Konstruk Teoretik Model Pembelajaran PATRIOT

Konstruk Teoretik Model Pembelajaran PATRIOT 
Secara teoretik, setiap model pembelajaran memiliki struktur, yang terdiri atas ide dasar keilmuan dan metode pengetahuan teoretis. Pikiran dasar keilmuan suatu model dapat diwujudkan dalam bentuk struktur konseptual, prosedural, dan matematis (Richey, 1986:17). Berdasarkan pikiran dasar keilmuan itulah batang tubuh pengetahuan teoretis-empiris dibangun secara bertahap agar bisa dipakai sebagai dasar untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol gejala-gejala dalam lingkup cabang ilmu tertentu.

Di cabang ilmu Ekonomi, batang tubuh keilmuan menampakkan sosok wujudnya pada tiga hal, yaitu adanya prinsip (P), aturan-hukum (A), dan teori (T) yang secara ilmiah dapat diuji kebenarannya di bawah syarat-syarat ceteris paribus, sebagaimana ditunjukkan dalam fungsi permintaan dan penawaran. Pengujian terhadap PAT di lapangan dapat dilakukan untuk menemukan kebenaran aplikasinya dalam sosok wujud perangkat kompetensi, baik yang bersifat personal maupun sosial.

Kompetensi yang dimaksud adalah kemampuan dasar untuk bisa melakukan Tindakan Ekonomi (TEkonomi) dalam kegiatan menghasilkan beraneka macam produk barang dan jasa yang berguna bagi pemenuhan kebutuhan hidup manusia menuju kesejahteraan. Pengertian ini sejalan dengan ketentuan pasal-1 Keputusan Mendiknas Nomor 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi bahwa yang dimaksud dengan kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang tertentu.

Akan tetapi, suatu tindakan Ekonomi tidak akan pernah bisa ditentukan polanya jika tidak dikaitkan dengan aplikasi dari prinsip, aturan-hukum, dan teori Ekonomi dalam praktik di lapangan. Suatu tindakan Ekonomi hanya bisa dilakukan jika seseorang bisa mempertimbangkan realitas (R) kehidupan masyarakat yang dinamis, dengan memanfaatkan akses jaringan informasi (I), dan mampu mengelola objek-objek (O) Ekonomi yang ada secara bijaksana untuk meningkatkan nilai guna barang dan jasa bagi kesejahteraan hidup bersama. Di samping, untuk memberi pemahaman terhadap fenomena kehidupan ekonomi, suatu model diharapkan dapat membimbing para pelaku kegiatan ekonomi menjadi lebih produktif dan sejahtera.

Kegiatan Ekonomi itu sendiri bisa menampakkan wujudnya dalam dimensi Ekonomi teori dan Ekonomi terapan. Ditinjau dari aspek Ekonomi teori, dapat dijelaskan bahwa tindakan Ekonomi (TEkonomi) merupakan fungsi dari variabel prinsip, aturan dan teori Ekonomi (PAT) yang berlaku secara bersyarat. Syarat ceteris paribus yang dimaksud adalah keterikatannya pada konteks realitas (R) kehidupan Ekonomi, dan bergerak atau bekerja berdasarkan informasi (I) Ekonomi yang terus berubah, dan adanya objek-objek Ekonomi (O) yang menjadi tempat terjadinya aktivitas Ekonomi. Jika RIO berubah, maka TEkonom juga bisa berubah. Proposisi inilah yang menjadi dasar pengembangan hipotesis penelitan di bidang Ekonomi-bisnis (Ekobis) dan penelitian pendidikan Ekonomi.

Tindakan Ekonomi itu sendiri dalam praktiknya dilakukan, baik oleh kelompok rumah tangga produksi (RTProduksi.) maupun rumah tangga konsumsi (RTKonsumsi.) secara terus-menerus dengan berbagai bentuk dan dinamikanya. Pertanyaan hipotetik yang dapat diajukan adalah kapan TEkonomi dapat dilakukan? Tindakan Ekonomi baru dapat dilakukan setelah pelaku mengambil keputusan untuk memilih salah satu alternatif tindakan terbaik dari sejumlah alternatif yang dapat diformulasikan berdasarkan PAT dan RIO yang ada padanya. Dengan demikian, PAT dan RIO bisa menjadi penyebab terjadinya perputaran siklus Ekonomi di lingkungan RTProduksi maupun lingkungan RTKonsumsi. secara simultan. 

Dalam kaitannya dengan proses bertindak di kelangan ekonomi guru ekonomi, Samuelson (1976) dan Wignjosoemarto (1987) menjelaskan bahwa tindakan Ekonomi merupakan akibat dari suatu keputusan yang dapat melahirkan fase kegiatan Ekonomi berikutnya. Oleh karena itu, kalangan ekonomi pendidikan harus bisa mengembangkan model pembelajaran yang dapat membantu para siswa subyek belajar memahami pola-pola tindakan dan berlatih melakukan tindakan-tindakan cerdas yang relevan dengan tuntutan zaman (Suharsono, 2001).

Atas dasar pemikiran tersebut, melalui tulisan ini ditawarkan satu alternatif model pembelajaran PATRIOT dengan menggunakan model formula matematis. Asumsi yang melandasi adalah, bahwa penguasaan pengetahuan teoretik dan pengenalan terhadap lingkungan nyata di lapangan dapat mengoptimalkan tingkat keefektivan tindakan Ekonomi para pelakunya. Model PATRIOT dikembangkan untuk bisa membekali pengetahuan, keterampilan, dan tata-nilai yang diperlukan siswa agar mampu memahami dan memecahkan masalah Ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan itu dinamai kompetensi, dalam bentuk tindakan-tindakan Ekonomi yang efisien dan produktif. Adapun formula dasar model itu dapat dipaparkan dalam bentuk fungsi sebagai berikut.

Formula-1
Sumber: Suharsono (2004: 4)

Dari Formula-1 tersebut dapat dijelaskan, bahwa tindakan Ekonomi (TEkonomi) merupakan fungsi dari P (prinsip), A (aturan-hukum), T (teori), R (realitas), I (informasi), dan O (objek). Artinya, tindakan apa yang akan dilakukan para pelaku Ekonomi bisa berubah-ubah tergantung kepada perubahan prinsip, aturan-hukum dan teori yang diyakini benar, serta adanya realitas, informasi dan objek-objek Ekonomi yang bisa diakses. Dengan frasa lain dapat dinyatakan bahwa, TEkonomi. memiliki hubungan fungsional dengan P, A, T, R, I, O.

Dalam bahasa penelitian pembelajaran, TEkonomi merupakan variabel bergantung sedangkan PATRIO merupakan variabel bebas. Akan tetapi, bagaimana bentuk ketergantungan TEkonomi terhadap variabel-variabel itu? Untuk menjawabnya masih diperlukan hasil-hasil penelitian empirik yang berkelanjutan. Seberapa jauh adanya hubungan antar variabel itu dapat diteliti melalui penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif dengan menggunakan asumsi-asumsi tertentu.

Asumsi dasar yang bisa dipakai pegangan adalah bahwa apa yang ada di dunia ini diciptakan saling berhubungan dan manusia ditugaskan untuk mencari serta menemukan seberapa jauh keadaannya. Asumsi dasar itu selanjutnya dijabarkan menjadi asumsi-asumsi yang lebih operasional sesuai dengan jenis dan ruang lingkup hubungan fungsional yang dikaji. Hasil-hasil kajian itu, selanjutnya diaplikasikan menjadi teknologi untuk memproduksi barang dan jasa yang fungsional terhadap pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Untuk memudahkan pekerjaan perumusan masalah dan hipotesis penelitian, formula-1 tersebut dapat diubah ke dalam pola lain dengan unsur dasar yang sama. Formula itu dapat digambarkan sebagai berikut.

Formula-2

Formula-2 juga mengandung pengertian bahwa variabel-variabel yang dioperasikan harus dapat menunjukkan pola hubungan fungsional yang terjaga keseimbangannya. Dengan kata lain, apapun objek kajian teoretik yang diteliti atau diajarkan, agar jangan dilupakan adanya peristiwa belajar (learning events) yang diporsikan untuk mencapai aspek-aspek kompetensi yEkonomi . Jadi, setiap bentuk kegiatan pembelajaran yang dirancang pada tahapan pokok bahasan hendaknya berpola dari teori ke aplikasi, atau sebaliknya secara bersamaan.

Sebagai suatu model preskriptif, model PATRIOT terbagi dalam tiga tahapan, yaitu tahap pemahaman terhadap prinsip, aturan, dan teori (P,A,T), tahap pengenalan terhadap realitas, informasi, dan objek kajian (R,I,O), dan tahap menemukan alternatif tindakan (T). Ketiga tahapan itu merupakan suatu rangkaian proses sistematik yang tingkat keberhasilan implementasinya diukur dari seberapa banyak kompetensi yang dikuasai dan seberapa tinggi kualitas tindakan yang berhasil ditampilkan oleh setiap subyek belajar.

Apa yang juga erat kaitannya dengan variabel TEkonomi adalah pengembangan sikap (attitudes) para pelaku ketika menjalankan kegiatan Ekonomi dan etika (ethics) yang melandasi tindakan mereka dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam kaitan ini, ilmu Ekonomi terapan telah mengembangkan apa yang dinamakan etika bisnis, yaitu suatu sistem nilai normatif yang mengatur pola perilaku Ekonomi untuk meningkatkan martabat kemanusiaan dan keberadaban para praktisi pelaku Ekonomi.

Hasil penelitian (Suharsono, 2002b) menunjukkan bahwa dimensi sikap itu, bisa menampakkan perwujudannya dalam bentuk petingkatan kesadaran diri (S), empati (E), kejujuran (J), antusiasme kerja (A), dan tanggung jawab (T) dalam berinovasi sebagai subjek pelaku Ekonomi. Intensitas dan kekuatan peran kelima dimensi tindakan Ekonomi tersebut merupakan efek pengiring (nurturant effect) dari proses pembelajaran Ekonomi yang sangat erat kaitannya dengan variabel struktur pokok bahasan dalam kurikulum.

Kelima dimensi yang diteliti erat kaitannya dengan pengembangan kecerdasan emosional-spiritual (ESQ) yang termasuk dalam wilayah hidden currirulum. Dalam bidang Pendidikan Ekonomi, keberadaannya perlu diidentifikasi pada saat merancang program pembelajaran agar bisa menyentuh dimensi hati nurani dan kemanusiaan. Dengan keilmuan dan kemanusiaan yang semakin tinggi, tindakan manusia akan cenderung semakin bijaksana. Jika kebijaksanaan Ekonomi dapat dijalankan oleh mereka yang memiliki kompetensi ekonomional tinggi, maka peluang meningkatnya kesejahteraan bisa semakin tinggi. Kesejahteraan hidup di bumi itulah keinginan luhur yang dicita-citakan ilmu Ekonomi, dengan segala perangkat dasar teoretik, prosedur kerja, dan sistem kontrol yang dibangun di sepanjang perjalanan sejarah keilmuannya.

Dari sejarah perkembangan aplikasi ilmu ekonomi dalam 15 tahun terakhir, menurut hasil survai internasional kepada 88 chief executive officer (CEO) sukses di seluruh dunia, ditemukan bahwa ternyata kejujuran menempati ranking tertinggi. Dari 20 indikator ideal CEO-Internasional yang sukses, hanya 4 (20%) terkait dengan kecerdasan intelektual (IQ) sedangkan 16 (80%) indikator yang ditemukan terkait dengan kecerdasan emosional-spiritual (ESQ) pelakunya (Agustian, 2003:5). Kenyataan ini menunjukkan bahwa ada sejumlah variabel lain yang secara nyata erat kaitannya dengan penerapan model PATRIOT dalam pengembangan kompetensi TEkonomi di masa depan.

Metode Kerja Operasional Model PATRIOT
Pada bagian terdahulu dijelaskan bahwa, TEkonomi. memiliki hubungan fungsional dengan PATRIO. Akan tetapi bagaimana bentuk dan pola ketergantungan TEkonomi terhadap kelima variabel itu masih tetap menjadi pertanyaan sehubungan dengan adanya kondisi ceteris paribus pada saat teraplikasi di lapangan. Berikut ini dipaparkan sejumlah hasil penelitian, pemikiran, dan kebijakan formal yang melandasi metode kerja model.

Secara historis, kajian terhadap asal-usul dan cara kerja operasi variabel PATRIOT pada awalnya ditemukan dari hasil eksperimen pengujian model pembelajaran Pemecahan Masalah (Suharsono, 1988) dan pengembangan aplikasinya di bidang Akuntansi (Suharsono, 1991). Model ini dikembangkan dalam penelitian disertasi untuk menemukan suatu alternatif solusi terhadap kesulitan siswa dalam mempelajari dan menguasai aplikasi pengetahuan berstruktur prosedural. 

Hasil penelitian Suharsono dkk. (1994), menemukan adanya kaitan yang sangat erat antara variasi pola pembelajaran dosen dan tingkat kesulitan materi dengan tingkat partisipasi belajar siswa di kelas. Sementara itu, pengembangan kompetensi bertindak secara empiris juga erat kaitannya dengan variasi pola pembelajaran. Hasil penelitian Suharsono (1997) menemukan adanya tiga pola struktur interaksi pembelajaran yang terjadi pada saat PBM berlangsung, yaitu pola klasikal, pola laboratorium, dan seminar kelas. Pola klasikal didominasi oleh komunikasi satu arah dari dosen ke siswa, sedangkan pola pembelajaran laboratorium menampakkan ciri-ciri belajar penemuan (discoveri learning) yang menonjol. Adapun pola seminar kelas ditandai oleh adanya pembagian tugas dan tingkat keaktifan yang seimbang antara dosen dan siswa presenter seminar.

Dalam kaitannya dengan penstrukturan materi pembelajaran, hasil penelitian eksperimen Suharsono (2002a) menunjukkan bahwa bahan ajar yang disusun mengikuti urutan materi dengan (P,A,T) + (R,I,O) dapat meningkatkan kemampuan ekonomi di bidang Bisnis. Keberhasilan menguasai kompetensi TEkonomi diprediksikan lebih tinggi daripada penambahan (PAT+RIO) dibandingkan dengan salah satu dari keduanya. 

Dalam pelaksanaan PBM di kelas, hasil penelitian Suharsono (2003a) di kalangan siswa manajemen perhotelan menemukan bahwa skenario KBM yang dilakukan pada setiap pertemuan dapat meningkatkan penguasaan aspek teoretis (PAT) dan pengetahuan praktis (RIO). Kemampuan Tekonomi setiap siswa secara bertahap bisa ditingkatkan sejalan dengan tingkat kompetensi yang semakin meningkat. Peningkatan kualitas kompetensi operasional itu juga berkaitan dengan tingkat keberhasilan belajar pokok bahasan sebelumnya, tingkat kesulitan materi pokok bahasan, dan kualitas performasi yang dituntutkan kepada siswa. 

Implementasi Model dalam Pengembangan Kompetensi Guru
Apa yang dipaparkan tersebut adalah beberapa bukti empirik yang menunjukkan bahwa komponen model pembelajaran PATRIOT dapat diterapkan dalam konteks kelas nyata. Pertanyaan selanjutnya adalah peran apa yang dapat dijalankan agar pendidikan tinggi mampu memberi sumbangan terhadap kelahiran patriot-pahlawan ekonomi itu? Suatu Model Pembelajaran dalam konteks kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dimaknai sebagai upaya memberi kesempatan kepada siswa untuk menguasai standar kompetensi minimal yang bisa dimanfaatkan sebagai bekal hidup di masyarakat. Implementasi KBK bisa dimaknai sebagai suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan dalam rangkaian kegiatan pembelajaran sehingga peserta didik mampu menguasai perangkat kompetensi tertentu sebagai hasil interaksinya dengan lingkungan (Mulyasa, 2003: 93). Kompetensi itu dikembangkan secara bertahap melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi proses maupun hasil belajar secara berkelanjutan (Suharsono, 2001: 108).
Blog, Updated at: 17.02

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts