Problematika Pendidikan Islam Dan Solusi Alternatifnya

Problematika Pendidikan Islam Dan Solusi Alternatifnya
Pendidikan merupakan bagian dari investasi masa depan, investasi masyarakat sekaligus investasi negara dalam rangka memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka, dalam rangka mencapai tujuan tersebut, pendidikan senantiasa diarahkan untuk menjawab beberapa hal yang berkaitan dengan masalah kebangsaan dan keumatan. Dalam hal ini ketika kita kaitkan dengan pendidikan Islam saat ini bagaimana pendidikan Islam itu mampu menjawab problem keIslaman yang akhir-akhir ini sering dihadapkan pada kasus kekerasan atas nama agama, toleransi antar umat beragama serta terciptanya situasi yang kondusif dalam menjalankan ajaran agama. 

Sementara dalam konteks keindonesiaan, sejatinya pendidikan Islam juga mampu merespon dinamika kehidupan yang terjadi di negara kita yang meliputi gerakan separatis, munculnya aksi terorisme dan yang lainnya. Maka kemudian, sebagai bentuk ikhtiar itu, para pelaku pendidikan harus senantiasa melakukan pembenahan, koreksi dan evaluasi serta berfikir dinamis dan produktif. Upaya ini misalnya telah dilakukan oleh Mukti Ali dalam usahanya memformulasikan lembaga madrasah dan pesantren dengan cara memasukkan materi pelajaran umum ke dalam lembaga-lembaga yang pendiriannya diorientasikan untuk tafaqquh fî al-dîn. 

Demikian pula yang dilakukan oleh Harun Nasution dalam upayanya menghilangkan dikotomi ilmu agama dan ilmu umum di lembaga pendidikan tinggi Islam, khususnya IAIN Jakarta, dengan cara pendekatan kelembagaan dan kurikulum. Pendekatan kelembagaan telah merubah status IAIN Jakarta menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) yang berimplikasi pada pengembangan kurikulum terintegrasi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Namun, pembaharuan pendidikan dengan menggunakan model pendekatan di atas mempunyai kelemahan, yaitu; 
  • Pertama, akar keilmuan yang berbeda antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Ilmu agama bersumber dari wahyu dan berorientasi ketuhanan, sedangkan ilmu-ilmu umum bersumber pada empirisme dan berorientasikan kemanusiaan. 
  • Kedua, modernisasi dan Islamisasi ilmu pengetahuan melalui kurikulum dan kelembagaan, walaupun dilakukan dengan tujuan terciptanya integrasi keilmuan Islam dan umum, sampai kapanpun akan menyisakan dikotomi keilmuan.
Implementasi kurikulum dalam lembaga pendidikan yang dinyatakan telah melaksanakan integralisasi yang tetap mengelompokkan mata pelajaran/mata kuliah ilmu-ilmu agama dan mata pelajaran/mata kuliah ilmu-ilmu umum “belum” bisa mewujudkan proses Islamisasi ilmu pengetahuan. Yang terjadi adalah proses Islamisasi kelembagaan dan proses Islamisasi kurikulum. 

Selain dari beberapa problem kelembagaan dan kurikulum di atas, di internal pendidikan Islam seringkali mendapat stigma yang negatif. Pendidikan Islam dikesankan sebagai lembaga yang tradisional-konservatif. Di antara variabel yang menjadi ukurannya adalah lemahnya metodologi pembelajaran yang cenderung tidak menarik perhatian. Jika problem ini lamban diatasi, maka bisa dipastikan pendidikan Islam lambat laun akan mengalami stagnasi dan kehilangan daya tariknya. 

Atas dasar pemikiran inilah maka penulis mencoba berikhtiar untuk memahami dan memberikan pencerahan terkait problematika pendidikan Islam dan solusi alternatifnya. 

Problematika Pendidikan Islam 
Problematika Ontologi Pendidikan Islam 
Secara mikro, telaah Ilmu Pendidikan Islam menyangkut seluruh komponen yang termasuk dalam pendidikan Islam. Sedangkan secara makro, objek formal Ilmu Pendidikan Islam ialah upaya normatif (sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam fenomena qauliyah dan kauniyah) keterkaitan pendidikan Islam dengan sistem sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama baik dalam skala kedaerahan, nasional maupun internasional. 

Objek kajian pendidikan Islam senantiasa bersumber dari landasan normatif Islam yaitu al-Qur’an (qauliyah) melalui pengalaman batin Nabi Muhammad SAW yang kemudian kita kenal dengan wahyu, kemudian disampaikan kepada seluruh umat dan alam semesta (kauniyah). Dari kedua landasan inilah kemudian digali dan dikaji sehingga melahirkan konsep dan teori pendidikan yang bersifat universal. Kemudian, teori dan konsep yang bersifat universal tersebut dikaji melalui kegiatan eksprimen dan penelitian ilmiah yang pada gilirannya akan melahirkan teori-teori atau Ilmu Pendidikan Islam dan diuraikan secara operasional untuk kemudian dikembangkan menjadi metode, kurikulum dan teknik pendidikan Islam. 

Kajian pendidikan Islam senantiasa bertolak pada problem yang ada di dalamnya, kesenjangan antara fakta dan realita, kontroversi antara teori dan empiris. Maka dari itulah, wilayah kajian pendidikan Islam bermuara pada tiga problem pokok, antara lain: 

a. Foundational problems, 
Yang terdiri dari atas religious foundation and philosophic foundational problems, empiric fondational problems (masalah dasar, fondasi agama dan masalah landasan filosofisempiris) yang didalamnya menyangkut dimensi-dimensi dan kajian tentang konsep pendidikan yang bersifat universal, seperti hakikat manusia, masyarakat, akhlak, hidup, ilmu pengetahuan, iman, ulul albab dan lain sebagainya. Yang semuanya bersumber dari kajian fenomena qauliyah dan fenomena kauniyah yang membutuhkan pendekatan filosofis. 

b. Structural problems (masalah struktural). 
Ditinjau dari struktur demografis dan geografis bisa dikategorikan ke dalam kota, pinggiran kota, desa dan desa terpencil. Dari struktur perkembangan jiwa manusia bisa dikategorikan ke dalam masa kanak-kanak, remaja, dewasa dan manula. Dari struktur ekonomi dikategorikan ke dalam masyarakat kaya, menengah dan miskin. Dari struktur rumah tangga, terdapat rumah tangga karier dan non karier. Dari struktur jenjang pendidikan bisa dikategorikan ke dalam pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi. 

c. Operational problem (masalah operasional)
Secara mikro akan berhubungan dengan berbagai komponen pendidikan Islam, misalnya hubungan interaktif lima faktor pendidikan yaitu tujuan pendidikan, pendidik dan tenaga kependidikan, peserta didik dan alat-alat pendidikan Islam (kurikulum, metodologi, manajemen, administrasi, sarana dan prasarana, media, sumber dan evaluasi) dan lingkungan atau konteks pendidikan. Atau bisa bertolak dari hubungan input, proses dan output. Sedangkan secara makro, menyangkut keterkaitan pendidikan Islam dengan sistem sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama baik yang bersifat Nasional dan Internasional. 

Problematika Epistemologi Pendidikan Islam 
Dari beberapa literatur dapat disebutkan bahwa epistemologi adalah teori pengetahuan, yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan. D.W. Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan dan pengandaipengandaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. Selanjutnya, pengertian epistemologi yang lebih jelas, diungkapkan oleh Azyumardi Azra bahwa epistemologi sebagai ilmu yang membahas tentang keaslian, pengertian, struktur, metode, dan validitas ilmu pengetahuan. Landasan epistemologi memiliki arti yang sangat penting bagi bangunan pengetahuan, sebab ia merupakan tempat berpijak. Bangunan pengetahuan menjadi mapan, jika memiliki landasan yang kokoh. 

Landasan epistemologi ilmu adalah metode ilmiah, yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan. Jadi, ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang diperoleh lewat metode ilmiah. Dengan demikian, metode ilmiah merupakan penentu layak-tidaknya pengetahuan menjadi ilmu, sehingga memiliki fungsi yang sangat penting dalam bangunan ilmu pengetahuan. 

Dari pengertian, ruang lingkup, objek, dan landasan epistemologi ini, dapat kita disimpulkan bahwa epistemologi merupakan salah satu komponen filsafat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, khususnya berkenaan dengan cara, proses, dan prosedur bagaimana ilmu itu diperoleh. Dalam pembahasan ini epistemologi pendidikan Islam lebih diarahkan pada metode atau pendekatan yang dapat dipakai untuk membangun ilmu pengetahuan Islam, dari pada komponen-komponen lainnya, sebab metode atau pendekatan tersebut paling dekat dengan upaya mengembangkan pendidikan Islam, baik secara konseptual maupun aplikatif. Epistemologi pendidikan Islam bisa berfungsi sebagai pengkritik, pemberi solusi, penemu, dan pengembang. 

Pendekatan epistemologi memerlukan cara atau metode tertentu, sebab ia menyajikan proses pengetahuan di hadapan siswa dibandingkan hasilnya. Pendekatan epistemologi ini memberikan pemahaman dan keterampilan yang utuh dan tuntas. Seseorang yang mengetahui proses sesuatu kegiatan pasti mengetahui hasilnya. Sebaliknya, banyak yang mengetahui hasilnya tetapi tidak mengetahui prosesnya. 

Bisa dipastikan bahwa jika pendekatan epistemologi ini benarbenar diimplementasikan dalam proses belajar mengajar di lembaga pendidikan Islam, siswa dapat memiliki kemampuan memproses pengetahuan dari awal hingga wujud hasilnya. Jika pendidikan Islam mengedepankan pendekatan epistemologi dalam proses belajar mengajarnya, maka pendidikan Islam akan banyak menelorkan lulusan-lulusan yang berjiwa produsen, peneliti, penemu, penggali, dan pengembang ilmu pengetahuan. 

Karena epistemologi merupakan pendekatan yang berbasis proses, maka epistemologi melahirkan konsekuensi-konsekuensi logis dan problematika yang sangat kompleks, yaitu : 
  • Pendidikan Islam seringkali dikesankan sebagai pendidikan yang tradisional dan konservatif, hal ini wajar karena orang memandang bahwa kegiatan pendidikan Islam dihinggapi oleh lemahnya penggunaan metodologi pembelajaran yang cenderung tidak menarik perhatian dan memberdayakan. 
  • Pendidikan Islam terasa kurang concern terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi suatu “makna dan nilai” yang perlu di internalisasikan dalam diri seseorang lewat berbagai cara, media dan forum. 
  • Metodologi pengajaran agama berjalan secara konvensional tradisional, yakni menitikberatkan pada aspek korespondensitekstual yang lebih menekankan yang sudah ada pada kemampuan anak didik untuk menghafal teks-teks keagamaan daripada isu-isu sosial keagamaan yang dihadapi pada era modern seperti kriminalitas, kesenjangan sosial dan lain lain. d. Pengajaran agama yang bersandar pada bentuk metodologi yang bersifat statis indoktrinatif-doktriner.
Problematika Aksiologi Pendidikan Islam 
Aksiologi ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai, pada umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan. Di dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah-masalah nilai yang khusus seperti epistemologis, etika dan estetika. Epistemologi bersangkutan dengan masalah kebenaran, etika bersangkutan dengan masalah kebaikan, dan estetika bersangkutan dengan masalah keindahan. 

Secara historis, istilah yang lebih umum dipakai adalah etika (ethics) atau moral (morals). Tetapi dewasa ini, istilah axios (nilai) dan logos (teori) lebih akrab dipakai dalam dialog filosofis. Jadi, aksiologi bisa disebut sebagai the theory of value atau teori nilai. Bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk (good and bad), benar dan salah (right and wrong), serta tentang cara dan tujuan (means and ends). Secara etimologis, istilah aksiologi berasal dari Bahasa Yunani Kuno, terdiri dari kata “aksios” yang berarti nilai dan kata “logos” yang berarti teori. Jadi aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari nilai.

Kaum idealis berpandangan secara pasti terhadap tingkatan nilai, dimana nilai spiritual lebih tinggi daripada nilai non spiritual (nilai material). Demikian juga dengan kaum realis, mereka menempatkan nilai rasional dan empiris pada tingkatan atas, sebab membantu manusia menemukan realitas objektif, dan berfikir logis. Kaum pragmatis pun berbeda, menurut mereka, suatu aktifitas dikatakan baik apabila memuaskan kebutuhan yang penting, dan memiliki nilai instrumental dan sangat sensitif terhadap nilai-nilai yang menghargai masyarakat. 

Dari lima komponen dalam pendidikan Islam (tujuan pendidikan, pendidik dan tenaga pendidikan, peserta didik dan alat-alat pendidikan Islam dan lingkungan atau konteks pendidikan., ketika dikaitkan dengan dimensi aksiologis, maka terdapat problem antara lain: 
  • Tujuan pendidikan Islam kurang berorientasi pada nilai-nilai kehidupan masa yang akan datang, belum mampu menyiapkan generasi yang sesuai dengan kemajuan zaman. 
  • Pendidik dan tenaga pendidikannya mulai memudar dengan doktrin awal pendidikan Islam tentang konsep nilai ibadah dan dakwah syiar Islam. Pendidik juga disibukkan dengan hal-hal teknis seperti tunjangan honor, tunjangan fungsional dan tunjangan sertifikasi. 
  • Di kalangan peserta didikpun dalam menuntut ilmu cenderung mengesampingkan nilai-nilai ihsan, kerahmatan dan amanah dalam mengharap ridha Allah.
Blog, Updated at: 01.22

0 komentar :

Poskan Komentar

Popular Posts