Prinsip-Prinsip Pendidikan Akhlak Generasi Muda Menurut Menurut Ahli

Prinsip-Prinsip Pendidikan Akhlak Generasi Muda Menurut Menurut Ahli 
Sepanjang sejarah umat manusia masalah akhlak selalu menjadi pokok persoalan. Karena pada dasarnya, pembicaraan tentang akhlak selalu berhubungan dengan persoalan perilaku manusia dan menjadi permasalahan utama manusia terutama dalam rangka pembentukan peradaban. Perilaku manusia secara langsung ataupun tidak langsung masib menjadi tolok ukur untuk mengetahui perbuatan atau sikap mereka. Wajar kiranya persoalan akhlak selalu dikaitkan dengan persoalan sosial masyarakat, karena akhlak menjadi simbol bagi peradaban suatu bangsa.

Fakta sejarah membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang diabadikan dalam al-Qur’an seperti kaum ‘Ad, Samud, Madyan dan Saba’ maupun yang terdapat dalam buku-buku sejarah menunjukkan bahwa “suatu bangsa yang kokoh akan runtuh apabila akhlaknya rusak” (Suwito 1995, hlm. 1). Dalam sejarah dunia mencatat misalnya pada masa kaum ‘Ad, Madyan dan Saba’ dicatat oleh al-Qur’an sebagai kaum yang memiliki kualitas akhlak yang rendah. Al-Qur’an senantiasa merujuk kaum ini untuk menunjukkan rendahnya kualitas akhlak manusia di beberapa bagian dekade sejarah. Pada dekade selanjutnya, akumulasi simbol kebobrokan akhlak adalah kaum Fir’aun dan Namrud yang hidup pada masa nabi Musa dan Ibrahim. Simbol selanjutnya yang disebut oleh al-Qur’an adalah Abu Jahal dan kaumnya yang hidup pada masa Nabi Muhammad Saw. Pada awal abad ke-20 yakni setelah Perang Dunia I simbol itu dialamatkan kepada Mustafa Kemal Attatruk (Ihsan Kasim 2003, hlm. 42). Dalam konteks dunia Barat simbol-simbol lain itu bisa dialamatkan kepada Sigmud Freud, Nietzsche, Lenin, Kalr Marx, dan Hitler. Bahkan tatanan yang lebih serius adalah kerusakan yang ditimbulkan oleh negara Adi Daya seperti Amerika Serikat, Inggris atau Perancis. Pengaruh meraka berada pada tataran pemikiran yang secara langsung ataupun tidak langsung dalam merusak akidah, yang berarti dapat merusak akhlak manusia dalam bertuhan. Mereka yang menjadi simbol ini memiliki peranan penting dalam bidang pemikiran dan kelompok-kelompok sosial. Sehingga, muncul tokoh-tokoh yang dapat mempengaruhi secara halus merasuk ke dalam alam pemikiran para pemikir-pemikir muslim. Pengaruh tersebut sangat penting dalam membangun “persepsi” manusia dalam memahami sesuatu. Misalnya Sigmud Freud “menyebut ide-ide agama tentang Tuhan dan alam gaib sebagai ilusi karena konsep-konsep tersebut muncul dari keinginan manusia (human wishes) dan bukan dari realitas” (Lihat Erich 1950, hlm.12).

Sebenarnya Allah Swt menciptakan manusia hanyalah bertujuan supaya manusia itu beribadah kepada-Nya semata, yakni menjadi manusia pengabdi (Al-Dzariat : 56). Titik tekan pengabdian adalah akhlak Islam yang sangat menekankan kepada penganut­-penganutnya untuk berakhlak mulia. Dalam hadis disebutkan “inama bu’istu li utammima markim al-akhlak” (Sesungguhnya Aku diutus di muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak). Penjelasan hadis ini berartinya bahwa diutusnya Nabi Muhammad Saw sebagai rasul untuk menyampaikan risalah Allah sejak awal abad ke-7 Masehi secara tegas adalah tugas pokoknya sebagai penyempurna akhlak manusia.

Akhlak dalam Islam bertitik tolak dari pengabdian seorang kepada Allah Swt dengan mengikuti sunnah Nabi Muhammad Saw yang menjadi teladan pribadi terbaik. Semua sifat dari perilaku, pikir dan sikap yang bertentangan dengan akhlak Nabi Muhammad Saw dianggap tidak berakhlak. Siti Aisyah r.a bila ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad Saw beliau berkata : “Akhlak Rasulullah itu adalah al-Qur’an”. Allah Swt berfirman : “Wa innaka la’ala khuluq ‘azhim" (“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) mempunyai akhlak yang paling mulia”) (QS. al-Qalam : 4). Karena itu, ia patut dijadikan contoh “laqad kana lakum fi rasulullah uswatun hasanah...” (“Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu surf tauladan yang baik bagimu...”) (QS al-Ahzab : 21).

Bukti-bukti kemuliaan akhlak Nabi Muhammad Saw di atas adalah nyata. Bahkan menurut seorang non muslim Michael H. Hart dalam bukunya berjudul The 1000 a ranking of the Most influential Persons in History memberikan pengakuan bahwa “Nabi Muhammad Saw memperoleh pengakuan sebagai tokoh urutan pertama yang paling berpengaruh dalam sejarah” (Suwito 1995, hlm. 3). Kebesaran Nabi Muhammad harus diakui disebabkan oleh ketinggian dan kemuliaan akhlak yang dimilikinya.

Karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan pendidikan akhlak Islam pun pada hakekatnya diarahkan kepada terciptanya manusia yang berakhlak agung dan mulia seperti Nabi Muhammad Saw. Namun setiap orang memiliki pemahaman dan cara berbeda untuk mencapai akhlak agung dan mulia sebagaimana yang dimiliki Nabi Muhammad tersebut.

Kemuliaan akhlak Nabi Muhammad dalam sejarah membuktikan bahwa umat Islam dalam binaan Nabi Muhammad Saw pernah mengalami masa keemasan yang mencapai 1300 tahun lamanya. Masa keemasan ini adalah masa periode Madinah yakni pada masa Nabi Muhammad sendiri sampai wafatnya. Masa ini yang paling monumental adalah dirumuskannya “Piagam Madinah” yang memuat perjanjian antara golongan-golongan Muhajirin, Ansar dan Yahudi serta sekutunya yang mengandung prinsip-prinsip atau peraturan-peraturan penting yang menjamin hak-hak mereka dan menetapkan kewajiban‑kewajiban mereka sebagai dasar bagi kehidupan mereka bersama dalam kehidupan sosial politik (Suyuthi 1993, hlm. 22). Kenyataan dalam sejarah bahwa pada periode ini benar­-benar tercipta sebuah peradaban gemilang.

Pasca wafatnya Nabi Muhammad tahap selanjutnya melahirkan 4 (empat) khalifah yang benar – khulqfaurrasyiddin Abu Bakar As Sidhiq, Umar bin Khathab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib yang merupakan sebuah tahap revitalisasi ajaran dan penguatan akidah serta meneruskan proses yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Integritas para sahabat penerus Nabi ini sangat diakui dalam berbagai perspektif. Seperti ditegaskan oleh C.E.Bosworth bahwa “Periode empat khalifah dipandang sebagai zaman emas, suatu zaman ketika kebijakan-kebijakan Islam yang murni berkembang pesat, dan karena itulah gelar ‘yang mendapatkan bimbingan di jalan lurus’ diberikan kepada mereka” (C.E. Bosworth 1993, h1m. 24).

Tahapan selanjutnya adalah masa klasik yang pesat perkembangan terjadi periode 650-1250 M, masa ini oleh para ahli sejarah disebut masa klasik dalam sejarah perkembangan Islam. Umat Islam pada periode ini disebut “super power” yang berkuasa di sebagian besar negara-negara di tiga benua : Asia, Afrika dan Eropa. Wilayah kekuasaanya mencapai Spanyol di sebelah Barat dan India di sebelah Timur, daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabiah, Irak, sebagian Asia kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Purkmenia, Uzbek, dan Kirgis di Asia tenggara (Murodi dkk 1995, h1m. 33).

Masa ini merupakan masa kemajuan pertama yang dimulai dari tahun (550-1000 M, dan sekaligus mengalami masa disintegrasi kekuatan Islam yang terjadi sejak tahun 1000-1250 M. Zaman keemasan Islam terjadi dalam berbagai aspeknya yakni masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah lahir 750 M- 1250 M. Pada kedua periode ini menghasilkan para ahli bidang ilmu yang sangat berpengaruh antara lain : Washil ibn Atha’, Zunnun al-Mishri, Abu Yazid al Busthami, Ibn Miskawaih, Ibn Bajjah, Ibnu Tufail, Ibnu Rusyd, Imam Al Ghazali, Imam Malik, Abu Hanifah, Imam Syafii, Ibn Hanbal, al Asyari, al Kindi, al Razi, al Farabi, al Maturidi dan Ibn Sina. Tokoh-tokoh ini menjadi simpul sejarah dunia Islam yang secara komprehensif bergerak dalam bidang dakwah Islam dan kehidupan nyata secara totalitas. Tokoh-tokoh ini benar-benar signifikan terutama membangun keseimbangan antara rasionalitas dan spritualitas. Tokoh-tokoh ini selain kuat dalam bidang pemikiran, juga kuat di bidang rasa, sehingga tidak dapat diragukan lagi bahwa mereka juga tergolong orang yang memiliki akhlak yang tinggi.

Namun sesudah masa ini, umat Islam dilanda perpecahan dan kejumudan membawa kemunduran. Kondisi ini disebabkan selain daerah-daerah yang tadinya berada ditangan umat Islam menjadi jajahan Barat, pada masa ini tidak banyak diketemukan lagi tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti masa sebelumnya yang memiliki akhlak tinggi.

Walau setelah masa ini, sempat memunculkan ide-ide kebangkitan dan tokoh-tokoh pembaharu yang membawa persatuan umat pada masa tiga Dinasti Besar (Disnati Turki Usmani, Safawi dan Mughol), namun pada awal abad ke-19 kekuasaan, wibawa dan kemakmuran tiga dinasti Islam tersebut berangsur menurun dan mundur. Beriringan dengan itu, banyak wilayah dunia Islam seperti benua Afrika, Timur Tengah dan India muncul pemikir-pemikir pembaharuan seperti Jamaluddin Afghani, Muhammad Abduh, Hasan al ­Bana dan Bediuzzaman Said Nursi1. Memang kebangkitan itu begitu sulit dicapai karena sampai sekarang diakui langsung atau tidak langsung, mereka yang berusaha keluar dari dominasi Barat masih menemui kesulitan yang sangat mendalam (Bandingkan uraian Harun, 1990, hlm. 12-14). Disamping gagasan pembaharuan, para tokoh ini secara konsisten menjelaskan mengenai “hari akhir” dan penguatan akidah islamiah. 2

Salah seorang tokoh yang konsisten terhadap permasalahan umat di atas adalah Said Nursi dari Turki salah satu tokoh penting pada akhir abad ke-19. Said Nursi hadir untuk menjadikan umat ini beriman dan berakhlak mulia dan kembali berjaya sebagaimana jayanya umat Islam dahulu dan dapat mengamalkan agama sebagaimana para sahabat, Imam Malik mengatakan: "Tidak akan pernah menjadi baik umat pada kurun (abad) terakhir ini kecuali dengan cara perbaikan pada kurun umat yang terdahulu, yakni cara yang dibuat oleh Rasulullah SAW yang diteruskan oleh para sahabat" (Hasan 2004, hlm.735). Sebagaimana Rasulullah SAW. bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah pada abadku (sahabat) kemudian setelahnya (tabi'in) kemudian setelahnya (tabi'ut tabi'in)" (HR. Bukhari, Muslim). Ahmad dan Al-Makki (1998, hlm. 38) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan masa sahabat adalah kurang lebih 120 tahun setelah bi'tsah atau wafatnya sahabat terakhir yaitu Abi Thufan ra. Kemudian orang-orang setelahnya, yaitu masa setelah sahabat adalah tabi'in masanya sekitar 70-80 tahun. Kemudian orang-orang setelah tabi'in adalah pengikut tabi'in, masanya sekitar 50-220 tahun.

Said Nursi muncul sebagai pembaharu yang ingin mengadakan perbaikan untuk “menyelamatkan iman dan Islam”. Said Nursi memiliki karakter pemikiran yang memihak kepada keimanan, pemahaman al-Qur’an, hari akhir dan integralitas keilmuan. Said Nursi adalah sosok pemberani dan gigih memperjuangkan umat Islam di Turki pada masa akhir kerajaan Turki Usmani yang mencetuskan gagasan pembelaan terhadap agama dan kehidupan sosial-kemasyarakatan. Said Nursi merupakan salah satu orang besar yang berani menghadapi dan menyelamatkan umat manusia dari berbagai peristiwa berdarah dan penyimpangan terhadap fitrah manusia. Said Nursi juga menghalangi manusia agar tidak terjatuh ke dalam atmosfir kehancuran dalam kebudayaan mereka (Ihsan Kasim 2003, hlm. v). Said Nursi adalah salah satu tokoh yang mampu bertahan dari berbagai upaya Barat “menghancurkan” umat Islam dan akhlak umat. Bahkan sampai muncul Republik Turki, ia tetap konsisten berjuang menentang sekuleriasasi di Turki hingga menghasilkan sebuah karya “Risale-i Nur” yakni tulisan setebal 6000 halaman yang memuat pemikiran-­pemikiran tentang esensi keimanan dan nilai-nilai akhlak di abad ini. Said Nursi menginginkan adanya pembaharuan di Turki pada bidang pendidikan dan moralitas umat, yang waktu itu sudah mulai dirusak oleh Mustafa Kemal Attaruk (Wawancara Fatih, 2005). Karena itu, Said Nursi tampil dengan model sufi modern yang memadukan antara rasionalitas dan spritualitas, dalam konteks ini dapat dikatakan sebagai rangkaian proses pendidikan akhlak.

Said Nursi dalam berbagai tekanan tersebut tidak kenal menyerah dengan tantangan dan penderitaan yang dialaminya dari penjara ke penjara, berbagai musuh menghadang. Walaupun otoritas negara yang kuat dan mekanisme pendidikan Islam yang ada di Turki saat itu dipengaruhi oleh sekulerisme yang disosialisasikan oleh Mustafa Kemal Atatruk, tapi Said Nursi tetap melakukan usaha menumbuhsuburkan ajaran Islam dan perbaikan dalam bidang pendidikan Islam, terutama upaya membumikan nilai-nilai akhlak di Turki.

Media Said Nursi dalam berdakwah adalah Risale-i Nur dan mengelola pengajian­pengajian. Sebab bagi Said Nursi meminjam istilah Syafii Anwar penyebaran Risale-i Nur merupakan “realisasi menyeluruh bagi para pemikir dan praktisi pendidikan yang handal yang mampu membentuk manusia yang unggul secara intelektual, kaya dalam amal, serta anggun dalam moral dan kebijakan” (Syafii 1995, hlm. 153-154). Karenanya, Said Nursi berkeyakinan bahwa penyebaran Risale-i Nur merupakan realisasi menyeluruh bagi umat manusia dalam rangka membentuk kepribadian manusia yang seimbang rasionalitas, spritualitas dan kaya akan amal.

Sebagaimana yang dijelaskan di atas bahwa periode kemunduran menyebabkan para pemikir untuk tampil mencarikan pemecahannya secara mendalam. Namun pada akhirnya, diagnosa awal dapat dikatakan bahwa penyakit umat terlalu kompleks dan beragam. Pada kondisi ini tampillah Said Nursi yang menjawab seluruh permasalahan umat. Pendidikan merupakan kunci utama untuk menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat yang ada saat ini, khususnya pendidikan akhlak yang merupakan inti dari proses pendidikan.

Dalam kerangka pembinaan generasi muda Said Nursi merealisasikan ide pendidikan akhlak melalui Dershane yang dilakukan oleh Nur Jamaah3. Perkumpulan ini memuat beberapa garis besar kegiatan sebagai berikut :
  1. Mengkaji konsep interaksi kemodernan dan relegius;
  2. Berniat menegakkan kembali keruntuhan kerajaan Usmani dengan kembali kepada tradisi keilmuwan yang integralistik;
  3. Mengadakan kegiatan conversation (perbincangan), dan reading (membaca) tulisan Risale-i Nur;
  4. Menyebarluaskan ajaran Risale-i Nur kepada masyarakat;
  5. Mendirikan asrama yang menjadi pusat pendidikan. (Hakan, ilmi com.).
Secara garis besar kutipan di atas, kegiatan ini memiliki relevansi terhadap pengembangan pendidikan akhlak generasi muda yang menjadi perhatian utama dalam penelitian ini. Harus diakui bahwa pendidikan akhlak sebagai salah satu inti dari proses pendidikan dan bagi kemajuan suatu bangsa, maka pembaharuan di bidang pendidikan mutlak untuk diadakan karena maju mundurnya suatu negara diukur dari pendidikan dan out putnya.

Berdasarkan pemahaman di atas, maka kami mencoba mempelajari pemikiran Said Nursi yang hidup abad ke-20 yang juga dipandang sebagai pendidik bagi generasi penerus yakni Said Nursi. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pemikirannya dalam bidang akhlak, khususnya yang berkaitan dengan prinsip-prinsip pendidikan akhlak untuk menyongsong kebangkitan Islam di era persaingan global saat ini3. Dan juga bertujuan untuk mengetahui beberapa alternatif yang ditawarkan dalam membangun kerangka pemikiran pendidikan akhlak dan implementasinya yang menjadi “obat penawar” bagi penyakit yang diderita oleh umat Islam sampai saat ini.

Dalam kajian ini muncul pertanyaan mendasar yakni apakah ada prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Bediuzzaman Said Nursi ?. Peneliti berasumsi bahwa prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Said Nursi ada, walau harus diakui bahwa pemikirannya tersebut tidak dirumuskan secara sistematis yang dapat dilihat dan dianalisis dari kitab tafsirnya Risale-i Nur. Untuk memperkuat asumsi ini, maka dirumuskan 5 (lima) faktor yang melatarbelakanginya yakni :

Pertama, faktor personal. Sebuah karya tidak akan terlepas dari penulisnya. Baik dalam alur pikir maupun sikap sehari-harinya. Maka sesuai dengan kajian mengenai pendidikan akhlak, diasumsikan bahwa ditulisnya Risale-i Nur tidak terlepas dari pengalaman pribadi penulisnya dan pergulatan pemikirannya. Secara personal menurut peneliti dalam Risale-i Nur tak terlepas dari nilai-nilai akhlak yang akan ditegaskan dalam defenisi operasional. Berdasarkan kategori dalam aliran pendidikan akhlak yakni pendidikan akhlak rasional dan mistik, diasumsikan bahwa penulisnya senantiasa mempraktekkan akhlak mulia dan juga diasumsikan beliau menerapkan kedua konsep tersebut sekaligus yakni rasional dan mistik. Secara rasional dapat dipahami kedalaman ilmu penulisnya ketika peneliti membaca Risale-i Nur secara. teliti. Secara mistik ilmu yang didapat tidak sekedar dengan akal tapi dengan intuisi yang dalam epistimologi Islam dan Aristotelian merupakan bagian dari metode ilmiah (Lihat Mulyadhi 2003, hlm.63). Maka dapat dikatakan berdasarkan faktor personal bahwa Risale-i Nur ditulis karena Said Nusri adalah seorang moralis dan rasionalis.

Kedua, faktor tekstual. Pada penelitian pertama dapat dijelaskan bahwa keunikan Risale-i Nur terlelak pada : a) Faktor bahasa, bahasa yang digunakan adalah bahasa Turki yang dipengaruhi oleh kondisi kenegaraan, yang berubah secara drastis, ketika “kekhalifahan Turki Usmani” dinyatakan runtuh. Secara keseluruhan bahasa yang digunakan adalah bahasa Turki Modern Mustafa Kemal Attatruk, tapi patut dijelaskan keunikan bahasa dalam Risala-i Nur melibatkan banyak bahasa. Selain bahasa Turki, bahasa dalam Risala-i Nur di antaranya, bahasa Persia, Prancis, Jerman, Inggris, Kurdi, Arab dan khususnya bahasa Ottoman (bahasa pada masa Turki Usmani). b) Faktor mantik atau analogi4. Mantik disini bisa diartikan secara filosofis dan hikmah. Dalam Risale-i Nur banyak terdapat kata-kata dan kalimat-kalimat mantik yang memiliki banyak penafsiran, sehingga peneliti harus memiliki pemahaman terhadap bahasa mantik. c) Faktor sistematika penulisan. Penulisan Risala-i Nur ada sebagian dimulai dengan bismihi subhanahu wan inminsyain illah yusabbihu bihamdihi kalimat yang mengawali bab dalam Risala-i Nur dan mengakhirinya dengan subhanaka laa ilma lana illa maa alamtana innaka antal alimul hakim, dan terkadang paling akhir ditulikan al-Baqi Huwalbaqi. Hal ini mengindikasikan kesucian diri penulisnya dan paham ketuhanan yang dalam. Di samping itu, sistematika penulisan yang sangat mengandung makna terhadap realitas sejarah umat manusia.

Ketiga, faktor ideologis5 ditulisnya Risale-i Nur adalah untuk melawan ideologi modernisme yang digusung oleh Barat yang membawa umat manusia kepada materialis, sekuleris, liberalis, komunis bahkan ateis. Faktor ideologis inilah yang mendorong Said Nursi menulis Risela-i Nur. Jalan yang ditempuh adalah “kembali ke al-Qur’an dan as-Sunah” tapi tidak seperti aliran wahabi6 ataupun pan islamisme yang didengungkan oleh Jamaluddin al-Afgani7

Keempat, faktor politis, ditulisnya Risale-i Nur adalah dalam konteks masyarakat Turki yang Islam untuk menentang pemerintahan sekuler yang dibentuk oleh Inggris yakni sebuah revolusi politik dari sistem kekhalifahan diubah menjadi sistem demokrasi republik yang menerapkan hukum-hukum Prancis, Inggris dan khususnya banyak mengadopsi hukum-hukum sekuler Swiss. Dampaknya adalah secara sosial-kultural terjadi revolusi sosial besar-besar di Turki. Jalan yang ditempuh Said Nursi adalah “menjauhi politik” (Said Nursi 2003b, hlm. 71).

Kelima, faktor sosial-kultural, munculnya Risale-i Nur untuk menyelamatkan masyarakat Turki yang muslim dengan menentang revolusi sosial yang berasal dari revolusi politik oleh Mustafa Kemal Attaruk. Revolusi sosial itu sangat tampak misalnya : memberikan keluasan posisi perempuan di antara laki-laki (fenimisme, yang mengadopsi kebebasan di Barat), modernisasi cara berpakaian khususnya perempuan, melarang penggunaan peci, pelarangan jubah, pelarangan sorban (sarek), pelarangan azan (harus dengan bahasa Turki), penutupan madrasah, pelarangan jilbab, penggunaan nickname (lakap atau gelar), mengadaptasi kalender internasional (kalender Masehi) dan mengadopsi hukum-hukum sekuler. Tidak ketinggalan juga perubahan bahasa Arab ke bahasa Turki. Bahkan yang paling tragis adalah “pembantaian 100 ribuan ulama dan alimin”. Jalan yang ditempuh Said Nursi adalah mempertahankan prinsip-prisip dasar ajaran Islam dari trend materialistik dan ateistik.

Kelima alasan di atas inilah yang menjadi dasar penelitian ini, yakni pembicaraan mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda Said Nursi dalam membentuk manusia yang mulia, berakhlak mulia. Persoalan ini akan terkait secara langsung dengan persoalan politik dan sosial-kultur Said Nursi dalam membentuk pandangan dasar yang menjadi gagasan dasar atau ideologi menjelma menjadi doktrin­-doktrin dari Risale-i Nur. Pembahasan ini juga berupaya menjelaskan relevansinya dengan pembinaan akhlak generasi muda yang dapat diterapkan secara, teoritik dan praktek di masa sekarang dan masa depan.

Adapun di antara alasan pentingnya pemikiran Said Nursi di bidang pendidikan akhlak dapat diungkapkan beberapa pertimbangan sebagai berikut : Pertama, Risale-i Nur karya Said Nursi merupakan tafsir al-Qur'an yang secara konsisten membicarakan penguatan iman dan al-Qur’an dengan jalan ikhlas, takwa dan sedekah. Karya ini juga membahas secara mendalam mengenai akhlak Rasulullah dalam berbagai tulisannya Risale-i Nur yang berorientasi kepada perubahan pola pikir dan laku untuk memahami dan mengimani secara mendalam tanda-tanda hari kiamat dan keberadaan hari kiamat.

Kedua, masalah etika secara khusus dibahas pada Simposium Internasional di Turki yang ke-6 tahun 2002 yang dikoordinir oleh The Istanbul Foundation for Sciance and Culture. Di samping itu dalam sepanjang pelaksanaan Simposium dan diskusi panel oleh The Istanbul Foundation for Sciance and Culture ini selalu menyertakan tema etika. Satu buku kumpulan Simposium Internasional yang ke-6 mendorong perlunya membahas mengenai akhlak dan juga tulisan Faris Kaya yang mengungkapkan mengenai etika dalam Risalei-Nur. Etika yang dimaksud oleh Faris Kaya mengungkapkan bahwa akhlak dalam sejarah dunia memang sangat penting. (Faris, 2004, hlm. 8-10).

Ketiga, diasumsikan bahwa pemikiran akhlak Said Nursi memberikan peranan signifikan dalam aktivitas kehidupannya. Pemikiran semacam ini merupakan hasil refleksi dan pemahaman terhadap suatu teologi yang mendalam mengenai Asma Allah dan sifat­-sifat-Nya yang membentuk kerangka pikir dan sikap perilaku. Diyakini bahwa Said Nursi adalah sosok pemikir sekaligus sufi yang memadukan konteks teologi, tasawuf dan akhlak dalam realitas kehidupan. Paham ini diilhami kemutlakan Tuhan dalam diri manusia dengan catatan bahwa akal memiliki peran penting dalam refleksi untuk menyempurnakan keyakinan dari refleksi hati. Artinya paham yang dianut Said Nursi berdekatan dengan upaya ma’rifatullah dalam perspektif yang luas. Sementara itu dapat diasumsikan bahwa teologi Said Nursi adalah rasional-spritual. Maka, dalam konteks pendidikan akhlak selalu memadukan akal dan hati untuk melakukan pendekatan ajaran Islam secara universal.

Keempat, perkembangan ilmu dan teknologi. Yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan zaman saat ini adalah perkembangan ilmu, teknologi, komunikasi dan informasi. Kebutuhan-kebutuhan ini yang menyebabkan dunia semakin global. Selain berdampak positif juga berdampak negatif. Di antara dampak negatif globalisasi ini antara lain adalah semakin banyaknya alternatif bagi ukuran akhlak manusia yang cenderung bermuatan materialistik dan intelektualistik semata. Akibatnya, hal-hal yang bersifat spritualistik cenderung diabaikan. Dengan demikian, kemampuan memilih berbagai alternatif secara kritis melalui pemahaman, teologi rasional dan spritual semakin dinilai penting dan mendesak.

Kelima, tanda-tanda akhir zaman, pentingnya pengkajian ini juga disebabkan titik nadir masyarakat global berdasarkan paham keagamaan menunjukkan tanda-tanda akhir zaman. Dalam konteks itulah sebagai makhluk beragama harus mewaspadai itu dan berupaya mengantisipasi dan merubah pola pandangan hidup. Karena persoalan “krisis moral” merupakan entry point dari munculnya pembaharu (mujadid) untuk menyelamatkan umat dari “melupakan” Tuhan.

Berdasarkan pertimbangan beberapa pemikiran dan urgensi penelitian di atas maka dapat diambil pemahaman bahwa prinsip-prinsip pendidikan akhlak menurut Said Nursi layak untuk dibahas, dikaji dan diungkap.

Kegunaan Penelitian
Setidaknya ada 2 (dua) kegunaan dari penelitian ini yaitu secara teoritis dan praktis. Secara teoritis, untuk memberikan informasi kepada peneliti tokoh Said Nursi lanjutan dalam mengkaji dan mengetahui tentang konsep pendidikan akhlak yang pernah dihasilkan oleh Said Nursi sebagai tokoh filosof sufi modern yakni sebagai upaya pengungkapan khazanah intelektual muslim abad ke-20an yang dapat dijadikan inspirasi dan motivasi bagi munculnya kejayaan Islam kembali.

Kemudian dalam kaitannya dengan ilmu pendidikan akhlak upaya penelitian ini akan bermanfaat untuk memberikan motivasi bagi diadakannya pembahasan-pembahasan lebih lanjut tentang akhlak Islam secara filosofis untuk menemukan teori baru di bidang pendidikan akhlak. Penelitian ini juga berguna sebagai salah satu bahan pemikiran untuk mengantisipasi bentuk pendidikan akhlak yang terintegrasi dalam semua disiplin bidang pendidikan.

Secara praktis, dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, maka ilmu pendidikan akhlak dapat memberikan manfaat untuk memberikan motivasi bagi pembahas-pembahas lanjutan yang berfungsi untuk memberikan informasi kepada masyarakat, mahasiswa, pelajar dan lain sebagainya, terkhusus bagi masyarakat luas yang ingin mengetahui tentang prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Said Nursi. Penelitian ini dapat pula dijadikan sebagai salah satu bahan pemikiran untuk mengantisipasi bentuk pendidikan akhlak yang terintegrasi dalam semua bidang ilmu dan pendidikan.

Definisi Operasional
Guna mencapai pemahaman arah dari penelitian ini, maka ada beberapa istilah yang perlu diuraikan sebagai defenisi operasional di antaranya :

Istilah “Prinsip-prinsip” berasal dari bahasa Inggris principle secara leksikal berarti : 1) Dasar kebenaran; hukum-hukum sebab akibat; 2) tuntunan peraturan untuk tingkah laku moral (Hornby 1974, hlm. 664). Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata itu berarti “dasar, asas (kebenaran yang menjadi dasar berpikir, bertindak dan sebagainya)” (Departemen P dan K 1991, hlm. 788). Secara filosofis kata itu mengandung arti kebenaran-kebenaran yang fundamental dari suatu kandungan doktrin atau dasar apa saja yang berkaitan dengan tingkah laku manusia (Hasting t.th., 336). Pengulangan istilah prinsip dalam judul yaitu prinsip-prinsip dalam bahasa Inggris principles (dalam bentuk jamak) mengandung arti ada beberapa dasar, asas adalah jamak dari prinsip. Prinsip adalah suatu komitmen yang mendalam terhadap sesuatu yang diyakini kebenarannya. 

Istilah “Pendidikan Akhlak” terdiri dari 2 (dua) kata yaitu pendidikan dan akhlak. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda, namun istilah pendidikan akhlak menunjukkan adanya proses pembentukan seorang manusia agar memiliki akhlak. Untuk memahami istilah ini, maka perlu memahami terlebih dahulu kata “Pendidikan”. 

Dalam bahasa Arab istilah pendidikan digunakan untuk berbagai pengertian, antara lain tarbiyah, tahzib, ta’lim, ta'dib, siyasat, mawa’izh, 'ada ta'awwud dan tadrib. Sedangkan untuk istilah tarbiyah, tahzib dan ta'dib sering diartikan pendidikan. Ta'lim diartikan pengajaran, siyasat diartikan siasat, pemerintahan, politik atau pengaturan. Muwa'izh diartikan pengajaran atau peringan. 'Ada ta'awwud diartikan pembiasaan dan tadrib diartikan pelatihan.

Di antara mereka yang menjadikan istilah-istilah di atas untuk tujuan pendidikan yakni Ibn Miskawaih dalam tahzibul akhlak, Ibn Sina memberi judul salah satu bukunya kitab al siyasat, Ibn al-Jazzar al-Qairawani membuat judul salah satu bukunya berjudul siyasat al-shibyan wa tadribuhum, dan Burhan al-Islam al-Zarnuji memberikan judul salah satu karyanya Ta'lim al-Mula'allim tharik at-ta'alum. Pada dasarnya para ahli tidak mempersoalkan penggunaan istilah ini.

Al-Attas mendefinisikan pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia. Suatu proses “penanaman” mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” secara bertahap “sesuatu” mengacu pada kandungan yang ditanamkan; dan “diri manusia” mengacu pada penerima proses dan kandungan itu (Al Attas 1994, hlm. 35).

Istilah yang dikemukakan di atas mengandung tiga unsur dasar yang membentuk pendidikan, yaitu proses, kandungan, dan penerima. Tetapi semuanya itu belum lagi suatu definisi, karena unsur-unsur tersebut masih begitu saja dibiarkan tidak jelas. Lagi pula cara merumuskan kalimat yang dimaksudkan untuk dikembangkan menjadi suatu definisi sebagaimana di atas, memberikan kesan bahwa yang ditonjolkan adalah prosesnya (Al Attas 1994, hlm. 36). Jadi dapat dirumuskan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang secara bertahap ditanamkan ke dalam manusia.

Sedangkan kata “akhlak” dalam bahasa Indonesia dapat diartikan dengan akhlak, moral, etika, watak, budi pekerti, tingkah laku, perangai dan kesusilaan. Akhlak jamak dari khuluq yang berarti adat kebiasaan (al-'adat), perangi, tabi'at (at-jiyyat), watak (at-thab ), adab atau sopan santun (al-muru’at), dan agama (al-din). Istilah-istilah akhlak juga sering disetarakan dengan istilah etika. Sedangkan kata yang dekat dengan etika adalah moral. 

Jadi dapat dipahami bahwa akhlak adalah kemampuan jiwa untuk melahirkan suatu perbuatan secara spontan, tanpa pemikiran atau pemaksaan. Sering pula yang dimaksud akhlak adalah semua perbuatan yang lahir atas dorongan jiwa berupa perbuatan baik dan buruk. 

Dengan demikian yang dimaksud dengan istilah “Pendidikan Akhlak” dalam penelitian ini adalah “suatu proses menuju arah tertentu yang dikehendaki sesuai dengan landasan akhlak yang mengarahkan pada terciptanya perilaku lahir dan batin manusia sehingga menjadi manusia yang seimbang (seperti Nabi) dalam arti terhadap dirinya maupun terhadap luar dirinya”.

Istilah "Generasi Muda" secara etimologi berasal dari dua kata, yaitu generasi dan muda. Kata "generasi" berarti angkatan atau turunan (Dep P dan K 1999, hlm. 309); dan kata "muda" yang berarti belum lama ada (Dep P dan K 1999, hlm. 667). Generasi muda berarti angkatan atau turunan yang belum lama hidup. Dalam pengertian pertama ini nampaknya belum begitu jelas apa esensi generasi muda yang dimaksud dalam pembahasan ini.

Kata generasi muda tidak cukup diartikan berdasarkan ilmu kebahasaan (etimologi) saja, tetapi perlu dilihat arti secara terminologi (istilah). Menurut Suraiya, generasi muda adalah bagian suatu generasi yang sedang menjalani giliran mengelola kehidupan masyaranat dan kenegaraan (Suraiya 1985, hlm. 2). Suryono Sukanto mengartikan generasi muda adalah sekelompok orang muda yang lahir dalam jangka waktu tertentu (Suryono 1993, hlm. 201). Selanjutnya Hartini dan Kartasapoetra menamakan generasi muda sebagai angkatan kaum muda (Hartini dan Kartasapoetra 1992, hlm. 166). 

Dari beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat disimpulkan, bahwa generasi muda adalah kelompok, golongan, angkatan, kaum muda yang hidup dalam jangka waktu tertentu, di mana mereka memiliki tugas untuk melanjutkan pembangunan bangsanya sebagaimana tugas-tugas para angkatan yang hidup sebelum mereka.

Dari beberapa defenisi operasional di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian judul tesis ini adalah “Suatu komitmen yang mendalam mengenai kehidupan menuju arah terciptanya perilaku lahir dan batin yang seimbang (seperti Nabi) bagi generasi muda menurut pemahaman Bediuzzaman Said Nursi".

Tinjauan Pustaka
Berdasarkan kajian dan pemeriksaan kepustakaan yang ada tentang Said Nursi, diakui bahwa ada beberapa peneliti yang telah menulis dan mengkaji sebagian pemikiran Said Nursi, khususnya dalam berbagai aspek. Dalam bentuk kajian tesis terdapat sekitar 8 negara yang membahas mengenai Said Nursi.11 Terkait penelitian ini peneliti akan meninjau beberapa pustaka sebagai berikut :
1. Kajian "Model-model Pendidikan Bediuzzaman" oleh Halit Ertugrul (1994), telah memperkenalkan karya tentang Bediuzzaman Said Nursi berjudul ; “Egitimde Bediuzzaman Modeli”. Dalam karya berbahasa Turki ini, Ertugrul membuat suatu kesimpulan, bahwa Said Nursi meliliki model tersendiri dalam pendidikan Islam, yaitu penekanan terhadap aspek akidah, menggunakan metode pengulangan, pendalaman, dan pemahaman. Keutamaan model pendidikan Said Nursi adalah terletak pada kemampuan ia menggunakan argumentasi rasional untuk menunjukkan hakikat kebenaran.
2. Tulisan karya Adem Tatli, 1992 dalam sebuah makalah yang berjudul : “Badiuzzanian Education Method”. Makalah ini dipersentasikan pada seminar Simposium ke II tentang Bediuzzaman Said Nursi pada 27-29 September 1992 di Istambul. Suatu catatan penting dari makalah ini memuat tentang 13 tawaran Said Nursi untuk dijadikan basis epistemologis penegakkan sistem pengajaran.

3. Sementara Sakir Gozutok (2000, hal. 404-412), dalam makalahmya yang berjudul; “The Risale-i Nur in The Context of Educational Principles and Methods”, menemukan beberapa metode pendidikan yang dipakai Said Nursi dalam Risale-i Nur, yaitu The Direct Lecturing Method, The Question and Answer Method, The Active Learning Method, dan Observational Method (External Observation and Inward Observation).

Walaupun dua karya tersebut cukup signifikan untuk melengkapi data penulisan tesis ini, namun sisi kelemahannya mungkin terletak pada titik tekan Said Nursi dalam membentuk berkepribadian berakhlak mulia tidak dilakukan oleh para peugkaji-pengkaji Said Nursi secara detail, baik dalam kegiatan pendidikan informal, maupun dalam bentuk formal. Ertugrul dan Tatli masih dalam tataran umum mengkaji pola pendidikan dihubungkan dengan basis penegakan sistem pengajaran, meliputi landasan filosofis, kurikulum, guru, metode, siswa, pengelolaan kelas, dan aktifitas pergerakan siswa. Sedangkan pada tahap konseptualisasi nilai-nilai akhlak, realisasi nilai-nilai tersebut belum dilakukan secara maksimal, atau pengkajian tentang akhlak belum dilakukan secara mendalam.

Pemetaan kajian di atas, dimaksudkan ingin melihat penelitian-penelitian yang sudah dilakukan untuk mendukung dan diharapkan menjelaskan posisi penulis dalam mengambil fokus kajian penulis. Semua kajian di atas, jika diteliti secara langsung atau tidak langsung menyinggung persoalan keimanan, akhlak dan ibadah yang menjadi fokus dari kajian penulis dalam membangun prinsip-prinsip pendidikan akhlak secara teologis.

Dari beberapa literatur dan tulisan mengenai pemikiran Said Nursi di atas, dapat penulis tegaskan bahwa sejauh pengamatan kami pembahasan tentang prinsip-prinsip pendidikan akhlak generasi muda menurut Said Nursi belum ada. Karena itu, penelitian kepustakaan yang akan kami lakukan ini adalah suatu usaha untuk mengkaji secara mendalam mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi tersebut.

Penelitian dan karya ilmiyah yang dikemukakan diatas tidak sama dengan penelitian yang akan penulis lakukan. Perbedaan penelitian dan karya ilmiyah tersebut dengan penelitian yang akan penulis lakukan adalah pada materi pembahasannya. Penelitian sebelumnya pada umumnya membahas masalah mosel-model pendidikan, metodologi pendidikan, dan prinsip metode pendidikan, sedangkan penelitian yang akan penulis lakukan adalah mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak Said Nursi.

Kerangka Teori
Dalam rangka memperjelas arah dari penelitian ini, khususnya yang berkaitan dengan “prinsip-prinsip pendidikan akhlak”, jika dikaji secara teoritis, maka dalam penelitian ini secara spesifik peneliti mengemukakan teori-teori yang berhubungan dengan pendidikan akhlak sebagai berikut :

“Teori pendidikan akhlak” secara teoritis pendidikan akhlak pada dasarnya bertitik tolak dari urgensi akhlak dalam kehidupan. Tokoh yang menganggap pentingnya pendidikan akhlak adalah Oemar Bakry, menurutnya “ilmu akhlak akan menjadikan seseorang lebih sadar lagi dalam tindak tanduknya. Mengerti dan memaklumi dengan sempurna faedah berlaku baik dan bahaya berbuat salah” (Bakry 1993, hlm. 13-14). Mempelajari akhlak setidaknya dapat menjadikan orang baik. Kemudian dapat berjuang di jalan Allah demi agama, bangsa dan negara. Berbudi pekerti yang mulia dan terhindar dari sifat-sifat tercela dan berbahaya.

Tokoh lain yang menganggap pentingnya pendidikan akhlak adalah Syed Muhammad Nauquib al-Attas dengan menggunakan kata adab atau ta'dib. Al-Attas mengatakan bahwa kebenaran metafisis sentralitas Tuhan sebagai Realitas Tertinggi sepenuhnya selaras dengan tujuan dan makna adab dan pendidikan sebagai ta'dib. Al-Attas menganggap bahwa proses pendidikan sebagai penanaman adab ke dalam diri, sebuah proses yang tidak dapat diperoleh melalui suatu metode khusus. (Lihat Wan Daud 2003, hlm. 77-79). 

Selain itu, menurut Ibn Miskawaih akhlak merupakan suatu keadaan jiwa. Keadaan ini menyebabkan jiwa bertindak tanpa berpikir atau pertimbangan secara mendalam. Keadaan seperti ini dapat disebut sebagai karekter. Menurutnya keadaan ini ada dua jenis. Pertama, alamiah dan bertolak dari watak. Kedua, tercipta melalui kebiasaan dan latihan. Berdasarkan kedua jenis keadaan ini cendikiawan klasik sering berbeda pendapat. Sebagian berpendapat bahwa karakter dimiliki oleh jiwa yang tidak berpikir (nonrasional). Sementara yang lain berpendapat karakter itu dimiliki oleh jiwa berpikir (rasional).

Berdasarkan kedua jenis karakter dan kedua pendapat di atas Ibn Miskawaih menegaskan bahwa akhlak yang alamiah dan sudah menjadi watak dapat berubah cepat atau lambat melalui disiplin serta nasehat-nasehat mulia. Karena menurutnya pendapat pertama menyebabkan tidak berlakunya fakultas nalar, tertolaknya segala bentuk norma dan bimbingan, kecenderungan orang kepada kekejaman dan kelalaian serta banyak remaja dan anak-anak berkembang liar tanpa nasehat dan pendidikan. Ini tentu saja sangat negatif (Ibn Miskawaih 1997, him. 56-57). Berdasarkan inilah Ibn Miskawaih menganggap perlu adanya pembinaan jiwa secara intentif dengan daya-daya akal. Pembinaan inilah yang dapat dikatakan sebagai (tahzih al-Akhlaq) pendidikan akhlak.

Menurut Suwito yang mengutip pendapat M. Amin Abdullah bahwa kalau dibandingkan dengan mahzab pemikiran di bidang pendidikan akhlak maka secara umum pendidikan akhlak dapat dibagi dua, pendidikan akhlak mistik dan pendidikan akhlak rasional. Pembedaan pendidikan akhlak kepada mistik dan rasional bukannya tidak memiliki konsekuensi. Sebagaimana dalam teologi rasional, akhlak rasional dapat membawa konsekuensi bagi pertumbuhan kreatifitas dan inisiatif, sedangkan akhlak mistik kurung mendorong manusia untuk dinamis (Suwito 1995, hlm.10).

Oleh sebab itulah, yang dimaksud dengan pendidikan akhlak rasional yang memberi lebih kuat kepada pendidikan daya pikir (rasio) manusia, sedangkan pendidikan akhlak mistik memberikan porsi lebih kuat kepada pendidikan daya rasa pada diri manusia. Distingsi ini bermanfaat bagi konsekuensi yang ditimbulkan. Konsekuensi pada pendidikan akhlak rasional memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia dinamis. Adapun konsekuensi yang diperoleh dari pendidikan akhlak mistik kurang memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia yang dinamis.

Namun, pendidikan akhlak tidak masuk dalam kategori institusi sebagaimana di atas, karena hakekat pendidikan akhlak adalah inti semua jenis pendidikan. Pendidikan akhlak mengarah pada terciptanya perilaku lahir dan batin manusia sehingga menjadi manusia yang seimbang dalam arti terhadap dirinya maupun terhadap luar dirinya. Dengan demikian, pendekatan pendidikan akhlak bukan monolitik dalam pengertian harus menjadi nama bagi suatu mata pelajaran atau lembaga melainkan terintegrasi ke dalam berbagai mata pelajaran atau lembaga.

Penjelasan di atas memberikan gambaran bahwa pendidikan akhlak dalam penelitian ini ditinjau melalui 2 (dua) aliran, yakni rasional dan mistik (Abdullah 1997, hlm. 125). Akhlak termasuk unsur immaterial, yakni unsur rasio dan rasa. Oleh sebab itulah, yang dimaksud dengan pendidikan akhlak rasional yang memberi lebih kuat kepada pendidikan daya pikir (rasio) manusia, sedangkan pendidikan akhlak mistik memberikan porsi lebih kuat kepada pendidikan daya rasa pada diri manusia. Distingsi ini bermanfaat bagi konsekuensi yang ditimbulkan terhadap perlaku manusia.

Karena itu, maka konsekuensi pada pendidikan akhlak rasional memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia dinamis. Adapun konsekuensi yang diperoleh dari pendidikan akhlak mistik kurang memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia yang dinamis.

Namun, dalam kajian penelitian ini justru keduanya dipadukan untuk melengkapi satu dengan yang lainnya. Secara teoritis dapat dikatakan bahwa pendapat Amin Abdullah menjadi landasan kajian ini dalam memadukan aspek-aspek akhlak dalam diri manusia.










Metodologi Penelitian
Untuk memperoleh data yang diperlukan, mengolah dan menganalisis data, maka langkah-langkah yang perlu dijelaskan terkait dengan hal-hal teknis dalam metodologi penelitian ini, sebagai berikut :

Jenis Penelitian
Penelitian ini dari segi objeknya adalah penelitian pustaka (library research) dan penelitian lapangan (field research). Disebut penelitian pustaka karena objeknya adalah pemikiran yang tertuang dalam bahan-bahan pustaka berupa buku-buku, arsip-arsip, dokumen-dolumen, jurnal dan majalah ilmiah. Disebut penelitian lapangan karena objeknya adalah pengamatan secara langsung aktivitas keagamaan generasi muda Turki yang mengarah kepada model kajian generasi muda. 

Penelitian ini dari segi objek dan tujuannya adalah deskriptif kualitatif. Disebut deskriptif karena tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendiskripsikan pemikiran-pemikiran yang terdapat di dalam buku-buku dan dokumen-dokumen, menjelaskan dan menggambarkan hasil penelitian yang dilakukan pada objek tertentu secara jelas dan sistematis. Disebut kualitatif adalah karena di dalam penjelasan dan uraian-uraiannya tidak menggunakan angka statistik tetapi dengan fakta dan argumentasi.

Sumber Data
Sumber data pada penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Adapun data primer adalah data yang langsung dari sumber pertamanya, yaitu pengkajian kitab Risale-i Nur sejumlah lebih kurang 6000 halaman. Penelitian ini mengambil sumber asli yakni dalam bahasa Turki dan Arab. Adapun sumber pemikiran Said Nursi yang dijadikan rujukan adalah 2 (dua) karya dari kumpulan Risale-i Nur. Kedua karya tersebut :
a. “Lemaalar” (kumpulan cahaya) memuat sebanyak 33 kumpulan cahaya. Berisi ajakan untuk merasakan tetesan cahaya Ilahi yang memantul di setiap aspek kehidupan baik yang profan maupun yang sakral, lahir maupun bathin dan menerangkan bahwa ada hikmah dibalik peristiwa, entah itu anugerah atau bencana yang mana hikmah tersebut akan menyempurnakan kehidupan (spiritual) manusia. (Said Nursi, 2003a). Buku ini mengandung 33 cahaya, membahas peristiwa yang menimpa para Nabi Allah SWT, mengenai kemukjizatan Rasulullah, keutamaan munajat (doa), tentang kabar ghaib dari ayat al-Quran, minhaj as-Sunnah, ma'rifat terhadap Allah dan Rasulullah, pembahasan tentang akhlak, dan lain-lainnya.
b. “Mektubat” (kumpulan surat-surat) merupakan kumpulan surat-surat 1928-1932 memuat jawaban dan penjelasannya seputar isu-isu penting dalam, Islam tentang isu­-isu teologis, dan kehidupan spiritual yang mana dijelaskan dengan penjelasan yang sangat argumentatif dengan dalil yang menguatkan (Said Nursi, 2003b). Buku ini memuat tentang tingkat kehidupan, rahmat dalam kematian dan kemalangan, Asma Allah SWT, mukjizat Rasulullah SAW, makna mimpi, hikmah penciptaan setan, mengapa harus ada mukjizat dan lain sebagainya. Penyajian buku ini menjawab dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan dengan dalil naqli dan argumentasi serta pendekatan analogi yang aktual dan relevan.

Kedua kitab di atas adalah bagian dan koleksi Risale-i Nur merupakan tafsir al-Qur’an yang ditulis oleh Said Nursi dalam bahasa Turki dan Arab. Fokusnya kedua kitab ini, walau nanti juga akan diikuti dengan 12 kitab lainnya dalam pembahasan kajian penelitian ini. 

Di samping Risale-i Nur, sebagai sumber sekunder digunakan sebagai pendukung ayat-ayat Al-Qur’an dalam kajian ini, dan bila dipandang perlu dilakukan penafsiran untuk mendukung analisa dan pemahaman yang lebih mendalam. Selain itu, yang dapat dijadikan sumber sekunder adalah tulisan-tulisan yang membicarakannya tentang pendidikan akhlak. Adapun yang dapat digunakan sebagai sumber sekundernya berupa buku, majalah, koran, enseklopedia, monograf, jurnal ilmiah, makalah-makalah hasil simposium Internasional dan seminar Internasional hasil-hasil penelitian dan media elektronik (program komputer, CD-ROM atau internet) yang berhubungan dengan penelitian ini sebagai data pendukung fokus penelitian ini.

Teknik Penulisan
Teknis penulisan tesis ini berpedoman pada buku tuntutan PPS IAIN Raden Fatah Palembang yang ditulis oleh M. Sirozi dan kawan-kawan (Edisi Revisi) Pedoman Penulisan Tesis, Program Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang, 2005. Setelah data selesai dikumpulkan dengan lengkap, selanjutnya data tersebut dianalisa. Analisa merupakan tahap yang penting dan menentukan, karena dalam tahap ini data dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa sampai berhasil dalam menyimpulkan kebenaran-kebenaran yang dapat dipakai untuk menjawab persoalan-persoalan dalam penelitian. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa kualitatif Dalam penelitian ini data yang sudah dikumpulkan diolah untuk diklasifikasikan sesuai dengan jenis datanya. Apakah data-data tersebut termasuk sumber primer atau sumber sekunder.

Adapun teknis penulisan tesis ini melalui langkah-langkah yang ditempuh dalam pengumpulan datanya dimulai dengan proses pengumpulan kitab-kitab dan buku-buku yang berkaitan dengan Risale-i Nur dalam konteks pendidikan akhlak. Setelah data-data terkumpul maka data diteliti untuk mencari fakta yang relevan mengenai pendidikan akhlak menurut Said Nursi. Selanjutnya membaca data-data tersebut sebagai langkah identifikasi konsep-konsep dasar dari pemikiran pendidikan akhlak Said Nursi.

Data kemudian dikelola secara mendalam, pengelolaan analisa ini dimaksudkan untuk menganalisa secara mendalam pemikiran-pemikiran Said Nursi tentang konsep pendidikan akhlak, menganalisa apa-apa saja pemikiran Said Nursi. Kemudian pemikiran Said Nursi yang dijadikan objek direkonstruksi secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, verifikasi, serta menganalisa bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.

Sebagaimana dalam disebutkan bahwa data primer penelitian ini adalah Risale-i Nur orisinil adalah bahasa Turki dan Arab, maka perlu dijelaskan secara teknis penganalisaan bahan-bahan dilakukan dengan cara komperasi bahasa yakni digunakan kombinasi Risale-i Nur yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Arab dan Inggris, yang dalam penelitian ini diposisikan data sekunder  hal ini dimaksudkan untuk mempermudah verifikasl dan menarik konklusi.

Keterbatasan Penelitian
Sebagal kajian pustaka penelitian ini tetap memiliki keterbatasan yang patut disampaikan di sini, keterbatasan penelitian ini ada faktor bahasa dari segi teks Risale-i Nur, karena Risale­i Nur orisinil adalah bahasa Turki. Sehingga pembahasan penelitian ini digunakan kombinasi Risale-i Nur sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, Arab dan Inggris. Faktor Tebalnya Risale-i Nur, faktor ini juga menyebabkan kesulitan dalam penelitian ini karena jumlah halaman mencapai 6000 halaman yang terdiri dari 14 jilid. Untuk itu, penelitian ini hanya menggunakan sebagian dari Risale-i Nur yakni 2 kitab saja. Hal ini juga disebabkan faktor keterbatasan waktu studi, keterbatasan waktu studi ini lebih disebabkan adanya keinginan mengkaji risalah nur ini dari bahasa aslinya, yakni bahasa Turki. Namun, waktu satu tahun yang digunakan tidaklah mencukupi. Karena 6 bulan pertama digunakan untuk belajar bahasa Turki dan 6 bulan mulai merancang penelitian dan penulisan, situasi itu pun tidaklah dapat dilakukan secara optimal, karena banyak waktu yang digunakan untuk mengikuti berbagai kegiatan yang diprogramkan oleh The IstanbuFoundation for Sciance and Culture. Keterbatasan penelitian ini perlu dijelaskan untuk menghindari faktor-faktor yang mungkin mengancam objektivitas atau validitas penelitian dan generalisasinya.

Sistematika Penulisan
Dalam pembahasan tesis ini terdiri dari beberapa bab, dari tiap-tiap bab juga terdiri dari beberapa kerangka-kerangka pembahasan, maka untuk mengetahui masing-masing bab tersebut adalah sebagai berikut :

Bab Pertama, bab ini merupakan bab pendahuluan, yang terdiri dari Latar belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Defenisi Operasional, Tinjauan Pustaka, Kerangka Teori, Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

Bab Kedua, bab ini membahas mengenai pendidikan akhlak dan pembinaan generasi muda. Adapun kajiannya tentang pendidikan akhlak mencakup ; pengertian dan tujuan, ruang lingkup, dan signifikansinya. Sedangkan kajian pembinaan generasi muda mencakup ; pengertian dan batasan, karakteristik, dinamika kehidupan, dan kedudukan akhlak dalam kehidupan generasi muda.

Bab Ketiga, bab ini membahas mengenai biografi singkat Said Nursi. Kajiannya meliputi masa kecil dan pendidikan Said Nursi mencakup ; latar belakang keluarga dan riwayat pendidikan, selanjutan kegiatan keagamaan, kegiatan politik dan terakhir diuraikan tentang karya tulis Said Nursi.

Bab Keempat, bab ini membahas mengenai prinsip-prinsip pendidikan akhlak mencakup ; menguatkan keimanan, berpegang teguh pada al-Qur'an, memahami hakekat penciptaan manusia, memahami alam semesta, memahami asma' al-husna, mengetahui tanda-tanda hari kiamat, meyakini hari kiamat, meneladani Nabi Muhammad Saw., dan menanamkan ikhlas, takwa dan sedekah. Bagian selanjutnya difokuskan bahasan pada prinsip-prinsip pendidikan akhlak dengan pembinaan generasi muda yang mencakup ; relevansi dengan akidah, pandangan hidup, tujuan hidup, ibadah, tingkah laku, situasi kejiwaan, lingkungan, dan tahapan perkembangan kepribadian generasi muda.

Bab Kelima, membahas penutupan berisikan kesimpulan, saran-saran, implikasi dan rekomendasi.

CATATAN KAKAI ARTIKEL DI ATAS
1 Demi konsistensi dalam penulisan penelitian ini peneliti selanjutnya menggunakan kata “Said Nursi” yang merujuk kepada Bediuzzaman Said Nursi (1887-1960) sepanjang pembahasan penelitian ini, namun untuk tempat khusus dalam judul besar atau pada sub judul maka masih akan digunakan kata tersebut.
2 Sebenarnya kesadaran akan kelemahan dan ketinggalan kaum muslimin dari bangsa-bangsa Eropa dalam berbagai bidang kehidupan ini, telah timbul mulai abad ke 11 H / 17 M dengan kekalahan-kekalahan tersebut mendorong raja-raja dan pemuka-pemuka kerajaan untuk menyelidiki sebab-sebab kekalahan mereka dan rahasia keunggulan lawan.
3 Istilah Nur Jamaah dalam bahasa Turki sering digunakan dalam istilah yang berbeda seperti : “Nur Telebesi” atau Nur Teleba”, Nurculuk atau Thalabun-Nur yang menunjukkan pengikut Said Nursi yang berada di Turki, secara khusus, namun Nur Jamaah ini sudah menyebar hampir ke beberapa negara. Jika istilah di atas diartikan dalam bahasa Indonesianya “Murid Nur”. Penulis menggunakan istilah Nur Jamaah atas pertimbangan bahwa istilah ini mudah dipahami dalam bahasa Indonesia. Sedangkan yang dimaksud dengan istilah dershane atau "The Nurcu Movement", "Halaqah" dalam bahasa Turki berasal dari kata “ders” yang artinya belajar sedangkan “hane” dalam bahasa Turki menunjukkan “tempat”, maka dershane dapat diartikan “tempat belajar” yang di kenal di Turki. 
3 Menurut Ibn Miskawaih akhlak merupakan suatu keadaan jiwa. Keadaan ini menyebabkan jiwa bertindak tanpa berpikir atau pertimbangan secara mendalam. Keadaan seperti ini dapat disebut sebagai karakter. Menurutnya keadaan ini ada dua jenis. Pertama, alamiah dan bertolak dari watak. Kedua, tercipta melalui kebiasaan dan latihan. Berdasarkan kedua jenis keadaan ini cendikiawan klasik sering berbeda. pendapat. Sebagian berpendapat bahwa karakter dimiliki oleh jiwa yang tidak berpikir (nonrasional). Sementara yang lain berpendapat karakter itu dimiliki oleh jiwa berpikir (rasional).
4 Mantik dikatakan sebagai ilmu adalah ilmu logika yakni rumusan-rumusan atau patokan-patokan agar orang mendapatkan petunjuk di dalam ia berpikir, supaya selamat dari kesalahan-kesalahan dan terhindar pengertiannya dari kekeliruan. Ilmu mantiq ialah undang-undang yang menjaga hati dari kekeliruan dalam berpikir. Menurut M. Taib Thahir Abd. Muin Ilmu mantik dapat pula dinamakan ilmu logika. (Dja’far Amir, Ilmu Mantiq. Ramadhani, Solo, 1980, hlm. 1-2).
5 Imam Cahyono mengutip pendapat Frans Magnis Suseno ideologi dimaksud sebagai keseluruhan sistem berfikir, nilai-nilai dan sikap dasar rohaniah sebuah gerakan kelompok sosial atau individu. Ideologi dapat dimengerti sebagai suatu sistem penjelasan tentang eksistensi suatu kelompok sosial, sejarahnya dan proyeksinya ke masa depan serta merasionalisasikan suatu bentuk hubungan kekuasaaan Dengan demikian, ideologi memiliki fungsi mempolakan, mengkonsolidasikan dan menciptakan arti dalam tindakan masyarakat. Ideologi yang dianutlah yang pada akhirnya akan sangat menentukan bagaimana seseorang atau sekelompok orang memandang sebuah persoalan dan harus berbuat apa untuk mensikapi persoalan tersebut. (Franz Magnis Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, 1991, hlm 230).
6 Pendiri Wahhabi yaitu Muhammad ibn Abdul Wahhab untuk memurnikan ajaran agama Islam, yang pada saat itu telah tercemar dan direkayasa oleh umat Islam dengan memasukkan unsur-unsur mistis dan tata cara ibadah yang telah menyimpang dari ajaran Islam murni sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Harun Nasution, Abdul Wahhab mengecam kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan orang-orang suci dan saleh (wali-wali sufi) dan hal-hal yang berkaitan dengan itu, dia mengecam taklid kepada pendapat ulama dan menyeru umat agar menyelaraskan nalar dan hati nurani dengan al-Qur’an dan sunnah bukan kepada penafsiran-penafsiran tradisional. Dia bertekad menghilangkan semua ketakhayulan dan mengembalikannya kepada kemurnian salaf, dan untuk itu ia menentang ulama-ulama yang telah mapan. Ia membuka pintu ijtihad yang telah dinyatakan tertutup oleh ulama-ulama terdahulu. (Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam (Sejarah Pemikiran dan Gerakan), Bulan Bintang, Jakarta, 1990, hlm.23-26).
7 Jamaluddin al-Afgani adalah seorang pemimpin pembaharuan dalam Islam yang tempat tinggal dan aktivitasnya berpindah dari satu negara Islam ke negara Islam lain. Jamaluddin al-Afgani lahir di Afganistan pada tahun 1897. Pemikiran pembaharuan berdasarkan atas kenyakinan bahwa “Islam adalah yang sesuai untuk semua bangsa, semua zaman dan semua keadaan”. Kalau kelihatan ada pertentangan antara ajaran­-ajaran Islam dengan kondisi yang dibawa perubahan zaman dan perubahan kondisi, penyesuaian dapat diperoleh dengan mengadakan interpretasi baru tentang ajaran-ajaran Islam seperti yang tercantum dalam Al-­Qur’an dan hadits, maka untuk interpretasi itu diperlukan ijtihad dan pintu ijtihad baginya terbuka.
11 Untuk lebih jelasnya mengenai karya akademik yang memuat asal negara, nama penulis, judul karya, asal perguruan tinggi, tempat dan tahun dapat dilihat di CD Bediuzzaman Said Nursi Risale-i Nur, Nesil Foudantion, Istanbul, Turki.
Blog, Updated at: 07.32

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts