan ajar kategori pertama (printed materials), walaupun bahan belajar itu akan dikembangkan sebagai bahan belajar ditransfer untuk kepentingan pembelajaran melalui internet atau e-learning. Bahan ajar termasuk pada kategori instrumental input, yang berperan sebagai penopang dan merupakan sub sistem bagi implementasi kegiatan pembelajaran. Bahan ajar ini tidak hanya digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar, akan tetapi harus dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran siswa secara individual. Siswa dalam hal ini dapat mempelajari tujuan pembelajaran, materi pelajaran, dan menilai ketercapaian atau keberhasilan kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Bahan ajar yang dikembangkan harus sesuai dengan kurikulum suatu mata pelajaran, digunakan sebagai sumber utama pembelajaran seperti buku teks, ataupun bahan ajar yang sifatnya penunjang untuk kepentingan pengayaan atau bahan ajar yang berkatagori suplemen (penunjang).

Bahan ajar sebagai sumber utama, siswa tidak perlu bersusah payah untuk mencari sumber lain, mereka cukup mempelajari bahan ajar utama dengan teliti. Penggunaan bahan ajar berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar bisa dibagi kedalam dua kategori, yaitu katagori bahan ajar yang digunakan dalam KBM dengan bimbingan lansung dari guru, seperti penggunaan buku teks sebagai bahan tatap muka. Kedua, bahan ajar yang digunakan siswa untuk belajar mandiri(individual study) tanpa bantuan guru, misalkan penggunaan modul atau bahan ajar lainnya yang dirancang secara khusus seperi BBM (Bahan Belajar Mandiri). Bahan pembelajaran dapat dikatagorikan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok bahan tercetak dan kelompok ban non cetak. Yang termasuk bahan tercetak antara lain berupa buku, modul, paket berprograma, komik, cergam, poster, dan leaflet, sedangkan yang termasuk pada bahan ajar non cetak seperti: kaset audio, kaset video, vcd dan film. 

Karakteristik bahan pembelajaran cetak adalah: 
  1. Bahan ajar yang ditujukan untuk kepentingan kurikuler, instruksional, dan pengembangan ilmu, 
  2. Bahan ajar juga mengakomodasikan sumber-sumber daya (potensi) daerah tanpa mengabaikan poin terdahulu, 
  3. Bahan ajar yang mengoptimalkan pembelajaran mandiri, khususnya siswa, 
  4. Bahan ajar dapat memberikan pengayaan, khususnya bagi kegiatan belajar siswa, melalui pemberian tugas, dan rujukan sumber lain yang disarankan, dan 
  5. Bahan ajar yang dikembangkan adalah baghan ajar yang pembaca utamanya siswa. 
B. Prosedur Pengembangan Bahan Ajar 
a.. Persiapan 
Untuk menyusun suatu bahan ajar ada beberapa hal yang perlu disiapkan, khususnya yang berkaitan dengan kurikulum/GBPP, materi bahan ajar, dan sumber-sumber lain yang sekiranya akan diperlukan dalam penulisan bahan ajar, seperti: photo, gambar, bagan, atau yang lainnya. Langkah pertama yang perlu disiapkan dan dipelajari tatkala akan menyusun bahan ajar adalah kurikulum/GBPP dari suatu bidang studi/mata pelajaran yang akan disusun bahan ajarnya. Kurikulum digunakan sebagai acuan, baik yang berkaitan dengan tujuan mata pelajaran, tujuan setiap topik (TPU), struktur materi bahan ajar, rancangan strategi/metode, dan pengembangan untuk kegiatan evaluasi. 

Setelah kurikulum/GBPP di atas dipahami, langkah selanjutnya adalah mempelajari struktur materi dari bahan ajar yang dikembangkan, yakni terkait dengan scope dan sequence. Kedua hal ini harus dikembangkan sedemikian rupa dengan memperhatikan aspek-aspek metodologis dan psikologis anak didik. Langkah terakhir pada tahap persiapan ini adalah mengumpulkan berbagai sumber yang diperlukan, baik yang terkait dengan buku-buku, jurnal, makalah, dan bahan-bahan lain yang akan digunakan sebagai pelengkap bagi penulisan bahan ajar selanjutnya. 

b. Penulisan Draft Bahan Ajar 
Setelah bahan ajar disusun dan dikembangkan dengan menggunakan model tertentu, tahapan selanjutnya adalah diskusi isi draft bahan ajar. Diskusi dapat dilakukan melalui fokus group discussion (FGD) dalam KKG maupun MGMP dengan melibatkan beberapa ahli terkait, yaitu: ahli materi, ahli bahasa, dan ahli kurikulum. Bahan ajar yang telah didiskusikan dan telah mendapat berbagai masukan dari para ahli, kemudian direvisi sesuai dengan masukan yang ada. 

c. Penyelesaian 
Tahapan akhir dari kajian draft bahan ajar, adalah memperhatikan aspek kebahasaan, keterbacaan (readibility study), kosa kata yang digunakan termasuk tingkat kesulitan bahasa dikaitkan dengan pengguna utama (target audience). Kemudian kelengkapan bahan penunjang lainnya seperti gambar, tabel, dsb. 

C. Pengemasan Bahan Pembelajaran 
Secara leksikal, kata “kemasan” merupakan terjemahan dari bahasa Inggris “package” yang berarti “bungkus”, “pak” atau “paket”. Sedangkan kata”pengemasan” merupakan terjemahan dari kata “packaging” yang berarti mengepak atau membungkus. Dengan demikian kemasan dapat diartikan sebagai produk yang dihasilkan oleh kegiatan atau proses pengemasan yaitu proses desain dan pembuatan kemasan untuk barang eceran. Pengemasan diterapkan sama untuk semua produk konsumsi dan produk industrial. 

 Ada dua alasan utama yang berkaitan dengan fungsi kemasan, yang pertama adalah adanya suatu peradaban yang lebih kompleks dan standar kehidupan yang lebih tinggi yang menjadikan sebuah produk perlu untuk memiliki kemasan yang lebih rapih dalam pengertian fungsional.Yang kedua, kemasan menjadi suatu bagian penting dari proses penjualan atau pendistribusian berkaitan dengan minat pengguna untuk membeli atau menggunakan produk tersebut. Sebuah kemasan yang baik tidak akan menjual apapun jika konsep pengemasannya tidak tepat walaupun tidak berarti menjual produk yang buruk. 

Sedangkan sebuah kemasan yang buruk bisa memberikan citra yang jelek terhadap suatu produk yang sangat baik, bagaimanapun baiknya pemikiran dan konsep pengemasannya. Jika pengemasan akan digunakan semaksimal mungkin dalam proses pemasaran, kemasan harus langsung menampilkan sejumlah fungsi vital, kemasan harus melindungi produk dan menjaganya tetap dalam kondisi yang baik, memberi kesan mudah difungsikan, mudah didistribusikan secara ekonomis, efektif biayanya dan memiliki daya jual. Berdasarkan konsep kemasan dan pengemasan di atas, maka dapat dipahami bahwa aspek kemasan merupakan bagian dari proses perancangan (desain) yang berkaitan dengan fungsi dan penampilansebuah produk. 

Adapun produk yang dimaksud adalah bahan belajar melalui teknologi informasi. Dengan demikian bahan belajar (produk) yang dimaksud harus memenuhi persyaratan terlindungi dan terjaga dalam kondisi yang baik, memberi kesan mudah difungsikan, mudah didistribusikan secara ekonomis, efektif biayanya dan memiliki daya jual. 

D. Kawasan Teknologi Pembelajaran 
Berbagai pendekatan dapat digunakan oleh seorang perancang kemasan bahan belajar, salah satunya adalah dengan menggunakan kawasan teknologi pembelajaran. Dlam kawasan teknologi pembelajaran terdapat lima kawasan yang didasarinya, dimana para peneliti dapat berkonsentrasi pada satu bidang kawasan. Walaupun demikian karena hubungan ini bersifat sinergistik, maka peneliti dapat memfokuskan diri pada satu kawasan atau cakupan dalam kawasan tertentu dan menarik manfaat teori dan praktik dari kawasan yang lainnya. (Seels, 1994). Kawasan –kawasan yang dimaksud adalah kawasan desain, kawasan pengembangan, kawasan pemanfaatan, kawasan pengelolaan dan kawasan penilaian. Hubungan dari masing-masing kawasan dengan kawasan teknologi pembelajaran sebagai kawasan utama dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut: 

KAWASAN TEKNOLOGI PEMBELAJARAN


a. Kawasan Desain 
Kawasan ini seringkali membatasi pada fungsi perencanaan, baik pada tingkat makro dan mikro. Dalam hal penggunaan teknologi, penelitian dan teori desain seringkali mengikuti eksplorasi praktisi mengenai kemuskilan dan kemampuan perangkat keras atau perangkat lunak yang baru. Secara umum desain dalam kawasan teknologi pembelajaran adalah untuk menentukan kondisi belajar. Tujuannya untuk menciptakan strategi produk pada tingkat makro (Program dan kurikulum) dan mikro (pelajaran dan modul). Kawasan desain setidaknya meliputi empat cakupan teori dan praktek. Kawasan desain meliputi studi mengenai desain sistem pembelajaran, desain pesan, strategi pembelajaran dan karakteristik pembelajaran. 

b. Kawasan Pengembangan 
Kawasan pengembangan berakar dari persoalan produksi media. Pengembangan yang dimaksud adalah proses penterjemahan spesifikasi desain ke dalam bentuk fisik. Kawasan ini mencakup berbagai variasi teknologi yang digunakan dalam pembelajaran dan tidak hanya terdiri dari perangkat keras pembelajaran melainkan juga perangkat lunaknya. Kawasan pengembangan pada dasarnya dapat dijelaskan dengan adanya pesan yang didorong oleh isi, strategi pembelajaran yang didorong oleh teori dan manifestasi fisik dari teknologi (perangkat keras dan lunak serta bahan pembelajaran). Dengan demikian teknologi merupakan tenaga penggerak dari kawasan pengembangan yang dapat diorganisasikan dalam empat kategori yaitu teknologi cetak, teknologi audiovisual, teknologi berazaskan komputer dan teknologi terpadu. 

c. Kawasan pemanfaatan 
Kawasan pemanfaatan merupakan kawasan tertua dari kawasan teknologi pembelajaran. Kawasan ini berasal dari gerakan pendidikan visual (visual education movement) dengan didirikannya museum-museum sekolah. Salah satu bentuk konkritnya adalah mempersiapkan pameran untuk tujuan pembelajaran. Fungsi kawasan ini sedemikian penting karena membicarakan kaitan antara pebelajar dengan bahan atau sistem pembelajaran.Fungsi ini sangat kritis karena pemanfaatan oleh pebelajar merupakan satu-satunya alasan dari bahan pembelajaran. 

Mengapa harus bersusah payah dengan pengadaan dan pembuatan bahan pembelajaran jika tidak digunakan atau tidak dapat dimanfaatka. Empat kategori dalam kawasan pemanfaatan ini adalah: pemanfaatan media, difusi inovasi, implementasi dan institusionalisasi (pelembagaan) serta kebijakan regulasi. 

d. Kawasan Pengelolaan 
Kawasan ini meliputi pengendalian teknologi pembelajaran melalui perencanaan, pengorganisasian, pengkordinasian dan supervisi. Kompleksitas pengelolaan berbagai macam sumber, personel, usaha desain maupun pengembangan akan semakin meningkat dengan membesarnya usaha dari sebuah institusi pendidikan. Secara singkat ada empat kategori dalam kawasan pengelolaan yaitu: pengelolaan proyek, pengelolaan sumber, pengelolaan sistem penyampaian dan pengelolaan informasi. 

e. Kawasan Penilaian 
Kawasan ini adalah kawasan dimana terjadi proses penentuan memadai tidaknya pembelajaran dan pembelajar. Penilaian dimulai dengan analisis masalah sebagai langkah awal yang penting dalam pengembangan dan penilaian pembelajaran, karena tujuan dan hambatan dijelaskan dalam langkah ini. Penilaian sebagai komponen terakhir dalam pembelajaran berfungsi untuk mengukur sejauhmana tujuan pembelajaran telah tercapai dan tindakan apa yang harus dilakukan apabila tujuan tersebut belum tercapai. Melalui pendekatan pembelajaran elearning, kegiatan evaluasi untuk mengetahui hasil dapat dilakukan secara bervariasi, setiap siswa dapat melihat dan mengikuti suruhan-suruhan yang berada pada halam web. Bisa berupa pertanyaan, tugas-tugas dan latihan yang harus dikerjakan siswa.  
Blog, Updated at: 04.00

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts